Imam Herlambang Blog Berbagi Pengetahuan – Berbagi Pengalaman
Nasihat Baik

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Dalam hidup, kita sering dinasihati oleh siapa saja, oleh teman kita, sahabat, pasangan hidup, bahkan sampai yang paling terdekat, yaitu keluarga kita.

Ada beberapa nasihat untuk diri kita yang memang ketika disampaikan, kita enak mendengarkannya. Namun ada beberapa yang kurang enak untuk didengar, apalagi nasihat tersebut dilontarkan di khalayak ramai.

Sebenarnya, mau nasihat itu baik ataupun tidak baik (maksudnya nasihat itu sesuai dengan kita, tapi kitanya yang tidak suka), itu adalah bentuk rasa sayang orang lain terhadap kita. Karena dinasihati oleh mereka-lah, kita seharusnya bersyukur dan berterima kasih.

Karena nasihat yang mereka berikan merupakan bentuk sayang, peduli dan sekaligus perhatian kepada kita. Peduli kepada kita bahwa semoga atas nasihat yang diberikan oleh mereka, kita bisa berubah.

Bukankah mereka yang memberi nasihat seperti itu sudah dipastikan orang yang baik? Mereka memberikan nasihat dengan harapan kita bisa lebih baik lagi dari sebelumnya. Kita bisa menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk dari diri kita.

Nasihat Baik

Nasihat Baik (sumber: http://raudhatulqaanitah.wordpress.com/)

Bahkan sekalipun nasihat yang dilontarkan itu tidak mengenakkan bagi kita, itu bisa adalah nasihat yang amat sangat kita butuhkan.

Jika ternyata ada nasihat yang diberikan oleh orang lain dan dengannya kita merasa marah atau tertekan, bisa jadi itu adalah nasihat yang sangat kita butuhkan.

Contoh saja, seorang perokok hampir 90% ketika dinasihati untuk tidak merokok selalu marah. Entah kenapa mereka bisa marah, saya tidak pernah mencari tahu tentang itu. Tetapi jika si perokok mau menggunakan akal pikirannya sedikit saja, dan menganggap bahwa nasihat yang diberikan kepadanya adalah bentuk kasih sayang terhadapnya, seharusnya mereka lebih mengerti.

Nasihat itu ternyata yang si perokok butuhkan. Karena yang menasihati sangat peduli terhadap kesehatan si perokok tersebut, bahwa merokok itu tidak baik loh, bahwa merokok itu merusak kesehatan. Tetapi fenomena sekarang, tetap saja banyak orang yang merokok ketika dinasihati malah marah.

Jika saja pikiran kita lebih terbuka terhadap nasihat, jika saja kita mau menggunakan pikiran kita untuk berfikir lebih jauh, jika saja setiap nasihat yang diberikan kepada kita, kita pikirkan baik-baik terlebih dahulu, InsyaAllah semua nasihat yang diberikan kepada kita, itu adalah nasihat yang baik.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Seratus Persen

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saya tiba-tiba teringat salah satu nasihat dari Pak Ditdit yang disampaikan oleh beliau ketika saya bertemu di Bogor. Di nasihat itu beliau bertanya kepada saya,

Mam, kalau kamu nanti punya anak 1, berapa persen kamu akan mencurahkan waktu kamu ke dia?

Lalu saya jawab,

Seratus persen Pak.

Setelah itu beliau bertanya lagi kepada saya,

Kalau kamu nanti punya anak 2, berapa persen kamu akan mencurahkan waktu kamu ke kedua anak kamu?

Saya terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang ingin saya lontarkan kepada beliau. Langsung saja saya tanpa berfikir panjang menjawab,

Lima puluh persen dan lima puluh persen Pak.

Seakan-akan merasa sombong dengan jawaban tersebut, saya jawab dengan yakin bahwa jawaban itu akan benar. Tetapi ternyata tidak.

Seharusnya kamu mencurahkan waktu untuk kedua anak kamu masing-masing seratus persen. Sehingga tidak satupun perhatian kamu akan berkurang ke masing-masing anak kamu nantinya.

Seratus Persen

Seratus Persen (sumber: http://motivationalmemo.com)

Mendengar jawaban terseubut, saya langsung manggut-manggut sambil memikirkan di dalam hati, “benar juga ya, kalau jadi 50%, berarti kan perhatian anak pertama harus dikurangi untuk dibagi ke anak kedua”.

Begitulah nasihat yang beliau sampaikan kepada saya. Di dalam hidup kita, jika kita mendapatkan hal baru yang harus kita kerjakan, seharusnya fokus kita bukan malah menurun lantaran ada hal baru. Sebaiknya tambahkan fokus kita sehingga masing-masing nilainya menjadi seratus persen.

Atur waktu, atur cara kerja, atur waktu bangun tidur, atur makan, atur pola hidup dan lain-lain sehingga kita bisa me-manage waktu dengan baik, agar kita bisa tetap fokus ke hal-hal baru kita dengan tetap tidak melupakan hal-hal yang lama, agar nilainya tidak berkurang, tetap 100%.

Siang itu saya mendapat banyak sekali nasihat yang diberikan oleh beliau, dan sampai saat ini saya tetap mengusahakan agar apapun yang saya kerjakan saya harus bisa fokus 100%.

Meskipun saat ini fokus kita masih berkurang karena hal-hal baru, seharusnya kita bisa lebih meningkatkan fokus kita di angka yang sama-sama maksimal. Hindari hal-hal yang tidak berguna, dan maksimalkan angka 100% pada hal-hal yang menurut kita sangat amat penting.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Checklist Introspeksi Diri

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Sebagai manusia, kita sudah sewajarnya punya banyak kesalahan di dalam diri kita. Yang tidak wajar adalah, sudah banyak kesalahan, tetapi lupa untuk memperbaiki diri sendiri dan selalu merasa benar atas segala sesuatu.

Nah, perlu kita untuk introspeksi diri untuk melihat ke dalam diri kita, kita ini sudah semakin baik dari sebelumnya, atau malah semakin kurang baik dari sebelumnya. Pada artikel kali ini, saya akan berikan beberapa Checklist Introspeksi Diri.

Memang tidak semua hal yang harus kita introspeksi ada di dalam artikel ini, tetapi setidaknya, ini adalah beberapa yang sering dialami oleh orang kebanyakan.

Tidak Punya Tujuan

Ibaratnya seorang ingin berpergian naik taksi, orang yang tidak punya tujuan tidak mengerti kemana akan pergi. Maka ketika naik taksi, hanya berputar-putar saja, tidak punya tujuan. Hanya menghabiskan ongkos saja.

Cek ke diri kita masing-masing, sudahkah kita punya tujuan hidup?

Tidak Mencatat Tujuan

Punya tujuan baik, tetapi bila kita tidak mencatatnya, kemungkinan besar pasti kita akan lupa oleh tujuan kita. Kalau tidak dicatat, dan hanya disimpan di otak saja, sudah bisa ditebak dan bisa dipastikan pasti tujuan itu akan hilang dalam waktu beberapa minggu, atau bahkan yang sudah parah bisa hilang dalam beberapa hari.

Cek ke diri kita masing-masing, sudahkah kita mencatat detail setiap tujuan kita?

Mencari Alasan Jika Gagal

Gagal itu hal yang wajar, bahkan kesuksesan itu butuh yang namanya gagal, untuk bisa jadi pelajaran untuk kita. Tapi yang tidak wajar adalah, kita berdalih, mencari-cari alasan ketika kita gagal, seolah-olah kegagalan tersebut terjadi karena kesalahan orang lain.

Terlebih-lebih malah menyalahkan Tuhan. Sungguh ini tidaklah wajar dilakukan oleh kita.

Seharusnya kita cek. Apa yang kurang dari usaha kita, sehingga kita gagal.

Checklist Introspeksi Diri

Checklist Introspeksi Diri (sumber: http://cafesenja.blogspot.com)

Berteman dengan Lingkungan yang Salah

Orang-orang sukses, pasti dikelilingi oleh orang-orang yang sukses juga. Begitupun orang-orang yang tukang mengeluh, pasti dikelilingi tukang mengeluh juga. Daripada kita terbawa arus oleh lingkungan yang salah (lingkungan negatif), entah itu mengeluh, menjelek-jelekkan orang lain, sebaiknya kita menghindar dan mulailah mencari lingkungan yang baru.

Lingkungan yang baru akan mendorong kita untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, ikutlah seminar-seminar atau kajian-kajian. Bertemulah dengan orang-orang baru untuk bertukar pikiran. InsyaAllah itu akan membawa kita kepada perubahan yang lebih baik.

Sudahkah kita berteman dengan lingkungan yang baik?

Kurang Pengembangan Diri

Kurang pengembangan diri adalah salah satu penyebab seseorang tidak maju dalam hidupnya. Biasanya tipe orang-orang yang kurang pengembangan diri itu hanya hidup asal hidup saja.

Setiap harinya, atau setiap minggunya, tidak ada hal baru di dalam hidupnya, tidak ada ide baru, tidak ada ilmu baru yang didapat. Hanya sekedar hidup saja.

Ini bahaya sekali bagi kita. Sering-seringlah kita membaca buku, membaca artikel-artikel di website. Sekarang ini banyak sekali ilmu yang bertebaran di internet. Jangan menunggu datangnya hidayah atau kesempatan baru berubah.

Cek ke diri kita masing-masing, apakah pengembangan diri kita masih kurang, cukup atau sudah dalam tingkat normal?


Itulah beberapa Checklist Introspeksi Diri untuk kita renungi baik-baik. Sebenarnya masih banyak sekali yang harus kita introspeksi diri. Tetapi semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk kita semua (saya dan Anda).

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Biasanya, dalam kegiatan mencari ilmu, kita mencari manfaat dari ilmu tersebut. Kita berharap dengan ilmu yang kita dapat, kita juga berharap mendapatkan hasil, yang biasa disebut manfaat. Tapi ternyata, manfaat saja tidaklah cukup.

Seperti layaknya rezeki yang halal, tentu tidak akan lengkap jika tidak ada toyyiban. Halal itu bisa bagaimana cara mendapatkan harta, atau jenis harta tersebut, sedangkan toyyiban itu adalah baik untuk si penerima rezeki tersebut. Jadi misal kita mendapatkan rezeki halal, tetapi tidak toyyiban ya itu rasanya kurang lengkap saja.

Untuk bahasan tentang halal dan toyyiban, Anda bisa lebih lanjut baca di artikel blog sahabat saya di sini.

Nah, dalam berilmu pun, ternyata manfaat saja tidak cukup. Ada satu hal lagi yang perlu kita perhatikan baik-baik. Yaitu adalah Berkah. Berkah bisa secara sederhana diartikan sebagai “Yang mendatangkan kebaikan bagi si pelakunya”.

Jadi misalkan kita belajar suatu ilmu, katakanlah tentang adab-adab Rasulullah. Kita bisa saja mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut, yang mana kita bertambah ilmunya, dari yang semula tidak tahu, menjadi tahu.

Tetapi, ternyata setelah mendapatkan ilmu, perilaku kita tetap sama saja seperti itu, yang ternyata tidak membawa kebaikan bagi kita. Jadi meskipun manfaatnya dapat, tetapi berkah nya belum bisa di dapatkan.

Manfaat dan Berkah

Manfaat dan Berkah (sumber: http://hidupberkah.com/)

Berkah itu bisa didapat salah satunya dengan menghormati guru,  menghormati waktu yang diluangkan untuk belajar. Sehingga setelah mendapatkan ilmu, nantinya ilmu kita bermanfaat untuk diri kita sendiri (terlebih untuk orang lain) dan juga mendatangkan kebaikan pula untuk kita. Sehingga jika kita mendapatkan berkah, tentunya hidup kita akan lebih baik lagi kedepannya.

Jika hidup kita semakin baik, kita bisa meneruskan ilmu yang kita dapat tadi karena manfaat dan keberkahannya.

Oh iya, jika hanya mendapat manfaat tetapi tidak mendapatkan berkah. Biasanya sebanyak apapun manfaat yang didapat, tetapi tanpa berkah didalamnya. Orang tersebut akan sulit sekali untuk menularkan ilmunya kepada orang lain, karena ilmu yang didapat tidak membawa keberkahan bagi dirinya, hanya sekedar bermanfaat.

Ini semacam teguran bagi kita semua, semoga kedepannya, dalam berilmu, kita bisa mengejar keduanya, yaitu manfaat dan berkah. Dan semoga kita bisa terus memberikan ilmu-ilmu kita agar bisa bermanfaat dan berkah untuk orang lain juga (Jadi tidak hanya bermanfaat dan berkah untuk diri sendiri, tapi untuk orang lainnya juga)

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

5 Mental Blok

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Sebenarnya, bahan artikel kali ini sudah ada di handphone saya sejak sekitar 2 tahun yang lalu, saat saya menghadiri seminar Ippho Santosa di Jakarta Utara. Sambil menunggu Ippho Santosa datang, akhirnya Pak Iwan Agustian (Jika Anda orang Depok, pasti Anda tahu bahwa beliau adalah owner Semerbak Coffee) memberikan materi tentang mental blok ini.

Beliau memberikan beberapa ciri-ciri seseorang mempunyai mental blok (untuk yang belum paham apa itu mental blok, silahkan bisa di cari lewat Google ya, atau nanti bisa saya posting di artikel berikutnya.

Menunda

Menunda ini salah satu ciri mental blok yang hampir semua orang pernah mengalami nya. Akibat mengulur-ulur waktu (karena merasa pede waktunya masih banyak, akhirnya ditunda-tundalah pekerjaannya), akhirnya aktivitas kita bisa terganggu, yang tadinya bisa dikerjakan tepat waktu, atau bisa dikerjakan di awal waktu, karena ditunda jadinya aktivitas kita bisa berantakan karena hal menunda tersebut.

Negative Thinking

Apapun yang terjadi, perasaan, pikiran, hati, selalu saja berprasangka negatif, selalu saja ada perasaan tidak baik. Kalau dibiarkan secara berlanjut, maka ini bisa jadi suatu habits yang buruk, yang lama kelamaan akan merusak hati kita.

Bukankah Positive Thinking itu jauh lebih baik?

Tidak Konsisten

Nah, penyakit mental blok berikutnya ini berkaitan dengan konsistensi kita. Tidak konsisten juga salah satu penyakit mental blok yang cukup parah. Hidup ini tidak terlepas dari sebuah keputusan, saat kita bangun kita memutuskan untuk mandi, makan, dan beraktivitas. Tapi bagaimana kalau keputusan tersebut kita rubah-rubah semau hati kita? Tentu orang lain akan mencap diri kita sebagai “Orang yang tidak konsisten”. Nah untuk itu, apapun keputusan kita, konsistenlah dengannya.

Setelah memutuskan sebuah keputusan, pastikan kita juga sudah siap menerima konsekuensi nya juga. Berpindah-pindah konsistensi malah yang justru menjadi hadirnya banyak konsekuensi diluar yang kita duga.

So, buatlah keputusan kita, dan terimalah konsekuensinya, apapun itu. Dan jangan menyesal atas keputusan kita.

5 Mental Blok

5 Mental Blok (sumber: http://www.pixafy.com/)

Takut Berbicara di Depan Umum

Penyakit ini sering menghinggap pada siswa-siswa di sekolah, bahkan yang masih mahasiswa pun juga banyak yang punya penyakit ini. Saya sendiri dulu pernah punya penyakit ini, penyakit takut berbicara di depan umum.

Ternyata, setelah saya coba beberapa kali memaksakan tampil di depan umum (dengan latihan presentasi di depan kelas sudah cukup), penyakit itu perlahan hilang. Saya menjadi lebih percaya diri berbicara di depan umum.

Untuk Anda yang mungkin punya penyakit ini, segeralah latihan berbicara di depan umum. Untuk latihan bisa dimulai dari mempimpin ketua kelompok di kampus, lalu mulai kepada presentasi kepada teman-teman, lalu presentasi di depan dosen. InsyaAllah lama-lama penyakit itu akan hilang.

Inferior (Merasa Diri Rendah)

Nah ini dia, perasaan minder, merasa diri lebih rendah daripada orang lain, merasa malu-malu. Sebenarnya ini juga temannya penyakit takut berbicara di depan umum. Hanya saja penyakit inferior ini biasanya terjadi di segala aspek aktivitas (tidak hanya masalah bicara di depan umum).

Biasanya inferior terjadi di tengah-tengah kelompok yang menurut kita lebih tinggi derajatnya, atau lebih tinggi ilmunya diantara kita. Tapi ketahuilah, tiap-tiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Jika kita punya penyakit seperti ini, segera temukan kelebihan kita (minimal untuk menyamaratakan penyakit inferior kita). Dengan begitu, perlahan penyakit inferior itu akan hilang dan tergantikan dengan perasaan percaya diri.


 

Itulah kira-kira 5 mental blok yang sering dialami banyak orang. Saya sendiri masih memiliki beberapa penyakit di atas, dan masih terus berusaha menghilangkannya. Untuk Anda yang memiliki semua penyakit di atas, cobalah untuk menghilangkan satu per satu. InsyaAllah jika kita mau usaha, penyakit-penyakit negatif itu akan hilang.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Jagalah Kesehatan

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Kira-kira, kapan terakhir kali Anda merasakan tubuh Anda dalam kondisi kurang sehat atau dalam kondisi sakit? Tentu kita semu pernah merasakan yang namanya sakit, yah wajar namanya juga manusia kan? Tidak selamanya kita bisa hidup sehat.

Pada artikel kali ini saya akan memberikan gambaran sedikit tentang Pola Hidup Sehat.

Saat kita dalam kondisi sakit atau kurang sehat, hal paling pasti yang kita inginkan adalah sembuh, lalu sehat kembali, bahkan tidak sedikit orang yang rela merogoh kocek mereka hanya untuk sembuh (berobat ke Dokter, berobat ke sana kesini), apapun akan dilakukan asal bisa sehat kembali.

Lalu, setelah kita sembuh, merasa bahwa tubuh sudah membaik (yang tentunya sudah mengkonsumsi obat atau pergi ke dokter), banyak orang yang kerap lupa untuk menjaga kesehatannya, dengan tidak memperdulikan kesehatannya (yang padahal baru saja sembuh).

Jagalah Kesehatan

Jagalah Kesehatan

Bagi saya pribadi, kesehatan itu mahal sekali harganya, bahkan kalau boleh lebay, saat kita dalam keadaan sakit, kita rela melakukan apa saja asal bisa sembuh. Itulah tanda penting sekali diri kita dalam keadaan sehat, sehat itu mahal harganya, karena tidak bisa dibeli dengan apapun, tidak bisa digantikan dengan apapun.

Sehat itu mahal, karena saat sehat kita bisa melakukan banyak hal, melakukan banyak pekerjaan yang bisa membuat kita lebih produktif. Sudah seharusnya kita lebih mementingkan kesehatan kita, jangan sampai nanti dikemudian hari, karena kita tidak peduli dengan kesehatan, akhirnya kita jatuh sakit lagi, dan berulang lagilah proses pencarian sehat.

Dan satu hal yang saya ingin sampaikan adalah, tentukan tujuan sehat untuk jangka panjang, dan bukan sehat hanya untuk beberapa bulan atau beberapa tahun kedepan. Kalau hanya mengejar sehat sesaat, yah itu nanti akan sama saja bisa balik lagi sakitnya 😀

Jadi, pada tulisan ngelantur saya ini, saya mengajak semua teman-teman, khususnya sih untuk saya pribadi. Yuk jaga kesehatan kita, sehat itu mahal harganya, jagalah itu dengan sebaik-baik mungkin.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Bagi saya pribadi, kecewa adalah salah satu sifat yang berbahaya, karenanya kecewa biasanya memancing sifat-sifat lain untuk hadir. Dari sifat kecewa yang kecil, bisa lahir sifat marah, iri, dengki, bahkan bisa-bisa sampai memusuhi orang lain.

Banyak kan dari kita (termasuk saya juga) yang sering kecewa jika berhadapan dengan suatu kejadian, kita biasanya berharap A, akan tetapi hasil yang kita hadapi ternyata berbeda dengan harapan yang kita bangun diawal. Nah, dari situlah muncul perasaan tidak terima, perasaan kecewa, perasaan menyalah-nyalahkan keadaan.

Kecewa

Kecewa (sumber: http://encesurahman.blogspot.com/)

Awalnya sih memang biasa saja, kecewa sebentar, lalu hilang. Namun, kalau sudah terjadi berkali-kali dan sudah menjadi semacam trigger, bahwa “jika ternyata hasilnya tidak sesuai, maka saya pasti kecewa”, nah perasaan-perasaan seperti itu lah yang nanti akan muncul di bawah sadar kita, sehingga jika ada suatu keadaan yang hasilnya tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka kita sudah pasti kecewa.

Bahaya? Tentu bahaya, seperti yang sudah saya bilang di awal tadi, bahwa dari perasaan kecewa akan lahir perasaan-perasaan berikutnya.

Nah, alangkah baiknya kita sebagai manusia bisa menghindari hal-hal semacam itu. Jika hanya sesekali itu adalah hal yang wajar, manusiawi. Tapi kita tidak ingin juga kan hal itu sampai terjadi berulang-ulang?

Hadirnya kecewa itu karena pada saat kita berharap, kita tidak memasangkan keikhlasan dalam berharap. Lain halnya jika kita menghadirkan keikhlasan sebelum kita berharap, tentu hasilnya akan beda.

Jadi, ke depannya, saat kita mulai berharap sesuatu kepada hal apapun, mulailah dengan ikhlas dahulu, bahwa apapun hasilnya, itu pasti yang terbaik bagi kita (tentunya juga harus ada usaha juga ya). Jika hasilnya baik dan sesuai dengan yang kita harapkan, maka kita patut bersyukur. Jika hasilnya ternyata tidak sesuai dengan yang kita harapkan, maka mungkin memang itu hasil yang pantas buat kita.

Semoga kita dimampukan untuk bisa mencegah sifat kecewa tersebut, sehingga tidak melahirkan sifat-sifat lainnya yang lebih jelek.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Masih Ada Waktu

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saat waktu berlalu, kesempatan hilang, hanya penyesalan-lah yang tersisa.

Entah kenapa harus sekarang, dan entah kenapa harus hari ini saya bisa memulai ini semua seperti awal, saya bisa menulis lagi seperti beberapa bulan sebelumnya. Alhamdulillah akhirnya saya bisa mulai nge-blog lagi (tepatnya memaksakan memulai), karena jika tidak saya mulai, maka angan-angan “saya akan ngeblog lagi” itu hanya akan menjadi rencana saja.

Waktu itu harusnya menjadi sahabat kita, bukan malah menjadi musuh lantaran kita selalu mengejar-ngejarnya dan selalu menyalahkan waktu atas ketidaksesuaian jadwal kita dengan waktu. Dan sejatinya, waktu juga harus bisa kita atur, agar setiap langkah jadwal kita bisa teratur, dan mampu selaras dengan apa yang kita inginkan, sehingga tidak ada lagi terjadinya penyesalan.

Bukankah penyesalan itu justru datang lantaran kita tidak mengambil kesempatan yang ada? Atau bahkan terlalu menganggap remeh waktu yang banyak? Ah, sepertinya sama saja.

Masih Ada Waktu

Masih Ada Waktu (sumber: http://www.ceciliahultman.se/)

Mulai sekarang, yuk kita mulai bersahabat dengan waktu, dengan tidak menyepelekannya apalagi sampai memusuhinya, percayalah jika kita bersahabat dengan waktu, apapun yang kita kerjakan bisa berjalan dengan baik.


 

Saya akan memulai sharing lagi kepada teman-teman semua seperti biasa, menulis setiap hari kerja (Senin-Jum’at). Mohon do’a nya agar tetap istiqomah dalam nge-blog.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Saya, Imam Herlambang mengucapkan “Selamat Idul Fitri 1434 H, Mohon Maaf Lahir Bathin” 🙂

Semoga Kita bisa dipertemukan lagi dengan Bulan Ramadhan tahun depan, Semoga ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kesempatan untuk terus memperbaiki diri kita. Aamiin.

Selamat Idul Fitri 1434 H

Imam Herlambang (이맘 헤를람방)
www.ImamHerlambang.com

Artikel singkat ini diterbitkan atas permintaan dari salah satu teman saya yang bernama Ayu Ridhia Amalia.


Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Meskipun artikel ini terbilang sudah “telat” dalam publikasinya, namun semoga saja ilmu yang ada di artikel ini akan tetap berguna bagi siapapun yang ingin menjalankan ibadah puasa selain di bulan Ramadhan tentunya. Dan semoga saja, siapapun yang bisa mengaplikasikan ilmu sederhana ini (yang juga saya dapat dari orang lain), bisa disebarluaskan juga untuk menambah ilmu sahabat-sahabat yang lainnya.

Saya sebenarnya bukan seorang dokter ataupun seorang yang ahli di bidang kesehatan, namun saya adalah seorang pembelajar yang senang belajar tentang banyak hal, terutama tentang kesehatan (Anda bisa melihat profil singkat saya di halaman Tentang Saya). Semoga beberapa tips dan ilmu yang akan saya paparkan berikut berguna bagi Anda sekalian yang membaca artikel ini.

Perlu kita ketahui, menjalankan hidup dengan berdasarkan kesehatan saat ini sangat tidak mudah. Banyak sekali doktrin-doktrin salah yang bertebaran di luar sana yang akhirnya masuk ke dalam bawah sadar kita, sehingga lama-kelamaan tentunya menjadi kebenaran palsu di dalam diri kita, menjadi tradisi yang wajar dilakukan, menjadi kesalahan yang bisa ditoleransi oleh banyak orang.

Tentunya dalam hal ini, kita harus benar-benar teliti akan info-info yang hadir di sekitar kita, terutama dengan media televisi dan berita online yang kebanyakan dibuat demi keuntungan semata, tidak memperhatikan salah dan benarnya. Asal posting dan asal mempublikasikan suatu ajaran atau berita.

Salah satu yang sering kita dengar saat bulan Ramadhan tiba adalah slogan “berbukalah dengan yang manis“, yang bisa dibilang sudah mendarah daging, hingga kebanyakan orang “wajib” sekali berbuka dengan minuman manis, sejenis teh manis, es buah dicampur dengan sirup atau susu, dan berbagai macam jenis minuman manis lainnya. Tentu ini menjadi suatu kesalahpahaman di masyarakat kita. Dan kebanyakan orang tidak menyadarinya.

Kebanyakan orang memulai berbuka puasa dengan minum-minuman yang manis, dengan sangat lahap dan kemudian dicampur dengan makanan lainnya. Apakah ini salah? Saya tentu tidak menyalahkan hal tersebut, karena setiap orang punya kegemaran masing-masing di dalam menyantap makanan. Tetapi bagaimana bila yang dikonsumsi oleh kita itu ternyata malah tidak baik bagi tubuh? Terutama saat berbuka puasa dan sahur?

Konsep sehat yang salah menjadikan kebanyakan orang bebas makan apa saja dengan semau mereka, kalau sakit? ya tinggal minum obat, kan beres! Tapi sebenarnya konsep sehat yang benar tentunya bukan sekedar “kalau sakit, ya tinggal minum obat, kan beres!”, tetapi lebih kepada menjaga tubuh kita agar seminimal mungkin terkena penyakit.

Bukankah Allah sudah memberikan kita rezeki sehat setiap saatnya kepada kita? Jika memang demikian, maka kita harus mensyukuri nikmat sehat tersebut dengan cara menjaga kesehatan tubuh kita. Tentunya dengan menjaga apa yang kita makan, jangan sampai salah makan hingga membuat tubuh kita tidak bisa mencerna dengan baik makanan dan minuman yang kita masukkan ke dalam tubuh.

Lalu sebenarnya, apakah makanan yang baik untuk kita santap selagi berbuka puasa maupun saat kita sahur?

Berbuka Puasa

Mari kita bahas makanan yang baik untuk dimakan saat berbuka puasa, karena biasanya banyak kesalahan yang dilakukan oleh orang saat berbuka, sehingga timbul berbagai macam efek aneh yang biasa orang disebut “abis kenyang, bego” (ini sering kan kita dengar). Untuk menghindarinya, kita perlu tahu makanan apa yang tubuh butuhkan, sehingga kita tidak mendikte makanan terhadap tubuh kita, tetapi kita memberikan makanan yang memang tubuh butuhkan.

Dari Anas bin Malik, beliau berkata “Dahulu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berbuka dengan beberapa butir ruthab (kurma basah), dan kalau tidak ada ruthab maka dengan beberapa butir tamr (kurma matang), dan kalau tidak ada tamr maka dengan beberapa teguk air” (HR. Abu Daud, no. 2009).

Kalau boleh saya tafsirkan sendiri tentang Hadist di atas, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berbuka puasa dengan kurma basah, kalau tidak ada dengan kurma matang (kurma kering), kalau tidak aja juga kurma matang, maka dengan beberapa teguk air. Dan ini Rasulullah lakukan sebelum Shalat Maghrib. Jadi pembatal puasa Rasulullah ya hanya sekitar 3 jenis makanan/minuman itu saja.

Lalu muncul-lah argumen baru tentang makanan berbuka puasa, terutama slogan “berbuka dengan yang manis”. Mengetahui bahwa Rasulullah pada waktu berbuka dengan kurma (yang notabene adalah buah manis), maka kebanyakan orang menganggap berbuka dengan makanan manis (apapun jenisnya) adalah baik. Padahal jika di lihat lebih mendalam tentang ini, yang dimaksud manis adalah manis dari buah. Yang tentunya kita tahu bahwa buah mengandung fruktosa (gula buah) yang alami, tentu kita tidak bisa sembarang mengganti fruktosa dengan makanan/minuman manis lainnya.

Maka dari itu, muncullah teh manis, es buah dicampur gula dan susu (silahkan baca artikel saya tentang 3 Hal Penting Sebelum Makan Buah) yang jelas menyalahi aturan tubuh ketika mengkonsumsi buah.

Kalau misalkan tidak ada kurma bagaimana? Kita bisa menggantinya dengan buah matang (segar, berserat, matang pohon, dan manis) untuk berbuka puasa, karena pada saat perut kosong, sangat cocok untuk mengkonsumsi buah. Jika ada kurma, maka kurma adalah buah yang baik, sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah.

Setelah berbuka puasa, bolehkah makan-makan berat? Untuk bagian ini, saya sendiri belum menemukan riwayat Hadist nya tentang makan-makan berat (seperti nasi, dll) setelah Shalat Maghrib. Tetapi saya punya sedikit tips kita yang memang “terbiasa” untuk memakan makanan berat.

Bagi kita yang “terbiasa” menyantap makan-makanan berat, saran saya, cobalah untuk tidak menggabungkan makanan berjenis pati dengan protein hewani (tentang ini, akan saya posting pada artikel berikutnya). Karena dengan menggabungkan makanan pati dan protein hewani, ini justru pemicu tubuh mengalami kantuk (terutama pada saat Shalat Tarawih). Itulah mengapa banyak orang yang mengantuk pada saat Shalat Tarawih, kita bisa cek dari makanan yang dimakan orang tersebut. Ada baiknya jika ingin tetap makan protein hewani, gabungkanlah dengan sayur segar, agar tubuh bisa mencerna kedua jenis makanan tersebut dengan baik.

Kesimpulan dari bagian ini adalah, saya menyarankan untuk berbuka dengan buah, terlebih itu buah kurma atau buah apapun. Konsep “manis” yang dimaksud adalah manis yang didapat dari fruktosa buah, bukan “manis” yang berasal dari makanan lain.

Cara ini telah saya buktikan setiap saya berbuka puasa (baik di bulan Ramadhan ataupun pada puasa Sunnah), dan saya tidak mendapatkan rasa kantuk sedikitpun setelah berbuka.

Sahur

Lalu bagaimana dengan makanan pada saat sahur? Tentu ini berbeda dengan saat kita berbuka puasa. Saat sahur kita membutuhkan banyak energi sebagai bahan untuk kita berpuasa. Dan tentunya juga dengan paham seperti itu, banyak orang juga melakukan kesalahan saat santap sahur, yang berujung kepada rasa kantuk yang berlebih. Ini bisa berakibat fatal, terutama pada saat waktu Subuh, bisa-bisa tidak Shalat Subuh lantaran terlalu banyak makan pada saat sahur. Lantas, yang terbaik bagaimana?

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda “Sebaik-baik (makanan) sahur bagi seorang mukmin adalah kurma” (HR. Abu Daud, no. 1998).

Lagi-lagi Rasulullah menganjurkan kita untuk menyantap kurma pada saat sahur. Tetapi kembali lagi pada bahasan sebelumnya, selain kurma tentu buah apapun boleh dimakan. Dalam hadist atas ada penekanan pada kata “sebaik-baik”, yang berarti makanan yang paling baik pada saat menyantap sahur adalah kurma (atau bisa juga buah lainnya).

Apakah kurma atau buah lainnya benar-benar bisa memberikan energi untuk orang yang berpuasa? Pada awalnya saya sih ragu dengan hal demikian, sampai saya akhirnya memutuskan melakukannya sendiri, dan sampai saat artikel ini ditulis (22 Ramadhan 1434 H), setiap saya sahur, saya hanya memakan kurma saja, dan saya tidak mengalami rasa kantuk setelah sahur ataupun pada siang hari.

Makan sahur dan berbuka yang cukup, serta minum yang cukup tidak akan menimbulkan rasa kantuk berlebih, selama makanan/minuman tersebut dikonsumsi secara benar pada waktu yang benar juga.


Semoga apa yang saya jelaskan di atas berguna bagi siapapun yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana cara yang baik untuk berbuka puasa juga untuk sahur. Saya bukanlah Dokter ataupun ahli kesehatan, saya hanya seorang pembelajar kesehatan yang kebetulan saja mengetahui cara sehat dengan cara yang baik dan benar.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…