Imam Herlambang Blog Berbagi Pengetahuan – Berbagi Pengalaman
Lupa Bersyukur

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Kita sebagai manusia, sejatinya lebih sering mengeluh ketimbang bersyukur. Bukan karena kita tidak tahu bahwa bersyukur itu memang nikmat, tetapi terkadang kita yang sering lupa bahwa di setiap sisi kehidupan kita, kita mengisinya dengan mengeluh.

Apa yang kita lakukan setelah bangun tidur? Apakah bersyukur karena sudah diberikan kesempatan hidup kembali? Ataukah malah menggerutu karena harus bermacet-macetan atau karena harus masuk kerja?

Kenapa kita tidak melihat hal tersebut dari segi positifnya bahwa kita sudah diizinkan kembali untuk hidup, untuk berbagi hal kepada orang lain, untuk bisa mencari lebih banyak rezeki, dan masih banyak segudang alasan untuk bersyukur, ketimbang kita mengeluh.

Apa yang kita sering keluhkan di tempat kerja? Biasanya rekan kerja yang sikapnya sangat tidak kita sukai, atau bahkan kita sangat membencinya. Sampai-sampai kita bilang ke teman-teman kita bahwa kita tidak memiliki teman di tempat kerja kita.

Padahal, masih ada banyak rekan-rekan kerja kita di tempat kerja yang baik, yang masih mau membantu kita. Hanya saja, kita lebih terfokus pada yang membuat kita mengeluh daripada hal yang membuat kita bersyukur.

Apa yang sering kita keluhkan di jalanan? Ah sudah pasti adalah pengendara motor yang dengan seenaknya menyalip, pengendara motor yang tidak tahu aturan, dan bahkan tidak sedikit juga pengemudi mobil yang juga tidak tahu aturan dengan seenaknya saja menyalip tanpa lihat kanan-kiri.

Padahal, banyak juga pengendara motor dan mobil yang melakukan hal yang benar, mematuhi lalu lintas yang sudah ditetapkan. Kita masih bisa kok bersyukur atas hal tersebut. Coba bayangkan saja jika semua pengendara motor dan mobil sikapnya tidak mengenakkan, tentu kita sudah sering dibuat jengkel oleh mereka.

Fokuslah pada apa yang membuat hati kita lebih bersyukur daripada mengeluh, fokuslah dengan hal-hal yang akan menaikkan level kita ke level yang lebih tinggi lagi. Fokuslah untuk tetap memperhatikan segala sesuatu dengan hal yang positif.

Dan jika rutinitas kita tiba-tiba kembali ke arah mengeluh, sadarilah, dan segera rubah agar rutinitas kita tidak menjadi habit yang buruk. Karena sekalinya itu menjadi habit buruk, maka untuk merubahnya, akan sangat sulit.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Pernahkan di dalam hidup Anda, Anda sangat teramat menginginkan sesuatu yang belum Anda miliki? Saya yakin, semua orang pernah mengalami hal ini, begitupun juga saya. Kita tentunya pernah berhadapan dengan situasi dimana kita benar-benar sangat menginginkan sesuatu, entah itu pekerjaan, cinta, ataupun berupa sebuah benda.

Akan tetapi, tidak sedikit dari kita yang sudah bertemu dengan situasi tersebut, malah semakin mengejar hal-hal tersebut, yang justru lama-kelamaan malah berujung tidak mendapatkan apa yang mereka kejar. Saya juga pernah berada di dalam posisi ini.

Pada intinya, kita dihadapkan dengan keadaan dimana saat kita benar-benar menginginkan hal tersebut, justru yang kita harapkan tidak berhasil kita capai, dengan kata lain kita tidak mendapatkan yang kita inginkan.

Dan mungkin Anda juga pernah mengalami, saat-saat dimana Anda memang menginginkan sesuatu, yang mungkin sampai terbawa mimpi, tetapi di dalam realita hidup Anda, Anda tidak terlalu melekat pada hal tersebut. Anda tertarik, tapi tidak melekat.

Dan saat Anda dalam posisi tersebut, yaitu posisi dimana Anda menginginkan sesuatu, tetapi Anda tidak terlalu lebay dalam menginginkannya, atau saat-saat dimana Anda pada akhirnya memang merelakan keinginan Anda tersebut, justru pada saat itu Anda mendapatkannya.

Pernah seperti itu?
Anda boleh berfikir sejenak sambil mengingat masa-masa dimana Anda mengalami hal tersebut.

The Power of Walk Away

Saya ingin mengajak Anda mengingat sebuah film buatan Walt Disney, yang berjudul UP. Saya rasa Anda sudah menontonnya. Film Animasi UP ini mengkisahkan seorang suami (Mr. Carl Fredricksen) yang bertekad memindahkan rumahnya ke dekat Paradise Falls karena keinginannya dan juga istrinya Elie. Keinginan tersebut sempat terlupakan karena istri dari Mr. Fredricksen meninggal. Akhirnya pada suatu pagi, Mr. Fredricksen memukul petugas konstruksi, karena kotak surat rumahnya disenggol oleh alat berat. Karena kejadian tersebut, rumah Mr. Fredricksen akan diambil alih oleh bos proyek dan akan digusur.

Mengetahui rumahnya akan digusur, Mr. Fredricksen memutuskan untuk memindahkan rumahnya, tidak tanggung-tanggung. Dia memindahkan rumahnya dengan bantuan ribuan balon udara. Secara ajaib, rumah Mr. Fredricksen terangkat, dan bisa ia terbangkan.

Di suatu scene, Mr. Fredricksen melawan orang jahat yang mau menculik Kevin (burung unta langka). Pada adegan tersebut, Mr. Fredricksen berhasil menyelamatkan anak pramuka, Kevin, dan si anjing. Namun karena hal tersebut, rumah yang ingin di bawa ke Paradise Falls lepas dari genggamannya dan terbang jauh terbawa angin.

Si anak pramuka meminta maaf atas kejadian tersebut, karena cita-citanya tidak dapat ia capai. Namun, apa jawaban Mr. Fredricksen kepada anak pramuka tersebut?

You Know, it’s just a house.

The Power to Walk Away

Sebuah kata-kata yang sangat bijak di saat yang mungkin banyak orang akan menyayangkan hal tersebut. Padahal impian dia dan istrinya sudah sangat dekat dan juga perjuangan Mr. Fredricksen sudah sangat berat, tapi Mr. Fredricksen merelakan rumahnya tersebut.

WOW! Sebuah sikap Walk Away yang sangat menyentuh bagi saya. Padahal rumah tersebut sudah susah payah diterbangkan oleh Mr. Fredricksen, dan juga rumah tersebut menyimpan banyak kenangan.

Dan jika Anda menonton film ini sampai akhir. Pada akhirnya, angin menerbangkan rumah tersebut dan rumah itu persis mendarat tepat di lokasi yang diimpikan oleh Mr. Fredricksen dan istrinya inginkan. Sebuah keajaiban Walk Away, sebuah sikap tidak terlekat oleh impian, namun justru impian tersebut malah tercapai.

The Power of Walk Away

Tidak hanya contoh tersebut saja yang bisa saya berikan. Tetapi ada kisah “The Power of Walk Away” pada film Stand by Me Doraemon. Yaitu pada saat Nobita yang teramat sangat menginginkan menikah dengan Shizuka di masa depan, sampai Nobita merengek meminta bantuan Doraemon dengan alatnya. Namun betapapun Nobita berusaha dengan keras, akhirnya Shizuka tetap saja menyukai Dekisugi.

Akhirnya Nobita sadar dan bertekad untuk meninggalkan Shizuka, bahkan Nobita sampai melakukan tindakan yang kurang sopan yang membuat Shizuka marah kepada Nobita, karena jika Nobita sering bersama Shizuka, maka perasaan Nobita terus menggebu-gebu.

Nobita terus merenung, dan berniat untuk meninggalkan Shizuka, bahkan Nobita merengek kepada ibunya untuk dipindahkan ke tempat lain. Mungkin sikap Nobita kali ini tidak terlalu menggambarkan sikap Walk Away, tetapi dari cara Nobita menghadapi keinginannya yang begitu menggebu-gebu. Nobita sadar bahwa Nobita harus meninggalkan Shizuka.

Dan saat itu juga, Doraemon punya ide untuk mengajak Nobita melihat seperti apa masa depan Nobita. Dan setelah beberapa kejadian yang dialami oleh Nobita, Nobita melihat dirinya di masa depannya akan menikah dengan Shizuka.

WOW! Betapa bahagia sekali Nobita pada saat itu, sampai menari-nari di langit dengan bantuan baling-baling bambunya Doraemon. Ya, Nobita justru mendapatkan Shizuka pada saat Nobita merelakan Shizuka.

Apa yang terjadi jika Nobita terus-terusan mengejar Shizuka? Mungkin ceritanya akan berbeda, mungkin saja Shizuka menjadi tidak suka, dan lebih memilih Dekisugi. Tetapi ternyata keadaannya terbalik 🙂

The Power of Walk Away ≠ Letting It Go

Mungkin di akhir artikel ini, Anda sudah mendapatkan intinya bahwa setiap Anda menginginkan sesuatu, Anda hanya perlu mengatur jeda untuk Walk Away dari hal itu. Dan biarkan itu menjadi kuasa Tuhan dan Alam yang akan mewujudkannya untuk Anda.

Akan tetapi, kebanyakan manusia melakukan yang namanya Letting It Go. Menurut saya, Walk Away dan Letting It Go itu kedua hal yang berbeda.

Jika pada Walk Away, Anda yang memang memutuskan untuk meninggalkan hal tersebut dan tidak terlekat oleh hal tersebut, pada Letting It Go, justru Anda lah yang membiarkannya pergi. Terlihat kan bedanya?

Mungkin kalau bisa saya contohkan, Anda sangat menginginkan seorang wanita cantik, rambutnya panjang, dan proposional. Anda mengejar-ngejar dia sampai akhirnya dia merasa risih di dekat Anda, saat itu juga dia pergi meninggalkan Anda.

Kalau Anda menganggap Anda telah melakukan “The Power of Walk Away”, maka Anda salah besar, karena yang meninggalkan Anda adalah si wanita cantik tersebut, bukanlah Anda. Sedangkan si wanita tersebut melakukan “The Power of Walk Away”. Buktinya, bisa jadi Anda malah ingin terus-terusan mengejar wanita tersebut di saat wanita tersebut justru sudah tidak ada kemelekatan kepada Anda.

Kebalikannya, di saat Anda melakukan Walk Away, yaitu saat Anda tidak terlalu perduli dengan hasilnya, bahwa Anda nanti akan jadian atau tidak dengan wanita tersebut. Anda seolah-olah tidak perduli dengan hubungan tersebut, justru si wanita yang malah balik tertarik kepada Anda.

Jadi, Anda bisa bedakan antara Walk Away dengan Letting It Go.

Semoga artikel kali ini akan memberikan Anda gambaran bagaimana seharusnya Anda bersikap atas segala sesuatu yang terjadi kepada Anda. Intinya adalah:

  1. Berikan jeda waktu sedikit untuk Walk Away.
  2. Tertarik boleh, Tetapi jangan sampai terlalu melekat.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

It's Good To Be Back

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Rindu rasanya ketika kebiasaan saya setiap hari menulis di Blog saya ini, tiba-tiba tidak dapat dipenuhi karena secara tiba-tiba hosting website saya diserang virus, yang membuat data pada hosting saya corrupt, sehingga pihak hosting membanned akun saya.

Setelah berdebat berlama-lama dengan pihak hosting, mereka memberikan saya 2 alternatif, yang keduanya tidaklah mengenakkan hati saya. Kedua opsi tersebut adalah:

  1. Anda boleh dapatkan data Anda, tapi Anda kami blacklist dari hosting kami.
  2. Anda boleh tetap berlangganan dengan kami, tapi file-file Anda akan kami hapus.

Jika Anda ada di posisi saya, manakah yang akan Anda pilih? Tetap memilih dengan pilihan yang disediakan? Atau mencoba cara lain sehingga data Anda tetap selamat, namun Anda tetap dapat berlangganan di hosting tersebut?

Jujur, hosting yang saya pakai ini termasuk yang saya sukai, karena semenjak saya berlangganan sekitar 3 tahun yang lalu, sekalipun saya belum menemukan error ataupun kerusakan fatal dari pihak hosting. Jadi kejadian yang menimpa saya beberapa bulan yang lalu, yang menyebabkan semua data-data saya terkena virus itu karena ada 1 website yang berada di hosting saya yang belum di update versi WordPress nya, sehingga ini kesempatan terbaik bagi para bug finder mengeksploitasi situs-situs yang sudah outdated.

Akhirnya, saya biarkan pilihan itu menggantung beberapa hari. Sampai saya teringat kembali bahwa saya meyakini ada pilihan ketiga dari 2 pilihan, dan ada pilihan keempat dari 3 pilihan. Ya! Masih ada jalan lain untuk bisa menyelamatkan data saya dan juga saya masih berkesempatan berlangganan di hosting yang saya sukai ini.

Akhirnya saya langsung bernegosiasi dengan cara saya. Setelah berhari-hari melakukan negosiasi, akhirnya pihak manager hosting yang langsung turun tangan menangani case saya ini. Dan dia mengizinkan saya untuk tetap bisa berlangganan hosting di tempat mereka, dan juga saya di izinkan untuk mengambil data-data saya. Alhamdulillah

Dan inilah Blog saya sekarang. Kembali normal, setelah saya mensortir beberapa file yang perlu saya upload kembali dan juga saya scan sehingga kemungkinan virus masuk akan sangat kecil. Ya semoga saja kedepannya saya bisa terus memberbaiki Blog saya ini, karena saya memang suka berbagi, jadi tidak ada alasan lagi untuk saya untuk tidak berbagi kepada Anda semua.

Dan, terakhir, pesan saya untuk Anda semua yang memiliki hosting ataupun website. Backup-lah data Anda secara berkala, karena kita tidak pernah tahu kapan serangan virus akan datang. Janganlah meremehkan hal-hal kecil, karena justru kita sering tersandung oleh batu kecil.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Riba

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Artikel ini adalah bagian ke-2 dari bahasan tentang Riba. Jika Anda belum membaca bagian 1 nya, silahkan baca artikel Riba (Bagian 1).

Saya bukan seorang ustadz, akan tetapi saya mempelajari sedikit lebih ke arah muamalah Islam dan mengikuti kajian-kajian Muamalah Islam yang InsyaAllah sumbernya bisa dipercaya. Tetapi jika Anda menemukan kekurangan dalam artikel yang saya buat ini, tolong diingatkan dengan baik, agar saya bisa koreksi dan revisi sesegera mungkin.


Pada artikel sebelumnya, saya sedikit menggambarkan tentang dosa dari riba, tentang fenomena riba saat ini, tentang apa yang sebenarnya terjadi di negeri kita sekarang ini adalah, sebagian besar diakibatkan oleh riba.

Pada artikel kali ini, saya akan memberikan sedikit gambaran, apa sajakah yang termasuk transaksi riba? Atau transaksi yang mengandung riba? Untuk itu, mari kita mulai dengan mengetahui apa sebenarnya riba.

Riba dalam bahasa arab yang berarti tambahan, tumbuh, dan menjadi tinggi. Namun dalam pemahaman syariat, banyak ulama yang berbeda pendapat. Akan tetapi pada intinya, makna asalahnya sama.

Hukum Riba

Sudah sangat jelas sekali bahwa Riba adalah salah satu hal yang diharamkan dalam syariat Islam. Bahkan Allah dan Rasul-Nya menyatakan perang kepada pelaku riba. Karena sungguh riba akan membuat perpecahan yang tidak berkesudahan.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat  keberuntungan. (Al-Qur’an, Surat Al-Imran, Ayat 130)

Ibnu Katsir Rahimahullah dalam menafsirkan ayat ini berkata, “Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari praktik dan memakan riba yang senantiasa berlipat ganda. Dahulu, di zaman jahiliah, bila piutang telah jatuh tempo, maka kreditur berkata kepada debitur, ‘Lunasi utangmu atau bayar riba’. Bila debitur tidak melunasinya, maka kreditur menunda tagihan dengan kompensasi debitur menambah jumlah pembayarannya. Demikianlah setiap tahun, sehingga bisa saja piutang yang sedikit menjadi berlipat ganda hingga beberapa kali lipat.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

(Dosa) riba itu memiliki tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan ialah semisal dengan (dosa) seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri.(H.R At Thabrani – Dishahihkan oleh Al-Albani)

Berdasarkan hadist di atas, kita sudah mengetahui, sesungguhnya, dosa paling ringan dari riba saja itu adalah setara dengan menzinahi ibu kandung sendiri, yang mana tindakan zina sudahlah haram. Silahkan untuk bisa kita renungkan hadist di atas.

Jenis-Jenis Riba

Agar bisa terhindar dari dosa riba (semoga kita semua diberi kekuatan untuk meninggalkan riba), maka kita harus tahu apa saja jenis-jenis atau transaksi yang termasuk ke dalam riba?

Mengutip dari buku Pak Zaim Saidi yang berjudul Euforia Emas, beliau mengutip kitab seorang ulama besar dari Andalusia, Ibn Rushd yang berjudul Bidayat Al-Mujtahid, pada bab Al-Buyu’, menjelaskan batasan riba secara gamblang, dan menkategorikan riba ke dalam delapan jenis transaksi, yaitu:

  1. Transaksi yang dicirakan dengan suatu pernyataan ‘Beri saya kelonggaran (dalam pelunasan) dan saya akan tambahkan (jumlah pengembaliannya)’;
  2. Penjualan dengan penambahan yang terlarang;
  3. Penjualan dengan penundaan pembayaran yang terlarang;
  4. Penjualan yang dicampuraduk dengan utang;
  5. Penjualan emas dan (tambahan) barang dagangan untuk emas;
  6. Pengurangan jumlah sebagai imbalan atas penyelesaian yang cepat;
  7. Penjualan produk pangan yang belum sepenuhnya diterima; atau
  8. Penjualan yang dicampuraduk dengan pertukaran uang.

Jika disederhanakan kedelapan kategori itu, Ibn Rushd menggolongkan kemungkinan munculnya riba dalam perdagangan menjadi 2 sumber, yaitu:

  1. Penundaan pembayaran (riba an-nasi’ah); dan
  2. Perbedaan nilai (riba tafadul).

Riba yang pertama, an-nasi’ah, merujuk pada selisih waktu yang tidak diperbolehkan; dan riba yang kedua, tafadul atau al-fadl, merujuk pada selisih nilai yang tidak diperbolehkan. Dengan dua jenis sumber riba tersebut, beliau (Ibn Rushd) selanjutnya merumuskan adanya empat kemungkinan, yaitu:

  1. Hal-hal yang pada keduanya, baik penundaan maupun perbedaan dilarang adanya.
  2. Hal-hal yang padanya dibolehkan ada perbedaan, tetapi dilarang ada penundaan.
  3. Hal-hal yang pada keduanya, baik penundaan maupun perbedaan, diperbolehkan adanya.
  4. Hal-hal [yang dipertukarkan] yang terdiri atas satu jenis (genus) yang sama [semisal pertukaran uang].

Rumusan tersebut menunjukkan bahwa istilah penundaan waktu maupun perbedaan nilai digunakan di dalam fiqih untuk hal-hal, baik halal maupun haram, bergantung pada jenis transaksi dan barang yang ditransaksikan. Hal ini berarti:

  1. Bahwa dalam suatu transaksi yang mengandung unsur penundaan yang haram, timbul riba an-nasi’ah.
  2. Bahwa dalam transaksi yang mengandung unsur penambahan yang haram, timbul riba tafadul atau al-fadl.
  3. Bahwa dalam suatu transaksi yang mengandung keduanya (penundaan yang haram dan penambahan yang haram), berarti timbul riba an-nasi’ah dan riba al-fadl sekaligus.

Berikut jenis-jenis transaksi yang kita sering lakukan sehari-hari. Ditampilkan dalam tabel/diagram berikut:

Tabel Riba dalam Transaksi Harian

Tabel Riba dalam Transaksi Harian (Saidi, 2011)

 

Cara membaca diagram tersebut, caranya adalah dengan membaca melawan arah jarum jam, dimulai dari kotak paling kiri bawah. Utang-Piutang, transaksi tersebut mengandung selisih waktu diperbolehkan, namun jika ada selisih nilai, maka itu diharamkan. Sebagai contoh, misalkan kita meminjam uang sebesar Rp. 100.000, maka saat kita mengembalikan uang tersebut pun harus sejumlah Rp. 100.000. Pengembalian utang ini boleh ditunda sampai batas waktu yang sudah ditentukan, namun uang yang dipinjam, saat dikembalikan tidak boleh berubah nilainya. Jika ada orang yang meminjam uang Rp. 100.000, namun saat dikembalikan uangnya menjadi Rp. 150.000 (misalnya), maka orang tersebut sudah melakukan riba Al-Fadl.

Selanjutnya, tukar-menukar, merupakan transaksi yang tidak boleh melibatkan penundaan waktu maupun penambahan nilai. Biasanya ini terjadi pada transaksi pertukaran benda sejenis. Emas dengan emas, perak dengan perak, kurma dengan kurma, tepung dengan tepung. Untuk pertukaran ini maka harus sama kadar dan timbangannya, dan juga harus kontan (saat itu juga). Tidak boleh ada salah satu pihak yang menunda penyerahannya (pertukarannya), atau menambahkan/mengurangi kadar dan jumlahnya.

Transaksi selanjutnya, yaitu transaksi jual beli transaksi yang sering terjadi. Transaksi ini dibolehkan adanya penambahan (misal untuk mengambil untung), tetapi tidak boleh bayarnya jadi di tunda, dengan kata lain, pembayarannya harus tunai. Nah, kalau jual beli secara cicilan bagaimana? Boleh saja, tapi statusnya itu sudah bukan jual beli lagi, tetapi menjadi utang piutang, maka seperti yang sudah dijelaskan tadi di atas, harga secara tunai maupun secara cicilan haruslah sama.

Nah, menurut Anda, transaksi-transaksi kredit sekarang yang mengambil “lebih” dari suatu cicilan, apakah itu termasuk riba atau bukan?

Selanjutnya, transaksi sewa-menyewa, dalam hal ini maka penundaan waktu dan juga pertambahan selisih nilai diperbolehkan. Contohnya, ada seseorang menyewa tenda, dengan harga Rp. 500.000 selama 10 hari. Jika pemakaian selesai, maka tenda tersebut harus dikembalikan. Namun jika ingin menambah masa sewa (penundaan waktu), maka boleh untuk si pemilik tenda mengenakan tambahan nilai kepada si penyewa. Tetap, dengan catatan transaksi tersebut adalah sewa-menyewa dan barang harus dikembalikan.

Tapi, tidak semua benda bisa disewakan, ada barang-barang tertentu yang jika disewakan menjadi habis, seperti makanan, uang dan barang-barang lain yang habis dipakai. Kalau seperti rumah, mobil, motor, kendaraan lain itu adalah barang-barang yang tidak habis dipakai.

Begitulah kira-kira transaksi harian yang bisa kita teliti didalamnya terdapat riba atau bukan. Untuk transaksi, pegang ke-empat indikator tersebut (jual beli, sewa menyewa, utang piutang, dan tukar menukar), untuk indikator lainnya, pegang dua indikator, yakni penambahan nilai dan penundaan waktu.

Sekarang, kita sudah mengerti transaksi apa saja yang termasuk riba, dan tugas kitalah untuk keluar dari jeratan riba secepat mungkin. Jika ada solusi keluar dari riba, namun solusi tersebut adalah riba juga, segera tolak dan tinggalkan.

Semoga Allah membimbing langkah kita dalam memerangi riba, dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa riba kita yang terdahulu.

Artikel ini akan dilanjut ke Bagian 3…

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


Referensi

Saidi, Z. 2011. Euforia Emas. Pustaka Adina: Depok.

Mencatat

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Ada kalanya, seorang Blogger bingung dengan apa yang ingin di tulis di Blog, termasuk saya tentunya. Kadang harus memutar otak untuk waktu yang lama jika ingin memposting sebuah tulisan. Namun begitu di luar kegiatan blogging, ide itu kerap datang bermunculan.

Biasanya, ide-ide itu datang bermunculan pada saat waktu yang kita tidak inginkan. Kalau kita lengah, maka hilanglah ide itu. Dan saat mau posting artikel, keadaan blank lalu menghampiri lagi. Ini sangat wajar.

Tetapi saya punya solusi yang lumayan sederhana untuk diaplikasikan. Tapi walaupun tips ini sederhana, kalau tidak dilakukan ya tetap saja otak akan blank lagi saat mau mengeksekusi ide-ide yang sudah kita taruh di otak.

Solusi sederhana nya adalah Mencatat!

Mencatat

Mencatat (sumber: http://mujahidahilmiy89.wordpress.com)

Ya betul, saat ide datang, segeralah untuk di catat. Entah di handphone atau di kertas. Yang penting, saat ide muncul, langsung di catat. Kalau saya, ketika dapat ide di rumah, saya langsung catat di aplikasi online saya untuk me-list artikel apa saja yang akan saya terbitkan setiap hari kerja nya.

Kalau sedang diluar, saya akan catat di handphone saya. Dan tips sederhana tersebut ternyata ampuh. Saat saya ingin memposting artikel, saya hanya perlu melihat catatan online saya atau saya melihat handphone saya.

“Oh, hari ini saatnya posting artikel ini. Baiklah”.

Nah, tips ini juga berguna untuk Anda yang misal bukan Blogger. Tips mencatat saat ide datang ini sangat sederhana sekali, namun ketika sudah di catat, itu berarti kita memindahkan ide kita yang ada di otak ke pencatatan.

Sehingga, ketika nanti ada ide baru, ide yang lama tadi kita sudah catat, jadi tidak hilang. Nah, siapa dari Anda yang sudah mencoba mencatat setiap detail yang ingin Anda kerjakan? Kalau saya, Alhamdulillah sudah 🙂

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Hidayah Datang Setiap Saat

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saya tiba-tiba teringat oleh perkataan salah satu guru saya di suatu kelas. Beliau berkata “Hidayah itu hadir setiap saat”. Persisnya kata-katanya seperti itu. Dari perkataan tersebut beliau sampaikan berulang-ulang kali, layaknya ingin menegaskan bahwa hidayah itu tidak seharusnya kita tunggu, tetapi hidayah itu selalu hadir setiap saat.

Tugas kita lah yang seharusnya lebih peka, kita seharusnya melatih pikiran kita, hati kita, mata kita untuk melihat lebih jauh, telinga kita untuk mendengar lebih peka. Dan semua itu bisa kita lakukan jika kita memang peka, jika kita memang ingin mendapatkan hidayah.

Jadi, sudah seharusnya kita menangkap sinyal-sinyal hidayah yang sudah Allah berikan kepada kita, bukan menunggu hidayah. Sebuah contoh sederhana yang datang dari salah satu gadis ber-rambut panjang yang belum berhijab, dengan alasan “saya belum siap”, “hijab hati dulu, baru tubuh”, dan bermacam-macam alasan lainnya. Padahal, mungkin jika gadis tersebut mau untuk melihat sekitar, untuk mengamati sekitar, sudah banyak sekali lingkungan sekitar nya yang sudah berhijab.

Hidayah Datang Setiap Saat

Hidayah Datang Setiap Saat (sumber: http://creativekhalifah.tumblr.com)

Jadi Allah sudah memberikan hidayah-Nya melalui wanita-wanita yang sudah berhijab tersebut. Allah hadirkan tepat di sekeliling gadis yang belum berhijab tersebut. Hanya saja, sang gadis belum sadar diri terhadap lingkungannya.

Atau mungkin seorang perokok yang di dalam hatinya sudah ada sedikit keinginan untuk berhenti merokok, dan tentunya sudah berdoa memohon untuk dibukakan hidayah agar bisa berhenti merokok. Di sekitarnya pun sudah banyak orang yang mensupport dia untuk berhenti merokok.

Tetapi jika si perokok tersebut tidak menyadarkan dirinya, atau tidak peka terhadap lingkungan, tidak mau melihat lebih luas akan hidayah-hidayah yang sudah Allah berikan. Maka doa-doa yang dia panjatkan tadi itu hanya sebatas doa saja. Padahal Allah sudah memberikan hidayah-Nya melalui lingkungan-lingkungan sekitar.

Sepertinya masih banyak sekali contoh-contoh realita di sekeliling kita yang saat ini bermasalah dengan hidayah. Saya pun dan juga Anda mungkin salah satunya. Tugas kita sekarang adalah membuat diri kita lebih peka terhadap lingkungan sekitar, lebih “melek” untuk melihat, dan lebih banyak mendengar, memperhatikan sekitar. Karena Hidayah Allah itu datang setiap saat.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Dengki Penghalang Rezeki

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Dengki. Kita mungkin atau bahkan sering mengalami penyakit hati yang satu ini, yang kehadirannya sangat amat menyiksa batin kita. Tetapi kita sebagai pelakunya tidak sadar akan sesungguhnya penyakit berbahaya ini.

Biasanya orang yang dilanda dengki ini, apapun yang dilakukan oleh orang terdekatnya, selalu saja iri, selalu saja tidak suka, selalu saja mencari alasan-alasan lain yang mendukung pembenarannya. Padahal, justru perasaan-perasaan itulah yang menghancurkan hatinya.

Orang yang dengki biasanya cenderung tidak suka melihat orang terdekatnya lebih bahagia daripadanya, lebih sukses daripadanya. Padahal, sebagai manusia wajar dan normal, kita sudah seharusnya berbahagia apabila salah satu saudara kita menerima kebahagiaan.

Perasaan dengki awalnya muncul saat merasa diri tidak mampu, kemudian karena ketidakmampuan diri tersebut, saat diri lemah, lalu muncullah sesosok diri lain yang ternyata lebih mampu dari diri kita, dan dari situlah timbul perasaan iri.

Iri bahwa diri kita tidak bisa lebih baik daripada orang yang kita iri-kan tersebut. Nah dari perasaan iri tersebutlah lahir perasaan dengki, yang sejatinya merusak segala amalan-amalan hati, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar.

Sebab dengki ibarat kebocoran yang terjadi pada sebuah ember, sederas apapun kita mengisi air, kalau ember tersebut bocornya tidak ditambal, ya airnya tidak akan penuh. Begitupun dengan dengki, sebesar dan sebanyak apapun kita melakukan amalan, kalau hati kita memiliki perasaan dengki, amalan-amalan yang kita lakukan akan terbuang sia-sia begitu saja.

Rezeki pun demikian, hanya numpang lewat bahkan, hanya setetes saja bahkan yang sanggup mampir pada diri kita. Yang seharusnya mendapatkan banyak rezeki, dengan dengki, rezeki itu pun hilang nan tak berbekas.

Dengki Penghalang Rezeki

Dengki Penghalang Rezeki (sumber: http://superior.blogspot.com/)

Artikel ini menjadi pengingat bagi diri saya pribadi khususnya, dan untuk Anda semua yang mungkin saat ini sedang dilanda penyakit yang satu ini. Segeralah untuk mengintrospeksi diri, untuk memperbaiki diri. Dan sadarilah bahwa dengki hanya akan membuat kita berdiam di tempat.

Untuk tips menghilangkan dengki, salah satunya bisa Anda baca di artikel ini, selain itu kita juga bisa menghilangkan dengki dengan banyak-banyak bersyukur, dan juga lebih pasrah diri bahwa kesuksesan kita itu terjadi atas izin Allah. Jika orang-orang terdekat kita ternyata lebih sukses, bisa jadi karena mereka berusaha lebih giat dari kita, dan kitanyalah yang kurang berikhtiar. Selalulah dalam keadaan positive thinking setiap waktunya.

Ketahuilah, dengki bisa menjadi penghalang rezeki, dengki bisa menyebabkan penyakit hati, dengki bisa menyebabkan perpecahan, dengki bisa menyebabkan putusnya tali silaturahim, dan masih banyak lainnya efek buruk dari dengki.

Mari hilangkan perasaan dengki tersebut.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Ujian dan Hukuman

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Biasanya ketika kita sekolah dulu, ada 2 hal yang selalu kita takuti (setidaknya ada 2 memang). Ada Ujian dan ada Hukuman. Namun, biasanya kita kerap menyamakan kedua hal tersebut dengan perasaan yang sama, akhirnya kita tidak bisa membedakan mana yang benar-benar namanya ujian, mana yang hukuman.

Padahal, jika dilihat lebih dalam tentang keduanya, sesungguhnya itu kedua hal yang berbeda. Namun karena dahulu kita belum mengetahui tentang kedua hal tersebut, perasaan kita atas kedua hal tersebut biasanya sama.

Ujian diberikan kepada seseorang untuk mengukur sejauh mana seseorang telah belajar dalam hidupnya. Untuk mengukur sejauh mana seseorang sudah siap untuk naik ke tingkat selanjutnya di dalam hidupnya.

Hukuman biasanya diberikan kepada seseorang atas perbuatan salah yang telah dilakukan oleh seseorang. Atas perbuatan melanggar ketentuan atau peraturan. Biasanya hukuman ada yang secara langsung, ada juga yang ditunda (seperti dipenjara, sebelumnya dilakukan proses pengadilan terlebih dahulu).

Begitupun Ujian dan Hukuman dari Allah, banyak manusia ketika menerima ujian mengaggap itu sebenarnya adalah hukuman baginya. Dan sebaliknya, banyak pula manusia ketika menerima hukuman, menganggap itu sebenarnya adalah ujian.

Ujian dan Hukuman

Ujian dan Hukuman (sumber: http://ardhastres.blogspot.com)

Adakah cara membedakan ujian dan hukuman? Sebenarnya ada banyak, namun saya akan sedikit sharing tentang bagaimana membedakan kondisi kita, sedang diujikah oleh Allah atau sedang dihukumkah kita?

Perbedaan keduanya terletak dari cara kita menyikapi hal tersebut. Biasanya ketika diuji (dan orang tersebut tahu sedang diuji), mereka akan lebih tenang, karena mereka tahu, setelah ujian, derajat mereka akan ditingkatkan, dan ujian hanyalah salah satu langkah untuk memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.

Sedangkan ketika dihukum, orang cenderung gelisah, khawatir, takut dan banyak perasaan-perasaan negatif lainnya bercampur menjadi satu. Jenis seperti ini, biasanya hati kita telah dinodai oleh kesalahan.

Untuk ujian, jika kita sabar dan tawakkal, InsyaAllah kita akan lulus ujian tersebut. Lain dengan hukuman, hanya akan berakhir ketika memang sudah dimaafkan oleh Allah (atau hukuman tersebut sudah cukup), atau kita nya lah yang meminta maaf kepada Allah atas perlakuan tidak baik kita, atas perlakuan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya.

Maka, sudah selayaknya kita untuk introspeksi diri, saat ini kita sedang diuji atau sedang dihukum?

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Riba

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Artikel yang akan saya tulis kali ini tidak membahas secara menyeluruh pengertian riba dan apa macam-macamnya, silahkan Anda bisa cari sendiri di artikel-artikel lain di internet atau bisa mencari kitab-kitab lain. Namun, saya tetap mencantumkan beberapa hadist yang relevan dengan pembahasan kali ini.


 

Sungguh akan datang suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak memakan (harta) riba. Siapa pun yang (berusaha) tidak memakannya, ia tetap akan terkena debu (riba) nya. (H.R. Ibnu Majah, H.R. Sunan Abu Dawud, H.R. An-Nasa’i dari Abu Hurairah)

Begitulah kira-kira salah satu Hadist Rasulullah SAW. Yang ternyata jika kita bandingkan dengan kondisi saat ini, sangat benar adanya. Riba telah membuat orang terpaksa terlibat untuk melakukan riba, walaupun ada yang berusaha tidak terlibat riba, tetap terkena debu-debu riba.

Padahal kita semua tahu bahwa dosa riba bukan hanya untuk pelakunya saja, akan tetapi untuk pencatat, saksi, dan juga penggunanya. Dan kita juga tahu bahwa dosa riba yang paling ringan itu sama dengan berzina.

Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan mengetahui bahwa itu adalah uang riba, dosanya lebih besar daripada berzina sebanyak 36 kali. (H.R. Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 3375)

Bisa kita lihat ke dalam kehidupan kita sekarang, di setiap lini kehidupan kita dipenuhi oleh aktivitas riba, sampai-sampai sangat sulit sekali untuk menghindari riba. Riba sudah menjadi lifestyle kita, sudah mendarah daging yang sulit untuk kita lepas.

Bagaimana tidak, untuk bisa beli bermacam-macam benda primer bahkan sekunder, kita lebih banyak ditawarkan dalam bentuk kredit ketimbang tunai, bisa kita lihat pada barang-barang televisi dan elektronik lainnya, lemari, meja, kursi, kendaraan bermotor, bahkan sampai rumah pun ditawarkan dalam bentuk kredit, lebih tepatnya kredit yang mengandung bunga, yang tidak lain adalah sistem ribawi.

Mengapa demikian, karena jika kita membeli secara tunai, biaya-biaya yang ditawarkan tersebut akan sulit sekali dijangkau oleh kita, oleh karena itulah ditawarkan dalam bentuk kredit berbunga.

Tidak hanya barang yang kita beli, bahkan aktivitas pembayaran lain yang kita lakukan juga menggunakan sistem riba, seperti misalkan pembayaran telepon, listrik, tol, jasa-jasa lainnya. Karena investasi yang mereka dapatkan dan mereka salurkan melalui sistem kredit perbankan.

Begitulah riba. Riba membuat seluruh lini kehidupan kita menjadi berantakan, menjadikan orang-orang semakin menderita dan sengsara. Bahkan secara tersirat Allah menyatakan bahwa riba itu membuat manusia menganiaya dan dianiaya.

Ketahuilah bahwa persoalan yang paling utama sekarang adalah riba. Riba telah menggerogoti segala aspek kehidupan kita. Kredit berbunga, sewa menyewa uang, pinjaman bank, dan masih banyak produk perbankan lainnya yang memicu munculnya riba.

Riba menyebabkan segala macam harga pokok menjadi naik, karena esensi riba sendiri adalah tambahan, maka akibat dari itu semua harga barang-barang pokok harian kita tidak bisa murah lagi seperti dulu, karena sewaktu memulai usaha, banyak yang menggunakan pinjaman berbunga bank, alhasil banyak yang menaikkan harga untuk menutupi bunga-bunga bank tersebut.

Riba saat ini sudah menjadi sistem, sudah menjadi pola hidup, sudah menjadi habits baru bagi seluruh umat dunia.

Jadi, sampai saat ini, kita sadar bahwa akar persoalan kita adalah riba, menggerogoti hidup kita secara perlahan namun pasti. Namun, apakah ada solusi untuk terhidar dari riba? Setidak-tidaknya hanya debunya saja?

Jika kita mengikuti solusi dari sistem ribawi saat ini, solusi yang ditawarkan adalah riba lagi!. Betul, kegiatan riba saja sudah haram, lah ini ditawarkan riba lagi. Pinjaman uang dengan cicilan ringan dan bunga yang sangat kecil, yang mana proses seperti ini terus berputar layaknya lingkaran setan.

Naudzubillahi min dzalik…

Semoga intro dari artikel sederhana ini bisa membuka wawasan kita akan bahaya riba. Pada artikel selanjutnya (InsyaAllah minggu depan), saya akan sedikit bahas apa saja yang termasuk dalam kategori riba.

Artikel ini akan dilanjut ke Bagian 2…

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Biasanya, seorang muslim mengucapkan Alhamdulillah jika mendapatkan sesuatu yang mereka impi-impikan. Atau mendapat sesuatu yang tak diduga, dan itupun biasanya diucapkan ketika ingat, kalau lupa yah ucapan tersebut biasanya terlewat saking senangnya (semoga kita tidak termasuk orang yang lalai berdzikir).

Tidak sedikit juga yang mengucap kata tersebut saat dalam keadaan tidak susah, saat susah kata-kata tersebut jarang sekali bisa dilantunkan. Seyogyanya, ucapan tersebut haruslah mengalir setiap hembusan nafas kita, karena apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita, tidak akan sanggup kita hitung.

Akan tetapi, belum cukup sampai disitu saja, sebisa mungkin haruslah ada action nyata dari kita atas bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Jadi tidak hanya sekedar dilisankan saja, tetapi ada amal nyata perbuatan atas rasa syukur kita terhadap pemberian Allah.

Bersyukur

Bersyukur (sumber: http://tipsorangsukses.blogspot.com)

Misalkan, setiap harinya kita masih diberikan kesehatan optimal oleh Allah, setelah bersyukur mengucap Alhamdulillah, sebisa mungkin kita juga harus menjaga kesehatan yang telah Allah amanahkan kepada kita. Karena masih banyak loh orang-orang diluar sana yang saat ini berbaring di rumah sakit memohon untuk diberikan kesembuhan. Sudah sepatutnya, kita tunjukkan amal nyata kita atas perasaan bersyukur kita.

Jadi untuk kita yang sering bersyukur mungkin akan lebih naik lagi tingkatan level bersyukur kita kepada Allah, dengan cara mengoptimalkan, menjaga, dan melakukan sesuatu atas pemberian Allah.

Kira-kira, jika kita punya baju berlebih dan diberikan ke orang lain, tentu orang itu akan senang bukan dengan pemberian kita? Tentu saja. Dia berucap “Terima Kasih ya atas pemberian bajunya, saya sangat suka ini”. Kita pun terharu mendengar kata-katanya.

Tetapi, berhari-hari kemudian, baju tersebut ternyata tidak dipakai olehnya, sampai bertahun-tahun lamanya, baju tersebut tidak dipakai juga oleh orang tersebut. Kira-kira, apakah selanjutnya kita akan memberikan baju lagi kepada orang tersebut?

Silahkan direnungkan baik-baik.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…