Imam Herlambang Blog

Menu

Category: Sharing Jum’at

Sharing Jum’at adalah Kategori khusus di mana tulisan di dalam kategori ini ditulis oleh Abu Fakhri Afiff setiap Hari Jum’at nya.

[Sharing Jum’at] Bagaimana Menyikapi Perbedaan Keyakinan (Bagian I)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Kaum Muslimin yang dirahmati   الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى   seperti kita ketahui bersama bahwa kita hidup di negeri yang penduduknya ber-beda2 keyakinan/ kepercayaan dan itulah kodrat الله , sunnatullah yang memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Juga merupakan ujian untuk kita, bagaimana menyikapi perbedaan ini dan syukur  الْحَمْدُلِلَّهِ     sampai detik ini berkat rahmat الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى rakyat di negeri ini dapat hidup berdampingan dengan rukun dan aman. Keyakinan yang berbeda ini justru mengajak kita selaku orang Muslim untuk saling bertanggung jawab memberitahukan kebenaran dan mengajak kepada kebaikan dengan sopan, santun, dan tidak memaksa.-

Islam adalah agama yang sangat toleran, Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah memberi contoh bagaimana bersikap toleran dalam mengarungi kehidupan ini. Dalam kaitan yang berhubungan dengan antar sesama manusia yang berbeda suku, bangsa, bahkan berbeda agama. Karena itulah maka pada zaman Rasululloh  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  Islam dikenal agama yang sangat toleran dan agama yang dihargai oleh para ilmuwan yang tahu persis tentang Islam. Karena memang الله  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى    menjadikan Islam sebagai rahmat di alam ini :

Dan tiadalah KAMI mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al Quran, surat Al-Anbiya (21), aya7 107).

Imam Muslim mengatakan dalam shahihnya, Ibnu Abi Umar memberitahukan kepada kami, Marwan al-Fazari memberitahukan kapada kami dari Yazid bin Kisan dari Ibnu Hazim dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dia mengatakan, ada yang mengatakan, “Ya Rosululloh  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  do’akan keburukan bagi orang-orang musyirik.” Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  bersabda :

Sesungguhnya aku diutus bukan sebagai pelaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat.” (HR. Imam Muslim IV/2006 No. 2559 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir VI/99-100).

Islam mengajarkan agar kita menjamin keselarasan kehidupan dengan lingkungan, apalagi dengan sesama manusia. Toleransi yang dicontohkan oleh Rosululloh  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  terhadap agama-agama lain sangat jelas sebagaimana terungkap dalam sejarah. Seperti yang diriwayatkan dalam suatu hadits yang shahih dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Ibundanya datang kepadanya saat ia masih musyrik di masa perundingan damai yang terjadi antara Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  dan penduduk Makkah, ibundanya datang kepadanya meminta bantuan, lantas Asma’ meminta izin terlebih dahulu kepada Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  mengenai hal tersebut; apakah ia boleh menyambung rahim dengannya? Maka, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  pun bersabda, “Sambunglah rahim dengannya.” (al-Bukhari, II:242; Muslim, II:696 dari hadits Asma’ radhiyallahu‘anha).

Bukan hanya pada zaman Rosululloh  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  saja terjadi seperti itu, pada zaman Umar bin Khathab radhiyallaahu ‘anhu, yang di dalam sejarah Islam terkenal dengan zaman keemasan. Pada saat itu, ditaklukkannya kerajaan Persia, kerajaan Romawi, sehingga Islam berkembang sangat pesat pada saat itu. Bukan hanya meluas ke Timur, tetapi juga ke Barat. Di sana ditemukan beberapa umat yang berlainan agama. Kalau Umar pada saat itu ingin berlaku semena-mena, maka tidak menunggu waktu lama, mereka bisa dikikis habis. Tetapi, Umar malah memberi penghormatan kepada mereka, dan melindungi mereka untuk melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan mereka, dengan catatan mereka tidak memusuhi, dan menjadikan Islam sebagai musuh untuk dihancurkan. Demikian juga yang terjadi pada kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya.

Itulah sikap yang dicontohkan Rosululloh  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  dan para sahabatnya. Persoalannya adalah ketika kita hidup di negeri ini dimana ada dua sisi yang menyikapi perbedaan agama, dengan sikap yang sama-sama ekstrim. Di satu sisi, mereka melihat orang lain mengikuti agama kita, misalnya ketika hari Raya Idul Fitri, banyak orang lain yang mengambil sikap menghormati dengan mendatangi ke rumah-rumah untuk mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri. Dalam kondisi yang seperti itulah, maka ada kebingungan di antara umat Islam, yang tidak faham betul tentang aqidah, maka dia juga ingin melakukan hal yang sama, di saat orang lain merayakan hari rayanya, dia datang ke tempatnya. Sisi lainnya, juga ada sebagian umat Islam, yang menganggap, bahwa saling menghormati dan saling menghargai suatu agama adalah hal yang wajar, bahkan mungkin sampai-sampai menganggapnya, semua agama datangnya dari Tuhan dan semua itu merupakan suatu kebenaran, maka terjebaklah mereka dalam konsep pluralisme. Pluralisme dalam konteks aqidah tidak dibenarkan dalam Islam.

Salah satu ulama ahli hadits abad ini, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Bazrahimahullah (mantan mufti kerajaan Arab Saudi dan mantan Rektor Universitas“Al-Madinah” Arab Saudi) pernah ditanya :

“Ya Syaikh…, apa kewajiban seorang Muslim terhadap non Muslim, baik statusnya sebagai “Dzimmi” di negeri kaum Muslimin atau ia berada di negerinya sendiri dan Muslim yang tinggal di negerinya? Kewajiban yang saya maksud untuk dijelaskan di sini adalah bagaimana interaksi dengannya dari segala aspeknya, mulai dari memberi salam hingga ikut merayakan hari besarnya. Mohon pencerahan, semoga الله  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  membalas kebaikan untuk Syaikh..?”

Beliau menjawab:

Kewajiban seorang Muslim terhadap non Muslim ada beberapa bentuk, diantaranya :

1. Menjelaskan hakikat Islam kepadanya semampu yang dapat ia lakukan dan berdasarkan ilmu yang ada padanya, sebab hal ini merupakan bentuk kebaikan yang paling agung dan besar yang dapat diberikannya kepada warga negara sesamanya dan etnis lain yang berinteraksi dengannya seperti etnis Yahudi, Nashrani dan kaum Musyrikin lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ,
Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti (pahala) pelakunya.” (Dikeluarkan oleh Imam Muslim, III, no.1506; Abu Daud, no.5129; at-Turmudzi, no.2671 dari hadits Abu Mas’ud al-Badri radhiyallahu ‘anhu).

Dan sabda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kepada ‘Ali radhiyallaahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Khaibar dan memerintahkannya menyeru orang-orang Yahudi kepada Islam,
Demi  اللهُ, sungguh اللهُ memberi hidayah kepada seorang laki-laki melalui tanganmu adalah lebih baik bagimu daripada onta merah (harta yang paling berharga dan paling bernilai kala itu).” (Dikeluarkan oleh al-Bukhari, III:137; Muslim, IV:1872 dari hadits Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu).

Dalam sabda beliau  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم   yang lain,
Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. (Dikeluarkan oleh Muslim, IV: 2060; Abu Daud, 4609; at-Turmudzi, 2674 dari jalur Isma’il bin Ja’far, dari al-‘Ala’ bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Jadi dakwah atau pun penyampaian Islam dan nasehatnya dalam hal tersebut termasuk sesuatu yang paling penting dan bentuk pendekatan diri kepada الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

2. Tidak berbuat zhalim terhadap jiwa, harta atau pun kehormatannya bila ia seorang Dzimmi (non Muslim yang tinggal di negeri kaum Muslimin dan tunduk kepada hukum Islam serta wajib membayar jizya), atau Musta’man (non Muslim yang mendapatkan jaminan keamanan) atau pun Mu’ahid (non Muslim yang mempunyai perjanjian damai). Seorang Muslim harus menunaikan haknya (non Muslim) dengan tidak berbuat zhalim terhadap hartanya baik dengan mencurinya, berkhianat atau pun berbuat curang. Ia juga tidak boleh menyakiti badannya dengan cara memukul atau pun membunuh sebab statusnya adalah sebagai seorang Mu’ahid, atau dzimmi di dalam negeri atau Musta’man yang dilindungi.

3. Tidak ada penghalang baginya untuk bertransaksi jual beli, sewa-menyewa dan sebagainya dengannya. Berdasarkan hadits yang shahih dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan beliau pernah membeli dari orang-orang kafir penyembah berhala dan juga membeli dari orang-orang Yahudi. Ini semua adalah bentuk mu’amalah (transaksi). Bahkan sebelum wafat, Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  masih menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi untuk keperluan makan keluarganya.

4. Tidak memulai salam dengannya tetapi tetap membalasnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, “Janganlah memulai salam dengan orang-orang Yahudi dan Nashrani.” (HR.Muslim, IV:1707 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

5. Tidak boleh ikut serta merayakan pesta dan hari besar mereka, namun boleh berdoa untuk orang kafir yang masih hidup agar mendapat hidayah, demikian jawaban yang disampaikan oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Bazrahimahullah, beliau adalah mantan mufti kerajaan Arab Saudi dan beliau juga pernah menjabat sebagai rektor Universitas “Al Madinah” Saudi Arabia, ketika menjawab suatu pertanyaan dari seorang penanya,  والله اعلم.

Dalam suatu hadits shahih Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Bila Ahli Kitab memberi salam kepada kamu, maka katakanlah: ‘Wa’alaikum.’ (Muttafaqun alaih, HR. al-Bukhari, IV:142; Muslim, IV:1706 dari hadits Abdullah bin Dinar, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu).

Jadi, seorang Muslim tidak memulai salam dengan orang kafir akan tetapi bila orang Yahudi, Nashrani atau orang-orang kafir lainnya memberi salam kepadanya, maka hendaknya ia mengucapkan, Wa’alaikum. Sebagaimana hadits tersebut di atas yang diperintahkan Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Ini termasuk hak-hak yang disyari’atkan antara seorang Muslim dan orang kafir.

Hak lainnya adalah bertetangga yang baik. Bila ia (non Muslim) tetangga anda, maka berbuat baiklah terhadapnya, jangan mengusik-nya, boleh bersedekah kepadanya bila ia seorang yang fakir. Atau boleh memberi hadiah kepadanya bila ia seorang yang kaya. Boleh pula menasehatinya dalam hal-hal yang bermanfa’at baginya sebab ini bisa menjadi motivator ia berhasrat untuk mengenal Islam, dan mungkin mendapatkan hidayah dari الله عَزَّ وَجَلَّ  kemudian masuk Islam.

Juga, karena tetangga memiliki hak yang agung sebagaimana sabda Rosululloh  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , “Jibril senantiasa berpesan kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga hingga aku mengira ia akan memberikan hak waris kepadanya.” (Hadits Muttafaqun ‘alaihi).

Juga sebagaimana makna umum dari firman الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  berikut ini :

Artinya :

اللهُ tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya اللهُ  menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Quran, surat al-Mumtahanah (60), ayat 8).

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abdullah bin az-Zubair, ia berkata, “Qutailah (Ibu dari Asma’) pernah mendatangi anak perempuannya, Asma’ binti Abu Bakar dengan membawa beberapa hadiah, di antaranya daging, keju dan minyak samin, sedangkan ia (Qutailah) seorang yang musyirik, maka Asma’ menolak hadiahnya serta tidak mempersilahkan ibunya masuk rumah. Aisyah radhiyallahu ‘anhuma pun menanyakan tentang peristiwa tersebut kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , maka الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  menurunkan ayat di tersebut atas. Maka Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  pun memerintahkan Asma’ untuk menerima hadiah ibunya dan mempersilahkan masuk rumah.” (HR. Imam Ahmad IV/4 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir IX/59-60).

Pada ayat yang mulia di atas, الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  membolehkan berbuat adil dan berbuat baik kepada non muslim, kecuali orang-orang non muslim yang wajib diperangi, karena mereka mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri dalam ketentuan orang-orang yang wajib diperangi.

Kaum Muslimin juga harus menyayangi sesama manusia dengan kasih sayang, dengan memberinya makan jika ia lapar (tidak ada makanan), memberinya minum jika ia kehausan, mengobatinya jika ia sakit, menyelamatkan dari kebinasaan dan menjauhkan gangguan daripadanya.

Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : “Sayangilah orang yang ada di bumi, niscaya engkau disayangi siapa yang ada di langit” (Diriwayatkan Ath Thabrani dan Al Hakim Hadist ini shahih).

Kaum Muslimin tidak mengganggu harta, darah dan kehormatan saudara non muslim, jika mereka bukan termasuk orang yang wajib diperangi :

Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , bersabda : “Barangsiapa menyakiti orang kafir dzimmi, maka Aku menjadi lawannya pada hari kiamat“. (HR. Muslim).

Setelah penaklukan kota Makkah, penduduk kota Makkah memperkirakan bahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  pasti membunuh mereka, atau menjadikan mereka budak, atau paling sedikit merampas harta-benda mereka. Pada saat itu mereka benar-benar sangat cemas dan menduga-duga apakah kiranya pernyataan yang akan beliau  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم   sampaikankan dalam khutbah bersejarah itu. Rosululloh Muhammad  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  memulai khutbahnya kepada orang-orang kafir itu dengan kalimat berikut:

“Pada hari ini, tidak akan ada tuntutan apapun atas kalian dan tak seorangpun akan mencelakai kalian dengan cara apapun.”

Tidaklah dapat kita temukan contoh serupa itu sepanjang sejarah kehidupan manusia untuk menunjukkan sikap yang sangat istimewa dalam hal menghadapi lawan. Buah dari sikap yang mulia ini, ribuan penduduk Makkah pun berbondong-bondong memeluk Islam.

Sikap mulia serupa itu pernah juga ditunjukkan Nabi Muhammad  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  pada waktu beliau mengizinkan rombongan utusan suku Bani Thaqif untuk tinggal di Masjid Nabawi, walaupun waktu itu mereka masih belum memeluk Islam. Hal ini beliau lakukan untuk menunjukkan rasa hormat dan keramah-tamahan.

Mudah-mudahan penjelasan di atas dapat menambah wacana kita semua, namun mungkin masih timbul pertanyaan, mengapa kaum Muslimin tidak boleh ikut serta merayakan pesta dan hari besar mereka?

Seperti telah dijelaskan di atas, ada sebagian yang menganggap, bahwa toleransi saling menghormati dan saling menghargai suatu agama adalah hal yang wajar dengan dalih bahwa semua agama benar karena semua agama datangnya dari Tuhan dan semua itu merupakan suatu kebenaran, maka semua agama adalah benar.

Hal ini menyebabkan mereka terjebak dalam konsep pluralisme. Pluralisme dalam konteks aqidah tidak dibenarkan dalam Islam. Pluralisme sebagai aliran filsafat menganggap, bahwa semua agama benar, semua bentuk ubudiyah yang dilakukan masing-masing pemeluk agama adalah jalan yang menuju kepada titik yang sama. Hal ini bertentangan dengan beberapa firman الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  berikut ini :

Surat Al-Maaidah (5), ayat 3:

Artinya : “Pada hari ini telah KU-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah KU-cukupkan kepadamu ni’mat-KU, dan telah KU-ridhoi Islam itu jadi agama bagimu.

Surat Ali Imran (3), ayat 19:

Artinya : “Sesungguhnya agama yang diridhoi disisi الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى hanyalah Islam.

Kemudian firman الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  Surat Ali Imran (3), ayat 85:

Artinya : “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak- lah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Dari ketiga ayat tersebut di atas jelas bahwa الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  telah menyatakan agama Islam-lah yang sempurna dan telah diridhoi-NYA, maka dalam hal menjaga hubungan hamba-NYA dengan الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى (hablum minallah) haruslah berjalan murni sesuai dengan syari’at, tidak terpengaruh oleh hal2 yang bersifat ceremonial demi menjaga toleransi atau hubungan kehidupan beragama antar masyarakat non muslim, artinya untuk hablum minallah dalam Islam tidak ada toleransi, namun dalam hubungan sosial antar mansuia (hablum minannas) Islam sangat bertoleransi.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan dan akan dilanjutkan pada hari Jum’at mendatang, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.

[Sharing Jum’at] Langit Bumi Pun Menangis

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Kadang2 ketika kita sedang naik peasawat terbang pada siang hari dan pada ketinggian tertentu, kemudian dari jendela kita menoleh kebawah, kita akan melihat pemandangan indah dimana ada kelompok2 awan putih bersih, ada juga kelompok2 awan yang agak abu2, bahkan kadang2 awan agak merah karena siraman sinar matahari. Apabila kita menoleh keatas, nun jauh di atas kita yang terlihat hanya pemandangan langit biru yang seolah membatasi ketinggian kita.

Keadaan akan berbeda, bila terbang pada malam hari dimana suasana dan nuansa alam yang berbeda. Kita tengok kebawah, gelap pekat dan yang terlihat hanya hamparan kelap-kelip lampu2 pada jalan raya, bangunan2 yang berpijak di bumi atau titik2 cahaya lampu kecil pada kapal yang sedang berlayar di atas lautan. Kemudian kita menoleh ke atas, keadaan pun gelap pekat, yang terlihat hanya gemerlap kelap-kelip cahaya bintang2, kadang terlihat bulan dengan cahayanya yang terang, kadang redup tertutup awan, “SUBHAANALLAH” amat indah fenomena alam ini.

ALLAH Subhaanallahu Wa Ta’ala menciptakan alam semesta termasuk benda2 di langit maupun di bumi pasti mempunyai hikmah tertentu. Namun sedikit sekali manusia yang memikirkan betapa besar hikmah dibalik semua penciptaan itu.

ALLAH Subhaanallahu Wa Ta’ala berfirman :

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda2 bagi orang2 berakal (190). Yaitu orang2 yang mengingat ALLAH sambil berdiri atau duduk dan dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata : ‘Ya ROBB kami, tidaklah ENGKAU menciptakan ini dengan sia2. Maha Suci ENGKAU, maka peliharalah kami dari siksa Neraka’ (191).” (Al-Qur’an, surat Ali-Imran (3), ayat 190-191).

Pada ketinggian dan luas langit serta kerendahan bumi dan kepadatannya, dimana pada keduanya ada segala macam benda2 ciptaannya, itu semua adalah tanda2 kekuasan ALLAH yang Agung dan dapat disaksikan, berupa langit, awan, bintang2, komet, daratan dan lautan, pegunungan, tanah gersang, pepohonan, tumbuh2an, tanaman, buah2an, binatang, tambang dan mineral, serta berbagai macam warna, aroma dan rasa. Termasuk silih bergantinya siang dan malam, keduanya susul- menyusul tidak pernah berhenti hingga hari Kiamat, semua itu adalah ketetapan ALLAH yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Kemudian kita merenung sejenak dan berfikir untuk memahami hikmah yang terdapat pada penciptaan langit dan bumi, ternyata pada keduanya menunjukkan keagungan  ALLAH Robbul Alamin, Sang Pencipta, juga kekuasaan-NYA, keluasan ilmu-NYA, hikmah-NYA, perbuatan-NYA serta rahmat-NYA……SUBHAANALLAH.

Hikmah penciptaan alam semesta ataupun kalimat2 ALLAH sangat banyak dan tidak terhitung, bahkan tak satu pun manusia yang sanggup menghitungnya.

ALLAH Subhaanallahu Wa Ta’ala berfirman :

Dan seandainya pohon-pohon di Bumi menjadi pena dan laut menjadi tinta, ditambahkan kepadanya tujuh laut lagi sesudah keringnya, niscaya tidak akan habis-habisnya dituliskan kalimat ALLAH. SesungguhnyaALLAH Mahaperkasa lagi Mahabijaksana“. (Al-Qur’an, surat Luqman (31), ayat 27).

Shahih Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan maksud  surat Luqman ayat 27 diatas adalah seandainya seluruh pepohonan di dunia dijadikan pena dan lautan dijadikan tinta, ditambah dengan tujuh lautan lagi setelah lautan yang pertama kering, kemudian pena dan tinta dijadikan alat untuk menuliskakalimat – kalimat ALLAH yang menunjukkan keagungan ALLAH, sifat-sifat ALLAH dan kebesaran-NYA, niscaya pena-pena itu akan pecah berkeping-kepingdan air lautan akan habis, meskipun didatangkan tambahan sebanyak itu pula.

Sharing kali ini yang berjudul  “Langit Bumi pun menangis” ini adalah satu hikmah  dari sekian banyak hikmah yang tidak terhitung yang ada pada ciptaan-NYA.

Seperti kita ketahui bahwa di mana pun kita berada, maka perilaku kita selama hidup di dunia yang fana ini disaksikan oleh alam di sekitar kita, termasuk langit dan bumi. Bahkan ketika seorang mukmin meninggal, maka langit dan bumi pun menangis. Namun sebaliknya bila seseorang yang meninggal itu kafir, maka langit dan bumi tidak menangis.

ALLAH Subhaanallahu Wa Ta’ala berfirman :

Maka Langit dan Bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi tangguh.” (Al-Qur’an, surat Ad-Dukhaan (44), ayat 29).

Ayat di atas menceritakan bagaimana Fir’aun dan pasukannya yang mati karena ditenggelamkan ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala di laut dan mereka tidak mempunyai peninggalan amal shalih di muka bumi ini, dan tidak pula amal shalih yang bisa naik ke langit, sehingga langit dan bumi pun tidak menangisi mereka. (Shahih tafsir Ibnu Katsir VIII/262-263, pstk Ibnu Katsir).

Ibnu  Jarir meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Ada seseorang mendatangi Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma dan bertanya, ‘Wahai Ibnu Abbas..! Apa pendapatmu tentang ayat ini, apakah langit dan bumi itu dapat menangis karena seseorang?‘ Maka Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma pun menjawab, ‘Ya, karena setiap orang itu memiliki pintu di langit yang menjadi tempat naiknya amal perbuatan serta tempat turunnya rizki. Ketika seorang mukmin meninggal dunia, maka pintunya yang di langit itu akan ditutup, setelah sebelumnya menjadi tempat naiknya amal baik serta tempat turunya rizki semasa hidupnya. Ketika pintu itu ditutup, dan tidak ada amal yang naik dan rizki yang turun, maka langit pun merasa kehilangan, dan ia pun menangis. Demikian juga ketika tempat shalatnya yang ada di bumi yang sebelumnya digunakan untuk shalat dan berdzikir merasa kehilangan, maka bumi pun menangis. (Shahih tafsir Ibnu Katsir VIII/262-263, pstk Ibnu Katsir).

Bahkan ketika seorang mukmin meninggal, maka ketika malaikat membawa ruhnya ke langit, pintu langit pun terbuka. Begitupula ketika jenazah seorang mukmin di kubur, maka bumi (kuburnya) pun membuka lebar (meluaskan kuburnya). Sebaliknya bila yang meninggal orang kafir, maka pintu langit pun tertutup tidak terbuka hingga ruh pun di campakkan ke bumi. Dan bumi (kuburnya) pun menyempit hingga remuk tulang hastanya.

Mari kita perhatikan hadits-hadits  berikut ini :

Dalam riwayat hadits yang cukup panjang, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari al-Bara bin Azib, ia berkata, “Kami pernah keluar bersama Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam untuk menghadiri pemakaman seorang laki-laki darial-Anshar. Setelah tiba di kuburan, dan mayat belum dimasukkan ke liang lahad, Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam duduk, dan kami pun duduk di sekitarnya.

Seakan-akan di atas kepala kami ada burung, yakni begitu hening dan terdiam karena menghormati keberadaan beliau. Sambil memegang sebuah ranting Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam menggores-gores tanah dengan ujungnya (seperti orang yang sedang serius berpikir), tak lama kemudian beliau mengangkat kepalanya seraya berkata : “Berlindunglah kepada ALLAH dari siksa kubur“, beliau mengucapkan dua atau tiga kali. Lalu beliau  bersabda  : “Sesungguhnya, apabila seorang hamba yang beriman akan pergi meninggalkan dunia menuju negeri akhirat, maka turunlah dari langit beberapa Malaikat berwajah putih bagaikan matahari membawa kain kafan dan hanuuth (ramuan) dari Surga. Hingga duduk di dekatnya, sedang jumlah mereka sejauh mata memandang. Kemudian datanglah Malaikat maut lalu duduk di samping kepalanya. Malaikat maut berkata, ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan dari ALLAH.’ Maka keluarlah ruh orang beriman itu bagaikan tetes air yang keluar dari mulut wadah air (dari kulit) dan disambut oleh Malakat maut.

Seketika itu pula para Malaikat yang ada di dekatnya, langsung mengambil dan meletakkan ruhnya ke dalam kafan yang ada hanuuth tersebut dengan menebarkan semerbak kesturi yang paling wangi di seluruh penjuru dunia. Kemudian mereka naik membawanya. Setiap melewati sekelompok Malaikat, mereka bertanya, ‘Ruh siapakah yang sangat wangi ini?’ Maka para Malaikat yang mengiringinya pun menyebutkan nama orang beriman itu dengan nama yang paling baik yang pernah diberikan oleh manusia semasa ia masih di dunia.

Setibanya di langit pertama, Malaikat pengiring meminta dibukakan pintu. Lalu dibukakan untuknya, kemudian secara bersama-sama, mereka mengantarkannya ke langit berikutnya, hingga ruh tersebut tiba di langit ke tujuh. ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman : “Tulislah catatan hidup hamba-KU ini di dalam Surga Illiyyin (tempat yang paling tinggi), lalu kembalikanlah ia ke bumi. Karena sesungguhnya AKU telah menciptakan mereka manusia dari tanah dan akan mengembalikannya lagi menjadi tanah. Setelah itu, AKU akan mengeluarkannya kembali dari tanah untuk yang kedua kalinya.”

Setelah ruh itu dikembalikan lagi ke dalam jasadnya, datanglah dua Malaikat. Kedua Malaikat itu mendudukannya seraya bertanya, ‘Siapa ROBB-mu?’  ‘ALLAH adalah ROBB-ku, jawab orang yang beriman itu.’ Dua Malaikat itu bertanya lagi, ‘apa agamamu?’ ‘Islam agamaku’, jawabnya. Dua Malaikat bertanya lagi, ‘siapakah laki-laki yang diutus kepada kamu?’ ‘Dia adalah Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, jawabnya.’ Dua Malaikat itu bertanya lagi, ‘dari mana kamu mengenalinya?’   ‘Aku telah membaca Kitab ALLAH, lalu aku beriman dan membenarkannya’, jawabnya.

Maka terdengarlah suara dari langit, “Sungguh telah benar hamba-KU, siapkanlah untuknya permadani dari Surga, berikanlah ia pakaian dari Surga dan bukakanlah untuknya pintu menuju Surga.”

Lalu angin dan harum Surga mendatanginya, datang dari pintu itu. Kemudian kuburnya diluaskan seluas mata memandang. Dan tak lama kemudian, datanglah seorang laki-laki tampan berpakaian indah, menebarkan wangi semerbak. Ia berkata :

‘Bergembiralah dengan orang yang akan membuatmu senang, ini adalah harimu yang dahulu dijanjikan untukmu.’  ‘Siapakah kamu, wajahmu seperti membawa kabar baik?’ Tanya orang beriman itu.   ‘Aku adalah amal shalihmu’, jawabnya.  Orang beriman itu pun berkata, ‘Wahai ROBB-ku, bangkitkanlah hari Kiamat wahai ROBB-ku, bangkitkanlah hari Kiamat,  agar aku dapat kembali kepada keluargaku dan harta-hartaku.’

Kemudian Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, melanjutkan sabdanya, ‘Dan sesungguhnya seorang hamba yang kafir apabila dalam keadaan sakaratul maut dan menunggu saat tibanya pulang ke negeri akhirat, maka turunlah beberapa Malaikat dari langit yang berwajah hitam membawa kain dari bulu yang kasar. Lalu mereka duduk di dekatnya, sedang banyaknya sejauh mata memandang. Lalu datang pula Malaikat maut dan duduk di samping kepalanya.

Malaikat maut berkata, ‘Wahai jiwa yang kotor, keluarlah menuju kemarahan dan kemurkaan ALLAH.’ Maka mendengar ucapan itu, ruh orang kafir itu bercerai berai dalam tubuhnya. Lalu Malaikat maut mencabutnya dari jasadnya bagaikan mengeluarkan besi dari kain wol yang basah.

Maka seketika itu pula para Malaikat yang duduk di dekatnya langsung mengambil dan meletakkannya ke dalam kain kasar tersebut. Lalu ruh itu menebarkan bau bangkai yang lebih busuk dari bau bangkai apa pun di dunia. Kemudian para Malaikat naik membawanya menuju langit. Setiap melewati sekelompok Malaikat, mereka bertanya, ‘Ruh siapakah yang sangat busuk ini?’  Maka para Malaikat yang mengiringnya pun menjawab seraya menyebutkan nama yang paling buruk yang dahulu diberikan untuknya selama di dunia.

Setibanya di langit dunia, maka pintu langit diminta untuk dibuka, namun tidak dikabulkan. Lalu Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam membaca firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala : “Sekali-kali tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum (mustahil).”   (Al Qur’an, surat Al-Araaf (7), ayat 40).

Maka ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman, ‘Tulislah catatan hidupnya di dalam Neraka Sijjin di kerak bumi yang paling dasar.’  Kemudian ruhnya dilemparkan ke bumi, lalu Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam membaca firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala lagi, “Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan ALLAH, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”    (Al Quran, surat Al-Hajj, ayat 31).

Setelah ruh itu dikembalikan ke jasadnya, maka datanglah dua Malaikat yang kemudian mendudukkannya seraya berkata kepadanya, “Siapa ROBB-mu?”  ‘Hah, hah, aku tidak tahu,’ jawab orang kafir itu.  Dua Malaikat itu bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’  ‘Hah, hah, aku tidak tahu,’ jawab orang kafir itu.  Dua Malaikat itu kembali bertanya, ‘Siapakah laki-laki yang diutus kepada kamu?’   ‘Hah, hah, aku tidak tahu,’ jawab orang kafir itu.

Maka terdengarlah seruan dari langit, ‘Sungguh dia telah berdusta, siapkanlah permadani dari Neraka untuknya, dan bukakanlah untuknya pintu menuju Neraka.’

Maka datanglah kepadanya dari pintu Neraka itu hawa panas, lalu kuburnya disempitkan hingga tulang-belulangnya menjadi remuk. Kemudian datanglah seorang laki-laki berwajah jelek, berpakaian buruk dan berbau busuk. Laki-laki itu berkata, ‘Bergembiralah dengan orang yang akan menyusahkanmu, inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu.’

‘Siapakah kamu, wajahmu seperti membawa keburukan?’ Tanya orang kafir itu.  ‘Aku adalah perbuatan jahatmu,’ jawab laki-laki itu. Orang kafir itu pun berkata, ‘Wahai ROBB-ku, jangan ENGKAU segerakan hari Kiamat.’ (HR. Imam Ahmad IV/287 – HR. Imam Abu Dawud III/546 – HR. Imam an-Nasa’i  IV/78 – HR. Imam Ibnu Majah I/494 – lihat al-Musnad No. 18534 – XXX/5030 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir V/41-42-43-44-45-46-47-48, Pstk Ibnu Katsir).

Dalam riwayat lain, Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk untuk shalat, lalu beliau melihat orang-2 seolah-olah mereka banyak tertawa, maka beliau mengatakan, “Seandainya kalian banyak mengingat penghancur kelezatan, niscaya itu telah menyibukkan kalian sehingga lupa terhadap apa yang aku lihat saat ini. Oleh karena itu, perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yakni kematian, karena tidaklah datang satu hari pun pada kubur melainkan ia mengatakan: ‘Aku adalah rumah sunyi. Aku adalah rumah seorang diri. Aku adalah rumah yang sunyi. Aku adalah rumah tanah. Aku adalah rumah belatung.” Ketika seorang hamba mukmin dikuburkan, maka kubur mengatakan kepadanya, “Selamat datang! Sungguh kamu adalah orang yang paling aku cintai diantara orang yang berada di permukaanku. Jika kamu telah kembali kepadaku, maka kamu akan melihat apa yang aku perbuat untukmu. “Maka diluaskanlah untuknya sepanjang mata memandang dan pintu Surga dibukakan untuknya. Sementara jika hamba pendurhaka atau kafir dikuburkan, maka kubur mengatakan kepadanya, “Tidak ada ucapan selamat datang. Sungguh kamu adalah orang yang paling aku benci dari antara orang-2 yang berjalan di permukaanku. Jika aku telah berpaling darimu hari ini, kamu kembali kepadaku, lalu engkau akan melihat apa yang aku lakukan terhadapmu.”  Maka ia menghimpitnya hingga bertemu dengannya dan tulang rusuknya berantakan.”  (HR.at-Tirmidzi).

Ada pepatah ataupun pribahasa yang mengatakan, “di mana pun bumi dipijak, di situ pun langit di junjung” pepatah ataupun pribahasa ini mempunyai arti kurang lebih, “dimana pun kita berada, hendaknya kita menghormati masyarakatnya, tradisi dan bahasanya.” Kalau boleh saya kiaskan sedikit arti pepatah ini : “dimana pun kita berada, maka beramal shalih-lah semampu kita, karena alam sekitar kita menyaksikan.”

Hidup manusia ini berpacu antara amal shalih dengan waktu kematian. Oleh karena itu, dimasa hidup kita di dunia yang singkat dan fana ini banyak2lah beramal shalih di mana pun kita berada, sebelum kematian menjemput dan kalau pun kematian menjemput, semoga ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala wafatkan dalam keadaan khusnul khotimah dan……………langit – bumi pun menangisi kita……………Aamiin.


Mahasuci ENGKAU, ya ALLAH, aku memuji-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selainENGKAU, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-MU.

Bertakwalah kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala di mana pun kita berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.

[Sharing Jum’at] Bintang Sebagai Hiasan dan Penjagaan Langit (Bagian II)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Dahulu syaitan2 itu memiliki tempat2 berdiam di langit. Mereka mendengarkan Wahyu. Dan ketika itu bintang2 tidak mengejar mereka, dan syaitan2 tidak dilempari. Ketika mereka telah mendengarkan Wahyu, mereka turun ke bumi dan menambahkan kalimat yang mampu mereka dengar itu dengan tambahan kalimat yang lain dari diri mereka.

Adapun setelah Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam diutus, maka ketika syaitan2 ingin mencapai tempat berdiamnya, suluh api pun mendatanginya dan tidak meleset darinya sehingga membakarnya. Syaitan2 itu lalu mengadu kepada iblis-(semoga ALLAH melaknatnya), iblis berkata, ‘Ini disebabkan adanya perkara yang baru.’ Lalu iblis mengutus tentaranya (para syaitan), dan mereka mendapati Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam beserta para Sahabatnya berdiri sedang membaca Al Quran di dalam shalat di antara dua gunung pohon kurma, maksudnya dua batang pohon kurma (ini dikatakan oleh Waki’).

Selanjutnya Ibnu Abbas radhiyallallaahu ‘anhu berkata, “Kemudian para tentara syaitan kembali kepada iblis untuk mengabarkan hal tersebut dan iblis pun berkata, ‘Inilah dia perkara yang baru itu’, maksudnya: dengan kejadian ini (dengan diutusnya seorang Rosul), mereka pun tahu bahwa inilah sebab yang karenanya langit dijaga dengan ketat. Maka sebagian dari jin itu ada yang beriman, dan sebagian lainnya tetap dalam kesesatan.” (Shahih Tafsir Ibnu Katsir VII/ 581-582 – Ath-Thabari XXI/12).

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Ta’ala, senada dengan keterangan di atas, mari kita perhatikan firman ALLAH berikut ini :

Jin itu berkata : ‘dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api (8)‘. Dan sesungguhnya kami (para jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya) (9). Dan sesungguhnya kami (para jin) tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukkan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah ROBB mereka menghendaki kebaikan bagi mereka (10).“. (Al-Quran, surat Al-Jinn (72), ayat 8 – 10).

Melalui ayat yang mulia di atas, ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala mengabarkan tentang keadaan jin setelah ALLAH mengutus Rosul-NYA, Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan setelah Al-Qur’an diturunkan kepadanya. Di antara penjagaan-NYA terhadap Al-Qur’an adalah ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala menjadikan langit penuh dengan para penjaga yang kuat. Segala penjurunya terjaga, dan syaitan2 diusir dari tempat2nya semula, di mana sebelumnya mereka biasa menempati ketika mencuri dengar berita dari langit. Tujuannya adalah agar syaitan2 itu tidak mencuri sebagian dari Al Qur’an.

Seandainya mereka dapat mencuri sebagian dari Al Qur’an, maka syaitan2 itu akan menyampaikannya kepada para dukun, sehingga akan terjadi kerancuan, tidak diketahui siapa yang benar. Penjagaan ini termasuk kasih sayang ALLAH kepada makhluk-NYA, dan merupakan rahmat-NYA kepada hamba2-NYA, di samping sebagai penjagaan-NYA terhadap kitab-NYA yang mulia. Sehingga setelah Rosululloh diutus, maka barangsiapa berusaha mencuri dengar berita2 di langit, dia akan berhadapan dengan panah2 api yang siap menghujaninya dengan tepat, tidak meleset, sehingga ia akan hancur binasa. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir IX/316-317-318).

Begitu kuatnya penjagaan di langit yang berlapis-lapis, sehingga para syaitan tidak sampai kepada al mala ul a’laa, yaitu langit dengan para Malaikat yang ada di dalamnya, namun para syaitan mencoba mencuri dengar percakapan para Malaikat di Langit dunia, yang kadang sebelum mencuri tersambar panah api/ suluh api yang menyala dan kadang sudah sempat mencuri dan menyampaikan kepada syaitan yang di bawahnya, baru kemudian tersambar dan terbakar. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir VII/580-581).

Kaum Muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, tidak satu pun makhluk-NYA yang dapat mengetahui hal2 yang ghaib atau apa pun yang akan terjadi di dunia, hanya ALLAH  yang mengetahui semua itu, mari kita perhatikan firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berikut ini :

DIA adalah ALLAH Yang Maha Mengetahui yang ghaib, maka DIA tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu (26). Kecuali kepada Rosul yang diridhoi-NYA, maka sesungguhnya DIA mengadakan penjaga2 Malaikat di muka bumi dan dibelakangnya (27).” (Al-Qur’an, suarat Al-Jinn (72), ayat 26-27).

Melalui ayat yang mulia di atas ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala mengabarkan bahwa DIA Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, tidak ada seorang pun dari makhluk-NYA yang mengetahui sesuatu dari ilmu-NYA, selain apa yang DIA tunjukkan kepada Rosul yang diridho’i-NYA dan ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala mengkhususkan Nabi dengan penjagaan Malaikat terhadapnya atas perintah ALLAH dan menuntun beliau dalam menunaikan Wahyu bersamanya. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir IX/ 331-332).

Ayat di atas senada dengan firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berikut ini :

Dan mereka tidak mengetahui apa2 dari ilmu ALLAH melainkan apa yang dikehendaki-NYA.” (Al-Qur’an, suarat Al-Baqarah (2), ayat 255).

Melalui ayat yang mulia ini ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala memberitahukan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui ilmu ALLAH, meskipun sedikit, kecuali yang diajarkan dan diberitahukan oleh ALLAH kepadanya. Manusia tidak akan mengetahui pengetahuan tentang DZAT dan sifat ALLAH Ta’ala sedikit pun, kecuali apa yang telah diberitahukan ALLAH kepadanya.

Dari Aisyah radhiyallaahu ‘anha ia berkata, ‘Aku pernah bercerita kepada Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa para dukun berkata begini dan begitu. Kami lihat kenyataannya memang benar.‘ Kemudian Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, bersabda : “Kata2 yang benar itu tertangkap oleh sebangsa jin, lalu dibisikkannya ke telinga dukun dan ditambah-tambah dengan seratus dusta.” (HR. Imam Muslim IV/ No. 2085, hal 155).

Dari Shafiyah radhiyallaahu ‘anha, dari sebagian para isteri Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, dari Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Siapa yang mendatangi dukun, lalu dia menanyakan sesuatu kepada dukun itu, maka tidak diterima ALLAH shalatnya selama 40 malam.” (HR. Imam Muslim IV/ No. 2088, hal 157).

Kaum Muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, setelah kita baca dan renungkan dari ayat2 suci Al-Quran, Hadits2 yang shahih (As-Sunnah) di atas, kemudian perkataan2 para Sahabat yang pernah hidup bersama Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam juga perkataan para ulama2 terdahulu (Salafus Shalih), ternyata dibalik penciptaan bintang2 di alam jagad raya ini, terkandung hikmah yang begitu sangat luasnya dan ALLAH-lah Yang Maha Mengetahui yang ghaib, maka DIA tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rosul yang diridhoi-NYA, oleh karena itu serahkanlah segala sesuatu (tawakkal) kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala.

Kita diajarkan oleh ALLAH dan Rosulu-NYA untuk selalu bertawakkal kepada-NYA, mari kita perhatikan do’a berikut ini :

حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Cukuplah ALLAH sebagai tempatku bergantung, tidak ada ilah yang berhak di-ibadahi dengan benar selain DIA. Hanya kepada-NYA aku bertawakkal. Dan DIA-lah ROBB yang memiliki  ‘Arasy yang Agung” (Al Quran, surat At-Taubah (9), ayat 129).

ALLAH  Subhaanahu Wa Ta’ala Maha Mengetahui hamba-NYA yang lemah, sebagai manusia pasti banyak melakukan kesalahan dan dosa, maka banyak2lah bertaubat dan mohon ampun kepada-NYA, bila diberi kenikmatan banyak-2lah bersyukur kepada-NYA dan bila diuji maka bertawakkalah kepada-NYA dengan ikhlas dan sabar. Akhir kata, sering2lah berdo’a dengan doa seperti yang diajarkan Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam berikut ini :

 رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُور 

Ya Robb-ku, ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya ENGKAU Maha Penerima Taubat lagi Maha Pengampun” (HR. Sunan Abu Dawud No. 1516 – HR. Sunan at-Tirmidzi No. 3434 – HR. Sunan Ibnu Majah No. 3814).

اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya ALLAH hanya rahmatMu aku berharap mendapatkannya. karena itu, jangan ENGKAU biarkan diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dariMu). Perbaikilah seluruh urusanku, tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain ENGKAU.” (HR. Sunan Abu Dawud No. 5090 dan HR. Imam Ahmad V/42).

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، الْمَنَّانُ، يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

Ya ALLAH, Aku memohon kepada-Mu. Sesungguhnya bagi-Mu segala pujian, tidak ada ilah (sesembahan yang berhak disembah) kecuali ENGKAU Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Mu, Maha Pemberi nikmat, Pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya. Wahai ROBB Yang Maha Agung dan Maha Pemurah, wahai ROBB Yang Hidup, wahai ROBB yang mengurusi segala sesuatu, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar dimasukkan ke Surga dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa Neraka.” (HR.Sunan Abu Dawud No. 1495 – HR.Sunan an-Nasa’i III/52 – HR. Sunan Ibnu Majah No. 3858, dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu).


Mahasuci ENGKAU, ya ALLAH, aku memuji-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selainENGKAU, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-MU.

Bertakwalah kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala di mana pun kita berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.

[Sharing Jum’at] Bintang Sebagai Hiasan dan Penjagaan Langit (Bagian I)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, pernahkah kita perhatikan apabila malam telah tiba dimana kita berada pada posisi di alam terbuka, kemudian kita tengok ke atas nun jauh yang tinggi di atas sana dimana saat itu nampak langit bersih tidak tertutup awan, apakah yang nampak oleh kita saat itu? Yang jelas kita akan melihat rembulan dengan cahaya yang menerangi bumi dan bertaburannya bintang-bintang yang berkelap-kelip seakan-akan menerangi langit, ……..”SUBHAANALLAH” amat indah ALLAH Ta’ala ciptakan susunan benda2 di angkasa ini.

Kemudian pada malam yang lain, mungkin diantara kita pernah mengalami dimana ketika kita melihat ke atas, kadang kita dapat menyaksikan sekelebatan cahaya yang bergerak cepat dan cahaya itu segera hilang ditelan kegelapan malam dan kejadian ini sangat singkat, bahkan hanya dalam hitungan detik saja. Ada pendapat yang menamakan kejadian tersebut di atas adalah berpindahnya bintang dari satu posisi ke posisi lain, ada yang mengatakan ini bintang jatuh dan tidak sempat menyentuh bumi karena ada lapisan bumi yang melindungi, ada juga yang mengatakan ini meteor dan lain sebagainya, Wallahu a’lam.

Mari kita perhatikan firman ALLAH Subhaanallahu Wa Ta’ala berikut ini :

……., sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata : “Apakah yang telah difirmankan oleh ROBB-mu?” Mereka menjawab : “Perkataan yang benar”, dan DIA-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Al-Quran, surat Saba’ (34), ayat 23).

Melalui ayat yang mulia ini, ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala memberitahukan bahwa ini merupakan sebuah maqam/kedudukan yang tinggi dalam menggambarkan keagungan ALLAH, yaitu bahwa apabila ALLAH berfirman dengan Wahyu-NYA (berita, takdir, kejadian), kemudian penghuni langit mendengarkan firman-NYA, niscaya mereka gemetar ketakutan, hingga mereka seperti mau pingsan. Penafsiran ini dikemukakan oleh Ibnu Mas’ud, radhiyallaahu ‘anhu, Masruq dan para ulama terdahulu lainnya.

Kemudian setelah mereka sadar (dikosongkan hati mereka dari rasa takut), mereka bertanya kepada Malaikat yang tidak pingsan, ‘Apa yang telah difirmankan oleh ROBB-mu?’, maka Malaikat yang tidak pingsan menjawab : ‘Perkataan yang benar’. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir VII/ 420).

Kemudian kita bertanya, lalu apa hubungannya antara sekelebatan cahaya yang cepat menghilang ditelan gelapnya malam dengan ayat di atas ? Mari kita perhatikan Hadits berikut ini :

Dari Abudullah bin Abbas radhiyallaahu ‘Anhu, ia berkata, ‘Ada seorang Sahabat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dari kalangan Anshar bercerita kepadaku, bahwa pada suatu malam ketika mereka sedang duduk mengaji dengan Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, tiba2 mereka melihat bintang jatuh (meteor) yang bersinar. Maka bertanya Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada mereka, “Apa yang kalian baca pada masa jahiliyah apabila melihat bintang jatuh seperti ini?” Jawab mereka, ‘ALLAH dan Rosul-NYA sesungguhnya lebih mengetahui hal ini, lalu kami mengatakan : ‘Malam ini lahir seorang besar dan meninggal seorang besar pula.‘ Maka bersabda Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, “Sesungguhnya bintang (meteor) itu tidak jatuh karena meninggalnya seseorang dan tidak pula karena lahirnya seseorang. Tetapi ROBB kita, yang nama-NYA penuh berkah dan Maha Tinggi, apabila DIA memutuskan suatu urusan, maka bertasbihlah Malaikat pemikul ‘Arasy, kemudian bertasbih pula penduduk langit seperti mereka, sehingga tasbih mereka terdengar pula oleh penduduk langit dunia ini.

Kemudian berkata Malaikat2 yang dekat pemikul ‘Arasy kepada Malaikat pemikul ‘Arasy, ‘Apa yang telah difirmankan oleh ROBB-mu? Lalu mereka ceritakan apa yang telah difirmankan-NYA. Maka kabar-mengabarkanlah penduduk langit sesama mereka, sehingga berita itu sampai pula kepada penduduk langit dunia ini. Berita itu tertangkap oleh bangsa jin, lalu dibisikkannya kepada pemimpin2 mereka, tetapi mereka dilempar bola api karenanya. Maka apa yang disampaikannya menurut berita yang sebenarnya, itu benar. Tetapi biasanya mereka para jin berbohong dan mereka tambah2.’” (HR. Imam Muslim IV/No. 2087, hal. 156).

Jadi cahaya yang cepat menghilang adalah bintang/ bola api yang dilemparkan kepada bangsa jin yang mencuri pendengaran dari percakapan para Malaikat di langit dunia.

Sebagian ulama terdahulu menjelaskan bahwa ketika mendengar Wahyu/berita/kejadian, para Malaikat seperti mau pingsan, gemetar, ketakutan dan setelah sadar kembali, mereka bertanya kepada sebagian yang lain : ‘Apa yang telah difirmankan oleh ROBB kalian?‘ Maka para Malaikat pembawa Arasy’ menyampaikan kepada para Malaikat yang berada dibawahnya, kemudian disampaikan lagi kepada para Malaikat yang berada dibawahnya, begitu seterusnya, hingga sampailah kabar tersebut kepada para Malaikat penghuni langit pertama (langit dunia). Percakapan para Malaikat yang ada di langit dunia inilah yang sering dicuri oleh para syaitan yang terkutuk. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir VII/ 420-421).

Bintang-bintang di langit, baik yang tampaknya berjalan maupun yang diam semuanya menerangi penduduk bumi mempunyai hikmah, mari kita perhatikan juga firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berikut ini :

Sesungguhnya KAMI telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan KAMI jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan KAMI sediakan bagi mereka siksa Neraka yang menyala-nyala.” (Al-Quran, surat Al-Mulk (67), ayat 5).

Melalui ayat yang mulia ini ALLAH Subhaahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa  di angkasa jagad raya ini, ada planet2 yang ditempatkan di sana, baik planet yang bergerak maupun planet2 yang kesannya menetap dan yang dijadikan alat pelempar syaitan bukanlah planet2 itu, akan tetapi yang dilemparkan itu adalah suluh2 api yang menyala atau bola api yang berada disekitar bintang itu, yang mana bola api itu bersumber dari bintang2 tersebut. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir IX/202-203). Wallahu a’lam.

Bahkan pada riwayat lain, Qatadah mengatakan, “Sesungguhnya ALLAH menciptakan bintang2 dengan tiga karakter, yaitu : sebagai perhiasan langit, pelontar syaitan, dan petunjuk jalan. Siapapun yang menginterpretasikannya kepada selain itu, maka itu merupakan pendapatnya sendiri dan telah menyalahi serta menyia-nyiakan kapasitas sebagai manusia, selain itu ia telah membebani dirinya dengan sesuatu yang tidak ia ketahui.” (Diriwatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim – Ath-Thabari XXIII/508  – Shahih Tafsir Ibnu Katsir IX/203).

Perhatikan firman ALLAH Subhaahu Wa Ta’ala berikut ini :

Dan sesungguhnya KAMI telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan KAMI telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandangnya (16), dan KAMI  menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk (17), kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari Malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang cemerlang (18).” (Al-Quran, surat Al-Hijr (15), ayat 16-18).

ALLAH Subhaahu Wa Ta’ala melalui ayat yang mulia ini menyebutkan bagaimana DIA menciptakan langit dengan ketinggiannya dan bintang2 serta planet2 yang menghiasi alam jagad raya ini dan bagi orang2 yang mau merenungi dan memikirkan keajaiban2 dan tanda2 yang nyata, pasti akan terpana karenanya. Penafsiran Mujahid dan Qatadah kata al-Buruuj pada ayat di atas adalah “gugusan bintang2”. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir V/94).

Sedangkan Athiyyah al-Aufi berkata yang dimaksud al-Buruuj pada ayat di atas adalah “menara2 penjaga”. Lalu ALLAH Ta’ala menjadikan batu2 meteor sebagai penjaga menara2 itu agar syaitan2 tidak dapat mendengar pembicaraan penduduk langit. Setiap syaitan yang mencoba memasang telinganya, akan dilempar dengan meteor yang membinasakannya. Namun terkadang sebelum dihantam oleh meteor, syaitan yang telah menyadap pembicaraan dari langit telah sempat menyampaikan pembicaraan itu kepada syaitan yang ada di bawahnya, sehingga syaitan yang di bawah inilah yang menyampaikan pembicaaran itu kepada pemujanya seperti dukun dlsb, sebagaimana yang ditegaskan dalam sebuah hadits shahih. (Al-Baghawi III/45 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir V/95).

Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat di atas (Al-Quran, surat Al-Hijr (15), ayat 16-18)  ini serupa dengan surat Al-Furqon (25), ayat 61 :

Maha Suci ALLAH yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan DIA menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.

Mengenai penafsiran  Al-Quran, surat Al-Hijr (15), ayat 16-18  di atas, Imam Bukhori meriwayatkan dalam shahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu, ia mengatakan bahwa, Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Apabila ALLAH telah memutuskan sesuatu di langit, maka para Malaikat pun mengepakkan sayap-sayapnya bagaikan sebuah rantai yang dihempaskan di atas batu besar yang halus, pertanda mereka tunduk dibawah keputusan itu. Maka apabila telah dihilangkan ketakutan itu dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh ROBB-mu?’ Mereka menjawab : ‘Perkataan yang benar, dan DIA-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.’ Lalu para syaitan durhaka mencuri percakapan para Malaikat dengan cara menyusun barisan ke atas/ bertumpuk-tumpuk di antara mereka ke atas hingga hanya sampai di sekitar langit dunia untuk mencuri percakapan para Malaikat. Mereka tidak sanggup menembus langit dunia (langit pertama) hingga langit seterusnya.Sufyan bin Uyainah (salah seorang perawi) memperagakan antara jari-2nya. Yang paling atas mendengarkan sesuatu lalu disampaikan kepada yang ada dibawahnya, kemudian disampaikan kepada yang ada dibawahnya lagi dan seterusnya hingga sampai kepada dukun, dlsb.

Bisa jadi sebelum sampai berita itu ke bawah, syaitan tersebut terkena suluh api yang menyala. Bisa jadi syaitan itu telah menyampaikan berita tersebut, lalu setelah itu terkena suluh api yang menyala. Syaitan menyertakan bersama berita tersebut seratus kali  kebohongan kepada dukun atau tukang sihir. Ada yang mengatakan di antara manusia ; ‘Bukankah dukun telah mengatakan kepada kita bahwa di hari anu dan anu akan terjadi anu dan anu?’ Maka si dukun dibenarkan dengan kabar yang didengar syaitan dari langit.” (HR. Imam Bukhori No. 4701 – HR. Sunan Abi Dawud IV/288 – HR. Sunan Ibnu Majah I/69 – HR. Sunan at-Tirmidzi No. 3223 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir VII/ 420-421-422).

Bahkan pada Al-Quran, surat Ash-Shaaffaat (37), ayat 6-10 ALLAH Subhaanallahu Wa Ta’ala berfirman :

Sesungguhnya KAMI telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang (6); dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka (7), syaitan-syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para Malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru (8). Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal (9), akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaran); maka is dikejar oleh suluh api yang cemerlang (10).

Melalui ayat yang mulia ini, ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala memberitahukan bahwa DIA menghias langit dunia (Langit pertama) bagi penduduk bumi yang melihatnya dengan hiasan berupa bintang-bintang. Dan ALLAH telah menjaganya/ memeliharanya dari syaitan yang sangat durhaka dan sombong itu jika hendak mencuri pendengaran, maka mereka akan dikejar oleh suluh api yang menyala, yakni semburan api. Sehingga para syaitan tidak sampai kepada al mala ul a’laa, yaitu langit dengan para Malaikat yang ada di dalamnya, ketika mereka (para Malaikat) berbicara tentang sesuatu yang diwahyukan oleh ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, mencakup syari’at, takdir-NYA dan kejadian2 lainnya. Maka para syaitan yang mencuri/ menguping percakapan para Malaikat di Langit dunia akan dilempari suluh api yang menyala (semburan api) dari segala penjuru langit yang mereka tuju sehingga mereka terusir, tertolak dan tertahan untuk bisa sampai ke langit dan di akhirat para syaitan mendapatkan siksa yang abadi, menyakitkan lagi terus-menerus. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir VII/580-581).

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan dan akan dilanjutkan pada hari Jum’at mendatang, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.

[Sharing Jum’at] ALLAH Mengisyaratkan Hamba-NYA Ketika Mencapai Usia 40 Tahun

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Judul di atas perlu untuk direnungkan, mengapa…? karena ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa pada usia empat puluh tahun ini, usia penuh teka-teki dan penuh misteri. Namun bagi kaum muslimin yang akan mendekati usia 40 tahun jadikanlah sebagai persiapan langkah kehidupan berikutnya, bahkan bagi kaum muslimin yang usianya  sudah mencapai di atas 40 tahun sudah selayaknya untuk lebih merenung dan mengoreksi diri, karena usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar2 meninggalkan masa mudanya dan beralih ke masa dewasa yang disebut masa kuhula atau disebut juga masa setengah baya.

Dan dalam usia inilah manusia telah memiliki kematangan dalam cara berpikir dan bertindak, maka diharapkan bahwa jika seseorang sudah mencapai usia 40 tahun keatas cara berpikir dan tindakannya sudah dengan matang dan penuh perhitungan. Bahkan seseorang yang sudah mencapai usia 40 tahun berarti akalnya sudah sampai pada tingkat kematangan berfikir serta sudah mencapai kesempurnaan kedewasaan dan budi pekerti. Sehingga secara umum, tidak akan berubah kondisi seseorang yang sudah mencapai usia 40 tahun.

Al-Tsa’labi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ALLAH menyebutkan usia 40 tahun karena ini sebagai batasan bagi manusia dalam keberhasilan maupun keselamatannya.

Pada usia keistimewaan 40 tahun inilah, ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala telah menyebutkan usia 40 tahun dengan tegas di dalam al-Qur’an dan menjadi perhatian khusus bagi umat muslim, oleh karena itu bila kita perhatikan dari kehidupan para ulama terdahulu (Salafush Shalih) saat memasuki usia ini, mereka berusaha mencapai kebaikan amal mereka dan menjadikannya hari2 terbaik dalam hidupnya.

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  berfirman :

Sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdo’a : “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat ENGKAU yang telah ENGKAU berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang ENGKAU ridhoi; berilah kebaikan kepadaku dengan memberikan kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada ENGKAU dan sesungguhnya aku termasuk orang2 yang berserah diri.”” (Al-Qur’an, Surat Al-Ahqaf, ayat 15).

Menurut para ahli ilmu tafsir, usia 40 tahun disebut tersendiri pada ayat di atas ini, karena pada usia inilah manusia mencapai puncak kehidupan yang baik, baik dari segi fisik, pikiran, perasaan, karya, maupun dari segi agamanya. Orang yang berusia 40 tahun benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan beralih ke usia dewasa. Apa yang dialami pada usia 40 tahun sifatnya stabil, mantap dan kokoh dalam pendirian dan perilakunya. Pendirian dan perilaku ini akan menjadi ukuran manusia pada usia-usia berikutnya.

Oleh karena itu tidaklah heran jika para Nabi diutus untuk berda’wah pada usia 40 tahun. Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam diutus menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun. Begitu juga dengan nabi-nabi yang lain, meskipun ada pengecualian sebagian dari mereka.

Al-Qur’an  surat Al-Ahqaf ayat 15 di atas mengisyaratkan bagi kita bahwa, saat sudah menginjak usia 40 tahun hendaknya seseorang mulai meningkatkan rasa syukurnya kepada ALLAH juga kepada orang tuanya. Ia memohon kepada-NYA, agar diberi hidayah, taufik, dibantu, dan dikuatkan agar bisa menegakkan rasa syukur ini. Karena segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah dengan kehendak dan izin-NYA, sehingga ia meminta hal itu kepada-NYA.

Ini sebagaimana doa yang diajarkan Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam  kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘Anhu, “Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, Janganlah engkau tinggalkan untuk membaca sesudah shalat :

 اللَّهُمَّ  أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِك وَشُكْرِك  وَحُسْنِ عِبَادَتِك

Ya ALLAH, bantulah aku untuk berdzikir, bersyukur, dan memperbaiki ibadah kepada-MU.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Nasai dengan sanad yang kuat).

Karena sesungguhnya seorang hamba pasti sangat butuh kepada pertolongan ROBB-nya  dalam menjalankan perintah, menjauhi larangan, dan sabar atas ketetapan-ketetapan takdir-NYA. (Dinukil dari Subulus Salam, Imam al-Shan’ani).

Sebenarnya bersyukur itu sepanjang umur. Dan dikhususkan pada usia 40 tahun ini karena pada saat usia ini seseorang benar-benar harus sudah mengetahui segala nikmat ALLAH yang ada padanya dan pada orang tuanya, lalu ia mensyukurinya.

Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya berkata, “ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala menyebutkan orang yang sudah mencapai usia 40 tahun, maka sesungguhnya telah tiba baginya untuk mengetahui nikmat ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  yang ada padanya dan kepada kedua orang tuanya, kemudian mensyukurinya.

Sesungguhnya hakikat syukur itu mencakup tiga komponen; hati, lisan, dan anggota badan. Hati dengan mengakui bahwa semua nikmat itu berasal dari pemberian ALLAH. Sedangkan lisan dengan menyebut-nyebut dan menyandarkan nikmat itu kepada-NYA serta memuji-NYA. Sementara anggota badan adalah dengan menggunakan nikmat itu untuk taat kepada-NYA, yakni untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-NYA. Oleh karena itu pada ayat di atas disebutkan, “Dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang ENGKAU ridhoi.

Janganlah melupakan kedua orang tua

Perhatikan Surat Al-Ahqaf, ayat 15 secara lengkap :

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang tua ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdo’a : “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat ENGKAU yang telah ENGKAU berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang ENGKAU ridhoi; berilah kebaikan kepadaku dengan memberikan kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada ENGKAU dan sesungguhnya aku termasuk orang2 yang berserah diri.”” (Al-Qur’an, Surat Al-Ahqaf, ayat 15).

Perintah berbuat kebaikan kepada orang tua dalam ayat tersebut di atas mencakup segala bentuk seperti memenuhi nafkah orang tua, memenuhi kebutuhannya, mentaati perintahnya yang ma’ruf, menghidarkan dari bahaya, mengobatkannya jika sakit, menghiburnya jika sedih, dan memohonkan ampun dan doa untuk keduanya, serta yang lainnya.

Berbuat kebaikan kepada kedua orang tua itu bagian dari ibadah kepada ALLAH. Sehingga tidak boleh dalam berbuat kebaikan tersebut melanggar nilai-nilai ketauhidan, walaupun hak kedua orang tua itu besar terhadap anak, namun seorang anak tidak boleh mentaati kedua orang tuanya dalam maksiat kepada ALLAH dan nikmat yang kedua orang tua peroleh itu berasal dari ALLAH juga.

Dan didalam mentauhidkan ALLAH Ta’ala, kita harus dengan ikhlash ibadah kepada-NYA, dan istiqamah di atasnya, namun kenyataannya saat ALLAH perintahkan untuk mentauhidkan-NYA ada di antara hamba-NYA yang menyambut dan ada pula yang menentang-NYA. Sama halnya dengan perintah berbakti kepada orang tua, ada manusia yang berbakti kepada orang tuanya dan ada pula yang bahkan mendurhakai kedua orang tuanya.

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, saat seseorang memasuki usia 40 tahun, maka ia memiliki tanggungjawab di tengah keluarga dan masyarakat yang lebih besar. Anak-anak memerlukan biaya yang lebih untuk pendidikan dan lainnya. Sementara orang tuanya, pastinya sudah renta dan sangat memerlukan bantuan dari anak-anaknya.

Di sinilah sering seseorang melupakan orang tuanya karena konsentrasinya yang lebih fokus terhadap keluarga dan anak-anaknya. Padahal seharusnya dengan bertambahnya usia semakin membuat ia sadar akan jasa-jasa orang tuanya kepada dirinya.

Sehingga disebutkan dalam hadits, “Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya, salah seorang atau kedua-duanya, tapi tidak bisa masuk surga (dengan itu).” Dalam riwayat lain, “Tapi keduanya tidak bisa memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Imam Ahmad dan lainnya).

Jangan Lupakan Keturunan

Sesudah seorang muslim diperintah harus berbuat baik kepada kedua orang tuanya dan mengerjakan amal shalih untuk dirinya, janganlah lupa terhadap anak keturunannya. Ia juga wajib memperhatikan pendidikan dan pengarahan mereka, agar menjadi orang yang taat kepada ALLAH Ta’ala. Karena mereka (anak2) adalah amanat yang harus diarahkan untuk taat kepada ROBB-nya dan tanggung jawab kedua orang tuanya.

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala pun sudah menjelaskan pada firman-NYA pada surat At-Tahrim (66), ayat 6 berikut ini :

Hai orang2 yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat2 yang kasar, keras dan tidak mendurhakai ALLAH terhadap apa yang diperintahkan-NYA kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Dan sesungguhnya di antara balasan baik dari amal shalih seseorang adalah diperbaikinya keturunannya. Perilaku yang baik kedua orang tuanya akan berdampak baik kepada perilaku anaknya. Ini juga menjadi pelajaran dan hal yang sangat penting, karena dalam melakukan pendidikan kepada anak haruslah orang tua memulai dari menshalihkan diri mereka sendiri dengan ilmu dan amal shalih dan ini akan menjadi suri tauladan bagi anak2nya, dan akan berdampak baik kepada anak2nya, yang semua ini merupakan balasan bagi kedua orang tuanya yang mempunyai keturunan anak2 yang shalih.

Syaikh al-Sa’di berkata dalam menafsirkan surat Al-Ahqaf ayat 15 di atas, “Sesungguhnya baiknya orang tua dengan ilmu dan amal termasuk sebab yang besar untuk baiknya anak-anak mereka.

Selain itu, berdoa sebagai bagian dari tawakkal kepada ALLAH dalam usaha tidak boleh dianggap ringan. Karena hati manusia itu berada di antara dua jari dari jemari ALLAH Ta’ala yang dapat dibolak-balikkan sesuai kehendak-NYA. Oleh karena itu, sering2lah berdoa kepada ALLAH Ta’ala agar dianugerahkan anak2 yang shalih.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, ada seorang lelaki yang mengadukan tentang anaknya kepada Thalhah bin Musharrif Radhiyallaahu ‘Anhu, maka Thalhah berkata kepadanya, “Minta tolonglah dalam masalah anakmu dengan ayat,

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Ya ROBB-ku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat ENGKAU yang telah ENGKAU berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang ENGKAU ridhoi; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada ENGKAU dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15).

Memperbaharui Taubat

Usia 40 tahun haruslah menjadi titik tolak dan pembaharuan taubat penyesalan seseorang atas dosa-dosa dan kufur nikmat selama hidupnya. Karena pada usia ini benar-benar telah merasakan banyaknya nikmat dan tidak sebandingnya rasa syukur terhadapNYA. Maka pengakuan dosa pasti akan mengalir dari orang yang mau merenungkan masa lampaunya, sehingga dari situ lahir penyesalan, tumbuh istighfar dan taubat kepada ALLAH Ta’ala.

Oleh sebab itu, disebutkan dalam doa di atas,

إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dan di dalamnya terdapat petunjuk bagi orang yang sudah berusia 40 tahun agar memperbaharui taubat dan inabah kepada ALLAH ‘Azza wa Jalla serta bertekad kuat atasnya.” Seseorang harus terus meningkatkan taubatnya saat usianya menginjak 40 tahun sampai ajal menjemputnya. Wallahu a’lam.

Salah satu keistimewaan usia 40 tahun kita bisa lihat dalam hadist Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam  yang diriwayatkan dari Imam Ahmad:

Seorang hamba muslim bila usianya mencapai empat puluh tahun, ALLAHakan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai enam puluh tahun, ALLAH akan memberikan anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepada-Nya. Bila usianya mencapai tujuh puluh tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika usianya mencapai delapan puluh tahun, ALLAH akan menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya. Dan bila usianya mencapai sembilan puluh tahun, ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosanya yang belakangan, ALLAH juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya, serta ALLAH akan mencatatnya sebagai “tawanan ALLAH” di bumi” (HR. Imam Ahmad).

Hadits ini menyebut usia 40 tahun paling awal, yang dimasudkan disini bahwa orang yang mencapai usia 40 tahun ia memiliki sifat istiqamah dalam pengabdiannya kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala. Dalam arti lain jika seseorang belum menyapai usia 40 tahun kemungkinan masih bisa diombang ambingkan oleh suasana dan keadaan dan masih belum mantap dalam pendirian dan perilakunya.

Seseorang yang sudah mencapai usia 40 tahun seperti waktu sudah masuk ashar, dimana teriknya matahari sudah berkurang, matahari sudah akan terbenam, ibarat bila  menjemur pakaian tidak akan kering, sudah senja dan sesaat lagi akan masuk waktu maghrib.

Sahabat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam  Qotadah radhiyallaahu ‘anhu, berkata, “Bila seseorang telah mencapai usia 40 tahun, maka hendaklah dia berhati-hati.” Maksudnyasaat saat harus waspada.

Bahkan, Abdullah bin Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, dalam suatu riwayat berkata, “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak unggul mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.

Nasihat yang diungkap oleh dua sahabat besar tersebut memberikan pengertian bahwa manusia harus mulai bersikap waspada dan hati-hati dalam bertidak jika usianya telah mencapai 40 tahun. Ia harus meningkatkan amal kebajikan dan membiasakannya agar amal itu terus meningkat.

Atas dasar ini, para sahabat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, ketika mereka sudah menyapai usia 40 tahun, mereka konsentrasi beribadah. Mereka mulai menghabiskan hari-harinya untuk ibadah. Kesibukan mencari dunia mereka kurangi dan beralih pada kegiatan yang bersifat agama dan ibadah,

Imam asy-Syafi’i tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan dengan memakai tongkat. Jika ditanya kenapa? Jawab beliau, “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi ALLAH, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya yang masih melekat dalam sangkar. Keadaanku sekarang seperti itu juga.

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallaahu ‘anhuma  pernah menceritakan hadits dari Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam  yang perlu dicamkan berkaitan dengan hal ini.

Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam memegang kedua pundakku dan bersabda, “Jadilah di dunia seakan-akan kamu orang asing (perantau) atau pengembara (musafir).” Abdullah bin Umar radhiyallaahu ‘anhuma  berkata, “Jika berada di waktu sore, jangan menanti waktu pagi. Jika berada di waktu pagi, jangan menanti waktu sore. Pergunakanlah masa sehatmu untuk bekal di masa sakitmu dan masa hidupmu untuk bekal di masa matimu.” (HR. Imam Bukhori).

Imam al-Syaukani rahimahullah berkata, “Para ahli tafsir berkata bahwa ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala tidak mengutus seorang Nabi kecuali jika telah mencapai umur 40 tahun.” (Tafsir Fathul Qadir V/18).

Dengan demikian, usia 40 tahun memiliki kekhususan tersendiri. Pada umumnya, usia 40 tahun adalah usia yang tidak dianggap biasa, tetapi memiliki nilai lebih dan khusus.

Dihikayatkan, al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi adalah seorang laki-laki yang shalih, cerdas, sabar, murah hati, berwibawa dan terhormat. Ia berkata, “manusia yang paling sempurna akal dan pikirannya adalah apabila telah mencapai usia 40 tahun. Itu adalah usia, di mana pada usia tersebut ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan pikiran manusia akan sangat jernih pada waktu sahur.” (Lihat al-Wafyat A’yan, Ibnu Khalkan II/245).

Disebutkan tentang biografi al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi, “Bahwa ketika mencapai usia 40 tahun ia berkonsentrasi untuk beribadah dan memutuskan diri dari hubungan dengan manusia untuk mendekatkan diri kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, dan ia berpaling dari semua urusan dunia dan umat manusia, seakan-akan ia tidak pernah kenal seorangpun dari mereka. Dan ia terus menyusun karya-karya tulisnya.

Ibrahim al-Nakhai rahimahullah berkata, “bahwa jika seseorang sudah mencapai usia 40 tahun dan berada pada suatu perangai tertentu, maka ia tidak akan pernah berubah hingga datang kematiannya.” (Lihat al-Thabaqat al-Kubra VI/277).

Mahasuci ENGKAU, ya ALLAH, aku memuji-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain ENGKAU, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-MU.

Bertakwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala di mana pun kita berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.

[Sharing Jum’at] Ujian Itu Pasti Datang Bagi Orang-Orang Yang Beriman

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Sesungguhnya hakikat hidup ini adalah cobaan dan ujian. ALLAH ciptakan hidup dan mati untuk menguji manusia siapa yang paling baik amalnya dan merupakan suatu keharusan bahwa seorang mukmin akan diujiberkaitan dengan hartanya, dirinya, anak-anak serta keluarganya dan dia akan diuji sesuai kadar agamanya. Jika ia kuat dalam agamanya, maka ia akan diberikan ujian yang berat pula.

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : ‘ Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi (2) Dan sesunggunya KAMI  telah menguji orang2 yang sebelum mereka, maka sesungguhnya ALLAH mengetahui orang2 yang benar dan sesungguhnya DIA mengetahui orang2 yang dusta (3).” (Al-Qur’an, surat Al – Ankabuut (29), ayat 2-3).

Ayat yang mulia diatas menjelaskan bahwa ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala  akan senantiasa memberikan ujian kepada hamba2-NYA yang beriman sesuai dengan kadar keimanan yang selama ini ia miliki. Hal ini sebagaimana yang terdapat di dalam sebuah hadits shahih sbb :  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang2 yang shalih, kemudian disusul oleh orang2 yang mulia, lalu oleh orang2 yang mulia berikutnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar pengamalan agamanya. Bila dalam mengamalkan agamanya ia begitu kuat, maka semakin kuat pula cobaannya.” (HR.Imam At-Tirmidzi No.3298 – HR. Imam Ahmad I/172).

Maka orang yang menyatakan beriman tidak dibiarkan begitu saja mengatakan telah beriman tanpa diuji dan dicoba, orang2 beriman benar2 akan diuji untuk membuktikan kebenaran pengakuan imannya. Ujiannya pun bermacam-macam; meninggalkan tanah air, berjihad melawan musuh yang menyerang, melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan syahwat karena larangan (seluruh ketaatan), ditimpa kemiskinan, panceklik, tidak mempunyai keturunan, menderita sakit berat yang berkepanjangan, dan berbagai musibah yang melibatkan jiwa dan harta; dan bersabar menghadapi kaum kafir dengan berbagai makar mereka.

Bahkan bila dikaitkan dengan nash lainnya, ujian yang ALLAH Ta’ala berikan tidak selalu dalam bentuk yang berat dan dibenci, ada juga ujian yang menyenangkan sebagaimana dalam firman-NYA :

KAMI akan menguji kamu dengan keburukkan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada KAMI-lah kamu dikembalikan.” (Al-Qur’an, surat Al –Anbiya (21), ayat 35).

Semua ujian itu berfungsi untuk membuktikan kebenaran iman seseorang, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ujian yang diberikan itu sesuai dengan kadar keimanan pelakunya. Seperti hadits di atas, Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang2 yang shalih, kemudian disusul oleh orang2 yang mulia, lalu oleh orang2 yang mulia berikutnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar pengamalan agamanya. Bila dalam mengamalkan agamanya ia begitu kuat, maka semakin kuat pula cobaannya.” (HR.Imam At-Tirmidzi No.3298 – HR. Imam Ahmad I/172).

Maka ketika seseorang dicoba dengan ujian yang sesuai dengan kadar agamanya dia tetap tegar, maka ujian ditingkatkan lagi, dan menurut Ibnu Katsir rahimahullah  ayat ini sejalan dengan beberapa surat lainnya seperti firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala :

Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang2 terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan sehingga berkatalah Rosul dan orang2 yng beriman bersamanya : “Bilakah datangnya pertolongan ALLAH ? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan ALLAH itu amat dekat.”” (Al-Qur’an, surat Al –Baqarah (2), ayat 214).

Melalui ayat di atas, ALLAH Ta’ala tegaskan, apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, sebelum kamu diuji dan dicoba, sebagaimana yang ditimpakan kepada orang2 sebelum kamu ? Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abdul Aliyah, Mujahid, Said bin Jubair, Murrah al-Hamdani, al Hasan, Qatadah, adh Dhahhak, ar-Rabi bin Anas, as-Suddi, dan Muqatil bin Hayyan mengatakan ujian yang membuat jiwa mereka tergoncang dengan goncangan yang dahsyat, berupa rasa takut dari musuh, dan mereka diuji dengan berbagai cobaan yang yang sangat berat.

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih dari Khabbab bin al-Aratt, ia menceritakan, “Kami bertanya, ‘Ya Rosululloh, mengapa engkau tidak memohon pertolongan untuk kami, dan mengapa engkau tidak mendo’akan kami?’ Maka beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Sesungguhnya orang2 sebelum kalian, di antara mereka ada yang digergaji dari tengah2 kepalanya hingga terbelah sampai kedua kakinya, namun hal itu tidak memalingkannya dari agama yang dipeluknya. Ada pula yang tubuhnya di sisir dengan sisir besi hingga terpisah antara daging dan tulangnya, namun hal itu tidak menjadikannya berpaling dari agamanya’, kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Demi ALLAH, ALLAH benar2 akan menyempurnakan perkara agama ini hingga seorang yang berkendara dari Shan’a menuju ke Hadhramaut  tidak merasa takut kecuali kepada ALLAH, dan hanya mengkhawatirkan serigala atas kambingnya. Akan tetapi kalian adalah kaum yang tergesa-gesa’.” (HR. Imam Bukhori No. 3612).

Dan firman-NYA :

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi ALLAH orang2 yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang yang asabar.” (Al-Qur’an, surat Ail – Imran (3), ayat 142).

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, ayat2 di atas menyatakan penegasan ALLAH Ta’ala  bahwa adanya cobaan untuk menguji keimanan hamba-NYA dan ALLAH juga menyatakan bahwa sesungguhnya ALLAH telah menguji orang2 yang sebelum mereka, ini penegasan bahwa ujian keimanan itu tidak hanya dibeikan kepada umat saat ini, namun juga umat2 terdahulu dan ujian keimanan ini merupakansunnatullaah yang berlaku di setiap masa, Wallahu a’lam.

ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala mengetahui orang2 yang benar dalam pengakuan keimanannya dan orang yang berdusta dalam ucapan dan pengakuan keimanannya, DIA Maha Mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi serta apa yang tidak terjadi, yang seandainya terjadi bagaimana kejadiannya. Ketetapan akan ilmu ALLAH seperti ini merupakan hal yang disepakati oleh para ulama dari kalangan Ahlus Sunah wal Jama’ah.

Mari perhatikan ayat2 yang senada dengan ayat2 di atas :

Kamu benar-benar akan diuji terhadap hartamu dan dirimu………” (Al-Qur’an, surat Ali – Imran (3), ayat 186).

Kemudian firman ALLAH berikutnya :

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan DIA Mahaperkasa, Mahapengampun.” (Al-Quran, surat Al – Mulk (67), ayat 2).

Cobaan dan ujian selalu mengiringi setiap orang, apakah itu berupa kesenangan atau kesusahan, kekayaan atau kemiskinan, sehat atau sakit, gembira atau sedih, dan lainnya. Semua itu merupakan ujian, apakah manusia bersyukur atau tidak, bersabar atau tidak.

Bagi orang yang diberikan kesenangan, kekayaan, kegembiraan, maka konsekuensi dari kesenangannya yaitu bersyukur atas segala nikmat ALLAH dengan mentauhidkan ALLAH dalam beribadah hanya kepada-NYA, melaksanakan ketaatan kepada ALLAH, dan menjauhkan perbuatan dosa dan maksiat.

Namun orang yang bersyukur kepada ALLAH sangat sedikit sekali, hal ini ditegaskan pada firman ALLAH sbb :

 “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-KU yang bersyukur.” (Al-Qur’an, surat Saba’ (34), ayat 13).

Sebaliknya, bagi orang yang diberikan cobaan, ujian berupa kesusahan, kefakiran, dan penyakit, maka konsekuensinya adalah sabar, tidak banyak berkeluh kesah dan hendaknya mengadukan semua kesulitan itu hanya kepada ALLAH, sabar dan ridha kepada takdir ALLAH, tidak putus asa dari rahmat ALLAH, dan terus berdo’a hanya kepada ALLAH saja, maka ALLAH akan memberikan ganjaran yang besar kepada orang yang sabar, hal ini ditegaskan pada firman ALLAH sbb :

Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (Al-Qur’an, surat Az-Zumar (39), ayat 10).

Seorang Mukmin semua urusannya adalah baik, jika ia mendapat kesenangan, maka ia bersyukur. Dan jika ia mendapat kesulitan, kesusahan, atau penyakit, maka ia bersabar.

Hal ini disebutkan dalam hadits riwayat Abu Jahya (Shuhaib) bin Sinan Arrumy radhiyallaahu ‘anhu berkata : “Bersabda Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Sangat mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena segala keadaan untuknya selalu sangat baik dan hal ini tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi orang mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka syukur itu lebih baik baginya, dan bila menderita kesusahan ia sabar, maka sabar itu lebih baik baginya.‘” (HR. Imam Muslim, Riadus Shalihin I – Bab. Sabar No. 3, hal.52).

ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala berfiman :

Dan sungguh akan KAMI berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah2an. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang2 yang sabar (155), yaitu orang2 yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun’ (156) Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari ROBB-nya, dan mereka itulah orang2 yang mendapat petunjuk (157).” (Al-Qur’an, surat Al –Baqarah(2), ayat 155-157).

ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa DIA akan memberikan cobaan kepada hamba2-NYA, terkadang ALLAH Ta’ala memberikan ujian berupa kebahagian dan terkadang DIA memberikan ujian berupa kesusahan, seperti rasa takut, kelaparan, hilangnya harta, kematian keluarga, kerabat, sahabat dan orang2 yang dicintai, rusaknya kebun dan ladang.

Namun ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala memuji  hamba-NYA yang terkena musibah kemudian menerima musibah itu dengan sabar dengan menghibur diri dengan ucapan “Sesungguhnya kami adalah milik ALLAH dan kepada-NYA kami kembali”, mereka yakin bahwa diri mereka adalah milik ALLAH, serta ALLAH memperlakukan hamba-NYA sesuai dengan kehendak-NYA. Selain itu mereka pun yakin bahwa DIA tidak menyia-nyiakan amalan mereka, meskipun hanya sebesar dzarrah pada hari kiamat kelak.

Keyakinan ini menjadikan mereka mengakui bahwa dirinya hanyalah seorang hamba di hadapan ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala, dan mereka akan kembali kepada-NYA kelak di akherat dan ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala tegaskan dalam ayat ini bahwa “orang2 seperti ini adalah orang2 yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari ROBB mereka dan mereka orang2 yang mendapat petunjuk“.

Ayat2 yang mulia diatas menjelaskan bahwa merupakan suatu keharusan bahwa seorang mukmin akan diuji keimanannya berkaitan dengan segala hal yang berada di sekitarnya, apakah hartanya, dirinya, isterinya/suaminya, anak-anaknya, keluarganya, kerabatnya, pemimpinnya, bawahannya, jabatannya, pemerintahannya dlsb. Dan ia akan diuji sesuai kadar agamanya. Jika ia kuat dalam agamanya, maka ia akan diberikan ujian yang berat pula. Syukur Alhamdullilah kita dapat menegakkan tauhid dan beribadah dengan nyaman di negeri ini.

Demikianlah, keimanan yang benar pasti akan melahirkan ketaatan terhadap syariah-NYA. Oleh karena itu, keterikatan dan ketaatan terhadap syariah bisa dijadikan sebagai tolok keimanan seseorang. Ketika seseorang senantiasa terikat dan taat terhadap syariah, sesulit dan seberat apa pun, keimanannya telah terbukti benar. Sebaliknya, ketika tidak mau taat, apalagi menolak, tentulah keimanannya patut diragukan. Semoga kita termasuk orang yang benar. Wallahu a’lam.

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, harta, anak, isteri/suami, jabatan dan lain sebagainya adalah ujian, marilah mohon kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala agar semua ujian itu dapat menjadikan keimanan dan amal shalih  yang dapat mendekatkan kita kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala, sehingga kita termasuk orang2 yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala dan termasuk orang2 yang mendapat petunjuk, aamiin ya ROBB.

Mahasuci ENGKAU, ya ALLAH, aku memuji-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain ENGKAU, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-MU.

Bertakwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala di mana pun kita berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.

[Sharing Jum’at] Bila ALLAH Mencabut Nikmat Suatu Kaum, Musibah Pun Datang

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Judul di atas sangat berhubungan erat dengan terjemahan dari sebagian ayat 11 surat Ar-Ra’d (13) seperti  berikut ini : “Sesungguhnya ALLAH tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d (13), ayat 11).

Namun ayat di atas sering dimaknakan oleh sebagian kaum muslimin berhubungan dengan “nasib”  sehingga maknanya menjadi: “Sesungguhnya ALLAH tidak mengubah “nasib”  suatu kaum, sehingga mereka mengubah “nasib” yang ada pada diri mereka sendiri.” Akan tetapi menurut para ahli tafsir makna yang lebih tepat adalah “nikmat”, wallahu a’lam.

Mari kita perhatikan terjemahan secara lengkap ayat 11 dari surat Ar-Ra’d (13) tersebut di atas :

Bagi manusia ada Malaikat2 yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah ALLAH. Sesungguhnya ALLAH tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila ALLAH menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain DIA.” (Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d (13), ayat 11).

Yang kemudian ditafsirkan maknanya dengan “nikmat” oleh para ahli tafsir :

Bagi manusia ada Malaikat2 yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah ALLAH (maksudnya : (*) Setiap hamba memiliki beberapa Malaikat yang silih berganti. Ada Malaikat penjaga di siang hari dan Malaikat penjaga di malam hari, mereka menjaganya dari kejahatan dan kecelakaanAda pula Malaikat lain yang silih berganti menjaga/ mengawasi amal perbuatan, apakah yang baik maupun yang buruk, yaitu Malaikat siang dan Malaikat malam. Keduanya berada di kiri dan kanan setiap hamba dan ditugaskan untuk mencatat amal perbuatan yang dilakukannya.

Malaikat sebelah kanan bertugas mencatat kebaikan, sedangkan Malaikat sebelah kiri mencatat kejahatan/ keburukan. Sementara itu masih ada lagi dua Malaikat yang memelihara dan menjaganya, satu di belakang dan satunya lagi di depan. Dengan demikian berarti setiap hamba berada di tengah2 empat Malaikat siang dan empat Malaikat malam, dua Malaikat penjaga dan dua Malaikat pencatat).

Sesungguhnya ALLAH tidak mengubah keadaan suatu kaum (maksudnya : ALLAH tidak mencabut dari mereka nikmat-NYA), sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (maksudnya : mereka sudah menyimpangkan akidah, akhlak atau dari keadaan yang baik, ta’at kemudian mereka melakukan perbuatan durhaka).

Dan apabila ALLAH menghendaki keburukan terhadap suatu kaum (maksudnya : apabila ALLAH menimpakan adzab kepada suatu kaum), maka tidak ada yang dapat menolaknya (maksudnya : tidak ada yang dapat menghindar dari siksaan2 tersebut dan juga dari hal2 lainnya yang telah dipastikan-NYA).

dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka (maksudnya : bagi orang2 yang telah dikehendaki keburukan oleh ALLAH, maka tidak ada yang dapat dijadikan pelindung).

selain DIA.” (maksudnya : selain ALLAH sendiri yang dapat mencegah datangnya adzab ALLAH terhadap mereka). (Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d (13), ayat 11).

(*) Hal ini sebagaimana sabda Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam : “Silih berganti pada kalian beberapa Malaikat malam dan Malaikat siang, mereka bertemu di waktu shalat Subuh dan shalat Ashar. Maka naiklah menghadap ALLAH para Malaikat yang seharian bersama kalian, lalu ALLAH bertanya kepada para Malaikat, padahal ALLAH lebih mengetahui dari mereka, “Bagaimana kalian tinggalkan hamba2KU?” Mereka menjawab, “Ketika kami tinggalkan mereka, mereka sedang shalat, dan tatkala kami datang pun mereka sedang shalat.”” (HR. Imam Bukhori No. 555 – HR. Imam Muslim No. 632, dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘Anhu).

Ayat di atas sejalan dengan terjemahan surat Al-Anfaal (8), ayat 53 yang berbunyi sebagai berikut : “Siksaan yang demikian itu adalah karena sesungguhnya ALLAH sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-NYA kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa2 yang ada pada diri mereka sendiri,  dan sesungguhnya ALLAH Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Qur’an Surat Al-Anfaal (8), ayat 53).

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-NYA kepada suatu kaum, sehingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri . Ayat di atas mengandung isyarat, bahwa nikmat2 yang ALLAH berikan, selalu dikaitkan antara kelangsungannya dengan akhlak dan amal perbuatan kaum itu sendiri. Jika akhlak dan perbuatan kaum-NYA terpelihara baik, maka nikmat pemberian ALLAH itu pun tetap berada bersama mereka dan tidak akan dicabut.

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  tidak akan mencabutnya, tanpa kezhaliman dan pelanggaran dari hamba-NYA. Akan tetapi manakala hamba-NYA sudah merubah nikmat2 (*) itu yang berbentuk akidah, akhlak dan perbuatan baik, maka ALLAH akan merubah keadaan mereka dan akan mencabut nikmat pemberian-NYA dari mereka, sehingga yang kaya jadi miskin, yang mulia jadi hina dan yang kuat jadi lemah.

(*) Nikmat yang sangat besar/ tidak dapat dinilai adalah kita lahir dalam keadaan muslim.

Perhatikan beberapa terjemahan firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala yang menerangkan sebab-sebab datangnya musibah dan bala bencana berikut ini :

Dan ALLAH telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat ALLAH; Karena itu ALLAH merasakan kepada mereka pakaian(*)kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (Al-Qur’an Surat An-Nahl (16), ayat 112).

(*) Maksudnya kelaparan dan ketakutan itu meliputi mereka seperti halnya pakaian meliputi tubuh mereka.

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmatALLAH dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan Itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (Al-Qur’an Surat Ibrahim (14), ayat 28 s/d 29).

Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan dimuka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat yang diderita oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih kuat dari mereka,mereka telah mengolah bumi dan memakmurkannya lebih banyak dari apa yang mereka makmurkan.Dan telah datang kepada mereka Rosul-rosul mereka dengan membawa keterangan dan bukti-bukti yang nyata.Maka ALLAH sekali-kali tidak berlaku zhalim kepada mereka ,tetapi merekalah yang berlaku zhalim terhadap diri mereka.Kemudian akibat orang-orang yang melakukan kedurhakaan dan kejahatan adalah adzab siksa yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat ALLAH dan mereka selalu memperolok-olok.” (Al-Qur’an Surat Rum (30), ayat 9 s/d 10).

(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya”. (ALLAH berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada ALLAH, maka sesungguhnya ALLAH Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Kalau kamu melihat ketika Para Malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri), demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya ALLAH sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya, (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat ALLAH, maka ALLAH menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya ALLAH Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya, (siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya ALLAH sekali-kali tidak akan merubah sesuatunikmatyang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri [ALLAH tidak mencabutnikmatyang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada ALLAH.], dan sesungguhnya ALLAH Maha mendengar lagi Maha mengetahui, (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya, maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi ALLAH ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (Al-Qur’an Surat Al-Anfaal (8), ayat 49 s/d 55).

Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum DIA mengutus di ibukota itu seorang rosul yang membacakan ayat-ayat KAMI kepada mereka; dan tidak pernah (pula) KAMI membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezhaliman.” (Al-Qur’an Surat Al Qhashash (28), ayat 59).

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Al-Qur’an Surat Hud (11), ayat 117).

Mengapa ALLAH akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan ALLAH adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (Al-Qur’an Surat An Nisaa, ayat 147).

Dan jika KAMI hendak membinasakan suatu negeri, maka KAMI perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati ALLAH) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan KAMI), kemudian KAMI hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Qur’an Surat Al-Israa (17), ayat 16).

Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan KAMI membinasakannya sebelum hari kiamat atau KAMI adzab (penduduknya) dengan adzab yang sangat keras. yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (Al-Qur’an Surat Al Israa (17), ayat 58).

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan ALLAH memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” (Al-Qur’an Surat As Syura (42), ayat 30).

Demikian diantara ayat2 ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  yang menerangkan apabila hamba2-NYA durhaka, tidak taat, zhalim dan melakukan keburukan2 lainnya, maka dicabutlah nikmat itu yang menyebabkan datangnya musibah dan bala bencana.

Melaui ayat2 tersebut di atas ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  ingin menjelaskan tentang kesempurnaan keadilan-NYA pada ketetapan-NYA bahwa DIA tidak mengubah kenikmatan yang diberikan kepada seseorang ataupun suatu kaum melainkan hal itu disebabkan oleh dosa yang dilakukannya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Fir’aun dan pengikut2nya serta orang2 yang sebelumnya maupun sesudahnya, mereka ALLAH berikan berbagai macam kenikmatan, namun ketika para Nabi, termasuk Nabi Musa ‘Alaihi Sallam berdakwah, membacakan ayat2-NYA mereka mendustakan ayat2 ALLAH.

Maka mereka  dibinasakan oleh sebab dosa2 mereka, selain itu segala kenikmatan yang telah ALLAH anugerahkan kepada mereka, ALLAH cabut kembali, berupa aneka kebun, mata air, macam2 pertanian, harta simpanan, tempat2 yang indah, dan kesenangan2 yang mereka nikmati. Bahkan ketika Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam membacakan ayat2 ALLAH Ta’ala kepada orang2 Quraisy, mereka mendustakan dan bahkan mengusirnya dari Makkah, maka ALLAH adzab mereka dengan banyaknya yang berguguran para pembesar Quraisy pada saat perang badar. Dalam hal ini ALLAH tidak menzhalimi mereka, akan tetapi merekalah orang2 yang berbuat aniaya terhadap diri mereka sendiri.

Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam juga menerangkan sebab2 datangnya musibah dalam haditsnya :

Berkata Ummu Salamah radhiyallaahu ‘Anha, istri Rosulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, aku mendengar Rosulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam,  bersabda: “Jika timbul maksiat pada umatku, maka ALLAH akan menyebarkan adzab-siksa kepada mereka.” Aku berkata : “Wahai Rosululloh, apakah pada waktu itu tidak ada orang-orang shalih?” Beliau menjawab: “ada!“. Aku berkata lagi: “Apa yang akan ALLAH perbuat kepada mereka?” Beliau menjawab: “ALLAH akan menimpakan kepada mereka adzab sebagaimana yang ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat maksiat, kemudian mereka akan mendapatkan keampunan dan keredhaan dari dari ROBBnya.” (HR. Imam Ahmad).

Pada hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah disebutkan ada lima sebab datangnya adzab dan siksa ALLAH, Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Bagaimana kalian apabila terjadi lima perkara, dan aku berlindung kepada ALLAH mudah-mudahan lima perkara itu tidak terjadi pada kalian atau kalian tidak menjumpainya, yaitu,

Tidaklah perbuatan zina itu tampak pada suatu kaum, dikerjakan secara terang-terangan, melainkan tampak dalam mereka penyakit ta’un dan kelaparan yang tidak pernah dijumpai oleh nenek moyang dahulu.

Dan tidaklah kaum itu menahan zakat, melainkan mereka ditahan oleh ALLAH turunnya hujan dari langit, andai kata tidak ada binatang ternak tentu mereka tidak akan dihujani.

Dan tidaklah kaum itu mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka disiksa oleh ALLAH dengan kesengsaraan bertahun-tahun dan sulitnya kebutuhan hidup dan nyelewengnya penguasa.

Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka itu menghukumi dengan selain kitab yang diturunkan oleh ALLAH, melainkan mereka akan dikuasai oleh musuh yang merampas sebagian kekuasaan mereka.

Dan tidaklah mereka itu menyia-nyiakan kitab ALLAH dan sunnah Nabi-Nya, melainkan ALLAH menjadikan bahaya di antara mereka sendiri.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah).

Bahkan pada hadits riwayat Imam at-Tirmidzi disebutkan bahwa ada lima belas hal yang mendatangkan musibah & bala bencana : Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘Anhuma, ia berkata :

Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Apabila umatku telah melakukan lima belas perkara, maka halal baginya (layaklah) ditimpakan kepada mereka bencana.” Ditanyakan, “apakah lima belas perkara itu wahai Rosululloh?

Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Apabila…

1)     Harta rampasan perang (maghnam) dianggap sebagai milik pribadi,

2)     Amanah (barang amanah) dijadikan sebagai harta rampasan,

3)     Zakat dianggap sebagai cukai (denda),

4)     Suami menjadi budak istrinya (sampai dia);

5)     Mendurhakai ibunya,

6)     Mengutamakan sahabatnya (sampai dia);

7)     Berbuat zhalim kepada ayahnya,

8)     Terjadi kebisingan (suara kuat) dan keributan di dalam masjid (yang bertentangan dengan syari’ah),

9)     Orang-orang hina, rendah, dan bejat moralnya menjadi pemimpin umat (masyarakat),

10)  Seseorang dihormati karena semata-mata takut dengan kejahatannya,

11)  Minuman keras (khamar) tersebar merata dan menjadi kebiasaan,

12)  Laki-laki telah memakai pakaian sutera,

13)  Penyanyi dan penari wanita bermunculan dan dianjurkan,

14)  Alat-alat musik merajalela dan menjadi kebanggaan atau kesukaan,

15)  Generasi akhir umat ini mencela dan mencerca generasi pendahulunya;

Apabila telah berlaku perkara-perkara tersebut, maka tunggulah datangnya malapetaka berupa; taufan merah (kebakaran), tenggelamnya bumi dan apa yang diatasnya ke dalam bumi (gempa bumi dan tananh longsor), dan perubahan-perubahan atau penjelmaan-penjelmaan dari satu bentuk kepada bentuk yang lain.” (HR.Imam Tirmidzi, No. 2136).

Kaum Muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, Itulah perkara-perkara yang menyebabkan suatu negeri mengalami kekacauan, kehancuran, kesempitan, kemelaratan, perseteruan, dan perpecahan satu sama lainnya, saling menghujat (bahkan melalui media), antara rakyat dengan rakyat dan rakyat dengan penguasa. Korupsi dan ketidakadilan merajalela, segala macam penyakit bermunculan menimpa manusia, yang benar-benar menyulitkan dan membinasakan kehidupan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Oleh sebab itulah, manusia yang paling mulia di muka bumi ini, Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam berdoa agar sahabat-sahabatnya tidak menjumpai keadaan yang demikian dahsyat dan terpuruknya. Dari semua perkara yang menyebabkan datangnya siksa dan adzab itu. Insya ALLAH akan berakhir jika manusia dan kaum Muslimin khususnya kembali kepada ALLAH dan Rasul-NYA, berpegang teguh kepada Dinullah (Islam yang sebenar-benarnya, menurut Al – Qur’an dan As – Sunnah) mengikut petunjuk Rosul-NYA.

Alhamdulillah, Yang Maha Mulia, Yang Maha Suci, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, ALLAH Ta’ala tidak akan meng-adzab suatu kaum, bila mereka mohon ampun kepada-NYA.

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman : “Dan ALLAH sekali-kali tidak akan meng-adzab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah pula ALLAH akan meng-adzab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (Al-Qur’an Surat Al-Anfaal (8), ayat 33).

Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu mengomentari ayat di atas : “Mereka memiliki dua pengaman dari adzab, yakni Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dan ucapan istighfar.”

Imam ath-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Musa, ia berkata bahwasannya Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  telah menurunkan kepadaku untuk umatku dua keamanan, yaitu  “Dan ALLAH sekali-kali tidak akan meng-adzab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah pula ALLAH akan meng-adzab mereka, sedang mereka meminta ampun”. Maka apabila salah satunya telah tidak ada dengan kematianku, aku tinggalkan untuk mereka istighfar sampai hari kiamat.” (HR. Imam Ath-Tirmidzi No. 3082 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir IV/64).

Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Imam al-Hakim dalam Mustadraknya dari Abu Sa’id, bahwasannya Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya syaitan berkata : ‘Ya ROBB, demi kemulian-MU, aku akan senantiasa akan menyesatkan hamba-hamba-MU selama ruh mereka berada pada jasadnya.’ ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman : ‘Demi Kemuliaan dan Kebesaran-KU, AKU akan senantiasa mengampuni mereka selama mereka meminta ampun kepada-KU.’” (HR. Imam Ahmad III/29, dihasankan oleh Syeikh al-Albani dalm Shahiibul Jaami’’ N0. 1650 – HR. Imam al-Hakim IV/261 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir IV/6465).

Dan ALLAH Yang Maha Mulia, Yang Maha Suci, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang akan mencukupi kebutuhan hamba2-NYA yang bertawakkal, ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman : “…..Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada ALLAH niscaya ALLAH akan mencukupi keperluannya…” (Al-Qur’an Surat Ath-Thallaq (65), ayat 2).

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abudullah bin Abbas radhiyallaahu ‘Anhuma  bahwa suatu hari dirinya dibonceng Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam  naik unta, maka beliau bersabda : “Wahai anak muda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah ALLAH, niscaya ALLAH akan menjagamu. Jagalah ALLAH, niscaya engkau akan mendapatkan-NYA dihadapanmu. Apabila kamu meminta sesuatu, maka mintalah kepada ALLAH, dan apabila kamu memerlukan pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada ALLAH. Ketahuilah, kalau sekiranya mereka manusia bersatu ingin memberikan suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu, kecuali jika ALLAH telah menentukannya untukmu. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakaimu, maka mereka tidak akan mampu mencelakaimu, kecuali jika telah ALLAH takdirkan atasmu. Pena telah diangkat dan catatan telah mengering.” (HR. Imam Ahmad I/293 – HR. Imam at-Tirmidzi No. 2516 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir IX/160).

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala,  sebelum di akhiri sharing ini, mari kita renungkan sejenak firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dan hadits berikut ini :

“Jikalau sekiranya penduduk negeri2 beriman dan bertakwa, pastilah KAMI akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat2 KAMI, maka KAMI siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-Qur’an Surat Al-A’raff (7), ayat 96).

Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : Akan senantiasa ada segolongan orang dari umatku yang berjuang membela kebenaran. Orang2 yang menghina dan menentang mereka, tidak akan menggoyahkan golongan ini hingga hari Kiamat.” (HR. Imam Bukhori No. 3640 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir VIII/705-706).

Mahasuci ENGKAU, ya ALLAH, aku memuji-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain ENGKAU, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-MU.

Bertakwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala di mana pun kita berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.

[Sharing Jum’at] Tiga Golongan Manusia Pada Hari Kiamat (Bagian II)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Seperti yang disampaikan pada sharing minggu lalu, antara lain bahwa siapapun yang berlomba-lomba di dunia ini dan paling dahulu berbuat kebajikan, maka di akhirat termasuk orang2 yang paling dahulu mendapatkan kemuliaan, karena balasan bagi suatu amal akan sejenis dengan amal tersebut. Siapakah mereka…? Sharing kali ini adalah lanjutan dan akan disampaikan siapakah tiga golongan manusia pada hari Kiamat….?

Golongan yang berada dekat di hadapan ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala (as-saabiquun dan al-muqarrabuun)

Mereka inilah golongan yang lebih dekat dengan ALLAH (al-muqarrabuun), lebih beruntung dan lebih khusus daripada golongan kanan karena mereka inilah pemimpin  golongan kanan. Golongan ini juga termasuk orang2 yang berlomba-lomba dan bersegera dalam melakukan kebaikan (as-saabiquun).

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman “Segolongan besar dari orang2 yang terdahulu (13) dan segolongan kecil dari orang2 yang kemudian (14).” (Al-Qur’an Surat Al-Waaqi’ah (56), ayat 13- 14).

Melalui ayat yang mulia ini ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala mengabarkan tentang orang2 yang bersegera dalam kebajikan serta mendekatkan diri kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’alabahwa mereka adalah segolongan umat dari orang2 yang terdahulu dan segolongan umat sekarang ini. Sebagian para ulama tafsir berpendapat bahwa mereka adalah sebagian umat terdahulu dan sebagian umat sekarang ini, Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda : “Kita adalah umat terakhir, tetapi terdepan pada hari Kiamat.” (HR. Imam Bukhori No. 238 – HR. Imam Muslim No. 855 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir VIII/702 -703).

Namun ada juga sebagian para ulama tafsir yang berpendapat bahwa mereka adalah sebagian besar dari angkatan pertama umat ini dan sebagian kecil dari umat ini juga, maksudnya seluruhnya berasal dari umat ini, namun berbeda dalam hal generasi saja, dan satu hal yang tidak bisa dibantah bahwa generasi pertama dari setiap umat selalu lebih baik daripada generasi terakhirnya.  Karena itu diriwayatkan secara shahih dalam kitab2 shahih dan lainnya dari berbagai jalur bahwa Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda : “Sebaik-baik generasi adalah generasiku (Sahabat), kemudian orang2 setelah mereka (Tabi’in), kemudian orang2 setelah mereka (Tabi’ut Tabi’in).” (HR. Imam Bukhori No. 3651 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir VIII/704-705).

Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda : “Akan senantiasa ada segolongan orang dari umatku yang berjuang membela kebenaran. Orang2 yang menghina dan menentang mereka, tidak akan menggoyahkan golongan ini hingga hari Kiamat.” (HR. Imam Bukhori No. 3640 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir VIII/705-706).

Umat ini lebih mulia dibandingkan dengan umat lainnya dan orang2 yang dekat kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dari umat ini lebih banyak dibandingkan dengan umat lain. Derajat mereka pun lebih tinggi karena kemuliaan agama dan keagungan Nabinya.  Karena itu dalam hadits shahih yang diriwayatkan secara mutawatir dari Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam  disebutkan bahwa beliau memberitahukan bahwa diantara umat ini terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk Surga tanpa hisab. Dan dalam salah satu riwayat dikatakan : “Setiap seribu orang dari mereka diikuti oleh tujuh puluh ribu orang.”   Bahkan dalam lafazh lain : “Setiap orang dari mereka diikuti oleh tujuh puluh ribu orang.

Golongan kanan (Ash-Haabul Yamiin)

Golonan kanan dijelaskan pada ayat berikut ini :

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman “Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu (27)……..KAMI ciptakan mereka (bidadari) untuk golongan kanan (38), yaitu segolongan besar dari orang2 terdahulu (39) dan segolongan besar pula dari orang2 yang kemudian (40).” (Al-Qur’an Surat Al-Waaqi’ah (56), ayat 27, 38 – s/d 40).

Mereka inilah orang2 yang baik, yang tempat golongan kanan ini berada di bawah golongan orang2 al-muqarrabuun  dan dijelaskan dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa  Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda : “Golongan pertama yang masuk Surga dalam rupa seperti rembulan di malam purnama, dan golongan berikutnya dalam rupa bintang yang paling kuat cahayanya di langit. Mereka tidak buang air kecil dan air besar, dan tidak meludah serta tidak pula mengeluarkan ingus. Sisir mereka terbuat dari emas dan keringat mereka adalah menyak kesturi. Pedupaan mereka adalah kayu alluwah(yang sangat harum wanginya), dan isteri2 mereka adalah bidadari yang bermata jeli. Perangai mereka seperti perangai satu orang.” (HR. Imam Muslim IV/2179 – HR. Imam Bukhori No. 3327 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir VIII/721-722).

Dalam suatu riwayat yang cukup panjang, golongan kanan terdiri dari segolongan orang2  dari para pendahulu dan segolongan pula dari generasi yang datang kemudian. Sebagian dari para Sahabat saling mengambl hadits dari sebagian yang lain. Sebagian dari mereka berkata, “Pada suatu malam kami dijamu di sisi Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian pada pagi harinya kami kembali kepada beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian beliau bersabda : “Para Nabi dan para pengikut mereka berikut umat-umatnya ditunjukkan kepadaku. Masing2 Nabi lewat di depanku, ada seorang Nabi yang diikuti oleh beberapa orang, ada seorang Nabi yang diikuti oleh tiga orang, dan ada seorang Nabi yang tidak diikuti oleh seorang pun.

Qatadah membacakan surat Huud (11), ayat 78 : “Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal”. Kemudian Nabi bersabda : “Kemudian Musa bin Imran lewat dihadapanku bersama Bani Israil dalam jumlah yang besar.” Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda : “Aku bertanya, ‘Ya ROBB-ku, siapakah orang2 ini?’. ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  menjawab, ‘Ini adalah saudara-mu, Musa bin Imran dan orang2 yang mengikutinya adalah dari Bani Israil.'” Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda : “Aku bertanya, ‘Lalu manakah umatku, Ya ROBB?’  ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah ke arahmu, ke tanah yang landai itu.'”

Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Ternyata mereka adalah manusia yang jumlahnya sangat besar. ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  berfirman, ‘Puaskah kamu?’ Aku menjawab, ‘Puas wahai ROBB-ku.’ Lalu ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  kembali berfirman, ‘Lihatlah ke ufuk yang ada di sebelah kirimu.’  Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam  bersabda : ‘Ternyata mereka adalah manusia yang berjumlah besar.’  ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  berfirman, ‘Puaskah kamu?’ Aku menjawab, ‘Puas wahai ROBB-ku.’ ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  kembali berfirman, ‘Sesungguhnya bersama mereka itu terdapat tujuh puluh ribu orang yang masuk Surga tanpa hisab.’”

Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata : “Ukasyah bin Mihshan dari Bani Asad, salah satu Sahabat yang ikut dalam perang Badar, (bangkit) seraya berkata, ‘Wahai Nabi ALLAH! Berdo’alah kepada ALLAH agar aku dimasukkan kedalam golongan itu.’ Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, berdo’a : ‘Ya ALLAH, masukkanlah dia ke dalam golongan itu.’ Kemudian ada seorang Sahabat lain berdiri, seraya berkata, ‘Wahai Nabi ALLAH, berdo’alah kepada ALLAH agar aku dimasukkan dalam golongan itu.’  Kemudian Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, bersabda : ‘Kamu telah didahului oleh Ukasyah.’ Kemudian Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, bersabda : ‘Jika kalian mampu, (semoga Ayah dan ibuku menjadi tebusan kalian), untuk menjadi golongan yang tujuh puluh ribu orang, maka lakukanlah. Jika tidak, maka jadilah kalian dalam golongan orang2 yang yang berada di tanah landai itu. Jika tidak, maka jadilah kalian dalam golongan orang2 yang berada di ufuk, karena sesungguhnya aku telah melihat banyak orang bergabung disekitarnya.’

Kemudian Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, melanjutkan sabdanya : ‘Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah sepertiga penduduk Surga.’ Maka kami bertakbir, Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, melanjutkan sabdanya : ‘Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah setengah penduduk Surga.’ Maka kami bertakbir, kemudian Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, membaca firman ALLAH : “Yaitu segolongan besar dari orang2 terdahulu (39) dan segolongan besar pula dari orang2 yang kemudian (40).”” (Al-Qur’an Surat Al-Waaqi’ah (56), ayat 38 – s/d 40).

Para Sahabat saling bertanya-tanya, “Siapakah yang tujuh puluh ribu itu?” Kami berkata, “Mereka adalah orang yang lahir dalam agama Islam dan tidak menyekutukan ALLAHSubhaanahu Wa Ta’ala.” Perkataan itu sampai ke telinga Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam,  kemudian beliau bersabda : “Mereka adalah orang2 yang tidak berobat dengan besi panas (dengan cara key), tidak meminta untuk di ruqyah*) dan tidak bertathayyur (percaya pada takhayyul), dan hanya bertawakkal kepada ROBB mereka semata.” (HR. Imam Al-Hakim IV/477 – Shahih Tafsir Ibn Katsir VIII/ 721 s/d 725).

*) ruqyah adalah pengobatan dengan membacakan ayat-ayat Al-Quran atau do’a dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam. Hadits ini mengatakan “Tidak meminta di ruqyah”, namun tidak menunjukkan larangan. Dalam hadits lain Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam sendiri diruqyah oleh Jibril ‘Alaihi Sallam.

Golongan kiri

Golonan kiri dijelaskan pada ayat berikut ini , ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman “Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? (41)……. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah (45) Dan mereka terus menerus mengerjakan dosa yang besar (46) Dan selalu mengatakan : “Apakah apabila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar2 akan dibangkitkan kembali (47) Apakah bapak2 kami yang terdahulu dibangkitkan pula? (48).” (Al-Qur’an Surat Al-Waaqi’ah (56), ayat 41, ayat 45 s/d 48).

Melalui ayat yang mulia ini, dijelaskan bahwa gologan kiri ini adalah orang2 yang pada waktu hidup di dunia, mereka hidup bermewah-mewah dan bersenang-senang, hanya mengikuti keinginan hawa nafsu tanpa menghiraukan agama yang dibawa oleh para Rosul ALLAH. Mereka terus menerus melakukan dosa besar, tidak terbesit niat di hati mereka untuk bertaubat. Mereka kufur terhadap ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dan menjadikan sesembahan yang lain sebagai tuhan, selain ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala.

Bahkan golongan ini tidak percaya bahwa  akan adanya kehidupan setelah kematian, mereka menentang, mendustakan akan kehidupan di akhirat nanti. Mereka menganggap bahwa apabila manusia telah meninggal dunia dan menjadi tanah, yang tersisa hanya tulang belulang, maka tidak mungkin dibangkitkan lagi. Oleh karena itu mereka tidak pernah berpikir akan adanya hari pembalasan nanti di akhirat, dan prinsip mereka hiduplah sekarang di dunia ini dengan bersenang-senang dan berfoya-foya. Semua anggapan dan pikiran mereka yang sempit ini bertujuan untuk mendustakan dan menganggapnya kehidupan di akhirat nanti sebagai sesuatu yang mustahil.

Maka ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman : “Katakanlah : ‘Sesungguhnya orang2 yang terdahulu dan orang2 yang kemudian (49), benar2 akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal’ (50).” (Al-Qur’an Surat Al-Waaqi’ah (56), ayat 49-50).

Maksud ayat ini, beritahukan kepada mereka wahai Muhammad, bahwa orang2 yang terdahulu dan yang kemudian, dari anak keturunan Nabi Adam ‘Alaihi Sallam semuanya akan dikumpulkan pada hari Kiamat, tidak ada seorang pun yang luput.

Balasan untuk golongan kiri

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman “Kemudian sesungguhnya kamu hai orang yang sesat lagi mendustakan (51), benar2 akan memakan pohon zaqqum (52), dan akan memenuhi perutmu dengannya (53). Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas (54) Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum (55) Itulah hidangan untuk mereka pada hari Pembalasan (56).” (Al-Qur’an Surat Al-Waaqi’ah (56), ayat 51-56).

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanhu wa Ta’ala, demikian ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala menjelaskan melalui firman-NYA siapakah manusia yang menjadi tiga golongan pada hari Kiamat nanti. Semoga kita menjadi orang2 yang bersegera dalam berbuat kebajikan serta mendekatkan diri kepada ALLAHSubhaanahu Wa Ta’ala.

Mulailah dari sekarang untuk menegakkan syari’at agama yang mulia ini, janganlah dicampur baur dengan hawa nafsu, akal dan pikiran tanpa berjalan di atas Al-Qur’an dan Sunnah ini, ikuti sikap beragama yang ditempuh oleh Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para Sahabat, karena para Sahabatlah yang hidup bersama Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam,

Berusahalah kita termasuk orang2 dari umat Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam  yang amanah, berjuang membela kebenaran, meskipun orang2 disekitar kita menghina, namun tidak akan menggoyahkan sikap beragama kita hingga hari Kiamat nanti.

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanhu wa Ta’ala,mohonlah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  agar kita dan keluarga kita dimudahkan untuk berlomba-lomba dan bersegera dalam melakukan kebaikan, agar pada hari Kiamat kelak, kita dan keluarga kita termasuk orang2 yang selamat, yaitu golongan Al-Muqarrabuun atau As-Saabiquun atau paling tidak ash-Haabul Yamiin, aamiin,

Ya ALLAH, sesungguhnya aku memohon kepada-MU, karena segala puji hanya bagi-MU, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya ENGKAU, tidak ada sekutu bagi-MU, Yang Mahapemberi, wahai Pencipta langit dan bumi, wahai ROBB Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan, wahai ROBB Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, sesungguhnya aku memohon kepada-MU Surga dan aku berlindung kepada-MU dari Neraka. (HR.Sunan Abu Dawud No. 1495 – HR.Sunan an-Nasa’i III/52 – HR. Sunan Ibnu Majah No. 3858, dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu).

Mahasuci ENGKAU, ya ALLAH, aku memuji-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain ENGKAU, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-MU.

Bertakwalah kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala di mana pun kita berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.-

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.

[Sharing Jum’at] Tiga Golongan Manusia Pada Hari Kiamat (Bagian I)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Judul di atas diambil dari salah satu ayat dari surat Al-Waaqi’ah (56), ayat 7 dimana Al-Waaqi’ah adalah salah satu nama lain hari Kiamat. Disebut sebagai Al-Waaqi’ah karena keberadaannya (Hari Kiamat) itu pasti terjadi, tidak ada yang dapat menolak dan mendustakannya.

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman : “Dan kamu menjadi tiga golongan (7) Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu (8). Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu (9) Dan orang2 yang paling dahulu beriman (10) Mereka itulah orang yang didekatkan kepada ALLAH (11) Berada dalam Surga2 kenikmatan (12).” (Al-Qur’an Surat Al-Waaqi’ah (56), ayat 7 s/d 12).

Pada hari Kiamat manusia akan terbagi menjadi tiga golongan, satu golongan berada di sebelah kanan ‘Arsy dan mereka itulah yang keluar dari sisi kanan Adam ‘Alaihi Sallam. Golongan ini akan diberi kitab catatan amal dengan tangan kanan kemudian mereka digiring ke dalam golongan kanan. Mereka adalah mayoritas penduduk Surga.

Kemudian golongan kiri, dimana mereka berada di sebelah kiri ‘Arsy dan mereka inilah yang keluar dari sisi kiri  Adam ‘Alaihi Sallam. Mereka diberi kitab catatan amal  dengan tangan kiri. Mereka inilah sebagian besar penduduk Neraka. Semoga ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala melindungi kita semua dari perbuatan orang-orang seperti ini, Aamiin.

Dan golongan yang ketiga, yaitu mereka yang berada dekat di hadapan ALLAH  Subhaanahu Wa Ta’ala. Mereka inilah golongan yang lebih dekat dengan ALLAH, lebih beruntung dan lebih khusus daripada golongan kanan karena mereka inilah pemimpin  golongan kanan. Ditengah-tengah mereka terdapat para Rosul, para Nabi, para Shiddiqin, dan orang2 yang mati syahid. Jumah mereka jauh lebih kecil dari jumlah golongan kanan.  Golongan ini juga termasuk orang2 yang berlomba-lomba dan bersegera dalam melakukan kebaikan, sebagaimana yang diperintahkan dan disebutkan pada firman ALLAH berikut ini :

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari ROBB-mu dan kepada Surga yang luasnya seluas Langit dan Bumi.” (Al-Qur’an Surat Ali Imran (3), ayat 133).

Siapapun yang berlomba-lomba di dunia ini dan paling dahulu berbuat kebajikan, maka di akhirat termasuk orang2 yang didahulukan mendapatkan kemuliaan, karena balasan bagi suatu amal akan sejenis dengan amal tersebut.

Demikian ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala membagi manusia menjadi tiga golongan sebagaimana yang juga disebutkan dalam penghujung surat Al-Waaqi’ah ini pada waktu mereka dihadirkan pada hari Kiamat. ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala pun menyebutkan mereka dalam firman-NYA :

“Kemudian kitab itu KAMI wariskan kepada orang2 yang KAMI pilih di antara hamba2 KAMI, lalu di antara mereka ada yang menganiaya  diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin ALLAH” (Al-Qur’an Surat Faathir , ayat 32).

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanhu wa Ta’ala, mohonlah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  agar kita dan keluarga kita dimudahkan untuk berlomba-lomba dan bersegera dalam melakukan kebaikan, agar pada hari Kiamat kelak, kita dan keluarga kita termasuk orang2 yang beruntung, yaitu berada dekat di hadapan ALLAH  Subhaanahu Wa Ta’ala.

Ya ALLAH, sesungguhnya aku memohon kepada-MU, karena segala puji hanya bagi-MU, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya ENGKAU, tidak ada sekutu bagi-MU, Yang Mahapemberi, wahai Pencipta langit dan bumi, wahai ROBB Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan, wahai ROBB Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, sesungguhnya aku memohon kepada-MU Surga dan aku berlindung kepada-MU dari Neraka. (HR.Sunan Abu Dawud No. 1495 – HR.Sunan an-Nasa’i III/52 – HR. Sunan Ibnu Majah No. 3858, dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu).

Mahasuci ENGKAU, ya ALLAH, aku memuji-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain ENGKAU, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-MU.

Bertakwalah kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala di mana pun kita berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi 

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.

[Sharing Jum’at] Hari Kiamat dan Hisab (Bagian III)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Hisab

Adanya perhitungan amal (hisab) adalah benar menurut Al-Qur’an dan As-Sunah serta ij’ma para ulama dimana saat itu ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala memperlihatkan kepada hamba-hamba-NYA tentang amal-amal mereka, sebagaimana firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala:

Sesungguhnya kepada KAMI-lah mereka kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban KAMI-lah membuat perhitungan atas mereka.“(Al-Quran, surat Al-Ghaasyiyah, ayat 25-26).

Di dalam shalatnya Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam sering berdo’a : “Allahumma Haasibnii Hisaabaan yasiiraa“, artinya : “Ya ALLAH, hisablah diriku dengan hisab yang mudah.” Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma bertanya tentang apa yang dimaksud dengan “hisab yang mudah”  Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam menjawab :

ALLAH memperlihatkan kitab hamba-NYA kemudian ALLAH mema’afkannya begitu saja. Barangsiapa yang dipersulit hisabnya, maka ia akan binasa.” (HR. Imam Ahmad VI/48, 185 – HR. Imam al-Hakim I/255 – HR. Ibnu Abi Ashim dalam kitaabus Sunnah No. 885, di shahihkan oleh Imam al-Hakim dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi).

Sifat hisab bagi seorang Mukmin, yaitu ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala menyendiri dengan hamba-NYA yang Mukmin dan memperlihatkan dosa-dosa hamba-NYA, hingga ketika ia merasa bahwa ia akan binasa, ALLAH berkata kepadanya : “AKU tutup bagimu dosamu di dunia dan AKU mengampuni dosa-dosamu hari ini,” maka diberikan kepadanya kitab kebaikannya. Adapun orang kafir dan munafik, mereka dipanggil di hadapan seluruh makhluk, mereka adalah orang-orang yang berdusta atas nama ALLAH.

Kemudian ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan para saksi akan berkata : ‘Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap ROBB mereka.’ Ingatlah, laknat ALLAH ditimpakan kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Quran, surat Hud (11), ayat 18) – (HR. Imam Bukhori No. 2441 – HR. Imam Muslim No. 2768, dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma).

Sedangkan orang-orang kafir, mereka itu tidak dihisab sebagaimana dihisabnya orang yang dihitung kebaikan dan keburukannya, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang kafir tidak ada kebaikannya dan amal-amal mereka dihitung, lalu dibiarkan begitu saja dan mereka diadzab dengan sebab amalannya itu. (At-Tanbiihatul Lathiifah, hal 71).

Bahkan seluruh amalan baik orang kafir akan dijadikan seperti debu-debu yang beterbangan atau seperti fatamorgana dan tidak ada nilainya di sisi ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, seperti firman-NYA : “Dan KAMI hadapkan seluruh amal yang mereka kerjakan, lalu KAMI jadikan amal-amal itu bagaikan debu yang beterbangan,” (Al-Quran, surat Al-Furqon (25), ayat 23).

Dan firman-NYA : “Orang-orang yang kafir kepada ROBB-nya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan di dunia. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (Al-Quran, surat Ibrahim (14), ayat 18).

Juga firman-NYA : “Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan didapatinya ketetapan ALLAH di sisi-NYA, lalu ALLAH memberikan kepadanya perhitungan  amal-amalnya dengan cukup dan ALLAH sangat cepat perhitungan-NYA.” (Al-Quran, surat An-Nuur (24), ayat 39).

Perhitungan amal atau hisab ini dilakukan terhadap seluruh manusia dan ada di antara kaum Mukminin yang masuk Surga tanpa hisab, sebagaimana sabda Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Tujuh puluh ribu orang akan masuk Surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan cara kay, tidak meminta diruqiyah, tidak bertathayyur dan hanya bertawakkal kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala semata” (HR. Imam Bukhori No. 7472 – HR. Imam Muslim No. 220 – HR. at-Tirmidzi No. 2446, dari Sahabat Innu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma).

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, seperti yang ditulis oleh Abu Islam Ahmad bin Ali dalam bukunya yang berjudul “Perjalanan ke Akhirat…saat dijemput maut hingga tempat keabadian” , dikatakan bahwa tatkala manusia menginjakkan dua kakinya  di dunia ini, maka sebenarnya manusia tengah melakukan safar (perjalanan) besar menuju ROBB yang Maha Besar. Suatu perjalanan  dari dunia fana menuju akhirat yang abadi, suatu perjalanan terbesar yang pernah ada. Di dunia, perjalanan kita sangat singkat sekaligus sangat menentukan.

Oleh karena itu, marilah kita beramal shalih dengan ilmu (sesuai dengan syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dan dengan ikhlas karena ridha ALLAH semata) sehingga ketika kita menghadap ALLAH di hari Kiamat kelak untuk di-hisab (dihitung)  amal perbuatan kita, ada nilai dan menghasilkan banyak pahala karena mendapatkan ridha ALLAH.

Mahasuci ENGKAU, ya ALLAH, aku memuji-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain ENGKAU, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-MU.

Bertakwalah kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala di mana pun kita berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian yang dapat disampaikan, semoga sharing ini bermanfaat, mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.