Imam Herlambang Blog

Menu

Category: Refleksi

Nasihat Baik

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Dalam hidup, kita sering dinasihati oleh siapa saja, oleh teman kita, sahabat, pasangan hidup, bahkan sampai yang paling terdekat, yaitu keluarga kita.

Ada beberapa nasihat untuk diri kita yang memang ketika disampaikan, kita enak mendengarkannya. Namun ada beberapa yang kurang enak untuk didengar, apalagi nasihat tersebut dilontarkan di khalayak ramai.

Sebenarnya, mau nasihat itu baik ataupun tidak baik (maksudnya nasihat itu sesuai dengan kita, tapi kitanya yang tidak suka), itu adalah bentuk rasa sayang orang lain terhadap kita. Karena dinasihati oleh mereka-lah, kita seharusnya bersyukur dan berterima kasih.

Karena nasihat yang mereka berikan merupakan bentuk sayang, peduli dan sekaligus perhatian kepada kita. Peduli kepada kita bahwa semoga atas nasihat yang diberikan oleh mereka, kita bisa berubah.

Bukankah mereka yang memberi nasihat seperti itu sudah dipastikan orang yang baik? Mereka memberikan nasihat dengan harapan kita bisa lebih baik lagi dari sebelumnya. Kita bisa menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk dari diri kita.

Nasihat Baik
Nasihat Baik (sumber: http://raudhatulqaanitah.wordpress.com/)

Bahkan sekalipun nasihat yang dilontarkan itu tidak mengenakkan bagi kita, itu bisa adalah nasihat yang amat sangat kita butuhkan.

Jika ternyata ada nasihat yang diberikan oleh orang lain dan dengannya kita merasa marah atau tertekan, bisa jadi itu adalah nasihat yang sangat kita butuhkan.

Contoh saja, seorang perokok hampir 90% ketika dinasihati untuk tidak merokok selalu marah. Entah kenapa mereka bisa marah, saya tidak pernah mencari tahu tentang itu. Tetapi jika si perokok mau menggunakan akal pikirannya sedikit saja, dan menganggap bahwa nasihat yang diberikan kepadanya adalah bentuk kasih sayang terhadapnya, seharusnya mereka lebih mengerti.

Nasihat itu ternyata yang si perokok butuhkan. Karena yang menasihati sangat peduli terhadap kesehatan si perokok tersebut, bahwa merokok itu tidak baik loh, bahwa merokok itu merusak kesehatan. Tetapi fenomena sekarang, tetap saja banyak orang yang merokok ketika dinasihati malah marah.

Jika saja pikiran kita lebih terbuka terhadap nasihat, jika saja kita mau menggunakan pikiran kita untuk berfikir lebih jauh, jika saja setiap nasihat yang diberikan kepada kita, kita pikirkan baik-baik terlebih dahulu, InsyaAllah semua nasihat yang diberikan kepada kita, itu adalah nasihat yang baik.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Seratus Persen

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saya tiba-tiba teringat salah satu nasihat dari Pak Ditdit yang disampaikan oleh beliau ketika saya bertemu di Bogor. Di nasihat itu beliau bertanya kepada saya,

Mam, kalau kamu nanti punya anak 1, berapa persen kamu akan mencurahkan waktu kamu ke dia?

Lalu saya jawab,

Seratus persen Pak.

Setelah itu beliau bertanya lagi kepada saya,

Kalau kamu nanti punya anak 2, berapa persen kamu akan mencurahkan waktu kamu ke kedua anak kamu?

Saya terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang ingin saya lontarkan kepada beliau. Langsung saja saya tanpa berfikir panjang menjawab,

Lima puluh persen dan lima puluh persen Pak.

Seakan-akan merasa sombong dengan jawaban tersebut, saya jawab dengan yakin bahwa jawaban itu akan benar. Tetapi ternyata tidak.

Seharusnya kamu mencurahkan waktu untuk kedua anak kamu masing-masing seratus persen. Sehingga tidak satupun perhatian kamu akan berkurang ke masing-masing anak kamu nantinya.

Seratus Persen
Seratus Persen (sumber: http://motivationalmemo.com)

Mendengar jawaban terseubut, saya langsung manggut-manggut sambil memikirkan di dalam hati, “benar juga ya, kalau jadi 50%, berarti kan perhatian anak pertama harus dikurangi untuk dibagi ke anak kedua”.

Begitulah nasihat yang beliau sampaikan kepada saya. Di dalam hidup kita, jika kita mendapatkan hal baru yang harus kita kerjakan, seharusnya fokus kita bukan malah menurun lantaran ada hal baru. Sebaiknya tambahkan fokus kita sehingga masing-masing nilainya menjadi seratus persen.

Atur waktu, atur cara kerja, atur waktu bangun tidur, atur makan, atur pola hidup dan lain-lain sehingga kita bisa me-manage waktu dengan baik, agar kita bisa tetap fokus ke hal-hal baru kita dengan tetap tidak melupakan hal-hal yang lama, agar nilainya tidak berkurang, tetap 100%.

Siang itu saya mendapat banyak sekali nasihat yang diberikan oleh beliau, dan sampai saat ini saya tetap mengusahakan agar apapun yang saya kerjakan saya harus bisa fokus 100%.

Meskipun saat ini fokus kita masih berkurang karena hal-hal baru, seharusnya kita bisa lebih meningkatkan fokus kita di angka yang sama-sama maksimal. Hindari hal-hal yang tidak berguna, dan maksimalkan angka 100% pada hal-hal yang menurut kita sangat amat penting.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Checklist Introspeksi Diri

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Sebagai manusia, kita sudah sewajarnya punya banyak kesalahan di dalam diri kita. Yang tidak wajar adalah, sudah banyak kesalahan, tetapi lupa untuk memperbaiki diri sendiri dan selalu merasa benar atas segala sesuatu.

Nah, perlu kita untuk introspeksi diri untuk melihat ke dalam diri kita, kita ini sudah semakin baik dari sebelumnya, atau malah semakin kurang baik dari sebelumnya. Pada artikel kali ini, saya akan berikan beberapa Checklist Introspeksi Diri.

Memang tidak semua hal yang harus kita introspeksi ada di dalam artikel ini, tetapi setidaknya, ini adalah beberapa yang sering dialami oleh orang kebanyakan.

Tidak Punya Tujuan

Ibaratnya seorang ingin berpergian naik taksi, orang yang tidak punya tujuan tidak mengerti kemana akan pergi. Maka ketika naik taksi, hanya berputar-putar saja, tidak punya tujuan. Hanya menghabiskan ongkos saja.

Cek ke diri kita masing-masing, sudahkah kita punya tujuan hidup?

Tidak Mencatat Tujuan

Punya tujuan baik, tetapi bila kita tidak mencatatnya, kemungkinan besar pasti kita akan lupa oleh tujuan kita. Kalau tidak dicatat, dan hanya disimpan di otak saja, sudah bisa ditebak dan bisa dipastikan pasti tujuan itu akan hilang dalam waktu beberapa minggu, atau bahkan yang sudah parah bisa hilang dalam beberapa hari.

Cek ke diri kita masing-masing, sudahkah kita mencatat detail setiap tujuan kita?

Mencari Alasan Jika Gagal

Gagal itu hal yang wajar, bahkan kesuksesan itu butuh yang namanya gagal, untuk bisa jadi pelajaran untuk kita. Tapi yang tidak wajar adalah, kita berdalih, mencari-cari alasan ketika kita gagal, seolah-olah kegagalan tersebut terjadi karena kesalahan orang lain.

Terlebih-lebih malah menyalahkan Tuhan. Sungguh ini tidaklah wajar dilakukan oleh kita.

Seharusnya kita cek. Apa yang kurang dari usaha kita, sehingga kita gagal.

Checklist Introspeksi Diri
Checklist Introspeksi Diri (sumber: http://cafesenja.blogspot.com)

Berteman dengan Lingkungan yang Salah

Orang-orang sukses, pasti dikelilingi oleh orang-orang yang sukses juga. Begitupun orang-orang yang tukang mengeluh, pasti dikelilingi tukang mengeluh juga. Daripada kita terbawa arus oleh lingkungan yang salah (lingkungan negatif), entah itu mengeluh, menjelek-jelekkan orang lain, sebaiknya kita menghindar dan mulailah mencari lingkungan yang baru.

Lingkungan yang baru akan mendorong kita untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, ikutlah seminar-seminar atau kajian-kajian. Bertemulah dengan orang-orang baru untuk bertukar pikiran. InsyaAllah itu akan membawa kita kepada perubahan yang lebih baik.

Sudahkah kita berteman dengan lingkungan yang baik?

Kurang Pengembangan Diri

Kurang pengembangan diri adalah salah satu penyebab seseorang tidak maju dalam hidupnya. Biasanya tipe orang-orang yang kurang pengembangan diri itu hanya hidup asal hidup saja.

Setiap harinya, atau setiap minggunya, tidak ada hal baru di dalam hidupnya, tidak ada ide baru, tidak ada ilmu baru yang didapat. Hanya sekedar hidup saja.

Ini bahaya sekali bagi kita. Sering-seringlah kita membaca buku, membaca artikel-artikel di website. Sekarang ini banyak sekali ilmu yang bertebaran di internet. Jangan menunggu datangnya hidayah atau kesempatan baru berubah.

Cek ke diri kita masing-masing, apakah pengembangan diri kita masih kurang, cukup atau sudah dalam tingkat normal?


Itulah beberapa Checklist Introspeksi Diri untuk kita renungi baik-baik. Sebenarnya masih banyak sekali yang harus kita introspeksi diri. Tetapi semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk kita semua (saya dan Anda).

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Manfaat dan Berkah

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Biasanya, dalam kegiatan mencari ilmu, kita mencari manfaat dari ilmu tersebut. Kita berharap dengan ilmu yang kita dapat, kita juga berharap mendapatkan hasil, yang biasa disebut manfaat. Tapi ternyata, manfaat saja tidaklah cukup.

Seperti layaknya rezeki yang halal, tentu tidak akan lengkap jika tidak ada toyyiban. Halal itu bisa bagaimana cara mendapatkan harta, atau jenis harta tersebut, sedangkan toyyiban itu adalah baik untuk si penerima rezeki tersebut. Jadi misal kita mendapatkan rezeki halal, tetapi tidak toyyiban ya itu rasanya kurang lengkap saja.

Untuk bahasan tentang halal dan toyyiban, Anda bisa lebih lanjut baca di artikel blog sahabat saya di sini.

Nah, dalam berilmu pun, ternyata manfaat saja tidak cukup. Ada satu hal lagi yang perlu kita perhatikan baik-baik. Yaitu adalah Berkah. Berkah bisa secara sederhana diartikan sebagai “Yang mendatangkan kebaikan bagi si pelakunya”.

Jadi misalkan kita belajar suatu ilmu, katakanlah tentang adab-adab Rasulullah. Kita bisa saja mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut, yang mana kita bertambah ilmunya, dari yang semula tidak tahu, menjadi tahu.

Tetapi, ternyata setelah mendapatkan ilmu, perilaku kita tetap sama saja seperti itu, yang ternyata tidak membawa kebaikan bagi kita. Jadi meskipun manfaatnya dapat, tetapi berkah nya belum bisa di dapatkan.

Manfaat dan Berkah
Manfaat dan Berkah (sumber: http://hidupberkah.com/)

Berkah itu bisa didapat salah satunya dengan menghormati guru,  menghormati waktu yang diluangkan untuk belajar. Sehingga setelah mendapatkan ilmu, nantinya ilmu kita bermanfaat untuk diri kita sendiri (terlebih untuk orang lain) dan juga mendatangkan kebaikan pula untuk kita. Sehingga jika kita mendapatkan berkah, tentunya hidup kita akan lebih baik lagi kedepannya.

Jika hidup kita semakin baik, kita bisa meneruskan ilmu yang kita dapat tadi karena manfaat dan keberkahannya.

Oh iya, jika hanya mendapat manfaat tetapi tidak mendapatkan berkah. Biasanya sebanyak apapun manfaat yang didapat, tetapi tanpa berkah didalamnya. Orang tersebut akan sulit sekali untuk menularkan ilmunya kepada orang lain, karena ilmu yang didapat tidak membawa keberkahan bagi dirinya, hanya sekedar bermanfaat.

Ini semacam teguran bagi kita semua, semoga kedepannya, dalam berilmu, kita bisa mengejar keduanya, yaitu manfaat dan berkah. Dan semoga kita bisa terus memberikan ilmu-ilmu kita agar bisa bermanfaat dan berkah untuk orang lain juga (Jadi tidak hanya bermanfaat dan berkah untuk diri sendiri, tapi untuk orang lainnya juga)

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Kecewa

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Bagi saya pribadi, kecewa adalah salah satu sifat yang berbahaya, karenanya kecewa biasanya memancing sifat-sifat lain untuk hadir. Dari sifat kecewa yang kecil, bisa lahir sifat marah, iri, dengki, bahkan bisa-bisa sampai memusuhi orang lain.

Banyak kan dari kita (termasuk saya juga) yang sering kecewa jika berhadapan dengan suatu kejadian, kita biasanya berharap A, akan tetapi hasil yang kita hadapi ternyata berbeda dengan harapan yang kita bangun diawal. Nah, dari situlah muncul perasaan tidak terima, perasaan kecewa, perasaan menyalah-nyalahkan keadaan.

Kecewa
Kecewa (sumber: http://encesurahman.blogspot.com/)

Awalnya sih memang biasa saja, kecewa sebentar, lalu hilang. Namun, kalau sudah terjadi berkali-kali dan sudah menjadi semacam trigger, bahwa “jika ternyata hasilnya tidak sesuai, maka saya pasti kecewa”, nah perasaan-perasaan seperti itu lah yang nanti akan muncul di bawah sadar kita, sehingga jika ada suatu keadaan yang hasilnya tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka kita sudah pasti kecewa.

Bahaya? Tentu bahaya, seperti yang sudah saya bilang di awal tadi, bahwa dari perasaan kecewa akan lahir perasaan-perasaan berikutnya.

Nah, alangkah baiknya kita sebagai manusia bisa menghindari hal-hal semacam itu. Jika hanya sesekali itu adalah hal yang wajar, manusiawi. Tapi kita tidak ingin juga kan hal itu sampai terjadi berulang-ulang?

Hadirnya kecewa itu karena pada saat kita berharap, kita tidak memasangkan keikhlasan dalam berharap. Lain halnya jika kita menghadirkan keikhlasan sebelum kita berharap, tentu hasilnya akan beda.

Jadi, ke depannya, saat kita mulai berharap sesuatu kepada hal apapun, mulailah dengan ikhlas dahulu, bahwa apapun hasilnya, itu pasti yang terbaik bagi kita (tentunya juga harus ada usaha juga ya). Jika hasilnya baik dan sesuai dengan yang kita harapkan, maka kita patut bersyukur. Jika hasilnya ternyata tidak sesuai dengan yang kita harapkan, maka mungkin memang itu hasil yang pantas buat kita.

Semoga kita dimampukan untuk bisa mencegah sifat kecewa tersebut, sehingga tidak melahirkan sifat-sifat lainnya yang lebih jelek.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Buat SIM Tapi Nembak?

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

4 Bulan ke belakang merupakan waktu-waktu yang membuat saya khawatir, galau, semangat, dan berbagai perasaan lain yang campuraduk di dalam kepala saya. Bagaimana tidak, hal yang kebanyakan dilakukan oleh orang lain yang hampir 99% orang melakukannya, tetapi saat itu tidak saya lakukan. Apakah itu? Membuat SIM Tanpa Nembak!

Tentu ini menjadi hal konyol yang saya lakukan, dimana, saat kebanyakan orang hanya ingin mendapatkan satu buah kartu lisensi mengemudi dengan sangat mudahnya, yaitu dengan cara menyuap para polisi-polisi yang ada, tetapi saya tetap istiqomah di jalan yang benar, mengikuti tes SIM sesuai prosedur, meski saya harus melaluinya dengan susah payah, dengan waktu yang lama, dengan tenaga yang tidak sedikit. Tetapi pada akhirnya, ada kepuasan tersendiri yang saya rasakan yang tentunya tidak bisa dirasakan oleh orang lain yang dengan mudahnya menyuap para polisi hanya untuk mendapakan SIM. Ah, sungguh ironis sekali mendengar bangsa ini yang setiap harinya selalu saja terjadi kecurangan, kelalaian, dan berbagai macam kejahatan yang sengaja dibiaskan menjadi kebaikan palsu.

Kalau dipikir-pikir dengan logis, menurut saya, alasan orang-orang diluar sana yang mendapatkan SIM dengan cara menyuap, justru itu adalah penyebab banyaknya kesalahan-kesalahan yang terjadi di jalan raya sana. Logika simpelnya adalah, orang yang tidak peduli dengan prosedur pembuatan SIM, yang di dalamnya justru banyak pelajaran yang bisa diambil, pastinya tidak peduli juga dengan aturan-aturan yang ada di jalan raya. Maka menurut saya, kebanyakan kesalahan-kesalahan yang terjadi di luar sana itu pasti karena banyaknya ulah orang yang membuat SIM tapi dengan proses menembak. Itu baru fenomena pertama.

Jika di analisa menurut alasannya, ada beberapa alasan menurut saya, mengapa orang-orang diluaran sana sangat amat senang menyuap untuk mendapatkan SIM :

Tidak Mau Repot

orang yang membuat SIM dengan cara menyuap itu tidak mau repot, maunya langsung jadi punya SIM tanpa harus tes SIM, yang padahal sebenarnya tes SIM itu bertujuan untuk mengetes apakah kita mampu menghadapi situasi di jalan raya sana. Dengan demikian, banyak orang yang hanya mau instan tanpa menghargai proses, maka tidak heran juga banyak yang korupsi di sana-sini.

Cerita Dari Pihak Ketiga

Selain itu, hanya karena cerita-cerita dari teman-teman lainnya yang kalau tes SIM gagal, maka mengulang selama 2 minggu lagi, dan juga karena susahnya tes SIM tersebut, itu menjadikan mereka-mereka malas untuk ikut serta dalam proses tes SIM tersebut.

Belum mulai saja, sudah menyerah…

Belum Mampu

Inilah bagi saya alasan seseorang memilih menembak dalam membuat SIM. Ya, mereka belum mampu, mereka merasa belum bisa mengendarai kendaraan, tetapi mereka ngebet sekali ingin mempunyai SIM. Alhasil, mereka membohongi diri mereka sendiri dengan ketidakmampuannya tersebut dengan cara membuat SIM dengan cara menembak.

Inilah yang menjadi fenomena di jalan raya, mengapa banyak sekali kejadian kecelakaan, kecerobohan, kesalahan aturan. Yang sebenarnya bisa dicegah dengan mengikuti tes SIM dengan baik dan benar. Ingat, tes SIM itu bukan sekedar kita mendapatkan kartu lisensi mengemudi saja, tetapi kita belajar bagaimana memahami aturan-aturan yang ada di jalanan, agar kedepannya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tes Praktek SIM Motor
Tes Praktek SIM Motor

Banyak Alasan

Banyak alasan itu adalah justru akar dari alasan-alasan yang mereka buat dengan pandai, ada yang berdalih “Polisi itu emang begitu sob”, “kalo lo ga nembak, ga bakal lulus”, “percuma ikut tes, yang ada ntar lo ga lulus”, dan berjuta-juta alasan yang lainnya. Bagi saya, itu adalah alasan sang pengecut, yang belum tes saja, sudah banyak berdalih, inilah tipe-tipe orang yang banyak alasan. Seharusnya dalih-dalih semacam di atas bisa kita buktikan dengan cara mengikuti prosedur tes SIM yang benar.

Dan masih banyak lagi alasan-alasan yang terus saja dilontarkan oleh para orang di luar sana yang membuat SIM tapi menembak (menyuap). Padahal, proses suap-menyuap sendiri itu dikategorikan sebagai korupsi. Maka janganlah bermimpi Indonesia kita ini terbebas dari korupsi, kalau pembiasaan dari rakyat kecil saja sudah mengajarkan korupsi.


Kembali kepada cerita saya, saat saya membuat SIM. Jika saya hitung dari waktu pembuatannya (yaitu pada bulan Maret) sampai saya mendapatkan SIM (bulan Juni), maka waktu tersebut sudah 4 bulan dengan jumlah mengulang tes sebanyak 5 kali.

Di sini saya hanya membuktikan bahwa, sebenarnya, jika kita mau untuk berlaku baik dan benar, maka pasti akan ada jalannya. Jika kita tetap berpendirian teguh tidak mau nembak, maka pasti ada jalannya. Dan pasti ada pelajaran yang bisa kita dapat dari setiap langkah kaki yang kita gerakkan di atas jalan kebenaran ini.

Tes Ke-1

Tes ke-1 ini saya lakukan di sekitar pertengahan bulan Maret, dengan melakukan tes pertama tentang tes teori SIM. Tentunya dari bulan-bulan sebelumnya, saya mendownload banyak contoh-contoh soal tes SIM yang teori, dan juga mempelajari berbagai macam undang-undang tentang lalu lintas. Namanya juga ujian, pasti harus belajar dong. Sebelum pergi tes SIM, saya berdoa dan meminta doa dari kedua orang tua saya, agar dilancarkan dalam proses pembuatan SIM ini. Setelah sampai pada tempat uji SIM yaitu di Polres Depok, saya terkejut karena yang tes teori SIM dalam 1 ruangan hanya 3 orang! “Yang lainnya ke mana?” gumam saya dalam hati. Ternyata banyak praktek-praktek kotor (nembak) yang terjadi di sana, yang membuat orang bisa langsung foto dan langsung pulang membawa SIM hasil nembak mereka.

Tetapi saya tetap pada pendirian saya, saya tetap melakukan tes SIM secara baik dan benar, yaitu mengikuti prosedur nya. Dan Alhamdulillah dari tes teori yang berjumlah 30 soal, saya hanya salah 6. Ini menjadikan saya lulus pada bagian teori SIM.

Belum cukup sampai di situ saja, ada tes praktek yang harus saya lakukan pada saat itu. Dan lagi-lagi saya sangat amat terkejut dan sedikit tersenyum. Karena saya tes prakteknya hanya sendirian. Hehehe. Kondisi ini membuat saya down untuk sementara. Tapi walaupun begitu, saya tetap harus tes praktek.

Hasil dari tes praktek pertama adalah Belum Lulus dan harus mengulang 2 minggu ke depan, karena saya lupa memasukkan gigi mundur pada saat turunan (efek kebiasaan). Akhirnya saya pulanglah ke rumah, tentunya dengan tetap bersyukur, karena saya dapat pelajaran dari tes tersebut.

Tes Praktek SIM Mobil
Tes Praktek SIM Mobil

Tes Ke-2

Karena pada tes pertama saya sudah lulus tes teori, maka pada tes ke-2 saya hanya mengulang tes prakteknya saja. Dan lagi-lagi kejadian yang sama datang, saya tes praktek hanya sendiri, tidak ada peserta tes SIM lainnya yang ikut tes praktek. Tetapi karena hal tersebut sudah pernah terjadi kepada saya, saat itu perasaan saya biasa saja dan langsung memberanikan diri menghampiri Pak Polisi yang biasa bertugas untuk mengetes setiap peserta uji SIM.

Hasil dari tes ke-2 masih sama, yaitu Belum Lulus dengan alasan saya tidak menggunakan rem tangan ketika tanjakan, tetapi menggunakan rem kaki, di mana di dalam prosedur pembuatan SIM, hal ini tidak dibenarkan.

Dari sini, muncul perasaan tidak enak di hati saya, “apa benar, jangan-jangan tes yang resmi seperti ini hanya akan membuat saya lelah dan tidak ada hasilnya?”, sesaat setelah perasaan tidak enak tersebut mengganjal pikiran saya, saya langsung ambil tindakan positif, “ah kalau dipikir benar juga, kalau tanjakan kita tidak boleh menggunakan rem kaki karena dikhawatirkan nanti mobil bisa merosot tanpa ada penjagaan yang pasti”. Dari situlah saya yakin untuk tetap mengulang lagi 2 minggu ke depan.

Tes Ke-3

Pada tes ketiga, tidak seperti 2 tes sebelumnya, tetapi kali ini ada 1 orang yang ternyata tes praktek juga. Alhamdulillah ada teman untuk sharing. Dan ternyata orang tersebut sama prinsipnya dengan saya, yaitu tidak mau menembak, dengan alasan “gw ga buru-buru kok, jadi santai aja”. Wah ini keren menurut saya.

Akhirnya tibalah saya dulu yang tes praktek. Saya masuk ke dalam mobil bersama Pak Polisi tersebut. Saya nyalakan mobilnya. Tetapi malang nasib saya, karena baru saja mobil berjalan, mesin mobil mati! Dan itu berarti tes praktek saya gagal. Tetapi Pak Polisi tersebut bilang kepada saya “sudah lanjutkan saja dulu, walaupun gagal”. Akhirnya saya lanjutkan, dan saya melalui bagian tanjakan dengan baik dan benar tanpa ada salah sedikitpun.

Tetapi karena di awal mesin mobil mati, maka saya tetap dinyatakan tidak lulus. Yah tidak apa-apa, saya akan mengulang lagi di kesempatan berikutnya.

Tes Ke-4

Setelah tes ke-3, saya vakum sekitar 1 bulan, karena saya harus melakukan penelitian untuk Skripsi saya di PT. Krakatau Steel, Cilegon. Ketika saya kembali lagi dan tes berikutnya, teman saya yang saya sempat ceritakan pada bagian tes ke-3 di atas, ternyata sudah tidak ada. Begitu saya kontak dia, dia berkata bahwa dia jadinya menembak saja, karena dia sedang terburu-buru.

Mendengar kabar tadi, saya hanya tersenyum, ternyata kesetiaan seseorang terhadap sesuatu itu akan selalu di uji sampai titik darah penghabisan. Hehehe.

Akhirnya, ya sudah saya tetap tes praktek yang ke-4 kalinya dengan sendiri. Mulai starter mobil dengan baik, mulai menjalankan mobil dengan baik, menanjak… lalu… Ngerem Mendadak!!!. “Nah, itu ga boleh Mas, ngerem mendadak begitu, ngulang lagi ya”.

Saya tersenyum kembali, ternyata sampai tes ke-4 pun, saya masih terus di uji oleh Allah untuk membuktikan bahwa saya memang benar-benar ingin tes SIM dengan murni tanpa adanya proses suap menyuap.

Begitu mulai menanjak, ternyata saya salah lagi! saya menanjak dengan tersendat-sendat (seperti mobil maju mundur), dan ini tetap tidak dibenarkan oleh pihak kepolisian. Saya sadar itu memang kesalahan saya dan saya mengakui salah. Akhirnya saya pulang ke rumah dan menunggu 2 minggu lagi untuk tes ke-5.

Tes Ke-5

Tes ke-5 saya lakukan pada tanggal 10 Juni 2013, di mana pada bulan Juni ternyata adalah HUT Bhayangkara, dan di saat yang sama, Polres Depok sedang ada razia, jadi yang biasanya banyak berkeliaran praktek suap menyuap, sekarang sedang vakum. Hehehe

Banyak sekali saya lihat orang-orang yang ikut tes teori maupun praktek. Memang beginilah seharusnya praktek pembuatan SIM di Indonesia. Dengan Baik dan Benar, bukan hanya slogan-slogan yang ditempel di tembok saja.

Akhirnya saya tes praktek lagi dengan mobil yang sama dengan jalan yang sama. Mobil keluar dari garis kotak parkir, bisa saya lalui tanpa hambatan. Tanjakan saya lalui tanpa hambatan juga, begitupun dengan turunan, saya lalui dengan lancar tanpa sedikitpun ada kesalahan.

Masuk ke tahap terakhir, yaitu saya parkirkan kembali posisi mobil seperti posisi semula. Bagian ini agak sulit untuk saya, karena tiba-tiba kaki saya mengalami kesemutan. Saya lawan sebisa mungkin, biarpun pelan yang penting hari ini saya harus bisa lulus.

Dan, ALHAMDULILLAH… Saya dinyatakan lulus oleh Pak Polisi tersebut dan langsung di suruh ke ruang foto. Benar-benar tidak saya sangka. Ternyata saya bisa melalui semua ini dengan sabar dan istiqomah tetap berada di jalan yang benar.


Terima Kasih untuk Pak Ditdit N. Utama yang di sela-sela kegalauan saya memberikan nasihat :

Nikmati aja prosesnya…Setiap langkah usaha yang kita kerjakan, akan mendatangkan value buat kita; sekarang atau di waktu-waktu yang tidak kita sangka.
Jangan selalu lakukan sesuatu yang kebanyakan orang lakukan.

Sombong namanya, kalau kita mau melakukan yang jadi urusan ALLAH. Urusan kita hanyalah berusaha semaksimal mungkin.

Terima Kasih untuk Mas Ilman Akbar atas motivasi dan share pengalaman tes SIM tanpa suap-menyuap nya ya Mas 🙂

Terima Kasih untuk sahabat saya Khalid Abdullah yang tetap menyadarkan saya dalam jalan yang benar. Thanks bro 🙂


Semoga artikel yang saya buat bisa menginspirasi kita semua dalam bertindak, dalam menjalani kehidupan yang sekarang semakin lama semakin susah menemukan kebenaran. Semoga ke depannya banyak orang yang mulai untuk tes SIM secara baik dan benar. Aamiin…

maaf bila artikelnya berantakan, baru mulai aktif nulis lagi nih 🙂

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Jauh Dari Kepintaran

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Semalam menjadi malam yang menyadarkan saya tentang arti kepintaran. Ternyata saya masih bodoh, masih jauh dari kepintaran, masih harus terus belajar tanpa henti.

Stay Hungry Stay foolish

Quotes sederhana dari Almarhum Steve Jobs tentang bagaimana kita harus terus berinovasi, terus belajar, tetap harus dalam keadaan tidak puas, menjadikan saya sadar, bahwa memang saya harus terus banyak belajar, terus berinovasi, dan tentunya tidak menyerah.

Kesadaran saya semalam saya dapatkan setelah saya chatting dengan Dosen kebanggaan saya, yaitu Pak Ditdit N. Utama. Saya chatting dengan beliau dari mulai jam 9 malam sampai kira-kira jam 11 lewat. Saya banyak tanya tentang Skripsi yang saya sedang lakukan saat ini.

Mulai dari judul Skripsi yang harus saya rubah karena tidak sinkronnya pemikiran saya dengan prosedur kampus saya. Dan hasilnya, saya memang harus mengganti judul Skripsi saya tersebut. Pilihan yang sangat amat susah bagi saya untuk mengganti judul Skripsi saya, karena judul Skripsi saya yang lalu sangat menarik untuk dibahas, tetapi begitu judul Skripsi saya “terpaksa” ganti, walaupun masih dalam satu tema, tetapi tetap saja judulnya tidak se-keren judul pertama. Saya ikhlaskan saja hal tersebut.

Di aktivitas chatting selanjutnya, saya banyak disuguhi ilmu-ilmu baru dari Pak Ditdit tentang dunia akademis, mulai dari hakikat Research (Riset), ilmu, pengetahuan, dan tentang idealisme, yang ternyata pemahaman saya selama ini salah. Bahkan dari pihak akademik kampus pun, hal-hal seperti itu tidak diajarkan.

Hal tersebut justru menyadarkan saya bahwa saya tidak lebih pintar dari siapapun, dan tentunya menyadarkan saya untuk terus merendah diri dan tidak sombong, karena pada hakikatnya, manusia memang tidak pantas sombong sedikitpun.

Saya mulai putuskan untuk terus belajar lagi, mencari hal-hal baru yang sebelumnya belum saya ketahui. Memang perjalanan saya masih panjang, masih harus berbagi dengan Anda sekalian di Blog ini, tetapi jika saya tidak terus me-research ilmu-ilmu yang ada, saya akan menjadi manusia yang rugi, yang tertinggal oleh manusia-manusia yang lain.

Ternyata saya masih jauh dari kepintaran…

Terima Kasih untuk Pak Ditdit, yang telah membimbing saya , memberikan nilai-nilai kehidupan yang sangat berarti. Walaupun beliau tinggal di Jerman dan saya di Indonesia, namun hal tersebut tidak menyurutkan saya untuk tetap terus belajar kepada beliau.

Bagaimana kisah pembelajaran Anda? Silahkan sharing di kolom komentar 🙂

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Menunjukkan Amarah?

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Agak unik memang jika kita selalu berbicara tentang amarah dan memaafkan, itulah satu paket yang harus kita pelajari sedini mungkin. Karena dari situlah akan terlihat sosok asli kita seperti apa.

Banyak juga mungkin orang-orang yang memang sudah memaafkan, mereka sudah bilang bahwa sudah memaafkan. Tetapi mereka masih sempat saja menunjukkan amarah mereka, dengan hanya satu tujuan. Apa itu?

Tujuannya simpel saja, mereka ingin orang lain itu mengetahui bahwa mereka sedang marah, dan orang tersebut harus mulai meminta maaf. Hal seperti ini semakin aneh saja. Katanya memaafkan, tetapi masih mengungkit-ungkit perasaan amarahnya.

Memaafkanlah dengan tulus, bahkan tanpa membuat orang lain tahu bahwa kita sedang marah. Lawanlah amarah di dalam diri sendiri. Karena dalam amarah dan memaafkan, yang justru kita hadapi bukanlah orang lain. Tetapi melainkan diri sendiri dan syaitan.

Jika kita menang melawan diri sendiri, maka kita sudah pasti tidak perlu lagi mengungkit-ungkit amarah kita yang sudah terjadi tersebut. Kita mengikhlaskan apa yang sudah terjadi dengan tulus. Tanpa mengungkit-ungkit kembali.

Keikhlasan juga merupakan salah satu kunci kebahagiaan, Ikhlas berarti kita sudah bahagia dengan diri kita pada saat yang sekarang. Dan tidak terpengaruh apapun yang ada pada masa lalu kita.

Memang pada awalnya amat sulit untuk bertarung melawan diri sendiri yang sering dikelilingi sifat syaitan ini. Tetapi saya yakin, jika dengan latihan hal tersebut akan bisa kita lewati. Saya sendiri sudah berkali-kali latihan mengenai hal ini. Sampai sekarang pun memang masih belum sempurna, tetapi saya tetap mengusahakan melakukan hal tersebut.

Ingat untuk selalu tidak menunjukkan amarah, ingat untuk selalu mengikhlaskan apa yang memang sudah terjadi. Hidup akan lebih cerah, bahagia dan nyaman jika kita bisa selalu fokus terhadap masa sekarang dan masa depan.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Air Mengalir

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“hidup santai aja, biarkan aja hidup mengalir seperti air”

Wah, sebuah kata-kata populer yang seringkali diucapkan oleh orang yang tidak memiliki impian dan tujuan. Kata-kata yang menjadi tameng atas hujatan dari orang-orang. Alasan yang dibuat seolah benar, padahal jika ditelaah lebih lanjut, kata-kata tersebut tidaklah pas.

Bila hidup kita biarkan saja seperti air yang mengalir, maka jika air itu menuju selokan atau yang biasa disebut comberan, apakah mau hidup kita seperti itu? Tentunya tidak. Hidup seperti air memang sangat baik, tapi janganlah dibiarkan mengalir ke comberan.

Air yang baik pasti akan berkumpul dengan air yang baik pula, air yang tidak baik, sisa pemakaian orang, tentu akan berkumpul di satu tempat pula. Tentunya jika hidup adalah air, dan kita tidak mau air yang kita anggap sebagai hidup adalah air yang mengalir ke comberanmaka aturlah aliran air itu.

Aliran air itu adalah aliran-aliran yang biasanya berkumpul sesuai dengan aliran-aliran tertentu. Jika aliran itu buruk, pastinya air akan berkumpul dengan aliran yang buruk pula. Jika aliran baik, air pasti akan mengalir ke tempat yang baik pula.

Janganlah membiarkan hidup kita mengalir begitu saja, mengalir ke arah negatif, mengalir ke comberan, hidup kita terlalu sayang jika kita membiarkan hidup kita, kita sengajakan untuk dialirkan ke tempat negatif.

Jadilah aliran-aliran yang baik, menujulah ke tempat aliran-aliran orang yang baik. Dengan begitu hidup kita pun akan bersama dengan aliran-aliran orang yang baik, yang ber visi baik pula.

Hindarilah perasaan nyaman, karena biasanya perasaan nyaman adalah musuh terbesar, perasaan nyaman lah yang akan mengantarkan hidup ini mengalir begitu saja.

Jauhilah hidup kita dari perasaan nyaman, jauhilah aktifitas-aktifitas yang hanya akan mengantarkan kita ke aliran-aliran negatif. Sekali lagi, tidaklah mengapa menganalogikan hidup ini seperti air, hanya saja, janganlah sampai kita merelakan hidup kita seperti air yang mengalir ke comberan.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Taatilah Aturan

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Setiap segala sesuatu ada aturannya yang sudah semestinya kita ikuti dan taati. Aturan dibuat untuk kita taati bersama, bukan untuk dilanggar. Karena pembuat aturan peduli dengan mereka yang menggunakan aturan tersebut, agar tidak terjadi kesalahan. Itulah fungsi dari aturan.

Ironisnya, hampir di atas 70% orang tidak terlalu peduli dengan aturan. Baik itu aturan yang berguna bagi mereka, ataupun aturan yang memang tidak berguna dan tidak penting bagi mereka. Padahal sejatinya, aturan itu demi kepentingan bersama.

Sebagai contoh, saya sebagai seorang WordPress Theme Developer yang biasa bekerja sebagai pembuat theme WordPress, saya berusaha semaksimal mungkin untuk mematuhi aturan-aturan tata cara membuat theme. WordPress menyediakan banyak aturan yang harus dipakai untuk para developer-nya. Dengan tujuan agar, supaya kode yang ditulis bisa dikenal oleh para developer lainnya, dan juga supaya sesuai dengan standarisasi WordPress, sehingga akan meminimalisir kerusakan.

Tentu tidak semua orang setuju dengan aturan yang sudah ada. Oleh karena itu bisa kita lihat banyak sekali orang yang ‘masa bodo’ dengan aturan. Mereka dengan seenaknya saja melanggar aturan, tanpa tahu akibatnya.

Bolehlah dia tidak kenapa-kenapa melanggar aturan, tetapi pihak lain akan merasa dirugikan. Sudah melanggar aturan, menyebabkan hal buruk menimpa orang lain. Jelas sudah mereka melakukan 2 kesalahan besar.

Aturan, sebagaimanapun tidak terlalu berarti bagi kita, taatilah semampu kita. Jika kita sudah mengetahui tentang aturan itu. Taatilah dengan semaksimal, semampu kita.

Menyebranglah di tempat penyebrangan yang sudah disediakan, pakailah helm pada saat berkendara, buanglah sampah pada tempatnya, berhentilah sebelum garis putih pada lampu lalu lintas, jangan mengambil jalur trotoar, dan masih banyak lagi aturan-aturan sederhana tetapi sangat fatal sekali bila dilanggar.

Tidak perlulah menjelek-jelekkan negara ini, jika kita masih saja melanggar aturan-aturan yang ada. Sadar diri jika kita masih sering melanggar. Perbaiki diri dengan terus melakukan pembenahan diri untuk bisa menaati aturan yang ada.

Hargai para pembuat aturan, mereka-lah orang-orang yang peduli akan keindahan, ketertiban, keteraturan. Hargai dengan menaati aturan yang telah dibuat. Dengan demikian saya yakin pastinya hidup ini akan jauh lebih teratur dan lebih tertib. Mulai dengan diri sendiri, dan ajaklah orang lain untuk menaati aturan.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…