Imam Herlambang Blog

Menu

Category: Refleksi

Setahun Sekali

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Kebiasaan saya adalah saya senang ketika naik taksi, yang pertama adalah karena saya bisa mengobrol lebih banyak sama Pak Supir nya, yang tentunya masing-masing supir tersebut punya pengalaman yang membuat saya kagum, saya banyak sekali banyak dapat motivasi dan pelajaran berharga dari supir taksi. Alasan kedua adalah karena sebenarnya setoran supir taksi lebih banyak daripada setoran supir angkot, dan yang naik taksi pun jarang, oleh karena itulah saya senang naik taksi, karena bisa sambil berbagi rezeki kepada sesama pencari rezeki :). Alasan lainnya adalah, karena saya agak malas membawa mobil sendiri, karena kalau sudah macet, waktu saya terbuang sia-sia, karena bagi saya, saya lebih mementingkan waktu daripada uang. Hehehe

Nah, ketika kemarin saya naik taksi, Pak Supir nya saya lihat agak sedikit koleris. Karena dia melihat saya, dia jadi ingat kisah pada saat hari lebaran. Dan cerita yang membuat saya sangat menyayangkan sikap si orang yang akan saya ceritakan ini.

Pak Supir itu cerita bahwa, pada saat hari lebaran ada salah satu penumpang taksi nya turun di salah satu gerai donat yang cukup ternama di Jakarta Timur. Pak Supir itu lantas bertanya kepada penumpang tersebut, kebetulan penumpang tersebut.

“Dek, kenapa kok ke tempat sini (nama gerai donat)?”, Pak Supir menanyakan pertama kali.

“Iya Pak, saya seneng ke sini soalnya”, si penumpang menjawabnya.

“Adek Muslim?”, karena penasaran Pak Supir bertanya lagi.

“Iya Pak, saya muslim”,

“Loh, kenapa kok muslim bukannya lebaran di rumah, malah ke sini?”, Pak Supir heran, kenapa muslim tapi tidak lebaran di rumah. Lanjut Pak Supir lagi, “Emangnya ibu ga masak? kan kalau mau lebaran suka masak opor dan ketupat, atau sayur lain-lain?”

Si penumpang tersebut lantas menjawab, “Ngga ah Pak, males, dan bosen juga”

Lalu si Pak Supir menambahkan kata-kata yang intinya menceramahi si penumpang tersebut, dan menyayangkan perbuatannya. Karena walau bagaimanapun, momen lebaran hanya terjadi setahun sekali saja, kalau itu juga sudah dilewatkan, ya tahun depan baru bisa merasakan lagi.

Saya yang mendengar jawaban si penumpang tersebut langsung diam. Ternyata sekarang banyak juga orang yang pada saat lebaran tidak bisa hadir bersama keluarga karena kemauannya. Kalau yang tidak bisa hadir bersama keluarga karena ada alasan lain (seperti kerja dan tidak bisa libur karena melayani banyak orang), saya masih bisa memberikan toleransi.

Tapi untuk penumpang ini, saya sungguh menyayangkan sekali. Momen lebaran yang hanya setahun sekali, ia lewatkan begitu saja demi menyantap donat yang ia damba-dambakan dan berkata “Bosen dan malas” terhadap makanan opor dan ketupat yang dibuat oleh ibunya.

Seharusnya, akan lebih baik jika kita menghadiri acara lebaran tersebut, karena makan donat bisa kapan-kapan kita makan, tetapi makan opor dan ketupat, dan berkumpul bersama keluarga hanya bisa kita lakukan setahun sekali.

Semoga teman-teman yang membaca kisah ini tidak melakukan hal seperti cerita di atas. Kalaupun memang berhalangan hadir saat lebaran, pastikan alasannya adalah alasan yang masuk akal.

Semoga bisa menginspirasi Anda
Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Prioritas

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Manusia seringkali terjebak dengan prioritas, lalu bingung mana yang harus di didahulukan, kalau salah menentukan prioritas, ya bisa kacau jadwal seharian atau bahkan bisa seminggu ke depan. Nah, saya pernah baca di suatu buku, ternyata urutan prioritas itu ada 4 (kalo temen-temen mau nambahin ya silahkan).

Penting dan Mendadak

Contohnya, kita lagi butuh uang, dan kita minjem lah sama temen. Akhirnya kita di kasih pinjeman uang, dan tiba2 besok yang mau minjemin uang mau ketemu (cuma bisa besok). Nah ini harus kita masukin ke prioritas paling atas, karena penting (kita butuh uang), dan juga mendadak (harus besok).

Penting dan TIDAK Mendadak

Contohnya, tiba-tiba ada SMS dari Client “Pak, kita harus secepatnya ketemu, karena saya mau kasih overview project saya”, lalu kita bales sms tersebut, “Ok, siap Pak. Boleh tau kapan ketemuannya?”, lalu dia bales “Baik Pak, nanti akan saya infokan lagi, saya masih di luar kota”
Nah yang model-model kayak gini, masuk prioritas kedua, iya emang penting, yang di omongin masalah kerjaan, tapi waktunya tidak mendadak, jadi ya bisa dimasukkan ke urutan ke dua.

TIDAK Penting dan Mendadak

Contohnya, temen kita tiba-tiba nelpon, “Bro, gua lagi butuh uang banget nih, bisa pinjem ga sekitar 2 juta? Kalo ga dapet dalam 3 hari, bisa gawat nih”, lalu kita bales “Ok ada, emang buat apa duitnya?”, “Iya nih buat nonton konser”.
Nah, ini nih yang paling belagu. Ngapain coba mendadak, tapi ga penting. Minjem uang cuma buat nonton konser aja. Hehehe

TIDAK Penting dan TIDAK Mendadak

Contohnya, ini sering juga kejadian sama kita-kita. Kebanyakan hal yang kita lakukan dan kita rencanakan itu tidak penting dan juga ga mendadak. Semacem kumpul-kumpul ga jelas yang waktunya juga ga jelas, yang manfaat nya juga ga bisa diambil “Bro kumpul2 yuk kalo ada waktu luang”, akhirnya 3 bulan berlalu, dan kumpul2nya ga jadi juga.

Saran saya, untuk nomor 4, mending ga usah dimasukkan ke To-Do List kita, serius cuma buang2 waktu aja. Hidup kita masih bisa kita optimalkan untuk urusan nomor 1-3.

Semoga bisa menginspirasi Anda
Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Ilmu Yang Bermanfaat

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Tanggal 30 April yang lalu saya chat dengan salah satu teman sekaligus guru saya yang ada di Batam. Singkat cerita, di akhir chat beliau bilang gini kepada saya, kurang lebih seperti ini:

“yang kita bawa mati hanya 3, doa anak yang shaleh, amal jariyah, dan ilmu yang bermanfaat.
mendidik anak shaleh, sekarang agak susah. Amal jariyah, emang berapa sih yang bisa dan mau kita amalkan? Yang paling mudah, ya ilmu yang bermanfaat tadi. Berbahagialah yg profesinya jadi guru…..sudah dibayar dapat barang yg dibawa mati pula”

Ilmu Yang Bermanfaat

Dari chat tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa, bekal kita kelak nanti menuju kematian yang bisa kita persiapkan saat ini yang paling mudah hanyalah ilmu yang bermanfaat, disusul dengan amal jariyah kita, lalu terakhir doa anak shaleh.

Yang bisa kita lakukan sekarang, yang paling mudah hanyalah memberikan ilmu yang bermanfaat kepada teman, saudara atau orang lain. Saya sih yakin, masing2 dari kita pasti ada ilmu yang bermanfaat buat orang lain, yang ketika diamalkan akan bermanfaat untuk orang banyak.

Penyebarannya bisa lewat langsung (dakwah), via FB/medsos, via blog atau status-status yang bermanfaat. Mulai sekarang, postinglah hal-hal yang bermanfaat. Kita ga akan rugi sedikitpun kok, kalau kita sharing hal-hal yang bermanfaat.

Terakhir, mengutip kata-kata dari salah satu guru saya, “Kita tidak tahu kapan ‘malaikat’ lewat, tapi jika kita terus melakukan yang terbaik, kita tidak akan terlewatkan oleh ‘malaikat’.”

Semoga bisa menginspirasi Anda
Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Mental Kaya dan Mental Miskin

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

5 tahun silam, atau lebih tepatnya saat saya masih mulai merintis berbisnis di internet, saya masih berfikiran kalau saya harus bisa mendapatkan uang dari internet. Bukan hanya itu, saya juga mencari cara agar apa yang lakukan semuanya harus minim keluar uang. Artinya, saya hanya keluar uang untuk hal-hal yang benar-benar penting.

Akhirnya, tanpa sadar selama beberapa tahun saya menjadi orang yang bermental miskin. Saya masih menggunakan Windows bajakan, saya masih menyimpan lagu hasil download dari internet (meski sekarang juga masih ada beberapa), jika ada update ilmu Internet Marketing terbaru, saya lantas sering mencari download yang sudah tersedia tanpa pernah menghargai sedikitpun karya-karya mereka.

Bisa dibilang, mental miskin itu adalah mental yang hanya mau gratisan saja, bahkan kalau bisa tidak usah mengeluarkan uang sepeserpun! Betapa jahatnya saya dulu telah merampas hak-hak orang lain, tidak menghargai karya-karya mereka.

Sekitar hampir 3 tahun lebih bisnis online saya hanya berjalan ala kadarnya, tanpa ada penaikan yang signifikan. Akhirnya saya mulai sadar kenapa bisnis saya tidak ada kemajuan sama sekali. Mungkin salah satunya karena tidak ada eskalasi bisnis, itu juga benar. Tapi untuk bisnis online saya yang dulu, saya juga sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit.

Tapi saya menyadari bahwa ada gangguan mental pada diri saya yang salah. Saya mulai mencari tahu, dan perlahan saya mendapati bahwa di dalam dunia ini, ada yang namanya hukum sebab akibat. Apa yang saya lakukan, tentu akibatnya akan saya dapat. Kalau saya melakukan sesuatu yang benar, maka hasilnya pun akan benar. Jika salah, ya saya dapat akibat yang salah juga.

Mungkin saja dulu saya sering tidak adil pada hak-hak orang, sering melakukan download ilegal dan beberapa kejahatan-kejahatan digital lainnya. Tapi akhirnya saya sadar dan segera dengan cepat merubah hidup saya.

Saya mulai menghapus semua lagu-lagu yang ada di komputer saya, saya mulai menghargai karya-karya orang lain dengan membeli nya dan saya simpan dengan bangga, saya merasa percaya diri dengan menghargai karya mereka, saya mulai membeli Windows asli dan juga office asli.

Benar saja, ternyata penghargaan saya kepada mereka membuahkan hasil, hidup saya mulai berubah, mulai bisa merasakan ketenangan, mulai bisa jalan-jalan tanpa saya harus terikat dengan aktivitas menjemukan. Saya mulai menyadari bahwa saya sudah meninggalkan mental miskin saya, dan mulai berubah ke arah mental kaya.

Jika kita lihat, orang kaya selalu saja lebih banyak memberi daripada “meminta”, dibanding orang-orang miskin di jalanan yang hanya bisa meminta dan terus meminta. Itulah kenapa orang kaya semakin kaya, dan orang miskin ya semakin miskin. Semua pasti ada sebab dan akibatnya.

Tapi jangan salah, kadang punya banyak uang juga belum tentu bermental kaya. Banyak teman-teman saya yang sudah menghasilkan puluhan ribu dollar per bulan nya, ternyata masih mengkonsumsi barang bajakan, masih download illegal, masih menggampangkan urusan hak orang lain. Sungguh saya sangat menyayangkan hal tersebut.

Untuk Anda yang sekarang sedang membaca sebagian kisah kecil saya ini, jika memang Anda sekarang memiliki mental miskin, segeralah berubah. Memang nyaman menjadi orang yang terus-terusan bisa dikasih, tapi percayalah lebih enak mempunyai mental kaya yang kapanpun bisa sharing kapanpun kita mau, dan berkahnya juga akan lebih besar.

Jika memang saat ini tidak mampu untuk membeli atau menghargai karya orang lain, tunggu lah sampai kita bisa membelinya, atau gunakan alternatif lain yang ada. Jika berkaitan dengan software komputer, cobalah untuk cari versi open source atau versi free, atau bisa gunakan versi trial dari software tersebut. Bukan malah mencari bajakan 🙂

Percaya deh, beli software asli itu menyenangkan. Kapanpun kita ada masalah, tinggal kontak saja mereka, dan mereka dengan senang hati akan membantu kita. Dan percaya juga, bahwa jadi orang yang lebih sering memberi itu rezekinya jauh lebih banyak daripada orang yang hanya bisa meminta-minta.

Semoga kita semua bisa merubah diri kita lebih baik, dari mental miskin ke mental kaya.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Momentum Itu Sekarang

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“Mulai sekarang gua akan berubah”,
“Oke gua ga akan nunda-nunda lagi mulai besok”,
“Gua harus semangat!”

Begitulah diri kita, membayangkan dengan penuh semangat, dan yakin dengan perubahan besar setelah menyusun rencana tersebut. Tapi sayangnya, semangat yang baru saja dikeluarkan, yang begitu membara, sekarang hanya menyisakan asap-asap semangat saja. Mungkin besok juga sudah kabur ke langit.

Sudah jelas pada kata-kata di atas bahwa sebenarnya kita memang lebih sering menunda atas suatu perubahan. Buktinya, mau berubah saja harus menunggu esok hari, atau yang lebih parahnya ya hanya hangat-hangat tai ayam di awal, lalu hilang tanpa bekas sedikitpun.

Anda sering mengalami hal seperti itu? Tenang saja, saya juga pernah dan malah penyakit saya dulu adalah senang dengan penundaan. Istilah kerennya adalah “Terjebak dalam comfort zone“. Ya benar, tidak semua comfort zone itu baik, salah-salah mengenal comfort zone, maka ia bisa jadi habit buruk bagi kita.

Akibat dari hal tersebut rasa kecewa dan marah pada diri sendiri muncul karena rencana yang kemarin tidak terealisasikan, kemudian mengumpulkan semangat lagi untuk memulai beragam rencana seperti awal. Sayangnya, percobaan kedua justru lebih sulit lagi, karena diri kita sudah dipenuhi oleh kekecewaan yang kita ciptakan sendiri.

Lalu apa selanjutnya? Tentu saja gagal lagi, berubah lagi, dan terus menerus sampai diri kita lemah. Akhirnya lingkaran setan pun terbentuk. Dan rencana pun hanya lewat begitu saja. Begitulah sedikit gambaran kisah kita yang sedang berhadapan dengan momentum, atau orang biasa menyebut sebagai perubahan diri.

Di artikel ini saya tidak akan menggurui Anda, karena saya pun masih suka berhadapan dengan momentum palsu, yakni ya momentum hangat-hangat tai ayam tersebut. Karena saya berfikir masih ada “nanti”, masih ada “esok”, masih “bisa di tunda”. Jadilah momentum yang sudah saya bangun itu terus bergeser.

Pada kenyataanya momentum yang kita bangun, hanya akan berujung seperti lingkaran setan jika kita:

  1. Hanya bisa membuat momentum asal (target ngaco)
  2. Tidak memulainya sekarang (momentum palsu)
  3. Memulai momentum dengan hal yang besar

Ya itulah inti dari momentum (perubahan) yang saya dapatkan setelah saya belajar bagaimana mulai merubah tatanan hidup saya ke arah yang tentunya lebih baik dari sebelumnya.

Pertama, jangan buat momentum yang ngaco, tidak masuk akal. Memang boleh saja bercita-cita tinggi, tapi pada saat ini yang kita perlukan adalah momentum, yaitu perubahan kecil untuk menuju cita-cita kita. Jadi jangan menjadikan momentum yang terlalu tinggi atau ngaco, karena nanti alam bawah sadar kita langsung serta merta menolak itu, dan merasa bahwa itu tidak mampu kita laksanakan.

Kedua, ini dia yang paling penting, yaitu momentum hanya ditaruh di ujung bibir saja, atau hanya di pasang di otak kita saja, tanpa kita tahu jelas kapan kita akan merealisasikannya. Biasanya yang model begini, hanya akan berujung dengan “Penundaan”. Ini saya masih sering melakukan ini. Hahaha (tenang saja, manusia sering berbuat salah kok)

Ketiga, ketika kita katakanlah ingin membuat sebuah buku yang nanti target nya adalah 100 halaman. Maka ini hanya akan jadi momentum sampah apabila kita menaruh momentum ini dalam 1 bulan atau 2 minggu saja. Memang sekelas penulis terkenal bisa menyelesaikan 100 halaman bahkan dalam waktu 1 minggu. Tapi bagi kita yang baru coba-coba atau tidak pada bidangnya, cobalah untuk mulai membuat sesuatu yang realistis, yaitu yang kecil, terukur, dan berkelanjutan. Contohnya adalah, mulai menulis 1 halaman per hari. Atau jika target tersebut masih terlalu besar, kita bisa membuatnya menjadi setengah halaman pada pagi hari dan setengahnya lagi pada malam hari.

Nah, dengan 3 parameter di atas yang saya dapatkan hasil riset saya sendiri, semoga saja kehidupan kita tidak terjebak lagi di lingkaran setan yang kita buat sendiri. Semoga momentum yang kita bangun cepat terealisasikan. Aamiin…

Pada sesi artikel selanjutnya, saya akan coba memberi gambaran tentang penundaan, habit, dan juga seputar perubahan diri.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Lupa Bersyukur

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Kita sebagai manusia, sejatinya lebih sering mengeluh ketimbang bersyukur. Bukan karena kita tidak tahu bahwa bersyukur itu memang nikmat, tetapi terkadang kita yang sering lupa bahwa di setiap sisi kehidupan kita, kita mengisinya dengan mengeluh.

Apa yang kita lakukan setelah bangun tidur? Apakah bersyukur karena sudah diberikan kesempatan hidup kembali? Ataukah malah menggerutu karena harus bermacet-macetan atau karena harus masuk kerja?

Kenapa kita tidak melihat hal tersebut dari segi positifnya bahwa kita sudah diizinkan kembali untuk hidup, untuk berbagi hal kepada orang lain, untuk bisa mencari lebih banyak rezeki, dan masih banyak segudang alasan untuk bersyukur, ketimbang kita mengeluh.

Apa yang kita sering keluhkan di tempat kerja? Biasanya rekan kerja yang sikapnya sangat tidak kita sukai, atau bahkan kita sangat membencinya. Sampai-sampai kita bilang ke teman-teman kita bahwa kita tidak memiliki teman di tempat kerja kita.

Padahal, masih ada banyak rekan-rekan kerja kita di tempat kerja yang baik, yang masih mau membantu kita. Hanya saja, kita lebih terfokus pada yang membuat kita mengeluh daripada hal yang membuat kita bersyukur.

Apa yang sering kita keluhkan di jalanan? Ah sudah pasti adalah pengendara motor yang dengan seenaknya menyalip, pengendara motor yang tidak tahu aturan, dan bahkan tidak sedikit juga pengemudi mobil yang juga tidak tahu aturan dengan seenaknya saja menyalip tanpa lihat kanan-kiri.

Padahal, banyak juga pengendara motor dan mobil yang melakukan hal yang benar, mematuhi lalu lintas yang sudah ditetapkan. Kita masih bisa kok bersyukur atas hal tersebut. Coba bayangkan saja jika semua pengendara motor dan mobil sikapnya tidak mengenakkan, tentu kita sudah sering dibuat jengkel oleh mereka.

Fokuslah pada apa yang membuat hati kita lebih bersyukur daripada mengeluh, fokuslah dengan hal-hal yang akan menaikkan level kita ke level yang lebih tinggi lagi. Fokuslah untuk tetap memperhatikan segala sesuatu dengan hal yang positif.

Dan jika rutinitas kita tiba-tiba kembali ke arah mengeluh, sadarilah, dan segera rubah agar rutinitas kita tidak menjadi habit yang buruk. Karena sekalinya itu menjadi habit buruk, maka untuk merubahnya, akan sangat sulit.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Hidayah Datang Setiap Saat

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saya tiba-tiba teringat oleh perkataan salah satu guru saya di suatu kelas. Beliau berkata “Hidayah itu hadir setiap saat”. Persisnya kata-katanya seperti itu. Dari perkataan tersebut beliau sampaikan berulang-ulang kali, layaknya ingin menegaskan bahwa hidayah itu tidak seharusnya kita tunggu, tetapi hidayah itu selalu hadir setiap saat.

Tugas kita lah yang seharusnya lebih peka, kita seharusnya melatih pikiran kita, hati kita, mata kita untuk melihat lebih jauh, telinga kita untuk mendengar lebih peka. Dan semua itu bisa kita lakukan jika kita memang peka, jika kita memang ingin mendapatkan hidayah.

Jadi, sudah seharusnya kita menangkap sinyal-sinyal hidayah yang sudah Allah berikan kepada kita, bukan menunggu hidayah. Sebuah contoh sederhana yang datang dari salah satu gadis ber-rambut panjang yang belum berhijab, dengan alasan “saya belum siap”, “hijab hati dulu, baru tubuh”, dan bermacam-macam alasan lainnya. Padahal, mungkin jika gadis tersebut mau untuk melihat sekitar, untuk mengamati sekitar, sudah banyak sekali lingkungan sekitar nya yang sudah berhijab.

Hidayah Datang Setiap Saat
Hidayah Datang Setiap Saat (sumber: http://creativekhalifah.tumblr.com)

Jadi Allah sudah memberikan hidayah-Nya melalui wanita-wanita yang sudah berhijab tersebut. Allah hadirkan tepat di sekeliling gadis yang belum berhijab tersebut. Hanya saja, sang gadis belum sadar diri terhadap lingkungannya.

Atau mungkin seorang perokok yang di dalam hatinya sudah ada sedikit keinginan untuk berhenti merokok, dan tentunya sudah berdoa memohon untuk dibukakan hidayah agar bisa berhenti merokok. Di sekitarnya pun sudah banyak orang yang mensupport dia untuk berhenti merokok.

Tetapi jika si perokok tersebut tidak menyadarkan dirinya, atau tidak peka terhadap lingkungan, tidak mau melihat lebih luas akan hidayah-hidayah yang sudah Allah berikan. Maka doa-doa yang dia panjatkan tadi itu hanya sebatas doa saja. Padahal Allah sudah memberikan hidayah-Nya melalui lingkungan-lingkungan sekitar.

Sepertinya masih banyak sekali contoh-contoh realita di sekeliling kita yang saat ini bermasalah dengan hidayah. Saya pun dan juga Anda mungkin salah satunya. Tugas kita sekarang adalah membuat diri kita lebih peka terhadap lingkungan sekitar, lebih “melek” untuk melihat, dan lebih banyak mendengar, memperhatikan sekitar. Karena Hidayah Allah itu datang setiap saat.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Dengki Penghalang Rezeki

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Dengki. Kita mungkin atau bahkan sering mengalami penyakit hati yang satu ini, yang kehadirannya sangat amat menyiksa batin kita. Tetapi kita sebagai pelakunya tidak sadar akan sesungguhnya penyakit berbahaya ini.

Biasanya orang yang dilanda dengki ini, apapun yang dilakukan oleh orang terdekatnya, selalu saja iri, selalu saja tidak suka, selalu saja mencari alasan-alasan lain yang mendukung pembenarannya. Padahal, justru perasaan-perasaan itulah yang menghancurkan hatinya.

Orang yang dengki biasanya cenderung tidak suka melihat orang terdekatnya lebih bahagia daripadanya, lebih sukses daripadanya. Padahal, sebagai manusia wajar dan normal, kita sudah seharusnya berbahagia apabila salah satu saudara kita menerima kebahagiaan.

Perasaan dengki awalnya muncul saat merasa diri tidak mampu, kemudian karena ketidakmampuan diri tersebut, saat diri lemah, lalu muncullah sesosok diri lain yang ternyata lebih mampu dari diri kita, dan dari situlah timbul perasaan iri.

Iri bahwa diri kita tidak bisa lebih baik daripada orang yang kita iri-kan tersebut. Nah dari perasaan iri tersebutlah lahir perasaan dengki, yang sejatinya merusak segala amalan-amalan hati, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar.

Sebab dengki ibarat kebocoran yang terjadi pada sebuah ember, sederas apapun kita mengisi air, kalau ember tersebut bocornya tidak ditambal, ya airnya tidak akan penuh. Begitupun dengan dengki, sebesar dan sebanyak apapun kita melakukan amalan, kalau hati kita memiliki perasaan dengki, amalan-amalan yang kita lakukan akan terbuang sia-sia begitu saja.

Rezeki pun demikian, hanya numpang lewat bahkan, hanya setetes saja bahkan yang sanggup mampir pada diri kita. Yang seharusnya mendapatkan banyak rezeki, dengan dengki, rezeki itu pun hilang nan tak berbekas.

Dengki Penghalang Rezeki
Dengki Penghalang Rezeki (sumber: http://superior.blogspot.com/)

Artikel ini menjadi pengingat bagi diri saya pribadi khususnya, dan untuk Anda semua yang mungkin saat ini sedang dilanda penyakit yang satu ini. Segeralah untuk mengintrospeksi diri, untuk memperbaiki diri. Dan sadarilah bahwa dengki hanya akan membuat kita berdiam di tempat.

Untuk tips menghilangkan dengki, salah satunya bisa Anda baca di artikel ini, selain itu kita juga bisa menghilangkan dengki dengan banyak-banyak bersyukur, dan juga lebih pasrah diri bahwa kesuksesan kita itu terjadi atas izin Allah. Jika orang-orang terdekat kita ternyata lebih sukses, bisa jadi karena mereka berusaha lebih giat dari kita, dan kitanyalah yang kurang berikhtiar. Selalulah dalam keadaan positive thinking setiap waktunya.

Ketahuilah, dengki bisa menjadi penghalang rezeki, dengki bisa menyebabkan penyakit hati, dengki bisa menyebabkan perpecahan, dengki bisa menyebabkan putusnya tali silaturahim, dan masih banyak lainnya efek buruk dari dengki.

Mari hilangkan perasaan dengki tersebut.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Ujian dan Hukuman

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Biasanya ketika kita sekolah dulu, ada 2 hal yang selalu kita takuti (setidaknya ada 2 memang). Ada Ujian dan ada Hukuman. Namun, biasanya kita kerap menyamakan kedua hal tersebut dengan perasaan yang sama, akhirnya kita tidak bisa membedakan mana yang benar-benar namanya ujian, mana yang hukuman.

Padahal, jika dilihat lebih dalam tentang keduanya, sesungguhnya itu kedua hal yang berbeda. Namun karena dahulu kita belum mengetahui tentang kedua hal tersebut, perasaan kita atas kedua hal tersebut biasanya sama.

Ujian diberikan kepada seseorang untuk mengukur sejauh mana seseorang telah belajar dalam hidupnya. Untuk mengukur sejauh mana seseorang sudah siap untuk naik ke tingkat selanjutnya di dalam hidupnya.

Hukuman biasanya diberikan kepada seseorang atas perbuatan salah yang telah dilakukan oleh seseorang. Atas perbuatan melanggar ketentuan atau peraturan. Biasanya hukuman ada yang secara langsung, ada juga yang ditunda (seperti dipenjara, sebelumnya dilakukan proses pengadilan terlebih dahulu).

Begitupun Ujian dan Hukuman dari Allah, banyak manusia ketika menerima ujian mengaggap itu sebenarnya adalah hukuman baginya. Dan sebaliknya, banyak pula manusia ketika menerima hukuman, menganggap itu sebenarnya adalah ujian.

Ujian dan Hukuman
Ujian dan Hukuman (sumber: http://ardhastres.blogspot.com)

Adakah cara membedakan ujian dan hukuman? Sebenarnya ada banyak, namun saya akan sedikit sharing tentang bagaimana membedakan kondisi kita, sedang diujikah oleh Allah atau sedang dihukumkah kita?

Perbedaan keduanya terletak dari cara kita menyikapi hal tersebut. Biasanya ketika diuji (dan orang tersebut tahu sedang diuji), mereka akan lebih tenang, karena mereka tahu, setelah ujian, derajat mereka akan ditingkatkan, dan ujian hanyalah salah satu langkah untuk memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.

Sedangkan ketika dihukum, orang cenderung gelisah, khawatir, takut dan banyak perasaan-perasaan negatif lainnya bercampur menjadi satu. Jenis seperti ini, biasanya hati kita telah dinodai oleh kesalahan.

Untuk ujian, jika kita sabar dan tawakkal, InsyaAllah kita akan lulus ujian tersebut. Lain dengan hukuman, hanya akan berakhir ketika memang sudah dimaafkan oleh Allah (atau hukuman tersebut sudah cukup), atau kita nya lah yang meminta maaf kepada Allah atas perlakuan tidak baik kita, atas perlakuan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya.

Maka, sudah selayaknya kita untuk introspeksi diri, saat ini kita sedang diuji atau sedang dihukum?

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Bersyukur

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Biasanya, seorang muslim mengucapkan Alhamdulillah jika mendapatkan sesuatu yang mereka impi-impikan. Atau mendapat sesuatu yang tak diduga, dan itupun biasanya diucapkan ketika ingat, kalau lupa yah ucapan tersebut biasanya terlewat saking senangnya (semoga kita tidak termasuk orang yang lalai berdzikir).

Tidak sedikit juga yang mengucap kata tersebut saat dalam keadaan tidak susah, saat susah kata-kata tersebut jarang sekali bisa dilantunkan. Seyogyanya, ucapan tersebut haruslah mengalir setiap hembusan nafas kita, karena apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita, tidak akan sanggup kita hitung.

Akan tetapi, belum cukup sampai disitu saja, sebisa mungkin haruslah ada action nyata dari kita atas bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Jadi tidak hanya sekedar dilisankan saja, tetapi ada amal nyata perbuatan atas rasa syukur kita terhadap pemberian Allah.

Bersyukur
Bersyukur (sumber: http://tipsorangsukses.blogspot.com)

Misalkan, setiap harinya kita masih diberikan kesehatan optimal oleh Allah, setelah bersyukur mengucap Alhamdulillah, sebisa mungkin kita juga harus menjaga kesehatan yang telah Allah amanahkan kepada kita. Karena masih banyak loh orang-orang diluar sana yang saat ini berbaring di rumah sakit memohon untuk diberikan kesembuhan. Sudah sepatutnya, kita tunjukkan amal nyata kita atas perasaan bersyukur kita.

Jadi untuk kita yang sering bersyukur mungkin akan lebih naik lagi tingkatan level bersyukur kita kepada Allah, dengan cara mengoptimalkan, menjaga, dan melakukan sesuatu atas pemberian Allah.

Kira-kira, jika kita punya baju berlebih dan diberikan ke orang lain, tentu orang itu akan senang bukan dengan pemberian kita? Tentu saja. Dia berucap “Terima Kasih ya atas pemberian bajunya, saya sangat suka ini”. Kita pun terharu mendengar kata-katanya.

Tetapi, berhari-hari kemudian, baju tersebut ternyata tidak dipakai olehnya, sampai bertahun-tahun lamanya, baju tersebut tidak dipakai juga oleh orang tersebut. Kira-kira, apakah selanjutnya kita akan memberikan baju lagi kepada orang tersebut?

Silahkan direnungkan baik-baik.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…