Imam Herlambang Blog

Menu

Category: Opini

Generasi Terpuruk

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Hari ini saya berkesempatan mengunjungi salah satu rumah teman SMA saya, dan sambil bercerita tentang kisah perjuangan masing-masing dalam menggapai kesuksesan kami.

sekitar 1 jam lebih saya berada di sana, dan biasanya saya dan dia duduk di pos ronda, biasanya kami sambil bermain gitar di sana. Dan berhubung rumah dia juga merangkap warung kelontong, biasanya saya ditawarkan minuman.

Ditengah-tengah obrolan, tiba-tiba banyak sekali gerombolan anak-anak SMP yang sedang naik motor mendatangi teman saya, untuk membayar iuran jaket/sweater. Dengan bergaya sok-sok keren seperti itu.

Dan yang paling tidak saya sangka-sangka, ternyata anak sekecil itu sudah merokok! Saya langsung terdiam beberapa saat, sambil memikirkan nasib mereka.

Bagaimana mungkin mereka yang masing kecil sudah mengenal rokok, sudah merokok pula di depan saya dan teman saya. Inikah yang disebut remaja Indonesia zaman sekarang? Remaja yang tidak mempedulikan kesehatan, remaja yang tidak mempedulikan tata krama.

Remaja yang tidak mengenal sosok tauladan Rasulullah. Remaja yang tidak mempedulikan hal-hal kecil. Mungkinkah generasi sekarang yang kita lihat bertebaran di jalan adalah generasi terpuruk?

Mungkinkah generasi terpuruk tersebut akan terus berlanjut sampai ke anak-cucu mereka? Jika memang terus berlanjut, maka sudah bisa dipastikan bahwa lama-kelamaan, Indonesia kita tidak akan maju jika generasi-generasi muda nya saja acuh seperti di atas.

Hal ini sangat mengkhawatirkan sekali bagi kita tentunya. Generasi muda adalah generasi penerus kita nanti kemudian, dan sejatinya mereka harus lebih baik daripada kita. Namun kenyataan yang ada memperlihatkan bahwa generasi-generasi sekarang semakin menurun saja kualitas hidupnya.

Sebagai orang yang tidak tega melihat hal seperti itu, kita haruslah menjadikan diri kita sebagai teladan bagi orang-orang tersebut, memang kenyataannya tidak bisa merubah orang banyak. Tetapi paling tidak, tidak semua orang pada nantinya akan tertular oleh kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut.

Mari kita sama-sama memberikan contoh teladan yang baik, sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Semoga dengan adanya contoh teladan-teladan yang baik. Hal-hal buruk seperti yang sudah ada sekarang semakin terhapuskan dan tergantikan dengan hal-hal yang baik. Aamiin…

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Masalah Yang Semakin Bermasalah

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Masalah yang hadir di dalam setiap kesempatan hidup kita itu tidak lain karena ALLAH ingin kita sedikit mengingat-Nya. Bukan semerta-merta kita mendapat masalah begitu saja.

Intinya, masalah itu ada karena memang ALLAH memberikan kita ujian, atau kitalah sendiri yang mencitpakan masalah tersebut bagi diri kita dengan memancing sumber-sumber masalah.

Masalah juga sejatinya bisa diselesaikan. Karena datangnya masalah sudah pasti juga datang dengan kemudahan (jalan keluar masalah). Jika masalah yang ada pada diri kita belum juga terselesaikan, maka perlu dilakukan introspeksi diri kita lebih lanjut.

Ada 3 hal penting menurut saya yang membuat masalah kita semakin saja membesar dan tidak kunjung usai, walau kita sudah mencoba berbagai jalan keluar untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Tidak Tahu Masalahnya

Yang ini sedikit lucu, banyak orang yang sedang mengalami masalah, tetapi sebenarnya orang tersebut tidak tahu masalahnya apa. Masalahnya saja tidak tahu, apalagi hal yang menyebabkan masalah tersebut.

Maka yang seperti ini, seperti apapun kerja keras yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah, maka tidak akan berhasil. Masalahnya saja tidak tahu, apa yang mau di selesaikan?

Jenis orang yang seperti ini kadang selalu saja salah menduga, salah bertindak, yang hanya akan berujung kepada timbulnya masalah-masalah baru.

Carilah waktu beberapa saat saja, temukan masalah yang sebenarnya terjadi. Temukan juga penyebab hadirnya masalah tersebut. Apa masalah tersebut hadir karena ulah kita, atau itu memang ALLAH yang kasih?

Jika masalah tersebut hadir karena ulah kita, segera selesaikan masalah tersebut. Cari penyebabnya, dan temukan juga jalan keluarnya. Jika masalah yang hadir karena ALLAH, segera introspeksi diri. Jangan-jangan selama ini, kita telah jauh dari mengingat-Nya.

Masalah Yang Dirasa-rasa

Sebenarnya, masalah apapun jika dipandang secara netral, maka kita bisa menyelesaikan masalah tersebut. Ingatlah bahwa ALLAH tidak memberi suatu ujian diluar batas kemampuan kita.

Nah yang sering terjadi adalah, masalah tersebut tidak begitu bermasalah. Tetapi terkadang kita sendiri-lah yang terlalu lebay menanggapi masalah tersebut. Terlalu di rasa-rasa oleh kita. Sehingga masalah yang tadinya sepele, sekarang sudah berubah menjadi masalah yang lebih besar. Terlebih jika masalah tersebut di umbar-umbar ke publik.

Masalah yang seperti ini sebenarnya bisa tidaklah terlalu sulit untuk diselesaikan, yang menjadikan sulit adalah karena kita nya yang terlalu merasakan bahwa masalah tersebut mengganggu bagi kita. Ingat, semua manusia pasti mempunyai masalah, hanya saja bentuk dan takarannya berbeda.

Masalah Yang Tidak Mau Diselesaikan

Nah ini yang menurut saya bersaudaraan dengan hal sebelumnya, sudahlah masalah kecil tersebut terlalu dilebihkan. Maka otomatis masalah tersebut menjadi besar. Karena masalah tersebut telah menjadi besar, kita dengan mudahnya tidak mau menyelesaikan masalah tersebut.

Masalah yang tidak diselesaikan hanya akan menjadi masalah dikemudian hari. Ingat sekali lagi, bahwa setiap manusia pasti punya masalah. Jadi jangan beranggapan hanya kita lah yang memiliki masalah yang berat. Semua orang punya masalah.


Itulah tadi kira-kira 3 hal yang menurut saya akan membawa petaka berlebih kepada masalah yang hadir di dalam hidup kita. Jauhi ketiga hal tersebut, sehingga kita bisa menyelesaikan masalah dengan mudah.

Ingat juga untuk mempelajari cara menyelesaikan masalah dengan mudah (Problem Solving Method). Dengan begitu, setiap masalah pasti akan bisa ditemukan jalan keluarnya, bahkan bisa lebih cepat.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Batu Kecil

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saat saya masih SMA, guru favorit saya, yang sudah saya ceritakan di beberapa artikel lalu, yaitu Pak Hanura Weldi, dalam satu kesempatan beliau memberitahukan nasihat yang begitu berharga. Sampai sekarang nasihat itu saya gunakan di dalam setiap langkah yang saya pilih.

Karena setiap langkah yang saya pilih terkait langsung dengan kesadaran hidup yang ada pada diri saya. Begitupun nasihat yang diberikan oleh Pak Hanura Weldi, nasihat yang selalu saja sederhana, tetapi menyimpan makna yang amat dalam.

“Kita terjauh oleh batu yang kecil, bukan oleh batu yang besar, jika kita terjatuh oleh batu yang besar, itu tandanya kita buta”

Sekilas, kata-kata tersebut sederhana, tetapi sebenarnya kata-kata tersebut menyimpan banyak arti. Dan kata-kata tersebut bisa kita jadikan salah satu bagian dari motivasi kita dalam melakukan suatu aktifitas kita.

Ya, benar saja… Kita kadang terjatuh, terpeleset, tersandung oleh batu yang kecil, bukan batu yang besar. Kenapa demikian? Dalam kehidupan nyata kita sehari-harinya, kita biasanya terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan, tergesa-gesa dalam berjalan. Hingga suatu saat kita terjatuh oleh hal-hal sepele dalam keputusan-keputusan kita.

Sayangnya memang demikian, kita terlalu sibuk dengan apa yang di depan mata kita, tetapi kita tidak memperhatikan hal-hal kecil yang ada. Padahal itu amatlah fatal bagi kita. Jika sudah terjatuh, mungkin saja rencana-rencana kita gagal, bisa jadi orang yang sedang kita temui, tidak jadi.

Batu kecil bisa juga diibaratkan terlalu menggampangkan sesuatu, sehingga hal-hal kecil yang terlihat pun dilalui begitu saja. Sampai suatu saat itu akan menjadi masalah yang besar bagi kita.

Tetapi tidak dengan batu besar. Batu besar adalah hal-hal yang selalu kita pandang sebagai hal-hal yang sudah pasti memberikan efek buruk kepada kita. Tentu kita tidak ingin kan terkena efek buruk?

Oleh karena itu kita pasti akan terhindar dari batu-batu besar. Dalam kehidupan nyata pun demikian. Saat pengendara motor terjatuh, hampir 90% terjadi karena tergelincir batu-batu yang kecil, bukan batu yang besar.

Demikianlah seharusnya kita khawatir dengan batu-batu kecil di sekeliling kita, kalau kita tidak hati-hati, kita pasti terjatuh karenanya. Berhati-hatilah dan ingatlah untuk selalu sadar kapanpun kita melangkah.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Kesadaran Dalam Hidup

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Di dalam hidup yang kita jalani ini, seringkali kita tersandung oleh kesalahan-kesalahan kecil yang kita telah perbuat. Dan itu terjadi berkali-kali dalam hidup kita. Bahkan jika sudah tahu itu salah pun, kita tetap mengulanginya. Dan pada akhirnya kita menyesal telah melakukannya.

Tentu setelah menyesal, keesokannya kita akan tetap melakukan hal-hal yang merugikan tersebut. Hal semacam inilah yang dinamakan ketidaksadaran di dalam hidup kita.

Sudah berapa banyak orang yang mereka sendirinya tahu bahkan paham bahwa pacaran itu sebenarnya dosa karena itu bukanlah sebuah kedewasaan, melainkan beradegan dewasa. Sudah berapa banyak orang yang tahu bahwa marah hanya akan menghasilkan rasa sesal. Setelah mereka tahu, penyesalan mereka sudah telat.

Tidak untuk mereka saja, untuk kita pun yang sama-sama mengalami hal serupa, seringkali kita terjatuh oleh hal-hal kecil seperti itu. Kenapa demikian? Karena kita kurang menempatkan kesadaran di dalam hidup kita.

Tenang saja, saya pun masih belum sepenuhnya sadar kok, banyak juga kesalahan-kesalahan yang sering saya perbuat, dan belum sadar bahwa ternyata itu memang salah. Sehingga kesalahan itu tetap saya ulangi.

Dan tentunya ini wajar bagi kita manusia, karena kita memang tempatnya salah. Tempat tidak sempurna. Tetapi bagaimanapun, kita masih tetap harus latihan sadar. Melatih kesadaran diri kita dengan sebaik-baik dan sebenar-benarnya sadar.

Sadar dalam artian bahwa jika kita mengetahui bahwa itu adalah hal yang buruk, sebisa mungkin kita harus hindarkan itu sejauh-jauh mungkin. Sebelum penyesalan datang. Biasanya setelah penyesalan datang, barulah kita sadar. Tentu ini sangat telat sekali. Sebaliknya, kita harus mengaktifkan kesadaran kita, sebelum datangnya penyesalan.

InsyaALLAH, dengan sadar kita akan terhindar dari perbuatan sia-sia, yang berujung dosa. Dengan sadar kita bisa lebih memaksimalkan potensi diri kita yang belum kita keluarkan.

Mari kita sama-sama berupaya untuk membuat diri kita sadar setiap saatnya. Dengan menjaga pikiran kita jangan sampai terlena dengan rasa nyaman, karena rasa nyaman sebenarnya adalah musuh utama penghilang kesadaran kita.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Penyakit Hati

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Telah banyak kita ketahui macam-macam penyakit hati, yang hanya akan berakibat buruk jika seseorang memiliki salah satu dari penyakit hati, seperti iri, dengki, dendam, dan perasaan lainnya.

Namun, kali ini saya akan sedikit membahas penyakit hati yang sering sekali terjangkit di beberapa orang. Terutama anak muda yang saat ini emosi nya sedang naik turun. Saya sendiri belum mengetahui apa nama penyakit ini, yang pasti penyakit ini sangat dekat sekali dengan penyakit iri dan dengki.

Fenomena ini saya lihat ketika saya membuka akun Twitter saya. Disaat banyak para penasehat atau motivator memberikan nasihat, saya menyempatkan diri saya untuk melihat balasan beberapa twit dari para followers mereka. Ternyata, banyak sekali yang merespon masing-masing dari twit para motivator tersebut. Ini menandakan bahwa apa yang disampaikan memang benar-benar sampai kepada followersnya.

Tetapi tidak sedikit juga diantara banyak followers para akun-akun motivator tersebut (baik yang personal, kelompok, maupun anonim) yang melancangkan sambutan negatif. Dan ketika saya lihat frekuensi balasan twit tersebut, ternyata belum ada 5 menit.

Ini menandakan bahwa bisa jadi seseorang tersebut merespon menggunakan emosi semata. Tanpa di pikirkan dengan baik maksud dan makna di balik twit mereka (para motivator). Dan banyak dari followers mereka bahkan mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan.

Saya yakin sekali, bahwa para motivator yang mempunyai followers banyak tersebut sudah teruji jam terbangnya. Dan pastinya mereka menyampaikan berdasarkan pengalamannya. Yang pasti tidak asal omong semata. Itulah yang membedakan orang yang bermental sukses dengan tidak.

Tetapi respon-respon negatif yang keluar dari beberapa followers mereka sungguh menggambarkan bahwa banyak sekali bisa kita lihat orang-orang disana yang menderita penyakit hati tersebut.

Simpelnya, para motivator memberikan nasihat baik, yang sudah teruji berdasarkan pengalamannya, tetapi malah direspon negatif. Beberapa pasti ada yang bilang “sok suci”, “sok pinter lu”, atau semacam “gausah ngomong doang deh”, dan masih banyak lagi respon-respon serupa yang keluar.

Percayalah, dengan respon semacam itu yang keluar, itu hanya akan menyakiti hati mereka sendiri. Seharusnya mereka-mereka yang menanggapi dengan negatif tersebut lebih bijak, lebih sadar, dan lebih menggunakan akalnya untuk merespon. Lihat-lihatlah terlebih dahulu twit-twit sebelumnya, atau maksud dibalik twit tersebut. Salah merespon hanya akan memperburuk citra diri dihadapan publik, dan sekali citra itu buruk, maka itu akan sulit sekali mengembalikannya.

Untuk kita semua, biasakanlah melihat lebih jelas terlebih dahulu apa yang dibaca dimanapun, jangan sampai salah persepsi dan hanya akan menimbulkan rasa malu kemudian karena salah merespon.

Dan percayalah bahwa apa-apa yang disampaikan oleh banyak orang-orang baik diluaran sana itu tentu memang baik untuk kita. Untuk kepentingan kita, untuk pengembangan diri kita, untuk menjadikan diri kita lebih baik dari sebelumnya.

Kuncinya adalah sadar, dan menggunakan logika, jika hal tersebut adalah baik, maka terima, dan jika hal tersebut buruk, buanglah jauh-jauh. Lagipula kalau itu buruk menurut mereka, belum tentu juga buruk menurut kita kan? Masing-masing dari diri kita sebenarnya mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Hanya saja banyak dari kita yang masih ‘tertidur’ dari alam sadar yang sesungguhnya.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Sejarah Hari Valentine (Hari Kasih Sayang)

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Seingat saya, pertama kali dan terakhir kali saya (pernah) merayakan Hari Valentine, hari (yang katanya) kasih sayang itu adalah saat saya masih sekitar kelas 2 SMP. Saat itu saya ingat sekali pernah membeli cokelat Silver Queen kecil (yang dulu harganya masih 3 ribu rupiah). Memang niatnya mau saya berikan kepada seorang wanita yang waktu itu pernah saya kagumi. Tetapi karena saya tidak berkesempatan bertemu dengannya, akhirnya cokelat itu saya makan sendiri. Hehehe.

Dan sekarang, saat saya semakin mengenal lebih dalam tentang Islam, saya tahu bahwa perayaan Hari Valentine tidak pernah sekalipun dicontohkan oleh Rasulullah ataupun bahkan para sahabat, atau ulama pengikut. Tetapi perayaan-perayaan tersebut ironisnya malah dilakukan oleh sebagian orang Islam saat ini.

Beberapa waktu yang lalu, akhirnya saya mencari sejarah tentang Hari Valentine tersebut. Dan saya terkejut ternyata sejarah tersebut sangat bertentangan jauh dari nilai-nilai islami. Malulah kita sebagai orang (yang mengaku) beragama Islam, tetapi malah melakukan tindakan yang jauh dari tindakan Islami.

Sejarah Awal Valentine

Sejarah awal Valentine bisa kita temukan banyak sekali bertebaran di Internet, dari beberapa banyak blog-blog yang menulisnya. Dan hampir sekitar 85% isi blog tersebut menceritakan sejarah yang sama.

Beberapa banyak orang percaya bahwa Valentine berasal dari perayaan bangsa Romawi sekitar 2000 tahun yang lalu. Perayaan tersebut bernama Lupercalia. Perayaan tersebut yang bernama Lupercalia dilakukan untuk menghormati Dewa Romawi Lupercus atau Dewa Pan.

Dewa Lupercus atau Dewa Pan
Dewa Lupercus atau Dewa Pan

Dewa Lupercus atau Dewa Pan adalah Dewa yang dikenal sebagai dewa padang rumput, dewa pada tempat-tempat liar, dewa di daerah pegunungan, dan juga dikenal sebagai dewa musik gembira.

Dewa Lupercus atau Dewa Pan mengingatkan kita bahwa hidup adalah suci, dan bahwa setiap saat adalah kesempatan untuk perayaan.

Bahkan, kata Panic dalam bahasa Inggris modern berasal dari nama Dewa Pan tersebut, karena Dewa Pan memerintah tempat liar di mana wisatawan akan sering mengalami ketakutan dan teror di perasaan yang tidak diketahui di sekitar mereka.


Dewa Lupercus 
atau Dewa Pan digambarkan berkepala kambing menunjukkan kemampuannya untuk menemukan kebahagiaan di semua medan. Dewa Pan juga keilahian seksualitas. Karena hubungannya dengan sisi primal dan liar alam, dia tanpa malu dalam mengekspresikan seksualitas sebagai bentuk perayaan, cinta, dan bahkan kontemplasi.

Dewa Lupercus atau Dewa Pan
Dewa Lupercus atau Dewa Pan

Saat itu, para Gembala di zaman Romawi percaya bahwa Dewa Pan melindungi tanaman mereka dan hewan mereka dari serangan binatang buas. Untuk ucapan terima kasih kepada Dewa Pan tersebut, para gembala tersebut mengadakan pesta untuk menghormatinya pada tanggal 15 Februari (tanggal Romawi). Peristiwa pesta tersebut dikenal dengan Lupercalia.

Pada saat itu tanggal Romawi berbeda dengan tanggal yang kita gunakan sekarang. Sehingga pada hari raya Lupercalia tersebut, pada Romawi juga merayakan pada awal musim semi (sekitar pertengahan Februari).

Hari sebelum hari raya Lupercalia tersebut dilaksanakan, semua wanita menaruh namanya pada sebuah guci. Dan setiap pria, mengambil nama perempuan tersebut dari guci. Jadi, wanita menaruh nama mereka, dan pada pria mengambil nama yang sudah ditaruh di guci. Semacam seperti arisan.

Gadis yang namanya terpilih oleh pria tersebut, akan menjadi pasangannya (melayani pria tersebut) selama hari raya tersebut (permainan) bahkan sampai perayaan Lupercalia tahun depan. Kadang-kadang, keduanya berjanji untuk menikah satu sama lain.

Karena inti dari perayaan Lupercalia adalah kesuburan bagi pada gembala, maka aktivitas Sex pun menjadi hidangan utamanya, maka dari itulah pada wanita dan pada pria berkumpul dengan cara tadi tersebut. Perayaan ini lebih identik dengan perayaan bersenang-senang.

Itulah fokus acara pada perayaan Lupercalia bagi rata-rata bangsa Romawi. Sebuah kesempatan yang popular dimana aturan dan etika sosial bisa diperlonggar, pria dan wanita tanpa malu-malu bercumbu dan berhubungan seks yang cukup kasar.

Ilustrasi Perayaan Lupercalia
Ilustrasi Perayaan Lupercalia

Transformasi Lupercalia Menjadi Valentine

Festival atau perayaan Luperalia berubah, semenjak Roma menjadi pusat ajaran Kristen. Gereja-gereja di Romawi menonak melakukan ajaran pagan tersebut. Tetapi bagaimanapun, upaya tersebut hanya berhasil sebagian saja. Rakyat tetap bersikeras merayakan Lupercalia, maka dari itulah diperlukan substitusi yang merupakan kombinasi antara ajaran Kristen dengan budaya pagan Lupercalia.

Bangsa tersebut memutuskan untuk mengubah nama perayaan tersebut menjadi Hari Saint Valentine. Itu untuk menghormati seorang pendeta Kristen bernama Valentine yang juga tinggal di Roma.

Dalam salah satu cerita yang sumbernya masih diragukan, Valentine dikisahkan mati karena melanggar hukum. Valentine hidup pada era Kaisar Claudius II. Saat itu Roma selalu terlibat peperangan untuk mempertahankan wilayah atau ekspansi kekuasaan. Tahun demi tahun berlalu, banyak pemuda yang diharuskan mengikuti wajib militer dan terlibat peperangan. Banyak warga Roma yang tidak ingin ikut berperang, suami tidak ingin meninggalkan keluarganya. Pemuda pun enggan jauh dari kekasih hatinya.

Melihat hal itu, Caludius II mengeluarkan moratorium yang menghapuskan seluruh pernikahan dan jalinan cinta harus putus saat itu juga. Kaisar tidak akan membiarkan salah satu prajuritnya menikah. Ia percaya bahwa pria lajang terlahir sebagai prajurit yang baik. Tetapi Valentine tidak setuju, Valentine sangat menentang kaisar. Saat sepasang muda-mudi mendatangi kuil untuk menikah, diam-diam Valentine mendatangi dan memberkati mereka, yang berarti sepasang kekasih itu secara resmi menikah dalam ajaran Kristen begitupun keyakinan mereka telah berganti. Ia membantu pria dan wanita muda menikah. Akibat pelanggaran tersebutlah, Kaisar menempatkan Valentine di penjara karena tidak menaati aturan tersebut, Valentine diseret dari tempatnya beribadat, meski banyak orang yang membela dan menginginkan dirinya dilepaskan, namun Kaisar Caludius II tetap keras hati. Dalam penjara bawah tanah, Valentine menderita hingga mati. Teman-temannya yang setia menguburkan jenazah Valentine di gereja St. Praxedes tanggal 14 Februari.

Belum selesai sampai di situ, Perayaan hari Valentine tetap berlangsung hingga beberapa abad, namun gereja tidak mampu sepenuhnya menghapus memori Lupercalia dari rakyat Roma.

Walaupun gereja telah memberikan dasar-dasar kisah Saint Valentine sebagai ganti ritual Lupercalia. Tetapi banyak dari gereja-gereja Protestan tidak mengenal nama Valentine tersebut sama sekali, dan sangat sedikit gereja Katolik yang merayakan atau meyakini riwayat Valentine dalam hari Valentine.

Lotre berbentuk undian wanita di dalam guci yang berasal dari tradisi kaum pagan tersebut tetap ada, dan kembali digunakan pada sekitar abad 15 ntuk memasang-masangkan para pemuda-pemudi.

Upaya gereja Katolik mengganti tradisi perayaan Lupercalia dengan Valentine sangat terburu-buru dan mengada-ngada demi mengejar Kristenisasi massal penduduk Roma. Hal ini terlihat dari tidak kuatnya sejarah dan identitas Valentine yang menjadi dasar “Hari Kasih Sayang” tersebut. Kisah-kisah Valentine lebih mirip legenda daripada fakta sejarah.

Pada Tahun 1969, Hari Valentine dihapuskan dari kalender oleh gereja-gereja dan dinyatakan sama sekali tidak memiliki asal muasal yang jelas. Sebab itu gereja melarang perayaan Valentine oleh ummat Kristiani. Walau demikian, larangan itu tidak ampuh dan hari Valentine masih saja diperingati oleh banyak orang di dunia.

Kesimpulan

Kedua sejarah yang kelam tersebut tidak bisa dilupakan begitu saja bagi para banyak orang, dan tetap menetap di pikiran mereka. Pesta Seks dan juga Kasih Sayang. Tidak heran maka perayaan Valentine saat ini telah dibalut oleh konsep nuditas dan juga seksualitas. Hari Kasih Sayang yang berbalut seks.

Kisah Valentine tersebut yang belum tentu benar adanya, dan juga itu sama sekali bukan perayaan umat Islam sedikitpun. Bahkan jika dilihat dari sejarah awal, perayaan Valentine berasal dari perayaan pesta seks. Yang semacam itu tidak pernah diajarkan dalam Islam.

Jika kita mengikutinya, maka sungguh kita orang-orang yang termasuk golongan tersebut. Sesuai dengan Sabda Rasulullah :

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Daud no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 1/676)

Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai kaum selain kami.” (HR. At-Tirmizi no. 2695)

Mari introspeksi diri kita, upayakanlah diri untuk segera meninggalkan ajaran-ajaran yang bukan merupakan ajaran Islam. Demi kebaikan kita bersama, demi meningkatkan kualitas diri. Demi mendapatkan Ridha ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


Referensi

Flanagan, A.K., dan Dieterichs, S. 2001. Valentine’s Day. Manhattan: Capstone.

http://www.livingaltars.com/pan/

http://forum.muslim-menjawab.com/2012/02/14/distorsi-sejarah-hari-valentine/

http://chirpstory.com/li/53197

3 Hal Penting Sebelum Mengkonsumsi Jus

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Jika pada artikel sebelumnya, saya membahas tentang 3 Hal Penting Sebelum Makan Buah, maka pada artikel kali ini, saya akan membahas mengenai jus buah. Pada dasarnya yang perlu kita perhatikan sama, tetapi dalam menjus buah, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan.

Pastikan kita sudah memahami betul 3 Hal Penting Sebelum Makan Buah pada artikel yang lalu. Karena bagaimanapun, buah yang kita jus itu akan sama dengan apa yang kita makan (tanpa di jus).

Jangan Ditambah Gula!

Penting untuk kita ketahui bahwa di dalam buah mengandung Fruktosa. Dan fruktosa tersebut sudah ada takarannya sendiri masing-masing buah. Jika ingin buah yang kita jus bermanfaat bagi tubuh, biarkanlah buah di jus tanpa menambahkan gula.

Memang… rasanya tidak mengenakkan di lidah, tapi justru baik untuk saluran pencernaan kita. Jika kita menambahkan gula, itu hanya akan memberburuk kualitas buah yang kita jus.

Jika kita ingin menambah pemanis pada buah yang kita jus, tambahkanlah sedikit madu, karena manisnya madu adalah murni, bukan ditambah-tambahkan gula. Tapi ingat, hanya sedikit saja, dan jangan terlalu berlebihan.

Jangan Ditambah Susu!

Jika ditambah gula saja sudah buruk bagi saluran pencernaan, apalagi ditambahkan susu. Bahkan, menambahkan susu sachet atau susu kental manis itu sama saja kita menambahkan 20 bungkus gula kecil yang biasa ada di hotel. Bukankah itu malah memperburuk? Apalagi untuk penderita diabetes, bukannya malah sehat, malah tambah parah.

Gunakan Putaran Rendah!

Di dalam buah, ada enzim yang sangat berguna untuk tubuh kita. Enzim-lah yang berjasa sebagai bahan bakar segala aktivitas yang ada di dalam tubuh kita. Tanpa enzim, maka proses kerja organ tubuh maka akan terganggu.

Kabar buruknya, enzim yang ada di buah itu akan hilang jika dibiarkan terkena udara (oksidasi) dan juga akan hilang jika terkena panas di atas sekitar 45o. Dan biasanya para pembuat jus di luaran sana sering sekali menggunakan putaran yang sangat kencang, sehingga suhu di dalam mesin jus (juicer) meningkat, bahkan jika ditambah es batu pun, es tersebut akan meleleh. Bila es saja akan cepat mencair, apalagi enzim.

Bisa dipastikan setelah enzim hilang, maka jus buah yang kita minum akan hilang manfaatnya. Jangalah terlalu percaya dengan sticker-sticker yang di tempel di tempat penjual jus, jika cara membuat jus nya saja selalu salah. Saya sendiri jika membeli jus selalu berpesan kepada yang menjual untuk tidak menambahkan gula ataupun susu, dan juga selalu saya ingatkan untuk menggunakan putaran rendah, agar enzim di dalam buah tetap terjaga.

Demikianlah 3 Hal Penting Sebelum Mengkonsumsi Jus yang perlu kita ketahui, tentunya setelah mengetahui hal ini, kita akan lebih cermat dalam mengkonsumsi buah ataupun jus buah.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

3 Hal Penting Sebelum Makan Buah

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Buah memang sangat nikmat untuk dikonsumsi, bagi kita buah tentunya sangat kita sukai, apalagi jus buah, santapan nikmat untuk penyegar dahaga kita yang selalu kita bisa dapatkan kapan saja kita mau dengan membelinya, ataupun membuatnya sendiri di rumah.

Tetapi, ternyata mengkonsumsi buah tidak semudah itu, ada peraturan-peraturan dasar yang perlu kita perhatikan dalam mengkonsumsi buah. Banyak budaya-budaya atau tradisi yang sudah turun-temurun kepada kita, sehingga jika tradisi budaya tersebut salah, maka seterusnya akan salah. Dan jika ini sudah melekat di dalam benak kita, tentunya ini akan berakibat bagi kesehatan kita.

Selama buah di konsumsi dengan cara yang benar, maka buah akan baik bagi tubuh, tubuh akan sangat senang sekali menerima asupan dari buah. Tetapi jika cara mengkonsumsi buah yang salah, maka buah tersebut hanya akan menjadi sampah yang tidak dibutuhkan oleh tubuh.

Pastikan Buah Matang

Sebelum kita mengkonsumsi buah, pastikan terlebih dahulu bahwa buah yang kita beli atau kita petik sudah matang sempurna (matang pohon). Sebab jika belum matang secara sempurna, buah tidak akan begitu bermanfaat terhadap tubuh kita, karena buah tersebut belum saatnya untuk dipetik, dalam kata lain, asupan-asupan yang dikirim ke buah dari pohon terputus karena sudah dipetik sebelum waktunya matang.

Biasanya buah yang matang sempurna bisa dilihat dari kondisi buah, tidak busuk dan juga tidak terlalu keras untuk dipegang. Dari warna juga kita bisa lihat. Untuk buah rambutan, tentu yang warna merah akan lebih baik ketimbang warna hijau (tentu tergantung juga dari jenis-jenis rambutannya), untuk pepaya, tentu warna yang agak kekuningan akan lebih baik daripada warna hijau (yang untuk sayur).

Pastikan Buah Tidak Teroksidasi[1]

Banyak dari masyarakat yang tidak mengetahui tentang oksidasi ini, sehingga buah yang dimakan bisa dipastikan tidak akan bermanfaat bagi tubuh karena buah sudah terlanjur mengalami proses oksidasi.

Seperti layaknya besi yang lama-kelamaan akan berkarat karena terkena udara, buah juga bisa teroksidasi. Bayangkan, jika besi saja bisa teroksidasi, apalagi dengan buah? Tentunya buah yang teroksidasi akan kekurangan nutrisi yang terkandung (enzim buah) daripada buah yang belum teroksidasi.

Jadi, sebelum kita mengkonsumsi buah, pastikan buah belum mengalami oksidasi. Caranya mudah, setelah membeli buah, pastikan kita mengkonsumsinya bersamaan dengan mengupasnya. Jadi setelah mengupas buah, sebisa mungkin dan segera mungkin langsung dikonsumsi. Jangan biarkan buah tersebut terlalu lama terkena udara, apalagi udara di dalam kulkas.

Pernah melihat buah yang berubah bentuk dari bentuk bagus ke bentuk agak lembek?  (mangga yang menghitam, apel yang menjadi cokelat, buah pir yang menjadi cokelat). Itulah buah yang sudah teroksidasi.

Pastikan Mengkonsumsi Sebelum Memakan Apapun

Ini dia salah satu tradisi yang sudah turun temurun di kalangan masyarakat di sekitar kita. Yaitu mengkonsumsi buah setelah makan berat. Banyak alasan yang sering kita dengar, seperti buah sebagai pencuci mulut, atau buah sebagai makanan penutup.

Perlu diketahui, buah adalah makanan yang mudah sekali diserap nutrisi nya oleh tubuh. Oleh karena itu, jika buah terlalu lama tidak diproses oleh tubuh, maka buah tersebut malah akan menjadi sampah bagi tubuh.

Jika kita mengkonsumsi makanan berat (nasi+lauk pauk) dan setelah itu memakan buah, maka tubuh akan memproses makanan berat tersebut terlebih dahulu barulah tubuh memproses buah. Jika itu terjadi, maka buah yang kita konsumsi akan menjadi sampah bagi tubuh, tidak akan berguna sedikitpun.

Yang paling baik adalah, buah dikonsumsi sekitar 15-30 menit sebelum makan berat, agar tubuh bisa menyerap semua nutrisi yang ada di dalam buah. Barulah setelah itu kita makan berat.

Itulah ketiga hal penting sebelum kita mengkonsumsi buah. Ketiga hal tersebut sangat amat perlu kita perhatikan, karena jika kita salah-salah mengkonsumsi buah tersebut, yang pasti buah tidak akan berguna untuk tubuh kita.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


[1]. Oksidasi adalah interaksi antara molekul oksigen dan semua zat yang berbeda.

Penyesalan Terbesar

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Penyesalan adalah sesuatu yang bersifat irreversible[1], kita tidak pernah bisa mengembalikan apapun yang kita sesalkan, pun jika bisa, maka hal tersebut tidak pernah bisa kembali seperti semula (bentuk utuh).

Penyesalan di dunia memang seringkali terjadi bagi mereka yang sering lalai akan tanggung jawabnya, entah mungkin karena lupa atau mungkin disengaja. Namun demikian penyesalan tetaplah penyesalan, sebesar apapun penyesalan yang kita tunjukkan, keadaan yang sudah terjadi tidak bisa kita kembalikan. Waktu telah pergi dan penyesalan pun telah datang.

“Kelak… Penyesalan terbesar akan terjadi nanti… Di Akhirat. Sudahkah kita memiliki bekal yang cukup?”

Benar sekali, penyesalan terbesar kita nanti adalah di Alam Akhirat kelak. Saat dimana amal ibadah tidak bisa ditambah, saat dimana pintu pengampunan ditutup, dan ketika itu terjadi, penyesalan terbesar kita akan terjadi.

Bagi mereka yang selalu percaya kepada ALLAH Ta’ala dan juga telah melaksanakan segala perintah-Nya dengan baik dan benar, penyesalan mereka adalah karena mereka tidak bisa lebih baik dalam beribadah, jika waktu bisa diulang kembali, pastinya mereka ingin sekali beribadah dengan lebih giat lagi dan tidak ingin tergoda ilusi dunia yang fana ini. Tentu kita harus bisa mengambil banyak contoh dari kisah di atas, sebelum penyesalan terbesar kita nanti terjadi, dan ketika itu semuanya sudah terlambat.

Bagi mereka yang sering membangkang terhadap ALLAH Ta’ala dan juga selalu saja mengabaikan perintah-Nya dengan sangat entengnya, penyesalan mereka adalah karena mereka membangkang terhadap ALLAH Ta’ala, “kenapa dulu saya tidak melakukan segala perintah-Nya?“, “kenapa dulu saya lalai akan panggilan-Nya?“. Hal-hal seperti inilah yang akan mereka sesalkan. Semoga kita tidak termasuk tipe orang-orang yang seperti ini, yaitu orang yang membangkan perintah ALLAH Ta’ala.

Bisakah penyesalan tersebut dihindari? Jawabannya adalah tergantung. Maksudnya adalah tergantung dari berapa banyak bekal yang sudah kita siapkan untuk kembali ke kampung halaman kita kelak nanti di Akhirat. Jika sudah cukup, maka penyesalan tersebut bisa kita cegah dan kita termasuk orang-orang yang beruntung. Namun jika bekal yang kita sudah siapkan ternyata belum cukup, atau malah minus (karena sering membangkang terhadap ALLAH Ta’ala), maka bisa dipastikan kita termasuk orang yang merugi, dan mungkin saja kita akan mengalami sebuah penyesalan yang besar tersebut. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang seperti itu.

Mari introspeksi diri kita kembali, sudah benarkah cara hidup kita? sudah sesuaikah dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam? Jika memang belum sesuai dan masih jauh, sudah seberapa besarkah usaha kita untuk mendekatinya? Sudah berapa banyak perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu?

Ah… Sungguh kita harus banyak introspeksi diri dan memohon ampun kepada ALLAH Ta’ala, agar kelak kita selalu diberikan petunjuk oleh-Nya, seperti yang selalu kita baca di penghujung Surat Al-Fatihah ayat 6-7, yaitu “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


[1]. Irreversible, artinya adalah segala sesuatu hal yang tidak bisa kembali ke dalam bentuk dan keadaan semula. Contohnya: tumbuhan yang mengalami pertumbuhan tidak akan mungkin kembali ke bentuk semula (biji).

Masalah

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Tidak akan pernah ada satupun masalah yang dihadirkan ALLAH tanpa alasan, ALLAH hanya ingin kita sedikit mengingatNYA

Begitulah bagaimana masalah bisa hadir dalam hidup kita, masalah akan selalu hadir kepada siapapun orangnya. Hanya saja, bentuk dan bobot masalahnya berbeda-beda setiap orangnya.

Satu hal yang selalu saya ingat tentang masalah adalah bahwa dibalik sebuah masalah, ALLAH pasti menyimpan alasan mengapa ALLAH memberikan kita masalah. Mungkin saja dari suatu masalah, ALLAH hanya ingin sedikit saja kita mengingat-Nya kembali.

Dan mungkin saja, ketika kita mendapatkan suatu masalah yang ALLAH berikan kepada kita, itu karena kesalahan atau kelalaian kita. Misalkan saja di Jakarta yang sekarang sedang terkena bencana banjir, apa itu karena ALLAH semena-mena mengirimkan banjir terhadap kita? Tentunya tidak, itu karena Sistem di Jakarta tidak di tata serapih dan semaksimal mungkin. Jadilah jika hujan turun, tempat untuk air lewat tidak maksimal, yang akhirnya menyebabkan banjir. Belum lagi sampah yang selalu saja dibuang secara sembarangan.

Walaupun hanya sebuah tissue, tetapi jika yang membuang sebanyak ribuan orang, tentu ini akan menyumbat jalanan tempat air akan lewat. Dan tentunya alasan ini sangat logis dan bisa di nalar oleh kita semua.

Kita tidak bisa kabur dari masalah, masalah sudah hadir kepada kita. Mau kabur kemanapun, masalah itu akan tetap ada. Bahkan bagi orang yang sering menghindari masalah, akan selalu ada masalah baru bagi dirinya, bahkan bisa jadi untuk orang di sekitarnya.

Sebenarnya jika kita bisa melihat sebuah masalah yang ada, masalah tersebut tidak terlalu bermasalah kepada kita jika kita mau tenang menghadapi nya. Masalah yang ada bagi kita kadang terletak pada ketidakmauan kita menghadapi masalah tersebut.

Begitu masalah hadir, kita malah menyalahkan siapa saja, termasuk ALLAH pun disalahkan. Begitu diajak ngobrol sebentar, langsunglah timbul kemarahan. Namun jika kita mau introspeksi diri, pastinya akan ada jalan keluar bagi masalah tersebut, hanya jika kita mau menyelesaikan masalah tersebut, masalah juga kan seperti puzzle, yang harus kita susun. Walaupun kadang agak lama, tetapi pasti jika kita mau menyusunnya, akan selesai.

Jadi… jika selanjutnya kita mendapatkan masalah yang hadir kepada kita, segeralah introspeksi diri. Mungkin saja kita telah melakukan dosa, maksiat atau hal-hal yang tidak ALLAH sukai, sehingga ALLAH menegur kita melalui masalah. Yakinlah bahwa masalah yang ALLAH hadirkan kepada kita itu dengan tujuan baik, yaitu ALLAH ingin kita sedikit saja mengingat-Nya.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…