Imam Herlambang Blog

Menu

Category: Opini

Bisnis Jangan Sekedar Mencari Uang

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Kita mengeluarkan uang (atau membeli sesuatu), karena kita berharap ada value yang kita dapat. Benar bukan? Dan itu artinya, seseorang mau mengeluarkan uang karena value yang ada di penjual. Jadi, mendapatkan uang sebenarnya adalah memberikan value bagi orang lain. Yang biasa kita sebut dengan jualan.

Nah, pada prakteknya, ternyata masih ada saja orang yang bisnis, tapi tidak mengedepakan value kepada para pembelinya. Bisa dibilang, yah cuma mau dapet uangnya aja, masalah memberikan value ya masa bodo deh.

Nah ini yang ga baik, namanya dzalim, tidak adil. Dan saya percaya yang model-model seperti ini akan cepat sekali bangkrut kok. Dari cara berjualannya saja sudah tidak adil, apalagi saat memberikan value yang ternyata tidak sebanding dengan harga yang ditawarkan. Atau malah memberi value nol terhadap pembeli.

Lama-lama kan kasihan pembelinya. Lalu para pembeli tersebut menceritakan bahwa “Eh jangan beli di dia, barangnya jelek”, atau “Jangan beli di situ, dia nipu loh”. Apa yang terjadi akhirnya? Ya lama kelamaan si penjual yang tidak adil tersebut bisa gelar tikar alias bangkrut.

Karena pada awalnya hanya mencari tujuan uang semata, tidak membangun kepercayaan terhadap konsumen, tidak membangun kredibilitas, tidak membangun branding yang baik. Jadinya yah berakhir naas 😀

Jadi bagi siapapun Anda yang mau berbisnis, atau sedang berbisnis. Ada baiknya untuk tetap mengedepankan service kita kepada para konsumen-konsumen kita. Tetap memberikan value yang lebih besar kepada pembeli. Nanti pembeli tersebut lama kelamaan akan menjadi loyal buyer terhadap kita. Nah itulah menurut saya pondasi bisnis yang harus dipelajari terlebih dahulu.

Jadi, berikan value lebih dahulu, baru mikirin uangnya 🙂

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Momentum Itu Sekarang

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“Mulai sekarang gua akan berubah”,
“Oke gua ga akan nunda-nunda lagi mulai besok”,
“Gua harus semangat!”

Begitulah diri kita, membayangkan dengan penuh semangat, dan yakin dengan perubahan besar setelah menyusun rencana tersebut. Tapi sayangnya, semangat yang baru saja dikeluarkan, yang begitu membara, sekarang hanya menyisakan asap-asap semangat saja. Mungkin besok juga sudah kabur ke langit.

Sudah jelas pada kata-kata di atas bahwa sebenarnya kita memang lebih sering menunda atas suatu perubahan. Buktinya, mau berubah saja harus menunggu esok hari, atau yang lebih parahnya ya hanya hangat-hangat tai ayam di awal, lalu hilang tanpa bekas sedikitpun.

Anda sering mengalami hal seperti itu? Tenang saja, saya juga pernah dan malah penyakit saya dulu adalah senang dengan penundaan. Istilah kerennya adalah “Terjebak dalam comfort zone“. Ya benar, tidak semua comfort zone itu baik, salah-salah mengenal comfort zone, maka ia bisa jadi habit buruk bagi kita.

Akibat dari hal tersebut rasa kecewa dan marah pada diri sendiri muncul karena rencana yang kemarin tidak terealisasikan, kemudian mengumpulkan semangat lagi untuk memulai beragam rencana seperti awal. Sayangnya, percobaan kedua justru lebih sulit lagi, karena diri kita sudah dipenuhi oleh kekecewaan yang kita ciptakan sendiri.

Lalu apa selanjutnya? Tentu saja gagal lagi, berubah lagi, dan terus menerus sampai diri kita lemah. Akhirnya lingkaran setan pun terbentuk. Dan rencana pun hanya lewat begitu saja. Begitulah sedikit gambaran kisah kita yang sedang berhadapan dengan momentum, atau orang biasa menyebut sebagai perubahan diri.

Di artikel ini saya tidak akan menggurui Anda, karena saya pun masih suka berhadapan dengan momentum palsu, yakni ya momentum hangat-hangat tai ayam tersebut. Karena saya berfikir masih ada “nanti”, masih ada “esok”, masih “bisa di tunda”. Jadilah momentum yang sudah saya bangun itu terus bergeser.

Pada kenyataanya momentum yang kita bangun, hanya akan berujung seperti lingkaran setan jika kita:

  1. Hanya bisa membuat momentum asal (target ngaco)
  2. Tidak memulainya sekarang (momentum palsu)
  3. Memulai momentum dengan hal yang besar

Ya itulah inti dari momentum (perubahan) yang saya dapatkan setelah saya belajar bagaimana mulai merubah tatanan hidup saya ke arah yang tentunya lebih baik dari sebelumnya.

Pertama, jangan buat momentum yang ngaco, tidak masuk akal. Memang boleh saja bercita-cita tinggi, tapi pada saat ini yang kita perlukan adalah momentum, yaitu perubahan kecil untuk menuju cita-cita kita. Jadi jangan menjadikan momentum yang terlalu tinggi atau ngaco, karena nanti alam bawah sadar kita langsung serta merta menolak itu, dan merasa bahwa itu tidak mampu kita laksanakan.

Kedua, ini dia yang paling penting, yaitu momentum hanya ditaruh di ujung bibir saja, atau hanya di pasang di otak kita saja, tanpa kita tahu jelas kapan kita akan merealisasikannya. Biasanya yang model begini, hanya akan berujung dengan “Penundaan”. Ini saya masih sering melakukan ini. Hahaha (tenang saja, manusia sering berbuat salah kok)

Ketiga, ketika kita katakanlah ingin membuat sebuah buku yang nanti target nya adalah 100 halaman. Maka ini hanya akan jadi momentum sampah apabila kita menaruh momentum ini dalam 1 bulan atau 2 minggu saja. Memang sekelas penulis terkenal bisa menyelesaikan 100 halaman bahkan dalam waktu 1 minggu. Tapi bagi kita yang baru coba-coba atau tidak pada bidangnya, cobalah untuk mulai membuat sesuatu yang realistis, yaitu yang kecil, terukur, dan berkelanjutan. Contohnya adalah, mulai menulis 1 halaman per hari. Atau jika target tersebut masih terlalu besar, kita bisa membuatnya menjadi setengah halaman pada pagi hari dan setengahnya lagi pada malam hari.

Nah, dengan 3 parameter di atas yang saya dapatkan hasil riset saya sendiri, semoga saja kehidupan kita tidak terjebak lagi di lingkaran setan yang kita buat sendiri. Semoga momentum yang kita bangun cepat terealisasikan. Aamiin…

Pada sesi artikel selanjutnya, saya akan coba memberi gambaran tentang penundaan, habit, dan juga seputar perubahan diri.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Lupa Bersyukur

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Kita sebagai manusia, sejatinya lebih sering mengeluh ketimbang bersyukur. Bukan karena kita tidak tahu bahwa bersyukur itu memang nikmat, tetapi terkadang kita yang sering lupa bahwa di setiap sisi kehidupan kita, kita mengisinya dengan mengeluh.

Apa yang kita lakukan setelah bangun tidur? Apakah bersyukur karena sudah diberikan kesempatan hidup kembali? Ataukah malah menggerutu karena harus bermacet-macetan atau karena harus masuk kerja?

Kenapa kita tidak melihat hal tersebut dari segi positifnya bahwa kita sudah diizinkan kembali untuk hidup, untuk berbagi hal kepada orang lain, untuk bisa mencari lebih banyak rezeki, dan masih banyak segudang alasan untuk bersyukur, ketimbang kita mengeluh.

Apa yang kita sering keluhkan di tempat kerja? Biasanya rekan kerja yang sikapnya sangat tidak kita sukai, atau bahkan kita sangat membencinya. Sampai-sampai kita bilang ke teman-teman kita bahwa kita tidak memiliki teman di tempat kerja kita.

Padahal, masih ada banyak rekan-rekan kerja kita di tempat kerja yang baik, yang masih mau membantu kita. Hanya saja, kita lebih terfokus pada yang membuat kita mengeluh daripada hal yang membuat kita bersyukur.

Apa yang sering kita keluhkan di jalanan? Ah sudah pasti adalah pengendara motor yang dengan seenaknya menyalip, pengendara motor yang tidak tahu aturan, dan bahkan tidak sedikit juga pengemudi mobil yang juga tidak tahu aturan dengan seenaknya saja menyalip tanpa lihat kanan-kiri.

Padahal, banyak juga pengendara motor dan mobil yang melakukan hal yang benar, mematuhi lalu lintas yang sudah ditetapkan. Kita masih bisa kok bersyukur atas hal tersebut. Coba bayangkan saja jika semua pengendara motor dan mobil sikapnya tidak mengenakkan, tentu kita sudah sering dibuat jengkel oleh mereka.

Fokuslah pada apa yang membuat hati kita lebih bersyukur daripada mengeluh, fokuslah dengan hal-hal yang akan menaikkan level kita ke level yang lebih tinggi lagi. Fokuslah untuk tetap memperhatikan segala sesuatu dengan hal yang positif.

Dan jika rutinitas kita tiba-tiba kembali ke arah mengeluh, sadarilah, dan segera rubah agar rutinitas kita tidak menjadi habit yang buruk. Karena sekalinya itu menjadi habit buruk, maka untuk merubahnya, akan sangat sulit.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

The Power to Walk Away

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Pernahkan di dalam hidup Anda, Anda sangat teramat menginginkan sesuatu yang belum Anda miliki? Saya yakin, semua orang pernah mengalami hal ini, begitupun juga saya. Kita tentunya pernah berhadapan dengan situasi dimana kita benar-benar sangat menginginkan sesuatu, entah itu pekerjaan, cinta, ataupun berupa sebuah benda.

Akan tetapi, tidak sedikit dari kita yang sudah bertemu dengan situasi tersebut, malah semakin mengejar hal-hal tersebut, yang justru lama-kelamaan malah berujung tidak mendapatkan apa yang mereka kejar. Saya juga pernah berada di dalam posisi ini.

Pada intinya, kita dihadapkan dengan keadaan dimana saat kita benar-benar menginginkan hal tersebut, justru yang kita harapkan tidak berhasil kita capai, dengan kata lain kita tidak mendapatkan yang kita inginkan.

Dan mungkin Anda juga pernah mengalami, saat-saat dimana Anda memang menginginkan sesuatu, yang mungkin sampai terbawa mimpi, tetapi di dalam realita hidup Anda, Anda tidak terlalu melekat pada hal tersebut. Anda tertarik, tapi tidak melekat.

Dan saat Anda dalam posisi tersebut, yaitu posisi dimana Anda menginginkan sesuatu, tetapi Anda tidak terlalu lebay dalam menginginkannya, atau saat-saat dimana Anda pada akhirnya memang merelakan keinginan Anda tersebut, justru pada saat itu Anda mendapatkannya.

Pernah seperti itu?
Anda boleh berfikir sejenak sambil mengingat masa-masa dimana Anda mengalami hal tersebut.

The Power of Walk Away

Saya ingin mengajak Anda mengingat sebuah film buatan Walt Disney, yang berjudul UP. Saya rasa Anda sudah menontonnya. Film Animasi UP ini mengkisahkan seorang suami (Mr. Carl Fredricksen) yang bertekad memindahkan rumahnya ke dekat Paradise Falls karena keinginannya dan juga istrinya Elie. Keinginan tersebut sempat terlupakan karena istri dari Mr. Fredricksen meninggal. Akhirnya pada suatu pagi, Mr. Fredricksen memukul petugas konstruksi, karena kotak surat rumahnya disenggol oleh alat berat. Karena kejadian tersebut, rumah Mr. Fredricksen akan diambil alih oleh bos proyek dan akan digusur.

Mengetahui rumahnya akan digusur, Mr. Fredricksen memutuskan untuk memindahkan rumahnya, tidak tanggung-tanggung. Dia memindahkan rumahnya dengan bantuan ribuan balon udara. Secara ajaib, rumah Mr. Fredricksen terangkat, dan bisa ia terbangkan.

Di suatu scene, Mr. Fredricksen melawan orang jahat yang mau menculik Kevin (burung unta langka). Pada adegan tersebut, Mr. Fredricksen berhasil menyelamatkan anak pramuka, Kevin, dan si anjing. Namun karena hal tersebut, rumah yang ingin di bawa ke Paradise Falls lepas dari genggamannya dan terbang jauh terbawa angin.

Si anak pramuka meminta maaf atas kejadian tersebut, karena cita-citanya tidak dapat ia capai. Namun, apa jawaban Mr. Fredricksen kepada anak pramuka tersebut?

You Know, it’s just a house.

The Power to Walk Away

Sebuah kata-kata yang sangat bijak di saat yang mungkin banyak orang akan menyayangkan hal tersebut. Padahal impian dia dan istrinya sudah sangat dekat dan juga perjuangan Mr. Fredricksen sudah sangat berat, tapi Mr. Fredricksen merelakan rumahnya tersebut.

WOW! Sebuah sikap Walk Away yang sangat menyentuh bagi saya. Padahal rumah tersebut sudah susah payah diterbangkan oleh Mr. Fredricksen, dan juga rumah tersebut menyimpan banyak kenangan.

Dan jika Anda menonton film ini sampai akhir. Pada akhirnya, angin menerbangkan rumah tersebut dan rumah itu persis mendarat tepat di lokasi yang diimpikan oleh Mr. Fredricksen dan istrinya inginkan. Sebuah keajaiban Walk Away, sebuah sikap tidak terlekat oleh impian, namun justru impian tersebut malah tercapai.

The Power of Walk Away

Tidak hanya contoh tersebut saja yang bisa saya berikan. Tetapi ada kisah “The Power of Walk Away” pada film Stand by Me Doraemon. Yaitu pada saat Nobita yang teramat sangat menginginkan menikah dengan Shizuka di masa depan, sampai Nobita merengek meminta bantuan Doraemon dengan alatnya. Namun betapapun Nobita berusaha dengan keras, akhirnya Shizuka tetap saja menyukai Dekisugi.

Akhirnya Nobita sadar dan bertekad untuk meninggalkan Shizuka, bahkan Nobita sampai melakukan tindakan yang kurang sopan yang membuat Shizuka marah kepada Nobita, karena jika Nobita sering bersama Shizuka, maka perasaan Nobita terus menggebu-gebu.

Nobita terus merenung, dan berniat untuk meninggalkan Shizuka, bahkan Nobita merengek kepada ibunya untuk dipindahkan ke tempat lain. Mungkin sikap Nobita kali ini tidak terlalu menggambarkan sikap Walk Away, tetapi dari cara Nobita menghadapi keinginannya yang begitu menggebu-gebu. Nobita sadar bahwa Nobita harus meninggalkan Shizuka.

Dan saat itu juga, Doraemon punya ide untuk mengajak Nobita melihat seperti apa masa depan Nobita. Dan setelah beberapa kejadian yang dialami oleh Nobita, Nobita melihat dirinya di masa depannya akan menikah dengan Shizuka.

WOW! Betapa bahagia sekali Nobita pada saat itu, sampai menari-nari di langit dengan bantuan baling-baling bambunya Doraemon. Ya, Nobita justru mendapatkan Shizuka pada saat Nobita merelakan Shizuka.

Apa yang terjadi jika Nobita terus-terusan mengejar Shizuka? Mungkin ceritanya akan berbeda, mungkin saja Shizuka menjadi tidak suka, dan lebih memilih Dekisugi. Tetapi ternyata keadaannya terbalik 🙂

The Power of Walk Away ≠ Letting It Go

Mungkin di akhir artikel ini, Anda sudah mendapatkan intinya bahwa setiap Anda menginginkan sesuatu, Anda hanya perlu mengatur jeda untuk Walk Away dari hal itu. Dan biarkan itu menjadi kuasa Tuhan dan Alam yang akan mewujudkannya untuk Anda.

Akan tetapi, kebanyakan manusia melakukan yang namanya Letting It Go. Menurut saya, Walk Away dan Letting It Go itu kedua hal yang berbeda.

Jika pada Walk Away, Anda yang memang memutuskan untuk meninggalkan hal tersebut dan tidak terlekat oleh hal tersebut, pada Letting It Go, justru Anda lah yang membiarkannya pergi. Terlihat kan bedanya?

Mungkin kalau bisa saya contohkan, Anda sangat menginginkan seorang wanita cantik, rambutnya panjang, dan proposional. Anda mengejar-ngejar dia sampai akhirnya dia merasa risih di dekat Anda, saat itu juga dia pergi meninggalkan Anda.

Kalau Anda menganggap Anda telah melakukan “The Power of Walk Away”, maka Anda salah besar, karena yang meninggalkan Anda adalah si wanita cantik tersebut, bukanlah Anda. Sedangkan si wanita tersebut melakukan “The Power of Walk Away”. Buktinya, bisa jadi Anda malah ingin terus-terusan mengejar wanita tersebut di saat wanita tersebut justru sudah tidak ada kemelekatan kepada Anda.

Kebalikannya, di saat Anda melakukan Walk Away, yaitu saat Anda tidak terlalu perduli dengan hasilnya, bahwa Anda nanti akan jadian atau tidak dengan wanita tersebut. Anda seolah-olah tidak perduli dengan hubungan tersebut, justru si wanita yang malah balik tertarik kepada Anda.

Jadi, Anda bisa bedakan antara Walk Away dengan Letting It Go.

Semoga artikel kali ini akan memberikan Anda gambaran bagaimana seharusnya Anda bersikap atas segala sesuatu yang terjadi kepada Anda. Intinya adalah:

  1. Berikan jeda waktu sedikit untuk Walk Away.
  2. Tertarik boleh, Tetapi jangan sampai terlalu melekat.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Riba (Bagian 2)

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Artikel ini adalah bagian ke-2 dari bahasan tentang Riba. Jika Anda belum membaca bagian 1 nya, silahkan baca artikel Riba (Bagian 1).

Saya bukan seorang ustadz, akan tetapi saya mempelajari sedikit lebih ke arah muamalah Islam dan mengikuti kajian-kajian Muamalah Islam yang InsyaAllah sumbernya bisa dipercaya. Tetapi jika Anda menemukan kekurangan dalam artikel yang saya buat ini, tolong diingatkan dengan baik, agar saya bisa koreksi dan revisi sesegera mungkin.


Pada artikel sebelumnya, saya sedikit menggambarkan tentang dosa dari riba, tentang fenomena riba saat ini, tentang apa yang sebenarnya terjadi di negeri kita sekarang ini adalah, sebagian besar diakibatkan oleh riba.

Pada artikel kali ini, saya akan memberikan sedikit gambaran, apa sajakah yang termasuk transaksi riba? Atau transaksi yang mengandung riba? Untuk itu, mari kita mulai dengan mengetahui apa sebenarnya riba.

Riba dalam bahasa arab yang berarti tambahan, tumbuh, dan menjadi tinggi. Namun dalam pemahaman syariat, banyak ulama yang berbeda pendapat. Akan tetapi pada intinya, makna asalahnya sama.

Hukum Riba

Sudah sangat jelas sekali bahwa Riba adalah salah satu hal yang diharamkan dalam syariat Islam. Bahkan Allah dan Rasul-Nya menyatakan perang kepada pelaku riba. Karena sungguh riba akan membuat perpecahan yang tidak berkesudahan.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat  keberuntungan. (Al-Qur’an, Surat Al-Imran, Ayat 130)

Ibnu Katsir Rahimahullah dalam menafsirkan ayat ini berkata, “Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari praktik dan memakan riba yang senantiasa berlipat ganda. Dahulu, di zaman jahiliah, bila piutang telah jatuh tempo, maka kreditur berkata kepada debitur, ‘Lunasi utangmu atau bayar riba’. Bila debitur tidak melunasinya, maka kreditur menunda tagihan dengan kompensasi debitur menambah jumlah pembayarannya. Demikianlah setiap tahun, sehingga bisa saja piutang yang sedikit menjadi berlipat ganda hingga beberapa kali lipat.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

(Dosa) riba itu memiliki tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan ialah semisal dengan (dosa) seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri.(H.R At Thabrani – Dishahihkan oleh Al-Albani)

Berdasarkan hadist di atas, kita sudah mengetahui, sesungguhnya, dosa paling ringan dari riba saja itu adalah setara dengan menzinahi ibu kandung sendiri, yang mana tindakan zina sudahlah haram. Silahkan untuk bisa kita renungkan hadist di atas.

Jenis-Jenis Riba

Agar bisa terhindar dari dosa riba (semoga kita semua diberi kekuatan untuk meninggalkan riba), maka kita harus tahu apa saja jenis-jenis atau transaksi yang termasuk ke dalam riba?

Mengutip dari buku Pak Zaim Saidi yang berjudul Euforia Emas, beliau mengutip kitab seorang ulama besar dari Andalusia, Ibn Rushd yang berjudul Bidayat Al-Mujtahid, pada bab Al-Buyu’, menjelaskan batasan riba secara gamblang, dan menkategorikan riba ke dalam delapan jenis transaksi, yaitu:

  1. Transaksi yang dicirakan dengan suatu pernyataan ‘Beri saya kelonggaran (dalam pelunasan) dan saya akan tambahkan (jumlah pengembaliannya)’;
  2. Penjualan dengan penambahan yang terlarang;
  3. Penjualan dengan penundaan pembayaran yang terlarang;
  4. Penjualan yang dicampuraduk dengan utang;
  5. Penjualan emas dan (tambahan) barang dagangan untuk emas;
  6. Pengurangan jumlah sebagai imbalan atas penyelesaian yang cepat;
  7. Penjualan produk pangan yang belum sepenuhnya diterima; atau
  8. Penjualan yang dicampuraduk dengan pertukaran uang.

Jika disederhanakan kedelapan kategori itu, Ibn Rushd menggolongkan kemungkinan munculnya riba dalam perdagangan menjadi 2 sumber, yaitu:

  1. Penundaan pembayaran (riba an-nasi’ah); dan
  2. Perbedaan nilai (riba tafadul).

Riba yang pertama, an-nasi’ah, merujuk pada selisih waktu yang tidak diperbolehkan; dan riba yang kedua, tafadul atau al-fadl, merujuk pada selisih nilai yang tidak diperbolehkan. Dengan dua jenis sumber riba tersebut, beliau (Ibn Rushd) selanjutnya merumuskan adanya empat kemungkinan, yaitu:

  1. Hal-hal yang pada keduanya, baik penundaan maupun perbedaan dilarang adanya.
  2. Hal-hal yang padanya dibolehkan ada perbedaan, tetapi dilarang ada penundaan.
  3. Hal-hal yang pada keduanya, baik penundaan maupun perbedaan, diperbolehkan adanya.
  4. Hal-hal [yang dipertukarkan] yang terdiri atas satu jenis (genus) yang sama [semisal pertukaran uang].

Rumusan tersebut menunjukkan bahwa istilah penundaan waktu maupun perbedaan nilai digunakan di dalam fiqih untuk hal-hal, baik halal maupun haram, bergantung pada jenis transaksi dan barang yang ditransaksikan. Hal ini berarti:

  1. Bahwa dalam suatu transaksi yang mengandung unsur penundaan yang haram, timbul riba an-nasi’ah.
  2. Bahwa dalam transaksi yang mengandung unsur penambahan yang haram, timbul riba tafadul atau al-fadl.
  3. Bahwa dalam suatu transaksi yang mengandung keduanya (penundaan yang haram dan penambahan yang haram), berarti timbul riba an-nasi’ah dan riba al-fadl sekaligus.

Berikut jenis-jenis transaksi yang kita sering lakukan sehari-hari. Ditampilkan dalam tabel/diagram berikut:

Tabel Riba dalam Transaksi Harian
Tabel Riba dalam Transaksi Harian (Saidi, 2011)

 

Cara membaca diagram tersebut, caranya adalah dengan membaca melawan arah jarum jam, dimulai dari kotak paling kiri bawah. Utang-Piutang, transaksi tersebut mengandung selisih waktu diperbolehkan, namun jika ada selisih nilai, maka itu diharamkan. Sebagai contoh, misalkan kita meminjam uang sebesar Rp. 100.000, maka saat kita mengembalikan uang tersebut pun harus sejumlah Rp. 100.000. Pengembalian utang ini boleh ditunda sampai batas waktu yang sudah ditentukan, namun uang yang dipinjam, saat dikembalikan tidak boleh berubah nilainya. Jika ada orang yang meminjam uang Rp. 100.000, namun saat dikembalikan uangnya menjadi Rp. 150.000 (misalnya), maka orang tersebut sudah melakukan riba Al-Fadl.

Selanjutnya, tukar-menukar, merupakan transaksi yang tidak boleh melibatkan penundaan waktu maupun penambahan nilai. Biasanya ini terjadi pada transaksi pertukaran benda sejenis. Emas dengan emas, perak dengan perak, kurma dengan kurma, tepung dengan tepung. Untuk pertukaran ini maka harus sama kadar dan timbangannya, dan juga harus kontan (saat itu juga). Tidak boleh ada salah satu pihak yang menunda penyerahannya (pertukarannya), atau menambahkan/mengurangi kadar dan jumlahnya.

Transaksi selanjutnya, yaitu transaksi jual beli transaksi yang sering terjadi. Transaksi ini dibolehkan adanya penambahan (misal untuk mengambil untung), tetapi tidak boleh bayarnya jadi di tunda, dengan kata lain, pembayarannya harus tunai. Nah, kalau jual beli secara cicilan bagaimana? Boleh saja, tapi statusnya itu sudah bukan jual beli lagi, tetapi menjadi utang piutang, maka seperti yang sudah dijelaskan tadi di atas, harga secara tunai maupun secara cicilan haruslah sama.

Nah, menurut Anda, transaksi-transaksi kredit sekarang yang mengambil “lebih” dari suatu cicilan, apakah itu termasuk riba atau bukan?

Selanjutnya, transaksi sewa-menyewa, dalam hal ini maka penundaan waktu dan juga pertambahan selisih nilai diperbolehkan. Contohnya, ada seseorang menyewa tenda, dengan harga Rp. 500.000 selama 10 hari. Jika pemakaian selesai, maka tenda tersebut harus dikembalikan. Namun jika ingin menambah masa sewa (penundaan waktu), maka boleh untuk si pemilik tenda mengenakan tambahan nilai kepada si penyewa. Tetap, dengan catatan transaksi tersebut adalah sewa-menyewa dan barang harus dikembalikan.

Tapi, tidak semua benda bisa disewakan, ada barang-barang tertentu yang jika disewakan menjadi habis, seperti makanan, uang dan barang-barang lain yang habis dipakai. Kalau seperti rumah, mobil, motor, kendaraan lain itu adalah barang-barang yang tidak habis dipakai.

Begitulah kira-kira transaksi harian yang bisa kita teliti didalamnya terdapat riba atau bukan. Untuk transaksi, pegang ke-empat indikator tersebut (jual beli, sewa menyewa, utang piutang, dan tukar menukar), untuk indikator lainnya, pegang dua indikator, yakni penambahan nilai dan penundaan waktu.

Sekarang, kita sudah mengerti transaksi apa saja yang termasuk riba, dan tugas kitalah untuk keluar dari jeratan riba secepat mungkin. Jika ada solusi keluar dari riba, namun solusi tersebut adalah riba juga, segera tolak dan tinggalkan.

Semoga Allah membimbing langkah kita dalam memerangi riba, dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa riba kita yang terdahulu.

Artikel ini akan dilanjut ke Bagian 3…

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


Referensi

Saidi, Z. 2011. Euforia Emas. Pustaka Adina: Depok.

Mencatat

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Ada kalanya, seorang Blogger bingung dengan apa yang ingin di tulis di Blog, termasuk saya tentunya. Kadang harus memutar otak untuk waktu yang lama jika ingin memposting sebuah tulisan. Namun begitu di luar kegiatan blogging, ide itu kerap datang bermunculan.

Biasanya, ide-ide itu datang bermunculan pada saat waktu yang kita tidak inginkan. Kalau kita lengah, maka hilanglah ide itu. Dan saat mau posting artikel, keadaan blank lalu menghampiri lagi. Ini sangat wajar.

Tetapi saya punya solusi yang lumayan sederhana untuk diaplikasikan. Tapi walaupun tips ini sederhana, kalau tidak dilakukan ya tetap saja otak akan blank lagi saat mau mengeksekusi ide-ide yang sudah kita taruh di otak.

Solusi sederhana nya adalah Mencatat!

Mencatat
Mencatat (sumber: http://mujahidahilmiy89.wordpress.com)

Ya betul, saat ide datang, segeralah untuk di catat. Entah di handphone atau di kertas. Yang penting, saat ide muncul, langsung di catat. Kalau saya, ketika dapat ide di rumah, saya langsung catat di aplikasi online saya untuk me-list artikel apa saja yang akan saya terbitkan setiap hari kerja nya.

Kalau sedang diluar, saya akan catat di handphone saya. Dan tips sederhana tersebut ternyata ampuh. Saat saya ingin memposting artikel, saya hanya perlu melihat catatan online saya atau saya melihat handphone saya.

“Oh, hari ini saatnya posting artikel ini. Baiklah”.

Nah, tips ini juga berguna untuk Anda yang misal bukan Blogger. Tips mencatat saat ide datang ini sangat sederhana sekali, namun ketika sudah di catat, itu berarti kita memindahkan ide kita yang ada di otak ke pencatatan.

Sehingga, ketika nanti ada ide baru, ide yang lama tadi kita sudah catat, jadi tidak hilang. Nah, siapa dari Anda yang sudah mencoba mencatat setiap detail yang ingin Anda kerjakan? Kalau saya, Alhamdulillah sudah 🙂

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Riba (Bagian 1)

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Artikel yang akan saya tulis kali ini tidak membahas secara menyeluruh pengertian riba dan apa macam-macamnya, silahkan Anda bisa cari sendiri di artikel-artikel lain di internet atau bisa mencari kitab-kitab lain. Namun, saya tetap mencantumkan beberapa hadist yang relevan dengan pembahasan kali ini.


 

Sungguh akan datang suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak memakan (harta) riba. Siapa pun yang (berusaha) tidak memakannya, ia tetap akan terkena debu (riba) nya. (H.R. Ibnu Majah, H.R. Sunan Abu Dawud, H.R. An-Nasa’i dari Abu Hurairah)

Begitulah kira-kira salah satu Hadist Rasulullah SAW. Yang ternyata jika kita bandingkan dengan kondisi saat ini, sangat benar adanya. Riba telah membuat orang terpaksa terlibat untuk melakukan riba, walaupun ada yang berusaha tidak terlibat riba, tetap terkena debu-debu riba.

Padahal kita semua tahu bahwa dosa riba bukan hanya untuk pelakunya saja, akan tetapi untuk pencatat, saksi, dan juga penggunanya. Dan kita juga tahu bahwa dosa riba yang paling ringan itu sama dengan berzina.

Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan mengetahui bahwa itu adalah uang riba, dosanya lebih besar daripada berzina sebanyak 36 kali. (H.R. Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 3375)

Bisa kita lihat ke dalam kehidupan kita sekarang, di setiap lini kehidupan kita dipenuhi oleh aktivitas riba, sampai-sampai sangat sulit sekali untuk menghindari riba. Riba sudah menjadi lifestyle kita, sudah mendarah daging yang sulit untuk kita lepas.

Bagaimana tidak, untuk bisa beli bermacam-macam benda primer bahkan sekunder, kita lebih banyak ditawarkan dalam bentuk kredit ketimbang tunai, bisa kita lihat pada barang-barang televisi dan elektronik lainnya, lemari, meja, kursi, kendaraan bermotor, bahkan sampai rumah pun ditawarkan dalam bentuk kredit, lebih tepatnya kredit yang mengandung bunga, yang tidak lain adalah sistem ribawi.

Mengapa demikian, karena jika kita membeli secara tunai, biaya-biaya yang ditawarkan tersebut akan sulit sekali dijangkau oleh kita, oleh karena itulah ditawarkan dalam bentuk kredit berbunga.

Tidak hanya barang yang kita beli, bahkan aktivitas pembayaran lain yang kita lakukan juga menggunakan sistem riba, seperti misalkan pembayaran telepon, listrik, tol, jasa-jasa lainnya. Karena investasi yang mereka dapatkan dan mereka salurkan melalui sistem kredit perbankan.

Begitulah riba. Riba membuat seluruh lini kehidupan kita menjadi berantakan, menjadikan orang-orang semakin menderita dan sengsara. Bahkan secara tersirat Allah menyatakan bahwa riba itu membuat manusia menganiaya dan dianiaya.

Ketahuilah bahwa persoalan yang paling utama sekarang adalah riba. Riba telah menggerogoti segala aspek kehidupan kita. Kredit berbunga, sewa menyewa uang, pinjaman bank, dan masih banyak produk perbankan lainnya yang memicu munculnya riba.

Riba menyebabkan segala macam harga pokok menjadi naik, karena esensi riba sendiri adalah tambahan, maka akibat dari itu semua harga barang-barang pokok harian kita tidak bisa murah lagi seperti dulu, karena sewaktu memulai usaha, banyak yang menggunakan pinjaman berbunga bank, alhasil banyak yang menaikkan harga untuk menutupi bunga-bunga bank tersebut.

Riba saat ini sudah menjadi sistem, sudah menjadi pola hidup, sudah menjadi habits baru bagi seluruh umat dunia.

Jadi, sampai saat ini, kita sadar bahwa akar persoalan kita adalah riba, menggerogoti hidup kita secara perlahan namun pasti. Namun, apakah ada solusi untuk terhidar dari riba? Setidak-tidaknya hanya debunya saja?

Jika kita mengikuti solusi dari sistem ribawi saat ini, solusi yang ditawarkan adalah riba lagi!. Betul, kegiatan riba saja sudah haram, lah ini ditawarkan riba lagi. Pinjaman uang dengan cicilan ringan dan bunga yang sangat kecil, yang mana proses seperti ini terus berputar layaknya lingkaran setan.

Naudzubillahi min dzalik…

Semoga intro dari artikel sederhana ini bisa membuka wawasan kita akan bahaya riba. Pada artikel selanjutnya (InsyaAllah minggu depan), saya akan sedikit bahas apa saja yang termasuk dalam kategori riba.

Artikel ini akan dilanjut ke Bagian 2…

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Buat SIM Tapi Nembak?

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

4 Bulan ke belakang merupakan waktu-waktu yang membuat saya khawatir, galau, semangat, dan berbagai perasaan lain yang campuraduk di dalam kepala saya. Bagaimana tidak, hal yang kebanyakan dilakukan oleh orang lain yang hampir 99% orang melakukannya, tetapi saat itu tidak saya lakukan. Apakah itu? Membuat SIM Tanpa Nembak!

Tentu ini menjadi hal konyol yang saya lakukan, dimana, saat kebanyakan orang hanya ingin mendapatkan satu buah kartu lisensi mengemudi dengan sangat mudahnya, yaitu dengan cara menyuap para polisi-polisi yang ada, tetapi saya tetap istiqomah di jalan yang benar, mengikuti tes SIM sesuai prosedur, meski saya harus melaluinya dengan susah payah, dengan waktu yang lama, dengan tenaga yang tidak sedikit. Tetapi pada akhirnya, ada kepuasan tersendiri yang saya rasakan yang tentunya tidak bisa dirasakan oleh orang lain yang dengan mudahnya menyuap para polisi hanya untuk mendapakan SIM. Ah, sungguh ironis sekali mendengar bangsa ini yang setiap harinya selalu saja terjadi kecurangan, kelalaian, dan berbagai macam kejahatan yang sengaja dibiaskan menjadi kebaikan palsu.

Kalau dipikir-pikir dengan logis, menurut saya, alasan orang-orang diluar sana yang mendapatkan SIM dengan cara menyuap, justru itu adalah penyebab banyaknya kesalahan-kesalahan yang terjadi di jalan raya sana. Logika simpelnya adalah, orang yang tidak peduli dengan prosedur pembuatan SIM, yang di dalamnya justru banyak pelajaran yang bisa diambil, pastinya tidak peduli juga dengan aturan-aturan yang ada di jalan raya. Maka menurut saya, kebanyakan kesalahan-kesalahan yang terjadi di luar sana itu pasti karena banyaknya ulah orang yang membuat SIM tapi dengan proses menembak. Itu baru fenomena pertama.

Jika di analisa menurut alasannya, ada beberapa alasan menurut saya, mengapa orang-orang diluaran sana sangat amat senang menyuap untuk mendapatkan SIM :

Tidak Mau Repot

orang yang membuat SIM dengan cara menyuap itu tidak mau repot, maunya langsung jadi punya SIM tanpa harus tes SIM, yang padahal sebenarnya tes SIM itu bertujuan untuk mengetes apakah kita mampu menghadapi situasi di jalan raya sana. Dengan demikian, banyak orang yang hanya mau instan tanpa menghargai proses, maka tidak heran juga banyak yang korupsi di sana-sini.

Cerita Dari Pihak Ketiga

Selain itu, hanya karena cerita-cerita dari teman-teman lainnya yang kalau tes SIM gagal, maka mengulang selama 2 minggu lagi, dan juga karena susahnya tes SIM tersebut, itu menjadikan mereka-mereka malas untuk ikut serta dalam proses tes SIM tersebut.

Belum mulai saja, sudah menyerah…

Belum Mampu

Inilah bagi saya alasan seseorang memilih menembak dalam membuat SIM. Ya, mereka belum mampu, mereka merasa belum bisa mengendarai kendaraan, tetapi mereka ngebet sekali ingin mempunyai SIM. Alhasil, mereka membohongi diri mereka sendiri dengan ketidakmampuannya tersebut dengan cara membuat SIM dengan cara menembak.

Inilah yang menjadi fenomena di jalan raya, mengapa banyak sekali kejadian kecelakaan, kecerobohan, kesalahan aturan. Yang sebenarnya bisa dicegah dengan mengikuti tes SIM dengan baik dan benar. Ingat, tes SIM itu bukan sekedar kita mendapatkan kartu lisensi mengemudi saja, tetapi kita belajar bagaimana memahami aturan-aturan yang ada di jalanan, agar kedepannya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tes Praktek SIM Motor
Tes Praktek SIM Motor

Banyak Alasan

Banyak alasan itu adalah justru akar dari alasan-alasan yang mereka buat dengan pandai, ada yang berdalih “Polisi itu emang begitu sob”, “kalo lo ga nembak, ga bakal lulus”, “percuma ikut tes, yang ada ntar lo ga lulus”, dan berjuta-juta alasan yang lainnya. Bagi saya, itu adalah alasan sang pengecut, yang belum tes saja, sudah banyak berdalih, inilah tipe-tipe orang yang banyak alasan. Seharusnya dalih-dalih semacam di atas bisa kita buktikan dengan cara mengikuti prosedur tes SIM yang benar.

Dan masih banyak lagi alasan-alasan yang terus saja dilontarkan oleh para orang di luar sana yang membuat SIM tapi menembak (menyuap). Padahal, proses suap-menyuap sendiri itu dikategorikan sebagai korupsi. Maka janganlah bermimpi Indonesia kita ini terbebas dari korupsi, kalau pembiasaan dari rakyat kecil saja sudah mengajarkan korupsi.


Kembali kepada cerita saya, saat saya membuat SIM. Jika saya hitung dari waktu pembuatannya (yaitu pada bulan Maret) sampai saya mendapatkan SIM (bulan Juni), maka waktu tersebut sudah 4 bulan dengan jumlah mengulang tes sebanyak 5 kali.

Di sini saya hanya membuktikan bahwa, sebenarnya, jika kita mau untuk berlaku baik dan benar, maka pasti akan ada jalannya. Jika kita tetap berpendirian teguh tidak mau nembak, maka pasti ada jalannya. Dan pasti ada pelajaran yang bisa kita dapat dari setiap langkah kaki yang kita gerakkan di atas jalan kebenaran ini.

Tes Ke-1

Tes ke-1 ini saya lakukan di sekitar pertengahan bulan Maret, dengan melakukan tes pertama tentang tes teori SIM. Tentunya dari bulan-bulan sebelumnya, saya mendownload banyak contoh-contoh soal tes SIM yang teori, dan juga mempelajari berbagai macam undang-undang tentang lalu lintas. Namanya juga ujian, pasti harus belajar dong. Sebelum pergi tes SIM, saya berdoa dan meminta doa dari kedua orang tua saya, agar dilancarkan dalam proses pembuatan SIM ini. Setelah sampai pada tempat uji SIM yaitu di Polres Depok, saya terkejut karena yang tes teori SIM dalam 1 ruangan hanya 3 orang! “Yang lainnya ke mana?” gumam saya dalam hati. Ternyata banyak praktek-praktek kotor (nembak) yang terjadi di sana, yang membuat orang bisa langsung foto dan langsung pulang membawa SIM hasil nembak mereka.

Tetapi saya tetap pada pendirian saya, saya tetap melakukan tes SIM secara baik dan benar, yaitu mengikuti prosedur nya. Dan Alhamdulillah dari tes teori yang berjumlah 30 soal, saya hanya salah 6. Ini menjadikan saya lulus pada bagian teori SIM.

Belum cukup sampai di situ saja, ada tes praktek yang harus saya lakukan pada saat itu. Dan lagi-lagi saya sangat amat terkejut dan sedikit tersenyum. Karena saya tes prakteknya hanya sendirian. Hehehe. Kondisi ini membuat saya down untuk sementara. Tapi walaupun begitu, saya tetap harus tes praktek.

Hasil dari tes praktek pertama adalah Belum Lulus dan harus mengulang 2 minggu ke depan, karena saya lupa memasukkan gigi mundur pada saat turunan (efek kebiasaan). Akhirnya saya pulanglah ke rumah, tentunya dengan tetap bersyukur, karena saya dapat pelajaran dari tes tersebut.

Tes Praktek SIM Mobil
Tes Praktek SIM Mobil

Tes Ke-2

Karena pada tes pertama saya sudah lulus tes teori, maka pada tes ke-2 saya hanya mengulang tes prakteknya saja. Dan lagi-lagi kejadian yang sama datang, saya tes praktek hanya sendiri, tidak ada peserta tes SIM lainnya yang ikut tes praktek. Tetapi karena hal tersebut sudah pernah terjadi kepada saya, saat itu perasaan saya biasa saja dan langsung memberanikan diri menghampiri Pak Polisi yang biasa bertugas untuk mengetes setiap peserta uji SIM.

Hasil dari tes ke-2 masih sama, yaitu Belum Lulus dengan alasan saya tidak menggunakan rem tangan ketika tanjakan, tetapi menggunakan rem kaki, di mana di dalam prosedur pembuatan SIM, hal ini tidak dibenarkan.

Dari sini, muncul perasaan tidak enak di hati saya, “apa benar, jangan-jangan tes yang resmi seperti ini hanya akan membuat saya lelah dan tidak ada hasilnya?”, sesaat setelah perasaan tidak enak tersebut mengganjal pikiran saya, saya langsung ambil tindakan positif, “ah kalau dipikir benar juga, kalau tanjakan kita tidak boleh menggunakan rem kaki karena dikhawatirkan nanti mobil bisa merosot tanpa ada penjagaan yang pasti”. Dari situlah saya yakin untuk tetap mengulang lagi 2 minggu ke depan.

Tes Ke-3

Pada tes ketiga, tidak seperti 2 tes sebelumnya, tetapi kali ini ada 1 orang yang ternyata tes praktek juga. Alhamdulillah ada teman untuk sharing. Dan ternyata orang tersebut sama prinsipnya dengan saya, yaitu tidak mau menembak, dengan alasan “gw ga buru-buru kok, jadi santai aja”. Wah ini keren menurut saya.

Akhirnya tibalah saya dulu yang tes praktek. Saya masuk ke dalam mobil bersama Pak Polisi tersebut. Saya nyalakan mobilnya. Tetapi malang nasib saya, karena baru saja mobil berjalan, mesin mobil mati! Dan itu berarti tes praktek saya gagal. Tetapi Pak Polisi tersebut bilang kepada saya “sudah lanjutkan saja dulu, walaupun gagal”. Akhirnya saya lanjutkan, dan saya melalui bagian tanjakan dengan baik dan benar tanpa ada salah sedikitpun.

Tetapi karena di awal mesin mobil mati, maka saya tetap dinyatakan tidak lulus. Yah tidak apa-apa, saya akan mengulang lagi di kesempatan berikutnya.

Tes Ke-4

Setelah tes ke-3, saya vakum sekitar 1 bulan, karena saya harus melakukan penelitian untuk Skripsi saya di PT. Krakatau Steel, Cilegon. Ketika saya kembali lagi dan tes berikutnya, teman saya yang saya sempat ceritakan pada bagian tes ke-3 di atas, ternyata sudah tidak ada. Begitu saya kontak dia, dia berkata bahwa dia jadinya menembak saja, karena dia sedang terburu-buru.

Mendengar kabar tadi, saya hanya tersenyum, ternyata kesetiaan seseorang terhadap sesuatu itu akan selalu di uji sampai titik darah penghabisan. Hehehe.

Akhirnya, ya sudah saya tetap tes praktek yang ke-4 kalinya dengan sendiri. Mulai starter mobil dengan baik, mulai menjalankan mobil dengan baik, menanjak… lalu… Ngerem Mendadak!!!. “Nah, itu ga boleh Mas, ngerem mendadak begitu, ngulang lagi ya”.

Saya tersenyum kembali, ternyata sampai tes ke-4 pun, saya masih terus di uji oleh Allah untuk membuktikan bahwa saya memang benar-benar ingin tes SIM dengan murni tanpa adanya proses suap menyuap.

Begitu mulai menanjak, ternyata saya salah lagi! saya menanjak dengan tersendat-sendat (seperti mobil maju mundur), dan ini tetap tidak dibenarkan oleh pihak kepolisian. Saya sadar itu memang kesalahan saya dan saya mengakui salah. Akhirnya saya pulang ke rumah dan menunggu 2 minggu lagi untuk tes ke-5.

Tes Ke-5

Tes ke-5 saya lakukan pada tanggal 10 Juni 2013, di mana pada bulan Juni ternyata adalah HUT Bhayangkara, dan di saat yang sama, Polres Depok sedang ada razia, jadi yang biasanya banyak berkeliaran praktek suap menyuap, sekarang sedang vakum. Hehehe

Banyak sekali saya lihat orang-orang yang ikut tes teori maupun praktek. Memang beginilah seharusnya praktek pembuatan SIM di Indonesia. Dengan Baik dan Benar, bukan hanya slogan-slogan yang ditempel di tembok saja.

Akhirnya saya tes praktek lagi dengan mobil yang sama dengan jalan yang sama. Mobil keluar dari garis kotak parkir, bisa saya lalui tanpa hambatan. Tanjakan saya lalui tanpa hambatan juga, begitupun dengan turunan, saya lalui dengan lancar tanpa sedikitpun ada kesalahan.

Masuk ke tahap terakhir, yaitu saya parkirkan kembali posisi mobil seperti posisi semula. Bagian ini agak sulit untuk saya, karena tiba-tiba kaki saya mengalami kesemutan. Saya lawan sebisa mungkin, biarpun pelan yang penting hari ini saya harus bisa lulus.

Dan, ALHAMDULILLAH… Saya dinyatakan lulus oleh Pak Polisi tersebut dan langsung di suruh ke ruang foto. Benar-benar tidak saya sangka. Ternyata saya bisa melalui semua ini dengan sabar dan istiqomah tetap berada di jalan yang benar.


Terima Kasih untuk Pak Ditdit N. Utama yang di sela-sela kegalauan saya memberikan nasihat :

Nikmati aja prosesnya…Setiap langkah usaha yang kita kerjakan, akan mendatangkan value buat kita; sekarang atau di waktu-waktu yang tidak kita sangka.
Jangan selalu lakukan sesuatu yang kebanyakan orang lakukan.

Sombong namanya, kalau kita mau melakukan yang jadi urusan ALLAH. Urusan kita hanyalah berusaha semaksimal mungkin.

Terima Kasih untuk Mas Ilman Akbar atas motivasi dan share pengalaman tes SIM tanpa suap-menyuap nya ya Mas 🙂

Terima Kasih untuk sahabat saya Khalid Abdullah yang tetap menyadarkan saya dalam jalan yang benar. Thanks bro 🙂


Semoga artikel yang saya buat bisa menginspirasi kita semua dalam bertindak, dalam menjalani kehidupan yang sekarang semakin lama semakin susah menemukan kebenaran. Semoga ke depannya banyak orang yang mulai untuk tes SIM secara baik dan benar. Aamiin…

maaf bila artikelnya berantakan, baru mulai aktif nulis lagi nih 🙂

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Air Mengalir

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“hidup santai aja, biarkan aja hidup mengalir seperti air”

Wah, sebuah kata-kata populer yang seringkali diucapkan oleh orang yang tidak memiliki impian dan tujuan. Kata-kata yang menjadi tameng atas hujatan dari orang-orang. Alasan yang dibuat seolah benar, padahal jika ditelaah lebih lanjut, kata-kata tersebut tidaklah pas.

Bila hidup kita biarkan saja seperti air yang mengalir, maka jika air itu menuju selokan atau yang biasa disebut comberan, apakah mau hidup kita seperti itu? Tentunya tidak. Hidup seperti air memang sangat baik, tapi janganlah dibiarkan mengalir ke comberan.

Air yang baik pasti akan berkumpul dengan air yang baik pula, air yang tidak baik, sisa pemakaian orang, tentu akan berkumpul di satu tempat pula. Tentunya jika hidup adalah air, dan kita tidak mau air yang kita anggap sebagai hidup adalah air yang mengalir ke comberanmaka aturlah aliran air itu.

Aliran air itu adalah aliran-aliran yang biasanya berkumpul sesuai dengan aliran-aliran tertentu. Jika aliran itu buruk, pastinya air akan berkumpul dengan aliran yang buruk pula. Jika aliran baik, air pasti akan mengalir ke tempat yang baik pula.

Janganlah membiarkan hidup kita mengalir begitu saja, mengalir ke arah negatif, mengalir ke comberan, hidup kita terlalu sayang jika kita membiarkan hidup kita, kita sengajakan untuk dialirkan ke tempat negatif.

Jadilah aliran-aliran yang baik, menujulah ke tempat aliran-aliran orang yang baik. Dengan begitu hidup kita pun akan bersama dengan aliran-aliran orang yang baik, yang ber visi baik pula.

Hindarilah perasaan nyaman, karena biasanya perasaan nyaman adalah musuh terbesar, perasaan nyaman lah yang akan mengantarkan hidup ini mengalir begitu saja.

Jauhilah hidup kita dari perasaan nyaman, jauhilah aktifitas-aktifitas yang hanya akan mengantarkan kita ke aliran-aliran negatif. Sekali lagi, tidaklah mengapa menganalogikan hidup ini seperti air, hanya saja, janganlah sampai kita merelakan hidup kita seperti air yang mengalir ke comberan.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Mengagumi Belum Tentu Mengikuti

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Bagi saya pribadi, mengagumi seseorang belum tentu mengikuti pola atau gaya hidup orang yang di-idolakan. Banyak kok orang yang mengagumi orang lain, tapi hanya sebatas kagum saja. Nilai-nilai positif yang terkandung pada idola tersebut hanya sebatas kagum saja. Bukan dijadikan pelajaran bagi kita semua.

Misalkan, kita kagum dengan sosok para motivator-motivator hebat di luaran sana yang mampu memotivasi ribuan orang lain. Tetapi setelah motivasi itu kita dengarkan, kita hanya sebatas kagum saja. Belum tentu apa yang dia perintahkan kita ikuti.

Dalam agama Islam, Syahadat sebagai jembatan antara non-Islam dengan Islam, terkandung makna bahwa dengan bersyahadat kita mengakui bahwa ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala adalah sesembahan kita, dan Nabi Muhammad adalah utusan ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Orang Islam sudah berikrar dengan Syahadatnya. Sudah tertanam jelas bahwa Nabi Muhamad adalah utusan ALLAH, suri tauladan yang paling baik, orang yang layak dicontoh perkataan maupun perbuatannya.

Tetapi sekarang, kebanyakan Muslim, hanya sebatas mengagumi Rasulullah saja. Cerita-cerita Rasulullah yang sangat hebat hanya menjadi cerita-cerita kagum yang biasa diceritakan dan biasa kita dengar, tanpa mampu kita contohkan dan kita implementasikan pada nilai kehidupan kita.

Saya ingat ketika dulu masih jauh dari nilai-nilai yang dicontohkan Rasulullah, hidup saya dalam kebingungan. Siapakah orang yang bisa saya jadikan panutan? Akhirnya saat-saat akhir ini, saya mulai memperbanyak mempelajari Islam, mempelajari sejarah dan makna-makna Hadist sesuai dengan ajaran Rasulullah.

Dan kini saya mengetahui siapa orang yang patut dikagumi dan tentunya saya ikuti. Karena jika cuma sekedar kagum, siapapun bisa saja kagum. Tetapi jika menjadi pengikut? Belum tentu.

Di dalam buku The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History yang di tulis oleh Michael H. Hart. Nabi Muhammad adalah manusia nomor 1 yang paling berpengaruh sepanjang sejarah. Michael H. Hart mengakui itu, dan Michael H. Hart kagum dengan Nabi Muhammad. Akan tetapi, Michael H. Hart tetap tidak menjadi pengikut Nabi Muhammad. Michael H. Hart tetaplah seorang Nasrani.

Sampai di sini sudah jelas, bahwa mengagumi seseorang itu belum tentu mengikutinya. Belum tentu kita mengikuti semua apa-apa yang dilakukan dan dikatakan olehnya.

Ini adalah pengingat bagi kita semua, terutama umat Islam yang menjadikan Nabi Muhammad sebagai suri tauladan yang baik. Pengingat bagi kita, bahwa janganlah hanya mengagumi Nabi Muhammad saja, tetapi ikutilah apa-apa yang dilakukannya. Ada banyak sekali adab-adab yang beliau lakukan dengan amat baik dan teliti, mulai dari cara berbicara, cara makan, cara masuk rumah, bahkan sampai masuk ke dalam toilet pun, semua beliau ajarkan.

Kita yang sejatinya mengaku beragama Islam, seharusnya mulai mempelajari bagaimana Nabi Muhammad berkehidupan. Teruslah mendekatkan diri untuk menjadi pengikutnya. Sehingga hidup kita semakin indah, bahagia, sukses dan berpengaruh kepada orang lain.

Mari kita mulai mengkaji nilai-nilai, ajaran, perkataan, perbuatan yang Rasulullah ajarkan kepada kita. Kita ikuti satu-per-satu. Dengan begitu kita sudah menjadi pengagum Rasulullah dan menjadi pengikut Rasulullah serta kita menghidupkan sunnah-sunnah yang Rasulullah ajarkan.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…