Imam Herlambang Blog

Menu

Category: Motivasi

Dua Serigala

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Di dalam diri kita, ada 2 serigala. Kedua serigala ini selalu bertengkar. Yang pertama, serigala yang berisi amarah, iri, dengki, ego tinggi, bohong dan segala macam perasaan-perasaan negatif lainnya. Yang kedua, serigala yang berisi harapan positif, kegembiraan, bahagia, peduli, kasih, kebaikan, empati, dan segala macam perasaan-perasaan positif lainnya.

Dua Serigala

Manakah serigala yang akan menang?

Yang menang, adalah serigala yang sering kita beri makan.

Begitulah diri kita sebenarnya, ada 2 sisi, sisi negatif dan sisi baik. Mana yang paling sering kita perhatikan, kita lakukan. Tentu yang kita sering lakukan yang menang. Kalau banyak berbuat baik, ya yang negatif juga lama-kelamaan kalah. Lah kalau fokusnya sama yang negatif terus, ya tentu yang negatif akan mengalahkan yang baik.

Itulah kenapa orang yang sering mengeluh, sering galau, sering memendam perasaan dengki, iri, marah. Hidupnya dipenuhi kekhawatiran. Karena serigala yang ia kasih makan adalah serigala yang salah, yaitu serigala yang dipenuhi keserakahan dan perasaan negatif. Sebelum terlambat dan jadi habit buruk, ada baiknya mulai sekarang mulai memberi makan serigala yang baik saja.

Semoga bisa menginspirasi Anda
Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Galau = Serakah?

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Kenapa sih kita galau?

Pada dasarnya, apa yang kita lakukan terbagi menjadi 2, mencari kesenangan, dan menghindari sengsara. Jadi kalau di suatu posisi, ada kesenangan, orang akan mendekati, kalau ada kesengsaraan, orang akan menghindari. Bahasa kerennya, pain and pleasure.

Nah, masalah kita kebanyakan, pain dan pleasure yang kita artikan seringkali tabrakan. Ada pertarungan ego di dalam diri kita yang sebenernya kita ga sadar.

Contohnya:

  • Kita tau bahwa melupakan mantan itu baik, tapi kenapa masih aja keingetan terus? (ini biasa yang sering galau)
  • Kita tau kalau kita harus menjauhi orang yang ga baik, tapi kenapa kita kadang nyaman bersama orang yang ga baik tersebut
  • Kita tau kalau menunda itu ga baik, tapi ya masih aja kita mikir “masih ada nanti”

Intinya, karena pertarungan ego atau tabrakan itulah kita menjadi bingung, pusing, terjebak dalam penjara yang kita ciptain sendiri. Bahasa lainnya “Galau”.

galau-serakah

Contohnya aja, kita tau kalo olahraga itu baik, bisa lebih sehat, bisa kurus.. Tapi jadi bertabrakan dengan “Olahraga itu capek”, “nanti aja kalau ada waktu luang”, “masih sehat kok ga olahraga”. Pas bertabrakan itulah kita jadi lebih bingung dan ga tau harus melakukan apa-apa. Di satu sisi, tau itu baik, tapi di satu sisi, tetep aja ga bisa.

Galau lagi deh


Kenapa sih bisa tabrakan? Kenapa bisa muncul kayak gitu?


SERAKAH!. Ya, serakah, sifat dasar manusia ya serakah, dari 2 cara berfikir tadi, kita ingin ambil keuntungan sekaligus menghindari penderitaan, dengan cara melepaskan salah satunya. 

  • Olahraga itu baik, tapi kan capek, keringetan, sedangkan santai itu enak, cuman ya ga sehat kalo ga olahraga.
  • Ngelupain mantan itu baik, tapi kasian kalo dilupain, sedangkan kalo keinget mantan terus, hatinya jadi kacau terus-terusan.

Solusinya jadi gimana?

Salah satunya bisa pakai terapi EST. Tapi kalau terlalu ribet, bisa pake cara lain:

  • Rileks kembali, dan perlu penyadaran untuk menerima konsekuensi dari apa yang kita pilih. Dari mengambil “tanggung jawab”, kita jadi tau hal tersebut bisa berguna bagi kita di waktu yang akan datang.
  • Terakhir, kaitkan hal-hal yang baik dengan hal-hal yang baik juga. Semisal, kalau melupakan mantan itu baik untuk karir kita kedepan, atau dengan olahraga hidup lebih sehat, karir jadi meningkat, dan kaitkan terus dengan tujuan kita.

Ujung-ujungnya, kita akan fokus sama hal-hal yang baik, sehingga konsekuensi bisa diambil tanpa harus serakah (ingin yang baik aja tapi yang ga baik ga mau diambil). Intinya, jangan serakah, kalau serakah bisa jadi akan berujung galau. Pilih salah satu, ambil konsekuensi nya.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Momentum Itu Sekarang

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“Mulai sekarang gua akan berubah”,
“Oke gua ga akan nunda-nunda lagi mulai besok”,
“Gua harus semangat!”

Begitulah diri kita, membayangkan dengan penuh semangat, dan yakin dengan perubahan besar setelah menyusun rencana tersebut. Tapi sayangnya, semangat yang baru saja dikeluarkan, yang begitu membara, sekarang hanya menyisakan asap-asap semangat saja. Mungkin besok juga sudah kabur ke langit.

Sudah jelas pada kata-kata di atas bahwa sebenarnya kita memang lebih sering menunda atas suatu perubahan. Buktinya, mau berubah saja harus menunggu esok hari, atau yang lebih parahnya ya hanya hangat-hangat tai ayam di awal, lalu hilang tanpa bekas sedikitpun.

Anda sering mengalami hal seperti itu? Tenang saja, saya juga pernah dan malah penyakit saya dulu adalah senang dengan penundaan. Istilah kerennya adalah “Terjebak dalam comfort zone“. Ya benar, tidak semua comfort zone itu baik, salah-salah mengenal comfort zone, maka ia bisa jadi habit buruk bagi kita.

Akibat dari hal tersebut rasa kecewa dan marah pada diri sendiri muncul karena rencana yang kemarin tidak terealisasikan, kemudian mengumpulkan semangat lagi untuk memulai beragam rencana seperti awal. Sayangnya, percobaan kedua justru lebih sulit lagi, karena diri kita sudah dipenuhi oleh kekecewaan yang kita ciptakan sendiri.

Lalu apa selanjutnya? Tentu saja gagal lagi, berubah lagi, dan terus menerus sampai diri kita lemah. Akhirnya lingkaran setan pun terbentuk. Dan rencana pun hanya lewat begitu saja. Begitulah sedikit gambaran kisah kita yang sedang berhadapan dengan momentum, atau orang biasa menyebut sebagai perubahan diri.

Di artikel ini saya tidak akan menggurui Anda, karena saya pun masih suka berhadapan dengan momentum palsu, yakni ya momentum hangat-hangat tai ayam tersebut. Karena saya berfikir masih ada “nanti”, masih ada “esok”, masih “bisa di tunda”. Jadilah momentum yang sudah saya bangun itu terus bergeser.

Pada kenyataanya momentum yang kita bangun, hanya akan berujung seperti lingkaran setan jika kita:

  1. Hanya bisa membuat momentum asal (target ngaco)
  2. Tidak memulainya sekarang (momentum palsu)
  3. Memulai momentum dengan hal yang besar

Ya itulah inti dari momentum (perubahan) yang saya dapatkan setelah saya belajar bagaimana mulai merubah tatanan hidup saya ke arah yang tentunya lebih baik dari sebelumnya.

Pertama, jangan buat momentum yang ngaco, tidak masuk akal. Memang boleh saja bercita-cita tinggi, tapi pada saat ini yang kita perlukan adalah momentum, yaitu perubahan kecil untuk menuju cita-cita kita. Jadi jangan menjadikan momentum yang terlalu tinggi atau ngaco, karena nanti alam bawah sadar kita langsung serta merta menolak itu, dan merasa bahwa itu tidak mampu kita laksanakan.

Kedua, ini dia yang paling penting, yaitu momentum hanya ditaruh di ujung bibir saja, atau hanya di pasang di otak kita saja, tanpa kita tahu jelas kapan kita akan merealisasikannya. Biasanya yang model begini, hanya akan berujung dengan “Penundaan”. Ini saya masih sering melakukan ini. Hahaha (tenang saja, manusia sering berbuat salah kok)

Ketiga, ketika kita katakanlah ingin membuat sebuah buku yang nanti target nya adalah 100 halaman. Maka ini hanya akan jadi momentum sampah apabila kita menaruh momentum ini dalam 1 bulan atau 2 minggu saja. Memang sekelas penulis terkenal bisa menyelesaikan 100 halaman bahkan dalam waktu 1 minggu. Tapi bagi kita yang baru coba-coba atau tidak pada bidangnya, cobalah untuk mulai membuat sesuatu yang realistis, yaitu yang kecil, terukur, dan berkelanjutan. Contohnya adalah, mulai menulis 1 halaman per hari. Atau jika target tersebut masih terlalu besar, kita bisa membuatnya menjadi setengah halaman pada pagi hari dan setengahnya lagi pada malam hari.

Nah, dengan 3 parameter di atas yang saya dapatkan hasil riset saya sendiri, semoga saja kehidupan kita tidak terjebak lagi di lingkaran setan yang kita buat sendiri. Semoga momentum yang kita bangun cepat terealisasikan. Aamiin…

Pada sesi artikel selanjutnya, saya akan coba memberi gambaran tentang penundaan, habit, dan juga seputar perubahan diri.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

The Power to Walk Away

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Pernahkan di dalam hidup Anda, Anda sangat teramat menginginkan sesuatu yang belum Anda miliki? Saya yakin, semua orang pernah mengalami hal ini, begitupun juga saya. Kita tentunya pernah berhadapan dengan situasi dimana kita benar-benar sangat menginginkan sesuatu, entah itu pekerjaan, cinta, ataupun berupa sebuah benda.

Akan tetapi, tidak sedikit dari kita yang sudah bertemu dengan situasi tersebut, malah semakin mengejar hal-hal tersebut, yang justru lama-kelamaan malah berujung tidak mendapatkan apa yang mereka kejar. Saya juga pernah berada di dalam posisi ini.

Pada intinya, kita dihadapkan dengan keadaan dimana saat kita benar-benar menginginkan hal tersebut, justru yang kita harapkan tidak berhasil kita capai, dengan kata lain kita tidak mendapatkan yang kita inginkan.

Dan mungkin Anda juga pernah mengalami, saat-saat dimana Anda memang menginginkan sesuatu, yang mungkin sampai terbawa mimpi, tetapi di dalam realita hidup Anda, Anda tidak terlalu melekat pada hal tersebut. Anda tertarik, tapi tidak melekat.

Dan saat Anda dalam posisi tersebut, yaitu posisi dimana Anda menginginkan sesuatu, tetapi Anda tidak terlalu lebay dalam menginginkannya, atau saat-saat dimana Anda pada akhirnya memang merelakan keinginan Anda tersebut, justru pada saat itu Anda mendapatkannya.

Pernah seperti itu?
Anda boleh berfikir sejenak sambil mengingat masa-masa dimana Anda mengalami hal tersebut.

The Power of Walk Away

Saya ingin mengajak Anda mengingat sebuah film buatan Walt Disney, yang berjudul UP. Saya rasa Anda sudah menontonnya. Film Animasi UP ini mengkisahkan seorang suami (Mr. Carl Fredricksen) yang bertekad memindahkan rumahnya ke dekat Paradise Falls karena keinginannya dan juga istrinya Elie. Keinginan tersebut sempat terlupakan karena istri dari Mr. Fredricksen meninggal. Akhirnya pada suatu pagi, Mr. Fredricksen memukul petugas konstruksi, karena kotak surat rumahnya disenggol oleh alat berat. Karena kejadian tersebut, rumah Mr. Fredricksen akan diambil alih oleh bos proyek dan akan digusur.

Mengetahui rumahnya akan digusur, Mr. Fredricksen memutuskan untuk memindahkan rumahnya, tidak tanggung-tanggung. Dia memindahkan rumahnya dengan bantuan ribuan balon udara. Secara ajaib, rumah Mr. Fredricksen terangkat, dan bisa ia terbangkan.

Di suatu scene, Mr. Fredricksen melawan orang jahat yang mau menculik Kevin (burung unta langka). Pada adegan tersebut, Mr. Fredricksen berhasil menyelamatkan anak pramuka, Kevin, dan si anjing. Namun karena hal tersebut, rumah yang ingin di bawa ke Paradise Falls lepas dari genggamannya dan terbang jauh terbawa angin.

Si anak pramuka meminta maaf atas kejadian tersebut, karena cita-citanya tidak dapat ia capai. Namun, apa jawaban Mr. Fredricksen kepada anak pramuka tersebut?

You Know, it’s just a house.

The Power to Walk Away

Sebuah kata-kata yang sangat bijak di saat yang mungkin banyak orang akan menyayangkan hal tersebut. Padahal impian dia dan istrinya sudah sangat dekat dan juga perjuangan Mr. Fredricksen sudah sangat berat, tapi Mr. Fredricksen merelakan rumahnya tersebut.

WOW! Sebuah sikap Walk Away yang sangat menyentuh bagi saya. Padahal rumah tersebut sudah susah payah diterbangkan oleh Mr. Fredricksen, dan juga rumah tersebut menyimpan banyak kenangan.

Dan jika Anda menonton film ini sampai akhir. Pada akhirnya, angin menerbangkan rumah tersebut dan rumah itu persis mendarat tepat di lokasi yang diimpikan oleh Mr. Fredricksen dan istrinya inginkan. Sebuah keajaiban Walk Away, sebuah sikap tidak terlekat oleh impian, namun justru impian tersebut malah tercapai.

The Power of Walk Away

Tidak hanya contoh tersebut saja yang bisa saya berikan. Tetapi ada kisah “The Power of Walk Away” pada film Stand by Me Doraemon. Yaitu pada saat Nobita yang teramat sangat menginginkan menikah dengan Shizuka di masa depan, sampai Nobita merengek meminta bantuan Doraemon dengan alatnya. Namun betapapun Nobita berusaha dengan keras, akhirnya Shizuka tetap saja menyukai Dekisugi.

Akhirnya Nobita sadar dan bertekad untuk meninggalkan Shizuka, bahkan Nobita sampai melakukan tindakan yang kurang sopan yang membuat Shizuka marah kepada Nobita, karena jika Nobita sering bersama Shizuka, maka perasaan Nobita terus menggebu-gebu.

Nobita terus merenung, dan berniat untuk meninggalkan Shizuka, bahkan Nobita merengek kepada ibunya untuk dipindahkan ke tempat lain. Mungkin sikap Nobita kali ini tidak terlalu menggambarkan sikap Walk Away, tetapi dari cara Nobita menghadapi keinginannya yang begitu menggebu-gebu. Nobita sadar bahwa Nobita harus meninggalkan Shizuka.

Dan saat itu juga, Doraemon punya ide untuk mengajak Nobita melihat seperti apa masa depan Nobita. Dan setelah beberapa kejadian yang dialami oleh Nobita, Nobita melihat dirinya di masa depannya akan menikah dengan Shizuka.

WOW! Betapa bahagia sekali Nobita pada saat itu, sampai menari-nari di langit dengan bantuan baling-baling bambunya Doraemon. Ya, Nobita justru mendapatkan Shizuka pada saat Nobita merelakan Shizuka.

Apa yang terjadi jika Nobita terus-terusan mengejar Shizuka? Mungkin ceritanya akan berbeda, mungkin saja Shizuka menjadi tidak suka, dan lebih memilih Dekisugi. Tetapi ternyata keadaannya terbalik 🙂

The Power of Walk Away ≠ Letting It Go

Mungkin di akhir artikel ini, Anda sudah mendapatkan intinya bahwa setiap Anda menginginkan sesuatu, Anda hanya perlu mengatur jeda untuk Walk Away dari hal itu. Dan biarkan itu menjadi kuasa Tuhan dan Alam yang akan mewujudkannya untuk Anda.

Akan tetapi, kebanyakan manusia melakukan yang namanya Letting It Go. Menurut saya, Walk Away dan Letting It Go itu kedua hal yang berbeda.

Jika pada Walk Away, Anda yang memang memutuskan untuk meninggalkan hal tersebut dan tidak terlekat oleh hal tersebut, pada Letting It Go, justru Anda lah yang membiarkannya pergi. Terlihat kan bedanya?

Mungkin kalau bisa saya contohkan, Anda sangat menginginkan seorang wanita cantik, rambutnya panjang, dan proposional. Anda mengejar-ngejar dia sampai akhirnya dia merasa risih di dekat Anda, saat itu juga dia pergi meninggalkan Anda.

Kalau Anda menganggap Anda telah melakukan “The Power of Walk Away”, maka Anda salah besar, karena yang meninggalkan Anda adalah si wanita cantik tersebut, bukanlah Anda. Sedangkan si wanita tersebut melakukan “The Power of Walk Away”. Buktinya, bisa jadi Anda malah ingin terus-terusan mengejar wanita tersebut di saat wanita tersebut justru sudah tidak ada kemelekatan kepada Anda.

Kebalikannya, di saat Anda melakukan Walk Away, yaitu saat Anda tidak terlalu perduli dengan hasilnya, bahwa Anda nanti akan jadian atau tidak dengan wanita tersebut. Anda seolah-olah tidak perduli dengan hubungan tersebut, justru si wanita yang malah balik tertarik kepada Anda.

Jadi, Anda bisa bedakan antara Walk Away dengan Letting It Go.

Semoga artikel kali ini akan memberikan Anda gambaran bagaimana seharusnya Anda bersikap atas segala sesuatu yang terjadi kepada Anda. Intinya adalah:

  1. Berikan jeda waktu sedikit untuk Walk Away.
  2. Tertarik boleh, Tetapi jangan sampai terlalu melekat.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Riba (Bagian 2)

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Artikel ini adalah bagian ke-2 dari bahasan tentang Riba. Jika Anda belum membaca bagian 1 nya, silahkan baca artikel Riba (Bagian 1).

Saya bukan seorang ustadz, akan tetapi saya mempelajari sedikit lebih ke arah muamalah Islam dan mengikuti kajian-kajian Muamalah Islam yang InsyaAllah sumbernya bisa dipercaya. Tetapi jika Anda menemukan kekurangan dalam artikel yang saya buat ini, tolong diingatkan dengan baik, agar saya bisa koreksi dan revisi sesegera mungkin.


Pada artikel sebelumnya, saya sedikit menggambarkan tentang dosa dari riba, tentang fenomena riba saat ini, tentang apa yang sebenarnya terjadi di negeri kita sekarang ini adalah, sebagian besar diakibatkan oleh riba.

Pada artikel kali ini, saya akan memberikan sedikit gambaran, apa sajakah yang termasuk transaksi riba? Atau transaksi yang mengandung riba? Untuk itu, mari kita mulai dengan mengetahui apa sebenarnya riba.

Riba dalam bahasa arab yang berarti tambahan, tumbuh, dan menjadi tinggi. Namun dalam pemahaman syariat, banyak ulama yang berbeda pendapat. Akan tetapi pada intinya, makna asalahnya sama.

Hukum Riba

Sudah sangat jelas sekali bahwa Riba adalah salah satu hal yang diharamkan dalam syariat Islam. Bahkan Allah dan Rasul-Nya menyatakan perang kepada pelaku riba. Karena sungguh riba akan membuat perpecahan yang tidak berkesudahan.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat  keberuntungan. (Al-Qur’an, Surat Al-Imran, Ayat 130)

Ibnu Katsir Rahimahullah dalam menafsirkan ayat ini berkata, “Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari praktik dan memakan riba yang senantiasa berlipat ganda. Dahulu, di zaman jahiliah, bila piutang telah jatuh tempo, maka kreditur berkata kepada debitur, ‘Lunasi utangmu atau bayar riba’. Bila debitur tidak melunasinya, maka kreditur menunda tagihan dengan kompensasi debitur menambah jumlah pembayarannya. Demikianlah setiap tahun, sehingga bisa saja piutang yang sedikit menjadi berlipat ganda hingga beberapa kali lipat.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

(Dosa) riba itu memiliki tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan ialah semisal dengan (dosa) seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri.(H.R At Thabrani – Dishahihkan oleh Al-Albani)

Berdasarkan hadist di atas, kita sudah mengetahui, sesungguhnya, dosa paling ringan dari riba saja itu adalah setara dengan menzinahi ibu kandung sendiri, yang mana tindakan zina sudahlah haram. Silahkan untuk bisa kita renungkan hadist di atas.

Jenis-Jenis Riba

Agar bisa terhindar dari dosa riba (semoga kita semua diberi kekuatan untuk meninggalkan riba), maka kita harus tahu apa saja jenis-jenis atau transaksi yang termasuk ke dalam riba?

Mengutip dari buku Pak Zaim Saidi yang berjudul Euforia Emas, beliau mengutip kitab seorang ulama besar dari Andalusia, Ibn Rushd yang berjudul Bidayat Al-Mujtahid, pada bab Al-Buyu’, menjelaskan batasan riba secara gamblang, dan menkategorikan riba ke dalam delapan jenis transaksi, yaitu:

  1. Transaksi yang dicirakan dengan suatu pernyataan ‘Beri saya kelonggaran (dalam pelunasan) dan saya akan tambahkan (jumlah pengembaliannya)’;
  2. Penjualan dengan penambahan yang terlarang;
  3. Penjualan dengan penundaan pembayaran yang terlarang;
  4. Penjualan yang dicampuraduk dengan utang;
  5. Penjualan emas dan (tambahan) barang dagangan untuk emas;
  6. Pengurangan jumlah sebagai imbalan atas penyelesaian yang cepat;
  7. Penjualan produk pangan yang belum sepenuhnya diterima; atau
  8. Penjualan yang dicampuraduk dengan pertukaran uang.

Jika disederhanakan kedelapan kategori itu, Ibn Rushd menggolongkan kemungkinan munculnya riba dalam perdagangan menjadi 2 sumber, yaitu:

  1. Penundaan pembayaran (riba an-nasi’ah); dan
  2. Perbedaan nilai (riba tafadul).

Riba yang pertama, an-nasi’ah, merujuk pada selisih waktu yang tidak diperbolehkan; dan riba yang kedua, tafadul atau al-fadl, merujuk pada selisih nilai yang tidak diperbolehkan. Dengan dua jenis sumber riba tersebut, beliau (Ibn Rushd) selanjutnya merumuskan adanya empat kemungkinan, yaitu:

  1. Hal-hal yang pada keduanya, baik penundaan maupun perbedaan dilarang adanya.
  2. Hal-hal yang padanya dibolehkan ada perbedaan, tetapi dilarang ada penundaan.
  3. Hal-hal yang pada keduanya, baik penundaan maupun perbedaan, diperbolehkan adanya.
  4. Hal-hal [yang dipertukarkan] yang terdiri atas satu jenis (genus) yang sama [semisal pertukaran uang].

Rumusan tersebut menunjukkan bahwa istilah penundaan waktu maupun perbedaan nilai digunakan di dalam fiqih untuk hal-hal, baik halal maupun haram, bergantung pada jenis transaksi dan barang yang ditransaksikan. Hal ini berarti:

  1. Bahwa dalam suatu transaksi yang mengandung unsur penundaan yang haram, timbul riba an-nasi’ah.
  2. Bahwa dalam transaksi yang mengandung unsur penambahan yang haram, timbul riba tafadul atau al-fadl.
  3. Bahwa dalam suatu transaksi yang mengandung keduanya (penundaan yang haram dan penambahan yang haram), berarti timbul riba an-nasi’ah dan riba al-fadl sekaligus.

Berikut jenis-jenis transaksi yang kita sering lakukan sehari-hari. Ditampilkan dalam tabel/diagram berikut:

Tabel Riba dalam Transaksi Harian
Tabel Riba dalam Transaksi Harian (Saidi, 2011)

 

Cara membaca diagram tersebut, caranya adalah dengan membaca melawan arah jarum jam, dimulai dari kotak paling kiri bawah. Utang-Piutang, transaksi tersebut mengandung selisih waktu diperbolehkan, namun jika ada selisih nilai, maka itu diharamkan. Sebagai contoh, misalkan kita meminjam uang sebesar Rp. 100.000, maka saat kita mengembalikan uang tersebut pun harus sejumlah Rp. 100.000. Pengembalian utang ini boleh ditunda sampai batas waktu yang sudah ditentukan, namun uang yang dipinjam, saat dikembalikan tidak boleh berubah nilainya. Jika ada orang yang meminjam uang Rp. 100.000, namun saat dikembalikan uangnya menjadi Rp. 150.000 (misalnya), maka orang tersebut sudah melakukan riba Al-Fadl.

Selanjutnya, tukar-menukar, merupakan transaksi yang tidak boleh melibatkan penundaan waktu maupun penambahan nilai. Biasanya ini terjadi pada transaksi pertukaran benda sejenis. Emas dengan emas, perak dengan perak, kurma dengan kurma, tepung dengan tepung. Untuk pertukaran ini maka harus sama kadar dan timbangannya, dan juga harus kontan (saat itu juga). Tidak boleh ada salah satu pihak yang menunda penyerahannya (pertukarannya), atau menambahkan/mengurangi kadar dan jumlahnya.

Transaksi selanjutnya, yaitu transaksi jual beli transaksi yang sering terjadi. Transaksi ini dibolehkan adanya penambahan (misal untuk mengambil untung), tetapi tidak boleh bayarnya jadi di tunda, dengan kata lain, pembayarannya harus tunai. Nah, kalau jual beli secara cicilan bagaimana? Boleh saja, tapi statusnya itu sudah bukan jual beli lagi, tetapi menjadi utang piutang, maka seperti yang sudah dijelaskan tadi di atas, harga secara tunai maupun secara cicilan haruslah sama.

Nah, menurut Anda, transaksi-transaksi kredit sekarang yang mengambil “lebih” dari suatu cicilan, apakah itu termasuk riba atau bukan?

Selanjutnya, transaksi sewa-menyewa, dalam hal ini maka penundaan waktu dan juga pertambahan selisih nilai diperbolehkan. Contohnya, ada seseorang menyewa tenda, dengan harga Rp. 500.000 selama 10 hari. Jika pemakaian selesai, maka tenda tersebut harus dikembalikan. Namun jika ingin menambah masa sewa (penundaan waktu), maka boleh untuk si pemilik tenda mengenakan tambahan nilai kepada si penyewa. Tetap, dengan catatan transaksi tersebut adalah sewa-menyewa dan barang harus dikembalikan.

Tapi, tidak semua benda bisa disewakan, ada barang-barang tertentu yang jika disewakan menjadi habis, seperti makanan, uang dan barang-barang lain yang habis dipakai. Kalau seperti rumah, mobil, motor, kendaraan lain itu adalah barang-barang yang tidak habis dipakai.

Begitulah kira-kira transaksi harian yang bisa kita teliti didalamnya terdapat riba atau bukan. Untuk transaksi, pegang ke-empat indikator tersebut (jual beli, sewa menyewa, utang piutang, dan tukar menukar), untuk indikator lainnya, pegang dua indikator, yakni penambahan nilai dan penundaan waktu.

Sekarang, kita sudah mengerti transaksi apa saja yang termasuk riba, dan tugas kitalah untuk keluar dari jeratan riba secepat mungkin. Jika ada solusi keluar dari riba, namun solusi tersebut adalah riba juga, segera tolak dan tinggalkan.

Semoga Allah membimbing langkah kita dalam memerangi riba, dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa riba kita yang terdahulu.

Artikel ini akan dilanjut ke Bagian 3…

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


Referensi

Saidi, Z. 2011. Euforia Emas. Pustaka Adina: Depok.

Mencatat

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Ada kalanya, seorang Blogger bingung dengan apa yang ingin di tulis di Blog, termasuk saya tentunya. Kadang harus memutar otak untuk waktu yang lama jika ingin memposting sebuah tulisan. Namun begitu di luar kegiatan blogging, ide itu kerap datang bermunculan.

Biasanya, ide-ide itu datang bermunculan pada saat waktu yang kita tidak inginkan. Kalau kita lengah, maka hilanglah ide itu. Dan saat mau posting artikel, keadaan blank lalu menghampiri lagi. Ini sangat wajar.

Tetapi saya punya solusi yang lumayan sederhana untuk diaplikasikan. Tapi walaupun tips ini sederhana, kalau tidak dilakukan ya tetap saja otak akan blank lagi saat mau mengeksekusi ide-ide yang sudah kita taruh di otak.

Solusi sederhana nya adalah Mencatat!

Mencatat
Mencatat (sumber: http://mujahidahilmiy89.wordpress.com)

Ya betul, saat ide datang, segeralah untuk di catat. Entah di handphone atau di kertas. Yang penting, saat ide muncul, langsung di catat. Kalau saya, ketika dapat ide di rumah, saya langsung catat di aplikasi online saya untuk me-list artikel apa saja yang akan saya terbitkan setiap hari kerja nya.

Kalau sedang diluar, saya akan catat di handphone saya. Dan tips sederhana tersebut ternyata ampuh. Saat saya ingin memposting artikel, saya hanya perlu melihat catatan online saya atau saya melihat handphone saya.

“Oh, hari ini saatnya posting artikel ini. Baiklah”.

Nah, tips ini juga berguna untuk Anda yang misal bukan Blogger. Tips mencatat saat ide datang ini sangat sederhana sekali, namun ketika sudah di catat, itu berarti kita memindahkan ide kita yang ada di otak ke pencatatan.

Sehingga, ketika nanti ada ide baru, ide yang lama tadi kita sudah catat, jadi tidak hilang. Nah, siapa dari Anda yang sudah mencoba mencatat setiap detail yang ingin Anda kerjakan? Kalau saya, Alhamdulillah sudah 🙂

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Hidayah Datang Setiap Saat

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saya tiba-tiba teringat oleh perkataan salah satu guru saya di suatu kelas. Beliau berkata “Hidayah itu hadir setiap saat”. Persisnya kata-katanya seperti itu. Dari perkataan tersebut beliau sampaikan berulang-ulang kali, layaknya ingin menegaskan bahwa hidayah itu tidak seharusnya kita tunggu, tetapi hidayah itu selalu hadir setiap saat.

Tugas kita lah yang seharusnya lebih peka, kita seharusnya melatih pikiran kita, hati kita, mata kita untuk melihat lebih jauh, telinga kita untuk mendengar lebih peka. Dan semua itu bisa kita lakukan jika kita memang peka, jika kita memang ingin mendapatkan hidayah.

Jadi, sudah seharusnya kita menangkap sinyal-sinyal hidayah yang sudah Allah berikan kepada kita, bukan menunggu hidayah. Sebuah contoh sederhana yang datang dari salah satu gadis ber-rambut panjang yang belum berhijab, dengan alasan “saya belum siap”, “hijab hati dulu, baru tubuh”, dan bermacam-macam alasan lainnya. Padahal, mungkin jika gadis tersebut mau untuk melihat sekitar, untuk mengamati sekitar, sudah banyak sekali lingkungan sekitar nya yang sudah berhijab.

Hidayah Datang Setiap Saat
Hidayah Datang Setiap Saat (sumber: http://creativekhalifah.tumblr.com)

Jadi Allah sudah memberikan hidayah-Nya melalui wanita-wanita yang sudah berhijab tersebut. Allah hadirkan tepat di sekeliling gadis yang belum berhijab tersebut. Hanya saja, sang gadis belum sadar diri terhadap lingkungannya.

Atau mungkin seorang perokok yang di dalam hatinya sudah ada sedikit keinginan untuk berhenti merokok, dan tentunya sudah berdoa memohon untuk dibukakan hidayah agar bisa berhenti merokok. Di sekitarnya pun sudah banyak orang yang mensupport dia untuk berhenti merokok.

Tetapi jika si perokok tersebut tidak menyadarkan dirinya, atau tidak peka terhadap lingkungan, tidak mau melihat lebih luas akan hidayah-hidayah yang sudah Allah berikan. Maka doa-doa yang dia panjatkan tadi itu hanya sebatas doa saja. Padahal Allah sudah memberikan hidayah-Nya melalui lingkungan-lingkungan sekitar.

Sepertinya masih banyak sekali contoh-contoh realita di sekeliling kita yang saat ini bermasalah dengan hidayah. Saya pun dan juga Anda mungkin salah satunya. Tugas kita sekarang adalah membuat diri kita lebih peka terhadap lingkungan sekitar, lebih “melek” untuk melihat, dan lebih banyak mendengar, memperhatikan sekitar. Karena Hidayah Allah itu datang setiap saat.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Riba (Bagian 1)

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Artikel yang akan saya tulis kali ini tidak membahas secara menyeluruh pengertian riba dan apa macam-macamnya, silahkan Anda bisa cari sendiri di artikel-artikel lain di internet atau bisa mencari kitab-kitab lain. Namun, saya tetap mencantumkan beberapa hadist yang relevan dengan pembahasan kali ini.


 

Sungguh akan datang suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak memakan (harta) riba. Siapa pun yang (berusaha) tidak memakannya, ia tetap akan terkena debu (riba) nya. (H.R. Ibnu Majah, H.R. Sunan Abu Dawud, H.R. An-Nasa’i dari Abu Hurairah)

Begitulah kira-kira salah satu Hadist Rasulullah SAW. Yang ternyata jika kita bandingkan dengan kondisi saat ini, sangat benar adanya. Riba telah membuat orang terpaksa terlibat untuk melakukan riba, walaupun ada yang berusaha tidak terlibat riba, tetap terkena debu-debu riba.

Padahal kita semua tahu bahwa dosa riba bukan hanya untuk pelakunya saja, akan tetapi untuk pencatat, saksi, dan juga penggunanya. Dan kita juga tahu bahwa dosa riba yang paling ringan itu sama dengan berzina.

Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan mengetahui bahwa itu adalah uang riba, dosanya lebih besar daripada berzina sebanyak 36 kali. (H.R. Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 3375)

Bisa kita lihat ke dalam kehidupan kita sekarang, di setiap lini kehidupan kita dipenuhi oleh aktivitas riba, sampai-sampai sangat sulit sekali untuk menghindari riba. Riba sudah menjadi lifestyle kita, sudah mendarah daging yang sulit untuk kita lepas.

Bagaimana tidak, untuk bisa beli bermacam-macam benda primer bahkan sekunder, kita lebih banyak ditawarkan dalam bentuk kredit ketimbang tunai, bisa kita lihat pada barang-barang televisi dan elektronik lainnya, lemari, meja, kursi, kendaraan bermotor, bahkan sampai rumah pun ditawarkan dalam bentuk kredit, lebih tepatnya kredit yang mengandung bunga, yang tidak lain adalah sistem ribawi.

Mengapa demikian, karena jika kita membeli secara tunai, biaya-biaya yang ditawarkan tersebut akan sulit sekali dijangkau oleh kita, oleh karena itulah ditawarkan dalam bentuk kredit berbunga.

Tidak hanya barang yang kita beli, bahkan aktivitas pembayaran lain yang kita lakukan juga menggunakan sistem riba, seperti misalkan pembayaran telepon, listrik, tol, jasa-jasa lainnya. Karena investasi yang mereka dapatkan dan mereka salurkan melalui sistem kredit perbankan.

Begitulah riba. Riba membuat seluruh lini kehidupan kita menjadi berantakan, menjadikan orang-orang semakin menderita dan sengsara. Bahkan secara tersirat Allah menyatakan bahwa riba itu membuat manusia menganiaya dan dianiaya.

Ketahuilah bahwa persoalan yang paling utama sekarang adalah riba. Riba telah menggerogoti segala aspek kehidupan kita. Kredit berbunga, sewa menyewa uang, pinjaman bank, dan masih banyak produk perbankan lainnya yang memicu munculnya riba.

Riba menyebabkan segala macam harga pokok menjadi naik, karena esensi riba sendiri adalah tambahan, maka akibat dari itu semua harga barang-barang pokok harian kita tidak bisa murah lagi seperti dulu, karena sewaktu memulai usaha, banyak yang menggunakan pinjaman berbunga bank, alhasil banyak yang menaikkan harga untuk menutupi bunga-bunga bank tersebut.

Riba saat ini sudah menjadi sistem, sudah menjadi pola hidup, sudah menjadi habits baru bagi seluruh umat dunia.

Jadi, sampai saat ini, kita sadar bahwa akar persoalan kita adalah riba, menggerogoti hidup kita secara perlahan namun pasti. Namun, apakah ada solusi untuk terhidar dari riba? Setidak-tidaknya hanya debunya saja?

Jika kita mengikuti solusi dari sistem ribawi saat ini, solusi yang ditawarkan adalah riba lagi!. Betul, kegiatan riba saja sudah haram, lah ini ditawarkan riba lagi. Pinjaman uang dengan cicilan ringan dan bunga yang sangat kecil, yang mana proses seperti ini terus berputar layaknya lingkaran setan.

Naudzubillahi min dzalik…

Semoga intro dari artikel sederhana ini bisa membuka wawasan kita akan bahaya riba. Pada artikel selanjutnya (InsyaAllah minggu depan), saya akan sedikit bahas apa saja yang termasuk dalam kategori riba.

Artikel ini akan dilanjut ke Bagian 2…

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Seratus Persen

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saya tiba-tiba teringat salah satu nasihat dari Pak Ditdit yang disampaikan oleh beliau ketika saya bertemu di Bogor. Di nasihat itu beliau bertanya kepada saya,

Mam, kalau kamu nanti punya anak 1, berapa persen kamu akan mencurahkan waktu kamu ke dia?

Lalu saya jawab,

Seratus persen Pak.

Setelah itu beliau bertanya lagi kepada saya,

Kalau kamu nanti punya anak 2, berapa persen kamu akan mencurahkan waktu kamu ke kedua anak kamu?

Saya terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang ingin saya lontarkan kepada beliau. Langsung saja saya tanpa berfikir panjang menjawab,

Lima puluh persen dan lima puluh persen Pak.

Seakan-akan merasa sombong dengan jawaban tersebut, saya jawab dengan yakin bahwa jawaban itu akan benar. Tetapi ternyata tidak.

Seharusnya kamu mencurahkan waktu untuk kedua anak kamu masing-masing seratus persen. Sehingga tidak satupun perhatian kamu akan berkurang ke masing-masing anak kamu nantinya.

Seratus Persen
Seratus Persen (sumber: http://motivationalmemo.com)

Mendengar jawaban terseubut, saya langsung manggut-manggut sambil memikirkan di dalam hati, “benar juga ya, kalau jadi 50%, berarti kan perhatian anak pertama harus dikurangi untuk dibagi ke anak kedua”.

Begitulah nasihat yang beliau sampaikan kepada saya. Di dalam hidup kita, jika kita mendapatkan hal baru yang harus kita kerjakan, seharusnya fokus kita bukan malah menurun lantaran ada hal baru. Sebaiknya tambahkan fokus kita sehingga masing-masing nilainya menjadi seratus persen.

Atur waktu, atur cara kerja, atur waktu bangun tidur, atur makan, atur pola hidup dan lain-lain sehingga kita bisa me-manage waktu dengan baik, agar kita bisa tetap fokus ke hal-hal baru kita dengan tetap tidak melupakan hal-hal yang lama, agar nilainya tidak berkurang, tetap 100%.

Siang itu saya mendapat banyak sekali nasihat yang diberikan oleh beliau, dan sampai saat ini saya tetap mengusahakan agar apapun yang saya kerjakan saya harus bisa fokus 100%.

Meskipun saat ini fokus kita masih berkurang karena hal-hal baru, seharusnya kita bisa lebih meningkatkan fokus kita di angka yang sama-sama maksimal. Hindari hal-hal yang tidak berguna, dan maksimalkan angka 100% pada hal-hal yang menurut kita sangat amat penting.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Manfaat dan Berkah

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Biasanya, dalam kegiatan mencari ilmu, kita mencari manfaat dari ilmu tersebut. Kita berharap dengan ilmu yang kita dapat, kita juga berharap mendapatkan hasil, yang biasa disebut manfaat. Tapi ternyata, manfaat saja tidaklah cukup.

Seperti layaknya rezeki yang halal, tentu tidak akan lengkap jika tidak ada toyyiban. Halal itu bisa bagaimana cara mendapatkan harta, atau jenis harta tersebut, sedangkan toyyiban itu adalah baik untuk si penerima rezeki tersebut. Jadi misal kita mendapatkan rezeki halal, tetapi tidak toyyiban ya itu rasanya kurang lengkap saja.

Untuk bahasan tentang halal dan toyyiban, Anda bisa lebih lanjut baca di artikel blog sahabat saya di sini.

Nah, dalam berilmu pun, ternyata manfaat saja tidak cukup. Ada satu hal lagi yang perlu kita perhatikan baik-baik. Yaitu adalah Berkah. Berkah bisa secara sederhana diartikan sebagai “Yang mendatangkan kebaikan bagi si pelakunya”.

Jadi misalkan kita belajar suatu ilmu, katakanlah tentang adab-adab Rasulullah. Kita bisa saja mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut, yang mana kita bertambah ilmunya, dari yang semula tidak tahu, menjadi tahu.

Tetapi, ternyata setelah mendapatkan ilmu, perilaku kita tetap sama saja seperti itu, yang ternyata tidak membawa kebaikan bagi kita. Jadi meskipun manfaatnya dapat, tetapi berkah nya belum bisa di dapatkan.

Manfaat dan Berkah
Manfaat dan Berkah (sumber: http://hidupberkah.com/)

Berkah itu bisa didapat salah satunya dengan menghormati guru,  menghormati waktu yang diluangkan untuk belajar. Sehingga setelah mendapatkan ilmu, nantinya ilmu kita bermanfaat untuk diri kita sendiri (terlebih untuk orang lain) dan juga mendatangkan kebaikan pula untuk kita. Sehingga jika kita mendapatkan berkah, tentunya hidup kita akan lebih baik lagi kedepannya.

Jika hidup kita semakin baik, kita bisa meneruskan ilmu yang kita dapat tadi karena manfaat dan keberkahannya.

Oh iya, jika hanya mendapat manfaat tetapi tidak mendapatkan berkah. Biasanya sebanyak apapun manfaat yang didapat, tetapi tanpa berkah didalamnya. Orang tersebut akan sulit sekali untuk menularkan ilmunya kepada orang lain, karena ilmu yang didapat tidak membawa keberkahan bagi dirinya, hanya sekedar bermanfaat.

Ini semacam teguran bagi kita semua, semoga kedepannya, dalam berilmu, kita bisa mengejar keduanya, yaitu manfaat dan berkah. Dan semoga kita bisa terus memberikan ilmu-ilmu kita agar bisa bermanfaat dan berkah untuk orang lain juga (Jadi tidak hanya bermanfaat dan berkah untuk diri sendiri, tapi untuk orang lainnya juga)

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…