Imam Herlambang Blog

Menu

Category: Kisah Hidup

Menilai Masa Lalu Seseorang

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Mungkin sampai saat artikel ini ditulis, masih ada orang yang sudah bisa memaafkan orang yang telah menyakitinya, sudah bisa menyembuhkan luka nya dari luka celurit yang menusuk perutnya. Tetapi mungkin juga, ada beberapa orang yang belum bisa memaafkan, atau dalam kata lain, masih menilai orang tersebut dari perlakuan di masa lalu nya.

Misal saja, ada perlakuan yang tidak baik, perlakuan jahat seseorang kepada kita, dan dia sudah minta maaf ke kita. Kita sudah memaafkannya, tetapi kita masih tidak suka dengan perbuatan di masa lalunya. Perbuatan tersebut masih terkenang, tersimpan rapih di dalam memori kita. Yang jika itu muncul, rasa maaf yang sudah kita berikan, otomatis akan hilang, dan posisinya akan tergantikan kembali dengan perasaan kesal, bahkan bisa jadi perasaan dendam. Hal seperti ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Karena jika saja itu terjadi, sehebat apapun kita memaafkan seseorang, tetapi jika kita tidak bisa memaafkan masa lalunya, akan tetap saja ada calon perasaan dendam hadir di hati kita. Bisa di bilang, maaf yang kita berikan tersebut akan percuma, lantaran jika kita menenang kembali masa lalu orang tersebut, kita langsung terbawa emosi.

Tidaklah baik menilai masa lalu seseorang, karena yang namanya manusia, di dalam hidupnya pasti akan mengalami proses perubahan. Entah dari kondisi terpuruk kepada kondisi bahagia, atau bahkan sebaliknya. Itu sudah hal yang lumrah yang pasti terjadi oleh manusia.

Yang perlu kita sadari adalah, bahwa manusia memiliki hati nurani, hati bersih yang tidak bisa kotor oleh apapun, yang selalu mengatakan kebenaran. Dari hati nurani itulah, seseorang bisa berubah, bertransformasi menjadi lebih baik, bisa cepat ataupun lambat, tetapi yang pasti proses perubahan itu tidak bisa kita lihat secara cepat maupun lambat.

Ada orang yang kita tidak bertemu selama 1 minggu saja, sikapnya sudah berbeda. Ada yang bahkan 1 hari, orang tersebut sudah berubah sikap. Itulah transformasi diri.

Yang pasti, jika memang kita selalu menilai masa lalu seseorang hanya karena masa lalu mereka begitu buruk, begitu jahat kepada kita. Cek kembali sifat dia saat ini, bisa jadi sifat nya sekarang sudah berubah. Bisa jadi saat ini dia bisa memberikan kebahagiaan, potensi untuk sama-sama bertransformasi bersama.

Hargailah proses transformasi orang tersebut. Jika memang orang itu bersungguh-sungguh atas perubahan dirinya, pastilah orang itu menjadi orang yang lebih baik dari masa lalunya. Sehingga kita hanya menilainya dari masa yang sekarang.

Dan, maafkanlah mereka atas perlakuannya keseluruhan waktu, bukan hanya yang terjadi saat ini, tetapi maafkanlah sekaligus dengan masa lalunya. Agar kelak, calon-calon dendam tidak hadir di hati kita.

Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. – (QS. Al-Baqarah:216)

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Memaafkan Diri Sendiri

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Pernahkah Anda mengalami, saat-saat di mana Anda melakukan kesalahan yang memang benar-benar salah Anda sendiri? Tenang saja, semua orang kebanyakan pasti akan menjawab pernah, demikian juga dengan saya.

Misalkan sebagai contoh, jika kita seorang pengendara motor, namun melanggar beberapa aturan, misalkan tidak memakai helm. Dan tiba-tiba di tengah jalan, ada orang yang menabrak motor kita, sampai kita terjatuh, tentunya dalam kondisi ini, kita lantas langsung kesal karena kita di tabrak.

Tangan lecet, kaki lecet, motor rusak, kepala berdarah. Tentunya ini jelas-jelas kesalahan kita, karena kita dari awal tidak memakai helm dan dengan sombongnya kita berpendapat bahwa nanti di tengah jalan tidak terjadi apa-apa. Padahal, ada banyak sekali kejadian yang tidak bisa kita duga-duga. Begitu terjadi kejadian yang tidak kita inginkan, barulah kita berkata “ah sial!, gua ga pake helm“, dan banyak kata-kata serupa lainnya yang sering muncul ketika musibah datang.

Selanjutnya, kita merasa bersalah kepada diri sendiri. Mau marah, tapi ini adalah kesalahan kita, dan bayang-bayang kesalahan kita pun akan terus terbawa sampai berhari-hari. Atau bahkan misal kejadiannya berbeda, yaitu misalkan kita menabrak orang lain karena kita tidak fokus dalam berkendara, tentunya ini akan lebih lama lagi bayang-bayang yang terus menghantui pikiran kita.

Karena kita tidak fokus, uang ganti rugi melayang, yang seharusnya uang itu berguna untuk yang lain. Tentunya kondisi ini sering sekali kita alami, tidak hanya dalam berkendara saja, namun dalam kehidupan sehari-hari kita.

Anda pernah mengalami hal serupa? Saya sering sekali…

Namun, untuk bisa memaafkan diri sendiri itu ternyata tidaklah mudah seperti memaafkan orang lain, kenapa demikian? Karena yang membuat kita marah adalah diri kita sendiri, dan kita harus memaafkan orang yang membuat kita marah, yaitu tetap diri kita sendiri.

Tentunya ada 2 perasaan yang saling bertabrakan yang bersumber dari tubuh yang sama, dan butuh kerjasama antara kedua perasaan tersebut untuk bisa terbebas dari perasaan yang jelek itu.

Perasaan pertama adalah perasaan mengaku salah dan kesal karena kita melakukan sesuatu yang tidak kita sengaja, tetapi efeknya besar. Perasaan kedua adalah perasaan bimbang, bagaimana untuk menghilangkan perasaan tersebut.

Seperti yang sudah ditulis di atas, bahwa memaafkan diri sendiri itu tidak mudah seperti memaafkan orang lain, tetapi bukan berarti hal itu tidak bisa kita lakukan.

Hal termudah yang sering saya lakukan untuk memaafkan diri sendiri adalah dengan cara menyadari, bahwa kesalahan yang kita buat itu memang kesalahan kita, walaupun kita memang tidak sengaja melakukannya. Dengan menyadari bahwa kita bersalah, itu sudah satu tingkat untuk memaafkan diri sendiri.

Berikutnya adalah dengan merilekskan diri, bahwa itu memang sudah terjadi dan tidak bisa kita cegah, semua sudah menjadi takdir-Nya. Yang harus kita lakukan adalah menerima takdir-Nya dengan ikhlas, bahwa itu memang yang terbaik yang ALLAH berikan untuk kita.

Dengan dua tips sederhana di atas, biasanya dalam beberapa hari saja, ingatan akan bayang-bayang yang tidak kita inginkan akan segera pergi dengan sendirinya. Pertempuran kedua rasa tersebut sudah tidak terjadi lagi.

Berdamailah dengan diri sendiri dengan cara memaafkan kesalahan apapun yang kita lakukan, dengan begitu ketenangan diri akan kita dapatkan.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Back To School

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Kemarin, saya berkesempatan mengantarkan adik saya ke Sekolah Dasar Negeri Depok Jaya 2, yang mana sekolah tersebut adalah tempat adik saya bersekolah dulu. Tidak berbeda dengan adik saya, saya pun satu sekolah dengannya waktu SD dulu kala.

Saat mengunjungi sekolah tersebut, banyak sekali hal-hal yang berubah dari sekolah saya. Banyak guru-guru baru yang hadir, dan tidak sedikit juga guru-guru lama yang dulu pernah mengajar saya, sekarang sudah pindah dan sudah pensiun.

Kenangan yang tercipta kembali di pikiran saya adalah, ketika saya melihat abang-abang tukang jualan yang ternyata setelah hampir 10 tahun masih tetap jualan makanan yang sama, harga yang tidak begitu berubah, tempat yang sama (tempat dagangnya ya di situ-situ saja), dan yang mengejutkan saya, ternyata ada 2 abang-abang tukang jualan itu masih mengingat saya.

Ternyata mengingat masa kecil itu memang memberikan kebahagiaan bagi saya, terutama saat saya mengunjungi satu per satu daerah yang dulu pernah saya singgahi semasa kecil saya. Mulai dari kelas, lapangan, tukang jualan yang ternyata masih jualan makanan yang sama, kantin tempat dulu saya jajan nasi goreng murah meriah.

Hal itu sampai sekarang belumlah hilang, masih tersimpan rapih di sana, dan masih diulang-ulang saja kejadian tersebut, karena setiap tahunnya, pasti ada saja anak SD baru yang hadir. Begitupun seterusnya.

Dengan mengunjungi sekolah-sekolah di masa kecil kita, kita juga bisa menjalin relasi terhadap orang-orang yang dulu pernah kita kenal. Bisa bersilaturahim, ngobrol dan tentunya tetap mengenang masa-masa “bodoh” kita semasa kita kecil dahulu.

Oh iya, saya sempatkan pula untuk foto beberapa lokasi yang memberikan memori yang kuat terhadap saya, diantaranya tempat berjualan abang-abang, lapangan tempat dulu saya dan teman-teman bermain benteng (mungkin sudah ada beberapa orang yang lupa), tempat saya jajan di kantin belakang.

Jajaran Abang Jualan
Jajaran Abang Jualan
Tukang Fried Chicken
Tukang Fried Chicken (Kulit Ayam yang di buat seperti Ayam Goreng)
Abang Batagor Langganan
Abang Batagor Langganan
Suasana Sekolah
Suasana Sekolah
Lapangan Sekolah
Lapangan Sekolah (tempat dulu saya bermain dengan teman-teman yang lain)
Kantin
Kantin

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda mengunjungi sekolah-sekolah Anda terdahulu?

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Ketika Hulu Tidak Teratur

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Pernah terpikirkankah oleh kita bahwa ada suatu saat di mana keadaan pada hulu (atas) akan tidak seimbang pasokannya terhadap hilir (bawah)? Sebagai contoh supplier sayuran yang sebagai hulu kehilangan seluruh sayurannya akibat badai yang menerjang, dan semua itu akan memperhambat proses dari hulu ke hilir (pembeli sayuran).

Kisah lain, saat bagian hulu yang bertugas mengantarkan bahan bakar untuk di pasok kepada bagian hulu (pom bensin) tiba-tiba mengalami gangguan dalam proses kerja nya, apa yang terjadi? semua akan tidak teratur, semua akan hancur berantakan.

Saat air di pegunungan tiba-tiba aksesnya di tutup oleh sebagian orang ‘nakal’ yang hanya ingin meraup keuntungan, maka banyak orang di bawah pegunungan aktivitasnya terganggu, tidak bisa mandi, tidak bisa minum, dan lain sebagainya, ini bukti bahwa hulu dan hilir saling berhubungan erat dan tidak bisa terpisahkan.

Begitulah yang kini terjadi di sekitar kita, kondisi hulu yang ada pada tata sistem di sekitar kita tidak berjalan sebagaimana mestinya. Idealnya, apa yang didatangkan dari hulu adalah baik, lancar, dan yang pasti berkualitas. Baik artinya, apa yang dikirim dari hulu tidak ada kerusakan sedikitpun ketika mencapai hulu, lancar berarti apa yang di kirim dari hulu tidak ada hambatan sedikitpun, berkualitas maksudnya, apa yang dikirim bukan hanya baik, tetapi berkualitas.

Contoh kecil saja yang akan menghambat proses jalannya pengiriman dari hulu ke hilir adalah regenerasi dari sebuah generasi. Saat ini Negara kita mengalami krisis generasi, yaitu minimnya generasi unggulan dari orang-orang yang telah dicetak di dalam dunia pendidikan, khususnya dalam dunia Universitas. Karena kalau generasi Mahasiswa di cetak dengan sebaik mungkin, maka regenerasi kaum berikutnya pun akan ikut baik, ibarat hulu dan hilir.

Jika hulu nya baik (generasi yang unggul), maka proses jalannya pengiriman contoh perilaku terhadap hilir akan baik pula, jika hulu nya buruk (generasi hancur), maka proses tersebut ikut hancur.

Kita tidak bisa mengharapkan 100% untuk adanya generasi hulu yang baik, tidak pula kita bisa mengharapkan 100% untuk hilir supaya tidak terpengaruh generasi hulu yang buruk.

Yang bisa kita lakukan adalah, kita harus menjadi generasi hulu yang baik, dimulai dari diri kita sendiri, dengan mematuhi segala aturan yang ada, contohnya dimulai dari tidak merokok, tidak mabuk-mabukkan, tidak buang sampah sembarangan, tidak menerobos lampu lalu lintas (berhenti di belakang garis putih ya tentunya), tidak mengambil jalan terotoar jika kondisi jalan macet, dan banyak hal lainnya.

Jika saja sudah banyak orang yang menerapkan hal demikian, saya bisa yakin kita akan menjadi generasi unggul, untuk bisa kita tularkan kepada hilir (yaitu generasi penerus kita).

Tetapi jika kita tidak peduli dengan adanya perubahan generasi, dengan hanya menyalahi kaum atas, kaum generasi yang sudah-sudah, tentu kita termasuk generasi hilir yang buruk. Yang tentu akan menularkan keburukan kepada pewaris kita nanti.

Teruslah melakukan hal yang baik, hal yang menuntun kita kepada jalan kebaikan dan kebenaran. Yang tentunya akan menjadikan kita kelak sebagai generasi yang unggul.

Jadi… Tentukanlah pilihan kita sekarang, mau menjadi generasi unggul atau mau menjadi generasi yang biasa-biasa saja?

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. at-Tirmidzi)

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Ilmu dan Air

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Selalu saja ada hal yang bisa kita petik manfaat dan pelajaran setiap harinya, entah itu berasal dari kegagalan kita, ataupun kita belajar dari kekurangan atas hasil yang telah kita kerjakan.

Untuk artikel kali ini, saya mendapat inspirasi dari salah satu guru kebanggaan saya, saya banyak belajar dari beliau, lewat Seminar beliau yang ketika saya ikuti, saya selalu menangis menitihkan air mata saya, maupun melalui Twitternya. Untuk Anda yang belum tahu beliau, beliau adalah Pak Jamil Azzaini, seorang inspirator Sukses Mulia yang sudah mencetak banyak motivator-motivator hebat di bawah bimbingannya, kisahnya selalu mengharukan dan banyak orang mengambil sebagai inspirasi dan pelajaran.

Salah satu kisah Pak Jamil yang akan saya share di artikel ini adalah kisahnya tentang tanaman jagung yang beliau ceritakan. Orang Tua nya Pak Jamil (Bapak nya) mengibaratkan kita semua sebagai benih dari suatu tumbuhan (diceritakan tentang jagung).

Dibawah Tekanan
Untuk bisa tumbuh, benih tersebut harus di tanam di tanah, dan sudah semestinya harus di tutup oleh tanah, agar bisa tumbuh. Tentunya benih jagung tersebut tidak bisa tumbuh jika tidak di tanam di tanah, mungkin lama kelamaan akan mati dan membusuk jika tidak di tanam di tanah. Sedangkan Tanah ibarat tekanan yang menekan benih tersebut, kasihan sekali memang jagung tersebut tumbuh di bawah tekanan tanah.

Diri kita ibarat benih jagung tersebut, jika kita hidup dengan datar-datar saja, kemungkinan lama kelamaan kita akan menjadi terasingkan, tidak dibutuhkan orang lain. Dan mungkin meninggal orang biasanya. Dengan adanya tekanan, kita bisa tumbuh karena kita diharuskan melawan tekanan tersebut, itulah yang memicu kita untuk tumbuh lebih tinggi daripada sebelumnya.

Ilmu dan Air
Untuk bisa tumbuh lebih cepat, tentunya sebuah tumbuhan harus diberi air, disiram air secukupnya, sebagai nutrisi bagi tumbuhan tersebut, tanpa air, ia akan tetap mati kekeringan, mati karena layu. Dan ciri-ciri air adalah, air itu akan selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, tandanya bahwa air menyukai kerendahan.

Sama pula dengan diri kita, untuk bisa tumbuh, kita perlu air (ilmu), kita butuh ilmu untuk menjalani hidup kita, segala hal di dunia ini pasti memiliki ilmu, ada cara yang harus dilakukan. Bahkan Pak Ditdit pernah berkata, “Masuk Toilet aja ada aturannya”. Demikianlah ilmu, begitu penting bagi proses tumbuhnya kehidupan kita.

Begitupun ilmu, ilmu akan datang ke tempat yang rendah, maksudnya adalah, ilmu hanya akan datang kepada siapa saja yang merendahkan dirinya. Ilmu tidak akan datang kepada mereka yang sombong karena kelakuannya. Ingin memiliki ilmu? berendah dirilah kita, karena dengan sifat rendah diri itulah dengan mudah kita dapat menerima ilmu sebanyak apapun yang kita inginkan.

Pupuk
Kehidupan tumbuhan tidak terlepas oleh pupuk. Vitamin dan nutrisi bagi sang tumbuhan, untuk memberi kekuatan untuk tumbuh, memberi semangat untuk tumbuh. Pupuk pun banyak jenisnya, tetapi yang sering digunakan oleh para petani untuk tanaman adalah pupuk kandang.

Pupuk kandang, bau dan tidak mengenakkan yang semestinya tidak diberikan kepada tumbuhan. Tetapi kenyataannya berbeda, pupuk kandang tersebut justru mempercepat tumbuhnya si jagung tersebut, entah sampah apa yang diberikan kepada jagung tersebut, sehingga jagung tersebut tumbuh, tumbuh dan tumbuh.

Kita manusia untuk bisa tumbuh perlu adanya pupuk kandang, sesuatu yang sudah sangat jelas tidak diinginkan oleh tumbuhan dan manusia. Bagi manusia, pupuk tersebut adalah hinaan dari orang lain, kata-kata kotor yang keluar dari orang lain.

Dengan adanya hinaan, cemoohan dari orang lain akan menjadikan diri kita lebih bersemangat, lebih berani membuktikan bahwa kita sebenarnya bisa tumbuh lebih baik. Begitulah kira-kira analoginya.

Kesimpulan
Untuk bisa tumbuh secara optimal, kita membutuhkan Tekanan, Ilmu, dan Cobaan (biasanya hinaan) dari orang lain. Tanpa adanya salah satu tersebut, kita tidak bisa tumbuh. Sebut saja jika tumbuhan diberi pupuk tetapi tidak diberi air, otomatis tumbuhan tersebut akan tetap mati.

Begitupun dengan kita, jika kita selalu diberi celaan dan hinaan oleh orang lain, tetapi kita tidak memiliki ilmu, lama kelamaan kita hanya akan menjadi orang yang tidak berdaya. Ketiganya sangat diperlukan, bukan salah satu, tetapi keseluruhan.

Terima Kasih untuk Pak Jamil Azzaini atas inspirasinya yang begitu menggugah hati, yang begitu menginspirasi saya untuk bisa menulis artikel ini. Semoga kelak kita akan menjadi orang yang selalu tumbuh, yang hasilnya bisa dipetik oleh orang lain. Aamiin…

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Pelit Waktu

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Wahai diri, adakah kau merasa dirimu telah terbebas dari dosa, sehingga untuk bertemu Allah pun engkau merasa tergesa-gesa?

Tanyakan itu kepada diri kita, sebagai orang Islam yang dalam sehari, kita melaksanakan Shalat Fardhu 5 waktu. Berbincanglah kepada diri sendiri, tanyakan mengapa kita selalu saja tergesa-gesa dalam bertemu Allah pada waktu Shalat kita.

Teringat saat saya masih seumuran anak SMP, saya kenal beberapa teman di dekat rumah saya yang dalam hitungan 1 atau 2 menit, Shalat Dzuhurnya sudah selesai. “Wah cepet banget Shalatnya” ucap saya kepada dia. Lantas dia menjawab “Yang penting itu niat, Mam”.

Memang adakalanya perkataan itu benar, segala sesuatu itu yang penting niatnya, tapi entah kenapa niat tersebut tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan olehnya.

Dari situlah saya mengambil pelajaran yang amat penting bagi saya. Saya berkesimpulan bahwa, kalau memang diri kita memulai Shalat dengan niat, tentunya kita tidak akan tergesa-gesa dalam bertemu dan berbincang dengan Allah. Sama saja seperti kita sudah niat bertemu dengan seseorang yang spesial tentunya, kita merencanakan dengan baik, memakai pakaian yang rapih, dan tentunya setelah bertemu, kita tidak ingin sebentar saja bukan? Kita ingin sekali berlama-lama dengan mereka yang sangat spesial di mata kita.

Begitupun bertemu dengan Allah. Karena dari awal kita memang sudah niat untuk bertemu dengan-Nya, sehingga kita tidak mau berlalu begitu saja, karena yang kita temui bagi kita adalah Sang Pencipta kita, yaitu ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

“Wahai diri, seberapa sibukkah engkau sehingga engkau selalu tergesa-gesa (pelit waktu) dalam Shalat”

Ini pun menjadi bahan introspeksi bagi diri kita semua, sudahkah kita datang kepada-Nya dalam keadaan yang benar-benar suci? Sudahkah kita meluangkan waktu untuk Shalat dan bukan menyisakan waktu untuk Shalat? Tanyakan kepada diri kita masing-masing untuk bahan renungan diri.

Jika Shalat kita hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja, maka apa nikmat itu terasa? Jika Shalat yang dilakukan hanya sebentar saja, maka apa itu akan berbekas di hati? Jika Shalat yang dilakukan hanya sekedar ‘yang penting sudah Shalat’, maka apa pantas kita sudah merasa terbebas dari dosa? Jika pelit waktu terhadap waktu Shalat, maka apakah itu akan hadir kenikmatan dalam hati? Tanyalah kepada diri kita masing-masing.

Sungguh diri ini amat lemah, kecuali Engkau berikan kekuatan. Sungguh diri ini hancur berantakan kecuali Engkau selamatkan dengan Rahmat-Mu. Sungguh diri ini hina, kecuali Engkau berikan cahaya bagi diri ini.

“Kenikmatan jiwa ada pada ibadah. Jika tak hadir nikmat, periksalah hati yang mungkin sedang mengeras.” – Teddi Prasetya Y

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

KRL Ekonomi

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Hari Sabtu kemarin, saya berkesempatan menemani salah satu sahabat saya ke daerah Gondangdia, Jakarta Pusat. Pagi itu pukul 10-an saya berangkat bersamanya dari Stasiun Pondok Ranji, Bintaro, dan Alhamdulillah kami mendapatkan kereta Commuter Line menuju Gondangdia, yang tentu saja harus transit di beberapa stasiun, diantaranya adalah Stasiun Tanah Abang dan Stasiun Manggarai.

Berpergian dengan menggunakan kereta listrik menurut saya jauh lebih menyenangkan bagi saya, disamping biaya yang tidak terlalu mahal untuk ongkosnya, selain itu, menggunakan kereta listrik juga menghemat tenaga dan waktu dibandingkan naik mobil atau motor.

Apalagi ketika saya berangkat dari Stasiun Pondok Ranji menuju Stasiun Gondangdia yang saat itu saya naik kereta Commuter Line, tentu perasaan sejuk dan nyaman bisa dirasakan. Selain kereta Commuter Line memiliki fasilitas AC di dalam nya, kereta itu juga lebih cepat dibandingkan dengan kereta ekonomi, yang melaju lebih lambat daripada Commuter Line.

Beruntung kami pergi menggunakan Commuter Line, tetapi tidak untuk perjalanan pulang. Perlu diketahui bahwa sebenarnya tidak ada banyak kereta di jalur Stasiun Tanah Abang sampai dengan Stasiun Pondok Ranji, baik Commuter Line maupun kereta ekonomi.

Sekalinya dapat kereta, mau tidak mau harus naik kereta tersebut, jika tidak, maka untuk kereta berikutnya harus menunggu lama untuk itu. Akhirnya kami benar-benar naik kereta ekonomi untuk arah pulang. Tentu hal ini tidak kami harapkan sebelumnya, karena kami sudah membeli tiket untuk kereta Commuter Line. Tapi tidak mengapa lah, daripada harus menunggu Commuter Line yang lama, mending naik ekonomi saja.

Bagi saya, ini bukan pertama kalinya naik kereta ekonomi (yang harga tiketnya hanya 2 ribu rupiah), tetapi bagi teman saya, ini pertama kalinya dia naik kereta ekonomi. Banyak pemandangan yang bisa kami lihat di kereta ekonomi, tentunya bisa ditebak bahwa di angkutan umum selalu saja ada pengamen dan pedagang asongan yang mondar-mandir untuk berjualan.

Tetapi pemandangan tersebut justru menjadi momen yang saya senangi, karena saya bisa banyak bersyukur dari mereka, banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari mereka. Mulai dari cara berjualan yang aneh tentunya, cara mereka berbicara, tentang sopan satun dalam berjualan, bahkan dalam hal berjuang demi mencari nafkah, yang sampai artikel ini saya tulis, saya masih terus kepikiran dengan mereka yang bersusah payah mencari nafkah dibandingkan dengan mereka yang hanya bisa meminta-minta saja.

Padahal jika dilihat di kereta ekonomi, kebanyakan para pedagang asongan dan pengamen adalah mereka yang sudah berumur di atas 50 tahun, bahkan ada beberapa pengamen yang (maaf) tuna netra. Yang kalau dilihat sungguh akan membuat hati merasa kasihan, merasa bersyukur bahwa kita masih diberikan kelebihan dibanding mereka.

Pengalaman yang tentunya tidak bisa kami lupakan, berkesempatan naik kereta ekonomi, bertemu dengan banyak orang sederhana, bertemu dengan banyak pedagang asongan, bertemu dengan beberapa anak-anak yang putus sekolah, dan banyak pemandangan-pemandangan lainnya yang tidak bisa dilihat pada kereta Commuter Line.

Di akhir postingan ini, saya akan share beberapa foto yang saya ambil pada saat saya berada di dalam gerbong kereta ekonomi.

Mohon maaf bila gambarnya tidak terlalu jelas, karena saya foto menggunakan handphone saya, dan juga pada saat keadaan berdesak-desakan. Semoga Anda menyukai foto ini.

Suasana KRL Ekonomi
Suasana KRL Ekonomi
Suasana KRL Ekonomi
Suasana KRL Ekonomi
Suasana KRL Ekonomi
Suasana KRL Ekonomi
Tukang Tahu di KRL Ekonomi
Tukang Tahu di KRL Ekonomi
Tukang Kacamata di KRL Ekonomi
Tukang Kacamata di KRL Ekonomi

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Bangkai dan Berlian

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Hal favorit saya ketika saya sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat adalah mendengarkan radio. Banyak sekali ilmu-ilmu yang saya dapatkan ketika mendengarkan radio, banyak istilah-istilah baru, quotes-quotes baru yang sebelumnya terdengar asing bagi saya. Ada juga sesi di mana radio tersebut memberikan suatu inspirasi bagi saya, yang akan saya tuangkan ke dalam postingan ini tentang Bangkai dan Berlian.

Apa yang ada di benak Anda ketika Anda mendengar kata “Bangkai”? Tentunya tidak mengenakkan bagi Anda, pun bagi saya demikian. Bangkai adalah sesuatu yang tidak kita sukai, yang bisa hadir di sekitar kita. Bangkai bisa mudah tercium dengan indera penciuman kita, bangkai yang bagi kita tidak berguna, seketika respon kita adalah negatif, tidak mengenakkan dan sebisa mungkin harus menjauhinya. Kita bisa mendeteksi bangkai dengan sangat mudah, dengan sangat cepat ketika kita menyadari bahwa ada yang tidak beres di sekitar kita.

Berlian
Berlian

Bagaimana jika Anda mendengar kata “Berlian”? Waaaahhh… Tentunya Anda akan sangat familiar dengan kata yang satu ini, bahkan Anda akan amat senang dan bahagia bila bisa menemukan berlian. Sayangnya, berlian sangat susah sekali untuk ditemukan, bahkan hanya sedikit saja orang-orang yang bisa menemukan berlian, karena sifat berlian itu sulit untuk ditemukan. Tetapi sekalinya kita bisa menemukan berlian, maka kita akan senang, bahagia, dan berbinar-binar menyadari bahwa kita telah menemukan berlian. Sekali lagi… Sayangnya berlian itu sangat sulit untuk ditemukan.

Apa Hubungan Bangkai dan Berlian?
Dari program radio yang saya dengar saat sedang berada di perjalanan, pembicara radio tersebut mengibaratkan bahwa Bangkai adalah kesalahan orang lain, dan berlian adalah potensi diri kita. Saat mendengar kata-kata tersebut, saya langsung terdiam beberapa saat…

Ternyata kita (manusia) lebih pandai menemukan bangkai daripada menemukan berlian. Memang menemukan bangkai itu sangat mudah, tercium dengan jelas dan terlihat sekali bahwa itu adalah bangkai. Lain halnya dengan berlian, kita sangat sulit untuk menemukannya.

Kita lebih pandai menemukan kesalahan-kesalahan orang lain, tanpa menyadari sebenarnya diri kita juga banyak salah. Kita terlalu fokus dengan bangkai-bangkai yang bertebaran di luaran sana, kita terlalu sibuk menilai orang lain ketimbang diri kita sendiri. Akibatnya berlian yang nilainya sungguh berharga (potensi diri), kita abaikan… Padahal berlian itu amat mahal harganya dibandingkan dengan bangkai.

Kita lebih senang mencari bangkai daripada mencari berlian, padahal dalam kehidupan nyata kita sudah tahu bahwa berlian itu jauh-jauh lebih baik daripada bangkai, jauh-jauh lebih berharga daripada bangkai. Tetapi tetap saja kita selalu saja mencari-cari bangkai.

Kita melupakan hal terpenting dari diri kita (berlian). Di dalam diri kita banyak sekali berlian-berlian yang belum kita temukan, yang bila kita temukan tentunya akan membantu hidup kita menjadi jauh lebih berarti. Berlian itu pun hilang begitu saja saat kita fokus terhadap bangkai-bangkai yang bertebaran.

Kesimpulan
Mulai sekarang, fokuslah untuk mencari berlian-berlian di dalam diri kita, temukan itu dan raih dengan erat. Sadari betapa pentingnya berlian-berlian yang kita miliki. Dan janganlah terfokus kepada bangkai, karena dengan terfokus kepada bangkai, kita hanya akan melupakan potensi diri kita sendiri.

Sayang sekali jika kita terlalu sibuk dengan mengurusi kekurangan-kekurangan orang lain. Akan lebih baik jika kita meningkatkan potensi diri kita dengan mencari berlian-berlian di dalam diri kita.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Salah Idola

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“Payungnya Pak…”

“Pak… Payungnya Pak…”

“Pak Stasiun Pak, Payungnya…”

Terdengarlah suara anak separuh baya yang ukuran tubuhnya jauh lebih pendek dari panjang payung yang mereka pegang, namun usaha untuk bekerja demi mendapatkan recehan tetap mereka lakoni sebagaimana mestinya walau taruhannya mereka harus berbasah kuyup dan kehilangan payungnya untuk disewakan kepada orang yang kehujanan.

Deras hujan semakin lama semakin menjadi… Banyak suara klakson terdengar dari mobil Angkutan Umum berwarna hijau yang saling tidak sabar untuk segera mendapatkan penumpangnya. Tertulis di sana “03”, Angkutan jurusan Bubulak – Baranangsiang. Tidak satu orangpun terlewat untuk mereka tawari menyewa payungnya, namun nasib tidaklah mujur, mereka masih saja berdiri di depan tempat perbelanjaan yang tepat bersebrangan dengan Stasiun Bogor.

Saya yang beberapa waktu yang lalu baru saja keluar dari Angkutan Umum 03, sepulang dari daerah Cimande, langsung berlari ke tempat perbelanjaan tersebut untuk meneduh, meskipun akhirnya rintikan hujan membasai sebagian baju saya, dan sebagai korbannya sendal saya pun ikut basah karena genangan air tersebut. Terlihat banyak orang di sana yang mempunyai tujuan yang sama dengan saya, karena hujan semakin derasnya.Termpat perbelanjaan tersebut dipadati banyak orang bukan karena tempat itu sedang mengadakan diskon besar-besaran, melainkan banyaknya orang yang meneduh karena takut basah kuyup akibat hujan.

Sambil melihat pemandangan sekitar, saya melihat salah seorang lelaki muda mengenakan pakaian yang jika dilihat dari jauh, pasti kita sudah bisa menebak bahwa itu adalah kaos band yang sering di jual di stasiun-stasiun atau tempat pedagang kaki lima.

“Ah… Pemandangan yang sudah tidak asing lagi ini sih” ujar saya dalam hati

sampai saat itu saya lengah sekitar 5 menit sambil memandangi Angkutan Umum, Hujan, Ojek Payung dan kondisi sekitar

“Kenapa jadi banyak yang pake kaos band yang sama?” sambil heran karena baru sadar

Terlihat jelas ada beberapa teman-temannya yang memakai kaos band tersebut yang sama, dengan warna yang sama pula, dan dengan bentuk yang sama. Mereka bercanda satu sama lain, terdengar tawa mereka dengan jelas meskipun suara hujan yang amat besar. Setelah saya sadar, ternyata orang-orang tersebut bertujuan untuk menonton konser band idola nya… Sambil terlihat pula banner yang mereka buat dan mereka tunjukkan di depan umum.

Pemandangan tersebut membuat saya berfikir sejenak… “Kenapa mereka-mereka itu sampe bela-belain ujan-ujanan demi nonton konser idola mereka, yang sebenarnya kerugiannya jauh lebih banyak daripada keuntungannya?” Mereka rela hujan-hujanan, rela meneduh dan menunggu untuk waktu yang sangat lama hanya untuk menonton band idola mereka. Sambil melihat ke arah belakang, ternyata ada beberapa wanita berkerudung yang rela ikut hujan-hujanan bersama temannya. Dan lagi-lagi, baju yang sama yang saya lihat dengan beberapa orang sebelumnya.

Sebuah fenomena yang menurut saya kurang pas untuk ditempatkan pada kenyataan yang ada. Saat idola mereka sudah digantikan dengan pemain band, dengan artis, dengan Public Figure lainnya. Yang seharusnya mereka mengidolakan orang yang benar-benar memberi contoh yang baik bagi kemajuan umat manusia.

Tidak salah memang mengidolakan mereka, tetapi akan menjadi sebuah kesalahan jika mengidolakan seseorang yang belum pasti benar tersebut secara berlebihan, bahkan sampai rela hujan-hujanan pula! Bahkan ada pula yang rela membayar mahal untuk suatu pertunjukkan yang hanya berlangsung selama 1 jam saja, demi hanya melihat idola nya (padahal melihatnya dari jauh).

Mereka-mereka yang bersenang-senang di sana telah kehilangan idola asli mereka, idola awal mereka. Idola yang benar-benar patut menyandang gelar “Idola Seluruh Zaman”, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Saat mereka rela hujan-hujanan untuk bertemu sang idola mereka, apakah mereka akan rela untuk hujan-hujanan pula untuk bertemu Rasulullah SAW?

Saat mereka rela membayar mahal untuk bertemu sang idola mereka, apakah mereka akan rela pula mengeluarkan uang untuk bertemu Rasulullah SAW?

Saat mereka rela untuk berjalan jauh untuk bertemu sang idola mereka, apakah mereka akan rela pula berjalan jauh untuk bertemu Rasulullah SAW?

Yang tentunya bagi kita, derajat Rasulullah SAW itu jauh lebih-lebih tinggi daripada mereka yang di idolakan oleh orang-orang tersebut, jauh lebih-lebih mulia daripada mereka yang sering di idolakan oleh kaum muda-mudi. Tetapi mengapa faktanya sekarang berbalik?


Hanya kesadaran hati-lah yang dapat menjawabnya, hati yang benar-benar yakin akan idola sesungguhnya, yakni Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, hati yang benar-benar sadar tentang apa yang kebanyakan saat ini terjadi justru lebih banyak nilai-nilai negatifnya daripada nilai positifnya.

Silahkan kita jawab dengan pikiran terbuka, dengan akal dan hati yang penuh kesadaran…

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Pola Hidup Sehat (Bagian 1)

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Pada artikel sebelumnya tentang Hidup Sehat Sebagai Rasa Syukur, saya sudah memaparkan sedikit tentang bagaimana seharusnya kita hidup sehat, menjaga kesehatan tubuh kita ini dengan tidak merusak tubuh kita tentunya. Pada artikel kali ini saya akan memberikan dasar pemahaman tentang hidup sehat yang saya dapatkan dari 2 buah buku yang memaparkan logika penting tentang kesehatan.

Hidup Sehat Solusinya
Saya ingat dulu ketika saya mau diet karena berat badan saya yang begitu tinggi, saya mencari berbagai cara untuk diet (terlebih saya mencari cara untuk diet instan), saya mencari di Google tentang suplemen untuk diet, dan sampai mencari artikel-artikel tips diet yang baik dan benar.

Sampai akhirnya saya menemukan banyak tips tersebut dan membeli beberapa e-book tentang diet dan juga membeli beberapa suplemen diet, ternyata itu tidak membantu. Dikarenakan pola makan saya dan konsep diet saya masih salah.

Akhirnya saya bertemu dengan salah satu teman saya di salah satu percakapan di Yahoo! Messenger. Dia berkata bahwa diet yang benar itu adalah dengan cara Hidup Sehat dan menjaga pola makanlah intinya. Dari situlah saya sadar bahwa diet itu adalah 2 hal, yang pertama itu adalah dengan menjadikan diri kita sehat, yang kedua adalah menjaga pola makan kita.

Percuma juga berarti jika kita memakan banyak suplemen apapun jika itu hanya membuat tubuh kita tidak sehat, dan kita tetap tidak menjaga apa yang kita makan. Itu hanya akan berefek buruk ke tubuh kita nantinya.

Pencarian Hidup Sehat
Pencarian tentang Hidup Sehat dimulai ketika saya membuka twitter saya dan melihat salah satu user yang sering kultwit1 tentang kesehatan dan pola makan sehat. Salah satu tweet yang membuat saya akhirnya membeli buku dia adalah seperti ini : “Saat tubuh sehat, tubuh akan menyesuaikan beratnya sendiri”. Wah! ini keren banget menurut saya, berarti inti dari diet itu adalah menyehatkan tubuh. Dari situ lah kemudian saya membeli buku nya tersebut, dan memang isi buku nya itu sangat masuk akal untuk di praktekkan. Dan akhirnya sekarang… Alhamdulillah berat badan saya terus menurun dengan membuat tubuh saya sehat…

Sehat Bukan Dengan Obat
Saya yakin, ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kita tubuh ini dengan suatu kemampuan Self Healing yang membuat tubuh kita bisa menyembuhkan dirinya sendiri tanpa bantuan obat. Pendapat ini mungkin agak aneh bagi sebagian orang, tetapi coba kita lihat jauh ke belakang pada saat Rasulullah SAW hidup. Beliau sangat menjaga apa yang dia makan, dan beliau tetap sehat-sehat saja, bahkan selama hidupnya, beliau hanya terkena 2X penyakit saja (menurut beberapa riwayat).

Ini merupakan suatu bukti bahwa dulu Rasulullah SAW itu sehat bukan dengan obat, melainkan dengan menjaga apa yang beliau makan. Dengan demikian, saya tetap yakin kita bisa sehat tanpa bantuan obat sekalipun.

Saat ingat ketika saya masih berumur belasan tahun (sekitar umur 15 tahun), Saya mempunyai penyakit batuk yang cukup parah, saking parahnya, batuk tersebut tidak bisa sembuh dalam waktu beberapa minggu, beda dengan yang lain yang memiliki penyakit batuk yang bisa sembuh dalam waktu beberapa minggu saja.

Penyakit batuk saya tersebut paling cepat sembuh itu sekitar 1 bulan. Dan jika belum 1 bulan, penyakit batuk tersebut belum bisa sembuh. Akhirnya Ibu saya membawa saya ke Dokter untuk di periksa. Setelah pulang dari Dokter, tentu akan ada obat yang di bawa pulang dengan berbagai macam bentuk, ada obat cair (syrup), ada tablet, ada yang bubuk juga.

Dan saya harus meminum obat itu sampai obat itu habis. Tetapi ternyata sampai obat itu habis pun, sakit batuk saya tidak tersembuhkan juga. Akhirnya saya dengan beranikan diri untuk tidak meminum obat lagi, karena saya begitu tidak percaya dengan obat tersebut. Hehehe

Akhirnya sekarang saya tahu, dengan meminum obat kita tidak bisa sehat sepenuhnya. Obat memang membantu kita untuk sembuh dari penyakit, tetapi tidak untuk sehat. Sehat itu masalah bagaimana kita menjaga tubuh kita agar tetap maksimal menjalankan berbagai macam fungsi nya. Sembuh dan Sehat itu sangatlah berbeda, Sembuh itu belum tentu kita sehat, sedangkan Sehat itu sudah bisa dipastikan bahwa kita sudah sembuh dari suatu penyakit dan tubuh kita bekerja dengan maksimal.

Kesimpulan
Jika memang saat ini kita dalam keadaan kurang sehat, tentu ada yang salah dari cara makan kita, atau pola hidup kita. Dengan sedikit memperbaiki kebiasaan-kebiasaan kecil kita, kita bisa membuat tubuh kita sehat dan berjalan normal seperti biasanya. Hidup Sehat adalah masalah bagaimana kita menjaga tubuh kita agar tetap berjalan normal dengan cara merubah kebiasaan makan kita, kebiasaan minum kita, kebiasaan mengkonsumsi obat-obatan kita. Dengan demikian kita tidak menjadi tergantung terhadap obat-obatan lagi atau makanan yang katanya sehat.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillah…


1. Kultwit adalah singkatan dari Kuliah Twitter, dimana ilmu bisa di sharing oleh pemilik akun Twitter dalam 140 karakter secara terus menerus