Imam Herlambang Blog

Menu

Category: Kisah Hidup

Mental Kaya dan Mental Miskin

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

5 tahun silam, atau lebih tepatnya saat saya masih mulai merintis berbisnis di internet, saya masih berfikiran kalau saya harus bisa mendapatkan uang dari internet. Bukan hanya itu, saya juga mencari cara agar apa yang lakukan semuanya harus minim keluar uang. Artinya, saya hanya keluar uang untuk hal-hal yang benar-benar penting.

Akhirnya, tanpa sadar selama beberapa tahun saya menjadi orang yang bermental miskin. Saya masih menggunakan Windows bajakan, saya masih menyimpan lagu hasil download dari internet (meski sekarang juga masih ada beberapa), jika ada update ilmu Internet Marketing terbaru, saya lantas sering mencari download yang sudah tersedia tanpa pernah menghargai sedikitpun karya-karya mereka.

Bisa dibilang, mental miskin itu adalah mental yang hanya mau gratisan saja, bahkan kalau bisa tidak usah mengeluarkan uang sepeserpun! Betapa jahatnya saya dulu telah merampas hak-hak orang lain, tidak menghargai karya-karya mereka.

Sekitar hampir 3 tahun lebih bisnis online saya hanya berjalan ala kadarnya, tanpa ada penaikan yang signifikan. Akhirnya saya mulai sadar kenapa bisnis saya tidak ada kemajuan sama sekali. Mungkin salah satunya karena tidak ada eskalasi bisnis, itu juga benar. Tapi untuk bisnis online saya yang dulu, saya juga sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit.

Tapi saya menyadari bahwa ada gangguan mental pada diri saya yang salah. Saya mulai mencari tahu, dan perlahan saya mendapati bahwa di dalam dunia ini, ada yang namanya hukum sebab akibat. Apa yang saya lakukan, tentu akibatnya akan saya dapat. Kalau saya melakukan sesuatu yang benar, maka hasilnya pun akan benar. Jika salah, ya saya dapat akibat yang salah juga.

Mungkin saja dulu saya sering tidak adil pada hak-hak orang, sering melakukan download ilegal dan beberapa kejahatan-kejahatan digital lainnya. Tapi akhirnya saya sadar dan segera dengan cepat merubah hidup saya.

Saya mulai menghapus semua lagu-lagu yang ada di komputer saya, saya mulai menghargai karya-karya orang lain dengan membeli nya dan saya simpan dengan bangga, saya merasa percaya diri dengan menghargai karya mereka, saya mulai membeli Windows asli dan juga office asli.

Benar saja, ternyata penghargaan saya kepada mereka membuahkan hasil, hidup saya mulai berubah, mulai bisa merasakan ketenangan, mulai bisa jalan-jalan tanpa saya harus terikat dengan aktivitas menjemukan. Saya mulai menyadari bahwa saya sudah meninggalkan mental miskin saya, dan mulai berubah ke arah mental kaya.

Jika kita lihat, orang kaya selalu saja lebih banyak memberi daripada “meminta”, dibanding orang-orang miskin di jalanan yang hanya bisa meminta dan terus meminta. Itulah kenapa orang kaya semakin kaya, dan orang miskin ya semakin miskin. Semua pasti ada sebab dan akibatnya.

Tapi jangan salah, kadang punya banyak uang juga belum tentu bermental kaya. Banyak teman-teman saya yang sudah menghasilkan puluhan ribu dollar per bulan nya, ternyata masih mengkonsumsi barang bajakan, masih download illegal, masih menggampangkan urusan hak orang lain. Sungguh saya sangat menyayangkan hal tersebut.

Untuk Anda yang sekarang sedang membaca sebagian kisah kecil saya ini, jika memang Anda sekarang memiliki mental miskin, segeralah berubah. Memang nyaman menjadi orang yang terus-terusan bisa dikasih, tapi percayalah lebih enak mempunyai mental kaya yang kapanpun bisa sharing kapanpun kita mau, dan berkahnya juga akan lebih besar.

Jika memang saat ini tidak mampu untuk membeli atau menghargai karya orang lain, tunggu lah sampai kita bisa membelinya, atau gunakan alternatif lain yang ada. Jika berkaitan dengan software komputer, cobalah untuk cari versi open source atau versi free, atau bisa gunakan versi trial dari software tersebut. Bukan malah mencari bajakan 🙂

Percaya deh, beli software asli itu menyenangkan. Kapanpun kita ada masalah, tinggal kontak saja mereka, dan mereka dengan senang hati akan membantu kita. Dan percaya juga, bahwa jadi orang yang lebih sering memberi itu rezekinya jauh lebih banyak daripada orang yang hanya bisa meminta-minta.

Semoga kita semua bisa merubah diri kita lebih baik, dari mental miskin ke mental kaya.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Mencatat

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Ada kalanya, seorang Blogger bingung dengan apa yang ingin di tulis di Blog, termasuk saya tentunya. Kadang harus memutar otak untuk waktu yang lama jika ingin memposting sebuah tulisan. Namun begitu di luar kegiatan blogging, ide itu kerap datang bermunculan.

Biasanya, ide-ide itu datang bermunculan pada saat waktu yang kita tidak inginkan. Kalau kita lengah, maka hilanglah ide itu. Dan saat mau posting artikel, keadaan blank lalu menghampiri lagi. Ini sangat wajar.

Tetapi saya punya solusi yang lumayan sederhana untuk diaplikasikan. Tapi walaupun tips ini sederhana, kalau tidak dilakukan ya tetap saja otak akan blank lagi saat mau mengeksekusi ide-ide yang sudah kita taruh di otak.

Solusi sederhana nya adalah Mencatat!

Mencatat
Mencatat (sumber: http://mujahidahilmiy89.wordpress.com)

Ya betul, saat ide datang, segeralah untuk di catat. Entah di handphone atau di kertas. Yang penting, saat ide muncul, langsung di catat. Kalau saya, ketika dapat ide di rumah, saya langsung catat di aplikasi online saya untuk me-list artikel apa saja yang akan saya terbitkan setiap hari kerja nya.

Kalau sedang diluar, saya akan catat di handphone saya. Dan tips sederhana tersebut ternyata ampuh. Saat saya ingin memposting artikel, saya hanya perlu melihat catatan online saya atau saya melihat handphone saya.

“Oh, hari ini saatnya posting artikel ini. Baiklah”.

Nah, tips ini juga berguna untuk Anda yang misal bukan Blogger. Tips mencatat saat ide datang ini sangat sederhana sekali, namun ketika sudah di catat, itu berarti kita memindahkan ide kita yang ada di otak ke pencatatan.

Sehingga, ketika nanti ada ide baru, ide yang lama tadi kita sudah catat, jadi tidak hilang. Nah, siapa dari Anda yang sudah mencoba mencatat setiap detail yang ingin Anda kerjakan? Kalau saya, Alhamdulillah sudah 🙂

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Seratus Persen

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saya tiba-tiba teringat salah satu nasihat dari Pak Ditdit yang disampaikan oleh beliau ketika saya bertemu di Bogor. Di nasihat itu beliau bertanya kepada saya,

Mam, kalau kamu nanti punya anak 1, berapa persen kamu akan mencurahkan waktu kamu ke dia?

Lalu saya jawab,

Seratus persen Pak.

Setelah itu beliau bertanya lagi kepada saya,

Kalau kamu nanti punya anak 2, berapa persen kamu akan mencurahkan waktu kamu ke kedua anak kamu?

Saya terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang ingin saya lontarkan kepada beliau. Langsung saja saya tanpa berfikir panjang menjawab,

Lima puluh persen dan lima puluh persen Pak.

Seakan-akan merasa sombong dengan jawaban tersebut, saya jawab dengan yakin bahwa jawaban itu akan benar. Tetapi ternyata tidak.

Seharusnya kamu mencurahkan waktu untuk kedua anak kamu masing-masing seratus persen. Sehingga tidak satupun perhatian kamu akan berkurang ke masing-masing anak kamu nantinya.

Seratus Persen
Seratus Persen (sumber: http://motivationalmemo.com)

Mendengar jawaban terseubut, saya langsung manggut-manggut sambil memikirkan di dalam hati, “benar juga ya, kalau jadi 50%, berarti kan perhatian anak pertama harus dikurangi untuk dibagi ke anak kedua”.

Begitulah nasihat yang beliau sampaikan kepada saya. Di dalam hidup kita, jika kita mendapatkan hal baru yang harus kita kerjakan, seharusnya fokus kita bukan malah menurun lantaran ada hal baru. Sebaiknya tambahkan fokus kita sehingga masing-masing nilainya menjadi seratus persen.

Atur waktu, atur cara kerja, atur waktu bangun tidur, atur makan, atur pola hidup dan lain-lain sehingga kita bisa me-manage waktu dengan baik, agar kita bisa tetap fokus ke hal-hal baru kita dengan tetap tidak melupakan hal-hal yang lama, agar nilainya tidak berkurang, tetap 100%.

Siang itu saya mendapat banyak sekali nasihat yang diberikan oleh beliau, dan sampai saat ini saya tetap mengusahakan agar apapun yang saya kerjakan saya harus bisa fokus 100%.

Meskipun saat ini fokus kita masih berkurang karena hal-hal baru, seharusnya kita bisa lebih meningkatkan fokus kita di angka yang sama-sama maksimal. Hindari hal-hal yang tidak berguna, dan maksimalkan angka 100% pada hal-hal yang menurut kita sangat amat penting.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Buat SIM Tapi Nembak?

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

4 Bulan ke belakang merupakan waktu-waktu yang membuat saya khawatir, galau, semangat, dan berbagai perasaan lain yang campuraduk di dalam kepala saya. Bagaimana tidak, hal yang kebanyakan dilakukan oleh orang lain yang hampir 99% orang melakukannya, tetapi saat itu tidak saya lakukan. Apakah itu? Membuat SIM Tanpa Nembak!

Tentu ini menjadi hal konyol yang saya lakukan, dimana, saat kebanyakan orang hanya ingin mendapatkan satu buah kartu lisensi mengemudi dengan sangat mudahnya, yaitu dengan cara menyuap para polisi-polisi yang ada, tetapi saya tetap istiqomah di jalan yang benar, mengikuti tes SIM sesuai prosedur, meski saya harus melaluinya dengan susah payah, dengan waktu yang lama, dengan tenaga yang tidak sedikit. Tetapi pada akhirnya, ada kepuasan tersendiri yang saya rasakan yang tentunya tidak bisa dirasakan oleh orang lain yang dengan mudahnya menyuap para polisi hanya untuk mendapakan SIM. Ah, sungguh ironis sekali mendengar bangsa ini yang setiap harinya selalu saja terjadi kecurangan, kelalaian, dan berbagai macam kejahatan yang sengaja dibiaskan menjadi kebaikan palsu.

Kalau dipikir-pikir dengan logis, menurut saya, alasan orang-orang diluar sana yang mendapatkan SIM dengan cara menyuap, justru itu adalah penyebab banyaknya kesalahan-kesalahan yang terjadi di jalan raya sana. Logika simpelnya adalah, orang yang tidak peduli dengan prosedur pembuatan SIM, yang di dalamnya justru banyak pelajaran yang bisa diambil, pastinya tidak peduli juga dengan aturan-aturan yang ada di jalan raya. Maka menurut saya, kebanyakan kesalahan-kesalahan yang terjadi di luar sana itu pasti karena banyaknya ulah orang yang membuat SIM tapi dengan proses menembak. Itu baru fenomena pertama.

Jika di analisa menurut alasannya, ada beberapa alasan menurut saya, mengapa orang-orang diluaran sana sangat amat senang menyuap untuk mendapatkan SIM :

Tidak Mau Repot

orang yang membuat SIM dengan cara menyuap itu tidak mau repot, maunya langsung jadi punya SIM tanpa harus tes SIM, yang padahal sebenarnya tes SIM itu bertujuan untuk mengetes apakah kita mampu menghadapi situasi di jalan raya sana. Dengan demikian, banyak orang yang hanya mau instan tanpa menghargai proses, maka tidak heran juga banyak yang korupsi di sana-sini.

Cerita Dari Pihak Ketiga

Selain itu, hanya karena cerita-cerita dari teman-teman lainnya yang kalau tes SIM gagal, maka mengulang selama 2 minggu lagi, dan juga karena susahnya tes SIM tersebut, itu menjadikan mereka-mereka malas untuk ikut serta dalam proses tes SIM tersebut.

Belum mulai saja, sudah menyerah…

Belum Mampu

Inilah bagi saya alasan seseorang memilih menembak dalam membuat SIM. Ya, mereka belum mampu, mereka merasa belum bisa mengendarai kendaraan, tetapi mereka ngebet sekali ingin mempunyai SIM. Alhasil, mereka membohongi diri mereka sendiri dengan ketidakmampuannya tersebut dengan cara membuat SIM dengan cara menembak.

Inilah yang menjadi fenomena di jalan raya, mengapa banyak sekali kejadian kecelakaan, kecerobohan, kesalahan aturan. Yang sebenarnya bisa dicegah dengan mengikuti tes SIM dengan baik dan benar. Ingat, tes SIM itu bukan sekedar kita mendapatkan kartu lisensi mengemudi saja, tetapi kita belajar bagaimana memahami aturan-aturan yang ada di jalanan, agar kedepannya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tes Praktek SIM Motor
Tes Praktek SIM Motor

Banyak Alasan

Banyak alasan itu adalah justru akar dari alasan-alasan yang mereka buat dengan pandai, ada yang berdalih “Polisi itu emang begitu sob”, “kalo lo ga nembak, ga bakal lulus”, “percuma ikut tes, yang ada ntar lo ga lulus”, dan berjuta-juta alasan yang lainnya. Bagi saya, itu adalah alasan sang pengecut, yang belum tes saja, sudah banyak berdalih, inilah tipe-tipe orang yang banyak alasan. Seharusnya dalih-dalih semacam di atas bisa kita buktikan dengan cara mengikuti prosedur tes SIM yang benar.

Dan masih banyak lagi alasan-alasan yang terus saja dilontarkan oleh para orang di luar sana yang membuat SIM tapi menembak (menyuap). Padahal, proses suap-menyuap sendiri itu dikategorikan sebagai korupsi. Maka janganlah bermimpi Indonesia kita ini terbebas dari korupsi, kalau pembiasaan dari rakyat kecil saja sudah mengajarkan korupsi.


Kembali kepada cerita saya, saat saya membuat SIM. Jika saya hitung dari waktu pembuatannya (yaitu pada bulan Maret) sampai saya mendapatkan SIM (bulan Juni), maka waktu tersebut sudah 4 bulan dengan jumlah mengulang tes sebanyak 5 kali.

Di sini saya hanya membuktikan bahwa, sebenarnya, jika kita mau untuk berlaku baik dan benar, maka pasti akan ada jalannya. Jika kita tetap berpendirian teguh tidak mau nembak, maka pasti ada jalannya. Dan pasti ada pelajaran yang bisa kita dapat dari setiap langkah kaki yang kita gerakkan di atas jalan kebenaran ini.

Tes Ke-1

Tes ke-1 ini saya lakukan di sekitar pertengahan bulan Maret, dengan melakukan tes pertama tentang tes teori SIM. Tentunya dari bulan-bulan sebelumnya, saya mendownload banyak contoh-contoh soal tes SIM yang teori, dan juga mempelajari berbagai macam undang-undang tentang lalu lintas. Namanya juga ujian, pasti harus belajar dong. Sebelum pergi tes SIM, saya berdoa dan meminta doa dari kedua orang tua saya, agar dilancarkan dalam proses pembuatan SIM ini. Setelah sampai pada tempat uji SIM yaitu di Polres Depok, saya terkejut karena yang tes teori SIM dalam 1 ruangan hanya 3 orang! “Yang lainnya ke mana?” gumam saya dalam hati. Ternyata banyak praktek-praktek kotor (nembak) yang terjadi di sana, yang membuat orang bisa langsung foto dan langsung pulang membawa SIM hasil nembak mereka.

Tetapi saya tetap pada pendirian saya, saya tetap melakukan tes SIM secara baik dan benar, yaitu mengikuti prosedur nya. Dan Alhamdulillah dari tes teori yang berjumlah 30 soal, saya hanya salah 6. Ini menjadikan saya lulus pada bagian teori SIM.

Belum cukup sampai di situ saja, ada tes praktek yang harus saya lakukan pada saat itu. Dan lagi-lagi saya sangat amat terkejut dan sedikit tersenyum. Karena saya tes prakteknya hanya sendirian. Hehehe. Kondisi ini membuat saya down untuk sementara. Tapi walaupun begitu, saya tetap harus tes praktek.

Hasil dari tes praktek pertama adalah Belum Lulus dan harus mengulang 2 minggu ke depan, karena saya lupa memasukkan gigi mundur pada saat turunan (efek kebiasaan). Akhirnya saya pulanglah ke rumah, tentunya dengan tetap bersyukur, karena saya dapat pelajaran dari tes tersebut.

Tes Praktek SIM Mobil
Tes Praktek SIM Mobil

Tes Ke-2

Karena pada tes pertama saya sudah lulus tes teori, maka pada tes ke-2 saya hanya mengulang tes prakteknya saja. Dan lagi-lagi kejadian yang sama datang, saya tes praktek hanya sendiri, tidak ada peserta tes SIM lainnya yang ikut tes praktek. Tetapi karena hal tersebut sudah pernah terjadi kepada saya, saat itu perasaan saya biasa saja dan langsung memberanikan diri menghampiri Pak Polisi yang biasa bertugas untuk mengetes setiap peserta uji SIM.

Hasil dari tes ke-2 masih sama, yaitu Belum Lulus dengan alasan saya tidak menggunakan rem tangan ketika tanjakan, tetapi menggunakan rem kaki, di mana di dalam prosedur pembuatan SIM, hal ini tidak dibenarkan.

Dari sini, muncul perasaan tidak enak di hati saya, “apa benar, jangan-jangan tes yang resmi seperti ini hanya akan membuat saya lelah dan tidak ada hasilnya?”, sesaat setelah perasaan tidak enak tersebut mengganjal pikiran saya, saya langsung ambil tindakan positif, “ah kalau dipikir benar juga, kalau tanjakan kita tidak boleh menggunakan rem kaki karena dikhawatirkan nanti mobil bisa merosot tanpa ada penjagaan yang pasti”. Dari situlah saya yakin untuk tetap mengulang lagi 2 minggu ke depan.

Tes Ke-3

Pada tes ketiga, tidak seperti 2 tes sebelumnya, tetapi kali ini ada 1 orang yang ternyata tes praktek juga. Alhamdulillah ada teman untuk sharing. Dan ternyata orang tersebut sama prinsipnya dengan saya, yaitu tidak mau menembak, dengan alasan “gw ga buru-buru kok, jadi santai aja”. Wah ini keren menurut saya.

Akhirnya tibalah saya dulu yang tes praktek. Saya masuk ke dalam mobil bersama Pak Polisi tersebut. Saya nyalakan mobilnya. Tetapi malang nasib saya, karena baru saja mobil berjalan, mesin mobil mati! Dan itu berarti tes praktek saya gagal. Tetapi Pak Polisi tersebut bilang kepada saya “sudah lanjutkan saja dulu, walaupun gagal”. Akhirnya saya lanjutkan, dan saya melalui bagian tanjakan dengan baik dan benar tanpa ada salah sedikitpun.

Tetapi karena di awal mesin mobil mati, maka saya tetap dinyatakan tidak lulus. Yah tidak apa-apa, saya akan mengulang lagi di kesempatan berikutnya.

Tes Ke-4

Setelah tes ke-3, saya vakum sekitar 1 bulan, karena saya harus melakukan penelitian untuk Skripsi saya di PT. Krakatau Steel, Cilegon. Ketika saya kembali lagi dan tes berikutnya, teman saya yang saya sempat ceritakan pada bagian tes ke-3 di atas, ternyata sudah tidak ada. Begitu saya kontak dia, dia berkata bahwa dia jadinya menembak saja, karena dia sedang terburu-buru.

Mendengar kabar tadi, saya hanya tersenyum, ternyata kesetiaan seseorang terhadap sesuatu itu akan selalu di uji sampai titik darah penghabisan. Hehehe.

Akhirnya, ya sudah saya tetap tes praktek yang ke-4 kalinya dengan sendiri. Mulai starter mobil dengan baik, mulai menjalankan mobil dengan baik, menanjak… lalu… Ngerem Mendadak!!!. “Nah, itu ga boleh Mas, ngerem mendadak begitu, ngulang lagi ya”.

Saya tersenyum kembali, ternyata sampai tes ke-4 pun, saya masih terus di uji oleh Allah untuk membuktikan bahwa saya memang benar-benar ingin tes SIM dengan murni tanpa adanya proses suap menyuap.

Begitu mulai menanjak, ternyata saya salah lagi! saya menanjak dengan tersendat-sendat (seperti mobil maju mundur), dan ini tetap tidak dibenarkan oleh pihak kepolisian. Saya sadar itu memang kesalahan saya dan saya mengakui salah. Akhirnya saya pulang ke rumah dan menunggu 2 minggu lagi untuk tes ke-5.

Tes Ke-5

Tes ke-5 saya lakukan pada tanggal 10 Juni 2013, di mana pada bulan Juni ternyata adalah HUT Bhayangkara, dan di saat yang sama, Polres Depok sedang ada razia, jadi yang biasanya banyak berkeliaran praktek suap menyuap, sekarang sedang vakum. Hehehe

Banyak sekali saya lihat orang-orang yang ikut tes teori maupun praktek. Memang beginilah seharusnya praktek pembuatan SIM di Indonesia. Dengan Baik dan Benar, bukan hanya slogan-slogan yang ditempel di tembok saja.

Akhirnya saya tes praktek lagi dengan mobil yang sama dengan jalan yang sama. Mobil keluar dari garis kotak parkir, bisa saya lalui tanpa hambatan. Tanjakan saya lalui tanpa hambatan juga, begitupun dengan turunan, saya lalui dengan lancar tanpa sedikitpun ada kesalahan.

Masuk ke tahap terakhir, yaitu saya parkirkan kembali posisi mobil seperti posisi semula. Bagian ini agak sulit untuk saya, karena tiba-tiba kaki saya mengalami kesemutan. Saya lawan sebisa mungkin, biarpun pelan yang penting hari ini saya harus bisa lulus.

Dan, ALHAMDULILLAH… Saya dinyatakan lulus oleh Pak Polisi tersebut dan langsung di suruh ke ruang foto. Benar-benar tidak saya sangka. Ternyata saya bisa melalui semua ini dengan sabar dan istiqomah tetap berada di jalan yang benar.


Terima Kasih untuk Pak Ditdit N. Utama yang di sela-sela kegalauan saya memberikan nasihat :

Nikmati aja prosesnya…Setiap langkah usaha yang kita kerjakan, akan mendatangkan value buat kita; sekarang atau di waktu-waktu yang tidak kita sangka.
Jangan selalu lakukan sesuatu yang kebanyakan orang lakukan.

Sombong namanya, kalau kita mau melakukan yang jadi urusan ALLAH. Urusan kita hanyalah berusaha semaksimal mungkin.

Terima Kasih untuk Mas Ilman Akbar atas motivasi dan share pengalaman tes SIM tanpa suap-menyuap nya ya Mas 🙂

Terima Kasih untuk sahabat saya Khalid Abdullah yang tetap menyadarkan saya dalam jalan yang benar. Thanks bro 🙂


Semoga artikel yang saya buat bisa menginspirasi kita semua dalam bertindak, dalam menjalani kehidupan yang sekarang semakin lama semakin susah menemukan kebenaran. Semoga ke depannya banyak orang yang mulai untuk tes SIM secara baik dan benar. Aamiin…

maaf bila artikelnya berantakan, baru mulai aktif nulis lagi nih 🙂

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Batu Kecil

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saat saya masih SMA, guru favorit saya, yang sudah saya ceritakan di beberapa artikel lalu, yaitu Pak Hanura Weldi, dalam satu kesempatan beliau memberitahukan nasihat yang begitu berharga. Sampai sekarang nasihat itu saya gunakan di dalam setiap langkah yang saya pilih.

Karena setiap langkah yang saya pilih terkait langsung dengan kesadaran hidup yang ada pada diri saya. Begitupun nasihat yang diberikan oleh Pak Hanura Weldi, nasihat yang selalu saja sederhana, tetapi menyimpan makna yang amat dalam.

“Kita terjauh oleh batu yang kecil, bukan oleh batu yang besar, jika kita terjatuh oleh batu yang besar, itu tandanya kita buta”

Sekilas, kata-kata tersebut sederhana, tetapi sebenarnya kata-kata tersebut menyimpan banyak arti. Dan kata-kata tersebut bisa kita jadikan salah satu bagian dari motivasi kita dalam melakukan suatu aktifitas kita.

Ya, benar saja… Kita kadang terjatuh, terpeleset, tersandung oleh batu yang kecil, bukan batu yang besar. Kenapa demikian? Dalam kehidupan nyata kita sehari-harinya, kita biasanya terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan, tergesa-gesa dalam berjalan. Hingga suatu saat kita terjatuh oleh hal-hal sepele dalam keputusan-keputusan kita.

Sayangnya memang demikian, kita terlalu sibuk dengan apa yang di depan mata kita, tetapi kita tidak memperhatikan hal-hal kecil yang ada. Padahal itu amatlah fatal bagi kita. Jika sudah terjatuh, mungkin saja rencana-rencana kita gagal, bisa jadi orang yang sedang kita temui, tidak jadi.

Batu kecil bisa juga diibaratkan terlalu menggampangkan sesuatu, sehingga hal-hal kecil yang terlihat pun dilalui begitu saja. Sampai suatu saat itu akan menjadi masalah yang besar bagi kita.

Tetapi tidak dengan batu besar. Batu besar adalah hal-hal yang selalu kita pandang sebagai hal-hal yang sudah pasti memberikan efek buruk kepada kita. Tentu kita tidak ingin kan terkena efek buruk?

Oleh karena itu kita pasti akan terhindar dari batu-batu besar. Dalam kehidupan nyata pun demikian. Saat pengendara motor terjatuh, hampir 90% terjadi karena tergelincir batu-batu yang kecil, bukan batu yang besar.

Demikianlah seharusnya kita khawatir dengan batu-batu kecil di sekeliling kita, kalau kita tidak hati-hati, kita pasti terjatuh karenanya. Berhati-hatilah dan ingatlah untuk selalu sadar kapanpun kita melangkah.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Kesadaran Dalam Hidup

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Di dalam hidup yang kita jalani ini, seringkali kita tersandung oleh kesalahan-kesalahan kecil yang kita telah perbuat. Dan itu terjadi berkali-kali dalam hidup kita. Bahkan jika sudah tahu itu salah pun, kita tetap mengulanginya. Dan pada akhirnya kita menyesal telah melakukannya.

Tentu setelah menyesal, keesokannya kita akan tetap melakukan hal-hal yang merugikan tersebut. Hal semacam inilah yang dinamakan ketidaksadaran di dalam hidup kita.

Sudah berapa banyak orang yang mereka sendirinya tahu bahkan paham bahwa pacaran itu sebenarnya dosa karena itu bukanlah sebuah kedewasaan, melainkan beradegan dewasa. Sudah berapa banyak orang yang tahu bahwa marah hanya akan menghasilkan rasa sesal. Setelah mereka tahu, penyesalan mereka sudah telat.

Tidak untuk mereka saja, untuk kita pun yang sama-sama mengalami hal serupa, seringkali kita terjatuh oleh hal-hal kecil seperti itu. Kenapa demikian? Karena kita kurang menempatkan kesadaran di dalam hidup kita.

Tenang saja, saya pun masih belum sepenuhnya sadar kok, banyak juga kesalahan-kesalahan yang sering saya perbuat, dan belum sadar bahwa ternyata itu memang salah. Sehingga kesalahan itu tetap saya ulangi.

Dan tentunya ini wajar bagi kita manusia, karena kita memang tempatnya salah. Tempat tidak sempurna. Tetapi bagaimanapun, kita masih tetap harus latihan sadar. Melatih kesadaran diri kita dengan sebaik-baik dan sebenar-benarnya sadar.

Sadar dalam artian bahwa jika kita mengetahui bahwa itu adalah hal yang buruk, sebisa mungkin kita harus hindarkan itu sejauh-jauh mungkin. Sebelum penyesalan datang. Biasanya setelah penyesalan datang, barulah kita sadar. Tentu ini sangat telat sekali. Sebaliknya, kita harus mengaktifkan kesadaran kita, sebelum datangnya penyesalan.

InsyaALLAH, dengan sadar kita akan terhindar dari perbuatan sia-sia, yang berujung dosa. Dengan sadar kita bisa lebih memaksimalkan potensi diri kita yang belum kita keluarkan.

Mari kita sama-sama berupaya untuk membuat diri kita sadar setiap saatnya. Dengan menjaga pikiran kita jangan sampai terlena dengan rasa nyaman, karena rasa nyaman sebenarnya adalah musuh utama penghilang kesadaran kita.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Motivasi dan Tujuan

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Motivasi merupakan hal yang selalu saja diperbincangkan oleh para motivator-motivator ternama. Tidak hanya di Indonesia, tetapi di luar Indonesia pun, motivasi menjadi hal yang sangat krusial, karena bersinggungan dengan pola hidup manusia.

Banyak orang beranggapan bahwa dengan motivasi mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan bagi mereka yang sudah mendapatkan motivasi, tentu progress untuk mencapai apa yang mereka inginkan akan semakin lebih cepat.

Tetapi ada banyak orang juga yang tidak memiliki motivasi untuk hidup, motivasi untuk bergerak, dan motivasi-motivasi lainnya. Sehingga orang yang bertipe seperti ini selalu saja membutuhkan motivasi dari orang-orang sekitar. Tidak heran jika para motivator-motivator menjadi terkenal, karena pada zaman sekarang, krisis motivasi sudah sangat banyak terjadi di sekitar kita.

Namun demikian, ternyata memiliki motivasi pun tidak sepenuhnya bisa mengantarkan kita menuju puncak, menuju hal-hal yang kita idamkan, motivasi saja tidaklah cukup untuk mengantarkan kita ke tangga-tangga kesuksesan sejati.

Disamping motivasi, kita memerlukan tujuan. Bahkan kalau boleh dibilang, tujuan justru lebih penting daripada motivasi. Karena tanpa tujuan, kita tidak tahu kita mau pergi ke arah mana. Bolehlah motivasi dan semangat menuju kesuksesan itu 100%, tetapi jika kita tidak tahu kita akan menuju kemana, hal itu menjadi sia-sia.

Hal ini mirip sekali dengan seseorang yang mempunyai uang banyak, yang bisa kita analogikan sebagai motivasi. Ketika seseorang naik angkutan umum, taksi misalkan, tanpa tujuan yang jelas, uang yang dimiliki oleh seseorang tersebut akan habis tanpa menyisakan apapun, karena dari awal dia tidak memiliki tujuan yang jelas, mau ke arah mana.

Naik taksi, tetapi tidak tahu mau ke arah mana, akan sangat disayangkan karena akan membuat argo taksinya terus naik, yang akan menghabiskan uang (motivasi). Berbeda dengan orang yang sudah mempunyai tujuan, ketika dia naik taksi, dia sudah tahu harus menuju ke mana, dan uang pun bisa di hemat. Begitulah kira-kira analogi sederhana nya.

Bolehlah kita kehilangan motivasi, itu hal yang manusiawi, tetapi janganlah sampai kita kehilangan tujuan. Karena dengan tujuan, motivasi bisa diciptakan. Istilah asingnya adalah trigger (pemicu). Tujuan adalah salah satu pemicu untuk menciptakan motivasi.

Namun jika hanya motivasi yang ada, motivasi yang berkobar, tanpa adanya tujuan, maka bisa dipastikan lama-kelamaan motivasi tersebut akan surut. Yang hanya akan menghabiskan energi kita.

Mulai dari sekarang, tidaklah mengapa jika kita belum memiliki motivasi yang kuat untuk maju, tetapi mulai sekarang janganlah sampai kita tidak memiliki tujuan. Buatlah tujuan-tujuan kita di sebuah buku atau kertas untuk bisa mengantarkan kita ke tempat tujuan kita, ke tempat yang kita inginkan.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Kebahagiaan dan Kesenangan

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Apakah bahagia itu butuh syarat-syarat yang rumit? apakah bahagia butuh alasan-alasan spesial? dan apakah bahagia itu sama dengan kesenangan? Tentunya jawaban dari ketiga pertanyaan sederhana di atas adalah tidak. Bahagia tidak membutuhkan syarat, bahagia juga tidak membutuhkan alasan, dan bahagia pun tidak sama dengan kesenangan.

Tentunya masing-masing orang punya opini yang berbeda tentang kebahagiaan, dan pendapat saya, untuk bisa bahagia, kita tidak perlu memiliki berjuta-juta syarat, berjuta-juta alasan. Karena, bagaimanapun, bila alasan dan syarat itu tidak kunjung terpenuhi, maka kita tidak pernah bahagia, kita terkurung oleh syarat yang kita ciptakan sendiri oleh diri kita.

Dan kita akan terus menyalahkan ALLAH atas hal ini dengan berkata “Kenapa saya belum juga bahagia? Apa salah saya?“. Tentunya jika kita terus-terusan menyalahkan ALLAH atas hal ini, kita akan semakin jauh dari kebahagiaan sejati.

Ketika kita mendapatkan sesuatu, dan kita tersenyum olehnya, maka pada saat itulah yang kita dapatkan adalah kesenangan. Kesenangan akan hadir dengan adanya syarat. Tanpa syarat yang sebenarnya sulit untuk diraih, maka kesenangan itu tidak akan hadir dalam hati kita.

Coba saja kita yang mengharapkan sesuatu, entah itu berbentuk benda, ataupun berbentuk lainnya. Jika keinginan kita berhasil kita dapatkan, atau kita raih, kita akan senang bukan? Tetapi sebaliknya, jika kita tidak mendapatkan maka perasaan kecewa akan hadir, siapapun orangnya pasti pernah mengalami hal yang demikian. Itulah bukti bahwa kesenangan membutuhkan syarat, tanpa adanya syarat dan alasan, maka kesenangan tidak akan bisa kita hadirkan dalam hati kita.

Untungnya ALLAH menitipkan satu teman lagi untuk kesenangan, yaitu kebahagiaan, yang dalam hidup kita, kebahagiaan ini berbeda sangat jauh sekali dengan kesenangan. Jika kesenangan selalu saja mencari-cari alasan untuk tercapai, maka kebahagiaan tidak perlu, kebahagiaan selalu saja bisa diraih oleh siapapun tanpa syarat-syarat yang rumit dan tanpa alasan-alasan spesial apapun.

Lalu, bagaimana kebahagiaan bisa tercapai jika tidak perlu syarat rumit untuk bisa bahagia? Tips simpel yang tidak perlu syarat yang rumit dan beribu-ribu alasan untuk bahagia adalah dengan cara bersyukur. Setiap orang pasti bisa bersyukur, dan ini sepertinya bukan sebuah syarat untuk bahagia. Syukur hanya masalah mau atau tidak mau seseorang dalam menghadapi situasi yang dihadapi olehnya.

Selain bersyukur, untuk menghadirkan perasaan bahagia dalam hati kita adalah dengan cara menysukuri keberadaan diri kita dengan rasa hormat terhadap diri kita, tanpa terikat oleh hal apapun yang ingin dimiliki dan itulah bentuk penerimaan tertinggi terhadap diri sendiri.

Tentunya, selain kedua hal tersebut, 3 kondisi utama untuk bahagia sebelum melakukan rasa syukur dan rasa hormat adalah terpenuhinya sandang, pangan, dan papan. Karena walaupun demikian, ketiga hal tersebut mutlak harus dimiliki oleh setiap manusia. Dengan memiliki ketiga kondisi utama tersebut, kita bisa mulai mensyukuri hal-hal dari sandang, pangan, dan papan secara sederhana. Dari situ kita akan menemukan kebahagiaan hidup.

Kita bisa melihat bahwa perbedaan dari kebahagiaan dan kesenangan adalah dari cara kita memandang rasa hormat terhadap diri kita. Kebahagiaan hadir tanpa perlu terikat oleh segala sesuatu hal apapun yang ingin kita miliki. Sedangkan kesenangan selalu saja terikat oleh hal yang ingin kita miliki.

Sampai di sini sudah terlihat dengan jelas, kunci untuk bahagia adalah dengan cara menghormati diri sendiri, dengan tidak terikat oleh apapun yang ingin kita miliki, maka kebahagiaan bisa hadir di hati kita.

Ketika kebahagiaan sudah hadir, maka kita tidak perlu kecewa jika kita tidak merasakan kesenangan, karena dengan bahagia kita sudah tercukupi dengan adanya ketidakterikatan oleh hal yang ingin kita miliki.

Bahagia adalah penerimaan tertinggi diri sendiri, mensyukuri keberadaan diri dengan rasa hormat, dan tidak terikat oleh hal apapun yang ingin dimiliki

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Masa Lalu dan Masa Depan

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Bagi beberapa orang, mungkin masa lalunya sangat mengganggunya, namun bagi beberapa orang yang lain, masa lalunya dapat dilupakan dengan mudah, baik itu masa lalu yang positif, maupun masa lalu yang negatif. Setiap orang memiliki kemampuan memori yang berbeda-beda.

Namun bagaimanapun, masa lalu yang buruk akan terus terulang kembali jika masa lalu tersebut sangat mengganggu kesehariannya. Yang tentunya akan berdampak kepada masa depannya. Jika sudah begini, sebaik apapun rencana masa depan yang sudah di susun, namun jika masa lalu masih membelenggu di hati, masih terus membayangi kita, bahkan mungkin kita tidak bisa memaafkan diri sendiri atas masa lalu yang telah terjadi, ini sungguh sangat mengkhawatirkan kita.

Saya pernah memiliki masa lalu yang tidak begitu baik untuk hidup saya, dan tentu pastinya semua orang pernah juga memiliki masa lalu yang tidak baik. Namun, ada orang yang bisa mengikhlaskan masa lalu tersebut dan terfokus kepada masa depan, ada pula yang tidak. Kalau istilah anak remaja sekarang adalah “tidak bisa move on“.

Ah iya, dulu saya pun pernah kena penyakit seperti itu, tidak bisa move on karena suatu hal. Namun akhirnya kata-kata dari Pak Dedy Susanto (Founder Pemulihan Jiwa) yang beliau bicarakan di salah satu seminar yang saya ikuti, membuat saya sadar, betapa berharganya masa depan saya dibandingkan dengan masa lalu saya.

Dari situlah, karena saya sangat sayang terhadap diri saya sendiri, saya tidak mau menyakiti diri saya sendiri dengan berlarut-larut dalam bayang-bayang masa lalu saya. Saya masih punya masa depan yang harus saya tentukan dan harus saya raih.

Bagi kita yang mungkin sering masih terbayang-bayang masa lalu, yang berakibat terhadap progress diri kita yang tertahan, tentu di dalam hati kecil kita, kita ingin sekali bangkit. Namun kekuatan yang kita miliki belum mampu untuk bangkit, karena masih ada beban yang terus kita bawa kemana-mana.

Saran dari Pak Dedy Susanto adalah dengan cara mengikhlaskan masa lalu kita. Kita masih memiliki masa depan yang cerah. Kita sayang dengan diri kita sendiri. Oleh karena itu, ikhlaskanlah masa lalu kita. Dengan mengikhlaskan masa lalu kita yang pahit tersebut, beban-beban yang selama ini kita bawa, akan terlepas dan tentunya hidup akan semakin ringan. Dari situlah kita memiliki kekuatan yang cukup untuk meraih masa depan kita.

“Seburuk-buruknya masa lalu tidak akan mempengaruhi masa depan Anda, bila Anda yakin bahwa masa depan Anda lebih penting dari apapun” – Dedy Susanto (Founder Pemulihan Jiwa)

Begitulah inti dari quotes yang Pak Dedy berikan, intinya adalah kita harus yakin bahwa masa depan kita itu lebih penting dari pada apapun, masa depan kita lebih penting daripada masa lalu kita. Jika memang kita sayang terhadap diri sendiri, tentunya kita akan mengikhlaskan masa lalu kita, dan dengan cepat meraih masa depan kita.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Pilihan dan Konsekuensi

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Kemarin menjadi hari yang bisa dibilang sangat melelahkan bagi saya dan sahabat saya, yaitu Mas Khalid Abdullah. Menjalani sebuah pilihan, tentunya harus menerima juga konsekuensi dari pilihan tersebut.

Pilihan yang kami pilih adalah kemarin kami pergi ke salah satu kantor teman kami di daerah Kedoya, Jakarta. Dan tentunya, kami yang tinggal di sekitar Jakarta Selatan mau tidak mau harus menggunakan Angkutan Umum Transjakarta. Selain simpel, murah, efisien, dan juga cepat, karena Transjakarta mempunyai jalur pribadinya.

Itu yang sudah ada di benak masing-masing orang tentunya. Bahwa naik Transjakarta itu enak sekali. Murah, cepat sampai, pakai AC, dan nyaman lah pokoknya. Tetapi tidak berlaku lagi untuk jalur Transjakarta sekitaran Lebak Bulus sampai dengan Harmoni.

Saat kami pergi, ciri-ciri Transjakarta yang nyaman, cepat sampai, pakai AC memang masih berlaku, karena kami naik Transjakarta nya dari Halte paling pertama, yaitu Halte Lebak Bulus, menuju Halte Duri Kepa. Tetapi dalam perjalanan pulang, ciri-ciri Transjakarta yang tadinya kita bisa bernyaman-nyaman ria, kali ini tidak lagi.

Ya, begitulah pilihan, kami memilih untuk naik Transjakarta, kami juga harus menanggung konsekuensinya. Setiap pilihan pasti ada konsekuensi yang harus kita terima. Semacam tanggung jawab yang harus kita lakukan atau kita terima atas apa yang telah kita pilih.

Karena kami memilih untuk naik Transjakarta, tentunya kami harus siap dengan konsekuensi nya. Konsekuensi naik Transjakarta pada jam-jam pulang kantor atau pada sore hari adalah bahwa Transjakarta yang lewat tidak sesering pagi atau siang hari, dan tentunya isi penumpang Transjakarta di waktu sore hari lebih banyak, bahkan memenuhi Bus Transjakarta tersebut.

Terhitung sekitar 1 jam lewat kami berdua berdiri di Halte Duri Kepa untuk menunggu 1 Bus Transjakarta saja lewat, akhirnya Bus tersebut datang juga. Inilah konsekuensi pertama kami, harus mau menunggu.

Konsekuensi kedua, yang membuat kami mulai tidak sabar terjadi karena isi Bus Transjakarta dipenuhi banyak orang, Sesak tentunya. Sudah lama menunggu, Bus nya pun isinya sesak. Wah mungkin jika ada orang yang tak sabar, bisa-bisa tidak mau naik lagi Transjakarta tersebut, bahkan bisa jadi orang tersebut pingsan. Hehehe

Konsekuensi tersebut mau tidak mau ya harus kami ambil, karena kita sudah memilih.

Begitupun dengan pilihan-pilihan lain di dalam kehidupan kita, pasti apa yang kita pilih akan ada konsekuensinya. Bahkan jika kita tidak memilih suatu pilihan pun itu sudah termasuk pilihan, yang tentunya juga ada konsekuensinya.

Setiap pilihan akan selalu ada konsekuensinya (baik maupun buruk), sudah siapkah kita untuk menghadapi konsekuensi tersebut?

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…