Imam Herlambang Blog

Menu

Category: Islam

Penyesalan Terbesar

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Penyesalan adalah sesuatu yang bersifat irreversible[1], kita tidak pernah bisa mengembalikan apapun yang kita sesalkan, pun jika bisa, maka hal tersebut tidak pernah bisa kembali seperti semula (bentuk utuh).

Penyesalan di dunia memang seringkali terjadi bagi mereka yang sering lalai akan tanggung jawabnya, entah mungkin karena lupa atau mungkin disengaja. Namun demikian penyesalan tetaplah penyesalan, sebesar apapun penyesalan yang kita tunjukkan, keadaan yang sudah terjadi tidak bisa kita kembalikan. Waktu telah pergi dan penyesalan pun telah datang.

“Kelak… Penyesalan terbesar akan terjadi nanti… Di Akhirat. Sudahkah kita memiliki bekal yang cukup?”

Benar sekali, penyesalan terbesar kita nanti adalah di Alam Akhirat kelak. Saat dimana amal ibadah tidak bisa ditambah, saat dimana pintu pengampunan ditutup, dan ketika itu terjadi, penyesalan terbesar kita akan terjadi.

Bagi mereka yang selalu percaya kepada ALLAH Ta’ala dan juga telah melaksanakan segala perintah-Nya dengan baik dan benar, penyesalan mereka adalah karena mereka tidak bisa lebih baik dalam beribadah, jika waktu bisa diulang kembali, pastinya mereka ingin sekali beribadah dengan lebih giat lagi dan tidak ingin tergoda ilusi dunia yang fana ini. Tentu kita harus bisa mengambil banyak contoh dari kisah di atas, sebelum penyesalan terbesar kita nanti terjadi, dan ketika itu semuanya sudah terlambat.

Bagi mereka yang sering membangkang terhadap ALLAH Ta’ala dan juga selalu saja mengabaikan perintah-Nya dengan sangat entengnya, penyesalan mereka adalah karena mereka membangkang terhadap ALLAH Ta’ala, “kenapa dulu saya tidak melakukan segala perintah-Nya?“, “kenapa dulu saya lalai akan panggilan-Nya?“. Hal-hal seperti inilah yang akan mereka sesalkan. Semoga kita tidak termasuk tipe orang-orang yang seperti ini, yaitu orang yang membangkan perintah ALLAH Ta’ala.

Bisakah penyesalan tersebut dihindari? Jawabannya adalah tergantung. Maksudnya adalah tergantung dari berapa banyak bekal yang sudah kita siapkan untuk kembali ke kampung halaman kita kelak nanti di Akhirat. Jika sudah cukup, maka penyesalan tersebut bisa kita cegah dan kita termasuk orang-orang yang beruntung. Namun jika bekal yang kita sudah siapkan ternyata belum cukup, atau malah minus (karena sering membangkang terhadap ALLAH Ta’ala), maka bisa dipastikan kita termasuk orang yang merugi, dan mungkin saja kita akan mengalami sebuah penyesalan yang besar tersebut. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang seperti itu.

Mari introspeksi diri kita kembali, sudah benarkah cara hidup kita? sudah sesuaikah dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam? Jika memang belum sesuai dan masih jauh, sudah seberapa besarkah usaha kita untuk mendekatinya? Sudah berapa banyak perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu?

Ah… Sungguh kita harus banyak introspeksi diri dan memohon ampun kepada ALLAH Ta’ala, agar kelak kita selalu diberikan petunjuk oleh-Nya, seperti yang selalu kita baca di penghujung Surat Al-Fatihah ayat 6-7, yaitu “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


[1]. Irreversible, artinya adalah segala sesuatu hal yang tidak bisa kembali ke dalam bentuk dan keadaan semula. Contohnya: tumbuhan yang mengalami pertumbuhan tidak akan mungkin kembali ke bentuk semula (biji).

Meneladani Rasulullah SAW

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saat ini kebanyakan dari kita (termasuk saya tentunya) hidup di masa-masa krisis karakter, krisis tauladan. Kebingungan atas sosok seseorang mana yang patut kita jadikan seorang tauladan yang baik, seseorang yang bisa kita ikuti contoh pola hidupnya dalam segala aspek kehidupan.

Fenomena ini terlihat jelas di sekitar kita, bahwa tidak sedikit orang mengidolakan orang yang salah, sehingga kegiatan hidup orang tersebut  sehari-harinya mengikuti orang yang dia idolakan. Tentu ini menjadi sebuah perkara yang tidak bisa kita sepelekan begitu saja.

Sekali seseorang tersebut meneladani suatu cara/pola, maka itu lama-kelamaan akan menjadi sebuah kebiasaan. Jika kebiasaan itu baik, maka hidupnya pun dipastikan baik, jika kebiasaan itu salah, maka hidupnya bisa dipastikan merugi.

Sekitar seribu lima ratus tahun yang lalu, sekitar abad 13 atau 14. Sesosok manusia sederhana, yang bernama Muhammad bin Abdullah dipilih oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala sebagai utusan-Nya dalam menyebarkan agama Islam, satu-satunya agama yang diridhai oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Saat itu juga, ada 4 orang sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, yaitu orang-orang terdekat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam yang keseluruhan hidupnya benar-benar menjadikan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai teladan mereka. Maka tidak heran, sepeninggal Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, mereka ber-empat pun menjadi teladan bagi generasi setelah mereka ber-empat, karena mereka benar-benar menjadikan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupannya.

Proses transfer keteladanan pada periode tersebut berjalan dengan baik, terstruktur dan sistemik, banyak orang yang mencotoh dan meneladani Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, sehingga pengikut nya pun akan melakukan hal yang sama, yaitu tetap meneladani Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Namun sayangnya, setelah beberapa periode itu berlalu, sedikit demi sedikit proses transfer keteladanan mulai melemah dan semakin melemah saja, hingga zaman kita sekarang ini. Di zaman kita sekarang, nilai keteladanan yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam hanyalah sebuah cerita yang mengagumkan kita.

Cerita tentang kepintaran dan kejeniusan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam yang mampu menyelesaikan pergolakan antar suku untuk menentukan suku mana yang paling berhak meletakkan hajar aswad di Ka’bah tanpa terjadi perpecahan dan pertumpahan darah, hanyalah sebuah cerita yang mengagumkan bagi kita.

Cerita tentang seorang fakir yang tidak makan dua hari, dan ketika mendapatkan makanan, dia berikan lagi ke orang lain yang ternyata sudah tiga hari tidak menemukan makanan, hanyalah sebuah cerita yang mengagumkan bagi kita.

Dan banyak kisah-kisah yang sebenarnya bisa dijadikan sebuah nilai keteladanan bagi kita, namun sayangnya kisah-kisah tersebut hanyalah sebuauh cerita yang mengagumkan bagi kita, dan tidak mampu diterapkan oleh orang-orang sekarang pada umumnya.

Zaman sekarang sudah kehilangan suri tauladan mereka, sosok seseorang yang bisa dijadikan panutan, kunci kualitas hidup yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam. Dan sekarang malah banyak orang yang salah dalam mengidolakan seseorang yang kualitas hidupnya jauh dari apa yang telah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam contohkan kepada kita.

Padahal semua itu adalah keteladanan yang seharusnya terimplementasikan pada kehidupan kita. Seharusnya pula kehidupan kita dari hari ke hari akan lebih baik (tentunya dengan mencontoh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam), bukan malah menjadi terpuruk dan semakin jauh dari sifat-sifat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam seperti yang bisa kita lihat di sekitar kita.

Jadikanlah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai teladan kita, bukan hanya sekedar cerita yang mengagumkan kita. Contohlah pola hidup, cara hidup, sifat-sifat beliau.

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, surat Al-Azhab, ayat 21.

Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi orang yang berharap kepada Allah, hari akhir dan bagi orang yang banyak mengingat Allah.

Mari kita sama-sama mulai menjadikan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai teladan kita, menjauhi jauh-jauh apa yang tidak beliau contohkan, dan berusaha mengikuti apa-apa yang beliau ajarkan kepada kita. Diantaranya adalah bersifat Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah, serta sifat-sifat dan adab-adab lainnya yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


Referensi

Utama, D.N., Ripanti, E.F., Chandra, D.B. 2012. Indonesia Mendidik. Depok: MSc Publisher.

Pelit Waktu

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Wahai diri, adakah kau merasa dirimu telah terbebas dari dosa, sehingga untuk bertemu Allah pun engkau merasa tergesa-gesa?

Tanyakan itu kepada diri kita, sebagai orang Islam yang dalam sehari, kita melaksanakan Shalat Fardhu 5 waktu. Berbincanglah kepada diri sendiri, tanyakan mengapa kita selalu saja tergesa-gesa dalam bertemu Allah pada waktu Shalat kita.

Teringat saat saya masih seumuran anak SMP, saya kenal beberapa teman di dekat rumah saya yang dalam hitungan 1 atau 2 menit, Shalat Dzuhurnya sudah selesai. “Wah cepet banget Shalatnya” ucap saya kepada dia. Lantas dia menjawab “Yang penting itu niat, Mam”.

Memang adakalanya perkataan itu benar, segala sesuatu itu yang penting niatnya, tapi entah kenapa niat tersebut tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan olehnya.

Dari situlah saya mengambil pelajaran yang amat penting bagi saya. Saya berkesimpulan bahwa, kalau memang diri kita memulai Shalat dengan niat, tentunya kita tidak akan tergesa-gesa dalam bertemu dan berbincang dengan Allah. Sama saja seperti kita sudah niat bertemu dengan seseorang yang spesial tentunya, kita merencanakan dengan baik, memakai pakaian yang rapih, dan tentunya setelah bertemu, kita tidak ingin sebentar saja bukan? Kita ingin sekali berlama-lama dengan mereka yang sangat spesial di mata kita.

Begitupun bertemu dengan Allah. Karena dari awal kita memang sudah niat untuk bertemu dengan-Nya, sehingga kita tidak mau berlalu begitu saja, karena yang kita temui bagi kita adalah Sang Pencipta kita, yaitu ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

“Wahai diri, seberapa sibukkah engkau sehingga engkau selalu tergesa-gesa (pelit waktu) dalam Shalat”

Ini pun menjadi bahan introspeksi bagi diri kita semua, sudahkah kita datang kepada-Nya dalam keadaan yang benar-benar suci? Sudahkah kita meluangkan waktu untuk Shalat dan bukan menyisakan waktu untuk Shalat? Tanyakan kepada diri kita masing-masing untuk bahan renungan diri.

Jika Shalat kita hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja, maka apa nikmat itu terasa? Jika Shalat yang dilakukan hanya sebentar saja, maka apa itu akan berbekas di hati? Jika Shalat yang dilakukan hanya sekedar ‘yang penting sudah Shalat’, maka apa pantas kita sudah merasa terbebas dari dosa? Jika pelit waktu terhadap waktu Shalat, maka apakah itu akan hadir kenikmatan dalam hati? Tanyalah kepada diri kita masing-masing.

Sungguh diri ini amat lemah, kecuali Engkau berikan kekuatan. Sungguh diri ini hancur berantakan kecuali Engkau selamatkan dengan Rahmat-Mu. Sungguh diri ini hina, kecuali Engkau berikan cahaya bagi diri ini.

“Kenikmatan jiwa ada pada ibadah. Jika tak hadir nikmat, periksalah hati yang mungkin sedang mengeras.” – Teddi Prasetya Y

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Piring Tetangga

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Ponsel BlackBerry saya tiba-tiba berbunyi tepat jam 10 malam lewat 10 menit pada hari Minggu kemarin. Ternyata isinya adalah Broadcast Message dari salah satu kontak di BBM (BlackBerry Messenger) saya. Isinya tentang sebuah piring kotor yang ada kaitannya dengan diri kita saat ini. Yang tentu ada baiknya bila saya share sepotong pesan yang dikirimkan teman saya tersebut kepada Anda semua.

Pernahkah Anda meminjam piring tetangga? Atau bahkan mungkin salah satu dari tetangga Anda memberikan sedikit makanan untuk Anda? Tentunya pernah. Saya pun demikian, sering sekali mendapatkan banyak makanan dari tetangga saya. Alhamdulillah kita selalu diberikan banyak rezeki oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala melalui tetangga kita. Saya akan sedikit analogi-kan piring tetangga itu dengan kehidupan kita nanti di akhirat.

Bila kita meminjam piring tetangga, lalu kita mengembalikannya dalam keadaan bersih (kita cuci terlebih dahulu dan kita bersihkan), maka InsyaALLAH oleh tetangga kita akan dimasukkan ke dalam tempat yang bersih, dan rasanya tidak mungkin mereka cuci lagi, karena piringnya sudah bersih. Bukankah begitu? InsyaALLAH iya.

Namun bila kita meminjam piring tetangga dan mengembalikannya dalam keadaan kotor (belum kita cuci, langsung kita kembalikan), maka piring tersebut tentunya akan dimasukkan ke tempat cuci piring untuk dicuci dan dibersihkan, dan rasanya tidak mungkin tetangga kita akan langsung menaruhnya di tepat yang bersih, karena piring itu memang masih kotor. Bukankah begitu? InsyaALLAH iya.

Nah, begitupun dengan kita yang hidup di dunia, jika hati kita ini kita kembalikan kepada ALLAH dalam keadaan kotor, maka harus dimasukkan ke dalam pencucian akhirat, yaitu Neraka. Mau? Tentunya pasti tidak mau.

Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah Kepada-Ku (Q.S. Adz-Dzarriyat, ayat 56)

Dari analogi sederhana tersebut dan ayat Al-Qur’an tersebut, mari introspeksi diri kita masing-masing. Sudah benarkah Shalat kita? Sudah sesuaikah amalan ibadah kita dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah? Akhlak kita, terus kita perbaiki atau tidak? Hati kita, selalu berdzikir pagi dan petang kepada ALLAH atau tidak? Mari sama-sama kita introspeksi diri kita.

Semoga kita tidak masuk ke dalam pencucian piring.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Berdoa Atau Menyuruh?

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saat kita menginginkan sesuatu, saat kita membutuhkan sesuatu, sudah sepatutnya kita berdo’a kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala, bahkan di dalam Al-Qur’an, ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk berdoa. Jika kita tidak berdo’a, maka kita dikategorikan sebagai orang yang sombong, karena kita tidak membutuhkan sesuatu.

Maka bersyukurlah jika sekarang hidup kita masih berkekurangan, itu tandanya kita masih membutuhkan hal lain untuk melengkapi hidup kita. Apa jadinya jika semua hal yang kita inginkan sudah kita dapatkan? Tentunya kita tidak akan pernah lagi berdo’a kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Do’a merupakan permohonan atau permintaan kita atas sesuatu kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala. Tentu itu juga termasuk perintah ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala karena itu termasuk Ibadah bagi kita.

Namun terkadang dalam kondisi yang tidak memungkinkan bagi kita (yaitu kondisi di mana do’a kita belum dikabulkan oleh-Nya), kita kadang menyimpang dari konteks awal do’a tadi.

Do’a yang tadinya kita lakukan dengan cara memohon dan meminta, sekarang banyak sudah yang menyimpang. Ada orang yang sudah terus-terusan berdo’a namun tidak dikabulkan, orang tersebut malah tidak mau lagi untuk berdo’a, dengan alasan bahwa mereka sudah berdo’a tetapi tidak pernah dikabulkan.

Ada juga orang yang lebih parah dari sifat di atas, yaitu ‘menyuruh’ ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala untuk mengabulkan do’a kita. Mereka menyimpang dari konteks awal berdo’a, yaitu kita memohon kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala, kita sebagai hamba-Nya.

Namun kejadian itulah yang membuat kita khawatir akan itu, kita yang hanya seorang hamba dihadapan ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala, yang seharusnya memohon ampunan karena masih banyak berlumur dosa, kita yang seharusnya memohon ampunan karena terlalu dekatnya kita dengan maksiat, kita yang seharusnya bersyukur karena apa yang ALLAH beri itu lebih banyak daripada yang kita pinta, kita malah ‘menyuruh’ ALLAH untuk mengabulkan do’a kita.

Kita memaksa ALLAH untuk mengabulkan do’a kita. Memangnya kita ini siapa? Sudah pantas untuk menyuruh ALLAH untuk mengabulkan do’a. Astaghfirullah… Ya ALLAH maafkanlah kami Ya ALLAH atas sifat sombong kami, atas perlakuan yang tidak baik kepada-Mu.

Padahal jika kita mau berpikir lebih jauh, pastinya rencana ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala lebih baik dan lebih indah daripada apa yang kita harapkan, kita hanya tidak mengetahui bahwa segala sesuatu yang ALLAH pilihkan untuk kita adalah yang terbaik untuk kita, bukan yang paling bagus, bukan yang paling mewah, bukan yang paling spesial, tetapi yang paling baik untuk kita.

Kesimpulan
Mulailah untuk belajar berdo’a yang baik dan benar, karena kita sebenarnya masih belum sempurna. Mulailah untuk memposisikan diri kita sebagai hamba-Nya, yang banyak memohon dan berharap hanya kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala, dan memohon ampunlah kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala atas perlakuan sombong kita terdahulu kepada-Nya.

Hai hamba-hamba’Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Az-Zumar, ayat 53)

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Salah Idola

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“Payungnya Pak…”

“Pak… Payungnya Pak…”

“Pak Stasiun Pak, Payungnya…”

Terdengarlah suara anak separuh baya yang ukuran tubuhnya jauh lebih pendek dari panjang payung yang mereka pegang, namun usaha untuk bekerja demi mendapatkan recehan tetap mereka lakoni sebagaimana mestinya walau taruhannya mereka harus berbasah kuyup dan kehilangan payungnya untuk disewakan kepada orang yang kehujanan.

Deras hujan semakin lama semakin menjadi… Banyak suara klakson terdengar dari mobil Angkutan Umum berwarna hijau yang saling tidak sabar untuk segera mendapatkan penumpangnya. Tertulis di sana “03”, Angkutan jurusan Bubulak – Baranangsiang. Tidak satu orangpun terlewat untuk mereka tawari menyewa payungnya, namun nasib tidaklah mujur, mereka masih saja berdiri di depan tempat perbelanjaan yang tepat bersebrangan dengan Stasiun Bogor.

Saya yang beberapa waktu yang lalu baru saja keluar dari Angkutan Umum 03, sepulang dari daerah Cimande, langsung berlari ke tempat perbelanjaan tersebut untuk meneduh, meskipun akhirnya rintikan hujan membasai sebagian baju saya, dan sebagai korbannya sendal saya pun ikut basah karena genangan air tersebut. Terlihat banyak orang di sana yang mempunyai tujuan yang sama dengan saya, karena hujan semakin derasnya.Termpat perbelanjaan tersebut dipadati banyak orang bukan karena tempat itu sedang mengadakan diskon besar-besaran, melainkan banyaknya orang yang meneduh karena takut basah kuyup akibat hujan.

Sambil melihat pemandangan sekitar, saya melihat salah seorang lelaki muda mengenakan pakaian yang jika dilihat dari jauh, pasti kita sudah bisa menebak bahwa itu adalah kaos band yang sering di jual di stasiun-stasiun atau tempat pedagang kaki lima.

“Ah… Pemandangan yang sudah tidak asing lagi ini sih” ujar saya dalam hati

sampai saat itu saya lengah sekitar 5 menit sambil memandangi Angkutan Umum, Hujan, Ojek Payung dan kondisi sekitar

“Kenapa jadi banyak yang pake kaos band yang sama?” sambil heran karena baru sadar

Terlihat jelas ada beberapa teman-temannya yang memakai kaos band tersebut yang sama, dengan warna yang sama pula, dan dengan bentuk yang sama. Mereka bercanda satu sama lain, terdengar tawa mereka dengan jelas meskipun suara hujan yang amat besar. Setelah saya sadar, ternyata orang-orang tersebut bertujuan untuk menonton konser band idola nya… Sambil terlihat pula banner yang mereka buat dan mereka tunjukkan di depan umum.

Pemandangan tersebut membuat saya berfikir sejenak… “Kenapa mereka-mereka itu sampe bela-belain ujan-ujanan demi nonton konser idola mereka, yang sebenarnya kerugiannya jauh lebih banyak daripada keuntungannya?” Mereka rela hujan-hujanan, rela meneduh dan menunggu untuk waktu yang sangat lama hanya untuk menonton band idola mereka. Sambil melihat ke arah belakang, ternyata ada beberapa wanita berkerudung yang rela ikut hujan-hujanan bersama temannya. Dan lagi-lagi, baju yang sama yang saya lihat dengan beberapa orang sebelumnya.

Sebuah fenomena yang menurut saya kurang pas untuk ditempatkan pada kenyataan yang ada. Saat idola mereka sudah digantikan dengan pemain band, dengan artis, dengan Public Figure lainnya. Yang seharusnya mereka mengidolakan orang yang benar-benar memberi contoh yang baik bagi kemajuan umat manusia.

Tidak salah memang mengidolakan mereka, tetapi akan menjadi sebuah kesalahan jika mengidolakan seseorang yang belum pasti benar tersebut secara berlebihan, bahkan sampai rela hujan-hujanan pula! Bahkan ada pula yang rela membayar mahal untuk suatu pertunjukkan yang hanya berlangsung selama 1 jam saja, demi hanya melihat idola nya (padahal melihatnya dari jauh).

Mereka-mereka yang bersenang-senang di sana telah kehilangan idola asli mereka, idola awal mereka. Idola yang benar-benar patut menyandang gelar “Idola Seluruh Zaman”, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Saat mereka rela hujan-hujanan untuk bertemu sang idola mereka, apakah mereka akan rela untuk hujan-hujanan pula untuk bertemu Rasulullah SAW?

Saat mereka rela membayar mahal untuk bertemu sang idola mereka, apakah mereka akan rela pula mengeluarkan uang untuk bertemu Rasulullah SAW?

Saat mereka rela untuk berjalan jauh untuk bertemu sang idola mereka, apakah mereka akan rela pula berjalan jauh untuk bertemu Rasulullah SAW?

Yang tentunya bagi kita, derajat Rasulullah SAW itu jauh lebih-lebih tinggi daripada mereka yang di idolakan oleh orang-orang tersebut, jauh lebih-lebih mulia daripada mereka yang sering di idolakan oleh kaum muda-mudi. Tetapi mengapa faktanya sekarang berbalik?


Hanya kesadaran hati-lah yang dapat menjawabnya, hati yang benar-benar yakin akan idola sesungguhnya, yakni Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, hati yang benar-benar sadar tentang apa yang kebanyakan saat ini terjadi justru lebih banyak nilai-nilai negatifnya daripada nilai positifnya.

Silahkan kita jawab dengan pikiran terbuka, dengan akal dan hati yang penuh kesadaran…

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Propaganda Dunia Barat Pada Pemuda-Pemudi Islam

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Jujur, tadinya artikel ini tidak mau saya publish karena hanya akan menjelek-jelekkan suatu fenomena yang ada sekarang dan malah akan menimbulkan image “sok paling benar”, “sok suci”, “sok beriman” dan “sok sok” yang lainnya kepada saya yang datang dari mereka yang tersindir oleh artikel ini. Tetapi demi kebenaran, akhirnya saya beranikan untuk posting artikel ini. Karena kebenaran akan tetap kebenaran dan harus kita tegakkan apapun kondisi nya.

Artikel ini saya buat bukan untuk memberitahu bahwa saya benar dan Anda salah, atau Anda benar dan saya salah. Tetapi tujuan artikel ini dibuat adalah sebagai pengingat untuk diri masing-masing, terlebih bisa menjadi pengingat untuk keluarga kita dan orang lain di sekitar kita. Dan semoga artikel ini bisa bermanfaat dan bisa di baca ulang jika memang kita berada pada jalur yang salah.

Tolong luangkanlah waktu untuk membaca artikel ini sekitar 10-20 menit, tutup semua tab di browser Anda, matikan musik yang Anda dengarkan, dan mulailah membaca artikel ini secara perlahan.


Banyak sudah fenomena-fenomena baru yang terjadi di sekitar kita tanpa kita sadari. Mungkin jika fenomena tersebut ada benarnya dan bisa memberikan solusi terhadap Islam, itu sangat wajar dan membantu. Tetapi jika fenomena terselubung tersebut malah menghancurkan Islam secara perlahan, ini adalah suatu pembantaian massal terhadap Umat Islam, terlebih yang di racuni oleh berbagai fenomena tersebut adalah Pemuda-Pemudi Islam, yang seharusnya menegakkan Syari’at Islam, membawa Islam untuk maju ke depan, bukan malah menghancurkan Islam secara perlahan dan secara diam-diam.

Apa sajakah fenomena-fenomena tersebut? dan Bagaimanakan fenomena-fenomena tersebut mampu masuk ke dalam keseharian kita? Sehingga kita menjadi terbiasa dengan adanya fenomena-fenomena yang hadir tersebut. Parahnya, fenomena-fenomena yang salah tersebut sekarang malah menjadi suatu trend tertentu di kalangan masyarakat Indonesia, dan pula dengan alasan trend tersebut, orang-orang yang tidak mengikuti tren tersebut justru akan dianggap salah oleh mereka yang sudah terjerumus fenomena-fenomena aneh tersebut.

Saat ini kita hidup dalam dunia yang bergerak cepat ke arah ketidakwarasan, bergerak menjauh dari kebenaran, bergerak menjauh dari ajaran ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga orang-orang yang waras (orang yang menyuarakan kebenaran) pada akhirnya dianggap tidak waras hanya karena mereka berada dalam kaum minoritas (sedikit jumlahnya). Kita berada pada zaman dimana Umat Islam betul-betul telah tercabut dari akarnya sehingga kita malah mengedepankan kaum-kaum dan ajaran barat daripada ajaran ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Banyak sudah propaganda yang dilakukan Dunia Barat terhadap kita (para Pemuda-Pemudi Islam) yang secara halus masuk ke alam bawah sadar kita, tanpa kita sadari! yang secara perlahan namun pasti mampu menggoyahkan Iman Islam kita, yang secara diam-diam masuk melalui aktifitas keseharian kita. Sebagai contoh saja, trend pacaran yang booming di Indonesia saat ini, yang menghancurkan generasi-generasi muda-mudi Umat Islam, trend berpakaian yang tidak sesuai dengan ajaran Islam (Al-Qur’an dan Sunnah), bahkan saat ini yang sedang trend adalah dunia hiburan yang bertajuk islami, yang sebenarnya juga melenceng dari ajaran Islam.

Tentang bagaimana fenomena-fenomena (yang katanya trend) tersebut mampu menjadi kebiasaan di kalangan anak muda kita, itu saya tidak tahu pasti bagaimana bisa masuk ke tiap individu, tetapi yang terpenting adalah kita dengan sadar tahu akan fenomena-fenomena sesat tersebut dan bisa meninggalkan kebiasaan buruk tersebut. Yah minimal kita sadar lah bahwa itu buruk dan tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tetapi alangkah lebih baiknya kalau kita menghindar dari itu semua dan mengingatkan kepada yang lain tentang fenomena-fenomena sesat ini.

Yang paling miris untuk dibanggakan adalah status agama Islam yang secara tidak sadar sebenarnya kita sedang menghancurkan agama kita sendiri dengan perbuatan yang justru jauh dari nilai-nilai keislaman kita. Di KTP (Kartu Tanda Penduduk), status agama kita adalah Islam, tetapi apa yang kita lakukan malah jauh jauh jauh dari ajaran Islam yang justru menjadi kebaikan bagi kita semua. Lantas apa makna tulisan “Agama : Islam” di KTP kita selama ini? Dan bagaimana jika saudara-saudari kita bertanya tentang agama kita, dan kita berkata “Islam”, namun justru kelakuan kita malah mencerminkan sifat sebaliknya? Astaghfirullah…

Malulah kita sebagai pemuda-pemudi Islam tetapi kita malah mencerminkan sifat-sifat yang jauh dari nilai Islam, malulah kita jika kita masih melakukan hal yang dilarang Islam dengan penuh kesadaran, malulah kita jika kita membanggakan Islam, tetapi kita malah menabung dosa. Malulah kita sebagai pemuda-pemudi Islam yang tidak bisa meneruskan generasi Islam berikutnya, jika generasi pemuda-pemudi ini hancur berantakan, maka bisa dipastikan generasi Islam berikutnya akan ikut hancur, yang akan berujung kepada kehancuran Islam. Astaghfirullah… Maafkanlah kami Ya ALLAH.

Sebenarnya Propaganda fenomena-fenomena yang saya sebutkan di atas, yang asalnya dari Dunia Barat sana. Yang mayoritas adalah Yahudi dan Nasrani memang sengaja membuat propaganda tersebut untuk membuat kita (Umat Islam) menjauhkan ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala dari kehidupan kita menjauhkan kita dari tujuan hidup kita, yaitu beribadah kepada-Nya. Tentang hal ini, ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 120, yang artinya:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir Juz 1, Surat Al-Baqarah ayat 120, pada ayat ini menjelaskan bahwa :

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka”

Ibnu Jarir mengatakan : “Yang dimaksud dengan firman-Nya itu adalah: ‘Hai Muhammad, orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu selamanya, karena itu tidak usah lagi kau cari hal yang dapat menjadikan mereka rela dan sejalan dengan mereka. Akan tetapi arahkan perhatianmu untuk mencapai ridha Allah dengan mengajak mereka kepada kebenaran yang kamu diutus dengannya.'”

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)'”

Artinya : “Katakanlah, wahai Muhammad, sesungguhnya petunjuk Allah yang Dia telah mengutusku dengannya adalah petunjuk yang sebenarnya, yaitu agama yang lurus, benar, sempurna, dan menyeluruh.”

“Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”

Dalam ayat tersebut terdapat ancaman larangan keras bagi umat yang mengikuti cara-cara orang Yahudi dan Nasrani setelah umat ini mengetahui isi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal itu. Khithab (sasaran pembicaraan) dalam ayat ini ditujukan kepada Rasulullah, tetapi perintahnya ditujukan kepada umatnya.

Yang perlu kita lakukan sekarang adalah sadar sepenuhnya bahwa banyak sekali di luaran sana Propaganda yang sengaja mereka buat demi tujuan yang salah satunya sudah di jelaskan di atas tadi. Sadar bahwa sebenarnya kita sedang dituntun oleh mereka menuju kesesatan, menjauhi ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala (atau menyekutukan ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala). Menyekutukan ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala berarti kita telah melenceng jauh dari Syahadat kita sebagai Muslim. Padahal kita telah bersyahadat bahwa tidak ada yang patut di sembah melainkan ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

أشهد ان لا اله الاالله و اشهد ان محمدا رسول الله

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah (sesembahan) melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah”

Teruskanlah membaca jika dirasa artikel ini memang menyadarkan kita bahwa selama ini kita berada di jalan yang salah. Namun jika dirasa artikel ini hanya artikel yang tidak penting, silahkan tutup halaman ini.

Wealth, Throne, and Woman
Jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, sub judul diatas berarti “Kekayaan, Tahta, dan Wanita” yang menjadi penghancur utama pada pemuda-pemudi Islam, yang menjadi cikal bakal kehancuran para generasi muda Islam. 3 hal yang menjadi dasar kehancuran pemuda-pemudi Islam yang sekarang menyebar luas menjadikan istilah tersebut sebagai trend baru yang harus di ikuti.

Kekayaan mampu melupakan tujuan utama kita dalam mencari rezeki yang Halalan Toyyiban, kekayaan mampu membuat kita serakah dan lebih cinta kepada dunia semata. Kekayaan lah sekarang yang menjadi tolak ukur suatu keberhasilan, bukan seberapa bermanfaat kita bagi orang lain, bukan seberapa sering kita mengucap Dzikir kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala. Bukan tidak boleh untuk kaya. Boleh saja kaya, tetapi jika kita salah dalam menempatkan “kaya” tersebut di hati kita, semuanya hanya akan menjadi fana, tidak ada habisnya, tidak akan pernah cukup. Setiap orang berlomba-lomba menuju kekayaan yang ujungnya tidak akan pernah habis, yang tidak akan memberikan rasa puas di hati, yang ujungnya adalah menghalalkan segala cara untuk menjadi kaya, yang melegalkan hal-hal haram untuk menjadi kaya. Itulah fenomena kekayaan yang meracuni kaum generasi muda Islam saat ini.

Tahta juga merupakan sebuah sesuatu yang fana, yang tidak ada habisnya, yang semakin di kejar semakin tidak memberikan ketenangan, tidak memberikan rasa puas di hati. Trend saat ini kan setiap orang harus menduduki posisi tertinggi dalam suatu perusahaan, jika tidak maka akan ada rasa gengsi di hati, jika tidak maka dianggap tidak keren.

Yang lebih ironisnya lagi adalah menghalalkan segala cara apapun untuk merebut suatu tahta atau jabatan yang ada, rela menghambur-hamburkan uang demi sebuah jabatan, rela melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam untuk mendapatkan sesuatu tahta atau jabatan. Astaghfirullah…

Wanita selalu saja menjadi perbincangan favorit di setiap sesi apapun itu. Inilah yang menjadi fenomena-fenomena yang sekarang sedang booming. Banyak perusahaan di luaran sana yang menonjolkan sosok wanita nya daripada Pria. Ini dimaksudkan agar banyak para kaum pria tertarik dan terpesona melihat wanita yang di desain oleh perusahaan tersebut. Banyak Wanita yang rela  mempercantik dirinya yang justru melenceng jauh dari ajaran Islam. Tidak sedikit juga pria yang tertipu dengan kecantikan wanita yang ujung-ujungnya itu sebenarnya adalah tipu daya syaitan, tidak banyak pria yang akhirnya terjerumus berbuat maksiat, terjerumus fintah yang tidak benar karena wanita.

Rasulullah SAW bersabda :

Tidaklah aku meninggalkan suatu fitnah setelahku yang lebih dahsyat bagi kaum laki-laki melebihi fitnah wanita” (HR. Bukhari, no. 4706)

3 hal di atas lah yang sekarang sedang marak terjadi di negara kita, dimana populasi terbesarnya dipegang oleh Umat Islam, yang ternyata menjadi sasaran empuk kaum Yahudi dan Nasrani dalam menjauhkan aqidah Umat Islam yang terlebih khususnya adalah kaum generasi muda, untuk memalingkan wajah kita dari ajaran ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Jika kita saat ini sadar bahwa selama ini kita di iming-imingi propaganda dunia yang mengasyikan tersebut oleh mereka, maka sekarang kita bisa dikategorikan sebagai orang yang sesat, karena kita telah memalingkan pandangan agama kita menjadi pandangan agama mereka yang sebenarnya itu menyimpang jauh dari apa yang telah diperintahkan oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala. Ingatlah bahwa orang yang diberi petunjuk oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala maka orang tersebut akan mendapat petunjuk oleh-Nya, begitupun sebaliknya.

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Kahfi ayat 17, yang artinya :

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 186, yang artinya :

Barang siapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman dalam Surat Az-Zumar ayat 36-37, yang artinya :

Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidak seorang pun pemberi petunjuk baginya.

Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?

Fun! Fun! Fun!
Dunia hiburan kali ini sudah mulai meluas, sudah mulai berkembang dari waktu ke waktu seiring zaman yang telah berganti ini. Tetapi dengan berkembangnya zaman ini, Dunia hiburan sekarang semakin melenceng saja dari nilai-nilai Islam yang semestinya diterapkan oleh kita semua.

Sebagai contoh saja, acara Tabligh Akbar yang diadakan oleh beberapa media-media televisi ternama menghadirkan ceramah agama Islam, tetapi juga memuat unsur “Fun” yang di dalamnya terdapat banyak hal yang melenceng jauh dari ajaran Islam. Acara tersebut tentunya akan lebih baik jika dibuat khusus untuk membahas tausiyah tentang agama Islam, bukan mencampuradukkan Tabligh Akbar dengan acara musik, dengan acara panggung hiburan. Padahal Rasulullah SAW tidak mencontohkan berdakwah dengan cara tersebut. Tentunya cara Rasulullah dalam berdakwah itu lebih baik ketimbang berdakwah lewat acara Tabligh Akbar seperti yang kita bisa lihat di televisi sekarang.

Belum lagi banyaknya acara di televisi yang mencampuradukkan dakwah Ustadz, tetapi setelahnya latar belakang acara tersebut mempertontonkan aurat dengan gratisnya melalui media televisi. Isi dakwah pun lenyap, dosa pun di dapat. Astaghfirullah…

Saya pernah melihat di televisi, konser musik yang diadakan pada waktu Adzan Magrhib secara langsung, dan penyanyi nya adalah penyanyi yang melantunkan lagu islami! Yang lebih parahnya lagi waktu itu, di televisi tersebut saya melihat banyak sekali wanita-wanita berkerudung yang pada saat Adzan Maghrib berkumandang, malah dengan asyiknya mendengarkan konser tersebut dan seolah-olah lupa dengan panggilan ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Sungguh memang dunia hiburan saat ini sudah mulai masuk ke berbagai sektor, terutama sektor Islam. Yang jika dilihat sekarang hal tersebut dianggap “wajarlah namanya juga hiburan”. Apakah ini yang bisa kita banggakan dari kaum generasi muda Islam? Lantas bagaimana masa depan Islam jika generasi muda nya sekarang saja seperti ini? Wallahu a’lam

Belum lagi jika kita perhatikan sekarang, dakwah Islam yang dibalut dengan adanya hiburan. Yang dimaksud di sini adalah, berdakwah sambil melawak, tertawa sampai terbahak-bahak. Ini salah satu perlakuan yang sangat menyimpang dari ajaran Islam. Padahal bukan begitu dakwah yang di ajarkan Rasulullah SAW. Sungguh zaman ini sudah berbeda dengan zaman sebelumnya.

Fashion! Fashion! Fashion!
Wabah fashion zaman sekarang sudah melesat jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, bahkan sekarang dunia fashion adalah dunia yang wajib di ikuti bagi para penikmat fashion. Jika tertinggal dengan suatu model tertentu, maka mereka merupakan orang yang tertinggal yang akan di cap “ga gaul”,  “ga keren” dan “ga ngikutin perkembangan zaman”. Sudah separah itu kah dunia fashion?  Sampai-sampai tidak hanya kaum Non Islam yang beramai-ramai menyuarakan model fashion, tetapi kaum Islam pun ikut mengupdate dunia fashion, dan terlebih yang sedang marak sekarang adalah busana fashion model Islami, yang kebenarannya masih diragukan oleh beberapa orang.

Fashion telah melesat jauh dengan bantuan berbagai media, salah satu media yang paling berpengaruh adalah televisi. Dengan televisi, fashion model terbaru sekalipun dapat kita nikmati langsung tanpa kita harus pergi ke tempat yang ada di televisi tersebut. Contohlah Paris yang bagi sebagian besar adalah kiblat fashion seluruh orang yang mengagumkan fashion, sekalinya Paris me-rilis suatu model fashion terbaru, maka dengan cepat model tersebut mengalir melalui media dan bisa di nikmati oleh seluruh dunia dalam waktu sekejap saja.

Ketiga Propaganda Utama, yaitu Food (makanan), Fashion (berpakaian), dan Fun (kesenangan) zaman sekarang memang sudah  dianggap suatu hal yang wajar bagi para penikmat ajaran yang salah, terkhusus pada Fashion dan Fun. Dunia barat terus aja menggembor-gemborkan konsep fashion terbaru yang harus diikuti oleh para pemuda-pemudi Islam, yang akhirnya hanya akan berujung kepada ketidakpedean jika kita menerapkan cara berpakaian kita yang sesuai dengan ajaran ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Banyak sudah sekarang para pemuda yang malu mengenakan pakaian muslim untuk pergi ke masjid, takut nanti di bilang “ga gaul” oleh kebanyakan orang. Malahan sebaliknya, banyak dari para pemuda yang merasa kalau mereka tidak membeli baju baru yang sedang ngetrend maka mereka akan ketinggalan zaman. Sungguh nilai keislaman yang sudah dicabut oleh dunia barat secara paksa, namun perlahan, tetapi pasti. Belum lagi kaum pemudi (wanita) yang dengan gampangnya terpengaruh stlye-style model baju terbaru di pusat perbelanjaan, dan juga terpengaruh iklan di media televisi. Tidak hanya itu, zaman sekarang pun sedang ngetrend kerudung yang selalu berbeda gaya nya, dari berbagai macam warna, sampai berbagai macam model.

Dari situlah konsep berbusana yang sesuai dengan ajaran Islam mulai di tinggalkan secara perlahan, dengan menempatkan embel-embel “fashion” maka, mereka memaksa secara halus kepada kita semua bahwa landasan dan tolak ukur untuk berbusana zaman sekarang adalah fashion! bukan lagi Al-Qur’an dan Hadist. Astagfirullah….

Dengan demikian, kita tetap berstatus Islam, namu perilaku dan tingkah kita semakin lama akan semakin dijauhkan oleh mereka, niat suci kita akan dihapus oleh mereka dan digantikan dengan yang lebih “keren”, lebih “stylish”, lebih “fashionable”. Dengan alasan, “kalau kamu ga ikutin fashion ini, kamu bakal ketinggalan zaman”, “kamu sih ga gaul, ikutin dong fashion model terbaru kita”, dan bermacam-macam embel-embel melali sublimal message yang akan masuk ke alam bawah sadar kita tanpa kita sadari, yang lama-lama akan menjadi habits.

Belum lagi jika dunia hiburan dan fashion dicampuradukkan, maka kita akan melihat banyaknya para lelaki yang berpakaian menyerupai wanita, malah bahkan kita tidak sadar bahwa sebenarnya itu adalah lelaki. Dan begitu juga sebaliknya, wanita yang berpakaian ketat menyerupai lelaki, berpakaian yang diluar konteks yang diajarkan oleh Islam. Dan atas nama dunia hiburan, fenomena-fenomena tersebut dianggap wajar, “wajarlah, namanya juga hiburan”. Dari bisikan itulah kata “wajar” akan terdengar oleh banyak orang, yang akan diimplementasikan ke kehidupan nyata.

Yang akhirnya sekarang bisa kita lihat didunia nyata, implementasi dari apa yang ada di media televisi mampu menularkan kebiasaannya kepada lingkungan sekitar kita. Muncul banyak waria, banyak wanita yang memakai pakaian ketat, dan masih banyak lagi habits buruk yang tersimpan di memori otak kita.

Dari Ibnu Abbas dia berkata :

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat para laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki” (H.R Bukhari, no. 5436)

Kesimpulan
Dari banyak fenomena-fenomena yang hadir dari Dunia Barat, membuat kita merenungi status kita sekarang, implementasi hidup kita sekarang, amalan hidup kita sekarang. Sudah sesuaikan dengan ajaran Islam dan Rasulullah SAW? Ataukah kita malah terjebak dalam fenomena-fenomena tersebut?

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala berfirman pada Surat Al-Kahfi ayat 28, yang artinya :

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Jika kita memang sedang terjebak oleh fenomena-fenomena tersebut, alangkah baiknya jika kita memohon ampun kepada ALLAH  Subhanahu Wa Ta’ala dan memohon diberi petunjuk menuju jalan yang benar. Karena hanya kepada-Nya lah kita memohon ampun, dan memohon petunjuk.Perlahan namun pasti, kita harus bisa terlepas dari jebakan-jebakan tersebut, dan mulailah untuk selalu taat pada perintah ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang senantiasa diberikan petunjuk oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala dan tetap pada jalur yang lurus serta tetap berada di jalur kebenaran. Berdoalah kepada-Nya agar kita tetap diberikan kemampuan untuk menyerukan kebenaran yang bersumber dari ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiin…

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman (Q.S. Al-Imran 139)

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


Referensi

Al-Qur’an

Hadist Imam Bukhari

Tafsir Ibnu Katsir

Hidup Sehat Sebagai Rasa Syukur

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Banyak orang yang sering mengatakan dengan jelas, memberi contoh dengan jelas, memberi nasihat dengan jelas kepada kita bahwa kita seharusnya bersyukur kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala. Ada yang bilang “Bersyukur dong, kan habis dapet rezeki” ada juga yang bilang “kalau dapet rezeki, harus bersyukur“, dan masih banyak lagi definisi syukur menurut orang lain yang sering diperdengarkan di telinga kita. Baiklah… Berarti intinya itu adalah jika segala sesuatu yang kita terima, kita harus bersyukur… Tapi dengan cara apa? Apakah ada cara real nya?

Apakah cukup dengan menyebut asma ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala yaitu “Alhamdulillah“? Kalau menurut saya sih, mengucapkan “Alhamdulillah” itu sangat baik, selalu mengingat pemberian-Nya kepada kita. Tapi bagi saya, ada hal yang kurang… Bahkan di salah satu kesempatan ketika saya kuliah, Kang Aga pernah bilang, “Kalau cuma Alhamdulillah, orang yang non Islam pun bisa menyebutnya“. Nah dari situlah pemikiran artikel ini akan berlanjut. Intinya adalah kita harus melakukan secara real apa yang kita syukuri, tidak hanya sekedar di lisan saja.

Sebagai contoh, hal yang selalu dilupakan oleh banyak orang adalah tentang Kesehatan. Banyak orang yang terus bersyukur sudah di beri kesehatan yang berlimpah oleh ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, tetapi mereka tidak melakukan secara real untuk tetap menjaga kesehatan mereka. Sekali lagi… kalau hanya mengucap “Alhamdulillah” sih orang non Islam pun bisa, tapi implementasi dari rasa syukur itu lah yang terpenting untuk di amalkan. Misalkan dengan menjaga kesehatan kita, memberikan hal optimal atas setiap langkah yang kita pijakkan di bumi ini, mengupdate ilmu tentang kesehatan yang juga akan membuat diri kita akan lebih sehat.

Sebagai contoh, rasa syukur atas kesehatan yang ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala telah berikan kepada kita adalah dengan menjaga kondisi badan kita tetap sehat, menjaga diri kita agar tidak terlalu capek, tidak merusak diri kita dengan merokok dan minum alkohol, tidak sembarangan mengkonsumsi obat-obatan, tidak makan sembarangan, dan masih banyak lagi rasa syukur secara real yang harus kita implementasikan dengan nyata, tidak hanya sekedar ucapan saja.

Karena tidaklah pantas kita untuk merusak diri kita. Logikanya simpel saja… ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala setiap harinya memberikan kita kesempatan untuk hidup sehat, diberikan rezeki setiap saat untuk bisa melihat dunia-Nya yang indah ini, tetapi jika kita hanya bisa merusak diri kita sendiri dan tidak menjaga apa yang telah di amanahkan oleh-Nya, kita termasuk orang yang tidak tahu diri, tidak berterima kasih kalau kita sudah diberi kesehatan oleh-Nya. Maka dari itulah penting sekali untuk kita menjaga kesehatan diri kita sendiri dan menghindarkan hal-hal yang membuat diri kita sakit.

Perintah ALLAH di Al-Qur’an
ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an pada Surat Al-Baqarah, ayat 195, yang artinya :

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala memberi perintah kepada kita bahwa janganlah kita menjatuhkan diri kita sendiri ke dalam kebinasaan. Mungkin bisa lebih diperjelas bahwa intinya kita harus senantiasa menjaga kesehatan yang kita dapat, dan janganlah kita merusak diri kita sendiri (dengan tidak merokok, tidak minum alkohol).

Kesimpulan
Bila ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala yang sudah memerintahkan kepada kita, harusnya kita lebih mengerti akan hal tersebut, dan menyegerakan mengerjakan perintah-Nya. Bukan malah mencari alasan-alasan lain untuk tidak mengerjakan perintah-Nya.

Sebagai penutup dari artikel ini, beberapa hari ke depan, saya akan share beberapa tips hidup sehat untuk bisa Anda aplikasikan di dalam hidup Anda.


Referensi bacaan :

Surat Al – Baqarah Ayat 191 S.d 200

Berpakaian Tapi Telanjang

Pada artikel ini, mungkin pembahasannya akan lebih di tekankan kepada Wanita/Perempuan/Cewe. Karena memang itulah yang akan Saya bahas, tentang bagaimana wanita zaman sekarang banyak yang berpakaian, tetapi mereka masih telanjang. Kok bisa? Iya, arti dari telanjang bukan serta merta telanjang bulat atau tidak berpakaian, tetapi lebih ke arah mempertontonkan aurat wanita atau memperlihatkan lekuk tubuh wanita.

Aurat Wanita
Islam memandang wanita makhluk agung, yang harus terlindung, dengan jilbab dan kerudung, agar terhormat bukan bermaksud memasung. Karena itulah Rasul menasihati Asma binti Abu Bakar.

Rasulullah SAW bersabda : “tak layak wanita yang telah haid terlihat kecuali ini dan ini” (HR Abu Dawud)

“Ini dan ini”,  selagi mengucap, Rasul mengisyaratkan dengan batasan tangan, yaitu wajah dan tangannya, semudah itulah aurat Wanita.

Menutup Aurat
Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nuur ayat 31, yang artinya :

Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Dari ayat tersebut, bisa di tafsirkan bahwa Wanita seharusnya menutup auratnya dengan kerudung sampai batas dada Wanita, dan juga tidak menampakkan perhiasannya kecuali terhadap muhrimnya.

Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT juga berfirman dalam Surat Al-Azhab ayat 59, yang artinya :

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.

Dari ayat tersebut, bisa di tafsirkan bahwa Wanita seharusnya juga mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, dengan maksud menutup aurat juga seperti apa yang terdapat pada Surat An-Nuur ayat 31. Dan juga supaya Wanita lebih mudah di kenal bahwa itu adalah Wanita muslimah dan Wanita itu tidak di ganggu.

Sungguh, bahwa Allah telah mengetahui banyak kejadian saat ini dan sudah memfirmankan ribuan tahun lalu melalui Al-Qur’an, maka sebaiknya, para kaum Wanita hendaknya mengikuti ajaran Al-Qur’an agar selamat.

Berpakaian Tapi Telanjang
Mirip dengan judul Artikel ini, pada bagian ini, Saya akan menjelaskan fenomena banyaknya Wanita yang berpakaian tetapi masih Telanjang (dalam artian masih mempertontonkan aurat mereka). Masih ada Wanita yang belum menutup aurat, masih ada juga Wanita yang berkerudung, tetapi tidak berjilbab, masih ada juga Wanita yang menafsirkan Jilbab itu sebagai pakaian ketat (yang penting tubuh tertutup).

Rasulullah SAW bersabda : “Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat. (1) Kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, yang dipergunakannya untuk memukul orang. (2) Wanita-wanita berpakaian, tetapi sama juga dengan bertelanjang (karena pakaiannya terlalu minim, terlalu tipis atau tembus pandang, terlalu ketat, atau pakaian yang merangsang pria karena sebagian auratnya terbuka), berjalan dengan berlenggok-lenggok, mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (disasak) bagaikan punuk unta. Wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga. Padahal bau surga itu dapat tercium dari begini dan begini.” (HR Muslim, no. 3971)

Ya, Wanita yang berpakaian tapi telanjang dan wanita yang memakai kerudung menyerupai punuk unta tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Wanita yang berpakaian tapi telanjang sekarang banyak dijumpai di tempat-tempat umum, ialah Wanita yang memakai Legging1 atau memakai pakaian yang ketat yang secara tidak langsung mempertontonkan lekuk tubuhnya yang itu juga termasuk dalam aurat Wanita. SubhanAllah!

Kerudung Tidak Menutup Dada
Banyak Wanita mengira bahwa menutup aurat itu hanya sebatas memakai kerudung saja, hanya menutup rambut (yang penting rambutnya tidak terlihat). Oleh karena itulah banyak Wanita yang hanya menutup auratnya tapi hanya rambutnya saja, tidak dengan aurat yang lainnya, yang telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW pada hadist di atas. Terlebih, kerudung yang dipakai tidak menutup dada, padahal di Al-Qur’an sudah dijelaskan bahwa seharusnya Wanita menutup kain kerudung ke dadanya (juga), bukan hanya sebatas rambut saja yang di tutupi.

Legging
Legging dipakai oleh banyak Wanita saat ini dimaksudkan untuk menggantikan celana Jeans agar tidak repot, dan tentunya lebih praktis (yang padahal pakai jeans juga memperlihatkan lekuk tubuh). Lebih-lebih Legging yang dipakai bukan untuk bagian bawah saja (kaki), tetapi juga untuk bagian atas (tangan), yang sudah jelas itu lebih memperlihatkan lekuk tubuh mereka.

Apalagi Wanita yang memakai kerudung, tetapi mereka juga memakai Legging. Sungguh, Legging bukanlah pasangan yang cocok untuk kerudung. Padahal di Al-Qur’an sudah dijelaskan bahwa seharusnya Wanita mengulurkan jilbab nya ke seluruh tubuh mereka kecuali wajah dan tangan nya.

Kesimpulan

Menutup Aurat
Menutup Aurat

Untuk para Wanita yang belum berkerudung dan berjilbab, segeralah. Karena dengan mengikuti perintah Allah dan ajaran Rasulullah SAW, senantiasa kita selalu di lindungi oleh-Nya, merasa di awasi setiap langkahnya oleh Allah SWT. Mungkin yang memakai kerudung dan jilbab akan merasa terasing, tetapi itu tidaklah mengapa, karena Islam datang dengan terasing, dan Islam juga berakhir dengan keadaan terasing. Sungguh beruntunglah kita sebagai Umat Islam.

Jika di rasa Artikel ini terasa menggurui Anda, Saya mohon maaf. Jika di rasa Artikel ini bermanfaat bagi Anda, silahkan share ke teman-teman Anda.

Alhamdulillah…


1 Legging adalah celana atau pakaian penutup tubuh untuk Wanita yang ketat

Referensi bacaan :

Surat An – Nuur Ayat 31 S.d 40

Surat Al – Ahzab Ayat 51 S.d 60

http://chirpstory.com/li/7525

http://chirpstory.com/li/6487

Berkerudung Belum Tentu Berjilbab

http://chirpstory.com/li/19210