Imam Herlambang Blog

Menu

Category: Islam

Riba (Bagian 2)

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Artikel ini adalah bagian ke-2 dari bahasan tentang Riba. Jika Anda belum membaca bagian 1 nya, silahkan baca artikel Riba (Bagian 1).

Saya bukan seorang ustadz, akan tetapi saya mempelajari sedikit lebih ke arah muamalah Islam dan mengikuti kajian-kajian Muamalah Islam yang InsyaAllah sumbernya bisa dipercaya. Tetapi jika Anda menemukan kekurangan dalam artikel yang saya buat ini, tolong diingatkan dengan baik, agar saya bisa koreksi dan revisi sesegera mungkin.


Pada artikel sebelumnya, saya sedikit menggambarkan tentang dosa dari riba, tentang fenomena riba saat ini, tentang apa yang sebenarnya terjadi di negeri kita sekarang ini adalah, sebagian besar diakibatkan oleh riba.

Pada artikel kali ini, saya akan memberikan sedikit gambaran, apa sajakah yang termasuk transaksi riba? Atau transaksi yang mengandung riba? Untuk itu, mari kita mulai dengan mengetahui apa sebenarnya riba.

Riba dalam bahasa arab yang berarti tambahan, tumbuh, dan menjadi tinggi. Namun dalam pemahaman syariat, banyak ulama yang berbeda pendapat. Akan tetapi pada intinya, makna asalahnya sama.

Hukum Riba

Sudah sangat jelas sekali bahwa Riba adalah salah satu hal yang diharamkan dalam syariat Islam. Bahkan Allah dan Rasul-Nya menyatakan perang kepada pelaku riba. Karena sungguh riba akan membuat perpecahan yang tidak berkesudahan.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat  keberuntungan. (Al-Qur’an, Surat Al-Imran, Ayat 130)

Ibnu Katsir Rahimahullah dalam menafsirkan ayat ini berkata, “Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari praktik dan memakan riba yang senantiasa berlipat ganda. Dahulu, di zaman jahiliah, bila piutang telah jatuh tempo, maka kreditur berkata kepada debitur, ‘Lunasi utangmu atau bayar riba’. Bila debitur tidak melunasinya, maka kreditur menunda tagihan dengan kompensasi debitur menambah jumlah pembayarannya. Demikianlah setiap tahun, sehingga bisa saja piutang yang sedikit menjadi berlipat ganda hingga beberapa kali lipat.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

(Dosa) riba itu memiliki tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan ialah semisal dengan (dosa) seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri.(H.R At Thabrani – Dishahihkan oleh Al-Albani)

Berdasarkan hadist di atas, kita sudah mengetahui, sesungguhnya, dosa paling ringan dari riba saja itu adalah setara dengan menzinahi ibu kandung sendiri, yang mana tindakan zina sudahlah haram. Silahkan untuk bisa kita renungkan hadist di atas.

Jenis-Jenis Riba

Agar bisa terhindar dari dosa riba (semoga kita semua diberi kekuatan untuk meninggalkan riba), maka kita harus tahu apa saja jenis-jenis atau transaksi yang termasuk ke dalam riba?

Mengutip dari buku Pak Zaim Saidi yang berjudul Euforia Emas, beliau mengutip kitab seorang ulama besar dari Andalusia, Ibn Rushd yang berjudul Bidayat Al-Mujtahid, pada bab Al-Buyu’, menjelaskan batasan riba secara gamblang, dan menkategorikan riba ke dalam delapan jenis transaksi, yaitu:

  1. Transaksi yang dicirakan dengan suatu pernyataan ‘Beri saya kelonggaran (dalam pelunasan) dan saya akan tambahkan (jumlah pengembaliannya)’;
  2. Penjualan dengan penambahan yang terlarang;
  3. Penjualan dengan penundaan pembayaran yang terlarang;
  4. Penjualan yang dicampuraduk dengan utang;
  5. Penjualan emas dan (tambahan) barang dagangan untuk emas;
  6. Pengurangan jumlah sebagai imbalan atas penyelesaian yang cepat;
  7. Penjualan produk pangan yang belum sepenuhnya diterima; atau
  8. Penjualan yang dicampuraduk dengan pertukaran uang.

Jika disederhanakan kedelapan kategori itu, Ibn Rushd menggolongkan kemungkinan munculnya riba dalam perdagangan menjadi 2 sumber, yaitu:

  1. Penundaan pembayaran (riba an-nasi’ah); dan
  2. Perbedaan nilai (riba tafadul).

Riba yang pertama, an-nasi’ah, merujuk pada selisih waktu yang tidak diperbolehkan; dan riba yang kedua, tafadul atau al-fadl, merujuk pada selisih nilai yang tidak diperbolehkan. Dengan dua jenis sumber riba tersebut, beliau (Ibn Rushd) selanjutnya merumuskan adanya empat kemungkinan, yaitu:

  1. Hal-hal yang pada keduanya, baik penundaan maupun perbedaan dilarang adanya.
  2. Hal-hal yang padanya dibolehkan ada perbedaan, tetapi dilarang ada penundaan.
  3. Hal-hal yang pada keduanya, baik penundaan maupun perbedaan, diperbolehkan adanya.
  4. Hal-hal [yang dipertukarkan] yang terdiri atas satu jenis (genus) yang sama [semisal pertukaran uang].

Rumusan tersebut menunjukkan bahwa istilah penundaan waktu maupun perbedaan nilai digunakan di dalam fiqih untuk hal-hal, baik halal maupun haram, bergantung pada jenis transaksi dan barang yang ditransaksikan. Hal ini berarti:

  1. Bahwa dalam suatu transaksi yang mengandung unsur penundaan yang haram, timbul riba an-nasi’ah.
  2. Bahwa dalam transaksi yang mengandung unsur penambahan yang haram, timbul riba tafadul atau al-fadl.
  3. Bahwa dalam suatu transaksi yang mengandung keduanya (penundaan yang haram dan penambahan yang haram), berarti timbul riba an-nasi’ah dan riba al-fadl sekaligus.

Berikut jenis-jenis transaksi yang kita sering lakukan sehari-hari. Ditampilkan dalam tabel/diagram berikut:

Tabel Riba dalam Transaksi Harian
Tabel Riba dalam Transaksi Harian (Saidi, 2011)

 

Cara membaca diagram tersebut, caranya adalah dengan membaca melawan arah jarum jam, dimulai dari kotak paling kiri bawah. Utang-Piutang, transaksi tersebut mengandung selisih waktu diperbolehkan, namun jika ada selisih nilai, maka itu diharamkan. Sebagai contoh, misalkan kita meminjam uang sebesar Rp. 100.000, maka saat kita mengembalikan uang tersebut pun harus sejumlah Rp. 100.000. Pengembalian utang ini boleh ditunda sampai batas waktu yang sudah ditentukan, namun uang yang dipinjam, saat dikembalikan tidak boleh berubah nilainya. Jika ada orang yang meminjam uang Rp. 100.000, namun saat dikembalikan uangnya menjadi Rp. 150.000 (misalnya), maka orang tersebut sudah melakukan riba Al-Fadl.

Selanjutnya, tukar-menukar, merupakan transaksi yang tidak boleh melibatkan penundaan waktu maupun penambahan nilai. Biasanya ini terjadi pada transaksi pertukaran benda sejenis. Emas dengan emas, perak dengan perak, kurma dengan kurma, tepung dengan tepung. Untuk pertukaran ini maka harus sama kadar dan timbangannya, dan juga harus kontan (saat itu juga). Tidak boleh ada salah satu pihak yang menunda penyerahannya (pertukarannya), atau menambahkan/mengurangi kadar dan jumlahnya.

Transaksi selanjutnya, yaitu transaksi jual beli transaksi yang sering terjadi. Transaksi ini dibolehkan adanya penambahan (misal untuk mengambil untung), tetapi tidak boleh bayarnya jadi di tunda, dengan kata lain, pembayarannya harus tunai. Nah, kalau jual beli secara cicilan bagaimana? Boleh saja, tapi statusnya itu sudah bukan jual beli lagi, tetapi menjadi utang piutang, maka seperti yang sudah dijelaskan tadi di atas, harga secara tunai maupun secara cicilan haruslah sama.

Nah, menurut Anda, transaksi-transaksi kredit sekarang yang mengambil “lebih” dari suatu cicilan, apakah itu termasuk riba atau bukan?

Selanjutnya, transaksi sewa-menyewa, dalam hal ini maka penundaan waktu dan juga pertambahan selisih nilai diperbolehkan. Contohnya, ada seseorang menyewa tenda, dengan harga Rp. 500.000 selama 10 hari. Jika pemakaian selesai, maka tenda tersebut harus dikembalikan. Namun jika ingin menambah masa sewa (penundaan waktu), maka boleh untuk si pemilik tenda mengenakan tambahan nilai kepada si penyewa. Tetap, dengan catatan transaksi tersebut adalah sewa-menyewa dan barang harus dikembalikan.

Tapi, tidak semua benda bisa disewakan, ada barang-barang tertentu yang jika disewakan menjadi habis, seperti makanan, uang dan barang-barang lain yang habis dipakai. Kalau seperti rumah, mobil, motor, kendaraan lain itu adalah barang-barang yang tidak habis dipakai.

Begitulah kira-kira transaksi harian yang bisa kita teliti didalamnya terdapat riba atau bukan. Untuk transaksi, pegang ke-empat indikator tersebut (jual beli, sewa menyewa, utang piutang, dan tukar menukar), untuk indikator lainnya, pegang dua indikator, yakni penambahan nilai dan penundaan waktu.

Sekarang, kita sudah mengerti transaksi apa saja yang termasuk riba, dan tugas kitalah untuk keluar dari jeratan riba secepat mungkin. Jika ada solusi keluar dari riba, namun solusi tersebut adalah riba juga, segera tolak dan tinggalkan.

Semoga Allah membimbing langkah kita dalam memerangi riba, dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa riba kita yang terdahulu.

Artikel ini akan dilanjut ke Bagian 3…

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


Referensi

Saidi, Z. 2011. Euforia Emas. Pustaka Adina: Depok.

Hidayah Datang Setiap Saat

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saya tiba-tiba teringat oleh perkataan salah satu guru saya di suatu kelas. Beliau berkata “Hidayah itu hadir setiap saat”. Persisnya kata-katanya seperti itu. Dari perkataan tersebut beliau sampaikan berulang-ulang kali, layaknya ingin menegaskan bahwa hidayah itu tidak seharusnya kita tunggu, tetapi hidayah itu selalu hadir setiap saat.

Tugas kita lah yang seharusnya lebih peka, kita seharusnya melatih pikiran kita, hati kita, mata kita untuk melihat lebih jauh, telinga kita untuk mendengar lebih peka. Dan semua itu bisa kita lakukan jika kita memang peka, jika kita memang ingin mendapatkan hidayah.

Jadi, sudah seharusnya kita menangkap sinyal-sinyal hidayah yang sudah Allah berikan kepada kita, bukan menunggu hidayah. Sebuah contoh sederhana yang datang dari salah satu gadis ber-rambut panjang yang belum berhijab, dengan alasan “saya belum siap”, “hijab hati dulu, baru tubuh”, dan bermacam-macam alasan lainnya. Padahal, mungkin jika gadis tersebut mau untuk melihat sekitar, untuk mengamati sekitar, sudah banyak sekali lingkungan sekitar nya yang sudah berhijab.

Hidayah Datang Setiap Saat
Hidayah Datang Setiap Saat (sumber: http://creativekhalifah.tumblr.com)

Jadi Allah sudah memberikan hidayah-Nya melalui wanita-wanita yang sudah berhijab tersebut. Allah hadirkan tepat di sekeliling gadis yang belum berhijab tersebut. Hanya saja, sang gadis belum sadar diri terhadap lingkungannya.

Atau mungkin seorang perokok yang di dalam hatinya sudah ada sedikit keinginan untuk berhenti merokok, dan tentunya sudah berdoa memohon untuk dibukakan hidayah agar bisa berhenti merokok. Di sekitarnya pun sudah banyak orang yang mensupport dia untuk berhenti merokok.

Tetapi jika si perokok tersebut tidak menyadarkan dirinya, atau tidak peka terhadap lingkungan, tidak mau melihat lebih luas akan hidayah-hidayah yang sudah Allah berikan. Maka doa-doa yang dia panjatkan tadi itu hanya sebatas doa saja. Padahal Allah sudah memberikan hidayah-Nya melalui lingkungan-lingkungan sekitar.

Sepertinya masih banyak sekali contoh-contoh realita di sekeliling kita yang saat ini bermasalah dengan hidayah. Saya pun dan juga Anda mungkin salah satunya. Tugas kita sekarang adalah membuat diri kita lebih peka terhadap lingkungan sekitar, lebih “melek” untuk melihat, dan lebih banyak mendengar, memperhatikan sekitar. Karena Hidayah Allah itu datang setiap saat.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Dengki Penghalang Rezeki

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Dengki. Kita mungkin atau bahkan sering mengalami penyakit hati yang satu ini, yang kehadirannya sangat amat menyiksa batin kita. Tetapi kita sebagai pelakunya tidak sadar akan sesungguhnya penyakit berbahaya ini.

Biasanya orang yang dilanda dengki ini, apapun yang dilakukan oleh orang terdekatnya, selalu saja iri, selalu saja tidak suka, selalu saja mencari alasan-alasan lain yang mendukung pembenarannya. Padahal, justru perasaan-perasaan itulah yang menghancurkan hatinya.

Orang yang dengki biasanya cenderung tidak suka melihat orang terdekatnya lebih bahagia daripadanya, lebih sukses daripadanya. Padahal, sebagai manusia wajar dan normal, kita sudah seharusnya berbahagia apabila salah satu saudara kita menerima kebahagiaan.

Perasaan dengki awalnya muncul saat merasa diri tidak mampu, kemudian karena ketidakmampuan diri tersebut, saat diri lemah, lalu muncullah sesosok diri lain yang ternyata lebih mampu dari diri kita, dan dari situlah timbul perasaan iri.

Iri bahwa diri kita tidak bisa lebih baik daripada orang yang kita iri-kan tersebut. Nah dari perasaan iri tersebutlah lahir perasaan dengki, yang sejatinya merusak segala amalan-amalan hati, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar.

Sebab dengki ibarat kebocoran yang terjadi pada sebuah ember, sederas apapun kita mengisi air, kalau ember tersebut bocornya tidak ditambal, ya airnya tidak akan penuh. Begitupun dengan dengki, sebesar dan sebanyak apapun kita melakukan amalan, kalau hati kita memiliki perasaan dengki, amalan-amalan yang kita lakukan akan terbuang sia-sia begitu saja.

Rezeki pun demikian, hanya numpang lewat bahkan, hanya setetes saja bahkan yang sanggup mampir pada diri kita. Yang seharusnya mendapatkan banyak rezeki, dengan dengki, rezeki itu pun hilang nan tak berbekas.

Dengki Penghalang Rezeki
Dengki Penghalang Rezeki (sumber: http://superior.blogspot.com/)

Artikel ini menjadi pengingat bagi diri saya pribadi khususnya, dan untuk Anda semua yang mungkin saat ini sedang dilanda penyakit yang satu ini. Segeralah untuk mengintrospeksi diri, untuk memperbaiki diri. Dan sadarilah bahwa dengki hanya akan membuat kita berdiam di tempat.

Untuk tips menghilangkan dengki, salah satunya bisa Anda baca di artikel ini, selain itu kita juga bisa menghilangkan dengki dengan banyak-banyak bersyukur, dan juga lebih pasrah diri bahwa kesuksesan kita itu terjadi atas izin Allah. Jika orang-orang terdekat kita ternyata lebih sukses, bisa jadi karena mereka berusaha lebih giat dari kita, dan kitanyalah yang kurang berikhtiar. Selalulah dalam keadaan positive thinking setiap waktunya.

Ketahuilah, dengki bisa menjadi penghalang rezeki, dengki bisa menyebabkan penyakit hati, dengki bisa menyebabkan perpecahan, dengki bisa menyebabkan putusnya tali silaturahim, dan masih banyak lainnya efek buruk dari dengki.

Mari hilangkan perasaan dengki tersebut.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Ujian dan Hukuman

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Biasanya ketika kita sekolah dulu, ada 2 hal yang selalu kita takuti (setidaknya ada 2 memang). Ada Ujian dan ada Hukuman. Namun, biasanya kita kerap menyamakan kedua hal tersebut dengan perasaan yang sama, akhirnya kita tidak bisa membedakan mana yang benar-benar namanya ujian, mana yang hukuman.

Padahal, jika dilihat lebih dalam tentang keduanya, sesungguhnya itu kedua hal yang berbeda. Namun karena dahulu kita belum mengetahui tentang kedua hal tersebut, perasaan kita atas kedua hal tersebut biasanya sama.

Ujian diberikan kepada seseorang untuk mengukur sejauh mana seseorang telah belajar dalam hidupnya. Untuk mengukur sejauh mana seseorang sudah siap untuk naik ke tingkat selanjutnya di dalam hidupnya.

Hukuman biasanya diberikan kepada seseorang atas perbuatan salah yang telah dilakukan oleh seseorang. Atas perbuatan melanggar ketentuan atau peraturan. Biasanya hukuman ada yang secara langsung, ada juga yang ditunda (seperti dipenjara, sebelumnya dilakukan proses pengadilan terlebih dahulu).

Begitupun Ujian dan Hukuman dari Allah, banyak manusia ketika menerima ujian mengaggap itu sebenarnya adalah hukuman baginya. Dan sebaliknya, banyak pula manusia ketika menerima hukuman, menganggap itu sebenarnya adalah ujian.

Ujian dan Hukuman
Ujian dan Hukuman (sumber: http://ardhastres.blogspot.com)

Adakah cara membedakan ujian dan hukuman? Sebenarnya ada banyak, namun saya akan sedikit sharing tentang bagaimana membedakan kondisi kita, sedang diujikah oleh Allah atau sedang dihukumkah kita?

Perbedaan keduanya terletak dari cara kita menyikapi hal tersebut. Biasanya ketika diuji (dan orang tersebut tahu sedang diuji), mereka akan lebih tenang, karena mereka tahu, setelah ujian, derajat mereka akan ditingkatkan, dan ujian hanyalah salah satu langkah untuk memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.

Sedangkan ketika dihukum, orang cenderung gelisah, khawatir, takut dan banyak perasaan-perasaan negatif lainnya bercampur menjadi satu. Jenis seperti ini, biasanya hati kita telah dinodai oleh kesalahan.

Untuk ujian, jika kita sabar dan tawakkal, InsyaAllah kita akan lulus ujian tersebut. Lain dengan hukuman, hanya akan berakhir ketika memang sudah dimaafkan oleh Allah (atau hukuman tersebut sudah cukup), atau kita nya lah yang meminta maaf kepada Allah atas perlakuan tidak baik kita, atas perlakuan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya.

Maka, sudah selayaknya kita untuk introspeksi diri, saat ini kita sedang diuji atau sedang dihukum?

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Riba (Bagian 1)

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Artikel yang akan saya tulis kali ini tidak membahas secara menyeluruh pengertian riba dan apa macam-macamnya, silahkan Anda bisa cari sendiri di artikel-artikel lain di internet atau bisa mencari kitab-kitab lain. Namun, saya tetap mencantumkan beberapa hadist yang relevan dengan pembahasan kali ini.


 

Sungguh akan datang suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak memakan (harta) riba. Siapa pun yang (berusaha) tidak memakannya, ia tetap akan terkena debu (riba) nya. (H.R. Ibnu Majah, H.R. Sunan Abu Dawud, H.R. An-Nasa’i dari Abu Hurairah)

Begitulah kira-kira salah satu Hadist Rasulullah SAW. Yang ternyata jika kita bandingkan dengan kondisi saat ini, sangat benar adanya. Riba telah membuat orang terpaksa terlibat untuk melakukan riba, walaupun ada yang berusaha tidak terlibat riba, tetap terkena debu-debu riba.

Padahal kita semua tahu bahwa dosa riba bukan hanya untuk pelakunya saja, akan tetapi untuk pencatat, saksi, dan juga penggunanya. Dan kita juga tahu bahwa dosa riba yang paling ringan itu sama dengan berzina.

Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan mengetahui bahwa itu adalah uang riba, dosanya lebih besar daripada berzina sebanyak 36 kali. (H.R. Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 3375)

Bisa kita lihat ke dalam kehidupan kita sekarang, di setiap lini kehidupan kita dipenuhi oleh aktivitas riba, sampai-sampai sangat sulit sekali untuk menghindari riba. Riba sudah menjadi lifestyle kita, sudah mendarah daging yang sulit untuk kita lepas.

Bagaimana tidak, untuk bisa beli bermacam-macam benda primer bahkan sekunder, kita lebih banyak ditawarkan dalam bentuk kredit ketimbang tunai, bisa kita lihat pada barang-barang televisi dan elektronik lainnya, lemari, meja, kursi, kendaraan bermotor, bahkan sampai rumah pun ditawarkan dalam bentuk kredit, lebih tepatnya kredit yang mengandung bunga, yang tidak lain adalah sistem ribawi.

Mengapa demikian, karena jika kita membeli secara tunai, biaya-biaya yang ditawarkan tersebut akan sulit sekali dijangkau oleh kita, oleh karena itulah ditawarkan dalam bentuk kredit berbunga.

Tidak hanya barang yang kita beli, bahkan aktivitas pembayaran lain yang kita lakukan juga menggunakan sistem riba, seperti misalkan pembayaran telepon, listrik, tol, jasa-jasa lainnya. Karena investasi yang mereka dapatkan dan mereka salurkan melalui sistem kredit perbankan.

Begitulah riba. Riba membuat seluruh lini kehidupan kita menjadi berantakan, menjadikan orang-orang semakin menderita dan sengsara. Bahkan secara tersirat Allah menyatakan bahwa riba itu membuat manusia menganiaya dan dianiaya.

Ketahuilah bahwa persoalan yang paling utama sekarang adalah riba. Riba telah menggerogoti segala aspek kehidupan kita. Kredit berbunga, sewa menyewa uang, pinjaman bank, dan masih banyak produk perbankan lainnya yang memicu munculnya riba.

Riba menyebabkan segala macam harga pokok menjadi naik, karena esensi riba sendiri adalah tambahan, maka akibat dari itu semua harga barang-barang pokok harian kita tidak bisa murah lagi seperti dulu, karena sewaktu memulai usaha, banyak yang menggunakan pinjaman berbunga bank, alhasil banyak yang menaikkan harga untuk menutupi bunga-bunga bank tersebut.

Riba saat ini sudah menjadi sistem, sudah menjadi pola hidup, sudah menjadi habits baru bagi seluruh umat dunia.

Jadi, sampai saat ini, kita sadar bahwa akar persoalan kita adalah riba, menggerogoti hidup kita secara perlahan namun pasti. Namun, apakah ada solusi untuk terhidar dari riba? Setidak-tidaknya hanya debunya saja?

Jika kita mengikuti solusi dari sistem ribawi saat ini, solusi yang ditawarkan adalah riba lagi!. Betul, kegiatan riba saja sudah haram, lah ini ditawarkan riba lagi. Pinjaman uang dengan cicilan ringan dan bunga yang sangat kecil, yang mana proses seperti ini terus berputar layaknya lingkaran setan.

Naudzubillahi min dzalik…

Semoga intro dari artikel sederhana ini bisa membuka wawasan kita akan bahaya riba. Pada artikel selanjutnya (InsyaAllah minggu depan), saya akan sedikit bahas apa saja yang termasuk dalam kategori riba.

Artikel ini akan dilanjut ke Bagian 2…

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Bersyukur

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Biasanya, seorang muslim mengucapkan Alhamdulillah jika mendapatkan sesuatu yang mereka impi-impikan. Atau mendapat sesuatu yang tak diduga, dan itupun biasanya diucapkan ketika ingat, kalau lupa yah ucapan tersebut biasanya terlewat saking senangnya (semoga kita tidak termasuk orang yang lalai berdzikir).

Tidak sedikit juga yang mengucap kata tersebut saat dalam keadaan tidak susah, saat susah kata-kata tersebut jarang sekali bisa dilantunkan. Seyogyanya, ucapan tersebut haruslah mengalir setiap hembusan nafas kita, karena apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita, tidak akan sanggup kita hitung.

Akan tetapi, belum cukup sampai disitu saja, sebisa mungkin haruslah ada action nyata dari kita atas bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Jadi tidak hanya sekedar dilisankan saja, tetapi ada amal nyata perbuatan atas rasa syukur kita terhadap pemberian Allah.

Bersyukur
Bersyukur (sumber: http://tipsorangsukses.blogspot.com)

Misalkan, setiap harinya kita masih diberikan kesehatan optimal oleh Allah, setelah bersyukur mengucap Alhamdulillah, sebisa mungkin kita juga harus menjaga kesehatan yang telah Allah amanahkan kepada kita. Karena masih banyak loh orang-orang diluar sana yang saat ini berbaring di rumah sakit memohon untuk diberikan kesembuhan. Sudah sepatutnya, kita tunjukkan amal nyata kita atas perasaan bersyukur kita.

Jadi untuk kita yang sering bersyukur mungkin akan lebih naik lagi tingkatan level bersyukur kita kepada Allah, dengan cara mengoptimalkan, menjaga, dan melakukan sesuatu atas pemberian Allah.

Kira-kira, jika kita punya baju berlebih dan diberikan ke orang lain, tentu orang itu akan senang bukan dengan pemberian kita? Tentu saja. Dia berucap “Terima Kasih ya atas pemberian bajunya, saya sangat suka ini”. Kita pun terharu mendengar kata-katanya.

Tetapi, berhari-hari kemudian, baju tersebut ternyata tidak dipakai olehnya, sampai bertahun-tahun lamanya, baju tersebut tidak dipakai juga oleh orang tersebut. Kira-kira, apakah selanjutnya kita akan memberikan baju lagi kepada orang tersebut?

Silahkan direnungkan baik-baik.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Manfaat dan Berkah

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Biasanya, dalam kegiatan mencari ilmu, kita mencari manfaat dari ilmu tersebut. Kita berharap dengan ilmu yang kita dapat, kita juga berharap mendapatkan hasil, yang biasa disebut manfaat. Tapi ternyata, manfaat saja tidaklah cukup.

Seperti layaknya rezeki yang halal, tentu tidak akan lengkap jika tidak ada toyyiban. Halal itu bisa bagaimana cara mendapatkan harta, atau jenis harta tersebut, sedangkan toyyiban itu adalah baik untuk si penerima rezeki tersebut. Jadi misal kita mendapatkan rezeki halal, tetapi tidak toyyiban ya itu rasanya kurang lengkap saja.

Untuk bahasan tentang halal dan toyyiban, Anda bisa lebih lanjut baca di artikel blog sahabat saya di sini.

Nah, dalam berilmu pun, ternyata manfaat saja tidak cukup. Ada satu hal lagi yang perlu kita perhatikan baik-baik. Yaitu adalah Berkah. Berkah bisa secara sederhana diartikan sebagai “Yang mendatangkan kebaikan bagi si pelakunya”.

Jadi misalkan kita belajar suatu ilmu, katakanlah tentang adab-adab Rasulullah. Kita bisa saja mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut, yang mana kita bertambah ilmunya, dari yang semula tidak tahu, menjadi tahu.

Tetapi, ternyata setelah mendapatkan ilmu, perilaku kita tetap sama saja seperti itu, yang ternyata tidak membawa kebaikan bagi kita. Jadi meskipun manfaatnya dapat, tetapi berkah nya belum bisa di dapatkan.

Manfaat dan Berkah
Manfaat dan Berkah (sumber: http://hidupberkah.com/)

Berkah itu bisa didapat salah satunya dengan menghormati guru,  menghormati waktu yang diluangkan untuk belajar. Sehingga setelah mendapatkan ilmu, nantinya ilmu kita bermanfaat untuk diri kita sendiri (terlebih untuk orang lain) dan juga mendatangkan kebaikan pula untuk kita. Sehingga jika kita mendapatkan berkah, tentunya hidup kita akan lebih baik lagi kedepannya.

Jika hidup kita semakin baik, kita bisa meneruskan ilmu yang kita dapat tadi karena manfaat dan keberkahannya.

Oh iya, jika hanya mendapat manfaat tetapi tidak mendapatkan berkah. Biasanya sebanyak apapun manfaat yang didapat, tetapi tanpa berkah didalamnya. Orang tersebut akan sulit sekali untuk menularkan ilmunya kepada orang lain, karena ilmu yang didapat tidak membawa keberkahan bagi dirinya, hanya sekedar bermanfaat.

Ini semacam teguran bagi kita semua, semoga kedepannya, dalam berilmu, kita bisa mengejar keduanya, yaitu manfaat dan berkah. Dan semoga kita bisa terus memberikan ilmu-ilmu kita agar bisa bermanfaat dan berkah untuk orang lain juga (Jadi tidak hanya bermanfaat dan berkah untuk diri sendiri, tapi untuk orang lainnya juga)

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Tips Sahur dan Berbuka Puasa

Artikel singkat ini diterbitkan atas permintaan dari salah satu teman saya yang bernama Ayu Ridhia Amalia.


Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Meskipun artikel ini terbilang sudah “telat” dalam publikasinya, namun semoga saja ilmu yang ada di artikel ini akan tetap berguna bagi siapapun yang ingin menjalankan ibadah puasa selain di bulan Ramadhan tentunya. Dan semoga saja, siapapun yang bisa mengaplikasikan ilmu sederhana ini (yang juga saya dapat dari orang lain), bisa disebarluaskan juga untuk menambah ilmu sahabat-sahabat yang lainnya.

Saya sebenarnya bukan seorang dokter ataupun seorang yang ahli di bidang kesehatan, namun saya adalah seorang pembelajar yang senang belajar tentang banyak hal, terutama tentang kesehatan (Anda bisa melihat profil singkat saya di halaman Tentang Saya). Semoga beberapa tips dan ilmu yang akan saya paparkan berikut berguna bagi Anda sekalian yang membaca artikel ini.

Perlu kita ketahui, menjalankan hidup dengan berdasarkan kesehatan saat ini sangat tidak mudah. Banyak sekali doktrin-doktrin salah yang bertebaran di luar sana yang akhirnya masuk ke dalam bawah sadar kita, sehingga lama-kelamaan tentunya menjadi kebenaran palsu di dalam diri kita, menjadi tradisi yang wajar dilakukan, menjadi kesalahan yang bisa ditoleransi oleh banyak orang.

Tentunya dalam hal ini, kita harus benar-benar teliti akan info-info yang hadir di sekitar kita, terutama dengan media televisi dan berita online yang kebanyakan dibuat demi keuntungan semata, tidak memperhatikan salah dan benarnya. Asal posting dan asal mempublikasikan suatu ajaran atau berita.

Salah satu yang sering kita dengar saat bulan Ramadhan tiba adalah slogan “berbukalah dengan yang manis“, yang bisa dibilang sudah mendarah daging, hingga kebanyakan orang “wajib” sekali berbuka dengan minuman manis, sejenis teh manis, es buah dicampur dengan sirup atau susu, dan berbagai macam jenis minuman manis lainnya. Tentu ini menjadi suatu kesalahpahaman di masyarakat kita. Dan kebanyakan orang tidak menyadarinya.

Kebanyakan orang memulai berbuka puasa dengan minum-minuman yang manis, dengan sangat lahap dan kemudian dicampur dengan makanan lainnya. Apakah ini salah? Saya tentu tidak menyalahkan hal tersebut, karena setiap orang punya kegemaran masing-masing di dalam menyantap makanan. Tetapi bagaimana bila yang dikonsumsi oleh kita itu ternyata malah tidak baik bagi tubuh? Terutama saat berbuka puasa dan sahur?

Konsep sehat yang salah menjadikan kebanyakan orang bebas makan apa saja dengan semau mereka, kalau sakit? ya tinggal minum obat, kan beres! Tapi sebenarnya konsep sehat yang benar tentunya bukan sekedar “kalau sakit, ya tinggal minum obat, kan beres!”, tetapi lebih kepada menjaga tubuh kita agar seminimal mungkin terkena penyakit.

Bukankah Allah sudah memberikan kita rezeki sehat setiap saatnya kepada kita? Jika memang demikian, maka kita harus mensyukuri nikmat sehat tersebut dengan cara menjaga kesehatan tubuh kita. Tentunya dengan menjaga apa yang kita makan, jangan sampai salah makan hingga membuat tubuh kita tidak bisa mencerna dengan baik makanan dan minuman yang kita masukkan ke dalam tubuh.

Lalu sebenarnya, apakah makanan yang baik untuk kita santap selagi berbuka puasa maupun saat kita sahur?

Berbuka Puasa

Mari kita bahas makanan yang baik untuk dimakan saat berbuka puasa, karena biasanya banyak kesalahan yang dilakukan oleh orang saat berbuka, sehingga timbul berbagai macam efek aneh yang biasa orang disebut “abis kenyang, bego” (ini sering kan kita dengar). Untuk menghindarinya, kita perlu tahu makanan apa yang tubuh butuhkan, sehingga kita tidak mendikte makanan terhadap tubuh kita, tetapi kita memberikan makanan yang memang tubuh butuhkan.

Dari Anas bin Malik, beliau berkata “Dahulu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berbuka dengan beberapa butir ruthab (kurma basah), dan kalau tidak ada ruthab maka dengan beberapa butir tamr (kurma matang), dan kalau tidak ada tamr maka dengan beberapa teguk air” (HR. Abu Daud, no. 2009).

Kalau boleh saya tafsirkan sendiri tentang Hadist di atas, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berbuka puasa dengan kurma basah, kalau tidak ada dengan kurma matang (kurma kering), kalau tidak aja juga kurma matang, maka dengan beberapa teguk air. Dan ini Rasulullah lakukan sebelum Shalat Maghrib. Jadi pembatal puasa Rasulullah ya hanya sekitar 3 jenis makanan/minuman itu saja.

Lalu muncul-lah argumen baru tentang makanan berbuka puasa, terutama slogan “berbuka dengan yang manis”. Mengetahui bahwa Rasulullah pada waktu berbuka dengan kurma (yang notabene adalah buah manis), maka kebanyakan orang menganggap berbuka dengan makanan manis (apapun jenisnya) adalah baik. Padahal jika di lihat lebih mendalam tentang ini, yang dimaksud manis adalah manis dari buah. Yang tentunya kita tahu bahwa buah mengandung fruktosa (gula buah) yang alami, tentu kita tidak bisa sembarang mengganti fruktosa dengan makanan/minuman manis lainnya.

Maka dari itu, muncullah teh manis, es buah dicampur gula dan susu (silahkan baca artikel saya tentang 3 Hal Penting Sebelum Makan Buah) yang jelas menyalahi aturan tubuh ketika mengkonsumsi buah.

Kalau misalkan tidak ada kurma bagaimana? Kita bisa menggantinya dengan buah matang (segar, berserat, matang pohon, dan manis) untuk berbuka puasa, karena pada saat perut kosong, sangat cocok untuk mengkonsumsi buah. Jika ada kurma, maka kurma adalah buah yang baik, sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah.

Setelah berbuka puasa, bolehkah makan-makan berat? Untuk bagian ini, saya sendiri belum menemukan riwayat Hadist nya tentang makan-makan berat (seperti nasi, dll) setelah Shalat Maghrib. Tetapi saya punya sedikit tips kita yang memang “terbiasa” untuk memakan makanan berat.

Bagi kita yang “terbiasa” menyantap makan-makanan berat, saran saya, cobalah untuk tidak menggabungkan makanan berjenis pati dengan protein hewani (tentang ini, akan saya posting pada artikel berikutnya). Karena dengan menggabungkan makanan pati dan protein hewani, ini justru pemicu tubuh mengalami kantuk (terutama pada saat Shalat Tarawih). Itulah mengapa banyak orang yang mengantuk pada saat Shalat Tarawih, kita bisa cek dari makanan yang dimakan orang tersebut. Ada baiknya jika ingin tetap makan protein hewani, gabungkanlah dengan sayur segar, agar tubuh bisa mencerna kedua jenis makanan tersebut dengan baik.

Kesimpulan dari bagian ini adalah, saya menyarankan untuk berbuka dengan buah, terlebih itu buah kurma atau buah apapun. Konsep “manis” yang dimaksud adalah manis yang didapat dari fruktosa buah, bukan “manis” yang berasal dari makanan lain.

Cara ini telah saya buktikan setiap saya berbuka puasa (baik di bulan Ramadhan ataupun pada puasa Sunnah), dan saya tidak mendapatkan rasa kantuk sedikitpun setelah berbuka.

Sahur

Lalu bagaimana dengan makanan pada saat sahur? Tentu ini berbeda dengan saat kita berbuka puasa. Saat sahur kita membutuhkan banyak energi sebagai bahan untuk kita berpuasa. Dan tentunya juga dengan paham seperti itu, banyak orang juga melakukan kesalahan saat santap sahur, yang berujung kepada rasa kantuk yang berlebih. Ini bisa berakibat fatal, terutama pada saat waktu Subuh, bisa-bisa tidak Shalat Subuh lantaran terlalu banyak makan pada saat sahur. Lantas, yang terbaik bagaimana?

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda “Sebaik-baik (makanan) sahur bagi seorang mukmin adalah kurma” (HR. Abu Daud, no. 1998).

Lagi-lagi Rasulullah menganjurkan kita untuk menyantap kurma pada saat sahur. Tetapi kembali lagi pada bahasan sebelumnya, selain kurma tentu buah apapun boleh dimakan. Dalam hadist atas ada penekanan pada kata “sebaik-baik”, yang berarti makanan yang paling baik pada saat menyantap sahur adalah kurma (atau bisa juga buah lainnya).

Apakah kurma atau buah lainnya benar-benar bisa memberikan energi untuk orang yang berpuasa? Pada awalnya saya sih ragu dengan hal demikian, sampai saya akhirnya memutuskan melakukannya sendiri, dan sampai saat artikel ini ditulis (22 Ramadhan 1434 H), setiap saya sahur, saya hanya memakan kurma saja, dan saya tidak mengalami rasa kantuk setelah sahur ataupun pada siang hari.

Makan sahur dan berbuka yang cukup, serta minum yang cukup tidak akan menimbulkan rasa kantuk berlebih, selama makanan/minuman tersebut dikonsumsi secara benar pada waktu yang benar juga.


Semoga apa yang saya jelaskan di atas berguna bagi siapapun yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana cara yang baik untuk berbuka puasa juga untuk sahur. Saya bukanlah Dokter ataupun ahli kesehatan, saya hanya seorang pembelajar kesehatan yang kebetulan saja mengetahui cara sehat dengan cara yang baik dan benar.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Sejarah Hari Valentine (Hari Kasih Sayang)

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Seingat saya, pertama kali dan terakhir kali saya (pernah) merayakan Hari Valentine, hari (yang katanya) kasih sayang itu adalah saat saya masih sekitar kelas 2 SMP. Saat itu saya ingat sekali pernah membeli cokelat Silver Queen kecil (yang dulu harganya masih 3 ribu rupiah). Memang niatnya mau saya berikan kepada seorang wanita yang waktu itu pernah saya kagumi. Tetapi karena saya tidak berkesempatan bertemu dengannya, akhirnya cokelat itu saya makan sendiri. Hehehe.

Dan sekarang, saat saya semakin mengenal lebih dalam tentang Islam, saya tahu bahwa perayaan Hari Valentine tidak pernah sekalipun dicontohkan oleh Rasulullah ataupun bahkan para sahabat, atau ulama pengikut. Tetapi perayaan-perayaan tersebut ironisnya malah dilakukan oleh sebagian orang Islam saat ini.

Beberapa waktu yang lalu, akhirnya saya mencari sejarah tentang Hari Valentine tersebut. Dan saya terkejut ternyata sejarah tersebut sangat bertentangan jauh dari nilai-nilai islami. Malulah kita sebagai orang (yang mengaku) beragama Islam, tetapi malah melakukan tindakan yang jauh dari tindakan Islami.

Sejarah Awal Valentine

Sejarah awal Valentine bisa kita temukan banyak sekali bertebaran di Internet, dari beberapa banyak blog-blog yang menulisnya. Dan hampir sekitar 85% isi blog tersebut menceritakan sejarah yang sama.

Beberapa banyak orang percaya bahwa Valentine berasal dari perayaan bangsa Romawi sekitar 2000 tahun yang lalu. Perayaan tersebut bernama Lupercalia. Perayaan tersebut yang bernama Lupercalia dilakukan untuk menghormati Dewa Romawi Lupercus atau Dewa Pan.

Dewa Lupercus atau Dewa Pan
Dewa Lupercus atau Dewa Pan

Dewa Lupercus atau Dewa Pan adalah Dewa yang dikenal sebagai dewa padang rumput, dewa pada tempat-tempat liar, dewa di daerah pegunungan, dan juga dikenal sebagai dewa musik gembira.

Dewa Lupercus atau Dewa Pan mengingatkan kita bahwa hidup adalah suci, dan bahwa setiap saat adalah kesempatan untuk perayaan.

Bahkan, kata Panic dalam bahasa Inggris modern berasal dari nama Dewa Pan tersebut, karena Dewa Pan memerintah tempat liar di mana wisatawan akan sering mengalami ketakutan dan teror di perasaan yang tidak diketahui di sekitar mereka.


Dewa Lupercus 
atau Dewa Pan digambarkan berkepala kambing menunjukkan kemampuannya untuk menemukan kebahagiaan di semua medan. Dewa Pan juga keilahian seksualitas. Karena hubungannya dengan sisi primal dan liar alam, dia tanpa malu dalam mengekspresikan seksualitas sebagai bentuk perayaan, cinta, dan bahkan kontemplasi.

Dewa Lupercus atau Dewa Pan
Dewa Lupercus atau Dewa Pan

Saat itu, para Gembala di zaman Romawi percaya bahwa Dewa Pan melindungi tanaman mereka dan hewan mereka dari serangan binatang buas. Untuk ucapan terima kasih kepada Dewa Pan tersebut, para gembala tersebut mengadakan pesta untuk menghormatinya pada tanggal 15 Februari (tanggal Romawi). Peristiwa pesta tersebut dikenal dengan Lupercalia.

Pada saat itu tanggal Romawi berbeda dengan tanggal yang kita gunakan sekarang. Sehingga pada hari raya Lupercalia tersebut, pada Romawi juga merayakan pada awal musim semi (sekitar pertengahan Februari).

Hari sebelum hari raya Lupercalia tersebut dilaksanakan, semua wanita menaruh namanya pada sebuah guci. Dan setiap pria, mengambil nama perempuan tersebut dari guci. Jadi, wanita menaruh nama mereka, dan pada pria mengambil nama yang sudah ditaruh di guci. Semacam seperti arisan.

Gadis yang namanya terpilih oleh pria tersebut, akan menjadi pasangannya (melayani pria tersebut) selama hari raya tersebut (permainan) bahkan sampai perayaan Lupercalia tahun depan. Kadang-kadang, keduanya berjanji untuk menikah satu sama lain.

Karena inti dari perayaan Lupercalia adalah kesuburan bagi pada gembala, maka aktivitas Sex pun menjadi hidangan utamanya, maka dari itulah pada wanita dan pada pria berkumpul dengan cara tadi tersebut. Perayaan ini lebih identik dengan perayaan bersenang-senang.

Itulah fokus acara pada perayaan Lupercalia bagi rata-rata bangsa Romawi. Sebuah kesempatan yang popular dimana aturan dan etika sosial bisa diperlonggar, pria dan wanita tanpa malu-malu bercumbu dan berhubungan seks yang cukup kasar.

Ilustrasi Perayaan Lupercalia
Ilustrasi Perayaan Lupercalia

Transformasi Lupercalia Menjadi Valentine

Festival atau perayaan Luperalia berubah, semenjak Roma menjadi pusat ajaran Kristen. Gereja-gereja di Romawi menonak melakukan ajaran pagan tersebut. Tetapi bagaimanapun, upaya tersebut hanya berhasil sebagian saja. Rakyat tetap bersikeras merayakan Lupercalia, maka dari itulah diperlukan substitusi yang merupakan kombinasi antara ajaran Kristen dengan budaya pagan Lupercalia.

Bangsa tersebut memutuskan untuk mengubah nama perayaan tersebut menjadi Hari Saint Valentine. Itu untuk menghormati seorang pendeta Kristen bernama Valentine yang juga tinggal di Roma.

Dalam salah satu cerita yang sumbernya masih diragukan, Valentine dikisahkan mati karena melanggar hukum. Valentine hidup pada era Kaisar Claudius II. Saat itu Roma selalu terlibat peperangan untuk mempertahankan wilayah atau ekspansi kekuasaan. Tahun demi tahun berlalu, banyak pemuda yang diharuskan mengikuti wajib militer dan terlibat peperangan. Banyak warga Roma yang tidak ingin ikut berperang, suami tidak ingin meninggalkan keluarganya. Pemuda pun enggan jauh dari kekasih hatinya.

Melihat hal itu, Caludius II mengeluarkan moratorium yang menghapuskan seluruh pernikahan dan jalinan cinta harus putus saat itu juga. Kaisar tidak akan membiarkan salah satu prajuritnya menikah. Ia percaya bahwa pria lajang terlahir sebagai prajurit yang baik. Tetapi Valentine tidak setuju, Valentine sangat menentang kaisar. Saat sepasang muda-mudi mendatangi kuil untuk menikah, diam-diam Valentine mendatangi dan memberkati mereka, yang berarti sepasang kekasih itu secara resmi menikah dalam ajaran Kristen begitupun keyakinan mereka telah berganti. Ia membantu pria dan wanita muda menikah. Akibat pelanggaran tersebutlah, Kaisar menempatkan Valentine di penjara karena tidak menaati aturan tersebut, Valentine diseret dari tempatnya beribadat, meski banyak orang yang membela dan menginginkan dirinya dilepaskan, namun Kaisar Caludius II tetap keras hati. Dalam penjara bawah tanah, Valentine menderita hingga mati. Teman-temannya yang setia menguburkan jenazah Valentine di gereja St. Praxedes tanggal 14 Februari.

Belum selesai sampai di situ, Perayaan hari Valentine tetap berlangsung hingga beberapa abad, namun gereja tidak mampu sepenuhnya menghapus memori Lupercalia dari rakyat Roma.

Walaupun gereja telah memberikan dasar-dasar kisah Saint Valentine sebagai ganti ritual Lupercalia. Tetapi banyak dari gereja-gereja Protestan tidak mengenal nama Valentine tersebut sama sekali, dan sangat sedikit gereja Katolik yang merayakan atau meyakini riwayat Valentine dalam hari Valentine.

Lotre berbentuk undian wanita di dalam guci yang berasal dari tradisi kaum pagan tersebut tetap ada, dan kembali digunakan pada sekitar abad 15 ntuk memasang-masangkan para pemuda-pemudi.

Upaya gereja Katolik mengganti tradisi perayaan Lupercalia dengan Valentine sangat terburu-buru dan mengada-ngada demi mengejar Kristenisasi massal penduduk Roma. Hal ini terlihat dari tidak kuatnya sejarah dan identitas Valentine yang menjadi dasar “Hari Kasih Sayang” tersebut. Kisah-kisah Valentine lebih mirip legenda daripada fakta sejarah.

Pada Tahun 1969, Hari Valentine dihapuskan dari kalender oleh gereja-gereja dan dinyatakan sama sekali tidak memiliki asal muasal yang jelas. Sebab itu gereja melarang perayaan Valentine oleh ummat Kristiani. Walau demikian, larangan itu tidak ampuh dan hari Valentine masih saja diperingati oleh banyak orang di dunia.

Kesimpulan

Kedua sejarah yang kelam tersebut tidak bisa dilupakan begitu saja bagi para banyak orang, dan tetap menetap di pikiran mereka. Pesta Seks dan juga Kasih Sayang. Tidak heran maka perayaan Valentine saat ini telah dibalut oleh konsep nuditas dan juga seksualitas. Hari Kasih Sayang yang berbalut seks.

Kisah Valentine tersebut yang belum tentu benar adanya, dan juga itu sama sekali bukan perayaan umat Islam sedikitpun. Bahkan jika dilihat dari sejarah awal, perayaan Valentine berasal dari perayaan pesta seks. Yang semacam itu tidak pernah diajarkan dalam Islam.

Jika kita mengikutinya, maka sungguh kita orang-orang yang termasuk golongan tersebut. Sesuai dengan Sabda Rasulullah :

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Daud no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 1/676)

Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai kaum selain kami.” (HR. At-Tirmizi no. 2695)

Mari introspeksi diri kita, upayakanlah diri untuk segera meninggalkan ajaran-ajaran yang bukan merupakan ajaran Islam. Demi kebaikan kita bersama, demi meningkatkan kualitas diri. Demi mendapatkan Ridha ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


Referensi

Flanagan, A.K., dan Dieterichs, S. 2001. Valentine’s Day. Manhattan: Capstone.

http://www.livingaltars.com/pan/

http://forum.muslim-menjawab.com/2012/02/14/distorsi-sejarah-hari-valentine/

http://chirpstory.com/li/53197