Imam Herlambang Blog

Menu

Category: Idealisme

Riba (Bagian 2)

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Artikel ini adalah bagian ke-2 dari bahasan tentang Riba. Jika Anda belum membaca bagian 1 nya, silahkan baca artikel Riba (Bagian 1).

Saya bukan seorang ustadz, akan tetapi saya mempelajari sedikit lebih ke arah muamalah Islam dan mengikuti kajian-kajian Muamalah Islam yang InsyaAllah sumbernya bisa dipercaya. Tetapi jika Anda menemukan kekurangan dalam artikel yang saya buat ini, tolong diingatkan dengan baik, agar saya bisa koreksi dan revisi sesegera mungkin.


Pada artikel sebelumnya, saya sedikit menggambarkan tentang dosa dari riba, tentang fenomena riba saat ini, tentang apa yang sebenarnya terjadi di negeri kita sekarang ini adalah, sebagian besar diakibatkan oleh riba.

Pada artikel kali ini, saya akan memberikan sedikit gambaran, apa sajakah yang termasuk transaksi riba? Atau transaksi yang mengandung riba? Untuk itu, mari kita mulai dengan mengetahui apa sebenarnya riba.

Riba dalam bahasa arab yang berarti tambahan, tumbuh, dan menjadi tinggi. Namun dalam pemahaman syariat, banyak ulama yang berbeda pendapat. Akan tetapi pada intinya, makna asalahnya sama.

Hukum Riba

Sudah sangat jelas sekali bahwa Riba adalah salah satu hal yang diharamkan dalam syariat Islam. Bahkan Allah dan Rasul-Nya menyatakan perang kepada pelaku riba. Karena sungguh riba akan membuat perpecahan yang tidak berkesudahan.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat  keberuntungan. (Al-Qur’an, Surat Al-Imran, Ayat 130)

Ibnu Katsir Rahimahullah dalam menafsirkan ayat ini berkata, “Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari praktik dan memakan riba yang senantiasa berlipat ganda. Dahulu, di zaman jahiliah, bila piutang telah jatuh tempo, maka kreditur berkata kepada debitur, ‘Lunasi utangmu atau bayar riba’. Bila debitur tidak melunasinya, maka kreditur menunda tagihan dengan kompensasi debitur menambah jumlah pembayarannya. Demikianlah setiap tahun, sehingga bisa saja piutang yang sedikit menjadi berlipat ganda hingga beberapa kali lipat.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

(Dosa) riba itu memiliki tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan ialah semisal dengan (dosa) seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri.(H.R At Thabrani – Dishahihkan oleh Al-Albani)

Berdasarkan hadist di atas, kita sudah mengetahui, sesungguhnya, dosa paling ringan dari riba saja itu adalah setara dengan menzinahi ibu kandung sendiri, yang mana tindakan zina sudahlah haram. Silahkan untuk bisa kita renungkan hadist di atas.

Jenis-Jenis Riba

Agar bisa terhindar dari dosa riba (semoga kita semua diberi kekuatan untuk meninggalkan riba), maka kita harus tahu apa saja jenis-jenis atau transaksi yang termasuk ke dalam riba?

Mengutip dari buku Pak Zaim Saidi yang berjudul Euforia Emas, beliau mengutip kitab seorang ulama besar dari Andalusia, Ibn Rushd yang berjudul Bidayat Al-Mujtahid, pada bab Al-Buyu’, menjelaskan batasan riba secara gamblang, dan menkategorikan riba ke dalam delapan jenis transaksi, yaitu:

  1. Transaksi yang dicirakan dengan suatu pernyataan ‘Beri saya kelonggaran (dalam pelunasan) dan saya akan tambahkan (jumlah pengembaliannya)’;
  2. Penjualan dengan penambahan yang terlarang;
  3. Penjualan dengan penundaan pembayaran yang terlarang;
  4. Penjualan yang dicampuraduk dengan utang;
  5. Penjualan emas dan (tambahan) barang dagangan untuk emas;
  6. Pengurangan jumlah sebagai imbalan atas penyelesaian yang cepat;
  7. Penjualan produk pangan yang belum sepenuhnya diterima; atau
  8. Penjualan yang dicampuraduk dengan pertukaran uang.

Jika disederhanakan kedelapan kategori itu, Ibn Rushd menggolongkan kemungkinan munculnya riba dalam perdagangan menjadi 2 sumber, yaitu:

  1. Penundaan pembayaran (riba an-nasi’ah); dan
  2. Perbedaan nilai (riba tafadul).

Riba yang pertama, an-nasi’ah, merujuk pada selisih waktu yang tidak diperbolehkan; dan riba yang kedua, tafadul atau al-fadl, merujuk pada selisih nilai yang tidak diperbolehkan. Dengan dua jenis sumber riba tersebut, beliau (Ibn Rushd) selanjutnya merumuskan adanya empat kemungkinan, yaitu:

  1. Hal-hal yang pada keduanya, baik penundaan maupun perbedaan dilarang adanya.
  2. Hal-hal yang padanya dibolehkan ada perbedaan, tetapi dilarang ada penundaan.
  3. Hal-hal yang pada keduanya, baik penundaan maupun perbedaan, diperbolehkan adanya.
  4. Hal-hal [yang dipertukarkan] yang terdiri atas satu jenis (genus) yang sama [semisal pertukaran uang].

Rumusan tersebut menunjukkan bahwa istilah penundaan waktu maupun perbedaan nilai digunakan di dalam fiqih untuk hal-hal, baik halal maupun haram, bergantung pada jenis transaksi dan barang yang ditransaksikan. Hal ini berarti:

  1. Bahwa dalam suatu transaksi yang mengandung unsur penundaan yang haram, timbul riba an-nasi’ah.
  2. Bahwa dalam transaksi yang mengandung unsur penambahan yang haram, timbul riba tafadul atau al-fadl.
  3. Bahwa dalam suatu transaksi yang mengandung keduanya (penundaan yang haram dan penambahan yang haram), berarti timbul riba an-nasi’ah dan riba al-fadl sekaligus.

Berikut jenis-jenis transaksi yang kita sering lakukan sehari-hari. Ditampilkan dalam tabel/diagram berikut:

Tabel Riba dalam Transaksi Harian
Tabel Riba dalam Transaksi Harian (Saidi, 2011)

 

Cara membaca diagram tersebut, caranya adalah dengan membaca melawan arah jarum jam, dimulai dari kotak paling kiri bawah. Utang-Piutang, transaksi tersebut mengandung selisih waktu diperbolehkan, namun jika ada selisih nilai, maka itu diharamkan. Sebagai contoh, misalkan kita meminjam uang sebesar Rp. 100.000, maka saat kita mengembalikan uang tersebut pun harus sejumlah Rp. 100.000. Pengembalian utang ini boleh ditunda sampai batas waktu yang sudah ditentukan, namun uang yang dipinjam, saat dikembalikan tidak boleh berubah nilainya. Jika ada orang yang meminjam uang Rp. 100.000, namun saat dikembalikan uangnya menjadi Rp. 150.000 (misalnya), maka orang tersebut sudah melakukan riba Al-Fadl.

Selanjutnya, tukar-menukar, merupakan transaksi yang tidak boleh melibatkan penundaan waktu maupun penambahan nilai. Biasanya ini terjadi pada transaksi pertukaran benda sejenis. Emas dengan emas, perak dengan perak, kurma dengan kurma, tepung dengan tepung. Untuk pertukaran ini maka harus sama kadar dan timbangannya, dan juga harus kontan (saat itu juga). Tidak boleh ada salah satu pihak yang menunda penyerahannya (pertukarannya), atau menambahkan/mengurangi kadar dan jumlahnya.

Transaksi selanjutnya, yaitu transaksi jual beli transaksi yang sering terjadi. Transaksi ini dibolehkan adanya penambahan (misal untuk mengambil untung), tetapi tidak boleh bayarnya jadi di tunda, dengan kata lain, pembayarannya harus tunai. Nah, kalau jual beli secara cicilan bagaimana? Boleh saja, tapi statusnya itu sudah bukan jual beli lagi, tetapi menjadi utang piutang, maka seperti yang sudah dijelaskan tadi di atas, harga secara tunai maupun secara cicilan haruslah sama.

Nah, menurut Anda, transaksi-transaksi kredit sekarang yang mengambil “lebih” dari suatu cicilan, apakah itu termasuk riba atau bukan?

Selanjutnya, transaksi sewa-menyewa, dalam hal ini maka penundaan waktu dan juga pertambahan selisih nilai diperbolehkan. Contohnya, ada seseorang menyewa tenda, dengan harga Rp. 500.000 selama 10 hari. Jika pemakaian selesai, maka tenda tersebut harus dikembalikan. Namun jika ingin menambah masa sewa (penundaan waktu), maka boleh untuk si pemilik tenda mengenakan tambahan nilai kepada si penyewa. Tetap, dengan catatan transaksi tersebut adalah sewa-menyewa dan barang harus dikembalikan.

Tapi, tidak semua benda bisa disewakan, ada barang-barang tertentu yang jika disewakan menjadi habis, seperti makanan, uang dan barang-barang lain yang habis dipakai. Kalau seperti rumah, mobil, motor, kendaraan lain itu adalah barang-barang yang tidak habis dipakai.

Begitulah kira-kira transaksi harian yang bisa kita teliti didalamnya terdapat riba atau bukan. Untuk transaksi, pegang ke-empat indikator tersebut (jual beli, sewa menyewa, utang piutang, dan tukar menukar), untuk indikator lainnya, pegang dua indikator, yakni penambahan nilai dan penundaan waktu.

Sekarang, kita sudah mengerti transaksi apa saja yang termasuk riba, dan tugas kitalah untuk keluar dari jeratan riba secepat mungkin. Jika ada solusi keluar dari riba, namun solusi tersebut adalah riba juga, segera tolak dan tinggalkan.

Semoga Allah membimbing langkah kita dalam memerangi riba, dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa riba kita yang terdahulu.

Artikel ini akan dilanjut ke Bagian 3…

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


Referensi

Saidi, Z. 2011. Euforia Emas. Pustaka Adina: Depok.

Ujian dan Hukuman

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Biasanya ketika kita sekolah dulu, ada 2 hal yang selalu kita takuti (setidaknya ada 2 memang). Ada Ujian dan ada Hukuman. Namun, biasanya kita kerap menyamakan kedua hal tersebut dengan perasaan yang sama, akhirnya kita tidak bisa membedakan mana yang benar-benar namanya ujian, mana yang hukuman.

Padahal, jika dilihat lebih dalam tentang keduanya, sesungguhnya itu kedua hal yang berbeda. Namun karena dahulu kita belum mengetahui tentang kedua hal tersebut, perasaan kita atas kedua hal tersebut biasanya sama.

Ujian diberikan kepada seseorang untuk mengukur sejauh mana seseorang telah belajar dalam hidupnya. Untuk mengukur sejauh mana seseorang sudah siap untuk naik ke tingkat selanjutnya di dalam hidupnya.

Hukuman biasanya diberikan kepada seseorang atas perbuatan salah yang telah dilakukan oleh seseorang. Atas perbuatan melanggar ketentuan atau peraturan. Biasanya hukuman ada yang secara langsung, ada juga yang ditunda (seperti dipenjara, sebelumnya dilakukan proses pengadilan terlebih dahulu).

Begitupun Ujian dan Hukuman dari Allah, banyak manusia ketika menerima ujian mengaggap itu sebenarnya adalah hukuman baginya. Dan sebaliknya, banyak pula manusia ketika menerima hukuman, menganggap itu sebenarnya adalah ujian.

Ujian dan Hukuman
Ujian dan Hukuman (sumber: http://ardhastres.blogspot.com)

Adakah cara membedakan ujian dan hukuman? Sebenarnya ada banyak, namun saya akan sedikit sharing tentang bagaimana membedakan kondisi kita, sedang diujikah oleh Allah atau sedang dihukumkah kita?

Perbedaan keduanya terletak dari cara kita menyikapi hal tersebut. Biasanya ketika diuji (dan orang tersebut tahu sedang diuji), mereka akan lebih tenang, karena mereka tahu, setelah ujian, derajat mereka akan ditingkatkan, dan ujian hanyalah salah satu langkah untuk memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.

Sedangkan ketika dihukum, orang cenderung gelisah, khawatir, takut dan banyak perasaan-perasaan negatif lainnya bercampur menjadi satu. Jenis seperti ini, biasanya hati kita telah dinodai oleh kesalahan.

Untuk ujian, jika kita sabar dan tawakkal, InsyaAllah kita akan lulus ujian tersebut. Lain dengan hukuman, hanya akan berakhir ketika memang sudah dimaafkan oleh Allah (atau hukuman tersebut sudah cukup), atau kita nya lah yang meminta maaf kepada Allah atas perlakuan tidak baik kita, atas perlakuan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya.

Maka, sudah selayaknya kita untuk introspeksi diri, saat ini kita sedang diuji atau sedang dihukum?

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Riba (Bagian 1)

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Artikel yang akan saya tulis kali ini tidak membahas secara menyeluruh pengertian riba dan apa macam-macamnya, silahkan Anda bisa cari sendiri di artikel-artikel lain di internet atau bisa mencari kitab-kitab lain. Namun, saya tetap mencantumkan beberapa hadist yang relevan dengan pembahasan kali ini.


 

Sungguh akan datang suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak memakan (harta) riba. Siapa pun yang (berusaha) tidak memakannya, ia tetap akan terkena debu (riba) nya. (H.R. Ibnu Majah, H.R. Sunan Abu Dawud, H.R. An-Nasa’i dari Abu Hurairah)

Begitulah kira-kira salah satu Hadist Rasulullah SAW. Yang ternyata jika kita bandingkan dengan kondisi saat ini, sangat benar adanya. Riba telah membuat orang terpaksa terlibat untuk melakukan riba, walaupun ada yang berusaha tidak terlibat riba, tetap terkena debu-debu riba.

Padahal kita semua tahu bahwa dosa riba bukan hanya untuk pelakunya saja, akan tetapi untuk pencatat, saksi, dan juga penggunanya. Dan kita juga tahu bahwa dosa riba yang paling ringan itu sama dengan berzina.

Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan mengetahui bahwa itu adalah uang riba, dosanya lebih besar daripada berzina sebanyak 36 kali. (H.R. Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 3375)

Bisa kita lihat ke dalam kehidupan kita sekarang, di setiap lini kehidupan kita dipenuhi oleh aktivitas riba, sampai-sampai sangat sulit sekali untuk menghindari riba. Riba sudah menjadi lifestyle kita, sudah mendarah daging yang sulit untuk kita lepas.

Bagaimana tidak, untuk bisa beli bermacam-macam benda primer bahkan sekunder, kita lebih banyak ditawarkan dalam bentuk kredit ketimbang tunai, bisa kita lihat pada barang-barang televisi dan elektronik lainnya, lemari, meja, kursi, kendaraan bermotor, bahkan sampai rumah pun ditawarkan dalam bentuk kredit, lebih tepatnya kredit yang mengandung bunga, yang tidak lain adalah sistem ribawi.

Mengapa demikian, karena jika kita membeli secara tunai, biaya-biaya yang ditawarkan tersebut akan sulit sekali dijangkau oleh kita, oleh karena itulah ditawarkan dalam bentuk kredit berbunga.

Tidak hanya barang yang kita beli, bahkan aktivitas pembayaran lain yang kita lakukan juga menggunakan sistem riba, seperti misalkan pembayaran telepon, listrik, tol, jasa-jasa lainnya. Karena investasi yang mereka dapatkan dan mereka salurkan melalui sistem kredit perbankan.

Begitulah riba. Riba membuat seluruh lini kehidupan kita menjadi berantakan, menjadikan orang-orang semakin menderita dan sengsara. Bahkan secara tersirat Allah menyatakan bahwa riba itu membuat manusia menganiaya dan dianiaya.

Ketahuilah bahwa persoalan yang paling utama sekarang adalah riba. Riba telah menggerogoti segala aspek kehidupan kita. Kredit berbunga, sewa menyewa uang, pinjaman bank, dan masih banyak produk perbankan lainnya yang memicu munculnya riba.

Riba menyebabkan segala macam harga pokok menjadi naik, karena esensi riba sendiri adalah tambahan, maka akibat dari itu semua harga barang-barang pokok harian kita tidak bisa murah lagi seperti dulu, karena sewaktu memulai usaha, banyak yang menggunakan pinjaman berbunga bank, alhasil banyak yang menaikkan harga untuk menutupi bunga-bunga bank tersebut.

Riba saat ini sudah menjadi sistem, sudah menjadi pola hidup, sudah menjadi habits baru bagi seluruh umat dunia.

Jadi, sampai saat ini, kita sadar bahwa akar persoalan kita adalah riba, menggerogoti hidup kita secara perlahan namun pasti. Namun, apakah ada solusi untuk terhidar dari riba? Setidak-tidaknya hanya debunya saja?

Jika kita mengikuti solusi dari sistem ribawi saat ini, solusi yang ditawarkan adalah riba lagi!. Betul, kegiatan riba saja sudah haram, lah ini ditawarkan riba lagi. Pinjaman uang dengan cicilan ringan dan bunga yang sangat kecil, yang mana proses seperti ini terus berputar layaknya lingkaran setan.

Naudzubillahi min dzalik…

Semoga intro dari artikel sederhana ini bisa membuka wawasan kita akan bahaya riba. Pada artikel selanjutnya (InsyaAllah minggu depan), saya akan sedikit bahas apa saja yang termasuk dalam kategori riba.

Artikel ini akan dilanjut ke Bagian 2…

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Bersyukur

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Biasanya, seorang muslim mengucapkan Alhamdulillah jika mendapatkan sesuatu yang mereka impi-impikan. Atau mendapat sesuatu yang tak diduga, dan itupun biasanya diucapkan ketika ingat, kalau lupa yah ucapan tersebut biasanya terlewat saking senangnya (semoga kita tidak termasuk orang yang lalai berdzikir).

Tidak sedikit juga yang mengucap kata tersebut saat dalam keadaan tidak susah, saat susah kata-kata tersebut jarang sekali bisa dilantunkan. Seyogyanya, ucapan tersebut haruslah mengalir setiap hembusan nafas kita, karena apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita, tidak akan sanggup kita hitung.

Akan tetapi, belum cukup sampai disitu saja, sebisa mungkin haruslah ada action nyata dari kita atas bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Jadi tidak hanya sekedar dilisankan saja, tetapi ada amal nyata perbuatan atas rasa syukur kita terhadap pemberian Allah.

Bersyukur
Bersyukur (sumber: http://tipsorangsukses.blogspot.com)

Misalkan, setiap harinya kita masih diberikan kesehatan optimal oleh Allah, setelah bersyukur mengucap Alhamdulillah, sebisa mungkin kita juga harus menjaga kesehatan yang telah Allah amanahkan kepada kita. Karena masih banyak loh orang-orang diluar sana yang saat ini berbaring di rumah sakit memohon untuk diberikan kesembuhan. Sudah sepatutnya, kita tunjukkan amal nyata kita atas perasaan bersyukur kita.

Jadi untuk kita yang sering bersyukur mungkin akan lebih naik lagi tingkatan level bersyukur kita kepada Allah, dengan cara mengoptimalkan, menjaga, dan melakukan sesuatu atas pemberian Allah.

Kira-kira, jika kita punya baju berlebih dan diberikan ke orang lain, tentu orang itu akan senang bukan dengan pemberian kita? Tentu saja. Dia berucap “Terima Kasih ya atas pemberian bajunya, saya sangat suka ini”. Kita pun terharu mendengar kata-katanya.

Tetapi, berhari-hari kemudian, baju tersebut ternyata tidak dipakai olehnya, sampai bertahun-tahun lamanya, baju tersebut tidak dipakai juga oleh orang tersebut. Kira-kira, apakah selanjutnya kita akan memberikan baju lagi kepada orang tersebut?

Silahkan direnungkan baik-baik.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Seratus Persen

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saya tiba-tiba teringat salah satu nasihat dari Pak Ditdit yang disampaikan oleh beliau ketika saya bertemu di Bogor. Di nasihat itu beliau bertanya kepada saya,

Mam, kalau kamu nanti punya anak 1, berapa persen kamu akan mencurahkan waktu kamu ke dia?

Lalu saya jawab,

Seratus persen Pak.

Setelah itu beliau bertanya lagi kepada saya,

Kalau kamu nanti punya anak 2, berapa persen kamu akan mencurahkan waktu kamu ke kedua anak kamu?

Saya terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang ingin saya lontarkan kepada beliau. Langsung saja saya tanpa berfikir panjang menjawab,

Lima puluh persen dan lima puluh persen Pak.

Seakan-akan merasa sombong dengan jawaban tersebut, saya jawab dengan yakin bahwa jawaban itu akan benar. Tetapi ternyata tidak.

Seharusnya kamu mencurahkan waktu untuk kedua anak kamu masing-masing seratus persen. Sehingga tidak satupun perhatian kamu akan berkurang ke masing-masing anak kamu nantinya.

Seratus Persen
Seratus Persen (sumber: http://motivationalmemo.com)

Mendengar jawaban terseubut, saya langsung manggut-manggut sambil memikirkan di dalam hati, “benar juga ya, kalau jadi 50%, berarti kan perhatian anak pertama harus dikurangi untuk dibagi ke anak kedua”.

Begitulah nasihat yang beliau sampaikan kepada saya. Di dalam hidup kita, jika kita mendapatkan hal baru yang harus kita kerjakan, seharusnya fokus kita bukan malah menurun lantaran ada hal baru. Sebaiknya tambahkan fokus kita sehingga masing-masing nilainya menjadi seratus persen.

Atur waktu, atur cara kerja, atur waktu bangun tidur, atur makan, atur pola hidup dan lain-lain sehingga kita bisa me-manage waktu dengan baik, agar kita bisa tetap fokus ke hal-hal baru kita dengan tetap tidak melupakan hal-hal yang lama, agar nilainya tidak berkurang, tetap 100%.

Siang itu saya mendapat banyak sekali nasihat yang diberikan oleh beliau, dan sampai saat ini saya tetap mengusahakan agar apapun yang saya kerjakan saya harus bisa fokus 100%.

Meskipun saat ini fokus kita masih berkurang karena hal-hal baru, seharusnya kita bisa lebih meningkatkan fokus kita di angka yang sama-sama maksimal. Hindari hal-hal yang tidak berguna, dan maksimalkan angka 100% pada hal-hal yang menurut kita sangat amat penting.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Tips Sahur dan Berbuka Puasa

Artikel singkat ini diterbitkan atas permintaan dari salah satu teman saya yang bernama Ayu Ridhia Amalia.


Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Meskipun artikel ini terbilang sudah “telat” dalam publikasinya, namun semoga saja ilmu yang ada di artikel ini akan tetap berguna bagi siapapun yang ingin menjalankan ibadah puasa selain di bulan Ramadhan tentunya. Dan semoga saja, siapapun yang bisa mengaplikasikan ilmu sederhana ini (yang juga saya dapat dari orang lain), bisa disebarluaskan juga untuk menambah ilmu sahabat-sahabat yang lainnya.

Saya sebenarnya bukan seorang dokter ataupun seorang yang ahli di bidang kesehatan, namun saya adalah seorang pembelajar yang senang belajar tentang banyak hal, terutama tentang kesehatan (Anda bisa melihat profil singkat saya di halaman Tentang Saya). Semoga beberapa tips dan ilmu yang akan saya paparkan berikut berguna bagi Anda sekalian yang membaca artikel ini.

Perlu kita ketahui, menjalankan hidup dengan berdasarkan kesehatan saat ini sangat tidak mudah. Banyak sekali doktrin-doktrin salah yang bertebaran di luar sana yang akhirnya masuk ke dalam bawah sadar kita, sehingga lama-kelamaan tentunya menjadi kebenaran palsu di dalam diri kita, menjadi tradisi yang wajar dilakukan, menjadi kesalahan yang bisa ditoleransi oleh banyak orang.

Tentunya dalam hal ini, kita harus benar-benar teliti akan info-info yang hadir di sekitar kita, terutama dengan media televisi dan berita online yang kebanyakan dibuat demi keuntungan semata, tidak memperhatikan salah dan benarnya. Asal posting dan asal mempublikasikan suatu ajaran atau berita.

Salah satu yang sering kita dengar saat bulan Ramadhan tiba adalah slogan “berbukalah dengan yang manis“, yang bisa dibilang sudah mendarah daging, hingga kebanyakan orang “wajib” sekali berbuka dengan minuman manis, sejenis teh manis, es buah dicampur dengan sirup atau susu, dan berbagai macam jenis minuman manis lainnya. Tentu ini menjadi suatu kesalahpahaman di masyarakat kita. Dan kebanyakan orang tidak menyadarinya.

Kebanyakan orang memulai berbuka puasa dengan minum-minuman yang manis, dengan sangat lahap dan kemudian dicampur dengan makanan lainnya. Apakah ini salah? Saya tentu tidak menyalahkan hal tersebut, karena setiap orang punya kegemaran masing-masing di dalam menyantap makanan. Tetapi bagaimana bila yang dikonsumsi oleh kita itu ternyata malah tidak baik bagi tubuh? Terutama saat berbuka puasa dan sahur?

Konsep sehat yang salah menjadikan kebanyakan orang bebas makan apa saja dengan semau mereka, kalau sakit? ya tinggal minum obat, kan beres! Tapi sebenarnya konsep sehat yang benar tentunya bukan sekedar “kalau sakit, ya tinggal minum obat, kan beres!”, tetapi lebih kepada menjaga tubuh kita agar seminimal mungkin terkena penyakit.

Bukankah Allah sudah memberikan kita rezeki sehat setiap saatnya kepada kita? Jika memang demikian, maka kita harus mensyukuri nikmat sehat tersebut dengan cara menjaga kesehatan tubuh kita. Tentunya dengan menjaga apa yang kita makan, jangan sampai salah makan hingga membuat tubuh kita tidak bisa mencerna dengan baik makanan dan minuman yang kita masukkan ke dalam tubuh.

Lalu sebenarnya, apakah makanan yang baik untuk kita santap selagi berbuka puasa maupun saat kita sahur?

Berbuka Puasa

Mari kita bahas makanan yang baik untuk dimakan saat berbuka puasa, karena biasanya banyak kesalahan yang dilakukan oleh orang saat berbuka, sehingga timbul berbagai macam efek aneh yang biasa orang disebut “abis kenyang, bego” (ini sering kan kita dengar). Untuk menghindarinya, kita perlu tahu makanan apa yang tubuh butuhkan, sehingga kita tidak mendikte makanan terhadap tubuh kita, tetapi kita memberikan makanan yang memang tubuh butuhkan.

Dari Anas bin Malik, beliau berkata “Dahulu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berbuka dengan beberapa butir ruthab (kurma basah), dan kalau tidak ada ruthab maka dengan beberapa butir tamr (kurma matang), dan kalau tidak ada tamr maka dengan beberapa teguk air” (HR. Abu Daud, no. 2009).

Kalau boleh saya tafsirkan sendiri tentang Hadist di atas, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berbuka puasa dengan kurma basah, kalau tidak ada dengan kurma matang (kurma kering), kalau tidak aja juga kurma matang, maka dengan beberapa teguk air. Dan ini Rasulullah lakukan sebelum Shalat Maghrib. Jadi pembatal puasa Rasulullah ya hanya sekitar 3 jenis makanan/minuman itu saja.

Lalu muncul-lah argumen baru tentang makanan berbuka puasa, terutama slogan “berbuka dengan yang manis”. Mengetahui bahwa Rasulullah pada waktu berbuka dengan kurma (yang notabene adalah buah manis), maka kebanyakan orang menganggap berbuka dengan makanan manis (apapun jenisnya) adalah baik. Padahal jika di lihat lebih mendalam tentang ini, yang dimaksud manis adalah manis dari buah. Yang tentunya kita tahu bahwa buah mengandung fruktosa (gula buah) yang alami, tentu kita tidak bisa sembarang mengganti fruktosa dengan makanan/minuman manis lainnya.

Maka dari itu, muncullah teh manis, es buah dicampur gula dan susu (silahkan baca artikel saya tentang 3 Hal Penting Sebelum Makan Buah) yang jelas menyalahi aturan tubuh ketika mengkonsumsi buah.

Kalau misalkan tidak ada kurma bagaimana? Kita bisa menggantinya dengan buah matang (segar, berserat, matang pohon, dan manis) untuk berbuka puasa, karena pada saat perut kosong, sangat cocok untuk mengkonsumsi buah. Jika ada kurma, maka kurma adalah buah yang baik, sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah.

Setelah berbuka puasa, bolehkah makan-makan berat? Untuk bagian ini, saya sendiri belum menemukan riwayat Hadist nya tentang makan-makan berat (seperti nasi, dll) setelah Shalat Maghrib. Tetapi saya punya sedikit tips kita yang memang “terbiasa” untuk memakan makanan berat.

Bagi kita yang “terbiasa” menyantap makan-makanan berat, saran saya, cobalah untuk tidak menggabungkan makanan berjenis pati dengan protein hewani (tentang ini, akan saya posting pada artikel berikutnya). Karena dengan menggabungkan makanan pati dan protein hewani, ini justru pemicu tubuh mengalami kantuk (terutama pada saat Shalat Tarawih). Itulah mengapa banyak orang yang mengantuk pada saat Shalat Tarawih, kita bisa cek dari makanan yang dimakan orang tersebut. Ada baiknya jika ingin tetap makan protein hewani, gabungkanlah dengan sayur segar, agar tubuh bisa mencerna kedua jenis makanan tersebut dengan baik.

Kesimpulan dari bagian ini adalah, saya menyarankan untuk berbuka dengan buah, terlebih itu buah kurma atau buah apapun. Konsep “manis” yang dimaksud adalah manis yang didapat dari fruktosa buah, bukan “manis” yang berasal dari makanan lain.

Cara ini telah saya buktikan setiap saya berbuka puasa (baik di bulan Ramadhan ataupun pada puasa Sunnah), dan saya tidak mendapatkan rasa kantuk sedikitpun setelah berbuka.

Sahur

Lalu bagaimana dengan makanan pada saat sahur? Tentu ini berbeda dengan saat kita berbuka puasa. Saat sahur kita membutuhkan banyak energi sebagai bahan untuk kita berpuasa. Dan tentunya juga dengan paham seperti itu, banyak orang juga melakukan kesalahan saat santap sahur, yang berujung kepada rasa kantuk yang berlebih. Ini bisa berakibat fatal, terutama pada saat waktu Subuh, bisa-bisa tidak Shalat Subuh lantaran terlalu banyak makan pada saat sahur. Lantas, yang terbaik bagaimana?

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda “Sebaik-baik (makanan) sahur bagi seorang mukmin adalah kurma” (HR. Abu Daud, no. 1998).

Lagi-lagi Rasulullah menganjurkan kita untuk menyantap kurma pada saat sahur. Tetapi kembali lagi pada bahasan sebelumnya, selain kurma tentu buah apapun boleh dimakan. Dalam hadist atas ada penekanan pada kata “sebaik-baik”, yang berarti makanan yang paling baik pada saat menyantap sahur adalah kurma (atau bisa juga buah lainnya).

Apakah kurma atau buah lainnya benar-benar bisa memberikan energi untuk orang yang berpuasa? Pada awalnya saya sih ragu dengan hal demikian, sampai saya akhirnya memutuskan melakukannya sendiri, dan sampai saat artikel ini ditulis (22 Ramadhan 1434 H), setiap saya sahur, saya hanya memakan kurma saja, dan saya tidak mengalami rasa kantuk setelah sahur ataupun pada siang hari.

Makan sahur dan berbuka yang cukup, serta minum yang cukup tidak akan menimbulkan rasa kantuk berlebih, selama makanan/minuman tersebut dikonsumsi secara benar pada waktu yang benar juga.


Semoga apa yang saya jelaskan di atas berguna bagi siapapun yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana cara yang baik untuk berbuka puasa juga untuk sahur. Saya bukanlah Dokter ataupun ahli kesehatan, saya hanya seorang pembelajar kesehatan yang kebetulan saja mengetahui cara sehat dengan cara yang baik dan benar.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Buat SIM Tapi Nembak?

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

4 Bulan ke belakang merupakan waktu-waktu yang membuat saya khawatir, galau, semangat, dan berbagai perasaan lain yang campuraduk di dalam kepala saya. Bagaimana tidak, hal yang kebanyakan dilakukan oleh orang lain yang hampir 99% orang melakukannya, tetapi saat itu tidak saya lakukan. Apakah itu? Membuat SIM Tanpa Nembak!

Tentu ini menjadi hal konyol yang saya lakukan, dimana, saat kebanyakan orang hanya ingin mendapatkan satu buah kartu lisensi mengemudi dengan sangat mudahnya, yaitu dengan cara menyuap para polisi-polisi yang ada, tetapi saya tetap istiqomah di jalan yang benar, mengikuti tes SIM sesuai prosedur, meski saya harus melaluinya dengan susah payah, dengan waktu yang lama, dengan tenaga yang tidak sedikit. Tetapi pada akhirnya, ada kepuasan tersendiri yang saya rasakan yang tentunya tidak bisa dirasakan oleh orang lain yang dengan mudahnya menyuap para polisi hanya untuk mendapakan SIM. Ah, sungguh ironis sekali mendengar bangsa ini yang setiap harinya selalu saja terjadi kecurangan, kelalaian, dan berbagai macam kejahatan yang sengaja dibiaskan menjadi kebaikan palsu.

Kalau dipikir-pikir dengan logis, menurut saya, alasan orang-orang diluar sana yang mendapatkan SIM dengan cara menyuap, justru itu adalah penyebab banyaknya kesalahan-kesalahan yang terjadi di jalan raya sana. Logika simpelnya adalah, orang yang tidak peduli dengan prosedur pembuatan SIM, yang di dalamnya justru banyak pelajaran yang bisa diambil, pastinya tidak peduli juga dengan aturan-aturan yang ada di jalan raya. Maka menurut saya, kebanyakan kesalahan-kesalahan yang terjadi di luar sana itu pasti karena banyaknya ulah orang yang membuat SIM tapi dengan proses menembak. Itu baru fenomena pertama.

Jika di analisa menurut alasannya, ada beberapa alasan menurut saya, mengapa orang-orang diluaran sana sangat amat senang menyuap untuk mendapatkan SIM :

Tidak Mau Repot

orang yang membuat SIM dengan cara menyuap itu tidak mau repot, maunya langsung jadi punya SIM tanpa harus tes SIM, yang padahal sebenarnya tes SIM itu bertujuan untuk mengetes apakah kita mampu menghadapi situasi di jalan raya sana. Dengan demikian, banyak orang yang hanya mau instan tanpa menghargai proses, maka tidak heran juga banyak yang korupsi di sana-sini.

Cerita Dari Pihak Ketiga

Selain itu, hanya karena cerita-cerita dari teman-teman lainnya yang kalau tes SIM gagal, maka mengulang selama 2 minggu lagi, dan juga karena susahnya tes SIM tersebut, itu menjadikan mereka-mereka malas untuk ikut serta dalam proses tes SIM tersebut.

Belum mulai saja, sudah menyerah…

Belum Mampu

Inilah bagi saya alasan seseorang memilih menembak dalam membuat SIM. Ya, mereka belum mampu, mereka merasa belum bisa mengendarai kendaraan, tetapi mereka ngebet sekali ingin mempunyai SIM. Alhasil, mereka membohongi diri mereka sendiri dengan ketidakmampuannya tersebut dengan cara membuat SIM dengan cara menembak.

Inilah yang menjadi fenomena di jalan raya, mengapa banyak sekali kejadian kecelakaan, kecerobohan, kesalahan aturan. Yang sebenarnya bisa dicegah dengan mengikuti tes SIM dengan baik dan benar. Ingat, tes SIM itu bukan sekedar kita mendapatkan kartu lisensi mengemudi saja, tetapi kita belajar bagaimana memahami aturan-aturan yang ada di jalanan, agar kedepannya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tes Praktek SIM Motor
Tes Praktek SIM Motor

Banyak Alasan

Banyak alasan itu adalah justru akar dari alasan-alasan yang mereka buat dengan pandai, ada yang berdalih “Polisi itu emang begitu sob”, “kalo lo ga nembak, ga bakal lulus”, “percuma ikut tes, yang ada ntar lo ga lulus”, dan berjuta-juta alasan yang lainnya. Bagi saya, itu adalah alasan sang pengecut, yang belum tes saja, sudah banyak berdalih, inilah tipe-tipe orang yang banyak alasan. Seharusnya dalih-dalih semacam di atas bisa kita buktikan dengan cara mengikuti prosedur tes SIM yang benar.

Dan masih banyak lagi alasan-alasan yang terus saja dilontarkan oleh para orang di luar sana yang membuat SIM tapi menembak (menyuap). Padahal, proses suap-menyuap sendiri itu dikategorikan sebagai korupsi. Maka janganlah bermimpi Indonesia kita ini terbebas dari korupsi, kalau pembiasaan dari rakyat kecil saja sudah mengajarkan korupsi.


Kembali kepada cerita saya, saat saya membuat SIM. Jika saya hitung dari waktu pembuatannya (yaitu pada bulan Maret) sampai saya mendapatkan SIM (bulan Juni), maka waktu tersebut sudah 4 bulan dengan jumlah mengulang tes sebanyak 5 kali.

Di sini saya hanya membuktikan bahwa, sebenarnya, jika kita mau untuk berlaku baik dan benar, maka pasti akan ada jalannya. Jika kita tetap berpendirian teguh tidak mau nembak, maka pasti ada jalannya. Dan pasti ada pelajaran yang bisa kita dapat dari setiap langkah kaki yang kita gerakkan di atas jalan kebenaran ini.

Tes Ke-1

Tes ke-1 ini saya lakukan di sekitar pertengahan bulan Maret, dengan melakukan tes pertama tentang tes teori SIM. Tentunya dari bulan-bulan sebelumnya, saya mendownload banyak contoh-contoh soal tes SIM yang teori, dan juga mempelajari berbagai macam undang-undang tentang lalu lintas. Namanya juga ujian, pasti harus belajar dong. Sebelum pergi tes SIM, saya berdoa dan meminta doa dari kedua orang tua saya, agar dilancarkan dalam proses pembuatan SIM ini. Setelah sampai pada tempat uji SIM yaitu di Polres Depok, saya terkejut karena yang tes teori SIM dalam 1 ruangan hanya 3 orang! “Yang lainnya ke mana?” gumam saya dalam hati. Ternyata banyak praktek-praktek kotor (nembak) yang terjadi di sana, yang membuat orang bisa langsung foto dan langsung pulang membawa SIM hasil nembak mereka.

Tetapi saya tetap pada pendirian saya, saya tetap melakukan tes SIM secara baik dan benar, yaitu mengikuti prosedur nya. Dan Alhamdulillah dari tes teori yang berjumlah 30 soal, saya hanya salah 6. Ini menjadikan saya lulus pada bagian teori SIM.

Belum cukup sampai di situ saja, ada tes praktek yang harus saya lakukan pada saat itu. Dan lagi-lagi saya sangat amat terkejut dan sedikit tersenyum. Karena saya tes prakteknya hanya sendirian. Hehehe. Kondisi ini membuat saya down untuk sementara. Tapi walaupun begitu, saya tetap harus tes praktek.

Hasil dari tes praktek pertama adalah Belum Lulus dan harus mengulang 2 minggu ke depan, karena saya lupa memasukkan gigi mundur pada saat turunan (efek kebiasaan). Akhirnya saya pulanglah ke rumah, tentunya dengan tetap bersyukur, karena saya dapat pelajaran dari tes tersebut.

Tes Praktek SIM Mobil
Tes Praktek SIM Mobil

Tes Ke-2

Karena pada tes pertama saya sudah lulus tes teori, maka pada tes ke-2 saya hanya mengulang tes prakteknya saja. Dan lagi-lagi kejadian yang sama datang, saya tes praktek hanya sendiri, tidak ada peserta tes SIM lainnya yang ikut tes praktek. Tetapi karena hal tersebut sudah pernah terjadi kepada saya, saat itu perasaan saya biasa saja dan langsung memberanikan diri menghampiri Pak Polisi yang biasa bertugas untuk mengetes setiap peserta uji SIM.

Hasil dari tes ke-2 masih sama, yaitu Belum Lulus dengan alasan saya tidak menggunakan rem tangan ketika tanjakan, tetapi menggunakan rem kaki, di mana di dalam prosedur pembuatan SIM, hal ini tidak dibenarkan.

Dari sini, muncul perasaan tidak enak di hati saya, “apa benar, jangan-jangan tes yang resmi seperti ini hanya akan membuat saya lelah dan tidak ada hasilnya?”, sesaat setelah perasaan tidak enak tersebut mengganjal pikiran saya, saya langsung ambil tindakan positif, “ah kalau dipikir benar juga, kalau tanjakan kita tidak boleh menggunakan rem kaki karena dikhawatirkan nanti mobil bisa merosot tanpa ada penjagaan yang pasti”. Dari situlah saya yakin untuk tetap mengulang lagi 2 minggu ke depan.

Tes Ke-3

Pada tes ketiga, tidak seperti 2 tes sebelumnya, tetapi kali ini ada 1 orang yang ternyata tes praktek juga. Alhamdulillah ada teman untuk sharing. Dan ternyata orang tersebut sama prinsipnya dengan saya, yaitu tidak mau menembak, dengan alasan “gw ga buru-buru kok, jadi santai aja”. Wah ini keren menurut saya.

Akhirnya tibalah saya dulu yang tes praktek. Saya masuk ke dalam mobil bersama Pak Polisi tersebut. Saya nyalakan mobilnya. Tetapi malang nasib saya, karena baru saja mobil berjalan, mesin mobil mati! Dan itu berarti tes praktek saya gagal. Tetapi Pak Polisi tersebut bilang kepada saya “sudah lanjutkan saja dulu, walaupun gagal”. Akhirnya saya lanjutkan, dan saya melalui bagian tanjakan dengan baik dan benar tanpa ada salah sedikitpun.

Tetapi karena di awal mesin mobil mati, maka saya tetap dinyatakan tidak lulus. Yah tidak apa-apa, saya akan mengulang lagi di kesempatan berikutnya.

Tes Ke-4

Setelah tes ke-3, saya vakum sekitar 1 bulan, karena saya harus melakukan penelitian untuk Skripsi saya di PT. Krakatau Steel, Cilegon. Ketika saya kembali lagi dan tes berikutnya, teman saya yang saya sempat ceritakan pada bagian tes ke-3 di atas, ternyata sudah tidak ada. Begitu saya kontak dia, dia berkata bahwa dia jadinya menembak saja, karena dia sedang terburu-buru.

Mendengar kabar tadi, saya hanya tersenyum, ternyata kesetiaan seseorang terhadap sesuatu itu akan selalu di uji sampai titik darah penghabisan. Hehehe.

Akhirnya, ya sudah saya tetap tes praktek yang ke-4 kalinya dengan sendiri. Mulai starter mobil dengan baik, mulai menjalankan mobil dengan baik, menanjak… lalu… Ngerem Mendadak!!!. “Nah, itu ga boleh Mas, ngerem mendadak begitu, ngulang lagi ya”.

Saya tersenyum kembali, ternyata sampai tes ke-4 pun, saya masih terus di uji oleh Allah untuk membuktikan bahwa saya memang benar-benar ingin tes SIM dengan murni tanpa adanya proses suap menyuap.

Begitu mulai menanjak, ternyata saya salah lagi! saya menanjak dengan tersendat-sendat (seperti mobil maju mundur), dan ini tetap tidak dibenarkan oleh pihak kepolisian. Saya sadar itu memang kesalahan saya dan saya mengakui salah. Akhirnya saya pulang ke rumah dan menunggu 2 minggu lagi untuk tes ke-5.

Tes Ke-5

Tes ke-5 saya lakukan pada tanggal 10 Juni 2013, di mana pada bulan Juni ternyata adalah HUT Bhayangkara, dan di saat yang sama, Polres Depok sedang ada razia, jadi yang biasanya banyak berkeliaran praktek suap menyuap, sekarang sedang vakum. Hehehe

Banyak sekali saya lihat orang-orang yang ikut tes teori maupun praktek. Memang beginilah seharusnya praktek pembuatan SIM di Indonesia. Dengan Baik dan Benar, bukan hanya slogan-slogan yang ditempel di tembok saja.

Akhirnya saya tes praktek lagi dengan mobil yang sama dengan jalan yang sama. Mobil keluar dari garis kotak parkir, bisa saya lalui tanpa hambatan. Tanjakan saya lalui tanpa hambatan juga, begitupun dengan turunan, saya lalui dengan lancar tanpa sedikitpun ada kesalahan.

Masuk ke tahap terakhir, yaitu saya parkirkan kembali posisi mobil seperti posisi semula. Bagian ini agak sulit untuk saya, karena tiba-tiba kaki saya mengalami kesemutan. Saya lawan sebisa mungkin, biarpun pelan yang penting hari ini saya harus bisa lulus.

Dan, ALHAMDULILLAH… Saya dinyatakan lulus oleh Pak Polisi tersebut dan langsung di suruh ke ruang foto. Benar-benar tidak saya sangka. Ternyata saya bisa melalui semua ini dengan sabar dan istiqomah tetap berada di jalan yang benar.


Terima Kasih untuk Pak Ditdit N. Utama yang di sela-sela kegalauan saya memberikan nasihat :

Nikmati aja prosesnya…Setiap langkah usaha yang kita kerjakan, akan mendatangkan value buat kita; sekarang atau di waktu-waktu yang tidak kita sangka.
Jangan selalu lakukan sesuatu yang kebanyakan orang lakukan.

Sombong namanya, kalau kita mau melakukan yang jadi urusan ALLAH. Urusan kita hanyalah berusaha semaksimal mungkin.

Terima Kasih untuk Mas Ilman Akbar atas motivasi dan share pengalaman tes SIM tanpa suap-menyuap nya ya Mas 🙂

Terima Kasih untuk sahabat saya Khalid Abdullah yang tetap menyadarkan saya dalam jalan yang benar. Thanks bro 🙂


Semoga artikel yang saya buat bisa menginspirasi kita semua dalam bertindak, dalam menjalani kehidupan yang sekarang semakin lama semakin susah menemukan kebenaran. Semoga ke depannya banyak orang yang mulai untuk tes SIM secara baik dan benar. Aamiin…

maaf bila artikelnya berantakan, baru mulai aktif nulis lagi nih 🙂

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…