Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Kebiasaan saya adalah saya senang ketika naik taksi, yang pertama adalah karena saya bisa mengobrol lebih banyak sama Pak Supir nya, yang tentunya masing-masing supir tersebut punya pengalaman yang membuat saya kagum, saya banyak sekali banyak dapat motivasi dan pelajaran berharga dari supir taksi. Alasan kedua adalah karena sebenarnya setoran supir taksi lebih banyak daripada setoran supir angkot, dan yang naik taksi pun jarang, oleh karena itulah saya senang naik taksi, karena bisa sambil berbagi rezeki kepada sesama pencari rezeki :). Alasan lainnya adalah, karena saya agak malas membawa mobil sendiri, karena kalau sudah macet, waktu saya terbuang sia-sia, karena bagi saya, saya lebih mementingkan waktu daripada uang. Hehehe

Nah, ketika kemarin saya naik taksi, Pak Supir nya saya lihat agak sedikit koleris. Karena dia melihat saya, dia jadi ingat kisah pada saat hari lebaran. Dan cerita yang membuat saya sangat menyayangkan sikap si orang yang akan saya ceritakan ini.

Pak Supir itu cerita bahwa, pada saat hari lebaran ada salah satu penumpang taksi nya turun di salah satu gerai donat yang cukup ternama di Jakarta Timur. Pak Supir itu lantas bertanya kepada penumpang tersebut, kebetulan penumpang tersebut.

“Dek, kenapa kok ke tempat sini (nama gerai donat)?”, Pak Supir menanyakan pertama kali.

“Iya Pak, saya seneng ke sini soalnya”, si penumpang menjawabnya.

“Adek Muslim?”, karena penasaran Pak Supir bertanya lagi.

“Iya Pak, saya muslim”,

“Loh, kenapa kok muslim bukannya lebaran di rumah, malah ke sini?”, Pak Supir heran, kenapa muslim tapi tidak lebaran di rumah. Lanjut Pak Supir lagi, “Emangnya ibu ga masak? kan kalau mau lebaran suka masak opor dan ketupat, atau sayur lain-lain?”

Si penumpang tersebut lantas menjawab, “Ngga ah Pak, males, dan bosen juga”

Lalu si Pak Supir menambahkan kata-kata yang intinya menceramahi si penumpang tersebut, dan menyayangkan perbuatannya. Karena walau bagaimanapun, momen lebaran hanya terjadi setahun sekali saja, kalau itu juga sudah dilewatkan, ya tahun depan baru bisa merasakan lagi.

Saya yang mendengar jawaban si penumpang tersebut langsung diam. Ternyata sekarang banyak juga orang yang pada saat lebaran tidak bisa hadir bersama keluarga karena kemauannya. Kalau yang tidak bisa hadir bersama keluarga karena ada alasan lain (seperti kerja dan tidak bisa libur karena melayani banyak orang), saya masih bisa memberikan toleransi.

Tapi untuk penumpang ini, saya sungguh menyayangkan sekali. Momen lebaran yang hanya setahun sekali, ia lewatkan begitu saja demi menyantap donat yang ia damba-dambakan dan berkata “Bosen dan malas” terhadap makanan opor dan ketupat yang dibuat oleh ibunya.

Seharusnya, akan lebih baik jika kita menghadiri acara lebaran tersebut, karena makan donat bisa kapan-kapan kita makan, tetapi makan opor dan ketupat, dan berkumpul bersama keluarga hanya bisa kita lakukan setahun sekali.

Semoga teman-teman yang membaca kisah ini tidak melakukan hal seperti cerita di atas. Kalaupun memang berhalangan hadir saat lebaran, pastikan alasannya adalah alasan yang masuk akal.

Semoga bisa menginspirasi Anda
Alhamdulillahirabbil’alamiin…