Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Pernahkan di dalam hidup Anda, Anda sangat teramat menginginkan sesuatu yang belum Anda miliki? Saya yakin, semua orang pernah mengalami hal ini, begitupun juga saya. Kita tentunya pernah berhadapan dengan situasi dimana kita benar-benar sangat menginginkan sesuatu, entah itu pekerjaan, cinta, ataupun berupa sebuah benda.

Akan tetapi, tidak sedikit dari kita yang sudah bertemu dengan situasi tersebut, malah semakin mengejar hal-hal tersebut, yang justru lama-kelamaan malah berujung tidak mendapatkan apa yang mereka kejar. Saya juga pernah berada di dalam posisi ini.

Pada intinya, kita dihadapkan dengan keadaan dimana saat kita benar-benar menginginkan hal tersebut, justru yang kita harapkan tidak berhasil kita capai, dengan kata lain kita tidak mendapatkan yang kita inginkan.

Dan mungkin Anda juga pernah mengalami, saat-saat dimana Anda memang menginginkan sesuatu, yang mungkin sampai terbawa mimpi, tetapi di dalam realita hidup Anda, Anda tidak terlalu melekat pada hal tersebut. Anda tertarik, tapi tidak melekat.

Dan saat Anda dalam posisi tersebut, yaitu posisi dimana Anda menginginkan sesuatu, tetapi Anda tidak terlalu lebay dalam menginginkannya, atau saat-saat dimana Anda pada akhirnya memang merelakan keinginan Anda tersebut, justru pada saat itu Anda mendapatkannya.

Pernah seperti itu?
Anda boleh berfikir sejenak sambil mengingat masa-masa dimana Anda mengalami hal tersebut.

The Power of Walk Away

Saya ingin mengajak Anda mengingat sebuah film buatan Walt Disney, yang berjudul UP. Saya rasa Anda sudah menontonnya. Film Animasi UP ini mengkisahkan seorang suami (Mr. Carl Fredricksen) yang bertekad memindahkan rumahnya ke dekat Paradise Falls karena keinginannya dan juga istrinya Elie. Keinginan tersebut sempat terlupakan karena istri dari Mr. Fredricksen meninggal. Akhirnya pada suatu pagi, Mr. Fredricksen memukul petugas konstruksi, karena kotak surat rumahnya disenggol oleh alat berat. Karena kejadian tersebut, rumah Mr. Fredricksen akan diambil alih oleh bos proyek dan akan digusur.

Mengetahui rumahnya akan digusur, Mr. Fredricksen memutuskan untuk memindahkan rumahnya, tidak tanggung-tanggung. Dia memindahkan rumahnya dengan bantuan ribuan balon udara. Secara ajaib, rumah Mr. Fredricksen terangkat, dan bisa ia terbangkan.

Di suatu scene, Mr. Fredricksen melawan orang jahat yang mau menculik Kevin (burung unta langka). Pada adegan tersebut, Mr. Fredricksen berhasil menyelamatkan anak pramuka, Kevin, dan si anjing. Namun karena hal tersebut, rumah yang ingin di bawa ke Paradise Falls lepas dari genggamannya dan terbang jauh terbawa angin.

Si anak pramuka meminta maaf atas kejadian tersebut, karena cita-citanya tidak dapat ia capai. Namun, apa jawaban Mr. Fredricksen kepada anak pramuka tersebut?

You Know, it’s just a house.

The Power to Walk Away

Sebuah kata-kata yang sangat bijak di saat yang mungkin banyak orang akan menyayangkan hal tersebut. Padahal impian dia dan istrinya sudah sangat dekat dan juga perjuangan Mr. Fredricksen sudah sangat berat, tapi Mr. Fredricksen merelakan rumahnya tersebut.

WOW! Sebuah sikap Walk Away yang sangat menyentuh bagi saya. Padahal rumah tersebut sudah susah payah diterbangkan oleh Mr. Fredricksen, dan juga rumah tersebut menyimpan banyak kenangan.

Dan jika Anda menonton film ini sampai akhir. Pada akhirnya, angin menerbangkan rumah tersebut dan rumah itu persis mendarat tepat di lokasi yang diimpikan oleh Mr. Fredricksen dan istrinya inginkan. Sebuah keajaiban Walk Away, sebuah sikap tidak terlekat oleh impian, namun justru impian tersebut malah tercapai.

The Power of Walk Away

Tidak hanya contoh tersebut saja yang bisa saya berikan. Tetapi ada kisah “The Power of Walk Away” pada film Stand by Me Doraemon. Yaitu pada saat Nobita yang teramat sangat menginginkan menikah dengan Shizuka di masa depan, sampai Nobita merengek meminta bantuan Doraemon dengan alatnya. Namun betapapun Nobita berusaha dengan keras, akhirnya Shizuka tetap saja menyukai Dekisugi.

Akhirnya Nobita sadar dan bertekad untuk meninggalkan Shizuka, bahkan Nobita sampai melakukan tindakan yang kurang sopan yang membuat Shizuka marah kepada Nobita, karena jika Nobita sering bersama Shizuka, maka perasaan Nobita terus menggebu-gebu.

Nobita terus merenung, dan berniat untuk meninggalkan Shizuka, bahkan Nobita merengek kepada ibunya untuk dipindahkan ke tempat lain. Mungkin sikap Nobita kali ini tidak terlalu menggambarkan sikap Walk Away, tetapi dari cara Nobita menghadapi keinginannya yang begitu menggebu-gebu. Nobita sadar bahwa Nobita harus meninggalkan Shizuka.

Dan saat itu juga, Doraemon punya ide untuk mengajak Nobita melihat seperti apa masa depan Nobita. Dan setelah beberapa kejadian yang dialami oleh Nobita, Nobita melihat dirinya di masa depannya akan menikah dengan Shizuka.

WOW! Betapa bahagia sekali Nobita pada saat itu, sampai menari-nari di langit dengan bantuan baling-baling bambunya Doraemon. Ya, Nobita justru mendapatkan Shizuka pada saat Nobita merelakan Shizuka.

Apa yang terjadi jika Nobita terus-terusan mengejar Shizuka? Mungkin ceritanya akan berbeda, mungkin saja Shizuka menjadi tidak suka, dan lebih memilih Dekisugi. Tetapi ternyata keadaannya terbalik 🙂

The Power of Walk Away ≠ Letting It Go

Mungkin di akhir artikel ini, Anda sudah mendapatkan intinya bahwa setiap Anda menginginkan sesuatu, Anda hanya perlu mengatur jeda untuk Walk Away dari hal itu. Dan biarkan itu menjadi kuasa Tuhan dan Alam yang akan mewujudkannya untuk Anda.

Akan tetapi, kebanyakan manusia melakukan yang namanya Letting It Go. Menurut saya, Walk Away dan Letting It Go itu kedua hal yang berbeda.

Jika pada Walk Away, Anda yang memang memutuskan untuk meninggalkan hal tersebut dan tidak terlekat oleh hal tersebut, pada Letting It Go, justru Anda lah yang membiarkannya pergi. Terlihat kan bedanya?

Mungkin kalau bisa saya contohkan, Anda sangat menginginkan seorang wanita cantik, rambutnya panjang, dan proposional. Anda mengejar-ngejar dia sampai akhirnya dia merasa risih di dekat Anda, saat itu juga dia pergi meninggalkan Anda.

Kalau Anda menganggap Anda telah melakukan “The Power of Walk Away”, maka Anda salah besar, karena yang meninggalkan Anda adalah si wanita cantik tersebut, bukanlah Anda. Sedangkan si wanita tersebut melakukan “The Power of Walk Away”. Buktinya, bisa jadi Anda malah ingin terus-terusan mengejar wanita tersebut di saat wanita tersebut justru sudah tidak ada kemelekatan kepada Anda.

Kebalikannya, di saat Anda melakukan Walk Away, yaitu saat Anda tidak terlalu perduli dengan hasilnya, bahwa Anda nanti akan jadian atau tidak dengan wanita tersebut. Anda seolah-olah tidak perduli dengan hubungan tersebut, justru si wanita yang malah balik tertarik kepada Anda.

Jadi, Anda bisa bedakan antara Walk Away dengan Letting It Go.

Semoga artikel kali ini akan memberikan Anda gambaran bagaimana seharusnya Anda bersikap atas segala sesuatu yang terjadi kepada Anda. Intinya adalah:

  1. Berikan jeda waktu sedikit untuk Walk Away.
  2. Tertarik boleh, Tetapi jangan sampai terlalu melekat.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…