Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“Mulai sekarang gua akan berubah”,
“Oke gua ga akan nunda-nunda lagi mulai besok”,
“Gua harus semangat!”

Begitulah diri kita, membayangkan dengan penuh semangat, dan yakin dengan perubahan besar setelah menyusun rencana tersebut. Tapi sayangnya, semangat yang baru saja dikeluarkan, yang begitu membara, sekarang hanya menyisakan asap-asap semangat saja. Mungkin besok juga sudah kabur ke langit.

Sudah jelas pada kata-kata di atas bahwa sebenarnya kita memang lebih sering menunda atas suatu perubahan. Buktinya, mau berubah saja harus menunggu esok hari, atau yang lebih parahnya ya hanya hangat-hangat tai ayam di awal, lalu hilang tanpa bekas sedikitpun.

Anda sering mengalami hal seperti itu? Tenang saja, saya juga pernah dan malah penyakit saya dulu adalah senang dengan penundaan. Istilah kerennya adalah “Terjebak dalam comfort zone“. Ya benar, tidak semua comfort zone itu baik, salah-salah mengenal comfort zone, maka ia bisa jadi habit buruk bagi kita.

Akibat dari hal tersebut rasa kecewa dan marah pada diri sendiri muncul karena rencana yang kemarin tidak terealisasikan, kemudian mengumpulkan semangat lagi untuk memulai beragam rencana seperti awal. Sayangnya, percobaan kedua justru lebih sulit lagi, karena diri kita sudah dipenuhi oleh kekecewaan yang kita ciptakan sendiri.

Lalu apa selanjutnya? Tentu saja gagal lagi, berubah lagi, dan terus menerus sampai diri kita lemah. Akhirnya lingkaran setan pun terbentuk. Dan rencana pun hanya lewat begitu saja. Begitulah sedikit gambaran kisah kita yang sedang berhadapan dengan momentum, atau orang biasa menyebut sebagai perubahan diri.

Di artikel ini saya tidak akan menggurui Anda, karena saya pun masih suka berhadapan dengan momentum palsu, yakni ya momentum hangat-hangat tai ayam tersebut. Karena saya berfikir masih ada “nanti”, masih ada “esok”, masih “bisa di tunda”. Jadilah momentum yang sudah saya bangun itu terus bergeser.

Pada kenyataanya momentum yang kita bangun, hanya akan berujung seperti lingkaran setan jika kita:

  1. Hanya bisa membuat momentum asal (target ngaco)
  2. Tidak memulainya sekarang (momentum palsu)
  3. Memulai momentum dengan hal yang besar

Ya itulah inti dari momentum (perubahan) yang saya dapatkan setelah saya belajar bagaimana mulai merubah tatanan hidup saya ke arah yang tentunya lebih baik dari sebelumnya.

Pertama, jangan buat momentum yang ngaco, tidak masuk akal. Memang boleh saja bercita-cita tinggi, tapi pada saat ini yang kita perlukan adalah momentum, yaitu perubahan kecil untuk menuju cita-cita kita. Jadi jangan menjadikan momentum yang terlalu tinggi atau ngaco, karena nanti alam bawah sadar kita langsung serta merta menolak itu, dan merasa bahwa itu tidak mampu kita laksanakan.

Kedua, ini dia yang paling penting, yaitu momentum hanya ditaruh di ujung bibir saja, atau hanya di pasang di otak kita saja, tanpa kita tahu jelas kapan kita akan merealisasikannya. Biasanya yang model begini, hanya akan berujung dengan “Penundaan”. Ini saya masih sering melakukan ini. Hahaha (tenang saja, manusia sering berbuat salah kok)

Ketiga, ketika kita katakanlah ingin membuat sebuah buku yang nanti target nya adalah 100 halaman. Maka ini hanya akan jadi momentum sampah apabila kita menaruh momentum ini dalam 1 bulan atau 2 minggu saja. Memang sekelas penulis terkenal bisa menyelesaikan 100 halaman bahkan dalam waktu 1 minggu. Tapi bagi kita yang baru coba-coba atau tidak pada bidangnya, cobalah untuk mulai membuat sesuatu yang realistis, yaitu yang kecil, terukur, dan berkelanjutan. Contohnya adalah, mulai menulis 1 halaman per hari. Atau jika target tersebut masih terlalu besar, kita bisa membuatnya menjadi setengah halaman pada pagi hari dan setengahnya lagi pada malam hari.

Nah, dengan 3 parameter di atas yang saya dapatkan hasil riset saya sendiri, semoga saja kehidupan kita tidak terjebak lagi di lingkaran setan yang kita buat sendiri. Semoga momentum yang kita bangun cepat terealisasikan. Aamiin…

Pada sesi artikel selanjutnya, saya akan coba memberi gambaran tentang penundaan, habit, dan juga seputar perubahan diri.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…