Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Artikel ini adalah bagian ke-2 dari bahasan tentang Riba. Jika Anda belum membaca bagian 1 nya, silahkan baca artikel Riba (Bagian 1).

Saya bukan seorang ustadz, akan tetapi saya mempelajari sedikit lebih ke arah muamalah Islam dan mengikuti kajian-kajian Muamalah Islam yang InsyaAllah sumbernya bisa dipercaya. Tetapi jika Anda menemukan kekurangan dalam artikel yang saya buat ini, tolong diingatkan dengan baik, agar saya bisa koreksi dan revisi sesegera mungkin.


Pada artikel sebelumnya, saya sedikit menggambarkan tentang dosa dari riba, tentang fenomena riba saat ini, tentang apa yang sebenarnya terjadi di negeri kita sekarang ini adalah, sebagian besar diakibatkan oleh riba.

Pada artikel kali ini, saya akan memberikan sedikit gambaran, apa sajakah yang termasuk transaksi riba? Atau transaksi yang mengandung riba? Untuk itu, mari kita mulai dengan mengetahui apa sebenarnya riba.

Riba dalam bahasa arab yang berarti tambahan, tumbuh, dan menjadi tinggi. Namun dalam pemahaman syariat, banyak ulama yang berbeda pendapat. Akan tetapi pada intinya, makna asalahnya sama.

Hukum Riba

Sudah sangat jelas sekali bahwa Riba adalah salah satu hal yang diharamkan dalam syariat Islam. Bahkan Allah dan Rasul-Nya menyatakan perang kepada pelaku riba. Karena sungguh riba akan membuat perpecahan yang tidak berkesudahan.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat  keberuntungan. (Al-Qur’an, Surat Al-Imran, Ayat 130)

Ibnu Katsir Rahimahullah dalam menafsirkan ayat ini berkata, “Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari praktik dan memakan riba yang senantiasa berlipat ganda. Dahulu, di zaman jahiliah, bila piutang telah jatuh tempo, maka kreditur berkata kepada debitur, ‘Lunasi utangmu atau bayar riba’. Bila debitur tidak melunasinya, maka kreditur menunda tagihan dengan kompensasi debitur menambah jumlah pembayarannya. Demikianlah setiap tahun, sehingga bisa saja piutang yang sedikit menjadi berlipat ganda hingga beberapa kali lipat.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

(Dosa) riba itu memiliki tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan ialah semisal dengan (dosa) seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri.(H.R At Thabrani – Dishahihkan oleh Al-Albani)

Berdasarkan hadist di atas, kita sudah mengetahui, sesungguhnya, dosa paling ringan dari riba saja itu adalah setara dengan menzinahi ibu kandung sendiri, yang mana tindakan zina sudahlah haram. Silahkan untuk bisa kita renungkan hadist di atas.

Jenis-Jenis Riba

Agar bisa terhindar dari dosa riba (semoga kita semua diberi kekuatan untuk meninggalkan riba), maka kita harus tahu apa saja jenis-jenis atau transaksi yang termasuk ke dalam riba?

Mengutip dari buku Pak Zaim Saidi yang berjudul Euforia Emas, beliau mengutip kitab seorang ulama besar dari Andalusia, Ibn Rushd yang berjudul Bidayat Al-Mujtahid, pada bab Al-Buyu’, menjelaskan batasan riba secara gamblang, dan menkategorikan riba ke dalam delapan jenis transaksi, yaitu:

  1. Transaksi yang dicirakan dengan suatu pernyataan ‘Beri saya kelonggaran (dalam pelunasan) dan saya akan tambahkan (jumlah pengembaliannya)’;
  2. Penjualan dengan penambahan yang terlarang;
  3. Penjualan dengan penundaan pembayaran yang terlarang;
  4. Penjualan yang dicampuraduk dengan utang;
  5. Penjualan emas dan (tambahan) barang dagangan untuk emas;
  6. Pengurangan jumlah sebagai imbalan atas penyelesaian yang cepat;
  7. Penjualan produk pangan yang belum sepenuhnya diterima; atau
  8. Penjualan yang dicampuraduk dengan pertukaran uang.

Jika disederhanakan kedelapan kategori itu, Ibn Rushd menggolongkan kemungkinan munculnya riba dalam perdagangan menjadi 2 sumber, yaitu:

  1. Penundaan pembayaran (riba an-nasi’ah); dan
  2. Perbedaan nilai (riba tafadul).

Riba yang pertama, an-nasi’ah, merujuk pada selisih waktu yang tidak diperbolehkan; dan riba yang kedua, tafadul atau al-fadl, merujuk pada selisih nilai yang tidak diperbolehkan. Dengan dua jenis sumber riba tersebut, beliau (Ibn Rushd) selanjutnya merumuskan adanya empat kemungkinan, yaitu:

  1. Hal-hal yang pada keduanya, baik penundaan maupun perbedaan dilarang adanya.
  2. Hal-hal yang padanya dibolehkan ada perbedaan, tetapi dilarang ada penundaan.
  3. Hal-hal yang pada keduanya, baik penundaan maupun perbedaan, diperbolehkan adanya.
  4. Hal-hal [yang dipertukarkan] yang terdiri atas satu jenis (genus) yang sama [semisal pertukaran uang].

Rumusan tersebut menunjukkan bahwa istilah penundaan waktu maupun perbedaan nilai digunakan di dalam fiqih untuk hal-hal, baik halal maupun haram, bergantung pada jenis transaksi dan barang yang ditransaksikan. Hal ini berarti:

  1. Bahwa dalam suatu transaksi yang mengandung unsur penundaan yang haram, timbul riba an-nasi’ah.
  2. Bahwa dalam transaksi yang mengandung unsur penambahan yang haram, timbul riba tafadul atau al-fadl.
  3. Bahwa dalam suatu transaksi yang mengandung keduanya (penundaan yang haram dan penambahan yang haram), berarti timbul riba an-nasi’ah dan riba al-fadl sekaligus.

Berikut jenis-jenis transaksi yang kita sering lakukan sehari-hari. Ditampilkan dalam tabel/diagram berikut:

Tabel Riba dalam Transaksi Harian

Tabel Riba dalam Transaksi Harian (Saidi, 2011)

 

Cara membaca diagram tersebut, caranya adalah dengan membaca melawan arah jarum jam, dimulai dari kotak paling kiri bawah. Utang-Piutang, transaksi tersebut mengandung selisih waktu diperbolehkan, namun jika ada selisih nilai, maka itu diharamkan. Sebagai contoh, misalkan kita meminjam uang sebesar Rp. 100.000, maka saat kita mengembalikan uang tersebut pun harus sejumlah Rp. 100.000. Pengembalian utang ini boleh ditunda sampai batas waktu yang sudah ditentukan, namun uang yang dipinjam, saat dikembalikan tidak boleh berubah nilainya. Jika ada orang yang meminjam uang Rp. 100.000, namun saat dikembalikan uangnya menjadi Rp. 150.000 (misalnya), maka orang tersebut sudah melakukan riba Al-Fadl.

Selanjutnya, tukar-menukar, merupakan transaksi yang tidak boleh melibatkan penundaan waktu maupun penambahan nilai. Biasanya ini terjadi pada transaksi pertukaran benda sejenis. Emas dengan emas, perak dengan perak, kurma dengan kurma, tepung dengan tepung. Untuk pertukaran ini maka harus sama kadar dan timbangannya, dan juga harus kontan (saat itu juga). Tidak boleh ada salah satu pihak yang menunda penyerahannya (pertukarannya), atau menambahkan/mengurangi kadar dan jumlahnya.

Transaksi selanjutnya, yaitu transaksi jual beli transaksi yang sering terjadi. Transaksi ini dibolehkan adanya penambahan (misal untuk mengambil untung), tetapi tidak boleh bayarnya jadi di tunda, dengan kata lain, pembayarannya harus tunai. Nah, kalau jual beli secara cicilan bagaimana? Boleh saja, tapi statusnya itu sudah bukan jual beli lagi, tetapi menjadi utang piutang, maka seperti yang sudah dijelaskan tadi di atas, harga secara tunai maupun secara cicilan haruslah sama.

Nah, menurut Anda, transaksi-transaksi kredit sekarang yang mengambil “lebih” dari suatu cicilan, apakah itu termasuk riba atau bukan?

Selanjutnya, transaksi sewa-menyewa, dalam hal ini maka penundaan waktu dan juga pertambahan selisih nilai diperbolehkan. Contohnya, ada seseorang menyewa tenda, dengan harga Rp. 500.000 selama 10 hari. Jika pemakaian selesai, maka tenda tersebut harus dikembalikan. Namun jika ingin menambah masa sewa (penundaan waktu), maka boleh untuk si pemilik tenda mengenakan tambahan nilai kepada si penyewa. Tetap, dengan catatan transaksi tersebut adalah sewa-menyewa dan barang harus dikembalikan.

Tapi, tidak semua benda bisa disewakan, ada barang-barang tertentu yang jika disewakan menjadi habis, seperti makanan, uang dan barang-barang lain yang habis dipakai. Kalau seperti rumah, mobil, motor, kendaraan lain itu adalah barang-barang yang tidak habis dipakai.

Begitulah kira-kira transaksi harian yang bisa kita teliti didalamnya terdapat riba atau bukan. Untuk transaksi, pegang ke-empat indikator tersebut (jual beli, sewa menyewa, utang piutang, dan tukar menukar), untuk indikator lainnya, pegang dua indikator, yakni penambahan nilai dan penundaan waktu.

Sekarang, kita sudah mengerti transaksi apa saja yang termasuk riba, dan tugas kitalah untuk keluar dari jeratan riba secepat mungkin. Jika ada solusi keluar dari riba, namun solusi tersebut adalah riba juga, segera tolak dan tinggalkan.

Semoga Allah membimbing langkah kita dalam memerangi riba, dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa riba kita yang terdahulu.

Artikel ini akan dilanjut ke Bagian 3…

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


Referensi

Saidi, Z. 2011. Euforia Emas. Pustaka Adina: Depok.