Artikel singkat ini diterbitkan atas permintaan dari salah satu teman saya yang bernama Ayu Ridhia Amalia.


Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Meskipun artikel ini terbilang sudah “telat” dalam publikasinya, namun semoga saja ilmu yang ada di artikel ini akan tetap berguna bagi siapapun yang ingin menjalankan ibadah puasa selain di bulan Ramadhan tentunya. Dan semoga saja, siapapun yang bisa mengaplikasikan ilmu sederhana ini (yang juga saya dapat dari orang lain), bisa disebarluaskan juga untuk menambah ilmu sahabat-sahabat yang lainnya.

Saya sebenarnya bukan seorang dokter ataupun seorang yang ahli di bidang kesehatan, namun saya adalah seorang pembelajar yang senang belajar tentang banyak hal, terutama tentang kesehatan (Anda bisa melihat profil singkat saya di halaman Tentang Saya). Semoga beberapa tips dan ilmu yang akan saya paparkan berikut berguna bagi Anda sekalian yang membaca artikel ini.

Perlu kita ketahui, menjalankan hidup dengan berdasarkan kesehatan saat ini sangat tidak mudah. Banyak sekali doktrin-doktrin salah yang bertebaran di luar sana yang akhirnya masuk ke dalam bawah sadar kita, sehingga lama-kelamaan tentunya menjadi kebenaran palsu di dalam diri kita, menjadi tradisi yang wajar dilakukan, menjadi kesalahan yang bisa ditoleransi oleh banyak orang.

Tentunya dalam hal ini, kita harus benar-benar teliti akan info-info yang hadir di sekitar kita, terutama dengan media televisi dan berita online yang kebanyakan dibuat demi keuntungan semata, tidak memperhatikan salah dan benarnya. Asal posting dan asal mempublikasikan suatu ajaran atau berita.

Salah satu yang sering kita dengar saat bulan Ramadhan tiba adalah slogan “berbukalah dengan yang manis“, yang bisa dibilang sudah mendarah daging, hingga kebanyakan orang “wajib” sekali berbuka dengan minuman manis, sejenis teh manis, es buah dicampur dengan sirup atau susu, dan berbagai macam jenis minuman manis lainnya. Tentu ini menjadi suatu kesalahpahaman di masyarakat kita. Dan kebanyakan orang tidak menyadarinya.

Kebanyakan orang memulai berbuka puasa dengan minum-minuman yang manis, dengan sangat lahap dan kemudian dicampur dengan makanan lainnya. Apakah ini salah? Saya tentu tidak menyalahkan hal tersebut, karena setiap orang punya kegemaran masing-masing di dalam menyantap makanan. Tetapi bagaimana bila yang dikonsumsi oleh kita itu ternyata malah tidak baik bagi tubuh? Terutama saat berbuka puasa dan sahur?

Konsep sehat yang salah menjadikan kebanyakan orang bebas makan apa saja dengan semau mereka, kalau sakit? ya tinggal minum obat, kan beres! Tapi sebenarnya konsep sehat yang benar tentunya bukan sekedar “kalau sakit, ya tinggal minum obat, kan beres!”, tetapi lebih kepada menjaga tubuh kita agar seminimal mungkin terkena penyakit.

Bukankah Allah sudah memberikan kita rezeki sehat setiap saatnya kepada kita? Jika memang demikian, maka kita harus mensyukuri nikmat sehat tersebut dengan cara menjaga kesehatan tubuh kita. Tentunya dengan menjaga apa yang kita makan, jangan sampai salah makan hingga membuat tubuh kita tidak bisa mencerna dengan baik makanan dan minuman yang kita masukkan ke dalam tubuh.

Lalu sebenarnya, apakah makanan yang baik untuk kita santap selagi berbuka puasa maupun saat kita sahur?

Berbuka Puasa

Mari kita bahas makanan yang baik untuk dimakan saat berbuka puasa, karena biasanya banyak kesalahan yang dilakukan oleh orang saat berbuka, sehingga timbul berbagai macam efek aneh yang biasa orang disebut “abis kenyang, bego” (ini sering kan kita dengar). Untuk menghindarinya, kita perlu tahu makanan apa yang tubuh butuhkan, sehingga kita tidak mendikte makanan terhadap tubuh kita, tetapi kita memberikan makanan yang memang tubuh butuhkan.

Dari Anas bin Malik, beliau berkata “Dahulu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berbuka dengan beberapa butir ruthab (kurma basah), dan kalau tidak ada ruthab maka dengan beberapa butir tamr (kurma matang), dan kalau tidak ada tamr maka dengan beberapa teguk air” (HR. Abu Daud, no. 2009).

Kalau boleh saya tafsirkan sendiri tentang Hadist di atas, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berbuka puasa dengan kurma basah, kalau tidak ada dengan kurma matang (kurma kering), kalau tidak aja juga kurma matang, maka dengan beberapa teguk air. Dan ini Rasulullah lakukan sebelum Shalat Maghrib. Jadi pembatal puasa Rasulullah ya hanya sekitar 3 jenis makanan/minuman itu saja.

Lalu muncul-lah argumen baru tentang makanan berbuka puasa, terutama slogan “berbuka dengan yang manis”. Mengetahui bahwa Rasulullah pada waktu berbuka dengan kurma (yang notabene adalah buah manis), maka kebanyakan orang menganggap berbuka dengan makanan manis (apapun jenisnya) adalah baik. Padahal jika di lihat lebih mendalam tentang ini, yang dimaksud manis adalah manis dari buah. Yang tentunya kita tahu bahwa buah mengandung fruktosa (gula buah) yang alami, tentu kita tidak bisa sembarang mengganti fruktosa dengan makanan/minuman manis lainnya.

Maka dari itu, muncullah teh manis, es buah dicampur gula dan susu (silahkan baca artikel saya tentang 3 Hal Penting Sebelum Makan Buah) yang jelas menyalahi aturan tubuh ketika mengkonsumsi buah.

Kalau misalkan tidak ada kurma bagaimana? Kita bisa menggantinya dengan buah matang (segar, berserat, matang pohon, dan manis) untuk berbuka puasa, karena pada saat perut kosong, sangat cocok untuk mengkonsumsi buah. Jika ada kurma, maka kurma adalah buah yang baik, sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah.

Setelah berbuka puasa, bolehkah makan-makan berat? Untuk bagian ini, saya sendiri belum menemukan riwayat Hadist nya tentang makan-makan berat (seperti nasi, dll) setelah Shalat Maghrib. Tetapi saya punya sedikit tips kita yang memang “terbiasa” untuk memakan makanan berat.

Bagi kita yang “terbiasa” menyantap makan-makanan berat, saran saya, cobalah untuk tidak menggabungkan makanan berjenis pati dengan protein hewani (tentang ini, akan saya posting pada artikel berikutnya). Karena dengan menggabungkan makanan pati dan protein hewani, ini justru pemicu tubuh mengalami kantuk (terutama pada saat Shalat Tarawih). Itulah mengapa banyak orang yang mengantuk pada saat Shalat Tarawih, kita bisa cek dari makanan yang dimakan orang tersebut. Ada baiknya jika ingin tetap makan protein hewani, gabungkanlah dengan sayur segar, agar tubuh bisa mencerna kedua jenis makanan tersebut dengan baik.

Kesimpulan dari bagian ini adalah, saya menyarankan untuk berbuka dengan buah, terlebih itu buah kurma atau buah apapun. Konsep “manis” yang dimaksud adalah manis yang didapat dari fruktosa buah, bukan “manis” yang berasal dari makanan lain.

Cara ini telah saya buktikan setiap saya berbuka puasa (baik di bulan Ramadhan ataupun pada puasa Sunnah), dan saya tidak mendapatkan rasa kantuk sedikitpun setelah berbuka.

Sahur

Lalu bagaimana dengan makanan pada saat sahur? Tentu ini berbeda dengan saat kita berbuka puasa. Saat sahur kita membutuhkan banyak energi sebagai bahan untuk kita berpuasa. Dan tentunya juga dengan paham seperti itu, banyak orang juga melakukan kesalahan saat santap sahur, yang berujung kepada rasa kantuk yang berlebih. Ini bisa berakibat fatal, terutama pada saat waktu Subuh, bisa-bisa tidak Shalat Subuh lantaran terlalu banyak makan pada saat sahur. Lantas, yang terbaik bagaimana?

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda “Sebaik-baik (makanan) sahur bagi seorang mukmin adalah kurma” (HR. Abu Daud, no. 1998).

Lagi-lagi Rasulullah menganjurkan kita untuk menyantap kurma pada saat sahur. Tetapi kembali lagi pada bahasan sebelumnya, selain kurma tentu buah apapun boleh dimakan. Dalam hadist atas ada penekanan pada kata “sebaik-baik”, yang berarti makanan yang paling baik pada saat menyantap sahur adalah kurma (atau bisa juga buah lainnya).

Apakah kurma atau buah lainnya benar-benar bisa memberikan energi untuk orang yang berpuasa? Pada awalnya saya sih ragu dengan hal demikian, sampai saya akhirnya memutuskan melakukannya sendiri, dan sampai saat artikel ini ditulis (22 Ramadhan 1434 H), setiap saya sahur, saya hanya memakan kurma saja, dan saya tidak mengalami rasa kantuk setelah sahur ataupun pada siang hari.

Makan sahur dan berbuka yang cukup, serta minum yang cukup tidak akan menimbulkan rasa kantuk berlebih, selama makanan/minuman tersebut dikonsumsi secara benar pada waktu yang benar juga.


Semoga apa yang saya jelaskan di atas berguna bagi siapapun yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana cara yang baik untuk berbuka puasa juga untuk sahur. Saya bukanlah Dokter ataupun ahli kesehatan, saya hanya seorang pembelajar kesehatan yang kebetulan saja mengetahui cara sehat dengan cara yang baik dan benar.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…