Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Kaum Muslimin yang dirahmati   الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى   seperti kita ketahui bersama bahwa kita hidup di negeri yang penduduknya ber-beda2 keyakinan/ kepercayaan dan itulah kodrat الله , sunnatullah yang memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Juga merupakan ujian untuk kita, bagaimana menyikapi perbedaan ini dan syukur  الْحَمْدُلِلَّهِ     sampai detik ini berkat rahmat الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى rakyat di negeri ini dapat hidup berdampingan dengan rukun dan aman. Keyakinan yang berbeda ini justru mengajak kita selaku orang Muslim untuk saling bertanggung jawab memberitahukan kebenaran dan mengajak kepada kebaikan dengan sopan, santun, dan tidak memaksa.-

Islam adalah agama yang sangat toleran, Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah memberi contoh bagaimana bersikap toleran dalam mengarungi kehidupan ini. Dalam kaitan yang berhubungan dengan antar sesama manusia yang berbeda suku, bangsa, bahkan berbeda agama. Karena itulah maka pada zaman Rasululloh  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  Islam dikenal agama yang sangat toleran dan agama yang dihargai oleh para ilmuwan yang tahu persis tentang Islam. Karena memang الله  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى    menjadikan Islam sebagai rahmat di alam ini :

Dan tiadalah KAMI mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al Quran, surat Al-Anbiya (21), aya7 107).

Imam Muslim mengatakan dalam shahihnya, Ibnu Abi Umar memberitahukan kepada kami, Marwan al-Fazari memberitahukan kapada kami dari Yazid bin Kisan dari Ibnu Hazim dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dia mengatakan, ada yang mengatakan, “Ya Rosululloh  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  do’akan keburukan bagi orang-orang musyirik.” Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  bersabda :

Sesungguhnya aku diutus bukan sebagai pelaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat.” (HR. Imam Muslim IV/2006 No. 2559 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir VI/99-100).

Islam mengajarkan agar kita menjamin keselarasan kehidupan dengan lingkungan, apalagi dengan sesama manusia. Toleransi yang dicontohkan oleh Rosululloh  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  terhadap agama-agama lain sangat jelas sebagaimana terungkap dalam sejarah. Seperti yang diriwayatkan dalam suatu hadits yang shahih dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Ibundanya datang kepadanya saat ia masih musyrik di masa perundingan damai yang terjadi antara Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  dan penduduk Makkah, ibundanya datang kepadanya meminta bantuan, lantas Asma’ meminta izin terlebih dahulu kepada Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  mengenai hal tersebut; apakah ia boleh menyambung rahim dengannya? Maka, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  pun bersabda, “Sambunglah rahim dengannya.” (al-Bukhari, II:242; Muslim, II:696 dari hadits Asma’ radhiyallahu‘anha).

Bukan hanya pada zaman Rosululloh  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  saja terjadi seperti itu, pada zaman Umar bin Khathab radhiyallaahu ‘anhu, yang di dalam sejarah Islam terkenal dengan zaman keemasan. Pada saat itu, ditaklukkannya kerajaan Persia, kerajaan Romawi, sehingga Islam berkembang sangat pesat pada saat itu. Bukan hanya meluas ke Timur, tetapi juga ke Barat. Di sana ditemukan beberapa umat yang berlainan agama. Kalau Umar pada saat itu ingin berlaku semena-mena, maka tidak menunggu waktu lama, mereka bisa dikikis habis. Tetapi, Umar malah memberi penghormatan kepada mereka, dan melindungi mereka untuk melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan mereka, dengan catatan mereka tidak memusuhi, dan menjadikan Islam sebagai musuh untuk dihancurkan. Demikian juga yang terjadi pada kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya.

Itulah sikap yang dicontohkan Rosululloh  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  dan para sahabatnya. Persoalannya adalah ketika kita hidup di negeri ini dimana ada dua sisi yang menyikapi perbedaan agama, dengan sikap yang sama-sama ekstrim. Di satu sisi, mereka melihat orang lain mengikuti agama kita, misalnya ketika hari Raya Idul Fitri, banyak orang lain yang mengambil sikap menghormati dengan mendatangi ke rumah-rumah untuk mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri. Dalam kondisi yang seperti itulah, maka ada kebingungan di antara umat Islam, yang tidak faham betul tentang aqidah, maka dia juga ingin melakukan hal yang sama, di saat orang lain merayakan hari rayanya, dia datang ke tempatnya. Sisi lainnya, juga ada sebagian umat Islam, yang menganggap, bahwa saling menghormati dan saling menghargai suatu agama adalah hal yang wajar, bahkan mungkin sampai-sampai menganggapnya, semua agama datangnya dari Tuhan dan semua itu merupakan suatu kebenaran, maka terjebaklah mereka dalam konsep pluralisme. Pluralisme dalam konteks aqidah tidak dibenarkan dalam Islam.

Salah satu ulama ahli hadits abad ini, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Bazrahimahullah (mantan mufti kerajaan Arab Saudi dan mantan Rektor Universitas“Al-Madinah” Arab Saudi) pernah ditanya :

“Ya Syaikh…, apa kewajiban seorang Muslim terhadap non Muslim, baik statusnya sebagai “Dzimmi” di negeri kaum Muslimin atau ia berada di negerinya sendiri dan Muslim yang tinggal di negerinya? Kewajiban yang saya maksud untuk dijelaskan di sini adalah bagaimana interaksi dengannya dari segala aspeknya, mulai dari memberi salam hingga ikut merayakan hari besarnya. Mohon pencerahan, semoga الله  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  membalas kebaikan untuk Syaikh..?”

Beliau menjawab:

Kewajiban seorang Muslim terhadap non Muslim ada beberapa bentuk, diantaranya :

1. Menjelaskan hakikat Islam kepadanya semampu yang dapat ia lakukan dan berdasarkan ilmu yang ada padanya, sebab hal ini merupakan bentuk kebaikan yang paling agung dan besar yang dapat diberikannya kepada warga negara sesamanya dan etnis lain yang berinteraksi dengannya seperti etnis Yahudi, Nashrani dan kaum Musyrikin lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ,
Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti (pahala) pelakunya.” (Dikeluarkan oleh Imam Muslim, III, no.1506; Abu Daud, no.5129; at-Turmudzi, no.2671 dari hadits Abu Mas’ud al-Badri radhiyallahu ‘anhu).

Dan sabda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kepada ‘Ali radhiyallaahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Khaibar dan memerintahkannya menyeru orang-orang Yahudi kepada Islam,
Demi  اللهُ, sungguh اللهُ memberi hidayah kepada seorang laki-laki melalui tanganmu adalah lebih baik bagimu daripada onta merah (harta yang paling berharga dan paling bernilai kala itu).” (Dikeluarkan oleh al-Bukhari, III:137; Muslim, IV:1872 dari hadits Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu).

Dalam sabda beliau  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم   yang lain,
Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. (Dikeluarkan oleh Muslim, IV: 2060; Abu Daud, 4609; at-Turmudzi, 2674 dari jalur Isma’il bin Ja’far, dari al-‘Ala’ bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Jadi dakwah atau pun penyampaian Islam dan nasehatnya dalam hal tersebut termasuk sesuatu yang paling penting dan bentuk pendekatan diri kepada الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

2. Tidak berbuat zhalim terhadap jiwa, harta atau pun kehormatannya bila ia seorang Dzimmi (non Muslim yang tinggal di negeri kaum Muslimin dan tunduk kepada hukum Islam serta wajib membayar jizya), atau Musta’man (non Muslim yang mendapatkan jaminan keamanan) atau pun Mu’ahid (non Muslim yang mempunyai perjanjian damai). Seorang Muslim harus menunaikan haknya (non Muslim) dengan tidak berbuat zhalim terhadap hartanya baik dengan mencurinya, berkhianat atau pun berbuat curang. Ia juga tidak boleh menyakiti badannya dengan cara memukul atau pun membunuh sebab statusnya adalah sebagai seorang Mu’ahid, atau dzimmi di dalam negeri atau Musta’man yang dilindungi.

3. Tidak ada penghalang baginya untuk bertransaksi jual beli, sewa-menyewa dan sebagainya dengannya. Berdasarkan hadits yang shahih dari Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan beliau pernah membeli dari orang-orang kafir penyembah berhala dan juga membeli dari orang-orang Yahudi. Ini semua adalah bentuk mu’amalah (transaksi). Bahkan sebelum wafat, Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  masih menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi untuk keperluan makan keluarganya.

4. Tidak memulai salam dengannya tetapi tetap membalasnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, “Janganlah memulai salam dengan orang-orang Yahudi dan Nashrani.” (HR.Muslim, IV:1707 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

5. Tidak boleh ikut serta merayakan pesta dan hari besar mereka, namun boleh berdoa untuk orang kafir yang masih hidup agar mendapat hidayah, demikian jawaban yang disampaikan oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Bazrahimahullah, beliau adalah mantan mufti kerajaan Arab Saudi dan beliau juga pernah menjabat sebagai rektor Universitas “Al Madinah” Saudi Arabia, ketika menjawab suatu pertanyaan dari seorang penanya,  والله اعلم.

Dalam suatu hadits shahih Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Bila Ahli Kitab memberi salam kepada kamu, maka katakanlah: ‘Wa’alaikum.’ (Muttafaqun alaih, HR. al-Bukhari, IV:142; Muslim, IV:1706 dari hadits Abdullah bin Dinar, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu).

Jadi, seorang Muslim tidak memulai salam dengan orang kafir akan tetapi bila orang Yahudi, Nashrani atau orang-orang kafir lainnya memberi salam kepadanya, maka hendaknya ia mengucapkan, Wa’alaikum. Sebagaimana hadits tersebut di atas yang diperintahkan Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Ini termasuk hak-hak yang disyari’atkan antara seorang Muslim dan orang kafir.

Hak lainnya adalah bertetangga yang baik. Bila ia (non Muslim) tetangga anda, maka berbuat baiklah terhadapnya, jangan mengusik-nya, boleh bersedekah kepadanya bila ia seorang yang fakir. Atau boleh memberi hadiah kepadanya bila ia seorang yang kaya. Boleh pula menasehatinya dalam hal-hal yang bermanfa’at baginya sebab ini bisa menjadi motivator ia berhasrat untuk mengenal Islam, dan mungkin mendapatkan hidayah dari الله عَزَّ وَجَلَّ  kemudian masuk Islam.

Juga, karena tetangga memiliki hak yang agung sebagaimana sabda Rosululloh  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , “Jibril senantiasa berpesan kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga hingga aku mengira ia akan memberikan hak waris kepadanya.” (Hadits Muttafaqun ‘alaihi).

Juga sebagaimana makna umum dari firman الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  berikut ini :

Artinya :

اللهُ tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya اللهُ  menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Quran, surat al-Mumtahanah (60), ayat 8).

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abdullah bin az-Zubair, ia berkata, “Qutailah (Ibu dari Asma’) pernah mendatangi anak perempuannya, Asma’ binti Abu Bakar dengan membawa beberapa hadiah, di antaranya daging, keju dan minyak samin, sedangkan ia (Qutailah) seorang yang musyirik, maka Asma’ menolak hadiahnya serta tidak mempersilahkan ibunya masuk rumah. Aisyah radhiyallahu ‘anhuma pun menanyakan tentang peristiwa tersebut kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , maka الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  menurunkan ayat di tersebut atas. Maka Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  pun memerintahkan Asma’ untuk menerima hadiah ibunya dan mempersilahkan masuk rumah.” (HR. Imam Ahmad IV/4 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir IX/59-60).

Pada ayat yang mulia di atas, الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  membolehkan berbuat adil dan berbuat baik kepada non muslim, kecuali orang-orang non muslim yang wajib diperangi, karena mereka mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri dalam ketentuan orang-orang yang wajib diperangi.

Kaum Muslimin juga harus menyayangi sesama manusia dengan kasih sayang, dengan memberinya makan jika ia lapar (tidak ada makanan), memberinya minum jika ia kehausan, mengobatinya jika ia sakit, menyelamatkan dari kebinasaan dan menjauhkan gangguan daripadanya.

Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : “Sayangilah orang yang ada di bumi, niscaya engkau disayangi siapa yang ada di langit” (Diriwayatkan Ath Thabrani dan Al Hakim Hadist ini shahih).

Kaum Muslimin tidak mengganggu harta, darah dan kehormatan saudara non muslim, jika mereka bukan termasuk orang yang wajib diperangi :

Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , bersabda : “Barangsiapa menyakiti orang kafir dzimmi, maka Aku menjadi lawannya pada hari kiamat“. (HR. Muslim).

Setelah penaklukan kota Makkah, penduduk kota Makkah memperkirakan bahwa Rosululloh صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  pasti membunuh mereka, atau menjadikan mereka budak, atau paling sedikit merampas harta-benda mereka. Pada saat itu mereka benar-benar sangat cemas dan menduga-duga apakah kiranya pernyataan yang akan beliau  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم   sampaikankan dalam khutbah bersejarah itu. Rosululloh Muhammad  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  memulai khutbahnya kepada orang-orang kafir itu dengan kalimat berikut:

“Pada hari ini, tidak akan ada tuntutan apapun atas kalian dan tak seorangpun akan mencelakai kalian dengan cara apapun.”

Tidaklah dapat kita temukan contoh serupa itu sepanjang sejarah kehidupan manusia untuk menunjukkan sikap yang sangat istimewa dalam hal menghadapi lawan. Buah dari sikap yang mulia ini, ribuan penduduk Makkah pun berbondong-bondong memeluk Islam.

Sikap mulia serupa itu pernah juga ditunjukkan Nabi Muhammad  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  pada waktu beliau mengizinkan rombongan utusan suku Bani Thaqif untuk tinggal di Masjid Nabawi, walaupun waktu itu mereka masih belum memeluk Islam. Hal ini beliau lakukan untuk menunjukkan rasa hormat dan keramah-tamahan.

Mudah-mudahan penjelasan di atas dapat menambah wacana kita semua, namun mungkin masih timbul pertanyaan, mengapa kaum Muslimin tidak boleh ikut serta merayakan pesta dan hari besar mereka?

Seperti telah dijelaskan di atas, ada sebagian yang menganggap, bahwa toleransi saling menghormati dan saling menghargai suatu agama adalah hal yang wajar dengan dalih bahwa semua agama benar karena semua agama datangnya dari Tuhan dan semua itu merupakan suatu kebenaran, maka semua agama adalah benar.

Hal ini menyebabkan mereka terjebak dalam konsep pluralisme. Pluralisme dalam konteks aqidah tidak dibenarkan dalam Islam. Pluralisme sebagai aliran filsafat menganggap, bahwa semua agama benar, semua bentuk ubudiyah yang dilakukan masing-masing pemeluk agama adalah jalan yang menuju kepada titik yang sama. Hal ini bertentangan dengan beberapa firman الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  berikut ini :

Surat Al-Maaidah (5), ayat 3:

Artinya : “Pada hari ini telah KU-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah KU-cukupkan kepadamu ni’mat-KU, dan telah KU-ridhoi Islam itu jadi agama bagimu.

Surat Ali Imran (3), ayat 19:

Artinya : “Sesungguhnya agama yang diridhoi disisi الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى hanyalah Islam.

Kemudian firman الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  Surat Ali Imran (3), ayat 85:

Artinya : “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak- lah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Dari ketiga ayat tersebut di atas jelas bahwa الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  telah menyatakan agama Islam-lah yang sempurna dan telah diridhoi-NYA, maka dalam hal menjaga hubungan hamba-NYA dengan الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى (hablum minallah) haruslah berjalan murni sesuai dengan syari’at, tidak terpengaruh oleh hal2 yang bersifat ceremonial demi menjaga toleransi atau hubungan kehidupan beragama antar masyarakat non muslim, artinya untuk hablum minallah dalam Islam tidak ada toleransi, namun dalam hubungan sosial antar mansuia (hablum minannas) Islam sangat bertoleransi.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan dan akan dilanjutkan pada hari Jum’at mendatang, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.