Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Kadang2 ketika kita sedang naik peasawat terbang pada siang hari dan pada ketinggian tertentu, kemudian dari jendela kita menoleh kebawah, kita akan melihat pemandangan indah dimana ada kelompok2 awan putih bersih, ada juga kelompok2 awan yang agak abu2, bahkan kadang2 awan agak merah karena siraman sinar matahari. Apabila kita menoleh keatas, nun jauh di atas kita yang terlihat hanya pemandangan langit biru yang seolah membatasi ketinggian kita.

Keadaan akan berbeda, bila terbang pada malam hari dimana suasana dan nuansa alam yang berbeda. Kita tengok kebawah, gelap pekat dan yang terlihat hanya hamparan kelap-kelip lampu2 pada jalan raya, bangunan2 yang berpijak di bumi atau titik2 cahaya lampu kecil pada kapal yang sedang berlayar di atas lautan. Kemudian kita menoleh ke atas, keadaan pun gelap pekat, yang terlihat hanya gemerlap kelap-kelip cahaya bintang2, kadang terlihat bulan dengan cahayanya yang terang, kadang redup tertutup awan, “SUBHAANALLAH” amat indah fenomena alam ini.

ALLAH Subhaanallahu Wa Ta’ala menciptakan alam semesta termasuk benda2 di langit maupun di bumi pasti mempunyai hikmah tertentu. Namun sedikit sekali manusia yang memikirkan betapa besar hikmah dibalik semua penciptaan itu.

ALLAH Subhaanallahu Wa Ta’ala berfirman :

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda2 bagi orang2 berakal (190). Yaitu orang2 yang mengingat ALLAH sambil berdiri atau duduk dan dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata : ‘Ya ROBB kami, tidaklah ENGKAU menciptakan ini dengan sia2. Maha Suci ENGKAU, maka peliharalah kami dari siksa Neraka’ (191).” (Al-Qur’an, surat Ali-Imran (3), ayat 190-191).

Pada ketinggian dan luas langit serta kerendahan bumi dan kepadatannya, dimana pada keduanya ada segala macam benda2 ciptaannya, itu semua adalah tanda2 kekuasan ALLAH yang Agung dan dapat disaksikan, berupa langit, awan, bintang2, komet, daratan dan lautan, pegunungan, tanah gersang, pepohonan, tumbuh2an, tanaman, buah2an, binatang, tambang dan mineral, serta berbagai macam warna, aroma dan rasa. Termasuk silih bergantinya siang dan malam, keduanya susul- menyusul tidak pernah berhenti hingga hari Kiamat, semua itu adalah ketetapan ALLAH yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Kemudian kita merenung sejenak dan berfikir untuk memahami hikmah yang terdapat pada penciptaan langit dan bumi, ternyata pada keduanya menunjukkan keagungan  ALLAH Robbul Alamin, Sang Pencipta, juga kekuasaan-NYA, keluasan ilmu-NYA, hikmah-NYA, perbuatan-NYA serta rahmat-NYA……SUBHAANALLAH.

Hikmah penciptaan alam semesta ataupun kalimat2 ALLAH sangat banyak dan tidak terhitung, bahkan tak satu pun manusia yang sanggup menghitungnya.

ALLAH Subhaanallahu Wa Ta’ala berfirman :

Dan seandainya pohon-pohon di Bumi menjadi pena dan laut menjadi tinta, ditambahkan kepadanya tujuh laut lagi sesudah keringnya, niscaya tidak akan habis-habisnya dituliskan kalimat ALLAH. SesungguhnyaALLAH Mahaperkasa lagi Mahabijaksana“. (Al-Qur’an, surat Luqman (31), ayat 27).

Shahih Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan maksud  surat Luqman ayat 27 diatas adalah seandainya seluruh pepohonan di dunia dijadikan pena dan lautan dijadikan tinta, ditambah dengan tujuh lautan lagi setelah lautan yang pertama kering, kemudian pena dan tinta dijadikan alat untuk menuliskakalimat – kalimat ALLAH yang menunjukkan keagungan ALLAH, sifat-sifat ALLAH dan kebesaran-NYA, niscaya pena-pena itu akan pecah berkeping-kepingdan air lautan akan habis, meskipun didatangkan tambahan sebanyak itu pula.

Sharing kali ini yang berjudul  “Langit Bumi pun menangis” ini adalah satu hikmah  dari sekian banyak hikmah yang tidak terhitung yang ada pada ciptaan-NYA.

Seperti kita ketahui bahwa di mana pun kita berada, maka perilaku kita selama hidup di dunia yang fana ini disaksikan oleh alam di sekitar kita, termasuk langit dan bumi. Bahkan ketika seorang mukmin meninggal, maka langit dan bumi pun menangis. Namun sebaliknya bila seseorang yang meninggal itu kafir, maka langit dan bumi tidak menangis.

ALLAH Subhaanallahu Wa Ta’ala berfirman :

Maka Langit dan Bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi tangguh.” (Al-Qur’an, surat Ad-Dukhaan (44), ayat 29).

Ayat di atas menceritakan bagaimana Fir’aun dan pasukannya yang mati karena ditenggelamkan ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala di laut dan mereka tidak mempunyai peninggalan amal shalih di muka bumi ini, dan tidak pula amal shalih yang bisa naik ke langit, sehingga langit dan bumi pun tidak menangisi mereka. (Shahih tafsir Ibnu Katsir VIII/262-263, pstk Ibnu Katsir).

Ibnu  Jarir meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Ada seseorang mendatangi Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma dan bertanya, ‘Wahai Ibnu Abbas..! Apa pendapatmu tentang ayat ini, apakah langit dan bumi itu dapat menangis karena seseorang?‘ Maka Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma pun menjawab, ‘Ya, karena setiap orang itu memiliki pintu di langit yang menjadi tempat naiknya amal perbuatan serta tempat turunnya rizki. Ketika seorang mukmin meninggal dunia, maka pintunya yang di langit itu akan ditutup, setelah sebelumnya menjadi tempat naiknya amal baik serta tempat turunya rizki semasa hidupnya. Ketika pintu itu ditutup, dan tidak ada amal yang naik dan rizki yang turun, maka langit pun merasa kehilangan, dan ia pun menangis. Demikian juga ketika tempat shalatnya yang ada di bumi yang sebelumnya digunakan untuk shalat dan berdzikir merasa kehilangan, maka bumi pun menangis. (Shahih tafsir Ibnu Katsir VIII/262-263, pstk Ibnu Katsir).

Bahkan ketika seorang mukmin meninggal, maka ketika malaikat membawa ruhnya ke langit, pintu langit pun terbuka. Begitupula ketika jenazah seorang mukmin di kubur, maka bumi (kuburnya) pun membuka lebar (meluaskan kuburnya). Sebaliknya bila yang meninggal orang kafir, maka pintu langit pun tertutup tidak terbuka hingga ruh pun di campakkan ke bumi. Dan bumi (kuburnya) pun menyempit hingga remuk tulang hastanya.

Mari kita perhatikan hadits-hadits  berikut ini :

Dalam riwayat hadits yang cukup panjang, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari al-Bara bin Azib, ia berkata, “Kami pernah keluar bersama Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam untuk menghadiri pemakaman seorang laki-laki darial-Anshar. Setelah tiba di kuburan, dan mayat belum dimasukkan ke liang lahad, Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam duduk, dan kami pun duduk di sekitarnya.

Seakan-akan di atas kepala kami ada burung, yakni begitu hening dan terdiam karena menghormati keberadaan beliau. Sambil memegang sebuah ranting Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam menggores-gores tanah dengan ujungnya (seperti orang yang sedang serius berpikir), tak lama kemudian beliau mengangkat kepalanya seraya berkata : “Berlindunglah kepada ALLAH dari siksa kubur“, beliau mengucapkan dua atau tiga kali. Lalu beliau  bersabda  : “Sesungguhnya, apabila seorang hamba yang beriman akan pergi meninggalkan dunia menuju negeri akhirat, maka turunlah dari langit beberapa Malaikat berwajah putih bagaikan matahari membawa kain kafan dan hanuuth (ramuan) dari Surga. Hingga duduk di dekatnya, sedang jumlah mereka sejauh mata memandang. Kemudian datanglah Malaikat maut lalu duduk di samping kepalanya. Malaikat maut berkata, ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan dari ALLAH.’ Maka keluarlah ruh orang beriman itu bagaikan tetes air yang keluar dari mulut wadah air (dari kulit) dan disambut oleh Malakat maut.

Seketika itu pula para Malaikat yang ada di dekatnya, langsung mengambil dan meletakkan ruhnya ke dalam kafan yang ada hanuuth tersebut dengan menebarkan semerbak kesturi yang paling wangi di seluruh penjuru dunia. Kemudian mereka naik membawanya. Setiap melewati sekelompok Malaikat, mereka bertanya, ‘Ruh siapakah yang sangat wangi ini?’ Maka para Malaikat yang mengiringinya pun menyebutkan nama orang beriman itu dengan nama yang paling baik yang pernah diberikan oleh manusia semasa ia masih di dunia.

Setibanya di langit pertama, Malaikat pengiring meminta dibukakan pintu. Lalu dibukakan untuknya, kemudian secara bersama-sama, mereka mengantarkannya ke langit berikutnya, hingga ruh tersebut tiba di langit ke tujuh. ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman : “Tulislah catatan hidup hamba-KU ini di dalam Surga Illiyyin (tempat yang paling tinggi), lalu kembalikanlah ia ke bumi. Karena sesungguhnya AKU telah menciptakan mereka manusia dari tanah dan akan mengembalikannya lagi menjadi tanah. Setelah itu, AKU akan mengeluarkannya kembali dari tanah untuk yang kedua kalinya.”

Setelah ruh itu dikembalikan lagi ke dalam jasadnya, datanglah dua Malaikat. Kedua Malaikat itu mendudukannya seraya bertanya, ‘Siapa ROBB-mu?’  ‘ALLAH adalah ROBB-ku, jawab orang yang beriman itu.’ Dua Malaikat itu bertanya lagi, ‘apa agamamu?’ ‘Islam agamaku’, jawabnya. Dua Malaikat bertanya lagi, ‘siapakah laki-laki yang diutus kepada kamu?’ ‘Dia adalah Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, jawabnya.’ Dua Malaikat itu bertanya lagi, ‘dari mana kamu mengenalinya?’   ‘Aku telah membaca Kitab ALLAH, lalu aku beriman dan membenarkannya’, jawabnya.

Maka terdengarlah suara dari langit, “Sungguh telah benar hamba-KU, siapkanlah untuknya permadani dari Surga, berikanlah ia pakaian dari Surga dan bukakanlah untuknya pintu menuju Surga.”

Lalu angin dan harum Surga mendatanginya, datang dari pintu itu. Kemudian kuburnya diluaskan seluas mata memandang. Dan tak lama kemudian, datanglah seorang laki-laki tampan berpakaian indah, menebarkan wangi semerbak. Ia berkata :

‘Bergembiralah dengan orang yang akan membuatmu senang, ini adalah harimu yang dahulu dijanjikan untukmu.’  ‘Siapakah kamu, wajahmu seperti membawa kabar baik?’ Tanya orang beriman itu.   ‘Aku adalah amal shalihmu’, jawabnya.  Orang beriman itu pun berkata, ‘Wahai ROBB-ku, bangkitkanlah hari Kiamat wahai ROBB-ku, bangkitkanlah hari Kiamat,  agar aku dapat kembali kepada keluargaku dan harta-hartaku.’

Kemudian Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, melanjutkan sabdanya, ‘Dan sesungguhnya seorang hamba yang kafir apabila dalam keadaan sakaratul maut dan menunggu saat tibanya pulang ke negeri akhirat, maka turunlah beberapa Malaikat dari langit yang berwajah hitam membawa kain dari bulu yang kasar. Lalu mereka duduk di dekatnya, sedang banyaknya sejauh mata memandang. Lalu datang pula Malaikat maut dan duduk di samping kepalanya.

Malaikat maut berkata, ‘Wahai jiwa yang kotor, keluarlah menuju kemarahan dan kemurkaan ALLAH.’ Maka mendengar ucapan itu, ruh orang kafir itu bercerai berai dalam tubuhnya. Lalu Malaikat maut mencabutnya dari jasadnya bagaikan mengeluarkan besi dari kain wol yang basah.

Maka seketika itu pula para Malaikat yang duduk di dekatnya langsung mengambil dan meletakkannya ke dalam kain kasar tersebut. Lalu ruh itu menebarkan bau bangkai yang lebih busuk dari bau bangkai apa pun di dunia. Kemudian para Malaikat naik membawanya menuju langit. Setiap melewati sekelompok Malaikat, mereka bertanya, ‘Ruh siapakah yang sangat busuk ini?’  Maka para Malaikat yang mengiringnya pun menjawab seraya menyebutkan nama yang paling buruk yang dahulu diberikan untuknya selama di dunia.

Setibanya di langit dunia, maka pintu langit diminta untuk dibuka, namun tidak dikabulkan. Lalu Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam membaca firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala : “Sekali-kali tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum (mustahil).”   (Al Qur’an, surat Al-Araaf (7), ayat 40).

Maka ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman, ‘Tulislah catatan hidupnya di dalam Neraka Sijjin di kerak bumi yang paling dasar.’  Kemudian ruhnya dilemparkan ke bumi, lalu Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam membaca firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala lagi, “Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan ALLAH, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”    (Al Quran, surat Al-Hajj, ayat 31).

Setelah ruh itu dikembalikan ke jasadnya, maka datanglah dua Malaikat yang kemudian mendudukkannya seraya berkata kepadanya, “Siapa ROBB-mu?”  ‘Hah, hah, aku tidak tahu,’ jawab orang kafir itu.  Dua Malaikat itu bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’  ‘Hah, hah, aku tidak tahu,’ jawab orang kafir itu.  Dua Malaikat itu kembali bertanya, ‘Siapakah laki-laki yang diutus kepada kamu?’   ‘Hah, hah, aku tidak tahu,’ jawab orang kafir itu.

Maka terdengarlah seruan dari langit, ‘Sungguh dia telah berdusta, siapkanlah permadani dari Neraka untuknya, dan bukakanlah untuknya pintu menuju Neraka.’

Maka datanglah kepadanya dari pintu Neraka itu hawa panas, lalu kuburnya disempitkan hingga tulang-belulangnya menjadi remuk. Kemudian datanglah seorang laki-laki berwajah jelek, berpakaian buruk dan berbau busuk. Laki-laki itu berkata, ‘Bergembiralah dengan orang yang akan menyusahkanmu, inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu.’

‘Siapakah kamu, wajahmu seperti membawa keburukan?’ Tanya orang kafir itu.  ‘Aku adalah perbuatan jahatmu,’ jawab laki-laki itu. Orang kafir itu pun berkata, ‘Wahai ROBB-ku, jangan ENGKAU segerakan hari Kiamat.’ (HR. Imam Ahmad IV/287 – HR. Imam Abu Dawud III/546 – HR. Imam an-Nasa’i  IV/78 – HR. Imam Ibnu Majah I/494 – lihat al-Musnad No. 18534 – XXX/5030 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir V/41-42-43-44-45-46-47-48, Pstk Ibnu Katsir).

Dalam riwayat lain, Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk untuk shalat, lalu beliau melihat orang-2 seolah-olah mereka banyak tertawa, maka beliau mengatakan, “Seandainya kalian banyak mengingat penghancur kelezatan, niscaya itu telah menyibukkan kalian sehingga lupa terhadap apa yang aku lihat saat ini. Oleh karena itu, perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yakni kematian, karena tidaklah datang satu hari pun pada kubur melainkan ia mengatakan: ‘Aku adalah rumah sunyi. Aku adalah rumah seorang diri. Aku adalah rumah yang sunyi. Aku adalah rumah tanah. Aku adalah rumah belatung.” Ketika seorang hamba mukmin dikuburkan, maka kubur mengatakan kepadanya, “Selamat datang! Sungguh kamu adalah orang yang paling aku cintai diantara orang yang berada di permukaanku. Jika kamu telah kembali kepadaku, maka kamu akan melihat apa yang aku perbuat untukmu. “Maka diluaskanlah untuknya sepanjang mata memandang dan pintu Surga dibukakan untuknya. Sementara jika hamba pendurhaka atau kafir dikuburkan, maka kubur mengatakan kepadanya, “Tidak ada ucapan selamat datang. Sungguh kamu adalah orang yang paling aku benci dari antara orang-2 yang berjalan di permukaanku. Jika aku telah berpaling darimu hari ini, kamu kembali kepadaku, lalu engkau akan melihat apa yang aku lakukan terhadapmu.”  Maka ia menghimpitnya hingga bertemu dengannya dan tulang rusuknya berantakan.”  (HR.at-Tirmidzi).

Ada pepatah ataupun pribahasa yang mengatakan, “di mana pun bumi dipijak, di situ pun langit di junjung” pepatah ataupun pribahasa ini mempunyai arti kurang lebih, “dimana pun kita berada, hendaknya kita menghormati masyarakatnya, tradisi dan bahasanya.” Kalau boleh saya kiaskan sedikit arti pepatah ini : “dimana pun kita berada, maka beramal shalih-lah semampu kita, karena alam sekitar kita menyaksikan.”

Hidup manusia ini berpacu antara amal shalih dengan waktu kematian. Oleh karena itu, dimasa hidup kita di dunia yang singkat dan fana ini banyak2lah beramal shalih di mana pun kita berada, sebelum kematian menjemput dan kalau pun kematian menjemput, semoga ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala wafatkan dalam keadaan khusnul khotimah dan……………langit – bumi pun menangisi kita……………Aamiin.


Mahasuci ENGKAU, ya ALLAH, aku memuji-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selainENGKAU, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-MU.

Bertakwalah kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala di mana pun kita berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.