Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Dahulu syaitan2 itu memiliki tempat2 berdiam di langit. Mereka mendengarkan Wahyu. Dan ketika itu bintang2 tidak mengejar mereka, dan syaitan2 tidak dilempari. Ketika mereka telah mendengarkan Wahyu, mereka turun ke bumi dan menambahkan kalimat yang mampu mereka dengar itu dengan tambahan kalimat yang lain dari diri mereka.

Adapun setelah Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam diutus, maka ketika syaitan2 ingin mencapai tempat berdiamnya, suluh api pun mendatanginya dan tidak meleset darinya sehingga membakarnya. Syaitan2 itu lalu mengadu kepada iblis-(semoga ALLAH melaknatnya), iblis berkata, ‘Ini disebabkan adanya perkara yang baru.’ Lalu iblis mengutus tentaranya (para syaitan), dan mereka mendapati Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam beserta para Sahabatnya berdiri sedang membaca Al Quran di dalam shalat di antara dua gunung pohon kurma, maksudnya dua batang pohon kurma (ini dikatakan oleh Waki’).

Selanjutnya Ibnu Abbas radhiyallallaahu ‘anhu berkata, “Kemudian para tentara syaitan kembali kepada iblis untuk mengabarkan hal tersebut dan iblis pun berkata, ‘Inilah dia perkara yang baru itu’, maksudnya: dengan kejadian ini (dengan diutusnya seorang Rosul), mereka pun tahu bahwa inilah sebab yang karenanya langit dijaga dengan ketat. Maka sebagian dari jin itu ada yang beriman, dan sebagian lainnya tetap dalam kesesatan.” (Shahih Tafsir Ibnu Katsir VII/ 581-582 – Ath-Thabari XXI/12).

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Ta’ala, senada dengan keterangan di atas, mari kita perhatikan firman ALLAH berikut ini :

Jin itu berkata : ‘dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api (8)‘. Dan sesungguhnya kami (para jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya) (9). Dan sesungguhnya kami (para jin) tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukkan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah ROBB mereka menghendaki kebaikan bagi mereka (10).“. (Al-Quran, surat Al-Jinn (72), ayat 8 – 10).

Melalui ayat yang mulia di atas, ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala mengabarkan tentang keadaan jin setelah ALLAH mengutus Rosul-NYA, Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan setelah Al-Qur’an diturunkan kepadanya. Di antara penjagaan-NYA terhadap Al-Qur’an adalah ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala menjadikan langit penuh dengan para penjaga yang kuat. Segala penjurunya terjaga, dan syaitan2 diusir dari tempat2nya semula, di mana sebelumnya mereka biasa menempati ketika mencuri dengar berita dari langit. Tujuannya adalah agar syaitan2 itu tidak mencuri sebagian dari Al Qur’an.

Seandainya mereka dapat mencuri sebagian dari Al Qur’an, maka syaitan2 itu akan menyampaikannya kepada para dukun, sehingga akan terjadi kerancuan, tidak diketahui siapa yang benar. Penjagaan ini termasuk kasih sayang ALLAH kepada makhluk-NYA, dan merupakan rahmat-NYA kepada hamba2-NYA, di samping sebagai penjagaan-NYA terhadap kitab-NYA yang mulia. Sehingga setelah Rosululloh diutus, maka barangsiapa berusaha mencuri dengar berita2 di langit, dia akan berhadapan dengan panah2 api yang siap menghujaninya dengan tepat, tidak meleset, sehingga ia akan hancur binasa. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir IX/316-317-318).

Begitu kuatnya penjagaan di langit yang berlapis-lapis, sehingga para syaitan tidak sampai kepada al mala ul a’laa, yaitu langit dengan para Malaikat yang ada di dalamnya, namun para syaitan mencoba mencuri dengar percakapan para Malaikat di Langit dunia, yang kadang sebelum mencuri tersambar panah api/ suluh api yang menyala dan kadang sudah sempat mencuri dan menyampaikan kepada syaitan yang di bawahnya, baru kemudian tersambar dan terbakar. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir VII/580-581).

Kaum Muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, tidak satu pun makhluk-NYA yang dapat mengetahui hal2 yang ghaib atau apa pun yang akan terjadi di dunia, hanya ALLAH  yang mengetahui semua itu, mari kita perhatikan firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berikut ini :

DIA adalah ALLAH Yang Maha Mengetahui yang ghaib, maka DIA tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu (26). Kecuali kepada Rosul yang diridhoi-NYA, maka sesungguhnya DIA mengadakan penjaga2 Malaikat di muka bumi dan dibelakangnya (27).” (Al-Qur’an, suarat Al-Jinn (72), ayat 26-27).

Melalui ayat yang mulia di atas ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala mengabarkan bahwa DIA Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, tidak ada seorang pun dari makhluk-NYA yang mengetahui sesuatu dari ilmu-NYA, selain apa yang DIA tunjukkan kepada Rosul yang diridho’i-NYA dan ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala mengkhususkan Nabi dengan penjagaan Malaikat terhadapnya atas perintah ALLAH dan menuntun beliau dalam menunaikan Wahyu bersamanya. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir IX/ 331-332).

Ayat di atas senada dengan firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berikut ini :

Dan mereka tidak mengetahui apa2 dari ilmu ALLAH melainkan apa yang dikehendaki-NYA.” (Al-Qur’an, suarat Al-Baqarah (2), ayat 255).

Melalui ayat yang mulia ini ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala memberitahukan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui ilmu ALLAH, meskipun sedikit, kecuali yang diajarkan dan diberitahukan oleh ALLAH kepadanya. Manusia tidak akan mengetahui pengetahuan tentang DZAT dan sifat ALLAH Ta’ala sedikit pun, kecuali apa yang telah diberitahukan ALLAH kepadanya.

Dari Aisyah radhiyallaahu ‘anha ia berkata, ‘Aku pernah bercerita kepada Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa para dukun berkata begini dan begitu. Kami lihat kenyataannya memang benar.‘ Kemudian Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, bersabda : “Kata2 yang benar itu tertangkap oleh sebangsa jin, lalu dibisikkannya ke telinga dukun dan ditambah-tambah dengan seratus dusta.” (HR. Imam Muslim IV/ No. 2085, hal 155).

Dari Shafiyah radhiyallaahu ‘anha, dari sebagian para isteri Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, dari Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Siapa yang mendatangi dukun, lalu dia menanyakan sesuatu kepada dukun itu, maka tidak diterima ALLAH shalatnya selama 40 malam.” (HR. Imam Muslim IV/ No. 2088, hal 157).

Kaum Muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, setelah kita baca dan renungkan dari ayat2 suci Al-Quran, Hadits2 yang shahih (As-Sunnah) di atas, kemudian perkataan2 para Sahabat yang pernah hidup bersama Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam juga perkataan para ulama2 terdahulu (Salafus Shalih), ternyata dibalik penciptaan bintang2 di alam jagad raya ini, terkandung hikmah yang begitu sangat luasnya dan ALLAH-lah Yang Maha Mengetahui yang ghaib, maka DIA tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rosul yang diridhoi-NYA, oleh karena itu serahkanlah segala sesuatu (tawakkal) kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala.

Kita diajarkan oleh ALLAH dan Rosulu-NYA untuk selalu bertawakkal kepada-NYA, mari kita perhatikan do’a berikut ini :

حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Cukuplah ALLAH sebagai tempatku bergantung, tidak ada ilah yang berhak di-ibadahi dengan benar selain DIA. Hanya kepada-NYA aku bertawakkal. Dan DIA-lah ROBB yang memiliki  ‘Arasy yang Agung” (Al Quran, surat At-Taubah (9), ayat 129).

ALLAH  Subhaanahu Wa Ta’ala Maha Mengetahui hamba-NYA yang lemah, sebagai manusia pasti banyak melakukan kesalahan dan dosa, maka banyak2lah bertaubat dan mohon ampun kepada-NYA, bila diberi kenikmatan banyak-2lah bersyukur kepada-NYA dan bila diuji maka bertawakkalah kepada-NYA dengan ikhlas dan sabar. Akhir kata, sering2lah berdo’a dengan doa seperti yang diajarkan Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam berikut ini :

 رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُور 

Ya Robb-ku, ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya ENGKAU Maha Penerima Taubat lagi Maha Pengampun” (HR. Sunan Abu Dawud No. 1516 – HR. Sunan at-Tirmidzi No. 3434 – HR. Sunan Ibnu Majah No. 3814).

اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya ALLAH hanya rahmatMu aku berharap mendapatkannya. karena itu, jangan ENGKAU biarkan diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dariMu). Perbaikilah seluruh urusanku, tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain ENGKAU.” (HR. Sunan Abu Dawud No. 5090 dan HR. Imam Ahmad V/42).

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، الْمَنَّانُ، يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

Ya ALLAH, Aku memohon kepada-Mu. Sesungguhnya bagi-Mu segala pujian, tidak ada ilah (sesembahan yang berhak disembah) kecuali ENGKAU Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Mu, Maha Pemberi nikmat, Pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya. Wahai ROBB Yang Maha Agung dan Maha Pemurah, wahai ROBB Yang Hidup, wahai ROBB yang mengurusi segala sesuatu, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar dimasukkan ke Surga dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa Neraka.” (HR.Sunan Abu Dawud No. 1495 – HR.Sunan an-Nasa’i III/52 – HR. Sunan Ibnu Majah No. 3858, dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu).


Mahasuci ENGKAU, ya ALLAH, aku memuji-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selainENGKAU, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-MU.

Bertakwalah kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala di mana pun kita berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.