Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, pernahkah kita perhatikan apabila malam telah tiba dimana kita berada pada posisi di alam terbuka, kemudian kita tengok ke atas nun jauh yang tinggi di atas sana dimana saat itu nampak langit bersih tidak tertutup awan, apakah yang nampak oleh kita saat itu? Yang jelas kita akan melihat rembulan dengan cahaya yang menerangi bumi dan bertaburannya bintang-bintang yang berkelap-kelip seakan-akan menerangi langit, ……..”SUBHAANALLAH” amat indah ALLAH Ta’ala ciptakan susunan benda2 di angkasa ini.

Kemudian pada malam yang lain, mungkin diantara kita pernah mengalami dimana ketika kita melihat ke atas, kadang kita dapat menyaksikan sekelebatan cahaya yang bergerak cepat dan cahaya itu segera hilang ditelan kegelapan malam dan kejadian ini sangat singkat, bahkan hanya dalam hitungan detik saja. Ada pendapat yang menamakan kejadian tersebut di atas adalah berpindahnya bintang dari satu posisi ke posisi lain, ada yang mengatakan ini bintang jatuh dan tidak sempat menyentuh bumi karena ada lapisan bumi yang melindungi, ada juga yang mengatakan ini meteor dan lain sebagainya, Wallahu a’lam.

Mari kita perhatikan firman ALLAH Subhaanallahu Wa Ta’ala berikut ini :

……., sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata : “Apakah yang telah difirmankan oleh ROBB-mu?” Mereka menjawab : “Perkataan yang benar”, dan DIA-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Al-Quran, surat Saba’ (34), ayat 23).

Melalui ayat yang mulia ini, ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala memberitahukan bahwa ini merupakan sebuah maqam/kedudukan yang tinggi dalam menggambarkan keagungan ALLAH, yaitu bahwa apabila ALLAH berfirman dengan Wahyu-NYA (berita, takdir, kejadian), kemudian penghuni langit mendengarkan firman-NYA, niscaya mereka gemetar ketakutan, hingga mereka seperti mau pingsan. Penafsiran ini dikemukakan oleh Ibnu Mas’ud, radhiyallaahu ‘anhu, Masruq dan para ulama terdahulu lainnya.

Kemudian setelah mereka sadar (dikosongkan hati mereka dari rasa takut), mereka bertanya kepada Malaikat yang tidak pingsan, ‘Apa yang telah difirmankan oleh ROBB-mu?’, maka Malaikat yang tidak pingsan menjawab : ‘Perkataan yang benar’. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir VII/ 420).

Kemudian kita bertanya, lalu apa hubungannya antara sekelebatan cahaya yang cepat menghilang ditelan gelapnya malam dengan ayat di atas ? Mari kita perhatikan Hadits berikut ini :

Dari Abudullah bin Abbas radhiyallaahu ‘Anhu, ia berkata, ‘Ada seorang Sahabat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dari kalangan Anshar bercerita kepadaku, bahwa pada suatu malam ketika mereka sedang duduk mengaji dengan Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, tiba2 mereka melihat bintang jatuh (meteor) yang bersinar. Maka bertanya Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada mereka, “Apa yang kalian baca pada masa jahiliyah apabila melihat bintang jatuh seperti ini?” Jawab mereka, ‘ALLAH dan Rosul-NYA sesungguhnya lebih mengetahui hal ini, lalu kami mengatakan : ‘Malam ini lahir seorang besar dan meninggal seorang besar pula.‘ Maka bersabda Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, “Sesungguhnya bintang (meteor) itu tidak jatuh karena meninggalnya seseorang dan tidak pula karena lahirnya seseorang. Tetapi ROBB kita, yang nama-NYA penuh berkah dan Maha Tinggi, apabila DIA memutuskan suatu urusan, maka bertasbihlah Malaikat pemikul ‘Arasy, kemudian bertasbih pula penduduk langit seperti mereka, sehingga tasbih mereka terdengar pula oleh penduduk langit dunia ini.

Kemudian berkata Malaikat2 yang dekat pemikul ‘Arasy kepada Malaikat pemikul ‘Arasy, ‘Apa yang telah difirmankan oleh ROBB-mu? Lalu mereka ceritakan apa yang telah difirmankan-NYA. Maka kabar-mengabarkanlah penduduk langit sesama mereka, sehingga berita itu sampai pula kepada penduduk langit dunia ini. Berita itu tertangkap oleh bangsa jin, lalu dibisikkannya kepada pemimpin2 mereka, tetapi mereka dilempar bola api karenanya. Maka apa yang disampaikannya menurut berita yang sebenarnya, itu benar. Tetapi biasanya mereka para jin berbohong dan mereka tambah2.’” (HR. Imam Muslim IV/No. 2087, hal. 156).

Jadi cahaya yang cepat menghilang adalah bintang/ bola api yang dilemparkan kepada bangsa jin yang mencuri pendengaran dari percakapan para Malaikat di langit dunia.

Sebagian ulama terdahulu menjelaskan bahwa ketika mendengar Wahyu/berita/kejadian, para Malaikat seperti mau pingsan, gemetar, ketakutan dan setelah sadar kembali, mereka bertanya kepada sebagian yang lain : ‘Apa yang telah difirmankan oleh ROBB kalian?‘ Maka para Malaikat pembawa Arasy’ menyampaikan kepada para Malaikat yang berada dibawahnya, kemudian disampaikan lagi kepada para Malaikat yang berada dibawahnya, begitu seterusnya, hingga sampailah kabar tersebut kepada para Malaikat penghuni langit pertama (langit dunia). Percakapan para Malaikat yang ada di langit dunia inilah yang sering dicuri oleh para syaitan yang terkutuk. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir VII/ 420-421).

Bintang-bintang di langit, baik yang tampaknya berjalan maupun yang diam semuanya menerangi penduduk bumi mempunyai hikmah, mari kita perhatikan juga firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berikut ini :

Sesungguhnya KAMI telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan KAMI jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan KAMI sediakan bagi mereka siksa Neraka yang menyala-nyala.” (Al-Quran, surat Al-Mulk (67), ayat 5).

Melalui ayat yang mulia ini ALLAH Subhaahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa  di angkasa jagad raya ini, ada planet2 yang ditempatkan di sana, baik planet yang bergerak maupun planet2 yang kesannya menetap dan yang dijadikan alat pelempar syaitan bukanlah planet2 itu, akan tetapi yang dilemparkan itu adalah suluh2 api yang menyala atau bola api yang berada disekitar bintang itu, yang mana bola api itu bersumber dari bintang2 tersebut. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir IX/202-203). Wallahu a’lam.

Bahkan pada riwayat lain, Qatadah mengatakan, “Sesungguhnya ALLAH menciptakan bintang2 dengan tiga karakter, yaitu : sebagai perhiasan langit, pelontar syaitan, dan petunjuk jalan. Siapapun yang menginterpretasikannya kepada selain itu, maka itu merupakan pendapatnya sendiri dan telah menyalahi serta menyia-nyiakan kapasitas sebagai manusia, selain itu ia telah membebani dirinya dengan sesuatu yang tidak ia ketahui.” (Diriwatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim – Ath-Thabari XXIII/508  – Shahih Tafsir Ibnu Katsir IX/203).

Perhatikan firman ALLAH Subhaahu Wa Ta’ala berikut ini :

Dan sesungguhnya KAMI telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan KAMI telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandangnya (16), dan KAMI  menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk (17), kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari Malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang cemerlang (18).” (Al-Quran, surat Al-Hijr (15), ayat 16-18).

ALLAH Subhaahu Wa Ta’ala melalui ayat yang mulia ini menyebutkan bagaimana DIA menciptakan langit dengan ketinggiannya dan bintang2 serta planet2 yang menghiasi alam jagad raya ini dan bagi orang2 yang mau merenungi dan memikirkan keajaiban2 dan tanda2 yang nyata, pasti akan terpana karenanya. Penafsiran Mujahid dan Qatadah kata al-Buruuj pada ayat di atas adalah “gugusan bintang2”. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir V/94).

Sedangkan Athiyyah al-Aufi berkata yang dimaksud al-Buruuj pada ayat di atas adalah “menara2 penjaga”. Lalu ALLAH Ta’ala menjadikan batu2 meteor sebagai penjaga menara2 itu agar syaitan2 tidak dapat mendengar pembicaraan penduduk langit. Setiap syaitan yang mencoba memasang telinganya, akan dilempar dengan meteor yang membinasakannya. Namun terkadang sebelum dihantam oleh meteor, syaitan yang telah menyadap pembicaraan dari langit telah sempat menyampaikan pembicaraan itu kepada syaitan yang ada di bawahnya, sehingga syaitan yang di bawah inilah yang menyampaikan pembicaaran itu kepada pemujanya seperti dukun dlsb, sebagaimana yang ditegaskan dalam sebuah hadits shahih. (Al-Baghawi III/45 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir V/95).

Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat di atas (Al-Quran, surat Al-Hijr (15), ayat 16-18)  ini serupa dengan surat Al-Furqon (25), ayat 61 :

Maha Suci ALLAH yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan DIA menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.

Mengenai penafsiran  Al-Quran, surat Al-Hijr (15), ayat 16-18  di atas, Imam Bukhori meriwayatkan dalam shahihnya, dari Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu, ia mengatakan bahwa, Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Apabila ALLAH telah memutuskan sesuatu di langit, maka para Malaikat pun mengepakkan sayap-sayapnya bagaikan sebuah rantai yang dihempaskan di atas batu besar yang halus, pertanda mereka tunduk dibawah keputusan itu. Maka apabila telah dihilangkan ketakutan itu dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh ROBB-mu?’ Mereka menjawab : ‘Perkataan yang benar, dan DIA-lah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.’ Lalu para syaitan durhaka mencuri percakapan para Malaikat dengan cara menyusun barisan ke atas/ bertumpuk-tumpuk di antara mereka ke atas hingga hanya sampai di sekitar langit dunia untuk mencuri percakapan para Malaikat. Mereka tidak sanggup menembus langit dunia (langit pertama) hingga langit seterusnya.Sufyan bin Uyainah (salah seorang perawi) memperagakan antara jari-2nya. Yang paling atas mendengarkan sesuatu lalu disampaikan kepada yang ada dibawahnya, kemudian disampaikan kepada yang ada dibawahnya lagi dan seterusnya hingga sampai kepada dukun, dlsb.

Bisa jadi sebelum sampai berita itu ke bawah, syaitan tersebut terkena suluh api yang menyala. Bisa jadi syaitan itu telah menyampaikan berita tersebut, lalu setelah itu terkena suluh api yang menyala. Syaitan menyertakan bersama berita tersebut seratus kali  kebohongan kepada dukun atau tukang sihir. Ada yang mengatakan di antara manusia ; ‘Bukankah dukun telah mengatakan kepada kita bahwa di hari anu dan anu akan terjadi anu dan anu?’ Maka si dukun dibenarkan dengan kabar yang didengar syaitan dari langit.” (HR. Imam Bukhori No. 4701 – HR. Sunan Abi Dawud IV/288 – HR. Sunan Ibnu Majah I/69 – HR. Sunan at-Tirmidzi No. 3223 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir VII/ 420-421-422).

Bahkan pada Al-Quran, surat Ash-Shaaffaat (37), ayat 6-10 ALLAH Subhaanallahu Wa Ta’ala berfirman :

Sesungguhnya KAMI telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang (6); dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka (7), syaitan-syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para Malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru (8). Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal (9), akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaran); maka is dikejar oleh suluh api yang cemerlang (10).

Melalui ayat yang mulia ini, ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala memberitahukan bahwa DIA menghias langit dunia (Langit pertama) bagi penduduk bumi yang melihatnya dengan hiasan berupa bintang-bintang. Dan ALLAH telah menjaganya/ memeliharanya dari syaitan yang sangat durhaka dan sombong itu jika hendak mencuri pendengaran, maka mereka akan dikejar oleh suluh api yang menyala, yakni semburan api. Sehingga para syaitan tidak sampai kepada al mala ul a’laa, yaitu langit dengan para Malaikat yang ada di dalamnya, ketika mereka (para Malaikat) berbicara tentang sesuatu yang diwahyukan oleh ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, mencakup syari’at, takdir-NYA dan kejadian2 lainnya. Maka para syaitan yang mencuri/ menguping percakapan para Malaikat di Langit dunia akan dilempari suluh api yang menyala (semburan api) dari segala penjuru langit yang mereka tuju sehingga mereka terusir, tertolak dan tertahan untuk bisa sampai ke langit dan di akhirat para syaitan mendapatkan siksa yang abadi, menyakitkan lagi terus-menerus. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir VII/580-581).

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan dan akan dilanjutkan pada hari Jum’at mendatang, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.