Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Judul di atas perlu untuk direnungkan, mengapa…? karena ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa pada usia empat puluh tahun ini, usia penuh teka-teki dan penuh misteri. Namun bagi kaum muslimin yang akan mendekati usia 40 tahun jadikanlah sebagai persiapan langkah kehidupan berikutnya, bahkan bagi kaum muslimin yang usianya  sudah mencapai di atas 40 tahun sudah selayaknya untuk lebih merenung dan mengoreksi diri, karena usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar2 meninggalkan masa mudanya dan beralih ke masa dewasa yang disebut masa kuhula atau disebut juga masa setengah baya.

Dan dalam usia inilah manusia telah memiliki kematangan dalam cara berpikir dan bertindak, maka diharapkan bahwa jika seseorang sudah mencapai usia 40 tahun keatas cara berpikir dan tindakannya sudah dengan matang dan penuh perhitungan. Bahkan seseorang yang sudah mencapai usia 40 tahun berarti akalnya sudah sampai pada tingkat kematangan berfikir serta sudah mencapai kesempurnaan kedewasaan dan budi pekerti. Sehingga secara umum, tidak akan berubah kondisi seseorang yang sudah mencapai usia 40 tahun.

Al-Tsa’labi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ALLAH menyebutkan usia 40 tahun karena ini sebagai batasan bagi manusia dalam keberhasilan maupun keselamatannya.

Pada usia keistimewaan 40 tahun inilah, ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala telah menyebutkan usia 40 tahun dengan tegas di dalam al-Qur’an dan menjadi perhatian khusus bagi umat muslim, oleh karena itu bila kita perhatikan dari kehidupan para ulama terdahulu (Salafush Shalih) saat memasuki usia ini, mereka berusaha mencapai kebaikan amal mereka dan menjadikannya hari2 terbaik dalam hidupnya.

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  berfirman :

Sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdo’a : “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat ENGKAU yang telah ENGKAU berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang ENGKAU ridhoi; berilah kebaikan kepadaku dengan memberikan kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada ENGKAU dan sesungguhnya aku termasuk orang2 yang berserah diri.”” (Al-Qur’an, Surat Al-Ahqaf, ayat 15).

Menurut para ahli ilmu tafsir, usia 40 tahun disebut tersendiri pada ayat di atas ini, karena pada usia inilah manusia mencapai puncak kehidupan yang baik, baik dari segi fisik, pikiran, perasaan, karya, maupun dari segi agamanya. Orang yang berusia 40 tahun benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan beralih ke usia dewasa. Apa yang dialami pada usia 40 tahun sifatnya stabil, mantap dan kokoh dalam pendirian dan perilakunya. Pendirian dan perilaku ini akan menjadi ukuran manusia pada usia-usia berikutnya.

Oleh karena itu tidaklah heran jika para Nabi diutus untuk berda’wah pada usia 40 tahun. Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam diutus menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun. Begitu juga dengan nabi-nabi yang lain, meskipun ada pengecualian sebagian dari mereka.

Al-Qur’an  surat Al-Ahqaf ayat 15 di atas mengisyaratkan bagi kita bahwa, saat sudah menginjak usia 40 tahun hendaknya seseorang mulai meningkatkan rasa syukurnya kepada ALLAH juga kepada orang tuanya. Ia memohon kepada-NYA, agar diberi hidayah, taufik, dibantu, dan dikuatkan agar bisa menegakkan rasa syukur ini. Karena segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah dengan kehendak dan izin-NYA, sehingga ia meminta hal itu kepada-NYA.

Ini sebagaimana doa yang diajarkan Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam  kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘Anhu, “Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, Janganlah engkau tinggalkan untuk membaca sesudah shalat :

 اللَّهُمَّ  أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِك وَشُكْرِك  وَحُسْنِ عِبَادَتِك

Ya ALLAH, bantulah aku untuk berdzikir, bersyukur, dan memperbaiki ibadah kepada-MU.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Nasai dengan sanad yang kuat).

Karena sesungguhnya seorang hamba pasti sangat butuh kepada pertolongan ROBB-nya  dalam menjalankan perintah, menjauhi larangan, dan sabar atas ketetapan-ketetapan takdir-NYA. (Dinukil dari Subulus Salam, Imam al-Shan’ani).

Sebenarnya bersyukur itu sepanjang umur. Dan dikhususkan pada usia 40 tahun ini karena pada saat usia ini seseorang benar-benar harus sudah mengetahui segala nikmat ALLAH yang ada padanya dan pada orang tuanya, lalu ia mensyukurinya.

Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya berkata, “ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala menyebutkan orang yang sudah mencapai usia 40 tahun, maka sesungguhnya telah tiba baginya untuk mengetahui nikmat ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  yang ada padanya dan kepada kedua orang tuanya, kemudian mensyukurinya.

Sesungguhnya hakikat syukur itu mencakup tiga komponen; hati, lisan, dan anggota badan. Hati dengan mengakui bahwa semua nikmat itu berasal dari pemberian ALLAH. Sedangkan lisan dengan menyebut-nyebut dan menyandarkan nikmat itu kepada-NYA serta memuji-NYA. Sementara anggota badan adalah dengan menggunakan nikmat itu untuk taat kepada-NYA, yakni untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-NYA. Oleh karena itu pada ayat di atas disebutkan, “Dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang ENGKAU ridhoi.

Janganlah melupakan kedua orang tua

Perhatikan Surat Al-Ahqaf, ayat 15 secara lengkap :

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang tua ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdo’a : “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat ENGKAU yang telah ENGKAU berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang ENGKAU ridhoi; berilah kebaikan kepadaku dengan memberikan kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada ENGKAU dan sesungguhnya aku termasuk orang2 yang berserah diri.”” (Al-Qur’an, Surat Al-Ahqaf, ayat 15).

Perintah berbuat kebaikan kepada orang tua dalam ayat tersebut di atas mencakup segala bentuk seperti memenuhi nafkah orang tua, memenuhi kebutuhannya, mentaati perintahnya yang ma’ruf, menghidarkan dari bahaya, mengobatkannya jika sakit, menghiburnya jika sedih, dan memohonkan ampun dan doa untuk keduanya, serta yang lainnya.

Berbuat kebaikan kepada kedua orang tua itu bagian dari ibadah kepada ALLAH. Sehingga tidak boleh dalam berbuat kebaikan tersebut melanggar nilai-nilai ketauhidan, walaupun hak kedua orang tua itu besar terhadap anak, namun seorang anak tidak boleh mentaati kedua orang tuanya dalam maksiat kepada ALLAH dan nikmat yang kedua orang tua peroleh itu berasal dari ALLAH juga.

Dan didalam mentauhidkan ALLAH Ta’ala, kita harus dengan ikhlash ibadah kepada-NYA, dan istiqamah di atasnya, namun kenyataannya saat ALLAH perintahkan untuk mentauhidkan-NYA ada di antara hamba-NYA yang menyambut dan ada pula yang menentang-NYA. Sama halnya dengan perintah berbakti kepada orang tua, ada manusia yang berbakti kepada orang tuanya dan ada pula yang bahkan mendurhakai kedua orang tuanya.

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, saat seseorang memasuki usia 40 tahun, maka ia memiliki tanggungjawab di tengah keluarga dan masyarakat yang lebih besar. Anak-anak memerlukan biaya yang lebih untuk pendidikan dan lainnya. Sementara orang tuanya, pastinya sudah renta dan sangat memerlukan bantuan dari anak-anaknya.

Di sinilah sering seseorang melupakan orang tuanya karena konsentrasinya yang lebih fokus terhadap keluarga dan anak-anaknya. Padahal seharusnya dengan bertambahnya usia semakin membuat ia sadar akan jasa-jasa orang tuanya kepada dirinya.

Sehingga disebutkan dalam hadits, “Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya, salah seorang atau kedua-duanya, tapi tidak bisa masuk surga (dengan itu).” Dalam riwayat lain, “Tapi keduanya tidak bisa memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Imam Ahmad dan lainnya).

Jangan Lupakan Keturunan

Sesudah seorang muslim diperintah harus berbuat baik kepada kedua orang tuanya dan mengerjakan amal shalih untuk dirinya, janganlah lupa terhadap anak keturunannya. Ia juga wajib memperhatikan pendidikan dan pengarahan mereka, agar menjadi orang yang taat kepada ALLAH Ta’ala. Karena mereka (anak2) adalah amanat yang harus diarahkan untuk taat kepada ROBB-nya dan tanggung jawab kedua orang tuanya.

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala pun sudah menjelaskan pada firman-NYA pada surat At-Tahrim (66), ayat 6 berikut ini :

Hai orang2 yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat2 yang kasar, keras dan tidak mendurhakai ALLAH terhadap apa yang diperintahkan-NYA kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Dan sesungguhnya di antara balasan baik dari amal shalih seseorang adalah diperbaikinya keturunannya. Perilaku yang baik kedua orang tuanya akan berdampak baik kepada perilaku anaknya. Ini juga menjadi pelajaran dan hal yang sangat penting, karena dalam melakukan pendidikan kepada anak haruslah orang tua memulai dari menshalihkan diri mereka sendiri dengan ilmu dan amal shalih dan ini akan menjadi suri tauladan bagi anak2nya, dan akan berdampak baik kepada anak2nya, yang semua ini merupakan balasan bagi kedua orang tuanya yang mempunyai keturunan anak2 yang shalih.

Syaikh al-Sa’di berkata dalam menafsirkan surat Al-Ahqaf ayat 15 di atas, “Sesungguhnya baiknya orang tua dengan ilmu dan amal termasuk sebab yang besar untuk baiknya anak-anak mereka.

Selain itu, berdoa sebagai bagian dari tawakkal kepada ALLAH dalam usaha tidak boleh dianggap ringan. Karena hati manusia itu berada di antara dua jari dari jemari ALLAH Ta’ala yang dapat dibolak-balikkan sesuai kehendak-NYA. Oleh karena itu, sering2lah berdoa kepada ALLAH Ta’ala agar dianugerahkan anak2 yang shalih.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, ada seorang lelaki yang mengadukan tentang anaknya kepada Thalhah bin Musharrif Radhiyallaahu ‘Anhu, maka Thalhah berkata kepadanya, “Minta tolonglah dalam masalah anakmu dengan ayat,

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Ya ROBB-ku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat ENGKAU yang telah ENGKAU berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang ENGKAU ridhoi; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada ENGKAU dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15).

Memperbaharui Taubat

Usia 40 tahun haruslah menjadi titik tolak dan pembaharuan taubat penyesalan seseorang atas dosa-dosa dan kufur nikmat selama hidupnya. Karena pada usia ini benar-benar telah merasakan banyaknya nikmat dan tidak sebandingnya rasa syukur terhadapNYA. Maka pengakuan dosa pasti akan mengalir dari orang yang mau merenungkan masa lampaunya, sehingga dari situ lahir penyesalan, tumbuh istighfar dan taubat kepada ALLAH Ta’ala.

Oleh sebab itu, disebutkan dalam doa di atas,

إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dan di dalamnya terdapat petunjuk bagi orang yang sudah berusia 40 tahun agar memperbaharui taubat dan inabah kepada ALLAH ‘Azza wa Jalla serta bertekad kuat atasnya.” Seseorang harus terus meningkatkan taubatnya saat usianya menginjak 40 tahun sampai ajal menjemputnya. Wallahu a’lam.

Salah satu keistimewaan usia 40 tahun kita bisa lihat dalam hadist Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam  yang diriwayatkan dari Imam Ahmad:

Seorang hamba muslim bila usianya mencapai empat puluh tahun, ALLAHakan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai enam puluh tahun, ALLAH akan memberikan anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepada-Nya. Bila usianya mencapai tujuh puluh tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika usianya mencapai delapan puluh tahun, ALLAH akan menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya. Dan bila usianya mencapai sembilan puluh tahun, ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosanya yang belakangan, ALLAH juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya, serta ALLAH akan mencatatnya sebagai “tawanan ALLAH” di bumi” (HR. Imam Ahmad).

Hadits ini menyebut usia 40 tahun paling awal, yang dimasudkan disini bahwa orang yang mencapai usia 40 tahun ia memiliki sifat istiqamah dalam pengabdiannya kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala. Dalam arti lain jika seseorang belum menyapai usia 40 tahun kemungkinan masih bisa diombang ambingkan oleh suasana dan keadaan dan masih belum mantap dalam pendirian dan perilakunya.

Seseorang yang sudah mencapai usia 40 tahun seperti waktu sudah masuk ashar, dimana teriknya matahari sudah berkurang, matahari sudah akan terbenam, ibarat bila  menjemur pakaian tidak akan kering, sudah senja dan sesaat lagi akan masuk waktu maghrib.

Sahabat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam  Qotadah radhiyallaahu ‘anhu, berkata, “Bila seseorang telah mencapai usia 40 tahun, maka hendaklah dia berhati-hati.” Maksudnyasaat saat harus waspada.

Bahkan, Abdullah bin Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, dalam suatu riwayat berkata, “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak unggul mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.

Nasihat yang diungkap oleh dua sahabat besar tersebut memberikan pengertian bahwa manusia harus mulai bersikap waspada dan hati-hati dalam bertidak jika usianya telah mencapai 40 tahun. Ia harus meningkatkan amal kebajikan dan membiasakannya agar amal itu terus meningkat.

Atas dasar ini, para sahabat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, ketika mereka sudah menyapai usia 40 tahun, mereka konsentrasi beribadah. Mereka mulai menghabiskan hari-harinya untuk ibadah. Kesibukan mencari dunia mereka kurangi dan beralih pada kegiatan yang bersifat agama dan ibadah,

Imam asy-Syafi’i tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan dengan memakai tongkat. Jika ditanya kenapa? Jawab beliau, “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi ALLAH, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya yang masih melekat dalam sangkar. Keadaanku sekarang seperti itu juga.

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallaahu ‘anhuma  pernah menceritakan hadits dari Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam  yang perlu dicamkan berkaitan dengan hal ini.

Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam memegang kedua pundakku dan bersabda, “Jadilah di dunia seakan-akan kamu orang asing (perantau) atau pengembara (musafir).” Abdullah bin Umar radhiyallaahu ‘anhuma  berkata, “Jika berada di waktu sore, jangan menanti waktu pagi. Jika berada di waktu pagi, jangan menanti waktu sore. Pergunakanlah masa sehatmu untuk bekal di masa sakitmu dan masa hidupmu untuk bekal di masa matimu.” (HR. Imam Bukhori).

Imam al-Syaukani rahimahullah berkata, “Para ahli tafsir berkata bahwa ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala tidak mengutus seorang Nabi kecuali jika telah mencapai umur 40 tahun.” (Tafsir Fathul Qadir V/18).

Dengan demikian, usia 40 tahun memiliki kekhususan tersendiri. Pada umumnya, usia 40 tahun adalah usia yang tidak dianggap biasa, tetapi memiliki nilai lebih dan khusus.

Dihikayatkan, al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi adalah seorang laki-laki yang shalih, cerdas, sabar, murah hati, berwibawa dan terhormat. Ia berkata, “manusia yang paling sempurna akal dan pikirannya adalah apabila telah mencapai usia 40 tahun. Itu adalah usia, di mana pada usia tersebut ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan pikiran manusia akan sangat jernih pada waktu sahur.” (Lihat al-Wafyat A’yan, Ibnu Khalkan II/245).

Disebutkan tentang biografi al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi, “Bahwa ketika mencapai usia 40 tahun ia berkonsentrasi untuk beribadah dan memutuskan diri dari hubungan dengan manusia untuk mendekatkan diri kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, dan ia berpaling dari semua urusan dunia dan umat manusia, seakan-akan ia tidak pernah kenal seorangpun dari mereka. Dan ia terus menyusun karya-karya tulisnya.

Ibrahim al-Nakhai rahimahullah berkata, “bahwa jika seseorang sudah mencapai usia 40 tahun dan berada pada suatu perangai tertentu, maka ia tidak akan pernah berubah hingga datang kematiannya.” (Lihat al-Thabaqat al-Kubra VI/277).

Mahasuci ENGKAU, ya ALLAH, aku memuji-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain ENGKAU, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-MU.

Bertakwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala di mana pun kita berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.