Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Seingat saya, pertama kali dan terakhir kali saya (pernah) merayakan Hari Valentine, hari (yang katanya) kasih sayang itu adalah saat saya masih sekitar kelas 2 SMP. Saat itu saya ingat sekali pernah membeli cokelat Silver Queen kecil (yang dulu harganya masih 3 ribu rupiah). Memang niatnya mau saya berikan kepada seorang wanita yang waktu itu pernah saya kagumi. Tetapi karena saya tidak berkesempatan bertemu dengannya, akhirnya cokelat itu saya makan sendiri. Hehehe.

Dan sekarang, saat saya semakin mengenal lebih dalam tentang Islam, saya tahu bahwa perayaan Hari Valentine tidak pernah sekalipun dicontohkan oleh Rasulullah ataupun bahkan para sahabat, atau ulama pengikut. Tetapi perayaan-perayaan tersebut ironisnya malah dilakukan oleh sebagian orang Islam saat ini.

Beberapa waktu yang lalu, akhirnya saya mencari sejarah tentang Hari Valentine tersebut. Dan saya terkejut ternyata sejarah tersebut sangat bertentangan jauh dari nilai-nilai islami. Malulah kita sebagai orang (yang mengaku) beragama Islam, tetapi malah melakukan tindakan yang jauh dari tindakan Islami.

Sejarah Awal Valentine

Sejarah awal Valentine bisa kita temukan banyak sekali bertebaran di Internet, dari beberapa banyak blog-blog yang menulisnya. Dan hampir sekitar 85% isi blog tersebut menceritakan sejarah yang sama.

Beberapa banyak orang percaya bahwa Valentine berasal dari perayaan bangsa Romawi sekitar 2000 tahun yang lalu. Perayaan tersebut bernama Lupercalia. Perayaan tersebut yang bernama Lupercalia dilakukan untuk menghormati Dewa Romawi Lupercus atau Dewa Pan.

Dewa Lupercus atau Dewa Pan

Dewa Lupercus atau Dewa Pan

Dewa Lupercus atau Dewa Pan adalah Dewa yang dikenal sebagai dewa padang rumput, dewa pada tempat-tempat liar, dewa di daerah pegunungan, dan juga dikenal sebagai dewa musik gembira.

Dewa Lupercus atau Dewa Pan mengingatkan kita bahwa hidup adalah suci, dan bahwa setiap saat adalah kesempatan untuk perayaan.

Bahkan, kata Panic dalam bahasa Inggris modern berasal dari nama Dewa Pan tersebut, karena Dewa Pan memerintah tempat liar di mana wisatawan akan sering mengalami ketakutan dan teror di perasaan yang tidak diketahui di sekitar mereka.


Dewa Lupercus 
atau Dewa Pan digambarkan berkepala kambing menunjukkan kemampuannya untuk menemukan kebahagiaan di semua medan. Dewa Pan juga keilahian seksualitas. Karena hubungannya dengan sisi primal dan liar alam, dia tanpa malu dalam mengekspresikan seksualitas sebagai bentuk perayaan, cinta, dan bahkan kontemplasi.

Dewa Lupercus atau Dewa Pan

Dewa Lupercus atau Dewa Pan

Saat itu, para Gembala di zaman Romawi percaya bahwa Dewa Pan melindungi tanaman mereka dan hewan mereka dari serangan binatang buas. Untuk ucapan terima kasih kepada Dewa Pan tersebut, para gembala tersebut mengadakan pesta untuk menghormatinya pada tanggal 15 Februari (tanggal Romawi). Peristiwa pesta tersebut dikenal dengan Lupercalia.

Pada saat itu tanggal Romawi berbeda dengan tanggal yang kita gunakan sekarang. Sehingga pada hari raya Lupercalia tersebut, pada Romawi juga merayakan pada awal musim semi (sekitar pertengahan Februari).

Hari sebelum hari raya Lupercalia tersebut dilaksanakan, semua wanita menaruh namanya pada sebuah guci. Dan setiap pria, mengambil nama perempuan tersebut dari guci. Jadi, wanita menaruh nama mereka, dan pada pria mengambil nama yang sudah ditaruh di guci. Semacam seperti arisan.

Gadis yang namanya terpilih oleh pria tersebut, akan menjadi pasangannya (melayani pria tersebut) selama hari raya tersebut (permainan) bahkan sampai perayaan Lupercalia tahun depan. Kadang-kadang, keduanya berjanji untuk menikah satu sama lain.

Karena inti dari perayaan Lupercalia adalah kesuburan bagi pada gembala, maka aktivitas Sex pun menjadi hidangan utamanya, maka dari itulah pada wanita dan pada pria berkumpul dengan cara tadi tersebut. Perayaan ini lebih identik dengan perayaan bersenang-senang.

Itulah fokus acara pada perayaan Lupercalia bagi rata-rata bangsa Romawi. Sebuah kesempatan yang popular dimana aturan dan etika sosial bisa diperlonggar, pria dan wanita tanpa malu-malu bercumbu dan berhubungan seks yang cukup kasar.

Ilustrasi Perayaan Lupercalia

Ilustrasi Perayaan Lupercalia

Transformasi Lupercalia Menjadi Valentine

Festival atau perayaan Luperalia berubah, semenjak Roma menjadi pusat ajaran Kristen. Gereja-gereja di Romawi menonak melakukan ajaran pagan tersebut. Tetapi bagaimanapun, upaya tersebut hanya berhasil sebagian saja. Rakyat tetap bersikeras merayakan Lupercalia, maka dari itulah diperlukan substitusi yang merupakan kombinasi antara ajaran Kristen dengan budaya pagan Lupercalia.

Bangsa tersebut memutuskan untuk mengubah nama perayaan tersebut menjadi Hari Saint Valentine. Itu untuk menghormati seorang pendeta Kristen bernama Valentine yang juga tinggal di Roma.

Dalam salah satu cerita yang sumbernya masih diragukan, Valentine dikisahkan mati karena melanggar hukum. Valentine hidup pada era Kaisar Claudius II. Saat itu Roma selalu terlibat peperangan untuk mempertahankan wilayah atau ekspansi kekuasaan. Tahun demi tahun berlalu, banyak pemuda yang diharuskan mengikuti wajib militer dan terlibat peperangan. Banyak warga Roma yang tidak ingin ikut berperang, suami tidak ingin meninggalkan keluarganya. Pemuda pun enggan jauh dari kekasih hatinya.

Melihat hal itu, Caludius II mengeluarkan moratorium yang menghapuskan seluruh pernikahan dan jalinan cinta harus putus saat itu juga. Kaisar tidak akan membiarkan salah satu prajuritnya menikah. Ia percaya bahwa pria lajang terlahir sebagai prajurit yang baik. Tetapi Valentine tidak setuju, Valentine sangat menentang kaisar. Saat sepasang muda-mudi mendatangi kuil untuk menikah, diam-diam Valentine mendatangi dan memberkati mereka, yang berarti sepasang kekasih itu secara resmi menikah dalam ajaran Kristen begitupun keyakinan mereka telah berganti. Ia membantu pria dan wanita muda menikah. Akibat pelanggaran tersebutlah, Kaisar menempatkan Valentine di penjara karena tidak menaati aturan tersebut, Valentine diseret dari tempatnya beribadat, meski banyak orang yang membela dan menginginkan dirinya dilepaskan, namun Kaisar Caludius II tetap keras hati. Dalam penjara bawah tanah, Valentine menderita hingga mati. Teman-temannya yang setia menguburkan jenazah Valentine di gereja St. Praxedes tanggal 14 Februari.

Belum selesai sampai di situ, Perayaan hari Valentine tetap berlangsung hingga beberapa abad, namun gereja tidak mampu sepenuhnya menghapus memori Lupercalia dari rakyat Roma.

Walaupun gereja telah memberikan dasar-dasar kisah Saint Valentine sebagai ganti ritual Lupercalia. Tetapi banyak dari gereja-gereja Protestan tidak mengenal nama Valentine tersebut sama sekali, dan sangat sedikit gereja Katolik yang merayakan atau meyakini riwayat Valentine dalam hari Valentine.

Lotre berbentuk undian wanita di dalam guci yang berasal dari tradisi kaum pagan tersebut tetap ada, dan kembali digunakan pada sekitar abad 15 ntuk memasang-masangkan para pemuda-pemudi.

Upaya gereja Katolik mengganti tradisi perayaan Lupercalia dengan Valentine sangat terburu-buru dan mengada-ngada demi mengejar Kristenisasi massal penduduk Roma. Hal ini terlihat dari tidak kuatnya sejarah dan identitas Valentine yang menjadi dasar “Hari Kasih Sayang” tersebut. Kisah-kisah Valentine lebih mirip legenda daripada fakta sejarah.

Pada Tahun 1969, Hari Valentine dihapuskan dari kalender oleh gereja-gereja dan dinyatakan sama sekali tidak memiliki asal muasal yang jelas. Sebab itu gereja melarang perayaan Valentine oleh ummat Kristiani. Walau demikian, larangan itu tidak ampuh dan hari Valentine masih saja diperingati oleh banyak orang di dunia.

Kesimpulan

Kedua sejarah yang kelam tersebut tidak bisa dilupakan begitu saja bagi para banyak orang, dan tetap menetap di pikiran mereka. Pesta Seks dan juga Kasih Sayang. Tidak heran maka perayaan Valentine saat ini telah dibalut oleh konsep nuditas dan juga seksualitas. Hari Kasih Sayang yang berbalut seks.

Kisah Valentine tersebut yang belum tentu benar adanya, dan juga itu sama sekali bukan perayaan umat Islam sedikitpun. Bahkan jika dilihat dari sejarah awal, perayaan Valentine berasal dari perayaan pesta seks. Yang semacam itu tidak pernah diajarkan dalam Islam.

Jika kita mengikutinya, maka sungguh kita orang-orang yang termasuk golongan tersebut. Sesuai dengan Sabda Rasulullah :

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Daud no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 1/676)

Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai kaum selain kami.” (HR. At-Tirmizi no. 2695)

Mari introspeksi diri kita, upayakanlah diri untuk segera meninggalkan ajaran-ajaran yang bukan merupakan ajaran Islam. Demi kebaikan kita bersama, demi meningkatkan kualitas diri. Demi mendapatkan Ridha ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


Referensi

Flanagan, A.K., dan Dieterichs, S. 2001. Valentine’s Day. Manhattan: Capstone.

http://www.livingaltars.com/pan/

http://forum.muslim-menjawab.com/2012/02/14/distorsi-sejarah-hari-valentine/

http://chirpstory.com/li/53197