Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Penyesalan adalah sesuatu yang bersifat irreversible[1], kita tidak pernah bisa mengembalikan apapun yang kita sesalkan, pun jika bisa, maka hal tersebut tidak pernah bisa kembali seperti semula (bentuk utuh).

Penyesalan di dunia memang seringkali terjadi bagi mereka yang sering lalai akan tanggung jawabnya, entah mungkin karena lupa atau mungkin disengaja. Namun demikian penyesalan tetaplah penyesalan, sebesar apapun penyesalan yang kita tunjukkan, keadaan yang sudah terjadi tidak bisa kita kembalikan. Waktu telah pergi dan penyesalan pun telah datang.

“Kelak… Penyesalan terbesar akan terjadi nanti… Di Akhirat. Sudahkah kita memiliki bekal yang cukup?”

Benar sekali, penyesalan terbesar kita nanti adalah di Alam Akhirat kelak. Saat dimana amal ibadah tidak bisa ditambah, saat dimana pintu pengampunan ditutup, dan ketika itu terjadi, penyesalan terbesar kita akan terjadi.

Bagi mereka yang selalu percaya kepada ALLAH Ta’ala dan juga telah melaksanakan segala perintah-Nya dengan baik dan benar, penyesalan mereka adalah karena mereka tidak bisa lebih baik dalam beribadah, jika waktu bisa diulang kembali, pastinya mereka ingin sekali beribadah dengan lebih giat lagi dan tidak ingin tergoda ilusi dunia yang fana ini. Tentu kita harus bisa mengambil banyak contoh dari kisah di atas, sebelum penyesalan terbesar kita nanti terjadi, dan ketika itu semuanya sudah terlambat.

Bagi mereka yang sering membangkang terhadap ALLAH Ta’ala dan juga selalu saja mengabaikan perintah-Nya dengan sangat entengnya, penyesalan mereka adalah karena mereka membangkang terhadap ALLAH Ta’ala, “kenapa dulu saya tidak melakukan segala perintah-Nya?“, “kenapa dulu saya lalai akan panggilan-Nya?“. Hal-hal seperti inilah yang akan mereka sesalkan. Semoga kita tidak termasuk tipe orang-orang yang seperti ini, yaitu orang yang membangkan perintah ALLAH Ta’ala.

Bisakah penyesalan tersebut dihindari? Jawabannya adalah tergantung. Maksudnya adalah tergantung dari berapa banyak bekal yang sudah kita siapkan untuk kembali ke kampung halaman kita kelak nanti di Akhirat. Jika sudah cukup, maka penyesalan tersebut bisa kita cegah dan kita termasuk orang-orang yang beruntung. Namun jika bekal yang kita sudah siapkan ternyata belum cukup, atau malah minus (karena sering membangkang terhadap ALLAH Ta’ala), maka bisa dipastikan kita termasuk orang yang merugi, dan mungkin saja kita akan mengalami sebuah penyesalan yang besar tersebut. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang seperti itu.

Mari introspeksi diri kita kembali, sudah benarkah cara hidup kita? sudah sesuaikah dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam? Jika memang belum sesuai dan masih jauh, sudah seberapa besarkah usaha kita untuk mendekatinya? Sudah berapa banyak perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu?

Ah… Sungguh kita harus banyak introspeksi diri dan memohon ampun kepada ALLAH Ta’ala, agar kelak kita selalu diberikan petunjuk oleh-Nya, seperti yang selalu kita baca di penghujung Surat Al-Fatihah ayat 6-7, yaitu “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


[1]. Irreversible, artinya adalah segala sesuatu hal yang tidak bisa kembali ke dalam bentuk dan keadaan semula. Contohnya: tumbuhan yang mengalami pertumbuhan tidak akan mungkin kembali ke bentuk semula (biji).