Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Sesungguhnya hakikat hidup ini adalah cobaan dan ujian. ALLAH ciptakan hidup dan mati untuk menguji manusia siapa yang paling baik amalnya dan merupakan suatu keharusan bahwa seorang mukmin akan diujiberkaitan dengan hartanya, dirinya, anak-anak serta keluarganya dan dia akan diuji sesuai kadar agamanya. Jika ia kuat dalam agamanya, maka ia akan diberikan ujian yang berat pula.

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : ‘ Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi (2) Dan sesunggunya KAMI  telah menguji orang2 yang sebelum mereka, maka sesungguhnya ALLAH mengetahui orang2 yang benar dan sesungguhnya DIA mengetahui orang2 yang dusta (3).” (Al-Qur’an, surat Al – Ankabuut (29), ayat 2-3).

Ayat yang mulia diatas menjelaskan bahwa ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala  akan senantiasa memberikan ujian kepada hamba2-NYA yang beriman sesuai dengan kadar keimanan yang selama ini ia miliki. Hal ini sebagaimana yang terdapat di dalam sebuah hadits shahih sbb :  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang2 yang shalih, kemudian disusul oleh orang2 yang mulia, lalu oleh orang2 yang mulia berikutnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar pengamalan agamanya. Bila dalam mengamalkan agamanya ia begitu kuat, maka semakin kuat pula cobaannya.” (HR.Imam At-Tirmidzi No.3298 – HR. Imam Ahmad I/172).

Maka orang yang menyatakan beriman tidak dibiarkan begitu saja mengatakan telah beriman tanpa diuji dan dicoba, orang2 beriman benar2 akan diuji untuk membuktikan kebenaran pengakuan imannya. Ujiannya pun bermacam-macam; meninggalkan tanah air, berjihad melawan musuh yang menyerang, melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan syahwat karena larangan (seluruh ketaatan), ditimpa kemiskinan, panceklik, tidak mempunyai keturunan, menderita sakit berat yang berkepanjangan, dan berbagai musibah yang melibatkan jiwa dan harta; dan bersabar menghadapi kaum kafir dengan berbagai makar mereka.

Bahkan bila dikaitkan dengan nash lainnya, ujian yang ALLAH Ta’ala berikan tidak selalu dalam bentuk yang berat dan dibenci, ada juga ujian yang menyenangkan sebagaimana dalam firman-NYA :

KAMI akan menguji kamu dengan keburukkan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada KAMI-lah kamu dikembalikan.” (Al-Qur’an, surat Al –Anbiya (21), ayat 35).

Semua ujian itu berfungsi untuk membuktikan kebenaran iman seseorang, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ujian yang diberikan itu sesuai dengan kadar keimanan pelakunya. Seperti hadits di atas, Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang2 yang shalih, kemudian disusul oleh orang2 yang mulia, lalu oleh orang2 yang mulia berikutnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar pengamalan agamanya. Bila dalam mengamalkan agamanya ia begitu kuat, maka semakin kuat pula cobaannya.” (HR.Imam At-Tirmidzi No.3298 – HR. Imam Ahmad I/172).

Maka ketika seseorang dicoba dengan ujian yang sesuai dengan kadar agamanya dia tetap tegar, maka ujian ditingkatkan lagi, dan menurut Ibnu Katsir rahimahullah  ayat ini sejalan dengan beberapa surat lainnya seperti firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala :

Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang2 terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan sehingga berkatalah Rosul dan orang2 yng beriman bersamanya : “Bilakah datangnya pertolongan ALLAH ? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan ALLAH itu amat dekat.”” (Al-Qur’an, surat Al –Baqarah (2), ayat 214).

Melalui ayat di atas, ALLAH Ta’ala tegaskan, apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, sebelum kamu diuji dan dicoba, sebagaimana yang ditimpakan kepada orang2 sebelum kamu ? Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abdul Aliyah, Mujahid, Said bin Jubair, Murrah al-Hamdani, al Hasan, Qatadah, adh Dhahhak, ar-Rabi bin Anas, as-Suddi, dan Muqatil bin Hayyan mengatakan ujian yang membuat jiwa mereka tergoncang dengan goncangan yang dahsyat, berupa rasa takut dari musuh, dan mereka diuji dengan berbagai cobaan yang yang sangat berat.

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih dari Khabbab bin al-Aratt, ia menceritakan, “Kami bertanya, ‘Ya Rosululloh, mengapa engkau tidak memohon pertolongan untuk kami, dan mengapa engkau tidak mendo’akan kami?’ Maka beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Sesungguhnya orang2 sebelum kalian, di antara mereka ada yang digergaji dari tengah2 kepalanya hingga terbelah sampai kedua kakinya, namun hal itu tidak memalingkannya dari agama yang dipeluknya. Ada pula yang tubuhnya di sisir dengan sisir besi hingga terpisah antara daging dan tulangnya, namun hal itu tidak menjadikannya berpaling dari agamanya’, kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Demi ALLAH, ALLAH benar2 akan menyempurnakan perkara agama ini hingga seorang yang berkendara dari Shan’a menuju ke Hadhramaut  tidak merasa takut kecuali kepada ALLAH, dan hanya mengkhawatirkan serigala atas kambingnya. Akan tetapi kalian adalah kaum yang tergesa-gesa’.” (HR. Imam Bukhori No. 3612).

Dan firman-NYA :

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi ALLAH orang2 yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang yang asabar.” (Al-Qur’an, surat Ail – Imran (3), ayat 142).

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, ayat2 di atas menyatakan penegasan ALLAH Ta’ala  bahwa adanya cobaan untuk menguji keimanan hamba-NYA dan ALLAH juga menyatakan bahwa sesungguhnya ALLAH telah menguji orang2 yang sebelum mereka, ini penegasan bahwa ujian keimanan itu tidak hanya dibeikan kepada umat saat ini, namun juga umat2 terdahulu dan ujian keimanan ini merupakansunnatullaah yang berlaku di setiap masa, Wallahu a’lam.

ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala mengetahui orang2 yang benar dalam pengakuan keimanannya dan orang yang berdusta dalam ucapan dan pengakuan keimanannya, DIA Maha Mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi serta apa yang tidak terjadi, yang seandainya terjadi bagaimana kejadiannya. Ketetapan akan ilmu ALLAH seperti ini merupakan hal yang disepakati oleh para ulama dari kalangan Ahlus Sunah wal Jama’ah.

Mari perhatikan ayat2 yang senada dengan ayat2 di atas :

Kamu benar-benar akan diuji terhadap hartamu dan dirimu………” (Al-Qur’an, surat Ali – Imran (3), ayat 186).

Kemudian firman ALLAH berikutnya :

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan DIA Mahaperkasa, Mahapengampun.” (Al-Quran, surat Al – Mulk (67), ayat 2).

Cobaan dan ujian selalu mengiringi setiap orang, apakah itu berupa kesenangan atau kesusahan, kekayaan atau kemiskinan, sehat atau sakit, gembira atau sedih, dan lainnya. Semua itu merupakan ujian, apakah manusia bersyukur atau tidak, bersabar atau tidak.

Bagi orang yang diberikan kesenangan, kekayaan, kegembiraan, maka konsekuensi dari kesenangannya yaitu bersyukur atas segala nikmat ALLAH dengan mentauhidkan ALLAH dalam beribadah hanya kepada-NYA, melaksanakan ketaatan kepada ALLAH, dan menjauhkan perbuatan dosa dan maksiat.

Namun orang yang bersyukur kepada ALLAH sangat sedikit sekali, hal ini ditegaskan pada firman ALLAH sbb :

 “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-KU yang bersyukur.” (Al-Qur’an, surat Saba’ (34), ayat 13).

Sebaliknya, bagi orang yang diberikan cobaan, ujian berupa kesusahan, kefakiran, dan penyakit, maka konsekuensinya adalah sabar, tidak banyak berkeluh kesah dan hendaknya mengadukan semua kesulitan itu hanya kepada ALLAH, sabar dan ridha kepada takdir ALLAH, tidak putus asa dari rahmat ALLAH, dan terus berdo’a hanya kepada ALLAH saja, maka ALLAH akan memberikan ganjaran yang besar kepada orang yang sabar, hal ini ditegaskan pada firman ALLAH sbb :

Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (Al-Qur’an, surat Az-Zumar (39), ayat 10).

Seorang Mukmin semua urusannya adalah baik, jika ia mendapat kesenangan, maka ia bersyukur. Dan jika ia mendapat kesulitan, kesusahan, atau penyakit, maka ia bersabar.

Hal ini disebutkan dalam hadits riwayat Abu Jahya (Shuhaib) bin Sinan Arrumy radhiyallaahu ‘anhu berkata : “Bersabda Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Sangat mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena segala keadaan untuknya selalu sangat baik dan hal ini tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi orang mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka syukur itu lebih baik baginya, dan bila menderita kesusahan ia sabar, maka sabar itu lebih baik baginya.‘” (HR. Imam Muslim, Riadus Shalihin I – Bab. Sabar No. 3, hal.52).

ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala berfiman :

Dan sungguh akan KAMI berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah2an. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang2 yang sabar (155), yaitu orang2 yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun’ (156) Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari ROBB-nya, dan mereka itulah orang2 yang mendapat petunjuk (157).” (Al-Qur’an, surat Al –Baqarah(2), ayat 155-157).

ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa DIA akan memberikan cobaan kepada hamba2-NYA, terkadang ALLAH Ta’ala memberikan ujian berupa kebahagian dan terkadang DIA memberikan ujian berupa kesusahan, seperti rasa takut, kelaparan, hilangnya harta, kematian keluarga, kerabat, sahabat dan orang2 yang dicintai, rusaknya kebun dan ladang.

Namun ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala memuji  hamba-NYA yang terkena musibah kemudian menerima musibah itu dengan sabar dengan menghibur diri dengan ucapan “Sesungguhnya kami adalah milik ALLAH dan kepada-NYA kami kembali”, mereka yakin bahwa diri mereka adalah milik ALLAH, serta ALLAH memperlakukan hamba-NYA sesuai dengan kehendak-NYA. Selain itu mereka pun yakin bahwa DIA tidak menyia-nyiakan amalan mereka, meskipun hanya sebesar dzarrah pada hari kiamat kelak.

Keyakinan ini menjadikan mereka mengakui bahwa dirinya hanyalah seorang hamba di hadapan ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala, dan mereka akan kembali kepada-NYA kelak di akherat dan ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala tegaskan dalam ayat ini bahwa “orang2 seperti ini adalah orang2 yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari ROBB mereka dan mereka orang2 yang mendapat petunjuk“.

Ayat2 yang mulia diatas menjelaskan bahwa merupakan suatu keharusan bahwa seorang mukmin akan diuji keimanannya berkaitan dengan segala hal yang berada di sekitarnya, apakah hartanya, dirinya, isterinya/suaminya, anak-anaknya, keluarganya, kerabatnya, pemimpinnya, bawahannya, jabatannya, pemerintahannya dlsb. Dan ia akan diuji sesuai kadar agamanya. Jika ia kuat dalam agamanya, maka ia akan diberikan ujian yang berat pula. Syukur Alhamdullilah kita dapat menegakkan tauhid dan beribadah dengan nyaman di negeri ini.

Demikianlah, keimanan yang benar pasti akan melahirkan ketaatan terhadap syariah-NYA. Oleh karena itu, keterikatan dan ketaatan terhadap syariah bisa dijadikan sebagai tolok keimanan seseorang. Ketika seseorang senantiasa terikat dan taat terhadap syariah, sesulit dan seberat apa pun, keimanannya telah terbukti benar. Sebaliknya, ketika tidak mau taat, apalagi menolak, tentulah keimanannya patut diragukan. Semoga kita termasuk orang yang benar. Wallahu a’lam.

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, harta, anak, isteri/suami, jabatan dan lain sebagainya adalah ujian, marilah mohon kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala agar semua ujian itu dapat menjadikan keimanan dan amal shalih  yang dapat mendekatkan kita kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala, sehingga kita termasuk orang2 yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala dan termasuk orang2 yang mendapat petunjuk, aamiin ya ROBB.

Mahasuci ENGKAU, ya ALLAH, aku memuji-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain ENGKAU, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-MU.

Bertakwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala di mana pun kita berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.