Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Judul di atas sangat berhubungan erat dengan terjemahan dari sebagian ayat 11 surat Ar-Ra’d (13) seperti  berikut ini : “Sesungguhnya ALLAH tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d (13), ayat 11).

Namun ayat di atas sering dimaknakan oleh sebagian kaum muslimin berhubungan dengan “nasib”  sehingga maknanya menjadi: “Sesungguhnya ALLAH tidak mengubah “nasib”  suatu kaum, sehingga mereka mengubah “nasib” yang ada pada diri mereka sendiri.” Akan tetapi menurut para ahli tafsir makna yang lebih tepat adalah “nikmat”, wallahu a’lam.

Mari kita perhatikan terjemahan secara lengkap ayat 11 dari surat Ar-Ra’d (13) tersebut di atas :

Bagi manusia ada Malaikat2 yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah ALLAH. Sesungguhnya ALLAH tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila ALLAH menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain DIA.” (Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d (13), ayat 11).

Yang kemudian ditafsirkan maknanya dengan “nikmat” oleh para ahli tafsir :

Bagi manusia ada Malaikat2 yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah ALLAH (maksudnya : (*) Setiap hamba memiliki beberapa Malaikat yang silih berganti. Ada Malaikat penjaga di siang hari dan Malaikat penjaga di malam hari, mereka menjaganya dari kejahatan dan kecelakaanAda pula Malaikat lain yang silih berganti menjaga/ mengawasi amal perbuatan, apakah yang baik maupun yang buruk, yaitu Malaikat siang dan Malaikat malam. Keduanya berada di kiri dan kanan setiap hamba dan ditugaskan untuk mencatat amal perbuatan yang dilakukannya.

Malaikat sebelah kanan bertugas mencatat kebaikan, sedangkan Malaikat sebelah kiri mencatat kejahatan/ keburukan. Sementara itu masih ada lagi dua Malaikat yang memelihara dan menjaganya, satu di belakang dan satunya lagi di depan. Dengan demikian berarti setiap hamba berada di tengah2 empat Malaikat siang dan empat Malaikat malam, dua Malaikat penjaga dan dua Malaikat pencatat).

Sesungguhnya ALLAH tidak mengubah keadaan suatu kaum (maksudnya : ALLAH tidak mencabut dari mereka nikmat-NYA), sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (maksudnya : mereka sudah menyimpangkan akidah, akhlak atau dari keadaan yang baik, ta’at kemudian mereka melakukan perbuatan durhaka).

Dan apabila ALLAH menghendaki keburukan terhadap suatu kaum (maksudnya : apabila ALLAH menimpakan adzab kepada suatu kaum), maka tidak ada yang dapat menolaknya (maksudnya : tidak ada yang dapat menghindar dari siksaan2 tersebut dan juga dari hal2 lainnya yang telah dipastikan-NYA).

dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka (maksudnya : bagi orang2 yang telah dikehendaki keburukan oleh ALLAH, maka tidak ada yang dapat dijadikan pelindung).

selain DIA.” (maksudnya : selain ALLAH sendiri yang dapat mencegah datangnya adzab ALLAH terhadap mereka). (Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d (13), ayat 11).

(*) Hal ini sebagaimana sabda Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Salam : “Silih berganti pada kalian beberapa Malaikat malam dan Malaikat siang, mereka bertemu di waktu shalat Subuh dan shalat Ashar. Maka naiklah menghadap ALLAH para Malaikat yang seharian bersama kalian, lalu ALLAH bertanya kepada para Malaikat, padahal ALLAH lebih mengetahui dari mereka, “Bagaimana kalian tinggalkan hamba2KU?” Mereka menjawab, “Ketika kami tinggalkan mereka, mereka sedang shalat, dan tatkala kami datang pun mereka sedang shalat.”” (HR. Imam Bukhori No. 555 – HR. Imam Muslim No. 632, dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘Anhu).

Ayat di atas sejalan dengan terjemahan surat Al-Anfaal (8), ayat 53 yang berbunyi sebagai berikut : “Siksaan yang demikian itu adalah karena sesungguhnya ALLAH sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-NYA kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa2 yang ada pada diri mereka sendiri,  dan sesungguhnya ALLAH Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Qur’an Surat Al-Anfaal (8), ayat 53).

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-NYA kepada suatu kaum, sehingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri . Ayat di atas mengandung isyarat, bahwa nikmat2 yang ALLAH berikan, selalu dikaitkan antara kelangsungannya dengan akhlak dan amal perbuatan kaum itu sendiri. Jika akhlak dan perbuatan kaum-NYA terpelihara baik, maka nikmat pemberian ALLAH itu pun tetap berada bersama mereka dan tidak akan dicabut.

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  tidak akan mencabutnya, tanpa kezhaliman dan pelanggaran dari hamba-NYA. Akan tetapi manakala hamba-NYA sudah merubah nikmat2 (*) itu yang berbentuk akidah, akhlak dan perbuatan baik, maka ALLAH akan merubah keadaan mereka dan akan mencabut nikmat pemberian-NYA dari mereka, sehingga yang kaya jadi miskin, yang mulia jadi hina dan yang kuat jadi lemah.

(*) Nikmat yang sangat besar/ tidak dapat dinilai adalah kita lahir dalam keadaan muslim.

Perhatikan beberapa terjemahan firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala yang menerangkan sebab-sebab datangnya musibah dan bala bencana berikut ini :

Dan ALLAH telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat ALLAH; Karena itu ALLAH merasakan kepada mereka pakaian(*)kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (Al-Qur’an Surat An-Nahl (16), ayat 112).

(*) Maksudnya kelaparan dan ketakutan itu meliputi mereka seperti halnya pakaian meliputi tubuh mereka.

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmatALLAH dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan Itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (Al-Qur’an Surat Ibrahim (14), ayat 28 s/d 29).

Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan dimuka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat yang diderita oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih kuat dari mereka,mereka telah mengolah bumi dan memakmurkannya lebih banyak dari apa yang mereka makmurkan.Dan telah datang kepada mereka Rosul-rosul mereka dengan membawa keterangan dan bukti-bukti yang nyata.Maka ALLAH sekali-kali tidak berlaku zhalim kepada mereka ,tetapi merekalah yang berlaku zhalim terhadap diri mereka.Kemudian akibat orang-orang yang melakukan kedurhakaan dan kejahatan adalah adzab siksa yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat ALLAH dan mereka selalu memperolok-olok.” (Al-Qur’an Surat Rum (30), ayat 9 s/d 10).

(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya”. (ALLAH berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada ALLAH, maka sesungguhnya ALLAH Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Kalau kamu melihat ketika Para Malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri), demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya ALLAH sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya, (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat ALLAH, maka ALLAH menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya ALLAH Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya, (siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya ALLAH sekali-kali tidak akan merubah sesuatunikmatyang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri [ALLAH tidak mencabutnikmatyang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada ALLAH.], dan sesungguhnya ALLAH Maha mendengar lagi Maha mengetahui, (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya, maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi ALLAH ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (Al-Qur’an Surat Al-Anfaal (8), ayat 49 s/d 55).

Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum DIA mengutus di ibukota itu seorang rosul yang membacakan ayat-ayat KAMI kepada mereka; dan tidak pernah (pula) KAMI membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezhaliman.” (Al-Qur’an Surat Al Qhashash (28), ayat 59).

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Al-Qur’an Surat Hud (11), ayat 117).

Mengapa ALLAH akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan ALLAH adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (Al-Qur’an Surat An Nisaa, ayat 147).

Dan jika KAMI hendak membinasakan suatu negeri, maka KAMI perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati ALLAH) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan KAMI), kemudian KAMI hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Qur’an Surat Al-Israa (17), ayat 16).

Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan KAMI membinasakannya sebelum hari kiamat atau KAMI adzab (penduduknya) dengan adzab yang sangat keras. yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (Al-Qur’an Surat Al Israa (17), ayat 58).

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan ALLAH memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” (Al-Qur’an Surat As Syura (42), ayat 30).

Demikian diantara ayat2 ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  yang menerangkan apabila hamba2-NYA durhaka, tidak taat, zhalim dan melakukan keburukan2 lainnya, maka dicabutlah nikmat itu yang menyebabkan datangnya musibah dan bala bencana.

Melaui ayat2 tersebut di atas ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  ingin menjelaskan tentang kesempurnaan keadilan-NYA pada ketetapan-NYA bahwa DIA tidak mengubah kenikmatan yang diberikan kepada seseorang ataupun suatu kaum melainkan hal itu disebabkan oleh dosa yang dilakukannya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Fir’aun dan pengikut2nya serta orang2 yang sebelumnya maupun sesudahnya, mereka ALLAH berikan berbagai macam kenikmatan, namun ketika para Nabi, termasuk Nabi Musa ‘Alaihi Sallam berdakwah, membacakan ayat2-NYA mereka mendustakan ayat2 ALLAH.

Maka mereka  dibinasakan oleh sebab dosa2 mereka, selain itu segala kenikmatan yang telah ALLAH anugerahkan kepada mereka, ALLAH cabut kembali, berupa aneka kebun, mata air, macam2 pertanian, harta simpanan, tempat2 yang indah, dan kesenangan2 yang mereka nikmati. Bahkan ketika Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam membacakan ayat2 ALLAH Ta’ala kepada orang2 Quraisy, mereka mendustakan dan bahkan mengusirnya dari Makkah, maka ALLAH adzab mereka dengan banyaknya yang berguguran para pembesar Quraisy pada saat perang badar. Dalam hal ini ALLAH tidak menzhalimi mereka, akan tetapi merekalah orang2 yang berbuat aniaya terhadap diri mereka sendiri.

Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam juga menerangkan sebab2 datangnya musibah dalam haditsnya :

Berkata Ummu Salamah radhiyallaahu ‘Anha, istri Rosulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, aku mendengar Rosulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam,  bersabda: “Jika timbul maksiat pada umatku, maka ALLAH akan menyebarkan adzab-siksa kepada mereka.” Aku berkata : “Wahai Rosululloh, apakah pada waktu itu tidak ada orang-orang shalih?” Beliau menjawab: “ada!“. Aku berkata lagi: “Apa yang akan ALLAH perbuat kepada mereka?” Beliau menjawab: “ALLAH akan menimpakan kepada mereka adzab sebagaimana yang ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat maksiat, kemudian mereka akan mendapatkan keampunan dan keredhaan dari dari ROBBnya.” (HR. Imam Ahmad).

Pada hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah disebutkan ada lima sebab datangnya adzab dan siksa ALLAH, Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Bagaimana kalian apabila terjadi lima perkara, dan aku berlindung kepada ALLAH mudah-mudahan lima perkara itu tidak terjadi pada kalian atau kalian tidak menjumpainya, yaitu,

Tidaklah perbuatan zina itu tampak pada suatu kaum, dikerjakan secara terang-terangan, melainkan tampak dalam mereka penyakit ta’un dan kelaparan yang tidak pernah dijumpai oleh nenek moyang dahulu.

Dan tidaklah kaum itu menahan zakat, melainkan mereka ditahan oleh ALLAH turunnya hujan dari langit, andai kata tidak ada binatang ternak tentu mereka tidak akan dihujani.

Dan tidaklah kaum itu mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka disiksa oleh ALLAH dengan kesengsaraan bertahun-tahun dan sulitnya kebutuhan hidup dan nyelewengnya penguasa.

Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka itu menghukumi dengan selain kitab yang diturunkan oleh ALLAH, melainkan mereka akan dikuasai oleh musuh yang merampas sebagian kekuasaan mereka.

Dan tidaklah mereka itu menyia-nyiakan kitab ALLAH dan sunnah Nabi-Nya, melainkan ALLAH menjadikan bahaya di antara mereka sendiri.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah).

Bahkan pada hadits riwayat Imam at-Tirmidzi disebutkan bahwa ada lima belas hal yang mendatangkan musibah & bala bencana : Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘Anhuma, ia berkata :

Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Apabila umatku telah melakukan lima belas perkara, maka halal baginya (layaklah) ditimpakan kepada mereka bencana.” Ditanyakan, “apakah lima belas perkara itu wahai Rosululloh?

Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Apabila…

1)     Harta rampasan perang (maghnam) dianggap sebagai milik pribadi,

2)     Amanah (barang amanah) dijadikan sebagai harta rampasan,

3)     Zakat dianggap sebagai cukai (denda),

4)     Suami menjadi budak istrinya (sampai dia);

5)     Mendurhakai ibunya,

6)     Mengutamakan sahabatnya (sampai dia);

7)     Berbuat zhalim kepada ayahnya,

8)     Terjadi kebisingan (suara kuat) dan keributan di dalam masjid (yang bertentangan dengan syari’ah),

9)     Orang-orang hina, rendah, dan bejat moralnya menjadi pemimpin umat (masyarakat),

10)  Seseorang dihormati karena semata-mata takut dengan kejahatannya,

11)  Minuman keras (khamar) tersebar merata dan menjadi kebiasaan,

12)  Laki-laki telah memakai pakaian sutera,

13)  Penyanyi dan penari wanita bermunculan dan dianjurkan,

14)  Alat-alat musik merajalela dan menjadi kebanggaan atau kesukaan,

15)  Generasi akhir umat ini mencela dan mencerca generasi pendahulunya;

Apabila telah berlaku perkara-perkara tersebut, maka tunggulah datangnya malapetaka berupa; taufan merah (kebakaran), tenggelamnya bumi dan apa yang diatasnya ke dalam bumi (gempa bumi dan tananh longsor), dan perubahan-perubahan atau penjelmaan-penjelmaan dari satu bentuk kepada bentuk yang lain.” (HR.Imam Tirmidzi, No. 2136).

Kaum Muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, Itulah perkara-perkara yang menyebabkan suatu negeri mengalami kekacauan, kehancuran, kesempitan, kemelaratan, perseteruan, dan perpecahan satu sama lainnya, saling menghujat (bahkan melalui media), antara rakyat dengan rakyat dan rakyat dengan penguasa. Korupsi dan ketidakadilan merajalela, segala macam penyakit bermunculan menimpa manusia, yang benar-benar menyulitkan dan membinasakan kehidupan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Oleh sebab itulah, manusia yang paling mulia di muka bumi ini, Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam berdoa agar sahabat-sahabatnya tidak menjumpai keadaan yang demikian dahsyat dan terpuruknya. Dari semua perkara yang menyebabkan datangnya siksa dan adzab itu. Insya ALLAH akan berakhir jika manusia dan kaum Muslimin khususnya kembali kepada ALLAH dan Rasul-NYA, berpegang teguh kepada Dinullah (Islam yang sebenar-benarnya, menurut Al – Qur’an dan As – Sunnah) mengikut petunjuk Rosul-NYA.

Alhamdulillah, Yang Maha Mulia, Yang Maha Suci, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, ALLAH Ta’ala tidak akan meng-adzab suatu kaum, bila mereka mohon ampun kepada-NYA.

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman : “Dan ALLAH sekali-kali tidak akan meng-adzab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah pula ALLAH akan meng-adzab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (Al-Qur’an Surat Al-Anfaal (8), ayat 33).

Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu mengomentari ayat di atas : “Mereka memiliki dua pengaman dari adzab, yakni Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dan ucapan istighfar.”

Imam ath-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Musa, ia berkata bahwasannya Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala  telah menurunkan kepadaku untuk umatku dua keamanan, yaitu  “Dan ALLAH sekali-kali tidak akan meng-adzab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah pula ALLAH akan meng-adzab mereka, sedang mereka meminta ampun”. Maka apabila salah satunya telah tidak ada dengan kematianku, aku tinggalkan untuk mereka istighfar sampai hari kiamat.” (HR. Imam Ath-Tirmidzi No. 3082 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir IV/64).

Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Imam al-Hakim dalam Mustadraknya dari Abu Sa’id, bahwasannya Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya syaitan berkata : ‘Ya ROBB, demi kemulian-MU, aku akan senantiasa akan menyesatkan hamba-hamba-MU selama ruh mereka berada pada jasadnya.’ ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman : ‘Demi Kemuliaan dan Kebesaran-KU, AKU akan senantiasa mengampuni mereka selama mereka meminta ampun kepada-KU.’” (HR. Imam Ahmad III/29, dihasankan oleh Syeikh al-Albani dalm Shahiibul Jaami’’ N0. 1650 – HR. Imam al-Hakim IV/261 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir IV/6465).

Dan ALLAH Yang Maha Mulia, Yang Maha Suci, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang akan mencukupi kebutuhan hamba2-NYA yang bertawakkal, ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman : “…..Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada ALLAH niscaya ALLAH akan mencukupi keperluannya…” (Al-Qur’an Surat Ath-Thallaq (65), ayat 2).

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abudullah bin Abbas radhiyallaahu ‘Anhuma  bahwa suatu hari dirinya dibonceng Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam  naik unta, maka beliau bersabda : “Wahai anak muda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah ALLAH, niscaya ALLAH akan menjagamu. Jagalah ALLAH, niscaya engkau akan mendapatkan-NYA dihadapanmu. Apabila kamu meminta sesuatu, maka mintalah kepada ALLAH, dan apabila kamu memerlukan pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada ALLAH. Ketahuilah, kalau sekiranya mereka manusia bersatu ingin memberikan suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu, kecuali jika ALLAH telah menentukannya untukmu. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakaimu, maka mereka tidak akan mampu mencelakaimu, kecuali jika telah ALLAH takdirkan atasmu. Pena telah diangkat dan catatan telah mengering.” (HR. Imam Ahmad I/293 – HR. Imam at-Tirmidzi No. 2516 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir IX/160).

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala,  sebelum di akhiri sharing ini, mari kita renungkan sejenak firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dan hadits berikut ini :

“Jikalau sekiranya penduduk negeri2 beriman dan bertakwa, pastilah KAMI akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat2 KAMI, maka KAMI siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-Qur’an Surat Al-A’raff (7), ayat 96).

Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : Akan senantiasa ada segolongan orang dari umatku yang berjuang membela kebenaran. Orang2 yang menghina dan menentang mereka, tidak akan menggoyahkan golongan ini hingga hari Kiamat.” (HR. Imam Bukhori No. 3640 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir VIII/705-706).

Mahasuci ENGKAU, ya ALLAH, aku memuji-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain ENGKAU, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-MU.

Bertakwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala di mana pun kita berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.