Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Wahai diri, adakah kau merasa dirimu telah terbebas dari dosa, sehingga untuk bertemu Allah pun engkau merasa tergesa-gesa?

Tanyakan itu kepada diri kita, sebagai orang Islam yang dalam sehari, kita melaksanakan Shalat Fardhu 5 waktu. Berbincanglah kepada diri sendiri, tanyakan mengapa kita selalu saja tergesa-gesa dalam bertemu Allah pada waktu Shalat kita.

Teringat saat saya masih seumuran anak SMP, saya kenal beberapa teman di dekat rumah saya yang dalam hitungan 1 atau 2 menit, Shalat Dzuhurnya sudah selesai. “Wah cepet banget Shalatnya” ucap saya kepada dia. Lantas dia menjawab “Yang penting itu niat, Mam”.

Memang adakalanya perkataan itu benar, segala sesuatu itu yang penting niatnya, tapi entah kenapa niat tersebut tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan olehnya.

Dari situlah saya mengambil pelajaran yang amat penting bagi saya. Saya berkesimpulan bahwa, kalau memang diri kita memulai Shalat dengan niat, tentunya kita tidak akan tergesa-gesa dalam bertemu dan berbincang dengan Allah. Sama saja seperti kita sudah niat bertemu dengan seseorang yang spesial tentunya, kita merencanakan dengan baik, memakai pakaian yang rapih, dan tentunya setelah bertemu, kita tidak ingin sebentar saja bukan? Kita ingin sekali berlama-lama dengan mereka yang sangat spesial di mata kita.

Begitupun bertemu dengan Allah. Karena dari awal kita memang sudah niat untuk bertemu dengan-Nya, sehingga kita tidak mau berlalu begitu saja, karena yang kita temui bagi kita adalah Sang Pencipta kita, yaitu ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

“Wahai diri, seberapa sibukkah engkau sehingga engkau selalu tergesa-gesa (pelit waktu) dalam Shalat”

Ini pun menjadi bahan introspeksi bagi diri kita semua, sudahkah kita datang kepada-Nya dalam keadaan yang benar-benar suci? Sudahkah kita meluangkan waktu untuk Shalat dan bukan menyisakan waktu untuk Shalat? Tanyakan kepada diri kita masing-masing untuk bahan renungan diri.

Jika Shalat kita hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja, maka apa nikmat itu terasa? Jika Shalat yang dilakukan hanya sebentar saja, maka apa itu akan berbekas di hati? Jika Shalat yang dilakukan hanya sekedar ‘yang penting sudah Shalat’, maka apa pantas kita sudah merasa terbebas dari dosa? Jika pelit waktu terhadap waktu Shalat, maka apakah itu akan hadir kenikmatan dalam hati? Tanyalah kepada diri kita masing-masing.

Sungguh diri ini amat lemah, kecuali Engkau berikan kekuatan. Sungguh diri ini hancur berantakan kecuali Engkau selamatkan dengan Rahmat-Mu. Sungguh diri ini hina, kecuali Engkau berikan cahaya bagi diri ini.

“Kenikmatan jiwa ada pada ibadah. Jika tak hadir nikmat, periksalah hati yang mungkin sedang mengeras.” – Teddi Prasetya Y

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…