Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saat ini kebanyakan dari kita (termasuk saya tentunya) hidup di masa-masa krisis karakter, krisis tauladan. Kebingungan atas sosok seseorang mana yang patut kita jadikan seorang tauladan yang baik, seseorang yang bisa kita ikuti contoh pola hidupnya dalam segala aspek kehidupan.

Fenomena ini terlihat jelas di sekitar kita, bahwa tidak sedikit orang mengidolakan orang yang salah, sehingga kegiatan hidup orang tersebut  sehari-harinya mengikuti orang yang dia idolakan. Tentu ini menjadi sebuah perkara yang tidak bisa kita sepelekan begitu saja.

Sekali seseorang tersebut meneladani suatu cara/pola, maka itu lama-kelamaan akan menjadi sebuah kebiasaan. Jika kebiasaan itu baik, maka hidupnya pun dipastikan baik, jika kebiasaan itu salah, maka hidupnya bisa dipastikan merugi.

Sekitar seribu lima ratus tahun yang lalu, sekitar abad 13 atau 14. Sesosok manusia sederhana, yang bernama Muhammad bin Abdullah dipilih oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala sebagai utusan-Nya dalam menyebarkan agama Islam, satu-satunya agama yang diridhai oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Saat itu juga, ada 4 orang sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, yaitu orang-orang terdekat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam yang keseluruhan hidupnya benar-benar menjadikan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai teladan mereka. Maka tidak heran, sepeninggal Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, mereka ber-empat pun menjadi teladan bagi generasi setelah mereka ber-empat, karena mereka benar-benar menjadikan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupannya.

Proses transfer keteladanan pada periode tersebut berjalan dengan baik, terstruktur dan sistemik, banyak orang yang mencotoh dan meneladani Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, sehingga pengikut nya pun akan melakukan hal yang sama, yaitu tetap meneladani Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Namun sayangnya, setelah beberapa periode itu berlalu, sedikit demi sedikit proses transfer keteladanan mulai melemah dan semakin melemah saja, hingga zaman kita sekarang ini. Di zaman kita sekarang, nilai keteladanan yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam hanyalah sebuah cerita yang mengagumkan kita.

Cerita tentang kepintaran dan kejeniusan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam yang mampu menyelesaikan pergolakan antar suku untuk menentukan suku mana yang paling berhak meletakkan hajar aswad di Ka’bah tanpa terjadi perpecahan dan pertumpahan darah, hanyalah sebuah cerita yang mengagumkan bagi kita.

Cerita tentang seorang fakir yang tidak makan dua hari, dan ketika mendapatkan makanan, dia berikan lagi ke orang lain yang ternyata sudah tiga hari tidak menemukan makanan, hanyalah sebuah cerita yang mengagumkan bagi kita.

Dan banyak kisah-kisah yang sebenarnya bisa dijadikan sebuah nilai keteladanan bagi kita, namun sayangnya kisah-kisah tersebut hanyalah sebuauh cerita yang mengagumkan bagi kita, dan tidak mampu diterapkan oleh orang-orang sekarang pada umumnya.

Zaman sekarang sudah kehilangan suri tauladan mereka, sosok seseorang yang bisa dijadikan panutan, kunci kualitas hidup yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam. Dan sekarang malah banyak orang yang salah dalam mengidolakan seseorang yang kualitas hidupnya jauh dari apa yang telah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam contohkan kepada kita.

Padahal semua itu adalah keteladanan yang seharusnya terimplementasikan pada kehidupan kita. Seharusnya pula kehidupan kita dari hari ke hari akan lebih baik (tentunya dengan mencontoh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam), bukan malah menjadi terpuruk dan semakin jauh dari sifat-sifat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam seperti yang bisa kita lihat di sekitar kita.

Jadikanlah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai teladan kita, bukan hanya sekedar cerita yang mengagumkan kita. Contohlah pola hidup, cara hidup, sifat-sifat beliau.

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, surat Al-Azhab, ayat 21.

Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi orang yang berharap kepada Allah, hari akhir dan bagi orang yang banyak mengingat Allah.

Mari kita sama-sama mulai menjadikan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai teladan kita, menjauhi jauh-jauh apa yang tidak beliau contohkan, dan berusaha mengikuti apa-apa yang beliau ajarkan kepada kita. Diantaranya adalah bersifat Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah, serta sifat-sifat dan adab-adab lainnya yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…


Referensi

Utama, D.N., Ripanti, E.F., Chandra, D.B. 2012. Indonesia Mendidik. Depok: MSc Publisher.