Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Gaya hidup memang sudah menjadi habits bagi kita semua, perubahan perilaku yang kebanyakan mencontoh kaum luar kini menjadi trend yang harus kita ikuti. Kalau kita tidak ikuti maka kita otomatis menganggap diri kita sebagai orang yang ketinggalan zaman. Padahal belum tentu demikian.

Mencontoh Jakarta salah satu gaya hidup yang terjadi pada kota-kota kecil di Indonesia, sehingga lambat tapi pasti kota-kota yang tadinya tidak kita kenal, kota-kota yang tadinya sepi pengunjung, sekarang sudah bisa dilihat bahwa gaya hidup kota tersebut lama kelamaan sudah mencontoh Jakarta.

Apa itu salah? Jawaban ini relatif, tergantung sudut pandang masing-masing orang. Tetapi yang menjadi permasalahan contoh yang diberikan kebanyakan salah dibanding kondisi yang ada.

Saya ingat ketika dulu masih SD, masih sekitar berumur 7 atau 8 tahun, saya berangkat sekolah jam setengah 7 pagi, karena saat itu Sekolah saya jam masuknya jam 7 pagi tepat. dengan waktu cukup setengah jam saja, saya sudah bisa sampai ke Sekolah saya yang tentunya jarak dari rumah saya lumayan jauh.

Tetapi tidak dengan sekarang, akhir-akhir ini, saya melihat banyak anak sekolah yang jam masuknya jam 7 tetapi berangkatnya malah jam 6 pagi, atau bahkan sering saya melihat yang berangkatnya jam setengah 6 pagi. Tentu alasan di balik itu semua adalah karena menghindari kemacetan.

Dulu kota saya, Depok, jarang sekali terjadi kemacetan, tetapi sekarang saat Kota Depok sudah mencontoh gaya hidup Jakarta, semua itu menjadi berbeda dari sebelumnya. Banyak mobil pribadi, banyak motor yang berlalu-lalang, banyak pusat perbelanjaan hadir, dan banyak hal yang dicontoh oleh Kota Depok dari Jakarta.

Ini opini pribadi saya tentang gaya hidup, emosional dan juga kebiasaan masyarakat terhadap suatu perubahan yang terjadi. Yang saat ini bisa kita lihat, kota-kota lain pun mengikuti gaya hidup Jakarta. Lahan kosong digusur untuk dibangun Mall, para investor asing mendirikan pabriknya dengan sesuka hati mereka (di kota-kota kecil pun juga), dan yang lebih mengkhawatirkan adalah terjadinya gaya hidup kendaraan yang setiap bulannya terus meningkat.

Coba saja kita lihat berapa banyak dealer motor yang ada di dekat rumah kita? Mungkin sudah banyak seperti layaknya Minimarket Alfamart atau Indomaret, mereka dengan mudahnya mengiklankan produk mereka dengan bebas, menawarkan cara cepat memiliki kendaraan, yang pada akhirnya kendaraan tersebut akan menumpuk di jalanan. Akibatnya akan menyebabkan kemacetan karena banyaknya orang yang membeli kendaraan tersebut.

Ini masalah gaya hidup, seolah memiliki kendaraan baru itu penting bagi mereka, padahal mereka tidak sepenuhnya membutuhkan itu. Dan lebih mengkhawatirkan lagi adalah saat dimana para perusahaan-perusahaan asing mengeruk uang yang banyak tetapi tidak mengkhawatirkan kondisi jalanan di Indonesia ini.

Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, mencari margin atas penjualan mereka, mencari omzet yang besar, bisa mengalahkan perusahaan-perusahaan lain, dengan menawarkan berbagai kemudahan untuk bisa memiliki kendaraan kepada kita semua. Tetapi mereka lupa dengan banyaknya kendaraan tersebut justru itu akan menjadi salah satu penyebab kemacetan di negara kita.

Simpel saja, macet itu karena adanya kendaraan yang menumpuk di suatu jalan yang tidak sesuai dengan kondisi jalan tersebut. Kalau tidak menumpuk, tentu tidak ada kemacetan. Tentunya ada faktor lain dibalik itu semua, tetapi yang paling fatal adalah menumpuknya kendaraan di banyak jalan-jalan.

Berbeda dengan negara-negara lain, pemerintahnya mengkhawatirkan produksi kendaraan mereka secara besar-besaran karena mereka tahu kondisi jalan mereka jika diisi oleh banyak kendaraan akan menyebabkan kemacetan. Seperti Jepang contohnya, jumlah kendaraan yang ada di Jepang sudah di tata sedemikian rupa sehingga tidak melebihi muatan di jalan-jalan yang ada.

Tentunya ini kembali lagi kepada kita semua selaku masyarakat Indonesia. Semoga kita tidak dengan mudahnya mencontoh gaya hidup yang memang tidak kita butuhkan. Jika Jakarta mencontoh habits negara lain yang memiliki banyak tempat perbelanjaan, seharusnya ini menjadi pelajaran terlebih dahulu sebelum mengikuti gaya hidup negara lain, sudah sebandingkah tempat dengan penduduk yang ada?

Kembali lagi semua kepada kita, sejauh mana kita menahan gaya hidup yang ada sekarang. Karena banyak dari gaya hidup yang kita (akhirnya dengan sengaja) ikuti sekarang hanyalah nafsu yang besar, yang ujungnya tidak ada habisnya.

Sekarang tinggal tunggu sekitar 5-10 tahun mendatang, akan banyak kota-kota di Indonesia yang mencontoh Jakarta. Hehehe

Artikel ini bersifat opini pribadi atas fenomena-fenomena yang terjadi di negara tercinta kita, yaitu Indonesia. Semoga artikel ini menjadi bahan renungan bagi kita semua.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…