Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Ide artikel ini saya dapatkan dari perkataan salah satu teman saya, yang dia dapatkan dari salah satu Kepala Desa sewaktu kami sedang melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata. Dan perkataan yang dikatakan oleh Kelapa Desa tersebut benar-benar bagus sekali.

Biasakanlah kebenaran, jangan membenarkan kebiasaan

Begitulah kira-kira kata yang saya dengar dan dapatkan dari teman saya, yang berasal dari salah satu Kepala Desa. Simpel memang, hanya 5 kata, tetapi makna nya sangat dalam sekali, bahkan kata-kata sederhana ini bisa menyindir siapa saja yang membacanya. Termasuk kita yang membacanya.

Apa makna dari kata-kata tersebut? Sebenarnya makna dari kata-kata sangatlah mudah untuk kita temukan. Pada intinya kita tidak boleh membenarkan kebiasaan kita, karena bisa jadi kebiasaan kita adalah kebiasaan buruk, misalkan suka menipu, berbohon, mengambil hak orang lain, mencuri, dan kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya.

Apa jadinya jika kita selalu membenarkan kebiasaan kita? Yang pasti, jika ada orang baik yang menasihati kita, kita malah mengganggap kebiasaan kita itu benar adanya, padahal belum tentu benar. Kita malah marah terhadap mereka yang dengan tulus memberikan nasihat kepada kita.

Aneh bukan? Kita dinasihati yang baik, tetapi kita malah marah, hanya karena kita selalu membenarkan kebiasaan-kebiasaan buruk kita. Akhirnya kebiasaan-kebiasaan itu jadi bernilai baik di mata kita, padahal kan belum tentu.

Banyak sudah kebiasaan-kebiasaan buruk yang selalu saja dibenarkan, contohnya, membuang sampah sembarangan dengan alasan “kan cuma tissue aja“, “udah gak apa-apa, gak ada yang liat ini“, padahal jika dilakukan atau mungkin saja ada orang lain yang mencontoh perbuatan buruk tersebut, kita sama saja mengajarkan keburukan kepada orang lain, yang mungkin akan terus menerus tercontoh oleh banyak orang. Maukah kita bertanggung jawab atas hal tersebut? Tentunya tidak.

Biasakanlah Kebenaran. Maksudnya di sini adalah, banyak hal-hal yang termasuk kebenaran yang belum banyak orang melakukannya. Seperti mengantri, menunggu lampu lalu lintas sampai berwarna hijau, berhenti sebelum garis putih, tidak menyerobot terotoar tempat orang berjalan. Hal-hal seperti itulah kebenaran yang umum, tetapi belum banyak orang yang membiasakannya.

Kebanyakan orang hanya berfikiran “cepat, cepat, dan cepat“. Cepat sampai, cepat selesai (lepas tanggung jawab). Padahal di belakang sana, ada banyak orang yang terkena akibat dari perbuatan tersebut. Semoga kita tidak termasuk orang yang membenarkan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut.

Semoga kita selalu berupaya membiasakan kebenaran-kebenaran yang belum kita praktekkan. Semoga kita diberikan kekuatan untuk terus mencontohkan kebenaran-kebenaran kecil yang belum terbiasakan. Kalau bukan kita yang mulai mencontohkan kebenaran itu, lalu siapa lagi?

Mulailah untuk membiasakan kebenaran dari sekarang daripada harus membenarkan kebiasaan.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…