Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Pernahkah Anda mengalami, saat-saat di mana Anda melakukan kesalahan yang memang benar-benar salah Anda sendiri? Tenang saja, semua orang kebanyakan pasti akan menjawab pernah, demikian juga dengan saya.

Misalkan sebagai contoh, jika kita seorang pengendara motor, namun melanggar beberapa aturan, misalkan tidak memakai helm. Dan tiba-tiba di tengah jalan, ada orang yang menabrak motor kita, sampai kita terjatuh, tentunya dalam kondisi ini, kita lantas langsung kesal karena kita di tabrak.

Tangan lecet, kaki lecet, motor rusak, kepala berdarah. Tentunya ini jelas-jelas kesalahan kita, karena kita dari awal tidak memakai helm dan dengan sombongnya kita berpendapat bahwa nanti di tengah jalan tidak terjadi apa-apa. Padahal, ada banyak sekali kejadian yang tidak bisa kita duga-duga. Begitu terjadi kejadian yang tidak kita inginkan, barulah kita berkata “ah sial!, gua ga pake helm“, dan banyak kata-kata serupa lainnya yang sering muncul ketika musibah datang.

Selanjutnya, kita merasa bersalah kepada diri sendiri. Mau marah, tapi ini adalah kesalahan kita, dan bayang-bayang kesalahan kita pun akan terus terbawa sampai berhari-hari. Atau bahkan misal kejadiannya berbeda, yaitu misalkan kita menabrak orang lain karena kita tidak fokus dalam berkendara, tentunya ini akan lebih lama lagi bayang-bayang yang terus menghantui pikiran kita.

Karena kita tidak fokus, uang ganti rugi melayang, yang seharusnya uang itu berguna untuk yang lain. Tentunya kondisi ini sering sekali kita alami, tidak hanya dalam berkendara saja, namun dalam kehidupan sehari-hari kita.

Anda pernah mengalami hal serupa? Saya sering sekali…

Namun, untuk bisa memaafkan diri sendiri itu ternyata tidaklah mudah seperti memaafkan orang lain, kenapa demikian? Karena yang membuat kita marah adalah diri kita sendiri, dan kita harus memaafkan orang yang membuat kita marah, yaitu tetap diri kita sendiri.

Tentunya ada 2 perasaan yang saling bertabrakan yang bersumber dari tubuh yang sama, dan butuh kerjasama antara kedua perasaan tersebut untuk bisa terbebas dari perasaan yang jelek itu.

Perasaan pertama adalah perasaan mengaku salah dan kesal karena kita melakukan sesuatu yang tidak kita sengaja, tetapi efeknya besar. Perasaan kedua adalah perasaan bimbang, bagaimana untuk menghilangkan perasaan tersebut.

Seperti yang sudah ditulis di atas, bahwa memaafkan diri sendiri itu tidak mudah seperti memaafkan orang lain, tetapi bukan berarti hal itu tidak bisa kita lakukan.

Hal termudah yang sering saya lakukan untuk memaafkan diri sendiri adalah dengan cara menyadari, bahwa kesalahan yang kita buat itu memang kesalahan kita, walaupun kita memang tidak sengaja melakukannya. Dengan menyadari bahwa kita bersalah, itu sudah satu tingkat untuk memaafkan diri sendiri.

Berikutnya adalah dengan merilekskan diri, bahwa itu memang sudah terjadi dan tidak bisa kita cegah, semua sudah menjadi takdir-Nya. Yang harus kita lakukan adalah menerima takdir-Nya dengan ikhlas, bahwa itu memang yang terbaik yang ALLAH berikan untuk kita.

Dengan dua tips sederhana di atas, biasanya dalam beberapa hari saja, ingatan akan bayang-bayang yang tidak kita inginkan akan segera pergi dengan sendirinya. Pertempuran kedua rasa tersebut sudah tidak terjadi lagi.

Berdamailah dengan diri sendiri dengan cara memaafkan kesalahan apapun yang kita lakukan, dengan begitu ketenangan diri akan kita dapatkan.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…