Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Hari Sabtu kemarin, saya berkesempatan menemani salah satu sahabat saya ke daerah Gondangdia, Jakarta Pusat. Pagi itu pukul 10-an saya berangkat bersamanya dari Stasiun Pondok Ranji, Bintaro, dan Alhamdulillah kami mendapatkan kereta Commuter Line menuju Gondangdia, yang tentu saja harus transit di beberapa stasiun, diantaranya adalah Stasiun Tanah Abang dan Stasiun Manggarai.

Berpergian dengan menggunakan kereta listrik menurut saya jauh lebih menyenangkan bagi saya, disamping biaya yang tidak terlalu mahal untuk ongkosnya, selain itu, menggunakan kereta listrik juga menghemat tenaga dan waktu dibandingkan naik mobil atau motor.

Apalagi ketika saya berangkat dari Stasiun Pondok Ranji menuju Stasiun Gondangdia yang saat itu saya naik kereta Commuter Line, tentu perasaan sejuk dan nyaman bisa dirasakan. Selain kereta Commuter Line memiliki fasilitas AC di dalam nya, kereta itu juga lebih cepat dibandingkan dengan kereta ekonomi, yang melaju lebih lambat daripada Commuter Line.

Beruntung kami pergi menggunakan Commuter Line, tetapi tidak untuk perjalanan pulang. Perlu diketahui bahwa sebenarnya tidak ada banyak kereta di jalur Stasiun Tanah Abang sampai dengan Stasiun Pondok Ranji, baik Commuter Line maupun kereta ekonomi.

Sekalinya dapat kereta, mau tidak mau harus naik kereta tersebut, jika tidak, maka untuk kereta berikutnya harus menunggu lama untuk itu. Akhirnya kami benar-benar naik kereta ekonomi untuk arah pulang. Tentu hal ini tidak kami harapkan sebelumnya, karena kami sudah membeli tiket untuk kereta Commuter Line. Tapi tidak mengapa lah, daripada harus menunggu Commuter Line yang lama, mending naik ekonomi saja.

Bagi saya, ini bukan pertama kalinya naik kereta ekonomi (yang harga tiketnya hanya 2 ribu rupiah), tetapi bagi teman saya, ini pertama kalinya dia naik kereta ekonomi. Banyak pemandangan yang bisa kami lihat di kereta ekonomi, tentunya bisa ditebak bahwa di angkutan umum selalu saja ada pengamen dan pedagang asongan yang mondar-mandir untuk berjualan.

Tetapi pemandangan tersebut justru menjadi momen yang saya senangi, karena saya bisa banyak bersyukur dari mereka, banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari mereka. Mulai dari cara berjualan yang aneh tentunya, cara mereka berbicara, tentang sopan satun dalam berjualan, bahkan dalam hal berjuang demi mencari nafkah, yang sampai artikel ini saya tulis, saya masih terus kepikiran dengan mereka yang bersusah payah mencari nafkah dibandingkan dengan mereka yang hanya bisa meminta-minta saja.

Padahal jika dilihat di kereta ekonomi, kebanyakan para pedagang asongan dan pengamen adalah mereka yang sudah berumur di atas 50 tahun, bahkan ada beberapa pengamen yang (maaf) tuna netra. Yang kalau dilihat sungguh akan membuat hati merasa kasihan, merasa bersyukur bahwa kita masih diberikan kelebihan dibanding mereka.

Pengalaman yang tentunya tidak bisa kami lupakan, berkesempatan naik kereta ekonomi, bertemu dengan banyak orang sederhana, bertemu dengan banyak pedagang asongan, bertemu dengan beberapa anak-anak yang putus sekolah, dan banyak pemandangan-pemandangan lainnya yang tidak bisa dilihat pada kereta Commuter Line.

Di akhir postingan ini, saya akan share beberapa foto yang saya ambil pada saat saya berada di dalam gerbong kereta ekonomi.

Mohon maaf bila gambarnya tidak terlalu jelas, karena saya foto menggunakan handphone saya, dan juga pada saat keadaan berdesak-desakan. Semoga Anda menyukai foto ini.

Suasana KRL Ekonomi

Suasana KRL Ekonomi

Suasana KRL Ekonomi

Suasana KRL Ekonomi

Suasana KRL Ekonomi

Suasana KRL Ekonomi

Tukang Tahu di KRL Ekonomi

Tukang Tahu di KRL Ekonomi

Tukang Kacamata di KRL Ekonomi

Tukang Kacamata di KRL Ekonomi

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…