Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Pernah terpikirkankah oleh kita bahwa ada suatu saat di mana keadaan pada hulu (atas) akan tidak seimbang pasokannya terhadap hilir (bawah)? Sebagai contoh supplier sayuran yang sebagai hulu kehilangan seluruh sayurannya akibat badai yang menerjang, dan semua itu akan memperhambat proses dari hulu ke hilir (pembeli sayuran).

Kisah lain, saat bagian hulu yang bertugas mengantarkan bahan bakar untuk di pasok kepada bagian hulu (pom bensin) tiba-tiba mengalami gangguan dalam proses kerja nya, apa yang terjadi? semua akan tidak teratur, semua akan hancur berantakan.

Saat air di pegunungan tiba-tiba aksesnya di tutup oleh sebagian orang ‘nakal’ yang hanya ingin meraup keuntungan, maka banyak orang di bawah pegunungan aktivitasnya terganggu, tidak bisa mandi, tidak bisa minum, dan lain sebagainya, ini bukti bahwa hulu dan hilir saling berhubungan erat dan tidak bisa terpisahkan.

Begitulah yang kini terjadi di sekitar kita, kondisi hulu yang ada pada tata sistem di sekitar kita tidak berjalan sebagaimana mestinya. Idealnya, apa yang didatangkan dari hulu adalah baik, lancar, dan yang pasti berkualitas. Baik artinya, apa yang dikirim dari hulu tidak ada kerusakan sedikitpun ketika mencapai hulu, lancar berarti apa yang di kirim dari hulu tidak ada hambatan sedikitpun, berkualitas maksudnya, apa yang dikirim bukan hanya baik, tetapi berkualitas.

Contoh kecil saja yang akan menghambat proses jalannya pengiriman dari hulu ke hilir adalah regenerasi dari sebuah generasi. Saat ini Negara kita mengalami krisis generasi, yaitu minimnya generasi unggulan dari orang-orang yang telah dicetak di dalam dunia pendidikan, khususnya dalam dunia Universitas. Karena kalau generasi Mahasiswa di cetak dengan sebaik mungkin, maka regenerasi kaum berikutnya pun akan ikut baik, ibarat hulu dan hilir.

Jika hulu nya baik (generasi yang unggul), maka proses jalannya pengiriman contoh perilaku terhadap hilir akan baik pula, jika hulu nya buruk (generasi hancur), maka proses tersebut ikut hancur.

Kita tidak bisa mengharapkan 100% untuk adanya generasi hulu yang baik, tidak pula kita bisa mengharapkan 100% untuk hilir supaya tidak terpengaruh generasi hulu yang buruk.

Yang bisa kita lakukan adalah, kita harus menjadi generasi hulu yang baik, dimulai dari diri kita sendiri, dengan mematuhi segala aturan yang ada, contohnya dimulai dari tidak merokok, tidak mabuk-mabukkan, tidak buang sampah sembarangan, tidak menerobos lampu lalu lintas (berhenti di belakang garis putih ya tentunya), tidak mengambil jalan terotoar jika kondisi jalan macet, dan banyak hal lainnya.

Jika saja sudah banyak orang yang menerapkan hal demikian, saya bisa yakin kita akan menjadi generasi unggul, untuk bisa kita tularkan kepada hilir (yaitu generasi penerus kita).

Tetapi jika kita tidak peduli dengan adanya perubahan generasi, dengan hanya menyalahi kaum atas, kaum generasi yang sudah-sudah, tentu kita termasuk generasi hilir yang buruk. Yang tentu akan menularkan keburukan kepada pewaris kita nanti.

Teruslah melakukan hal yang baik, hal yang menuntun kita kepada jalan kebaikan dan kebenaran. Yang tentunya akan menjadikan kita kelak sebagai generasi yang unggul.

Jadi… Tentukanlah pilihan kita sekarang, mau menjadi generasi unggul atau mau menjadi generasi yang biasa-biasa saja?

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. at-Tirmidzi)

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…