Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“Dia yang sedang sombong, sejatinya sedang terluka. Maka jadilah obat, dengan berlembut hati padanya.” – Teddi Prasetya Yuliawan

Kata-kata di atas saya ambil dari salah satu Blog guru saya, yaitu Mas Teddi Prasetya Yuliawan, kata-katanya yang begitu berbeda dari kebanyakan orang lain. Mas Teddi adalah seorang pembelajar NLP (Neuro-Linguistic Programming), Anda bisa cari tahu apa itu NLP di Google.

Sejatinya, orang sombong adalah orang yang sedang terluka, sebab diri mereka mungkin saja sedang terluka karena perlakuan orang lain, mungkin saja terluka karena memang ada luka di dalam hatinya yang belum tersembuhkan. Misal karena perlakuan dari orang lain yang membuatnya iri, sehingga tergerak hatinya untuk memberanikan diri untuk sombong, entah mungkin sombong karena terluka dirinya akibat tidak mau memaafkan orang lain.

Mereka yang sedang sombong sebetulnya telah kehilangan diri asli mereka, yaitu diri yang rendah diri, diri yang mulia, diri yang masih memiliki hati yang masih berfungsi. Diri yang hanya berserah kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Di salah satu seminar yang saya ikuti, salah satu guru saya yang sebagai pembicara pernah memberikan pengalamannya yang dia dapat dari sahabatnya tentang kesombongan, yang sampai saat ini analogi tersebut saya pakai untuk menggambarkan sifat sombong.

Kurang lebih apa yang dia bilang seperti ini, “Diri kita ibarat tempurung kelapa, dan diri yang mengalami kesombongan adalah tempurung kelapa yang sudah retak/pecah. Sederas apapun air yang masuk (amalan perbuatan), maka air (amalan perbuatan) tersebut akan keluar begitu saja (sia-sia)“.

Begitulah kira-kira kata-kata yang dia ucapkan dalam salah satu sesi seminar. Sungguh analogi dan pengalaman yang membuat saya tersadarkan betapa buruknya sifat sombong itu.

Bayangkan saja, jika amalan yang sudah kita lakukan selama kita hidup, harus terbuang begitu saja hanya karena ada bagian dari diri kita yang “bocor” karena sebuah kesombongan kita.

Maka jika sudah bocor, kita harus secepat mungkin menambalnya, secepat mungkin untuk bertaubat, secepat mungkin menyadari bahwa ada kebocoran di dalam diri kita. Tentunya kita tidak mau kan amalan yang telah kita lakukan itu terus-terusan terbuang begitu saja? Begitulah efek dari salah satu sifat buruk, yaitu kesombongan.

Maka, wahai para diri-diri yang sedang sombong, periksalah hati kita, mungkin ada bagian di dalam hati kita yang telah retak. Segeralah bertaubat, segeralah memohon ampun, segeralah untuk merendahkan diri dihadapan ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala. Karena sesungguhnya tidak ada yang patut kita sombongkan dari diri ini. Tidak ada yang pantas untuk sombong.

Wahai diri, bukankah engkau amat merindukan kedamaian hati? dimana hati yang engkau miliki masih bersih“. Maka mulailah introspeksi diri kita, mulailah rendah hati dihadapan siapapun, sembuhkan luka diri yang teramat mendalam, jika memang kita menyayangi diri kita sendiri.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…