[Sharing Jum’at] Sakaratul Maut (Bagian III)

Judul Lengkap : Saat sakaratul maut dan apa yang terjadi di kubur? (Bagian IV)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,


Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Demi DZAT yang jiwaku ada di tangan-NYA, sesungguhnya seorang mayit dapat mendengar suara telapak sandal kamu sekalian ketika berpaling meninggalkannya.  Lalu jika orang itu beriman, maka shalatnya akan menemani di dekat kepalanya, zakatnya di sebelah kanan, puasanya di sebelah kiri dan perbuatan-2 baiknya, seperti sedekah, menghubungkan tali silaturrahim dan kebaikannya terhadap orang lain akan menemaninya di bagian kedua kaki. Sehingga ketika ia didatangi Malaikat Maut dari arah kepala, maka shalatnya berkata, ‘Di sini tidak ada jalan masuk.’ Tatkala ia didatangi dari sebelah kanan, zakatnya berkata, ‘Di sini tidak ada tempat masuk.’ Kemudian manakala ia didatangi lagi dari sebelah kirinya, puasanya berkata, ‘Di sini tidak ada jalan masuk,’ dan ketika ia didatangi lagi dari sebelah kaki, maka amal perbuatan baiknya pun berkata, ‘Di sini tidak ada jalan masuk.’ Lalu dikatakanlah kepadanya, ‘Duduklah!’ Maka ia pun duduk. Sementara itu, dibayangkan seakan-akan matahari akan terbenam.

Kemudian dikatakan lagi kepadanya, ‘Jawablah tentang apa yang kami tanyakan kepadamu (tentang Muhammad).’ Ia menjawab, ‘Biarkanlah aku shalat terlebih dahulu.’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya kamu pasti melakukannya, maka dari itu  jawablah apa yang kami tanyakan kepadamu.’

Orang beriman itu berkata, ‘Apakah gerangan yang akan engkau tanyakan padaku?’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Apa perkataanmu tentang laki-2 ini yang dahulu diutus kepada kamu ‘ Bagaimana pendapatmu tentangnya?’ ‘Maksudmu Muhammad?’, orang beriman itu balik bertanya. Maka dikatakan kepadanya, ‘Ya’.

Orang beriman itu pun berkata, ‘Aku bersaksi sesungguhnya  dia adalah utusan ALLAH, dan sesungguhnya ia telah datang membawa penjelasan dari ALLAH, dan kami pun membenarkannya.’

Maka dikatakan kepadanya , ‘Atas keyakinan itulah kamu telah dihidupkan, dimatikan dan dibangkitkan kembali dengan seizin ALLAH.’

Kemudian kubur orang beriman itu pun diluaskan sepanjang 70 hasta dan diberikan lentera yang meneranginya, serta dibukakan untuknya pintu menuju Surga. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah apa yang telah ALLAH janjikan untukmu di Surga.’ Dengan begitu, bertambah-tambahlah keinginan untuk mendapatkan karunia (Surga) itu dengan penuh kegembiraan.

Maka ruhnya diletakkan di dalam burung hijau yang bertengger di pohon Surga, sedangkan jasadnya dikembalikan menjadi tanah. Dan itulah firman ALLAH : ” ALLAH meneguhkan iman orang-orang yang beriman dengan ucapan yang Teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” –  Al Quran, surat Ibrahim (14), ayat 27, (HR. Ibnu Hibban V/45 – Ath-Thabari XVI/596).

Abdurrazzaq meriwayatkan dari Thawus tentang firman ALLAH : “ALLAH meneguhkan iman orang-orang yang beriman dengan ucapan yang Teguh itu dalam kehidupan di dunia……” – Al Quran, surat Ibrahim (14), ayat 27,-  yaitu : kalimat Laa ilaha illallah, sedangkan firman ALLAH :   “……dan di akhirat.”, maksudnya : ketika menjawab pertanyaan dalam kubur. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir V/ 54, pstk Ibnu Katsir – Mushannaf Abdurrazzaq II/342).-

Sementara Qatadah berkata adapun “dalam kehidupan di dunia”, maka ALLAH meneguhkan orang-2 beriman dengan kebaikan dan amal perbuatan yang shalih. Sedangkan “di akhirat”  adalah ketika menjawab pertanyaan di dalam kubur, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh beberapa ulama terdahulu. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir V/ 54-55, pstk Ibnu Katsir – Ath-Thabari XV/602).- Wallahu a’lam.

Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk untuk shalat, lalu beliau melihat orang-2 seolah-olah mereka banyak tertawa, maka beliau mengatakan, “Seandainya kalian banyak mengingat penghancur kelezatan, niscaya itu telah menyibukkan kalian sehingga lupa terhadap apa yang aku lihat saat ini. Oleh karena itu, perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yakni kematian, karena tidaklah datang satu hari pun pada kubur melainkan ia mengatakan: ‘Aku adalah rumah sunyi. Aku adalah rumah seorang diri. Aku adalah rumah yang sunyi. Aku adalah rumah tanah. Aku adalah rumah belatung.’ Ketika seorang hamba mukmin dikuburkan, maka kubur mengatakan kepadanya, ‘Selamat datang! Sungguh kamu adalah orang yang paling aku cintai diantara orang yang berada di permukaanku. Jika kamu telah kembali kepadaku, maka kamu akan melihat apa yang aku perbuat untukmu.’ Maka diluaskanlah untuknya sepanjang mata memandang dan pintu Surga dibukakan untuknya. Sementara jika hamba pendurhaka atau kafir dikuburkan, maka kubur mengatakan kepadanya, ‘Tidak ada ucapan selamat datang. Sungguh kamu adalah orang yang paling aku benci dari antara orang-2 yang berjalan di permukaanku. Jika aku telah berpaling darimu hari ini, kamu kembali kepadaku, lalu engkau akan melihat apa yang aku lakukan terhadapmu.’  Maka ia menghimpitnya hingga bertemu dengannya dan tulang rusuknya berantakan.”  (HR.at-Tirmidzi).

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berkata : “Pada suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati salah satu kuburan di kota Madinah, lalu beliau mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kubur, lalu beliau bersabda, “Tahukah kamu bahwa kedua orang yang berada dalam kuburan ini sedang disiksa karena kesalahannya berat. Yang satu kerjaannya tukang fitnah (adu domba), sehingga menimbulkan permusuhan dimana-mana. Yang satu lagi tidak menjaga kebersihan dirinya dari air kencing (tidak cebok/ tidak menjaga najis).” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pelepah kurma yang masih basah, lalu dibelah dua. Sesudah itu ditancapkannya di atas kedua kuburan itu masing-masing sebelah.” Kemudian beliau bersabda : “Semoga siksaan mereka diringankan ALLAH, selama pelepah kurma itu masih basah.” (HR. Imam Muslim I, No. 239, hal 148).

Dari Aisyah radhiyallaahu anha, ia berkata, ‘Dua orang wanita tua Yahudi datang ke rumahku, lalu keduanya berkata, ‘Sesungguhnya ahli kubur itu disiksa dalam kuburnya’. Aku mendustakan ucapan mereka dan tidak mau mengatakannya. Setelah mereka keluar, Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa salam datang, lalu kuceritakan kepada beliau kedatangan kedua wanita tua Yahudi itu serta ucapan mereka yang mengatakan bahwa ahli kubur disiksa dalam kuburnya. Jawab Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa salam, “Mereka benar, memang ahli kubur itu disiksa, sehingga siksaannya itu terdengar oleh binatang ternak.” Kemudian Aisyah radhiyallaahu anha, ia berkata, “Semenjak itu kulihat beliau senantiasa berlindung dengan ALLAH dari siksa kubur dalam shalat.”  (HR. Imam Muslim I, No. 543, hal 285).

Maksudnya adalah Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa salam selalu berdoa mohon perlindungan dengan ALLAH dari siksa kubur dalam shalatnya pada saat tasyahhud akhir sebelum salam. Oleh karena itu Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa salam menganjurkan umatnya untuk senantiasa berdo’a memohon perlindungan kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala dari adzab kubur di setiap akhir tasyahhud sebelum salam ketika shalat :

“Allaahumma  inni  ‘auudzubika  min  ‘adzaabi  jahannam, wa min ‘adzaabil  qobri, wa min fitnatil mahyaa wal mamaati, wamin  syarri  fitnatil masiihiddajjal”

artinya :

Ya Allah, aku berlindung kepada-MU dari adzab Jahannam. Dari adzab kubur, dari fitnah hidup dan mati, serta dari kejahatan fitnah al-Masih ad-Dajjal (HR. Imam Muslim No.588, dari Sahabat ‘Abu Hurairah).

Beberapa do’a untuk berlindung dari adzab kubur yang juga diajarkan Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa salam sebagai berikut :

“Allahumma Innii  auudzubika minal jubni,  Wa  auudzubika minal bukhli,  Wa  auudzubika min an urodda ilaa ardzalil  ‘umur, Wa auudzubika min  fitnatid dunyaa, Wa ‘adzaabil qobri”

Artinya : “Ya ALLAH, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-MU dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-MU dari sifat kikir, dan aku berlindung kepada-MU dari dikembalikan kepada umur yang paling hina, serta aku berlindung kepada-MU dari fitnah dunia dan adzab kubur” (HR. Imam Bukhori No. 2822).

Allahumma Innii auudzubika minal ‘ajri, Wal kasal, Wa jubni, Wal harom, Wal bukhli, Wa auudzubika min ‘adzaabil qobri, Wamin fitnatil mahyaa Wal mamaati

Artinya : “Ya ALLAH, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-MU dari kelemahan, kemalasan, pengecut, pikun, dan kekikiran, dan aku berlindung kepada-MU adzab kubur serta dari fitnah kehidupan dan kematian” (HR. Imam Bukhori No. 2823 I HR. Imam Muslim No. 2706, dari Sahabat Anas radhiyallaahu ‘anhu).

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanhu wa Ta’ala, mohonlah perlindungan kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala dari adzab kubur di setiap akhir tasyahhud sebelum salam dalam setiap shalat kita, amalan2 shalih kita-lah yang akan menemani kita di kubur, dan ingatlah kehidupan dunia ini, ibarat seorang musafir yang hanya mampir sesaat untuk berteduh dibawah sebuah pohon, kemudian meneruskan tujuan perjalanannya yang panjang, yaitu perjalanan menemui ROBB-nya, untuk mempertanggung jawabkan seluruh amal perbuatannya selama di dunia.

Ya ALLAH, sesungguhnya kami memohon kepada-MU, karena segala puji hanya bagi-MU, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya ENGKAU, tidak ada sekutu bagi-MU, Yang Maha pemberi, wahai Pencipta langit dan bumi, wahai ROBB Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan, wahai ROBB Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, sesungguhnya aku memohon kepada-MU Surga dan aku berlindung kepada-MU dari Neraka. (HR.Sunan Abu Dawud No. 1495 – HR.Sunan an-Nasa’i III/52 – HR. Sunan Ibnu Majah No. 3858, dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu).

Mahasuci ENGKAU, ya ALLAH, aku memuji-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selainENGKAU, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-MU.

Bertakwalah kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala di mana pun kita berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian sharing ilmu yang bisa saya sampaikan, mudah2an sharing ini bermanfa’at dan mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi –  Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.