Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh,

Hisab

Adanya perhitungan amal (hisab) adalah benar menurut Al-Qur’an dan As-Sunah serta ij’ma para ulama dimana saat itu ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala memperlihatkan kepada hamba-hamba-NYA tentang amal-amal mereka, sebagaimana firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala:

Sesungguhnya kepada KAMI-lah mereka kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban KAMI-lah membuat perhitungan atas mereka.“(Al-Quran, surat Al-Ghaasyiyah, ayat 25-26).

Di dalam shalatnya Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam sering berdo’a : “Allahumma Haasibnii Hisaabaan yasiiraa“, artinya : “Ya ALLAH, hisablah diriku dengan hisab yang mudah.” Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma bertanya tentang apa yang dimaksud dengan “hisab yang mudah”  Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam menjawab :

ALLAH memperlihatkan kitab hamba-NYA kemudian ALLAH mema’afkannya begitu saja. Barangsiapa yang dipersulit hisabnya, maka ia akan binasa.” (HR. Imam Ahmad VI/48, 185 – HR. Imam al-Hakim I/255 – HR. Ibnu Abi Ashim dalam kitaabus Sunnah No. 885, di shahihkan oleh Imam al-Hakim dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi).

Sifat hisab bagi seorang Mukmin, yaitu ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala menyendiri dengan hamba-NYA yang Mukmin dan memperlihatkan dosa-dosa hamba-NYA, hingga ketika ia merasa bahwa ia akan binasa, ALLAH berkata kepadanya : “AKU tutup bagimu dosamu di dunia dan AKU mengampuni dosa-dosamu hari ini,” maka diberikan kepadanya kitab kebaikannya. Adapun orang kafir dan munafik, mereka dipanggil di hadapan seluruh makhluk, mereka adalah orang-orang yang berdusta atas nama ALLAH.

Kemudian ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan para saksi akan berkata : ‘Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap ROBB mereka.’ Ingatlah, laknat ALLAH ditimpakan kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Quran, surat Hud (11), ayat 18) – (HR. Imam Bukhori No. 2441 – HR. Imam Muslim No. 2768, dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma).

Sedangkan orang-orang kafir, mereka itu tidak dihisab sebagaimana dihisabnya orang yang dihitung kebaikan dan keburukannya, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang kafir tidak ada kebaikannya dan amal-amal mereka dihitung, lalu dibiarkan begitu saja dan mereka diadzab dengan sebab amalannya itu. (At-Tanbiihatul Lathiifah, hal 71).

Bahkan seluruh amalan baik orang kafir akan dijadikan seperti debu-debu yang beterbangan atau seperti fatamorgana dan tidak ada nilainya di sisi ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, seperti firman-NYA : “Dan KAMI hadapkan seluruh amal yang mereka kerjakan, lalu KAMI jadikan amal-amal itu bagaikan debu yang beterbangan,” (Al-Quran, surat Al-Furqon (25), ayat 23).

Dan firman-NYA : “Orang-orang yang kafir kepada ROBB-nya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan di dunia. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (Al-Quran, surat Ibrahim (14), ayat 18).

Juga firman-NYA : “Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan didapatinya ketetapan ALLAH di sisi-NYA, lalu ALLAH memberikan kepadanya perhitungan  amal-amalnya dengan cukup dan ALLAH sangat cepat perhitungan-NYA.” (Al-Quran, surat An-Nuur (24), ayat 39).

Perhitungan amal atau hisab ini dilakukan terhadap seluruh manusia dan ada di antara kaum Mukminin yang masuk Surga tanpa hisab, sebagaimana sabda Rosululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Tujuh puluh ribu orang akan masuk Surga tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan cara kay, tidak meminta diruqiyah, tidak bertathayyur dan hanya bertawakkal kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala semata” (HR. Imam Bukhori No. 7472 – HR. Imam Muslim No. 220 – HR. at-Tirmidzi No. 2446, dari Sahabat Innu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma).

Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, seperti yang ditulis oleh Abu Islam Ahmad bin Ali dalam bukunya yang berjudul “Perjalanan ke Akhirat…saat dijemput maut hingga tempat keabadian” , dikatakan bahwa tatkala manusia menginjakkan dua kakinya  di dunia ini, maka sebenarnya manusia tengah melakukan safar (perjalanan) besar menuju ROBB yang Maha Besar. Suatu perjalanan  dari dunia fana menuju akhirat yang abadi, suatu perjalanan terbesar yang pernah ada. Di dunia, perjalanan kita sangat singkat sekaligus sangat menentukan.

Oleh karena itu, marilah kita beramal shalih dengan ilmu (sesuai dengan syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dan dengan ikhlas karena ridha ALLAH semata) sehingga ketika kita menghadap ALLAH di hari Kiamat kelak untuk di-hisab (dihitung)  amal perbuatan kita, ada nilai dan menghasilkan banyak pahala karena mendapatkan ridha ALLAH.

Mahasuci ENGKAU, ya ALLAH, aku memuji-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar selain ENGKAU, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-MU.

Bertakwalah kepada ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala di mana pun kita berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, keluarga, para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut  Tabi’in dan mereka yang senantiasa setia dijalan-NYA yang lurus hingga hari Akhir.

Demikian yang dapat disampaikan, semoga sharing ini bermanfaat, mohon ma’af bila tidak berkenan.

Subhaanakallahumma Wabihamdika Astaghfirullah Wa atubu ilahi

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.