Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Masih ingat dengan Postingan saya yang berjudul “Sampai Kapan Mau Mendendam?“? yang pada intinya kita tidak boleh menyakiti diri sendiri dengan celurit dendam (bila Anda belum sempat membacanya, saya sarankan untuk membaca artikel tersebut). Postingan tersebut saya buat atas inspirasi yang diberikan oleh dua guru saya.

Namun ternyata masih ada yang kurang untuk di bahas, yaitu bagaimana cara memaafkan seseorang jika orang tersebut sudah terlanjur menyakiti kita?. “iya gw tau gw pengen maafin dia, tapi gw tetep ga bisa maafin dia, dia itu udah jahat sama gw“, “gw ga bisa maafin dia, perbuatan dia itu udah kebangetan banget ke gw, gw ga rela!!! pokoknya gw ga mau maafin dia”. Hehehe, sekilas perkataan seperti itu sangat lebay sekali bila kita perhatikan. Tetapi banyak sekali perkataan-perkaatan seperti itu yang muncul di sekitar kita, atau bahkan terjadi pada teman dekat kita atau keluarga kita.

Pada postingan saya sebelumnya, marah atau dendam itu ibaratnya menusukkan celurit ke tubuh kita sendiri, dan celurit itu tidak akan terlepas sampai kita sendiri yang melepasnya, celurit itu akan terus ikut bersama kita selama kita masih mendendam kepada orang. Akibatnya, darah akibat tusukkan celurit itu pun menetes perlahan, yang itu bisa kita analogikan seperti perasaan gelisah yang berkepanjangan.

Ingatlah bahwa luka akibat celurit tersebut tidak bisa kita tutup, sebelum kita melepas celuritnya. Maksudnya adalah kita tidak bisa menyembuhkan perasaan gelisah itu sampai kita bisa memaafkan orang lain. Tindakan seperti itu sangat amat melelahkan dan tidak ada hasilnya menurut saya. Yang terbaik adalah, lepas celuritnya… Dan mulailah sembuhkan luka nya secara perlahan.

Egoislah Dalam Memaafkan
Oke bila tiba-tiba Anda berkata “gimana cara melepas celurit yang baik?“, “gimana caranya memaafkan dengan mudah?“, di salah satu sesi WorkShop Mas Anrio Marfizal yang saya ikuti, Mas Anrio menyuruh saya dan teman-teman yang lain untuk egois dalam memaafkan. Loh kok egois?

Begini… Egois itu kan artinya lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain, lebih peduli terhadap diri sendiri daripada orang lain, betul kan? Nah jika kita lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain, jika kita lebih peduli terhadap diri kita sendiri, seharusnya kita memaafkan orang tersebut demi diri kita sendiri, karena kita sayang terhadap diri kita.

Kita egois (mementingkan diri sendiri) untuk lebih peduli terhadap diri sendiri, peduli bahwa jika terus-terusan mendendam itu tidak baik, hanya akan menyakitkan diri kita sendiri. Jadi egoislah dalam memaafkan. Insya Allah, Allah akan memampukan kita dalam memaafkan.

Bila kita mengerti bahwa diri kita lebih berharga dari apapun, tentu kita akan lebih menyayangi diri sendiri dengan cara melepaskan celurit tersebut, karena celurit tersebut adalah belenggu yang sangat amat menyakitkan. Bila kita sayang pada diri sendiri, kita akan lebih mudah memaafkan orang lain. Kita tidak ingin menyakiti diri sendiri dengan berlarut-larut dalam kebencian.

Antara Mau dan Tidak Mau
Mungkin di antara kita ada juga yang masih belum bisa memaafkan, “tapi kan tetep aja dia jahat banget sama aku”, “aku tetep ga bisa maafin dia, aku ga mau maafin dia sampai kapanpun! aku akan balas perbuatan dia” (ini lebay banget). Jika mungkin Anda adalah salah satu yang mirip dengan contoh di atas, mungkin masalahnya adalah Anda tidak benar-benar ingin untuk memaafkan, Anda memang tidak mau untuk memaafkan.

Itu adalah penyakit tambahan (setelah celurit tersebut menusuk perut kita). Sudah tau itu menyakitkan, tetapi kita tetap enak-enakan merasakan sakit tersebut. Kita tidak mau melepaskan celurit itu. Kita tidak mau memaafkan orang tersebut karena kita sudah nyaman dengan sakit yang kita derita. Ini namanya sudah kelewatan dan sungguh amat tidak sayang kepada diri sendiri. Hehehe

Jika memang kita mau untuk memaafkan, Insya Allah akan ada jalan, Insya Allah akan dimudahkan oleh-Nya. Banyak orang yang tidak bisa memaafkan hanya karena mereka tidak mau memaafkan. Gimana mau memaafkan, mereka aja tidak mau memaafkan. Hehehe

Kesimpulan

Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya. (H.R. Muslim, no. 4689)

Terus menerus berusaha menutup luka, tapi tidak pernah berhenti menyakiti diri sendiri adalah tindakan melelahkan dan sia-sia. – @PecanduHujan

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…