[Sharing Jum’at] Sakaratul Maut (Bagian II)

Judul Lengkap : Saat sakaratul maut dan apa yang terjadi di kubur? (Bagian III)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,


Al-Hafizh Abu Isa at-Tirmidzi rahimahullah telah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Apabila mayat (salah seorang dari kamu) telah dikuburkan, maka datanglah kepadanya dua Malaikat yang hitam kultnya dan biru matanya. Yang pertama bernama Munkar dan yang kedua bernama Nakir. Kedua Malaikat itu berkata, ‘Apa yang dahulu kamu katakan tentang laki-laki ini?’ Ia menjawab dengan apa yang dahulu ketika di dunia biasa ia katakan, ‘Dia adalah hamba dan utusan ALLAH, maka dari itu aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain ALLAH dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-NYA.’ Maka berkatalah kedua Malaikat itu, ‘Sungguh kami dahulu telah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu memang mengucapkannya.’ Kemudian atas jawaban itu, maka kuburnya pun diluaskan 70 hasta dan diberikan cahaya yang meneranginya. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Tidurlah.’ Orang itu berkata, ‘Kembalikanlah aku kepada keluargaku, supaya aku dapat memberitahu hal ini kepada mereka.’ Maka berkatalah kedua Malaikat itu, ‘Tidurlah bagai seorang pengantin yang tidak akan dibangunkan melainkan oleh yang dicintainya, yakni tidur dalam keadaan menyenangkan hingga ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala sendiri yang akan membangunkan (membangikitkannya) dari tempat pembaringan itu.’

Namun jika yang mati itu adalah seorang munafik, maka ia akan menjawab pertanyaan kedua Malaikat itu dengan katanya, ‘Aku dahulu mendengar orang-2 berkata tentangnya, dan aku pun berkata seperti ucapan mereka, namun aku tidak tahu.’ Maka berkatalah kedua Malaikat itu, ‘Sungguh kami telah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu memang mengucapkannya.’ Lalu diperintahkan kepada bumi, ‘Himpitlah orang ini.’ Maka bumi pun menjepitnya hingga tulang belulang orang munafik itu remuk. Dan senantiasa di dalam kubur ia disiksa sampai ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala membangkitkannya dari tempat pembaringan itu.” (HR. at-Tirmidzi No. 1071 – Ath-Thabari XVI/596).

Dalam riwayat lain, Imam Abd bin Humaid meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya apabila seorang hamba telah diletakkan di dalam kuburnya, lalu teman-2nya satu persatu meninggalkannya, dan sesungguhnya ia mendengar bunyi langkah kaki mereka, maka datanglah dua malaikat. Setelah mendudukannya kedua Malaikat itu berkata kepadanya, ‘Apa yang dahulu kamu katakan tentang laki-laki ini (Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam)?’ Jika dia orang Mukmin, maka ia akan menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa sesungguhnya ia adalah hamba dan utusan ALLAH.’ Atas jawaban itu, maka dikatakan kepadanya, ‘Pandanglah tempat tinggalmu di Neraka. Sesungguhnya ALLAH telah menggantikannya dengan tempat tinggal di Surga,’. Kemudian Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi Wa Sallam berkata, Maka ia pun melihat kedua tempat tinggal itu secara bersamaan.

Qatadah berkata, ‘Disebutkan kepada kami bahwa kubur orang yang beriman akan diluaskan sepanjang 70 hasta, lalu dipenuhi dengan taman-taman yang hijau hingga tiba saatnya hari Kiamat.’ (Al-Muntakhab, Abdulah bin Humaid No. 1178  – HR. Imam Muslim dari Abd bin Humaid – HR. Muslim No. 2870 – HR. an-Nasa’i  IV/97 dari Yunus bin Muhammad  al- Mu-addib – HR. at-Tirmidzi No. 1071 –  Shahih Tafsir Ibnu Katsir V/48-49, pstk Ibnu Katsir).

Dan dalam riwayat hadits yang cukup panjang, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari al-Bara bin Azib, ia berkata, “Kami pernah keluar bersama Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam untuk menghadiri pemakaman seorang laki-laki dari al-Anshar. Setelah tiba di kuburan, dan mayat belum dimasukkan ke liang lahad, Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam duduk, dan kami pun duduk di sekitarnya. Seakan-akan di atas kepala kami ada burung, yakni begitu hening dan terdiam karena menghormati keberadaan beliau. Sambil memegang sebuah ranting Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam menggores-gores tanah dengan ujungnya (seperti orang yang sedang serius berpikir), tak lama kemudian beliau mengangkat kepalanya seraya berkata, “Berlindunglah kepada ALLAH dari siksa kubur“, beliau mengucapkan dua atau tiga kali. Lalu beliau  bersabda, “Sesungguhnya, apabila seorang hamba yang beriman akan pergi meninggalkan dunia menuju negeri akhirat, maka turunlah dari langit beberapa Malaikat berwajah putih bagaikan matahari membawa kain kafan dan hanuuth (ramuan) dari Surga. Hingga duduk di dekatnya, sedang jumlah mereka sejauh mata memandang. Kemudian datanglah Malaikat maut lalu duduk di samping kepalanya. Malaikat maut berkata, ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan dari ALLAH.’ Maka keluarlah ruh orang beriman itu bagaikan tetes air yang keluar dari mulut wadah air (dari kulit) dan disambut oleh Malakat maut. Seketika itu pula para Malaikat yang ada di dekatnya, langsung mengambil dan meletakkan ruhnya ke dalam kafan yang ada hanuuth tersebut dengan menebarkan semerbak kesturi yang paling wangi di seluruh penjuru dunia. Kemudian mereka naik membawanya. Setiap melewati sekelompok Malaikat, mereka bertanya, ‘Ruh siapakah yang sangat wangi ini?’ Maka para Malaikat yang mengiringinya pun menyebutkan nama orang beriman itu dengan nama yang paling baik yang pernah diberikan oleh manusia semasa ia masih di dunia.

Setibanya di langit pertama, Malaikat pengiring meminta dibukakan pintu. Lalu dibukakan untuknya, kemudian secara bersama-sama, mereka mengantarkannya ke langit berikutnya, hingga ruh tersebut tiba di langit ke tujuh. ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman, ‘Tulislah catatan hidup hamba-KU ini di dalam Surga Illiyyin (tempat yang paling tinggi), lalu kembalikanlah ia ke bumi. Karena sesungguhnya AKU telah menciptakan mereka manusia dari tanah dan akan mengembalikannya lagi menjadi tanah. Setelah itu, AKU akan mengeluarkannya kembali dari tanah untuk yang kedua kalinya.’

Setelah ruh itu dikembalikan lagi ke dalam jasadnya, datanglah dua Malaikat. Kedua Malaikat itu mendudukannya seraya bertanya, ‘Siapa ROBB-mu?’  ‘ALLAH adalah ROBB-ku, jawab orang yang beriman itu.’   ‘Dua Malaikat itu bertanya lagi, apa agamamu?’  ‘Islam agamaku, jawabnya.’   ‘Dua Malaikat bertanya lagi, siapakah laki-laki yang diutus kepada kamu?’    ‘Dia adalah Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, jawabnya.’   Dua Malaikat itu bertanya lagi, dari mana kamu mengenalinya?’   ‘Aku telah membaca Kitab ALLAH, lalu aku beriman dan membenarkannya, jawabnya.’

Maka terdengarlah suara dari langit, ‘Sungguh telah benar hamba-KU, siapkanlah untuknya permadani dari Surga, berikanlah ia pakaian dari Surga dan bukakanlah untuknya pintu menuju Surga.’
Lalu angin dan harum Surga mendatanginya, datang dari pintu itu. Kemudian kuburnya diluaskan seluas mata memandang. Dan tak lama kemudian, datanglah seorang laki-laki tampan berpakaian indah, menebarkan wangi semerbak. Ia berkata : ‘Bergembiralah dengan orang yang akan membuatmu senang, ini adalah harimu yang dahulu dijanjikan untukmu.’  ‘Siapakah kamu, wajahmu seperti membawa kabar baik? Tanya orang beriman itu.’   ‘Aku adalah amal shalihmu, jawabnya.’  ‘Orang beriman itu pun berkata, Wahai ROBB-ku, bangkitkanlah hari Kiamat wahai ROBB-ku, bangkitkanlah hari Kiamat,  agar aku dapat kembali kepada keluargaku dan harta-hartaku.’

Kemudian Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, melanjutkan sabdanya, ‘Dan sesungguhnya seorang hamba yang kafir apabila dalam keadaan sakaratul maut dan menunggu saat tibanya pulang ke negeri akhirat, maka turunlah beberapa Malaikat dari langit yang berwajah hitam membawa kain dari bulu yang kasar. Lalu mereka duduk di dekatnya, sedang banyaknya sejauh mata memandang. Lalu datang pula Malaikat maut dan duduk di samping kepalanya.

Malaikat maut berkata, ‘Wahai jiwa yang kotor, keluarlah menuju kemarahan dan kemurkaan ALLAH.’ Maka mendengar ucapan itu, ruh orang kafir itu bercerai berai dalam tubuhnya. Lalu Malaikat maut mencabutnya dari jasadnya bagaikan mengeluarkan besi dari kain wol yang basah.

Maka seketika itu pula para Malaikat yang duduk di dekatnya langsung mengambil dan meletakkannya ke dalam kain kasar tersebut. Lalu ruh itu menebarkan bau bangkai yang lebih busuk dari bau bangkai apa pun di dunia. Kemudian para Malaikat naik membawanya menuju langit. Setiap melewati sekelompok Malaikat, mereka bertanya, ‘Ruh siapakah yang sangat busuk ini?’  Maka para Malaikat yang mengiringnya pun menjawab seraya menyebutkan nama yang paling buruk yang dahulu diberikan untuknya selama di dunia.

Setibanya di langit dunia, maka pintu langit diminta untuk dibuka, namun tidak dikabulkan. Lalu Rosululloh Shallallahu Alaihi Wa Salam membaca firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala : “Sekali-kali tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum (mustahil).” (Al Quran, surat Al-Araaf (7), ayat 40).

Maka ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman, ‘Tulislah catatan hidupnya di dalam Neraka Sijjin di kerak bumi yang paling dasar.’ Kemudian ruhnya dilemparkan ke bumi, lalu Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam membaca firman ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala lagi, “Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan ALLAH, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Al Quran, surat Al-Hajj, ayat 31).

Setelah ruh itu dikembalikan ke jasadnya, maka datanglah dua Malaikat yang kemudian mendudukkannya seraya berkata kepadanya, ‘Siapa ROBB-mu?’  ‘Hah, hah, aku tidak tahu,’ jawab orang kafir itu.  Dua Malaikat itu bertanya lagi, ‘Apa agamamu?’   ‘Hah, hah, aku tidak tahu,’ jawab orang kafir itu.  Dua Malaikat itu kembali bertanya, ‘Siapakah laki-laki yang diutus kepada kamu?’   ‘Hah, hah, aku tidak tahu,’ jawab orang kafir itu.
Maka terdengarlah seruan dari langit, ‘Sungguh dia telah berdusta, siapkanlah permadani dari Neraka untuknya, dan bukakanlah untuknya pintu menuju Neraka.’

Maka datanglah kepadanya dari pintu Neraka itu hawa panas, lalu kuburnya disempitkan hingga tulang-belulangnya menjadi remuk. Kemudian datanglah seorang laki-laki berwajah jelek, berpakaian buruk dan berbau busuk. Laki-laki itu berkata, ‘Bergembiralah dengan orang yang akan menyusahkanmu, inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu.’  
‘Siapakah kamu, wajahmu seperti membawa keburukan?’ Tanya orang kafir itu.  ‘Aku adalah perbuatan jahatmu,’ jawab laki-laki itu.
Orang kafir itu pun berkata, ‘Wahai ROBB-ku, jangan ENGKAU segerakan hari Kiamat.’” (HR. Imam Ahmad IV/287 – HR. Imam Abu Dawud III/546 – HR. Imam an-Nasa’i  IV/78 – HR. Imam Ibnu Majah I/494 – lihat al-Musnad No. 18534 – XXX/5030 – Shahih Tafsir Ibnu Katsir V/41-42-43-44-45-46-47-48, Pstk Ibnu Katsir).

Bersambung ke Bagian IV…