Judul Lengkap : Saat sakaratul maut dan apa yang terjadi di kubur? (Bagian I)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,

Segala puji hanya milik ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, kita memuji, meminta pertolongan dan memohon pengampunan kepada-NYA, dan kita berlindung kepada ALLAH dari keburukan diri dan kejahatan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk, tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh-NYA, tidak akan ada pula yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada DZAT yang berhak diibadahi kecuali ALLAH, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu Rosululloh Shallallahu’Alaihi Wa Salam.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Hai manusia, bertaqwalah kepada ROBB-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan ALLAH ciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya (Adam), dan dari keduanya ALLAH memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada ALLAH yang dengan nama-NYA kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi (kekeluargaan). Sesungguhnya ALLAH selalu menjaga dan mengawasimu.


Kaum muslimin yang dirahmati ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala, sharing ilmu agama kali ini berjudul Saat sakaratul maut dan apa yang terjadi di kubur?, judul ini diambil bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, namun semata-mata untuk dakwah ataupun menyampaikan kebenaran yang datang dari ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala dan Rosul-NYA dimana hal ini adalah kepastian yang akan dialami oleh setiap insan manusia sehingga di-tengah-tengah kesibukkan kita, kita harus selalu ingat bahwa “Hidup ini adalah perjalanan menuju akherat dan alam kubur adalah tempat transit menuju kehidupan akhirat, yaitu kehidupan yang sesungguhnya“.

Saat Sakaratul Maut…

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfrman :

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. KAMI akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada KAMI – lah kamu dikembalikan.” (Al Quran, surat Al-Anbiyaa’ (21), ayat 35).

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala mengabarkan kepada segenap makhluk-NYA bahwa semua yang ada di bumi itu akan binasa dan ALLAH akan menguji manusia, kadang dengan musibah-musibah, dan kadang dengan berbagai nikmat. Lalu KAMI lihat, siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa. Sebagaimana kata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘Anhuma maksudnya memberi cobaan kadang dengan kesulitan dan kadang dengan kelapangan, kadang sehat dan kadang sakit. ALLAH Ta’ala mencoba pula dengan kekayaan dan kemiskinan, dengan halal dan haram, dengan ketaatan dan kedurhakaan, dan juga dengan petunjuk dan kesesatan. Dan semua itu akan ALLAH berikan balasan kepada semua manusia lantaran amalan-amalannya. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir IV/25-26, pstk Ibnu Katsir).

Imam ath-Thabrani telah meriwayatkan dalam kitabnya al-Mu’jamul Kabiir dari Samurah, ia mengatakan bahwa Rosululloh Shallallaahu Alaihi Wa Salam, bersabda :

Perumpamaan orang yang lari dari kematian sama seperti pelanduk yang dituntut oleh bumi untuk membayar hutang, maka pelanduk itu keluar berusaha lari dan manakala telah letih dan kecapaian karena tidak tidur malam, ia masuk ke dalam liangnya, lalu bumi berkata kepadanya, ‘Hai pelanduk, bayarlah hutangku.’ Maka ia pun keluar dengan penuh ketakutan. Ia terus-menerus dalam keadaan demikian hingga urat lehernya terputus dan mati.” (HR. ath-Thabrani  VII/227) – Shahih Tafsir Ibnu Katsir VIII/510, pstk Ibnu Katsir).

Yang hendak disampaikan pada perumpamaan ini adalah bahwa pelanduk tersebut tidak akan bisa terlepas dari bumi, sama seperti manusia yang tidak akan terlepas dari kematian.

ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfrman :

Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu  lari daripadanya.” (Al Quran, surat Qaaf (50), ayat 19).

Maksudnya ALLAH akan tampakkan kepadamu dengan meyakinkan apa yang selama ini kamu ragukan, yaitu kematian yang selama ini kamu lari darinya, ia akan datang menjemputmu, sehingga tidak ada jalan untuk melarikan diri darinya.  (Shahih Tafsir Ibnu Katsir VIII/509-510, pstk Ibnu Katsir).

Bahkan pada saat yang mulia Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam akan wafat, dikisahkan dari Aisyah radhiyallahu ‘Anhu, ia mengatakan :

Di hadapan Rosululloh terdapat wadah berisikan air, lalu beliau memasukkan kedua tangannya di air lalu mengusapkannya pada wajahnya seraya berucap, ‘Laa ilaaha illallaah, sesungguhnya kematian itu memilki  sekarat’. Kemudian beliau menegakkan kedua tangannya seraya berucap,  ‘ilar Rafiiqil A’laa  (bersama teman yang tinggi),’ hingga beliau meninggal.” (HR. Imam Bukhori No. 4449) – Fat-hul Baari XI/369).

An-Nawawi mengatakan dalam Syarah Muslim, pendapat yang shahih yang dianut jumhur ulama bahwa yang dimaksud dengan ilar Rafiiqil A’laa ialah para Nabi yang mendiami Surga tertinggi, ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud ialah berteman Surga, Wallahu a’lam.

Dalam shahih al-Bukhori juga disebutkan :

Tatkala Rosululloh merasa berat menghadapi sakaratul maut, maka kesusahan itu membuat beliau pingsan sehingga Fatimah mengatakan, ‘Duhai susahnya ayahku!’, maka beliau mengatakan, ‘Tidak ada kesusahan lagi menimpa ayahmu setelah hari ini’.” (HR. Imam Bukhori No. 4449) – Fat-hul Baari XI/369).-

Ada beberapa riwayat hadits yang dikutip dari kitab Perjalanan ke Akhirat… saat dijemput maut hingga keabadian, oleh Abu Islam Ahmad bin Ali :

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu mengatakan :

Wahai Ka’b, ceritakan kepadaku tentang kematian.” Baik, wahai Amirul Mukminin, kematian itu seperti ranting yang banyak durinya yang dimasukkan ke dalam rongga seseorang, lalu masing2 duri menancap pada urat, kemudian seseorang menariknya dengan keras, sehingga mengambil apa yang diambil dan membiarkan apa yang dibiarkan.

Diriwayatkan bahwa tatkala Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam meninggal, ALLAH bertanya kepadanya, “Bagaimana engkau merasakan kematian?” Ia menjawab, “Seperti duri yang diletakkan di wol basah kemudian ditarik.” ALLAH mengatakan, “Padahal AKU telah meringankan atasmu.

Dari Nabi Musa ‘Alaihi Wa Salam bahwa tatkala ruhnya telah sampai kepada ALLAH Azza Wa Jalla, maka ALLAH bertanya kepadanya, “Wahai Musa, bagaimana engkau merasakan kematian?” Ia menjawab, “Aku merasakan diriku seperti kambing hidup di tangan orang yang sedang menguliti.

Diriwayatkan dari Aslam Maula, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, :

Jika seorang mukmin masih memiliki suatu dosa yang belum dihapuskan oleh amalnya, maka diberatkan kematiannya agar dengan sakaratul maut dan kesusahannya itu, ia mencapai derajatnya di Surga. Dan orang kafir jika perbuatannya baik di dunia, maka diringankan kematiannya agar sempurnalah balasan kebaikannya di dunia, kemudian ia kembali ke Neraka.”

Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam bersabda, :

Penyakit itu seluruhnya adalah pengantar dan utusan kematian. Jika ajal telah tiba, maka Malaikat maut datang sendiri seraya mengatakan, ‘Wahai hamba, sudah berapa banyak berita, utusan dan pengantar yang datang. Akulah berita terakhir, tidak ada berita lagi sesudahku. Akulah utusan terakhir, tidak ada lagi utusan sesudahku. Penuhilah panggilan ROBB-mu, baik dengan suka rela maupun terpaksa.’ Ketika nyawanya telah dicabut dan mereka keluarganya menangisnya, maka Malaikat maut mengatakan, ‘Kepada siapa kalian berteriak? Dan kepada siapa kalian menangis? Demi ALLAH, aku tidak menzhalimi ajalnya, dan aku tidak memakan rizkinya, tetapi ROBB-nya telah memanggilnya. Silahkan orang yang menangisi dirinya sendiri. Karena aku datang kepada kalian berulang-ulang hingga aku tidak menyisakan seorang pun dari Kalian.‘” (Al-Wasiith, al-Wahidi dengan sanadnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma).

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam, beliau bersabda, :

Sesungguhnya ALLAH masih menerima taubat seorang hamba selama nafasnya belum sampai di tenggorokan.‘” (HR.Ibnu Majah – HR. at-Tirmidzi).

Bersambung ke Bagian II…