Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Disadari atau tidak, hidup kita di dunia ini seperti sebuah cerita di dalam film, seperti sebuah cerita di dalam serial sinetron belaka. Banyak peran, banyak kejadian yang terjadi, banyak kisah yang belum terjadi, dan banyak cerita yang sudah terjadi. Banyak orang juga bilang kepada kita, bahwa dunia ini tidak lebih dari sebuah panggung sandiwara, dan Sutradara Terbaik atas panggung sandiwara ini adalah ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala, yang Maha Mengatur dan Maha Menentukan setiap detail kisah yang terjadi.

Jika memang dunia ini, tempat kita tinggal memang benar adalah sebuah panggung sandiwara, pastilah kita ini memiliki sebuah peran yang menggambarkan karakter tersebut. Peran yang dipilihkan kepada kita, peran yang harus melakukan sesuatu, peran yang dipilihkan untuk suatu tujuan. Dan kita masing-masing memegang peran penting atas sandiwara yang terjadi di dunia ini.

Sebuah Peran

Sebuah Peran

Sebagai contoh, jika kita sekarang diperankan oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala sebagai seorang Mahasiswa/i, maka kita harus melakukan peran itu dengan sebaik-baiknya, dengan sepatuh-patuhnya, dengan penuh hati tanpa adanya paksaan. Ada kalanya di awal kita dituntut untuk memilih peran kita masing-masing, seperti pada saat lulus SMA, kita mau berperan sebagai pekerja (langsung kerja tanpa kuliah) atau kita mau berperan sebagai Mahasiswa/i.

Setelahnya, peran kita yang diamanahkan oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala adalah peran utama di kehidupan kita, status kehidupan kita sekarang adalah Mahasiswa/i. Maka sudah sepantasnya kita melakukan peran itu dengan sebaik-baiknya, dengan penuh kehati-hatian. Agar sang Sutradara tidak mengeluarkan kita dari peran tersebut. Itu analogi sederhana nya.

Saat sudah lulus kuliah nanti, tentunya peran kita pun berganti, ada yang menjadi pebisnis, ada yang menjadi pekerja, ada yang menjadi Ibu rumah tangga, ada pula yang pengangguran (ini termasuk peran). Sangatlah penting untuk mengetahui peran kita saat ini, agar menjadi penguat diri, motivasi untuk mengetahui sekarang kita berada di posisi apa, di peran apa.

Jika memang kita sudah memiliki peran di dunia ini, tidak seharusnya kita menduakan peran utama kita ini, tidak seharusnya kita menomorduakan peran utama kita, tidak seharusnya kita bermalas-malasan untuk peran kita ini. Karena peran yang kita lakukan ini adalah bentuk ibadah kepada-Nya atas kepatuhan kita terhadap perintah-Nya.

Peran Yang Berubah
Peran akan selalu berganti layaknya sebuah judul film sinetron di televisi, atau bisa jadi peran tersebut akan dilanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Sebagai contoh, di televisi ada film berjudul (contoh aja nih, bukan beneran ya) “Cinta Dia”, kemudian setelah film tersebut habis atau tamat, maka sang pembuat film tersebut berhak melanjutkan versi ke-2 dari film tersebut atau menyudahi nya (peran nya sudah habis). Jika ada lanjutannya, katakanlah judulnya (sekali lagi, ini cuma contoh aja ya) “Cinta Dia 2”, maka bisa saja peran seseorang di film tersebut akan berubah.

Sama seperti sewaktu kita masih kecil, kita diperankan oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala sebagai orang yang harus sekolah TK terlebih dahulu, setelah itu peran kita berganti menjadi anak SD yang otomatis lebih tinggi tingkatannya dari anak TK tadi. Semua itu sudah di atur dengan detail oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Kesimpulan
Apapun peran yang diberikan oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala kepada kita, terima-lah itu dengan senang hati, dengan penuh kesabaran, dengan penuh perjuangan, sebagai langkah untuk menuju ke peran berikutnya sampai waktunya peran kita di hentikan oleh-Nya.

Boleh saja jika kita mempunyai peran lain atas peran utama kita, tetapi alangkah lebih baiknya jika kita tidak melupakan peran utama kita sekarang. Karena peran utama kita sekarang itu langsung di amanahkan kepada kita, sehingga kita harus menjalani nya dengan penuh kesenangan.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…