Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“Payungnya Pak…”

“Pak… Payungnya Pak…”

“Pak Stasiun Pak, Payungnya…”

Terdengarlah suara anak separuh baya yang ukuran tubuhnya jauh lebih pendek dari panjang payung yang mereka pegang, namun usaha untuk bekerja demi mendapatkan recehan tetap mereka lakoni sebagaimana mestinya walau taruhannya mereka harus berbasah kuyup dan kehilangan payungnya untuk disewakan kepada orang yang kehujanan.

Deras hujan semakin lama semakin menjadi… Banyak suara klakson terdengar dari mobil Angkutan Umum berwarna hijau yang saling tidak sabar untuk segera mendapatkan penumpangnya. Tertulis di sana “03”, Angkutan jurusan Bubulak – Baranangsiang. Tidak satu orangpun terlewat untuk mereka tawari menyewa payungnya, namun nasib tidaklah mujur, mereka masih saja berdiri di depan tempat perbelanjaan yang tepat bersebrangan dengan Stasiun Bogor.

Saya yang beberapa waktu yang lalu baru saja keluar dari Angkutan Umum 03, sepulang dari daerah Cimande, langsung berlari ke tempat perbelanjaan tersebut untuk meneduh, meskipun akhirnya rintikan hujan membasai sebagian baju saya, dan sebagai korbannya sendal saya pun ikut basah karena genangan air tersebut. Terlihat banyak orang di sana yang mempunyai tujuan yang sama dengan saya, karena hujan semakin derasnya.Termpat perbelanjaan tersebut dipadati banyak orang bukan karena tempat itu sedang mengadakan diskon besar-besaran, melainkan banyaknya orang yang meneduh karena takut basah kuyup akibat hujan.

Sambil melihat pemandangan sekitar, saya melihat salah seorang lelaki muda mengenakan pakaian yang jika dilihat dari jauh, pasti kita sudah bisa menebak bahwa itu adalah kaos band yang sering di jual di stasiun-stasiun atau tempat pedagang kaki lima.

“Ah… Pemandangan yang sudah tidak asing lagi ini sih” ujar saya dalam hati

sampai saat itu saya lengah sekitar 5 menit sambil memandangi Angkutan Umum, Hujan, Ojek Payung dan kondisi sekitar

“Kenapa jadi banyak yang pake kaos band yang sama?” sambil heran karena baru sadar

Terlihat jelas ada beberapa teman-temannya yang memakai kaos band tersebut yang sama, dengan warna yang sama pula, dan dengan bentuk yang sama. Mereka bercanda satu sama lain, terdengar tawa mereka dengan jelas meskipun suara hujan yang amat besar. Setelah saya sadar, ternyata orang-orang tersebut bertujuan untuk menonton konser band idola nya… Sambil terlihat pula banner yang mereka buat dan mereka tunjukkan di depan umum.

Pemandangan tersebut membuat saya berfikir sejenak… “Kenapa mereka-mereka itu sampe bela-belain ujan-ujanan demi nonton konser idola mereka, yang sebenarnya kerugiannya jauh lebih banyak daripada keuntungannya?” Mereka rela hujan-hujanan, rela meneduh dan menunggu untuk waktu yang sangat lama hanya untuk menonton band idola mereka. Sambil melihat ke arah belakang, ternyata ada beberapa wanita berkerudung yang rela ikut hujan-hujanan bersama temannya. Dan lagi-lagi, baju yang sama yang saya lihat dengan beberapa orang sebelumnya.

Sebuah fenomena yang menurut saya kurang pas untuk ditempatkan pada kenyataan yang ada. Saat idola mereka sudah digantikan dengan pemain band, dengan artis, dengan Public Figure lainnya. Yang seharusnya mereka mengidolakan orang yang benar-benar memberi contoh yang baik bagi kemajuan umat manusia.

Tidak salah memang mengidolakan mereka, tetapi akan menjadi sebuah kesalahan jika mengidolakan seseorang yang belum pasti benar tersebut secara berlebihan, bahkan sampai rela hujan-hujanan pula! Bahkan ada pula yang rela membayar mahal untuk suatu pertunjukkan yang hanya berlangsung selama 1 jam saja, demi hanya melihat idola nya (padahal melihatnya dari jauh).

Mereka-mereka yang bersenang-senang di sana telah kehilangan idola asli mereka, idola awal mereka. Idola yang benar-benar patut menyandang gelar “Idola Seluruh Zaman”, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Saat mereka rela hujan-hujanan untuk bertemu sang idola mereka, apakah mereka akan rela untuk hujan-hujanan pula untuk bertemu Rasulullah SAW?

Saat mereka rela membayar mahal untuk bertemu sang idola mereka, apakah mereka akan rela pula mengeluarkan uang untuk bertemu Rasulullah SAW?

Saat mereka rela untuk berjalan jauh untuk bertemu sang idola mereka, apakah mereka akan rela pula berjalan jauh untuk bertemu Rasulullah SAW?

Yang tentunya bagi kita, derajat Rasulullah SAW itu jauh lebih-lebih tinggi daripada mereka yang di idolakan oleh orang-orang tersebut, jauh lebih-lebih mulia daripada mereka yang sering di idolakan oleh kaum muda-mudi. Tetapi mengapa faktanya sekarang berbalik?


Hanya kesadaran hati-lah yang dapat menjawabnya, hati yang benar-benar yakin akan idola sesungguhnya, yakni Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, hati yang benar-benar sadar tentang apa yang kebanyakan saat ini terjadi justru lebih banyak nilai-nilai negatifnya daripada nilai positifnya.

Silahkan kita jawab dengan pikiran terbuka, dengan akal dan hati yang penuh kesadaran…

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…