Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Saat masih SMA, guru saya yang bernama Pak Hanura Weldi, di sela-sela waktu mengajar Bahasa Inggris nya tiba-tiba memberi nasihat yang sampai sekarang masih saya ingat selalu. Tentang sebuah jalan setapak yang terbentuk akibat rerumputan yang layu, yang akhirnya mati dan kemudian menjadi jalan setapak. Tanpa sadar, nasihat itu sampai sekarang masih melekat di benak saya ketika motivasi hidup saya menurun karena suatu hal baru yang susah untuk dipelajari.

Intinya segala sesuatu di hidup ini butuh proses, apapun itu. Bahkan nafas sekalipun yang kita anggap instant itu sebenarnya butuh proses, bedanya proses itu cepat. Tetapi yang jelas, apapun itu memang harus butuh proses, hanya masalah waktu yang akan memberikan hasil yang telah kita lewati. Sama seperti rumput yang lama kelamaan menjadi jalan setapak.

Rerumputan Yang Menjadi Jalan Setapak

Rerumputan Yang Menjadi Jalan Setapak

Pada awalnya rumput tersebut memang lebat dan terus tumbuh. Tetapi rumput tersebut lama kelamaan akan berubah bentuk jika kita terus melewati rumput tersebut setiap harinya, kita injak-injak, kita lewati. Yang akhirnya rumput tersebut menjadi layu, lama kelamaan rumput tersebut mati dan tidak berbekas. Yang tadinya rumput lebat dan banyak tersebut sekarang sudah menjadi sebuah jalan setapak karena sebuah proses mondar-mandir tersebut.

Sama halnya ketika kita mencoba sesuatu yang baru, entah itu ilmu atau suatu pelajaran. Jika kita terus mencoba mondar-mandir di ilmu tersebut, lama kelamaan ilmu itu akan menjadi sebuah jalan yang kita temukan sendiri, yang kita kalahkan. Bahkan ilmu tersebut (yang digambarkan sebagai jalan) bisa berguna untuk jalan orang lain pula, yang bisa kita share kepada orang lain.

Akan tetapi lain ceritanya jika kita hanya lewat rumput itu sesekali saja, jangan harap untuk menemukan sebuah jalan setapak yang baru. Malahan rumput tersebut tidak akan layu, karena hanya dilewati oleh kita sesekali saja. Begitupun dengan sesuatu hal yang kita coba, jika kita hanya sesekali melewati ilmu tersebut (dalam arti hanya sekilas tau saja, tidak di pahami) ya tentunya tidak ada jalan yang berbekas.

Kesimpulan
Ingatlah bahwa rumput yang telah kita injak dan mati akan meninggalkan bekas (menjadi jalan setapak) yang terus akan melekat jika kita terus mondar-mandir di sana. Itu bisa kita analogikan sebagai sebuah ilmu yang terus melekat di pikiran kita dan tidak pernah akan bisa kita lupakan karena kita pernah menghargai proses mondar-mandir nya itu.

Dengan menghargai sebuah proses yang ada, dan mau sedikit konsisten untuk bisa memenuhi proses tersebut, Insya ALLAH akan terbentuk suatu hal yang baru di hidup kita, entah itu ilmu, kebiasaan, ataupun hal lainnya yang intinya adalah menghargai proses dan konsisten.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…