Pada Postingan kali ini, Saya akan memberikan 2 pengalaman Saya yang Saya dapatkan dari 2 guru Saya yang tentunya berbeda. Pengalaman yang pertama, Saya dapatkan dari guru SMA Saya, namanya Bapak Hanura Weldi. Guru Bahasa Inggris SMA Saya yang saat mengajar lebih banyak sharing tentang kehidupan dan Agama Islam dibanding Mata Pelajaran Bahasa Inggrisnya. Hehehe

Pengalaman yang kedua, Saya dapatkan saat Saya mengikuti Wokshop “Non Physical Giving is Forgive” nya Mas Anrio Marfizal bersama sahabat Saya, yaitu Khalid Abdullah. Pada Workshop itu banyak sekali ilmu yang Saya dapatkan tentang begitu pentingnya memaafkan, tentang sebuah pemberian yang tidak berupa fisik itu sebenarnya adalah memberi maaf. Benar-benar ilmu yang sangat langka.

Walaupun pengalaman yang Saya dapatkan berasal dari 2 guru yang berbeda, namun pada intinya pengalaman yang Saya dapatkan itu hampir sama. Inti dari Pengalaman itu adalah, bagaimana kita menjadi orang yang pemaaf setiap saat, bagaimana kita membuang sifat dendam kita, dan bagaimana kita melepaskan rasa marah kita kepada orang lain.

Nasihat dari Pak Hanura Weldi
Suatu siang, Saya berkesempatan mengobrol santai dengan Guru SMA Saya di depan pintu masuk SMA Saya bersama dengan murid SMA lainnya. Pada saat itu juga, beliau sedang sharing ilmu tentang keburukan mendendam. Beliau kemudian mengisahkan 2 orang, katakanlah si A dan si B. Si A marah kepada si B (entah karena apapun), sampai berhari-hari, tetapi B tidak mengetahui kalau si A itu ternyata marah kepada B. Karena memang benar-benar tidak tahu, akhirnya si A pun setiap harinya diselimuti perasaan kesal, marah dan dendam kepada B.

Pada saat itu, Pak Hanura Weldi menggambarkan betapa tidak berguna nya rasa dendam si A kepada si B, karena rasa dendam itu sebenarnya hanya akan menyakiti diri si A sendiri. Betapa menderita nya si A karena mendendam kepada si B. Sementara itu, si B sedang enak-enakan di rumah, tidur nyenyak, makan enak.

Dari cerita singkat di atas, bisa kita ambil sedikit kesimpulan, bahwa efek buruk dari mendendam itu sebenarnya hanya akan merugikan diri si yang mendendam, hanya akan menyakiti diri sendiri. Sementara orang yang di dendamnya mungkin saja sedang enak-enakan dan berlibur.

Nasihat dari Mas Anrio Marfizal
Nasihat dari Mas Anrio Marfizal ini agak sedikit mirip dengan Nasihat dari Pak Hanura Weldi. Mas Anrio Marfizal menggambarkan bahwa orang yang mendendam, kesal dan marah itu ibarat seseorang yang dengan sengaja menusukkan celurit ke perutnya. Tentu saja itu akan sangat sakit sekali, terlebih yang melakukan adalah dirinya sendiri.

Dan… Celurit itu tidak akan pernah terlepas, kecuali orang itu sendiri yang melepasnya. SubhanAllah! Nasihat yang sangat masuk akal sekali dan benar-benar sangat mengena di hati Saya.

Jadi intinya adalah, orang yang mendendam itu tidak akan bisa menghapus rasa dendamnya sebelum dia sendiri yang menghapus dendam itu dari dirinya. Celurit yang tadi dimaksud adalah dendam, benda tajam yang sangat amat berbahaya.

Mas Anrio Marfizal juga mengajarkan bagaimana cara melepaskan celurit itu. Caranya adalah dengan tidak menariknya terburu-buru, tapi dengan pelan-pelan… Kemudian baru sembuhkan bekas luka dari celurit tersebut.

Maksudnya adalah, untuk menghapuskan dendam memang tidak mudah, harus dilakukan pelan-pelan dan hati-hati. Setelah dendamnya terlepas dari diri, maka kita dianjurkan untuk mengobati luka akibat dendam tersebut (memaafkan dengan penuh hati)

Inti Nasihat
Inti dari Nasihat Pak Hanura Weldi dan Mas Anrio Marfizal adalah, bahwa sebaiknya kita menghindari sifat dendam kita terhadap orang lain, kadangkala memang rasa marah itu ada, tetapi jangan sampai rasa marah itu melebihi logika berfikir kita bahwa kita harus memaafkan mereka yang telah membuat kita marah ataupun dendam.

Dan jika memang terlanjur untuk terlarut dalam dendam, cobalah untuk mengingat pesan dari Pak Hanura Weldi dan Mas Anrio Marfizal tadi, bahwa sebenarnya dendam itu hanya akan membuat diri kita sakit oleh tangan kita sendiri yang telah menusukkan dendam ke diri kita sendiri. Maafkanlah dan Ikhlaskanlah…

Alhamdulillah…