Dua Serigala

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Di dalam diri kita, ada 2 serigala. Kedua serigala ini selalu bertengkar. Yang pertama, serigala yang berisi amarah, iri, dengki, ego tinggi, bohong dan segala macam perasaan-perasaan negatif lainnya. Yang kedua, serigala yang berisi harapan positif, kegembiraan, bahagia, peduli, kasih, kebaikan, empati, dan segala macam perasaan-perasaan positif lainnya.

Dua Serigala

Manakah serigala yang akan menang?

Yang menang, adalah serigala yang sering kita beri makan.

Begitulah diri kita sebenarnya, ada 2 sisi, sisi negatif dan sisi baik. Mana yang paling sering kita perhatikan, kita lakukan. Tentu yang kita sering lakukan yang menang. Kalau banyak berbuat baik, ya yang negatif juga lama-kelamaan kalah. Lah kalau fokusnya sama yang negatif terus, ya tentu yang negatif akan mengalahkan yang baik.

Itulah kenapa orang yang sering mengeluh, sering galau, sering memendam perasaan dengki, iri, marah. Hidupnya dipenuhi kekhawatiran. Karena serigala yang ia kasih makan adalah serigala yang salah, yaitu serigala yang dipenuhi keserakahan dan perasaan negatif. Sebelum terlambat dan jadi habit buruk, ada baiknya mulai sekarang mulai memberi makan serigala yang baik saja.

Semoga bisa menginspirasi Anda
Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Satu Paket Masalah

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Beberapa bulan kebelakang ini, saya sedang mengamati beberapa hal terkait kehidupan saya. Dan juga dalam beberapa bulan kebelakang, saya mengalami titik rendah di hidup saya pada tahun ini. Ibadah banyak ditinggalkan, hidup mulai berantakan, dan banyak hal lainnya yang membuat saya seperti “orang gila”. Saat seperti inilah banyak orang mulai terjebak untuk menyerah pada hidupnya, dan lalu “masa bodo” dengan hal yang lainnya.

Saya bertaruh, Anda pasti pernah mengalaminya, bahkan mungkin ada beberapa diantara Anda yang sedang mengalami masa masa down di dalam hidup. Segalanya kacau balau, tidak tahu tujuan mau kemana, pokoknya hidup serasa blank semuanya.

Tapi bukan masalah namanya kalau tidak ada jalan keluarnya, karena masalah itu ada bersamaan dengan jalan keluarnya. Tapi jalan keluarnya itu hanya bagi orang yang mau menghadapi masalah. Kalau kita mau menyelesaikan masalahnya, maka ya otomatis kita diberikan juga jalan keluarnya.

Nah, jika memang masalah Anda terlalu banyak, saran saya pribadi bagi Anda yang juga sekarang mengalami hal seperti saya pada beberapa bulan belakangan ini, selesaikanlah satu per satu. Awalnya memang berat bagi saya untuk menghadapi semua masalah yang datang, tapi saya coba selesaikan satu per satu, bahkan tidak sedikit ada beberapa kesempatan-kesempatan baik yang harus saya tinggalkan (beberapa diantaranya berkaitan dengan masa depan hidup saya).

Kalau memang masalah tersebut terlalu besar untuk diselesaikan, maka cobalah untuk mem-breakdown masalah tersebut menjadi sebuah masalah-masalah kecil yang juga mempunyai jalan keluar.

InsyaAllah jalan keluar dari masalah tersebut terbuka lebar dan bisa kita hadapi.

Postingan ini sebenarnya hanya postingan asal saja karena saya sudah lama tidak menulis, dan sepertinya saya ingin menulis lagi dalam beberapa waktu kedepan. Kapan-kapan saya akan share banyak terkait dengan kehidupan.

Semoga bisa menginspirasi Anda
Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Dua Puluh Empat

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Ini adalah artikel pertama saya di tahun 2016, sekaligus ini juga artikel pertama saya untuk kategori ulang tahun yang in sya Allah akan saya post terus setiap tahunnya.

Saya sangat bersyukur bahwa saat saya mengetahui usia saya sudah menginjak 24 tahun, saya sudah diberikan banyak sekali keberkahan oleh Allah SWT, bahkan karena Allah terlalu baik kepada saya, saya sampai tidak bisa menysyukuri semua yang diberikan kepada saya. Tapi diantara semua itu, paling tidak ada beberapa hal penting yang saya bisa syukuri.

Keluarga

Alhamdulillah, sampai usia saya menyentuh angka 24, saya masih diberikan keluarga yang utuh, yang masih peduli dengan saya, yang masih setia menemani saya. Untuk Papa, Mama, Kwinta, dan Eyang, terima kasih sudah menjadi bagian hidup saya.

 

Company

Oh ya, semenjak saya SMA, saya tidak sekalipun bermimpi bekerja di perusahaan orang lain. Jadi bagi kalian yang belum tahu saya, mungkin akan mengira saya tidak punya pengalaman karena tidak mau bekerja di perusahaan orang lain. Memang pendapat itu ada benarnya.

Jadilah saya semenjak SMA sudah menekuni dunia bisnis online. Dan sampai sekarang pun, saya masih berbisnis online. Dan Alhamdulillah di awal tahun 2015 tahun lalu, saya membuat perusahaan saya sendiri bersama teman saya. Mungkin telat, karena beberapa teman saya sudah membuat perusahaan mereka sendiri, tapi saya harus mencoba ini.

Akhirnya saya menemui juga lingkungan dunia kerja, tapi dengan posisi saya sebagai owner, yang ternyata tidaklah mudah menjadi owner, karena harus memikirkan kesejahteraan karyawan-karyawan saya.

 

 

Toko Online

Semenjak tahun lalu, saya selain memanage perusahaan sendiri, saya juga memiliki beberapa toko online (sendiri dan juga bersama teman). Masih tahap awal, dan masih belajar. Dan pada tahun ini, in sya Allah saya akan berusaha melebarkan Toko Online saya ini.

Toko online adalah salah satu bisnis yang cukup diminati banyak orang di Indonesia. Jika Anda menyukai bisnis, maka toko online adalah pilihan yang tepat untuk memulai, karena kita bisa melatih banyak hal didalamnya, mulai dari manage barang, order, menjadi CS, dan juga kejujuran.

 

Harapan

Harapan saya kedepannya saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan juga bisa bermanfaat bagi seluruh tim dan karyawan saya. Tidak hanya itu, tetapi bisa bermanfaat kepada, kepada Anda (yang baca ini) dan juga kepada semuanya.

 

Semoga bisa menginspirasi Anda
Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Setahun Sekali

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Kebiasaan saya adalah saya senang ketika naik taksi, yang pertama adalah karena saya bisa mengobrol lebih banyak sama Pak Supir nya, yang tentunya masing-masing supir tersebut punya pengalaman yang membuat saya kagum, saya banyak sekali banyak dapat motivasi dan pelajaran berharga dari supir taksi. Alasan kedua adalah karena sebenarnya setoran supir taksi lebih banyak daripada setoran supir angkot, dan yang naik taksi pun jarang, oleh karena itulah saya senang naik taksi, karena bisa sambil berbagi rezeki kepada sesama pencari rezeki :). Alasan lainnya adalah, karena saya agak malas membawa mobil sendiri, karena kalau sudah macet, waktu saya terbuang sia-sia, karena bagi saya, saya lebih mementingkan waktu daripada uang. Hehehe

Nah, ketika kemarin saya naik taksi, Pak Supir nya saya lihat agak sedikit koleris. Karena dia melihat saya, dia jadi ingat kisah pada saat hari lebaran. Dan cerita yang membuat saya sangat menyayangkan sikap si orang yang akan saya ceritakan ini.

Pak Supir itu cerita bahwa, pada saat hari lebaran ada salah satu penumpang taksi nya turun di salah satu gerai donat yang cukup ternama di Jakarta Timur. Pak Supir itu lantas bertanya kepada penumpang tersebut, kebetulan penumpang tersebut.

“Dek, kenapa kok ke tempat sini (nama gerai donat)?”, Pak Supir menanyakan pertama kali.

“Iya Pak, saya seneng ke sini soalnya”, si penumpang menjawabnya.

“Adek Muslim?”, karena penasaran Pak Supir bertanya lagi.

“Iya Pak, saya muslim”,

“Loh, kenapa kok muslim bukannya lebaran di rumah, malah ke sini?”, Pak Supir heran, kenapa muslim tapi tidak lebaran di rumah. Lanjut Pak Supir lagi, “Emangnya ibu ga masak? kan kalau mau lebaran suka masak opor dan ketupat, atau sayur lain-lain?”

Si penumpang tersebut lantas menjawab, “Ngga ah Pak, males, dan bosen juga”

Lalu si Pak Supir menambahkan kata-kata yang intinya menceramahi si penumpang tersebut, dan menyayangkan perbuatannya. Karena walau bagaimanapun, momen lebaran hanya terjadi setahun sekali saja, kalau itu juga sudah dilewatkan, ya tahun depan baru bisa merasakan lagi.

Saya yang mendengar jawaban si penumpang tersebut langsung diam. Ternyata sekarang banyak juga orang yang pada saat lebaran tidak bisa hadir bersama keluarga karena kemauannya. Kalau yang tidak bisa hadir bersama keluarga karena ada alasan lain (seperti kerja dan tidak bisa libur karena melayani banyak orang), saya masih bisa memberikan toleransi.

Tapi untuk penumpang ini, saya sungguh menyayangkan sekali. Momen lebaran yang hanya setahun sekali, ia lewatkan begitu saja demi menyantap donat yang ia damba-dambakan dan berkata “Bosen dan malas” terhadap makanan opor dan ketupat yang dibuat oleh ibunya.

Seharusnya, akan lebih baik jika kita menghadiri acara lebaran tersebut, karena makan donat bisa kapan-kapan kita makan, tetapi makan opor dan ketupat, dan berkumpul bersama keluarga hanya bisa kita lakukan setahun sekali.

Semoga teman-teman yang membaca kisah ini tidak melakukan hal seperti cerita di atas. Kalaupun memang berhalangan hadir saat lebaran, pastikan alasannya adalah alasan yang masuk akal.

Semoga bisa menginspirasi Anda
Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Prioritas

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Manusia seringkali terjebak dengan prioritas, lalu bingung mana yang harus di didahulukan, kalau salah menentukan prioritas, ya bisa kacau jadwal seharian atau bahkan bisa seminggu ke depan. Nah, saya pernah baca di suatu buku, ternyata urutan prioritas itu ada 4 (kalo temen-temen mau nambahin ya silahkan).

Penting dan Mendadak

Contohnya, kita lagi butuh uang, dan kita minjem lah sama temen. Akhirnya kita di kasih pinjeman uang, dan tiba2 besok yang mau minjemin uang mau ketemu (cuma bisa besok). Nah ini harus kita masukin ke prioritas paling atas, karena penting (kita butuh uang), dan juga mendadak (harus besok).

Penting dan TIDAK Mendadak

Contohnya, tiba-tiba ada SMS dari Client “Pak, kita harus secepatnya ketemu, karena saya mau kasih overview project saya”, lalu kita bales sms tersebut, “Ok, siap Pak. Boleh tau kapan ketemuannya?”, lalu dia bales “Baik Pak, nanti akan saya infokan lagi, saya masih di luar kota”
Nah yang model-model kayak gini, masuk prioritas kedua, iya emang penting, yang di omongin masalah kerjaan, tapi waktunya tidak mendadak, jadi ya bisa dimasukkan ke urutan ke dua.

TIDAK Penting dan Mendadak

Contohnya, temen kita tiba-tiba nelpon, “Bro, gua lagi butuh uang banget nih, bisa pinjem ga sekitar 2 juta? Kalo ga dapet dalam 3 hari, bisa gawat nih”, lalu kita bales “Ok ada, emang buat apa duitnya?”, “Iya nih buat nonton konser”.
Nah, ini nih yang paling belagu. Ngapain coba mendadak, tapi ga penting. Minjem uang cuma buat nonton konser aja. Hehehe

TIDAK Penting dan TIDAK Mendadak

Contohnya, ini sering juga kejadian sama kita-kita. Kebanyakan hal yang kita lakukan dan kita rencanakan itu tidak penting dan juga ga mendadak. Semacem kumpul-kumpul ga jelas yang waktunya juga ga jelas, yang manfaat nya juga ga bisa diambil “Bro kumpul2 yuk kalo ada waktu luang”, akhirnya 3 bulan berlalu, dan kumpul2nya ga jadi juga.

Saran saya, untuk nomor 4, mending ga usah dimasukkan ke To-Do List kita, serius cuma buang2 waktu aja. Hidup kita masih bisa kita optimalkan untuk urusan nomor 1-3.

Semoga bisa menginspirasi Anda
Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Ilmu Yang Bermanfaat

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Tanggal 30 April yang lalu saya chat dengan salah satu teman sekaligus guru saya yang ada di Batam. Singkat cerita, di akhir chat beliau bilang gini kepada saya, kurang lebih seperti ini:

“yang kita bawa mati hanya 3, doa anak yang shaleh, amal jariyah, dan ilmu yang bermanfaat.
mendidik anak shaleh, sekarang agak susah. Amal jariyah, emang berapa sih yang bisa dan mau kita amalkan? Yang paling mudah, ya ilmu yang bermanfaat tadi. Berbahagialah yg profesinya jadi guru…..sudah dibayar dapat barang yg dibawa mati pula”

Ilmu Yang Bermanfaat

Dari chat tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa, bekal kita kelak nanti menuju kematian yang bisa kita persiapkan saat ini yang paling mudah hanyalah ilmu yang bermanfaat, disusul dengan amal jariyah kita, lalu terakhir doa anak shaleh.

Yang bisa kita lakukan sekarang, yang paling mudah hanyalah memberikan ilmu yang bermanfaat kepada teman, saudara atau orang lain. Saya sih yakin, masing2 dari kita pasti ada ilmu yang bermanfaat buat orang lain, yang ketika diamalkan akan bermanfaat untuk orang banyak.

Penyebarannya bisa lewat langsung (dakwah), via FB/medsos, via blog atau status-status yang bermanfaat. Mulai sekarang, postinglah hal-hal yang bermanfaat. Kita ga akan rugi sedikitpun kok, kalau kita sharing hal-hal yang bermanfaat.

Terakhir, mengutip kata-kata dari salah satu guru saya, “Kita tidak tahu kapan ‘malaikat’ lewat, tapi jika kita terus melakukan yang terbaik, kita tidak akan terlewatkan oleh ‘malaikat’.”

Semoga bisa menginspirasi Anda
Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Galau = Serakah?

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Kenapa sih kita galau?

Pada dasarnya, apa yang kita lakukan terbagi menjadi 2, mencari kesenangan, dan menghindari sengsara. Jadi kalau di suatu posisi, ada kesenangan, orang akan mendekati, kalau ada kesengsaraan, orang akan menghindari. Bahasa kerennya, pain and pleasure.

Nah, masalah kita kebanyakan, pain dan pleasure yang kita artikan seringkali tabrakan. Ada pertarungan ego di dalam diri kita yang sebenernya kita ga sadar.

Contohnya:

  • Kita tau bahwa melupakan mantan itu baik, tapi kenapa masih aja keingetan terus? (ini biasa yang sering galau)
  • Kita tau kalau kita harus menjauhi orang yang ga baik, tapi kenapa kita kadang nyaman bersama orang yang ga baik tersebut
  • Kita tau kalau menunda itu ga baik, tapi ya masih aja kita mikir “masih ada nanti”

Intinya, karena pertarungan ego atau tabrakan itulah kita menjadi bingung, pusing, terjebak dalam penjara yang kita ciptain sendiri. Bahasa lainnya “Galau”.

galau-serakah

Contohnya aja, kita tau kalo olahraga itu baik, bisa lebih sehat, bisa kurus.. Tapi jadi bertabrakan dengan “Olahraga itu capek”, “nanti aja kalau ada waktu luang”, “masih sehat kok ga olahraga”. Pas bertabrakan itulah kita jadi lebih bingung dan ga tau harus melakukan apa-apa. Di satu sisi, tau itu baik, tapi di satu sisi, tetep aja ga bisa.

Galau lagi deh


Kenapa sih bisa tabrakan? Kenapa bisa muncul kayak gitu?


SERAKAH!. Ya, serakah, sifat dasar manusia ya serakah, dari 2 cara berfikir tadi, kita ingin ambil keuntungan sekaligus menghindari penderitaan, dengan cara melepaskan salah satunya. 

  • Olahraga itu baik, tapi kan capek, keringetan, sedangkan santai itu enak, cuman ya ga sehat kalo ga olahraga.
  • Ngelupain mantan itu baik, tapi kasian kalo dilupain, sedangkan kalo keinget mantan terus, hatinya jadi kacau terus-terusan.

Solusinya jadi gimana?

Salah satunya bisa pakai terapi EST. Tapi kalau terlalu ribet, bisa pake cara lain:

  • Rileks kembali, dan perlu penyadaran untuk menerima konsekuensi dari apa yang kita pilih. Dari mengambil “tanggung jawab”, kita jadi tau hal tersebut bisa berguna bagi kita di waktu yang akan datang.
  • Terakhir, kaitkan hal-hal yang baik dengan hal-hal yang baik juga. Semisal, kalau melupakan mantan itu baik untuk karir kita kedepan, atau dengan olahraga hidup lebih sehat, karir jadi meningkat, dan kaitkan terus dengan tujuan kita.

Ujung-ujungnya, kita akan fokus sama hal-hal yang baik, sehingga konsekuensi bisa diambil tanpa harus serakah (ingin yang baik aja tapi yang ga baik ga mau diambil). Intinya, jangan serakah, kalau serakah bisa jadi akan berujung galau. Pilih salah satu, ambil konsekuensi nya.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Bisnis Jangan Sekedar Mencari Uang

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Kita mengeluarkan uang (atau membeli sesuatu), karena kita berharap ada value yang kita dapat. Benar bukan? Dan itu artinya, seseorang mau mengeluarkan uang karena value yang ada di penjual. Jadi, mendapatkan uang sebenarnya adalah memberikan value bagi orang lain. Yang biasa kita sebut dengan jualan.

Nah, pada prakteknya, ternyata masih ada saja orang yang bisnis, tapi tidak mengedepakan value kepada para pembelinya. Bisa dibilang, yah cuma mau dapet uangnya aja, masalah memberikan value ya masa bodo deh.

Nah ini yang ga baik, namanya dzalim, tidak adil. Dan saya percaya yang model-model seperti ini akan cepat sekali bangkrut kok. Dari cara berjualannya saja sudah tidak adil, apalagi saat memberikan value yang ternyata tidak sebanding dengan harga yang ditawarkan. Atau malah memberi value nol terhadap pembeli.

Lama-lama kan kasihan pembelinya. Lalu para pembeli tersebut menceritakan bahwa “Eh jangan beli di dia, barangnya jelek”, atau “Jangan beli di situ, dia nipu loh”. Apa yang terjadi akhirnya? Ya lama kelamaan si penjual yang tidak adil tersebut bisa gelar tikar alias bangkrut.

Karena pada awalnya hanya mencari tujuan uang semata, tidak membangun kepercayaan terhadap konsumen, tidak membangun kredibilitas, tidak membangun branding yang baik. Jadinya yah berakhir naas 😀

Jadi bagi siapapun Anda yang mau berbisnis, atau sedang berbisnis. Ada baiknya untuk tetap mengedepankan service kita kepada para konsumen-konsumen kita. Tetap memberikan value yang lebih besar kepada pembeli. Nanti pembeli tersebut lama kelamaan akan menjadi loyal buyer terhadap kita. Nah itulah menurut saya pondasi bisnis yang harus dipelajari terlebih dahulu.

Jadi, berikan value lebih dahulu, baru mikirin uangnya 🙂

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Mental Kaya dan Mental Miskin

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

5 tahun silam, atau lebih tepatnya saat saya masih mulai merintis berbisnis di internet, saya masih berfikiran kalau saya harus bisa mendapatkan uang dari internet. Bukan hanya itu, saya juga mencari cara agar apa yang lakukan semuanya harus minim keluar uang. Artinya, saya hanya keluar uang untuk hal-hal yang benar-benar penting.

Akhirnya, tanpa sadar selama beberapa tahun saya menjadi orang yang bermental miskin. Saya masih menggunakan Windows bajakan, saya masih menyimpan lagu hasil download dari internet (meski sekarang juga masih ada beberapa), jika ada update ilmu Internet Marketing terbaru, saya lantas sering mencari download yang sudah tersedia tanpa pernah menghargai sedikitpun karya-karya mereka.

Bisa dibilang, mental miskin itu adalah mental yang hanya mau gratisan saja, bahkan kalau bisa tidak usah mengeluarkan uang sepeserpun! Betapa jahatnya saya dulu telah merampas hak-hak orang lain, tidak menghargai karya-karya mereka.

Sekitar hampir 3 tahun lebih bisnis online saya hanya berjalan ala kadarnya, tanpa ada penaikan yang signifikan. Akhirnya saya mulai sadar kenapa bisnis saya tidak ada kemajuan sama sekali. Mungkin salah satunya karena tidak ada eskalasi bisnis, itu juga benar. Tapi untuk bisnis online saya yang dulu, saya juga sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit.

Tapi saya menyadari bahwa ada gangguan mental pada diri saya yang salah. Saya mulai mencari tahu, dan perlahan saya mendapati bahwa di dalam dunia ini, ada yang namanya hukum sebab akibat. Apa yang saya lakukan, tentu akibatnya akan saya dapat. Kalau saya melakukan sesuatu yang benar, maka hasilnya pun akan benar. Jika salah, ya saya dapat akibat yang salah juga.

Mungkin saja dulu saya sering tidak adil pada hak-hak orang, sering melakukan download ilegal dan beberapa kejahatan-kejahatan digital lainnya. Tapi akhirnya saya sadar dan segera dengan cepat merubah hidup saya.

Saya mulai menghapus semua lagu-lagu yang ada di komputer saya, saya mulai menghargai karya-karya orang lain dengan membeli nya dan saya simpan dengan bangga, saya merasa percaya diri dengan menghargai karya mereka, saya mulai membeli Windows asli dan juga office asli.

Benar saja, ternyata penghargaan saya kepada mereka membuahkan hasil, hidup saya mulai berubah, mulai bisa merasakan ketenangan, mulai bisa jalan-jalan tanpa saya harus terikat dengan aktivitas menjemukan. Saya mulai menyadari bahwa saya sudah meninggalkan mental miskin saya, dan mulai berubah ke arah mental kaya.

Jika kita lihat, orang kaya selalu saja lebih banyak memberi daripada “meminta”, dibanding orang-orang miskin di jalanan yang hanya bisa meminta dan terus meminta. Itulah kenapa orang kaya semakin kaya, dan orang miskin ya semakin miskin. Semua pasti ada sebab dan akibatnya.

Tapi jangan salah, kadang punya banyak uang juga belum tentu bermental kaya. Banyak teman-teman saya yang sudah menghasilkan puluhan ribu dollar per bulan nya, ternyata masih mengkonsumsi barang bajakan, masih download illegal, masih menggampangkan urusan hak orang lain. Sungguh saya sangat menyayangkan hal tersebut.

Untuk Anda yang sekarang sedang membaca sebagian kisah kecil saya ini, jika memang Anda sekarang memiliki mental miskin, segeralah berubah. Memang nyaman menjadi orang yang terus-terusan bisa dikasih, tapi percayalah lebih enak mempunyai mental kaya yang kapanpun bisa sharing kapanpun kita mau, dan berkahnya juga akan lebih besar.

Jika memang saat ini tidak mampu untuk membeli atau menghargai karya orang lain, tunggu lah sampai kita bisa membelinya, atau gunakan alternatif lain yang ada. Jika berkaitan dengan software komputer, cobalah untuk cari versi open source atau versi free, atau bisa gunakan versi trial dari software tersebut. Bukan malah mencari bajakan 🙂

Percaya deh, beli software asli itu menyenangkan. Kapanpun kita ada masalah, tinggal kontak saja mereka, dan mereka dengan senang hati akan membantu kita. Dan percaya juga, bahwa jadi orang yang lebih sering memberi itu rezekinya jauh lebih banyak daripada orang yang hanya bisa meminta-minta.

Semoga kita semua bisa merubah diri kita lebih baik, dari mental miskin ke mental kaya.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…

Momentum Itu Sekarang

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

“Mulai sekarang gua akan berubah”,
“Oke gua ga akan nunda-nunda lagi mulai besok”,
“Gua harus semangat!”

Begitulah diri kita, membayangkan dengan penuh semangat, dan yakin dengan perubahan besar setelah menyusun rencana tersebut. Tapi sayangnya, semangat yang baru saja dikeluarkan, yang begitu membara, sekarang hanya menyisakan asap-asap semangat saja. Mungkin besok juga sudah kabur ke langit.

Sudah jelas pada kata-kata di atas bahwa sebenarnya kita memang lebih sering menunda atas suatu perubahan. Buktinya, mau berubah saja harus menunggu esok hari, atau yang lebih parahnya ya hanya hangat-hangat tai ayam di awal, lalu hilang tanpa bekas sedikitpun.

Anda sering mengalami hal seperti itu? Tenang saja, saya juga pernah dan malah penyakit saya dulu adalah senang dengan penundaan. Istilah kerennya adalah “Terjebak dalam comfort zone“. Ya benar, tidak semua comfort zone itu baik, salah-salah mengenal comfort zone, maka ia bisa jadi habit buruk bagi kita.

Akibat dari hal tersebut rasa kecewa dan marah pada diri sendiri muncul karena rencana yang kemarin tidak terealisasikan, kemudian mengumpulkan semangat lagi untuk memulai beragam rencana seperti awal. Sayangnya, percobaan kedua justru lebih sulit lagi, karena diri kita sudah dipenuhi oleh kekecewaan yang kita ciptakan sendiri.

Lalu apa selanjutnya? Tentu saja gagal lagi, berubah lagi, dan terus menerus sampai diri kita lemah. Akhirnya lingkaran setan pun terbentuk. Dan rencana pun hanya lewat begitu saja. Begitulah sedikit gambaran kisah kita yang sedang berhadapan dengan momentum, atau orang biasa menyebut sebagai perubahan diri.

Di artikel ini saya tidak akan menggurui Anda, karena saya pun masih suka berhadapan dengan momentum palsu, yakni ya momentum hangat-hangat tai ayam tersebut. Karena saya berfikir masih ada “nanti”, masih ada “esok”, masih “bisa di tunda”. Jadilah momentum yang sudah saya bangun itu terus bergeser.

Pada kenyataanya momentum yang kita bangun, hanya akan berujung seperti lingkaran setan jika kita:

  1. Hanya bisa membuat momentum asal (target ngaco)
  2. Tidak memulainya sekarang (momentum palsu)
  3. Memulai momentum dengan hal yang besar

Ya itulah inti dari momentum (perubahan) yang saya dapatkan setelah saya belajar bagaimana mulai merubah tatanan hidup saya ke arah yang tentunya lebih baik dari sebelumnya.

Pertama, jangan buat momentum yang ngaco, tidak masuk akal. Memang boleh saja bercita-cita tinggi, tapi pada saat ini yang kita perlukan adalah momentum, yaitu perubahan kecil untuk menuju cita-cita kita. Jadi jangan menjadikan momentum yang terlalu tinggi atau ngaco, karena nanti alam bawah sadar kita langsung serta merta menolak itu, dan merasa bahwa itu tidak mampu kita laksanakan.

Kedua, ini dia yang paling penting, yaitu momentum hanya ditaruh di ujung bibir saja, atau hanya di pasang di otak kita saja, tanpa kita tahu jelas kapan kita akan merealisasikannya. Biasanya yang model begini, hanya akan berujung dengan “Penundaan”. Ini saya masih sering melakukan ini. Hahaha (tenang saja, manusia sering berbuat salah kok)

Ketiga, ketika kita katakanlah ingin membuat sebuah buku yang nanti target nya adalah 100 halaman. Maka ini hanya akan jadi momentum sampah apabila kita menaruh momentum ini dalam 1 bulan atau 2 minggu saja. Memang sekelas penulis terkenal bisa menyelesaikan 100 halaman bahkan dalam waktu 1 minggu. Tapi bagi kita yang baru coba-coba atau tidak pada bidangnya, cobalah untuk mulai membuat sesuatu yang realistis, yaitu yang kecil, terukur, dan berkelanjutan. Contohnya adalah, mulai menulis 1 halaman per hari. Atau jika target tersebut masih terlalu besar, kita bisa membuatnya menjadi setengah halaman pada pagi hari dan setengahnya lagi pada malam hari.

Nah, dengan 3 parameter di atas yang saya dapatkan hasil riset saya sendiri, semoga saja kehidupan kita tidak terjebak lagi di lingkaran setan yang kita buat sendiri. Semoga momentum yang kita bangun cepat terealisasikan. Aamiin…

Pada sesi artikel selanjutnya, saya akan coba memberi gambaran tentang penundaan, habit, dan juga seputar perubahan diri.

Semoga bisa menginspirasi Anda

Alhamdulillahirabbil’alamiin…